Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran seorang Akuntan Publik merupakan suatu hal yang
sangat penting, khususnya bagi aktivitas berbisnis secara sehat di Indonesia. Hasil penelitian, analisa
serta pendapat dari Akuntan Publik terhadap suatu laporan keuangan sebuah perusahaan akan sangat
menentukan dasar pertimbangan dan pengambilan keputusan bagi seluruh pihak ataupun publik yang
menggunakannya. Misalnya; para investor dalam mempertimbangkan serta bahkan memutuskan
kebijakan investasinya, para penasehat keuangan ataupun investasi dalam memberikan arahan pada
para investor terhadap keadaan dan prospek dari perusahaan tersebut, para pemberi pinjaman (lenders)
dalam mempertimbangkan serta memutuskan langkah pemberian ataupun penghentian pinjaman bagi
perusahaan tersebut

Peran Akuntan Publik lainnya adalah fasilitator dalam menghadirkan dirinya untuk memfasilitasi
setiap potensi aktivitas bisnis yang melibatkan perusahaan tersebut, pelanggan dalam
mempertimbangkan hubungan sekarang dan kedepannya dengan perusahaan tersebut, pemerintah
dalam memberikan pertimbangan hubungan bisnis ataupun pemberian izin ataupun kualifikasi
sehubungan dengan aktivitas berbisnis dari perusahaan tersebut bahkan karyawan dari perusahaan
tersebut sendiri misalnya, dalam melihat masa depan dari keberadaannya dalam perusahaan tersebut
serta masyarakat lainnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu akuntan publik ?


2. Apa tuntutan hukum yang dihadapi akuntan publik ?
3. Apa saja jenis-jenis pelanggaran akuntan publik ?
4. Contoh-Contoh Fraud di Indonesia dan Amerika Serikat?
5. Tanggung Jawab Hukum Akuntan Publik?

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 1


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Akuntan Publik


Akuntan Publik adalah akuntan yang telah memperoleh izin untuk memberikan jasa sesuai
ketentuan yang berlaku, sedangkan Kantor Akuntan Publik adalah badan usaha yang didirikan
berdasarkan hukum Indonesia dan telah mendapatkan izin usaha dari pihak yang berwenang.
Mengingat pengguna jasa profesi Akuntan Publik / KAP tidak hanya klien (pemberi
penugasan), namun juga pihak-pihak lain yang terkait, seperti pemegang saham, Pemerintah, investor,
kreditor, Pajak, otoritas bursa, Bapepam-LK, publik (masyarakat umum) serta pemangku kepentingan
(stake holder) lainnya, maka jasa profesi akuntan publik harus dapat di pertanggungjawabkan kepada
pihak-pihak yang berkepentingan tersebut.

a. Kode Etik Profesi


kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta terperinci
tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa yang
harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional. Tujuan utama dari kode etik
adalah memberi pelayanan khusus dalam masyarakat tanpa mementingkan kepentingan pribadi atau
kelompok. Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah :

1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang
digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan
3. Mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam
keanggotaan profesi

b. Kewajiban Akuntan Publik


Terdapat 5 (lima) kewajiban Akuntan Publik dan KAP yaitu,

1. Bebas dari kecurangan (fraud), ketidakjujuran dan kelalaian serta menggunakan kemahiran
jabatannya (due professional care) dalam menjalankan tugas profesinya.
2. Menjaga kerahasiaan informasi / data yang diperoleh dan tidak dibenarkan memberikan
informasi rahasia tersebut kepada yang tidak berhak. Pembocoran rahasia data / informasi
klien kepada pihak ketiga secara sepihak merupakan tindakan tercela.
3. Menjalankan PSPM04-2008 tentang Pernyataan Beragam (Omnibus Statement) Standar
Pengendalian Mutu (SPM) 2008 yang telah ditetapkan oleh Dewan Standar Profesional

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 2


Akuntan Publik (DSPAP) Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), terutama SPM Seksi 100
tentang Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (SPM-KAP).
4. Mempunyai staf / tenaga auditor yang profesional dan memiliki pengalaman yang cukup. Para
auditor tersebut harus mengikuti Pendidikan Profesi berkelanjutan (Continuing Profesion
education) sebagai upaya untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam
bidang audit dan proses bisnis (business process). Dalam rangka peningkatan kapabilitas
auditor, organisasi profesi mensyaratkan pencapaian poin (SKP) tertentu dalam kurun /
periode waktu tertentu. Hal ini menjadi penting, karena auditor harus senantiasa mengikuti
perkembangan bisnis dan profesi audit secara terus menerus.
5. Memiliki Kertas Kerja Audit (KKA) dan mendokumentasikannya dengan baik. KKA tersebut
merupakan perwujudan dari langkah-langkah audit yang telah dilakukan oleh auditor dan
sekaligus berfungsi sebagai pendukung (supporting) dari temuan-temuan audit (audit
evidence) dan opini laporan audit (audit report). KKA sewaktu-waktu juga diperlukan dalam
pembuktian suatu kasus di sidang pengadilan.

2.2 TUNTUTAN HUKUM YANG DIHADAPI AKUNTAN PUBLIK

Hampir semua akuntan publik menyadari bahwa mereka harus memberikan jasa profesinya
sesuai dengan standar professional akuntan publik, mentaati kode etik akuntan publik dan memiliki
standar pengendalian mutu. Jika tidak akuntan publik bisa salah dalam memberikan opini, karena
memberikan opini wajar tanpa pengecualian padahal laporan keuangan mengandung salah saji
material ( ini disebut audit failure).
Saat ini sudah dikeluarkan Undang-Undang Akuntan Publik Nomor 5 Tahun 2011 yang
salah satu pasalnya menyebutkan akuntan publik bisa dikenakan sanksi pidana jika terbukti lalai
dalam menjalankan tugasnya dan terbukti terlibat tindak pidana. Bapepam LK dan PPAJP
Departemen Keuangan pun membuat berbagai aturan, antara lain menyangkut indepensi akuntan
publik, pembatasan jangka waktu pemberian jasa audit (3 tahun untuk Akuntan Publik dan 6 tahun
untk KAP yang memiliki lebih dari satu partner ).
Akuntan publik bisa dituntut secara hukum oleh klien jika tidak bisa memenuhi kontrak yang
dibuat dengan klien atau tidak hati-hati (lalai) dalam memberikan jasa profesionalnya.
Tuntutan hukum juga bisa terjadi karena business failure, audit failure, dan audit risk.
 Business Failure terjadi manakala perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya atau tidak
bisa memenuhi harapan investor karena kondisi ekonomi atau bisnis yang memberatkan.
 Audit Failure terjadi manakala akuntan publik memberikan opini yang salah karena gagal
mematuhi apa yang diatur dalam standar auditing.

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 3


 Audit Risk adalah risiko bahwa akuntan publik menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan
secara wajar dan memberikan opini wajar tanpa pengecualian padahal dalam kenyataannya laporan
keuangan mengandung salah saji material.
Tanggung jawab hukum akuntan publik terjadi jika timbul kelalaian atau akuntan publik
tersangkut Fraud.
Di Indonesia , tuntutan hukum bisa berasal dari :
Klien
(Calon) investor
Bapepam –LK
PPAJP-DepartemenKeuangan
Bank Indonesia
Pengguna Laporan Keuangan
Sanksi yang diberikan PPAJP-Departemen Keuangan bisa dalam bentuk peringatan tertulis,
penghentian sementara pemberian jasa akuntan publik atau, usulan kepada Menteri Keuangan untuk
pencabutan izin praktik akuntan publik tergantung berat atau ringannya pelanggaran.
Sanksi yang diberikan Bapepam-LK dalam bentuk peringatan tertulis, larangan pemberian jasa
dipasar modal. Pihak lainnya (klien, investor BI, pengguna laporan keuangan) bisa mengajukan
tuntutan hukum ke pengadilan jika merasa dirugikan.
Beberapa hal yang bisa dilakukan akuntan publik untuk menghindari tuntutan hukum antara lain :
 Jangan sembarangan menerima klien, pilih klien yang memiliki integritas
 Pilih audit staf yang qualified dan memiliki integritas
 Pertahankan independensi (in fact, in appearance, and in mind)
 Patuhi standar auditing, kode etik akuntan publik
 Miliki system pengendalian mutu
 Pahami betul bisnis klien
 Lakukan audit yang berkualitas
 Dukung laporan audit dengan kertas kerja yang lengkap
 Untuk setiap penugasan harus ada kontrak kerja (engagaement letter)
 Dapatkan surat pernyataan langganan sebelum mengeluarkan audit report
 Jaga data confidential klient
 Jika memungkinkan asuransikan jasa professional yang diberikan
 Jika memungkinkan miliki penasihat hukum
 Terapkan sikap skeptic yang professional
 Selain itu Ikatan Profesi (IAI, IAPI) juga bisa membantu anggotannya dengan cara :
 Menyediakan pelatihan bagi anggotanya melalui PPL dengan biaya yang reasonable
 Menerapkan peer review
 Mengupdate standar auditing dan aturan etika
TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 4
 Melakukan research dibidang auditing
 Melakukan lobby ke regulator untuk mencegah undang-undang dan peraturan yang merugikan
anggota
 Memberikan edukasi kepada pengguna laporan keuangan
 Berikan sanksi yang tegas untuk anggota yang melakukan pelanggaran

2.3. JENIS PELANGGARAN


Beberapa bentuk pelangaran akuntan publik sebagai berikut :
 Ordinary Negligence (kesalahan ringan, manusiawi, tidak sengaja) ini merupakan pelanggaran
ringan.
 Gross Negligence (kesalahan agak berat, harusnya tidak terjadi jika auditor menerapkan due
professional care).
 Constructive Fraud (pelanggaran berat, akuntan public terlibat secara langsung atau tidak
langsung membantu dalam fraud yang dilakukan manajemen).
 Fraud (pelanggaran sangat berat, akuntan public secara sadar terlibat bersama manajemen dalam
melakukan fraud).
a. Kasus pelanggaran yang di lakukan akuntan publik di indonesia

Nama
No akuntan Jenis pelanggaran Sanksi
publik
Pelanggaran terhadap SPAP dalam Sankski pembekuan izin praktik
1 EL mengaudit laporan keuangan Pt.SR selama 12 bulan terhitung sejak
tahun 2005 dan PT.HBP tahun 2004 tanggal 6 maret 2008
Pelanggaran terhadap SPAP da;am Sanksi pembekuan izin praktik
2 OPA mengaudit laoran keuangan PT.ESI selama 9 bulan terhitung sejak
TAHUN 2007 tanggal 29 april 2008
Pelanggaran terhadap kode etik akuntan sanksi pembekuan usaha selama 24
3 TH publik bulan terhitung sejak tanggal 11 juni
2008
Pelanggaran terhadap SPAP dalam sanksi pembekuan izin praktik
4 DH mengaudit laporan keuangan PT. PS selama 6 bulan terhitung sejak
(Perseo) tahun 2005 tanggal 20 juni 2008
Pelanggaran terhadap SA-SPAP dalam sanksi pembekuan izin terhitung
pelaksanaan audit atas laporan mmulai 21 juli 2008 dan berlaku
5 SS keuangan PT.ST(Persero ) tahun buku selama 3 bulan
2004-2008

Pelanggaran terhadap SA-SPAP dalam sanksi pembekuan izin terhitung


pelaksanaan audit atas laporan mulai 21 juli 2008 dan berlaku
6 AHN keuangan PT.ST(PERSERO) tahun selama 3 bulan
buku 2002 dan 2003

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 5


Pelanggaran terhadap SA-SPAP dalam sanksi pembekuan izin terhitung
pelaksanaan audit atas laporan mulai 21 juli 2008 dan berlaku
7 LP keuangan PT.ST(PERSERO) periode selama 3 bulan
tahun buku yang berakhir 30 juni 2007

Pelanggaran terhadap satandar auditing sanksi pembekuan izin selama 9


SPAP dalam mengaudit laporan bulan terhitung mulai tanggal 15
8 RH keuangan PT.STM untuk tahun yang dsember 2008
berakhir 31 Desember 2006

Pelanggaran terhadap standar auditing sanksi pembekuan izin selama 3


SPAP dalam mengaudit atas laporan bulan terhitung mulai tanggal 22
9 MZ keuangan Pt PBM tahun buku 2007 desember 2008

Pelanggarn terhadap SA-SPAP dalam sanksi pembekuan izin selama 3


peplaksanaan audit atas aporan bulan terhitung mulai tanggal 10
10 U keuangan yayasan kesejahteraan desember 2008
karyawan PT.P Tahun 2007

Pelanggaran terhadap SA-SPAP dalam sanksi pembekuan izin selama 12


pelaksanaan audit atas laporan bulan terhitung mulai tanggal 10
keuangan yayasan kaesejaheraan desember 2008
11 TW
pegawai PUPB untuk periode 31
oktober 2006-31 juli 2007

Pelanggaran terhadap standar auditing sanksi pembekuan izin selama 7


standaar profesionel akuntan publik bulan terhitung mulai tanggal 10
dalam pelaksanaan audit atas laoran Desember 2008
12 IMO
keuangan PT.ME tahun buku 2006

Pelnggaran terhadap tandar auditing sanksi pembekuan izin praktik


SPAP dalam pelaksanaan audit atas selama 6 bulan terhitung sejak
13 ZAF laporan keuangan PT.LILS tahun buku tanggal 23 januari 2008
2007

2.4 Contoh-Contoh Fraud di Indonesia dan Amerika Serikat

Hasil penelitian di luar negeri dan di indonesia tentang karakteristik personal, pengalamn
audit, independensi akuntan public, penerapan etika akuntan public dan kualitas audit.
No. Penelitian Judul Penelitian Hasil Penelitian
(Tahun)
1 Pany dan Reckers The Effect of Gifts, Pemberian hadiah berpengaruh signifikan
(1980) Discount,Personalty terhadap independensi auditor, karakter
Characteristic,and Client personal auditor berhubungan positif dengan
Size on Perceived independensi auditor, sedangkan ukuran
Auditor Independence klien tidak terpengaruh secara signifikan
2 DeAngelo (1981) Auditor Independence, KAP yang besar akan berusaha untuk
*Low Balling*, and menyajikan kualitas audit yang lebih besar
Disclouser Regulation dibandingkan dengan KAP yang kecil
3 Meixner and Judgement Consensus Menunjukkan bukti empiris bahwa
Walker (1988) and Auditor Experience: consensus yang terjadi diantara staf auditor

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 6


An Examination semakin meningkat karena bertambahnya
ofOrganizational intensitas waktu untukberhubungan dengan
Relation manajer audit yang sama
4 Merchant (1989) Analogical Reasoning Auditor yang semakin berpengalaman akan
and Hypothesis memiliki kemampuan yang lebih baik dalam
Generation in Auditing mengidentifikasi kesalahan-kesalahan dalam
melakukan telaah analitik dan semakin
tinggi tingkat independensinya
5 Libby and Experience and The Semakin banyak pengalaman yang dimilii
Frederick (1990) Ability to Explain Audit oleh seorang auditor maka semakin banyak
Findings pula baik sikap skeptisme profesionalnya
dalam menghasilkan berbagai macam
dugaan dan menjelaskan temuan audit
6 Tubs (1992) The Effect Of Auditor independen yang
Experience on The berpengalamanlebih sensitive dalam
Auditor’s mendeteksi kekeliruan-kekeliruan yang
Organizational and tidak lazimatas temuan-temuan dalam audit
Amount of Knowledge
7 Davis (1996) Experience and Auditor yang independen berengalaman
Auditor’s Selection of menunjukkan tingkat perhatian selektif yang
Relevant Information lebih tinggi terhadap informasi yang relevan
for Reliminary Control dan lebih mudah dalam menerapkan prinsip-
Of Risk Assesment prinsip etika
8 Lawrence and The Ethical Menunjukkan bukti empiris bahwa : 1.
Shaub Construction Orientasi dan alas an etis auditor
ofAuditor’s : An berpengaruh terhadapkeputusan professional
examination of the dan keputusanetis. 2.Auditor senior lebih
effects of gender and mudah dalam mengadopsi pandangan etis
career level tentang relativisme dan situasi etis
disbanding auditor junior
9 Maryani dan Ubti Survei atas Faktor- Ada Sembilan factor yang mempengaruhi
Ludigdo (2001) Faktor yang sikap dan perilaku akuntan publik, yaitu:
mempengruhi sikap dan religiusitas, pendidikan,
Perilaku Etis Akuntan organisasional,emotional
quotient,lingkungan keluarga,pengalaman
hidup,imbalan yang diterima,hukum,posisi
atau kedudukan
10 Widagdo, Analisis Pngaruh Ada 6 atribut yang berpengaruh terhadap
Lesmana, dan Atribut-atribut Kualitas kualitas audit yaitu: pengalaman melakukan
Irwandi (2002) Terhadap Kepuasan audit, memahami industry klien, responsive
Klien (Studi Empiris terhadap pengguna laporan audit, taat pada
pada Perusahaan yang standar auditing, komitmen terhadap
Terdaftar di Bursa Efek kualitas audit, dan keterlibatan komite audit.
Jakarta)
11 Sekar Mayangsari Analisis Pengaruh Factor-faktor yang mempengaruhi integritas
(2003) Independensi Kualitas laporan keuangan: 1. Spesialisasi auditor 2.
Audit, serta Mekanisme Independensi 3. Mekanisme corporate
Corporate Governance governance
terhadap Integritas
Laporan Keuangan
12 Ida Surida (2005) Pengaruh Etika, Memperoleh bukti: 1.
Kompetensi, Etika,kompetensi,pengalaman audit dan
Pengalaman, Risiko risiko berpengaruh terhadap skeptisisme
Audit dan Skeptisme professional baik secara parsial maupun

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 7


Professional Auditor secara simultan. 2. Pengaruh skeptisisme
Terhadap Ketepatan professional auditor terhadap ketepatan
Pembeian Opini pemberian opini akuntan public masih
Akuntan Publik (Survei kurang dari lima puluh persen dan 3.
terhadap para akuntan Etika,kompetensi,pengalaman audit,risiko
public di Indonesia) audit dan skeptisisme professional auditor
berpengaruh positif terhadap ketepatan
pemberian opini akuntan public baik secara
parsial maupun simultan

Contoh-contoh yang lainnya:

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah transaksi kartu kredit yang tidak
sesuai ketentuan alias fraud hingga Februari 2013 mencapai 6.100 transaksi. Nilai volume
transaksinya mencapai Rp7,5 miliar. "Itu adalah total fraud untuk kartu debet dan kredit," kata
Direktur Eksekutif Departemen Hubungan Masyarakat BI Difi A Johansyah, Kamis (21/3). Adapun
rinciannya adalah Rp3,6 miliar per Januari 2013 dan Rp 3,9 miliar per Februari 2013. Menurut Difi,
BI sudah menanyakan langsung perihal kasus yang terjadi pada dua bank, Bank Mandiri dan BCA di
sebuah salah satu gerai ritel fashi

Phar Mor Inc, termasuk perusahaan terbesar di Amerika Serikat yang dinyatakan bangkrut pada bulan
Agustus 1992 berdasarkan undang-undangan U.S. Bangkruptcy Code. Phar mor merupakan
perusahaan retail yang menjual produk yang cukup bervariasi, mulai dari obat-obatan, furniture,
elektronik, pakaian olah raga hingga videotape. Pada masa puncak kejayaannya, Phar Mor
mempunyai 300 outlet besar di hampir seluruh negara bagian dan memperkerjakan 23,000 orang
karyawan yang berpusat di Youngstown, Ohio, United States. Phar-Mor dididrikan oleh Michael I.
Monus atau biasa disebut Mickey Monus dan David S. Shapira di tahun 1982

Ikhtisar Hasil Penelitian Empirik Terdahulu Efek Kualitas Tata Kelola Korporasi danImplementasi
Prinsip Etika Bisnis terhadap Potensi Kecurangan Pelaporan Keuangan.

No Nama Judul Penelitian Hasil Penelitian


1 Karpoff dan Lott The Reputational Rerata kembalian abnormal dalam dua atau
(1993) penalty firms bear tiga hari jendela sekitar ditemukannya
from committing kecurangan, secara signifikan adalah lebih
criminal fraud negative dalam kasus kecurangan pelaporan
keuangan ketimbang dalam kasus kecurangan
lainnya
2 Mc Mullen (1996) Audit committee Perusahaan dengan pelaporan keuangan yang
performance an handal (yakni, tidak ada kesalahan, dan tindak
investigation of the melanggar hukum) memiliki komite audit
consequences
association with
audit committees
3 Agrawal et al Management Hubungan penemuan kecurangan dengan
(1999) turnover and perpindahan direktur dan manajer senior,
governance changes mereka tidak menemukan hubungan
following the dimaksud. Mereka memeriksa 103 perusahaan
revelation of fraud yang melakukan berbagai macam kecurangan,
tetapi hanya menemukan empt diantaranya
yang melakukan kecurangan pelaporan
keuangan
4 Abbot et.Al. (2000) The Effects of audit Efektivitas komite audit untuk keperluan
committee activity deteksi kecurangan merupakan fungsi dari

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 8


and independence on kehadiran anggota luar dari komite audit, dan
corporate fraud frekuensi rapart komite audit.Namun, mereka
tidak menemukan hubungan signifikan antara
karakteristik dewan komisaris dan kecurangan
5 Beasly dan Petroni Board independence Pertama,kemungkinan perusahaan asuransi
(2001) and audit firm type memperkerjakan auditor ternama (big 6) yang
berspesialisasi dalam industry suransi
meningkat secara pararel dengan presentase
anggota dewan direksi dari luar.Kedua
peneliti tidak menemukan hubungan
signifikan antara komposisi dewan direksi dan
pilihan pengguna auditor yang tidak ternama
6 Sharma (2004) Board of Director Meningkatkan presentase direktur independen
characteristics dan pemilikan institusional menyebabkan
institutional kemungkinan kecurangan menurun. Terdapat
ownership and fraud hubungan positif antara dualitas dan
: evidence from kemungkinan kecurangan
Australia
7 Farber (2005) Restoring trust after Pertama,perusahaan yang melakukan
fraud: does corporate kecurangan memiliki tata kelola yang jelek
governance matter? relatife terhadap sampel control dalamtahun
sebelum kecurangan terdeteksi.Kedua,dalam
perusahaan yang melakukan kecurangan,
analis dan pemilikan institusional tidak
bertambah karena kredibilitas masih
merupakan masalah dalam perusahaan
tersebut
8 Utama dan Audit committee Komposisi komite audit mempunyai dampak
Leonardo (2006) composition, control positif terhadap efektivitas komite audit
of majority disamping juga dipengaruhi oleh control tata
shareholders and kelola perusahan melalui pemegang saham
their impact on audit mayoritas
committee
effectiveness:
Indonesia Evidence

2.5 Tanggung Jawab Hukum Akuntan Publik

Dalam hal terjadinya pelangaran yang dilakukan oleh seorang Akuntan Publik dalam
memberikan jasanya, baik atas temuan-temuan bukti pelanggaran apapun yang bersifat pelanggaran
ringan hingga yang bersifat pelanggaran berat, berdasarkan PMK No. 17/PMK.01/2008 hanya
dikenakan sanksi administratif, berupa: sanksi peringatan, sanksi pembekuan ijin dan sanksi
pencabutan ijin seperti yang diatur antara lain dalam pasal 62, pasal 63, pasal 64 dan pasal 65.

Penghukuman dalam pemberian sanksi hingga pencabutan izin baru dilakukan dalam hal
seorang Akuntan Publik tersebut telah melanggar ketentuan-ketentuan yang diatur dalam SPAP dan
termasuk juga pelanggaran kode etik yang ditetapkan oleh IAPI, serta juga melakukan pelanggaran
peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berhubungan dengan bidang jasa yang diberikan,
atau juga akibat dari pelanggaran yang terus dilakukan walaupun telah mendapatkan sanksi
pembekuan izin sebelumya, ataupun tindakan-tindakan yang menentang langkah pemeriksaan
sehubungan dengan adanya dugaan pelanggaran profesionalisme akuntan publik.

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 9


Akan tetapi, hukuman yang bersifat administratif tersebut walaupun diakui merupakan suatu
hukuman yang cukup berat bagi eksistensi dan masa depan dari seorang Akuntan Publik ataupun
KAP, ternyata masih belum menjawab penyelesaian permasalahan ataupun resiko kerugian yang telah
diderita oleh anggota masyarakat, sebagai akibat dari penggunaan hasil audit dari Akuntan Publik
tersebut.

Ambil satu contoh terhadap fakta tentang sebuah KAP yang membantu sebuah perusahaan
(debitur sebuah bank BUMN yang sebenarnya telah mengalami kerugian yang sangat dalam dan
sudah sangat sulit untuk melanjutkan operasinya) untuk mendapatkan tambahan kredit dari bank
tersebut dengan cara merekayasa laporan keuangannya, sehingga pada hasil akhirnya ditampilkan
dalam keadaan masih memperoleh laba, dimana pada akhirnya, semua langkah rekayasa laporan
keuangan tersebut terbuka ketika debitur tersebut dinyatakan pailit. Bank tersebut jelas mengalami
kerugian akibat dari keyakinannya terhadap hasil audit Akuntan Publik terhadap laporan keuangan
dari debiturnya tersebut. Jika Bank tersebut mengetahui status yang sebenarnya dari debiturnya
tersebut, maka Bank itu tidak akan memberikan pinjaman tambahan terhadap debiturnya tersebut.

Dalam hal ini, Penulis berpendapat bahwa Bank tersebut mempunyai dasar hukum untuk
meminta pertanggungjawaban perdata, yaitu pembayaran ganti rugi dari Akuntan Publik tersebut. Hal
ini diatur secara tegas dalam pasal 44 PMK No. 17/PMK.01/2008. Inti peraturan itu bahwa Akuntan
Publik atau KAP bertanggung jawab atas seluruh jasa yang diberikannya. Tanggung jawab dari
Akuntan Publik terhadap konsekuensi dari hasil Audit Laporan Keuangan yang dilakukannya yang
dimaksud dalam pasal 44 tersebut walaupun berdasarkan PMK itu hanya terbatas pada pemberian
sanksi administrasi, akan tetapi berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata mewajibkan Akuntan Publik
untuk mengganti kerugian yang dialami oleh Bank sebagai konsekuensi dari tindakan melawan
hukum yang telah dilakukannya, sehubungan dengan Laporan Keuangan yang hadir secara
menyesatkan tersebut.

Lebih jauh diatur dalam pasal 1366 KUHPerdata bahwa pertangungjawaban, dalam konteks
tulisan ini, seorang Akuntan Publik terhadap pihak yang dirugikan, tidak saja untuk kerugian yang
dialami oleh pihak yang dirugikan tersebut sebagai akibat dari perbuatannya, akan tetapi termasuk
juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian ataupun kekurang hati-hatiannya. Dan dalam pasal
1367 KUHPerdata bahwa Akuntan Publik juga bertanggungjawab terhadap perbuatan orang-orang
yang menjadi tanggungannya.

Dari ketentuan KUHPerdata tersebut, dapat di pahami bahwa walaupun seorang Akuntan
Publik telah mendapatkan sanksi administrasi sebagai konsekuensi dari pelanggaran-pelanggaran
yang dimaksud dalam pasal 62, pasal 63, pasal 64, dan pasal 65 PMK No. 17/PMK.01/2008, akan
tetapi tetap saja pertangungjawaban untuk mengganti-kerugian pihak-pihak yang dirugikan akibat dari
pelanggaran tersebut dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang berhak atas pemenuhan ganti rugi
tersebut berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata. Sayangnya, atas waktu yang terbatas, penulis belum
sempat melakukan penelitian empiris, apakah ada kasus-kasus dimana pihak-pihak pengguna Laporan
Keuangan yang disajikan oleh Akuntan Publik, secara melawan hukum pernah melakukan gugatan
perdata berdasarkan gugatan Perbuatan Melawan Hukum seperti yang dijelaskan tersebut di atas.

Sehubungan dengan kewajiban untuk mengganti kerugian sebagai akibat dari Perbuatan
Melawan Hukum itu, maka langkah pemenuhan dari ganti kerugian tersebut berdasarkan pasal 1131
KUHPerdata, mengatur sebagai berikut: Segala kebendaan siberutang, baik yang bergerak maupun
yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi
tanggungan untuk segala perikatan perseorangan. Pasal itu jelas mengatur bahwa harta pribadi dari
pihak yang dihukum untuk membayar ganti rugi lah yang digunakan untuk membayar ganti kerugian
akibat Perbuatan Melawan Hukum tersebut.

Sehubungan dengan tanggungjawab perdata tersebut, sangat perlu kiranya diperhatikan


bentuk dari badan usaha suatu KAP. Berdasarkan pasal 16 PMK No.17/PMK.1/2008, sebuah KAP
hanya dapat berbentuk Perseorangan ataupun Persekutuan Perdata atau Persekutuan Firma.
TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 10
Mengingat badan usaha yang menjadi dasar dari KAP tersebut bukanlah berbentuk badan hukum,
maka tanggung jawab terhadap kewajiban untuk mengganti kerugian terhadap pihak yang dirugikan,
sesuai dengan ketentuan pasal 1365 KUHPerdata, dibebankan kepada pribadi dari anggota
persekutuan tersebut secara tanggung renteng. Dengan pengertian lain, bahwa harta yang akan
menjadi jaminan pembayaran terhadap pemenuhan ganti-ganti rugi tersebut adalah harta pribadi dari
masing-masing Akuntan Publik dalam hal KAP yang merupakan badan usaha dalam menjalankan
Jasanya berbentuk Perorangan ataupun Persekutuan Perdata ataupun Persekutuan Firma.

Dalam ketentuan hukum Indonesia, tidak dikenal adanya pembatasan pertanggunganjawaban


pribadi dari anggota persekutuan perdata, baik yang berbentuk firma ataupun non firma. Artinya
dalam hal total dari nilai kerugian yang dibebankan kepadanya tersebut tidak mencukupi untuk
dibayarkan dari hartanya, maka ada kemungkinan seorang Akuntan Publik untuk dapat dipailitkan
secara pribadi sepanjang ketentuan dalam pasal 2 ayat (1) dari Undang-Undang No. 37 tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terpenuhi. Berbeda halnya di
Amerika dan beberapa Negara lainnya, yang mengenal adanya pembatasan pertanggungjawaban dari
anggota persekutuan perdata dalam suatu badan usaha yang berbentuk Limited Liability Partnership
(LLP).

Potensi pertanggungjawaban secara pribadi ini harus menjadi perhatian yang sungguh-
sungguh dipahami oleh setiap Akuntan Publik untuk dapat kiranya menghindarkan setiap sikap-sikap
yang bertentangan dengan ketentuan hukum dan pengaturan Kode etik profesi Akuntan Publik yang
berlaku.

Selain konsekuensi Perdata, pelanggaran sikap profesionalisme yang dilakukan oleh Akuntan
Publik juga dapat memberikan akibat yang bersifat pidana. Pada dasarnya hal ini telah diusulkan oleh
pemerintah dalam Rancangan Undang-Undang Akuntan Publik yang saat ini telah berada dalam tahap
pembahasan akhir. Dimana selain konsekuensi yang bersifat hukuman sanksi administratif, antara lain
dalam pasal 46 RUU Akuntan Publik tersebut yang memberikan konsekuensi pidana untuk waktu
maksimum 6 tahun dan denda maksimum Rp 300 juta bagi Akuntan Publik yang terbukti: (a)
melanggar pasal 32 ayat 6 yang isinya mewajibkan seorang Akuntan Publik untuk mematuhi SPAP
serta peraturan perundang-undangan yang berlaku, dimana pelanggar terhadap hal tersebut telah
menimbulkan kerugian bagi pihak lain; (b) menyatakan pendapat atas Laporan Keuangan tidak
berdasarkan bukti audit yang sah, relevan dan cukup.

Kemudian (c) melanggar ketentuan asal 37 ayat (1) huruf g dengan melakukan tindakan yang
mengakibatkan kertas kerja dan sokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan pemberian jasa tidak
apat digunakan sebagaimana mestinya, dan juga huruf j dalam melakukan manipulasi data yang
berkaitan dengan jasa yang diberikan; (d) Atau memberikan pernyataan tidak benar, dokumen also
atau dokumen yang dipalsukan untuk mendapatkan atau memperbaharui ijin Akuntan Publik atau
untuk mendapatkan ijin usaha KAP atau ijin pendirian cabang KAP.

Ketentuan pidana tersebut secara tegas ditentang oleh IAPI secara khusus terhadap pengenaan
akibat pidana dalam hal terbukti seorang Akuntan Publik dalam menjalankan tugas profesinya tidak
melakukannya berdasarkan ketentuan yang telah diatur dalam SPAP. Padahal, konsekuensi dari
pelanggaran SPAP tersebut dimata para akuntan publik seharusnya merupakan suatu pelanggaran
yang bersifat administratif sehingga sepantasnya dikenakan ketentuan sanksi administratif bukan
tindakan pidana.

Pada dasarnya, walaupun ketentuan pidana tidak diatur dalam PMK No.17/PMK.01/2008 dan
RUU Akuntan Publik, tetap saja tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh Akuntan Publik untuk
berprofesi secara profesional membuka potensi untuk dipidanakan oleh orang-orang yang dirugikan
olehnya. Misalnya dalam hal terjadinya kedekatan yang sangat antara Akuntan Publik tersebut dengan
klien, atau bahkan juga mungkin pemilik ataupun Akuntan Publik tersebut mempunyai hubungan
keluarga langsung terhadap klien yang menggunakan jasanya tersebut, ataupun Akuntan Publik
tersebut mendapatkan imbalan khusus. Sehingga dapat saja seorang Akuntan Publik melakukan
TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 11
tindakan kejahatan bahkan antara lain dengan cara memalsukan surat seperti yang diatur dalam pasal
263 dan pasal 264 KUHP, ataupun melakukan penipuan ataupun kebohongan seperti yang diatur
dalam pasal 378 KUHP, yang dapat dikutip sebagai berikut:

Pasal 263 (1) KUHP: Barangsiapa membuat secara tidak benar atau memalsu surat yang dapat
menimbulkan suatu hak, perikatan atau pembebasan utang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti
dari suatu hal, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain pakai surat tersebut seolah-
olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam, jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian,
karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun.
Pasal 378 KUHP: Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang
lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat palsu; dengan tipu muslihat
ataupun dengan rangkaian kebiohongan , mengerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu
kepadanya, supaya member utang maupun menghapuskan piutang, diancam, karena penipuan, dengan
pidana penjara palaing lama 4 tahun.

Atau jikapun Akuntan Publik tidak melakukan tindak kejahatan tersebut secara langsung akan
tetapi keterlibatannya dalam tindak pidana kejahatan pemalsuan surat ataupun penipuan tersebut
dilakukan dengan cara turut melakukan ataupun membantu melakukan seperti yang diatur dalam pasal
55 dan 56 KUH Pidana, yang dikutip sebagai berikut:

Pasal 55 ayat (1) KUHP: Dipidana sebagai pembuat (dader) sesuatu perbuatan pidana: Ke-1,
mereka yang melakukan menyuruh melakukan dan yang turut serta melakukan perbuatan; Ke-2,
mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menalahgunakan kekuasaan atau
martabat, dengan kekerasan, ancaman ataupenyesatan, atau dengan member kesempatan, sarana atau
keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

Pasal 56 KUHP: Dipidana sebagai pembantu (medepichtige) suatu kejahatan: Ke-1, mereka
yang sengaja membri bantuan pada waktu kejahatan dilakukan; Ke-2, Mereka yang sengaja member
kesempata, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan.

Mengingat ketentuan hukum pidana telah diatur secara umum dalam KUHP,
pertanggungjawaban secara pidana tidak perlu harus terlebih dahulu diatur dalam UU Akuntan Publik,
karena secara umum, tindakan-tindakan yang berhubungan dengan melakukan ataupun turut serta
ataupun turut membantu melakukan kejahatan, akan memberikan konsekuensi pertangungjawaban
pidana terhadap seorang Akuntan Publik seperti yang dijelaskan dalam pasal-pasal pidana tersebut di
atas. Pemberian hukuman yang bersifat sanksi administratif, secara hukum tidak dapat menghapuskan
akibat pidana yang diancamkan kepada seorang Akuntan Publik yang terbukti melakukan ataupun
terlibat dalam tindakan kejahatan penipuan ataupun pemalsuan surat tersebut.

Jelas sikap professional dari sang Akuntan Publik timbul bukan karena rangkaian ancaman
hukuman administratif, perdata dan bahkan pidana yang dapat menjeratnya dalam hal terjadinya
pelanggaran tersebut, akan tetapi lebih karena memang dunia bisnis Indonesia membutuhkan suatu
proses perjalanan yang sehat dan transparan, sehingga dalam hal menyajikan suatu keberadaan suatu
perusahaan melalui laporan keuangannya tersebut, publik sangat membutuhkan akuntan publik yang
benar-benar mempunyai kemampuan yang baik, professional dan independen dalam menjamin
maksimumnya tingkat akurasi kebenaran dari hasil pernyataan pendapatnya terhadap Laporan
Keuangan tersebut.

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 12


Tanggung Jawab Hukum akuntan Publik

No Nama Judul Penelitian Hasil Penelitian


Persepsi akuntan pria dan akuntan Pertama, terhadap etika prifesi
wanita serta mahasiswa / mahasiswi akuntan, tidak terdapat perbedaan
akuntansi terhadap etika bisnis dan signifikan antara persepsi akuntan pria
etika profesi akuntan dan wanita ;dan hal sebaliknya terjadi
Murtanto di kalangan mahasiwa dan mahasiswi.
dan Kedua terhadap etika bisnis ,tedapat
1
Martini perbedaan persepsi di kalangan
(2013) akuntan publik pria dan akuntan
wanita.

Asareet.al The effectiveness of alternatives risk penilaian integritas manajemen


2
(2004) assessment and program planning merupakan pusat perhatian dalam
tools in a fraud setting penerimaan klien

Mayoritas kasus kecurangan


berhubungan dengan faktor yang
KPMG
3 Fraud survey results 1999 terdapat dalam lingkungan
(1999)
pengendalian , seperti rendahnya
integritas manajemen .

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 13


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Akuntan Publik adalah akuntan yang telah memperoleh izin untuk memberikan jasa sesuai
ketentuan yang berlaku, sedangkan Kantor Akuntan Publik adalah badan usaha yang didirikan
berdasarkan hukum Indonesia dan telah mendapatkan izin usaha dari pihak berwenang. Akuntan
publik juga memiliki tanggung jawab hukum yang diemban sesuai kode etik yang telah ditetapkan
Mengingat profesi akuntan publik sangat penting perannya dalam dunia bisnis di Indonesia, maka
Akuntan Publik harus selalu menjaga integritas (integrity) dan profesionalisme melalui pelaksanaan
standar dan kode etik profesi secara konsekuen dan konsisten. Dalam setiap penugasan yang
diberikan, Akuntan Publik harus selalu bersikap independen dan menggunakan kemahiran jabatannya
secara profesional (due professional care). Akuntan Publik dan KAP agar menghindarkan diri dari
tindakan tercela, seperti kolusi (collusion) dengan klien atau menutupi terjadinya tindak kecurangan
(fraud) yang sangat merugikan berbagai pihak.

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 14


DAFTAR PUSTAKA

Alvin A Arens., Randal J Elder, Mark S Beasley, Auditing dan Jasa Assurance, (Jakarta:
Erlangga), Jilid 1, Edisi 12, 2008
Dan M Guy, C Wayne Alderman, Auditing, (Jakarta: Erlangga), Jilid 1, Edisi 5, 2002.
Elder J Randal, Mark S Beasley, Alvin A Arens, Amir Abadi, Jasa Audit dan Assurance
Pendekatan Terpadu (Adabtasi Indonesia), (Jakarta: Salemba Empat), 2012.
http://ismail125cc.blogspot.co.id/2014/03/etika-profesi-dan-kewajiban-hukum.html (diakses
tanggal 29 September 2015)
http://stdln.blogspot.co.id/2011/02/kewajiban-hukum_18.html (diakses tanggal 1 Oktober
2015).
http://krissaptataruna4.blogspot.co.id/ (diakses tanggal 31 Desember 2014)
http://sbwicaksono.blogspot.co.id/2013/10/tanggung-jawab-akuntan-publik.html (Diposkan 7
October 2013 oleh Satrio B. Wicaksono)

TANGGUNG JAWAB HUKUM AKUNTAN PUBLIK 15