Anda di halaman 1dari 10

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MATRAMAN

DINAS KESEHATAN
PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MATRAMAN


NOMOR 291 TAHUN 2018
TENTANG
PENETAPAN TIM FARMASI DAN TERAPI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MATRAMAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MATRAMAN,

Menimbang : a. bahwa peningkatan mutu pelayanan rumah sakit terkait


erat dengan penggunaan obat dan alat kesehatan yang
rasional dalam semua lini pelayanan;
b. bahwa dalam upaya peningkatan mutu pelayanan rumah
sakit, diperlukan adanya panitia yang merumuskan
kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat
dan evaluasinya;
c. bahwa untuk melaksanakan fungsi-fungsi tersebut maka
perlu dibentuk Tim Farmasi dan Terapi;
d. bahwa nama-nama yang tercantum dalam lampiran
keputusan ini dipandang mampu sebagai Tim Farmasi
dan Terapi Rumah Sakit;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, b, c dan d di atas, perlu
ditetapkan Keputusan Direktur tentang Penetapan Tim
Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit Umum Daerah
Matraman.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan;
2. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72
Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan
Alat Kesehatan;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit;
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129 Tahun 2008
tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit;

6. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota


Jakarta Nomor 20 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Minimal Rumah Sakit Umum Daerah dan
Rumah Sakit Khusus Daerah;
7. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Nomor 388 Tahun 2016 tentang Pembentukan
Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah
Kelas D;
8. Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Nomor 993 Tahun 2017 tentang Penetapan
Rumah Sakit Umum Daerah Kelas D.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


MATRAMAN TENTANG PENETAPAN TIM FARMASI DAN
TERAPI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MATRAMAN.
KESATU : Struktur organisasi dan Mekanisme Kerja Tim Farmasi dan
Terapi tertuang dalam lampiran keputusan ini.
KEDUA : Tim Farmasi dan Terapi bertanggung jawab kepada Direktur
Rumah Sakit dalam melaksanakan tugas agar berkoordinasi
dengan unit/bagian lain dalam Rumah Sakit.
KETIGA : Dengan berlakunya Keputusan ini, maka Keputusan sebelumnya
yang terkait dengan Keputusan ini dicabut dan tidak berlaku lagi.
KEEMPAT : Surat Keputusan ini berlaku terhitung mulai tanggal ditetapkan,
dengan ketentuan apabila terdapat kekeliruan dalam
penetapannya akan dilakukan perbaikan kembali sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal :

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM


DAERAH MATRAMAN

OPY DYAH PARAMITA


NIP. 197910222006042007
Lampiran
Nomor : 291 Tahun 2018
Tanggal :

TIM FARMASI DAN TERAPI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MATRAMAN

A. Susunan Keanggotaan

1. NAMA : dr. EDWARD DIAN SUWITO, Sp.OG


NIPK : 10208019760525201606122
JABATAN : KETUA TIM FARMASI DAN TERAPI
UNIT KERJA : RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MATRAMAN

2. NAMA : Dra. EKO YUSPRIHANI,Apt.


NIP/NRK : 196004271989032001/ 120904
JABATAN : SEKRETARIS TIM FARMASI DAN TERAPI
UNIT KERJA : RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MATRAMAN

3. NAMA : dr. PRIYO ANGGORO WISNUBROTO,Sp.A


NIPK : 10208019710803201701128
JABATAN : ANGGOTA TIM FARMASI DAN TERAPI
UNIT KERJA : RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MATRAMAN

B. Uraian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab


Pemantauan Farmasi dan Terapi pada suatu Rumah Sakit berfungsi
sebagai :
1. Pengemban kebijakan dan prosedur mengenai seleksi, distribusi,
penanganan, penggunaan, pemberian/konsumsi obat dan bahan uji
diagnose
2. Pengembangan dan pemeliharaan formularium obat
3. Evaluasi dan apabila tidak ada mekanisme demikian, persetujuan protocol,
berkaitan dengan penggunaan obat investigasi atau obat percobaan
4. Penetapan dan pengkajian semua reaksi obat yang merugikan

Tim Farmasi dan terapi adalah sekelompok penasehat dari staf medik dan
bertindak sebagai garis komunikasi organisasi antara staf medik dan instalasi
farmasi rumah sakit. Pembentukan Tim Farmasi dan Terapi yang efektif akan
memberi kemudahan dalam pengadaan sistem formularium yang membawa
perhatian staf medik pada obat yang terbaik dan membantu mereka dalam
menyeleksi obat terapi yang tepat bagi pengobatan penderita tertentu.

Kegunaan Utama dari Tim Farmasi dan Terapi :


1. Perumusan Kebijakan-Prosedur
Tim Farmasi dan Terapi memformulasikan kebijakan berkenaan dengan
evaluasi, seleksi, dan penggunaan terapi obat, serta alat yang berkaitan
di Rumah Sakit

2. Edukasi
Tim Farmasi dan Terapi memberi rekomendasi atau membantu
memformulasikan program yang didesain untuk memenuhi kebutuhan staf
professional (dokter, perawat, apoteker, dan praktisi pelayanan kesehatan
lain). Tim Farmasi dan Terapi meningkatkan penggunaan obat secara
rasional melalui pengembangan kebijakan dan prosedur yang relevan
untuk seleksi obat, pengadaan, penggunaan, dan melalui edukasi tentang
obat bagi penderita dan staf professional.

Garis besar ketentuan dalam mengoperasikan Tim Farmasi dan Terapi :


1. Tim harus mengadakan pertemuan/rapat dengan jadwal yang teratur
2. Mengadakan hasil rapat dan disampaikan ke semua anggota
3. Sekretaris harus meminimalkan judul yang dapat ditangani secara
administratif dan memaksimalkan hal-hal yang memerlukan diskusi antar
disiplin dalam agenda rapat
4. Notulen rapat harus diambil oleh sekretaris dan harus dipelihara sebagai
rekaman permanen rumah sakit.
5. Rekomendasi panitia harus disajikan kepada staf medik atau panitia lain yang
sesuai untuk diadopsi
6. Hubungan antar unit lain yang berkaitan dengan penggunaan obat harus
dipelihara (misalnya pengendalian infeksi)
7. Tindakan panitia harus secara rutin dikomunikasikan ke berbagai personil
pelayanan kesehatan yang terlibat dalam perawatan penderita
8. Panitia harus diorganisasikan dan dioperasikan
9. Pengkajian obat yang sedang dievaluasi untuk masuk ke atau dihapus dari
formularium.

Fungsi dan Lingkup


Beberapa fungsi suatu Tim Farmasi dan Terapi yang disajikan sebagai pedoman :
1. Berfungsi dalam suatu kapasitas evaluative, edukasi, dan penasehat bagi staf
medik dan pimpinan rumah sakit, dalam semua hal yang berkaitan dengan
penggunaan obat (termasuk obat investigasi)
2. Mengembangkan dan menetapkan formularium obat yang diterima untuk
digunakan dalam rumah sakit dan mengadakan revisi tetap
3. Menetapkan program dan prosedur yang membantu memastikan terapi obat
mana yang aman dan bermanfaat
4. Menetapkan program dan prosedur yang membantu memastikan manfaat
biaya terapi obat
5. Menetapkan atau merencanakan program edukasi yang sesuai bagi staf
professional rumah sakit tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
penggunaan obat
6. Berpartisipasi dalam kegiatan jaminan mutu yang berkaitan dengan distribusi,
pemberian, dan penggunaan obat
7. Memantau dan mengevaluasi reaksi obat yang merugikan (termasuk, tetapi
tidak terbatas pada biologis, dan vaksin) dalam rumah sakit dan membuat
rekomendasi yang tepat untuk mencegah terulangnya kembali
8. Memprakarsai atau memimpin program dan studi evaluasi penggunaan obat,
pengkajian hasil dari kegiatan tersebut dan membuat rekomendasi yang tepat
untuk mengoptimalkan penggunaan obat
9. Bersama instalasi farmasi rumah sakit merencanakan dan menetapkan suatu
sistem distribusi obat dan prosedur pengendalian yang efektif
10. Tim Farmasi dan Terapi mempunyai tanggungjawab pada pengadaan
edukasi bagi staf professional rumah sakit
11. Membantu Instalasi Farmasi rumah sakit dalam pengembangan dan
pengkajian kebijakan, ketetapan dan peraturan berkaitan dengan
penggunaan obat dalam rumah sakit sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
12. Mengevaluasi, menyetujui atau menolak obat yang diusulkan untuk
dimasukkan ke dalam atau dikeluarkan dari formularium rumah sakit
13. Menetapkan kategori obat yang digunakan dalam rumah sakit dan
menempatkan tiap obat pada suau kategori tertentu
14. Mengkaji penggunaan obat dalam rumah sakit dan meningkatkan standar
optimal untuk terapi obat rasional
15. Membuat rekomendasi tentang obat yang disediakan dalam daerah
perawatan penderita.

Kewenangan Tim Farmasi dan Terapi


Tim Farmasi dan Terapi mempunyai wewenang sepenuhnya melaksanakan sistem
formularian, merumuskan dan mengendalikan pelaksanaan semua kebijakan,
ketetapan, prosedur, aturan yang berkaitan dengan obat. Tim berwenang penuh
untuk mengadakan, mengembangkan, menetapkan,merevisi dan mengubah
formularian dan menyetujui perubahan kebijakan penggunaan obat dan pelayanan
instalasi farmasi rumah sakit.

Kebijakan Tim Farmasi dan Terapi


Untuk mencegah salah pengertian diantara anggota Tim dan selanjutnya seluruh
staf medik,maka diperlukan kebijakan antara lain :
1. Pengusulan obat baru
Pengusulan obat baru untuk formularium rumah sakit harus dianjurkan
dengan menggunakan formularium permohonan untuk evaluasi status
formularium. Formulir yang telah diisi dapat diajukan setiap anggota staf
medik. Tim evaluasi permohonan dan memberitahu pengusul tentang
keputusan diterima atau ditolak. Pengusul mempunyai peluang naik banding
terhadap keputusan panitia.

2. Kategori Obat
 Obat Formularium
Adalah obat yang telah tersedia secara komersial, direkomendasikan
Tim Farmasi dan Terapi sebagai obat yang baik untuk perawatan
penderita dengan penggunaan yang telah ditetapkan dengan baik
 Obat yang disetujui dengan syarat periode percobaan
Adalah obat yang telah tersedia secara komersial yang akan dievaluasi
Tim Farmasi dan Terapi selama periode 6 atau 12 bulan sebelum
pertimbangan akhir
 Obat formularium yang dikhususkan
Adalah obat yang tersedia secara komersial yang direkomendasikan
untuk penggunaan dalam perawatan penderita yang dikhususkan
 Obat investigasi
Adalah obat yang tidak tersedia secara komersial tetapi lebih disetujui
oleh lembaga (pemerintah) yang berwenang untuk penggnaan khusus
oleh peneliti utama.

3. Obat yang tidak memenuhi kategori


Obat yang tidak masuk ke dalam kategori di atas dianggap sebagai obat
nonformularium dan tidak akan disediakan oleh Instalasi Farmasi Rumah
Sakit. Obat nonformularium dapat ditulis dalam jumlah terbatas untuk kasus
khusus hanya oleh anggota staf medik senior.

4. Blanko resep
Tandatangan pada blanko resep atau order tidak diperkenankan

5. Kewenangan dispensing
Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah satu-satunya unit di Rumah Sakit yang
diberi wewenang mendispensing obat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, kebijakan serta prosedur rumah sakit.

6. Perwakilan Perusahaan Farmasi


Tim Farmasi dan Terapi bertanggungjawab untuk mengadakan ketentuan dan
peraturan yang menguasai kegiatan perwakilan perusahaan farmasi dalam
rumah sakit. Ketentuan dan peraturan ini tersedia untuk didistribusikan oleh
Instalasi Farmasi Rumah Sakit.

7. Obat yang ditarik


Penarikan obat yang ditarik dapat berasal dari manufaktur, pemerintahan
Badan POM. Setelah pemberitahuan penarikan diterima, obat dipindahkan
dan diganti, informasi ini disampaikan kepada staf medik yang berkaitan.
Semua obat yang ditarik, jika ada dalam persediaan di karantina di Instalasi
Farmasi Rumah Sakit, sampai petunjuk untuk pengembalian dan atau solusi
akhir ditetapkan.
8. Apabila ada obat yang baru ditambahkan dalam formularium maka ada
proses untuk memantau bagaimana penggunaan obat tersebut dan bila
terjadi efek obat yang tidak diharapkan, efek samping serta medication error.
9. Memantau kepatuhan terhadap formularium baik dari persediaan maupun
penggunaanya.
10. Pelaksanaan formularium sekurang-kurangnya dikaji setahun sekali berdasar
atas informasi tentang keamanan dan efektivitas.

Peranan Khusus Tim Farmasi dan Terapi


Penghentian otomatis obat berbahaya
Tim Farmasi dan Terapi harus mengembangkan suatu ketentuan atau prosedur agar
obat berbahaya diberikan secara tepat di bawah kendali staf medik. Di bawah ini ada
dua contoh kebijakan, salah satunya dapat digunakan :
1. Semua order obat narkotik, sedative, hipnotik, antikoagulan, dan antibiotic
yang diberikan secara oral dan parenteral harus secara otomatis dihentikan
setelah 48 jam, kecuali :
 Order menyatakan suatu jumlah dosis yang tepat untuk dikonsumsi
 Suatu periode waktu yang tepat untuk pengobatan dinyatakan, atau
 Dokter yang bertugas mengorder kembali obat tersebut
2. Semua order untuk narkotik sedative dan hipnotik wajib ditulis kembali setiap
24 jam dan order tetap untuk semua obat harus berakhir pada pukul 10.00
pada hari ketujuh, kecuali diperbaharui.

Daftar Obat Darurat


Tim Farmasi dan Terapi harus mengembangkan suatu daftar perbekalan dan obat
untuk kotak obat keadaan darurat, dan apoteker serta perawat penyelia mempunyai
tanggungjawab bersama agar kotak tersebut segera tersedia untuk digunakan pada
setiap waktu yang diperlukan.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal :

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM


DAERAH MATRAMAN

OPY DYAH PARAMITA


NIP. 197910222006042007