Anda di halaman 1dari 4

Sekolah, Paulo Freire, dan Pendidikan Alternatif

Sudah lama dunia pendidikan formal (sekolah) kita dikritik sebagai tempat yang kurang nyaman bagi
siswa didik dalam mengeksplorasi dan menumbuhkembangkan jatidiri. Sekolah tak ubahnya kerangkeng
penjara yang menindas para murid. Mereka harus menjadi sosok yang serba penurut, patuh, dan taat
pada komando. Imbasnya, mereka menjadi sosok mekanis yang kehilangan sikap kreatif dan mandiri.
Mereka belum terbebas sepenuhnya dari suasana keterpasungan dan penindasan.

Yang lebih mencemaskan, dunia persekolahan kita dinilai hanya menjadi milik anak-anak orang kaya.
Usai menuntut ilmu, mereka menjadi penindas-penindas baru sebagai efek domino dari proses dan
sistem yang selama ini mereka dapatkan di sekolah. Sungguh sangat beralasan jika banyak pengamat
pendidikan yang menilai bahwa dunia persekolahan kita selama ini hanya melahirkan kaum penindas.
Sementara itu, anak-anak dari kalangan masyarakat kelas bawah yang tidak memiliki akses terhadap
dunia pendidikan hanya akan menjadi kacung dan kaum tertindas.

Situasi keterpasungan dan ketertindasan yang berlangsung dalam dunia pendidikan kita, disadari atau
tidak, telah menimbulkan resistensi dari para penggiat sosial. Mereka banyak merintis berdirinya
pendidikan alternatif yang berupaya membebaskan peserta didik dari situasi keterpasungan dan
penindasan. Kalau dalam dunia persekolahan kita identik dengan penyeragaman dan indoktrinasi,
pendidikan alternatif mencoba memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menentukan
pelajaran yang disukai atau memilih jenis aktivitas yang sesuai dengan minat dan hobi mereka masing-
masing, bebas upacara, bahkan bebas ujian. Tempat belajar pun tak selalu berada di sebuah gedung
yang mentereng atau laboratorium ber-AC, tetapi bisa berlangsung di bawah jembatan, tepian rel kereta
api, atau di gubug-gubug kardus.

Bisa jadi, maraknya pendidikan alternatif semacam itu terilhami oleh ide-ide cemerlang dari Paulo
Freire, seorang tokoh pendidikan asal Brasil. Ia dikenal sebagai seorang tokoh yang sangat kontroversial
lantaran keberaniannya menggugat sistem pendidikan yang telah mapan dalam masyarakat Brasil.
Sistem pendidikan yang ada dianggap sama sekali tidak berpihak pada rakyat miskin, tetapi sebaliknya
justru mengasingkan dan menjadi alat penindasan oleh penguasa. Karena hanya menguntungkan
penguasa, menurut Freire, pendidikan yang hanya melahirkan kaum penindas semacam itu harus
dihapuskan dan digantikan dengan sistem pendidikan yang baru.

Sekilas tentang Paulo Freire


Freire lahir pada tanggal 19 September 1921 di Recife, Timur Laut Brasilia. Masa kanak-kanaknya dilalui
dalam situasi penindasan karena orang tuanya yang kelas menengah jatuh miskin pada tahun 1929.
Setamat sekolah menengah, Freire kemudian belajar Hukum, Filsafat, dan Psikologi.

Sambil kuliah, ia bekerja “part time” sebagai instuktur bahasa Potugis di sekolah menengah. Ia meraih
gelar doktor pada tahun 1959, lalu diangkat menjadi profesor. Dalam kedudukannya sebagi dosen, ia
menerapkan sistem pendidikan “hadap-masalah” sebagai kebalikan dari pendidikan “gaya bank”. Sistem
pendidikan hadap masalah yang penekanan utamanya pada penyadaran siswa didik menimbulkan
kekhawatiran di kalangan penguasa. Oleh karena itu, ia dipenjarakan pada tahun 1964, kemudian
diasingkan ke Chile. Pengasingan itu, walaupun mencabut ia dari akar budayanya yang menimbulkan
ketegangan, tidak membuat idenya yang membebaskan “dipenjarakan”, tetapi sebaliknya ide itu
semakin menyebar ke seluruh dunia. Ia mengajar di Universitas Havard, USA pada tahun 1969-1970.

Pandangan Paulo Freire tentang pendidikan alternatif lahir dari suatu pergumulan dalam konteks nyata
yang ia hadapi dan sekaligus merupakan refleksi terhadap filsafat pendidikan yang berporos pada
pemahaman tentang manusia. Masyarakat feodal (hirarkis) merupakan struktur masyarakat yang umum
berpengaruh di Amerika Latin pada saat itu. Dalam masyarakat feodal yang hirarkis ini terjadi perbedaan
mencolok antara strata masyarakat “atas” dengan strata masyarakat “bawah”. Golongan atas menjadi
penindas masyarakat bawah dengan melalui kekuasaan politik dan akumulasi kekayaan, sehingga
menyebabkan golongan masyarakat bawah menjadi semakin miskin yang sekaligus semakin
menguatkan ketergantungan kaum tertindas kepada para penindas itu.

Dalam kehidupan masyarakat yang sangat kontras itu, lahirlah suatu kebudayaan yang disebut Freire
dengan kebudayaan “bisu”. Kesadaran refleksi kritis tetap tidur dan tidak tergugah. Akibatnya, putaran
waktu hanya dilihat sebagai sekat hari ini yang menghimpit. Manusia tenggelam dalam “hari ini” yang
panjang, monoton dan membosankan, sedangkan eksistensi masa lalu dan masa akan datang belum
disadari sepenuhnya. Dalam kebudayaan bisu semacam itu, kaum tertindas hanya menerima begitu saja
segala perlakuan dari kaum penindas. Bahkan, ada ketakutan pada kaum tertindas akan adanya
kesadaran tentang ketertindasan mereka.

Untuk menguasai realitas hidup, termasuk menyadari kebisuan itu, bahasa harus dikuasai. Menguasai
bahasa berarti mempunyai kesadaran kritis dalam mengungkapkan realitas. Pendidikan yang dapat
membebaskan dan memberdayakan adalah pendidikan yang membuat siswa didik dapat mendengar
suaranya yang asli. Pendidikan yang relevan dalam masyarakat berbudaya bisu adalah mengajar untuk
membuat mereka mampu mendengarkan suaranya sendiri dan bukan suara dari luar, termasuk suara
sang pendidik.
Dalam kondisi semacam itu, Freire terpanggil untuk membebaskan masyarakatnya yang tertindas dan
yang telah “dibisukan”. Pendidikan “gaya bank” dilihatnya sebagai salah satu sumber yang
mengokohkan penindasan dan kebisuan itu. Disebut pendidikan gaya bank, sebab dalam proses belajar
mengajar guru tidak memberikan pengertian kepada siswa didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil
atau rumusan kepada siswa untuk disimpan, yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama
jika diperlukan. Siswa didik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada
akhirnya siswa didik itu sendiri yang “disimpan” karena miskinnya daya cipta. Pendidikan gaya bank
dinilai hanya menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap sesamanya
manusia.

Untuk menghapuskan pendidikan gaya bank, Freire menawarkan pendidikan alternatif melalui sistem
pendidikan hadap-masalah. Dalam proses pendidikan semacam ini, kontradiksi guru-murid (guru
menjadi sumber segala pengetahuan, sedangkan murid menjadi orang yang tidak tahu apa-apa) tidak
ada. Siswa didik tidak dilihat dan ditempatkan sebagai objek yang harus diajar dan menerima. Demikian
pula sebaliknya, guru tidak berfungsi sebagai pengajar. Guru dan murid adalah sama-sama belajar dari
masalah yang dihadapi. Guru dan siswa didik bersama-sama sebagai subyek dalam memecahkan
permasalahan. Guru bertindak dan berfungsi sebagai koordinator yang memperlancar percakapan
dialogis. Ia adalah teman dalam memecahkan permasalahan. Sementara itu, siswa didik adalah
partisipan aktif dalam dialog tersebut. Materi dalam proses pendidikan pun tidak diambil dari sejumlah
rumusan baku atau dalil dalam buku paket, tetapi sejumlah permasalahan yang diangkat dari kenyataan
hidup yang dialami oleh siswa didik dalam konteksnya sehari-hari.

Quovadis Dunia Pendidikan Kita?

Lantas, adakah relevansi antara pendidikan alternatif ala Freire dan dunia pendidikan (formal) kita? Dari
setting sosial dan kultural, struktur masyarakat kita memang berbeda dengan kondisi masyarakat Brasil.
Namun, berdasarkan struktur hierarkis masyarakat kita yang cenderung bergaya feodal, agaknya
pendidikan alternatif ala Freire bisa dijadikan sebagai bahan analogi dan refleksi terhadap dunia
pendidikan kita yang dinilai belum mampu membebaskan siswa didik dari keterpasungan dan
ketertindasan.

Konon, pemegang kendali dalam feodalisme modern adalah kelompok pedagang/pengusaha yang
menguasai ekonomi lebih dari setengah kekayaan yang ada. Kelompok tersebut mengakumulasikan
kekayaan kurang lebih 80% kekayaan Indonesia, padahal jumlah mereka tidak lebih dari 20 % dari
jumlah penduduk. Kedua kelompok “penindas” tersebut semakin memperkokoh kekuasaannya sebab
secara praktik hanya mereka yang mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi
yang sangat mahal dan terpola dalam sistem kekuasaan itu. Generasi itulah yang kemudian menjadi
pewaris “tahta penindasan”. Kalau ada dari kelompok rakyat kecil yang mampu mengecap pendidikan
tinggi, ia akan berubah menjadi pemegang kendali feodalisme baru, baik dalam rangka balas dendam
maupun dalam “penindasan” terhadap sesama kaum “tertindas”. Salah satu kritikan Freire adalah
pendidikan yang berupaya membebaskan kaum tertindas untuk menjadi penindas baru. Bagi Freire
pembebasan kaum tertindas tidak dimaksudkan supaya ia bangkit menjadi penindas yang baru, tetapi
supaya sekaligus membebaskan para penindas dari ketertindasannya.

Kritikan Freire agaknya masih cukup relevan jika kita kaitkan dengan fenomena korupsi yang dinilai
sudah menjadi budaya yang mengakar dalam masyarakat kita. Korupsi dengan berbagai bentuknya
merupakan manifestasi dari imbas proses pendidikan kita yang dianggap belum sanggup membebaskan
dan mencerahkan siswa didik dari perilaku yang kerdil dan cacat moral. Mereka ingin menjadi neo-
borjuis, neo-feodal, atau penindas-penindas baru secara instan melalui praktik korupsi sebagai upaya
untuk mengembalikan modal sebagai dampak mahalnya biaya pendidikan. Quovadis dunia pendidikan
(formal) kita kalau hanya melahirkan borjuis dan penindas-penindas baru?

Jangan salahkan pendidikan alternatif kalau dunia pendidikan (formal) kita gagal menyediakan tempat
yang nyaman bagi masyarakat miskin untuk menimba ilmu. Jangan ratapi pula maraknya koruptor yang
masih terus bebas melenggang mengemplang harta negara kalau tak ada perubahan mendasar dalam
desain dan sistem pendidikan kita. Juga, jangan tangisi puluhan sarjana gadungan yang harus
menggadaikan harkat dan martabat kemanusiaannya dengan membeli ijazah palsu kalau struktur
masyarakat kita masih memberhalakan feodalisme dan borjuisme! ***