Anda di halaman 1dari 104

MODUL

KETERAMPILAN DASAR PRAKTIK


KEBIDANAN

SULFIANTI, S.SiT., S.KM., M.Keb


NIDN.0907128202

YAYASAN SIPATOKKONG
AKADEMI KEBIDANAN (AKBID)
BINA SEHAT NUSANTARA BONE
Jln. DR. Wahidin Sudiro Husodo Watampone No. 75, Tlp./fax 0481-2911834,
Email ;
Akbid bsnwtp@yahoo.co.id

VISI : “terwujudnya AKBID BSN sebagai perguruan tinggi yang berkualitas, bermartabat dan
berdaya saing nasional pada tahun 2032”
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugrah dari-
Nya, kami dapat menyelesaikan modul tentang “ pengantar asuhan kebidanan ini.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita,
Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang
lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar
bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan modul ini
sebagai bahan pembelajaran untuk mahasiswa AKBID Bina Sehat Nusantara
Bone. Di samping itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu selama pembuatan modul ini berlangsung sehingga
dapat terealisasikan.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga modul ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca. Kami mengharapkan kritik dan saran agar
kedepannya dapat kami perbaiki. Karena kami sadar modul yang kami buat ini
masih banyak terdapat kekurangan.

Bone, 17 Januari 2019

Mengetahui, Koordinator Dosen PJ,

Direktur

Dr. Hasnidar, S.ST.,M.Kes Sulfianti, S. Si. T, S.KM., M. Keb


NIDN. 0903107604 NIDN. 0907128202

ii
rDAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................... ii


Daftar Isi .................................................................................................... iii
BAB I KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
A. Prinsip Dasar Kebutuhan Manusia .................................................. 1
B. Homeostatis Dan Hemodinamik ..................................................... 3
C. Perkembangan Manusia .................................................................. 5

BAB II MEMENUHI KEBUTUHAN FISIK


A. Kebutuhan Oksigenasi .................................................................... 9
B. Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit .................................................... 11
C. Kebutuhan Nutrisi ........................................................................... 12
D. Kebutuhan Eliminasi ....................................................................... 14
E. Kebutuhan Istirahat Dan Tidur........................................................ 15
F. Kebutuhan Stimulasi ....................................................................... 16
G. Kebutuhan Seksualitas .................................................................... 16

BAB III KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL


A. Pengertian Psikososial..................................................................... 17
B. Konsep Dasar Psikososial ............................................................... 17
C. Tahap Perkembangan Psikososial ................................................... 18

BAB IV PRINSIP PENCEGAHAN INFEKSI


A. Pengertian Pencegahan Infeksi ....................................................... 23
B. Prinsip-prinsip Pencegahan Infeksi ................................................. 23
C. Penatalaksanaan Pencegahan Infeksi .............................................. 24
D. Daftar Tilik Pencegahan infeksi ...................................................... 27

BAB V PEMROSESAN ALAT / INSTRUMENT


A. Definisi ............................................................................................ 31

iii
B. Jenis-jenis Pemrosesan Alat ............................................................ 31
C. Daftar Tilik ...................................................................................... 32

BAB VI PENANGANAN PEMBUANGAN SAMPAH


A. Pengertian Sampah Medis ............................................................... 34
B. Jenis Sampah Medis ........................................................................ 35
C. Pengaruh Sampah Terhadap Kesehatan .......................................... 36
D. Prinsip Penanganan Sampah ........................................................... 36

BAB VII PEMERIKSAAN FISIK PADA IBU


A. Konsep Dasar Pemeriksaan Fisik .................................................... 38
B. Prinsip Dasar Pemeriksaan Fisik .................................................... 38
C. Teknik Dasar Pemeriksaan Fisik ..................................................... 39
D. Daftar Tilik Pemeriksaan Fisik ....................................................... 44

BAB VIII PEMERIKSAAN FISIK PADA BAYI DAN ANAK BALITA


A. Pemeriksaan Fisik Pada Bayi .......................................................... 52
B. Pemeriksaan Fisik Pada Anak Balita .............................................. 64
C. Daftar Tilik Pemeriksaan Pada BBL ............................................... 68

BAB IX PERSIAPAN UNTUK PEMERIKSAAN LABORATORIUM


A. Menetapkan Kebutuhan Pemeriksaan Laboratorium ...................... 73
B. Pemeriksaan Lab Yang Dianjurkan Selama Kehamilan ................. 75
C. Contoh Daftar Tilik Pemeriksaan Laboratorium............................. 76
D. Pembacaan Hasil Pemeriksaan ........................................................ 78

BAB X PRINSIP DAN TEKNIK PEMBERIAN OBAT


A. Prinsip-prinsip Pemberian Obat ...................................................... 80

BAB XI PERAWATAN BEDAH KEBIDANAN DAN PERAWATAN LUKA


A. Perawatan Pasca Bedah ................................................................... 81

iv
B. Konsep Dasar Dalam Perawatan Luka ............................................ 82
C. Prinsip Penyembuhan Luka............................................................. 85
D. Faktor Yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka ............... 85
E. Daftar Tilik Perawatan Luka ........................................................... 88

BAB XII MENDAMPINGI KLIEN YANG KRISIS


A. Definisi Pasien Krisis ...................................................................... 88
B. Prioritas Pasien Yang Dikatakan Krisis .......................................... 89
C. Karakteristik Situasi Krisis ............................................................. 89
D. Daftar Tilik Mendampingi Klien Yang Krisis ................................ 90

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 97

v
BAB I
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

A. Prinsip Dasar kebutuhan Manuisa


Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan
oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologi maupun
psikologis, Faktor – faktor yang mempengaruhi kebutuhan dasar manusia :
1. Penyakit, jika dalam keadaan sakit maka beberapa fungsi organ tubuh
memerlukan pemenuhan kebutuhan lebih besar dari biasanya. Hubungan
keluarga yang baik dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar
karena adanya saling percaya.
2. Konsep diri yang positif memberikan makna dan keutuhan bagi
seseorang. Konsep diri yang sehat memberikan perasaan yang positif
terhadap diri. Orang yang merasa positif tentang dirinya akan mudah
berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara hidup
yang sehat sehingga lebih mudah memenuhi kebutuhan dasarnya.
3. Tahap perkembangan, setiap tahap perkembangan manusia mempunyai
kebutuhan yang berbeda, baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial,
maupun spiritual.
Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow
Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan
wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Abraham Maslow dikenal sebagai
pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak
untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang
sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs
(Hirarki Kebutuhan).
Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau
hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang
paling tinggi (aktualisasi diri). Hierarchy of needs (hirarki kebutuhan) dari
Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki 5 macam kebutuhan yaitu

1
physiological needs (kebutuhan fisiologis), safety and security needs
(kebutuhan akan rasa aman), love and belonging needs (kebutuhan akan rasa
kasih sayang dan rasa memiliki), esteem needs (kebutuhan akan harga diri),
dan self-actualization (kebutuhan akan aktualisasi diri).
1. Kebutuhan fisiologis (Physiological) . Jenis kebutuhan ini berhubungan
dengan pemenuhan kebutuhan dasar semua manusia seperti, makan,
minum, menghirup udara, dan sebagainya. Termasuk juga kebutuhan
untuk istirahat, buang air besar atau kecil, menghindari rasa sakit, dan
seks. Jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka tubuh akan menjadi
rentan terhadap penyakit, terasa lemah, tidak fit, sehingga proses untuk
memenuhi kebutuhan selanjutnya dapat terhambat. Hal ini juga berlaku
pada setiap jenis kebutuhan lainnya, yaitu jika terdapat kebutuhan yang
tidak terpenuhi, maka akan sulit untuk memenuhi kebutuhan yang lebih
tinggi.
2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (Safety and security needs).
Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah terpenuhi secara layak,
kebutuhan akan rasa aman mulai muncul. Keadaan aman, stabilitas,
proteksi dan keteraturan akan menjadi kebutuhan yang meningkat. Jika
tidak terpenuhi, maka akan timbul rasa cemas dan takut sehingga dapat
menghambat pemenuhan kebutuhan lainnya
3. Kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki (love and Belonging
needs). Ketika seseorang merasa bahwa kedua jenis kebutuhan di atas
terpenuhi, maka akan mulai timbul kebutuhan akan rasa kasih sayang dan
rasa memiliki. Hal ini dapat terlihat dalam usaha seseorang untuk mencari
dan mendapatkan teman, kekasih, anak, atau bahkan keinginan untuk
menjadi bagian dari suatu komunitas tertentu seperti tim sepakbola, klub
peminatan dan seterusnya. Jika tidak terpenuhi, maka perasaan kesepian
akan timbul.
4. Kebutuhan akan harga diri (esteem needs) . Kemudian, setelah ketiga
kebutuhan di atas terpenuhi, akan timbul kebutuhan akan harga diri.
Menurut Maslow, terdapat dua jenis, yaitu lower one dan higher one.

2
Lower one berkaitan dengan kebutuhan seperti status, atensi, dan reputasi.
Sedangkan higher one berkaitan dengan kebutuhan akan kepercayaan diri,
kompetensi, prestasi, kemandirian, dan kebebasan. Jika kebutuhan ini
tidak terpenuhi, maka dapat timbul perasaan rendah diri dan inferior.
5. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization). Kebutuhan terakhir
menurut hirarki kebutuhan Maslow adalah kebutuhan akan aktualisasi
diri. Jenis kebutuhan ini berkaitan erat dengan keinginan untuk
mewujudkan dan mengembangkan potensi diri. Menurut Abraham
Maslow, kepribadian bisa mencapai peringkat teratas ketika kebutuhan-
kebutuhan primer ini banyak mengalami interaksi satu dengan yang lain,
dan dengan aktualisasi diri seseorang akan bisa memanfaatkan faktor
potensialnya secara sempurna.

B. Homeostatis Dan Hemodinamik


1. Homeostasis
Homeostasis merupakan suatu keadaan tubuh untuk
mempertahankan keseimbangan dalam mempertahankan kondisi yang
dialaminya. Proses homeostasis ini dapat terjadi apabila tubuh mengalami
stres yang ada sehingga tubuh secara alamiah akan melakukan mekanisme
pertahanan diri untuk menjaga kondisi yang seimbang, atau juga dapat
dikatakan bahwa homeostasis adalah suatu proses perubahan yang terus-
menerus untuk memelihara stabilitas dan beradaptasi terhadap kondisi
lingkungan sekitarnya.
Homeostasis yang terdapat dalam tubuh manusia dapat
dikendalikan oleh suatu sistem endokrin dan syaraf otonom. Secara
alamiah proses homeostasis dapat terjadi dalam tubuh manusia.
Dalam mempelajari cara tubuh melakukan proses homeostasis ini
dapat melalui empat cara yaitu :
a. Self regulation. Sistem ini dapat terjadi secara otomatis pada orang
yang sehat seperti dalam pengaturan proses sistem fisiologis tubuh
manusia.

3
b. Cara kompensasi, Tubuh akan cenderung bereaksi terhadap
ketidaknormalan dalam tubuh. Sebagai contoh, apabila secara tiba-tiba
lingkungan menjadi dingin, maka pembuluh darah perifer akan
mengalami konstriksi dan merangsang pembuluh darah bagian dalam
untuk meningkatkan kegiatan (misalnya menggigil) yang dapat
menghasilkan panas sehingga suhu tetap stabil, pelebaran pupil untuk
meningkatkan persepsi visual pada saat terjadi ancaman terhadap tubuh,
peningkatan keringat untuk mengontrol kenaikan suhu badan.
c. Cara umpan balik negatif. Proses ini merupakan penyimpangan dari
keadaan normal. Dalam keadaan abnormal tubuh secara otomatis akan
melakukan mekanisme umpan balik untuk menyeimbangkan
penyimpangan yang terjadi.
d. Umpan balik untuk mengoreksi ketidakseimbangan fisiologis. Sebagai
contoh apabila seseorang mengalami hipoksia akan terjadi proses
peningkatan denyut jantung untuk membawa darah dan oksigen yang
cukup ke sel tubuh.
Homeostasis psikologis berfokus pada keseimbangan emosional
dan kesejahteraan mental. Proses ini didapat dari pengalaman hidup dan
interaksi dengan orang lain serta dipengaruhi oleh norma dan kultur
masyarakat. Contoh homeostasis psikologis adalah mekanisme pertahanan
diri seperti menangis, tertawa, berteriak, memukul.
2. Hemodinamik
Homeodinamik merupakan pertukaran energi secara terus-menerus
antara manusia dan lingkungan sekitarnya. Pada proses ini manusia tidak
hanya melakukan penyesuaian diri, tetapi terus berinteraksi dengan
lingkungan agar mampu mempertahankan hidupnya
Proses homeodinamik bermula dari teori tentang manusia sebagai
unit yang merupakan satu kesatuan utuh, memiliki karakter yang berbeda-
beda, proses hidup yang dinamis, selalu berinteraksi dengan lingkungan
yang dapat dipengaruhi dan mempengaruhinya, serta memiliki keunikan

4
tersendiri dalam proses homeodinamik ini. Adapun beberapa prinsip
hemodinamik adalah sebagai berikut :
a. Prinsip integralitas. Prinsip utama dalam hubungan antara manusia
dengan lingkungan yang tidak dapat dipisahkan. Perubahan proses
kehidupan ini terjadi secara terus-menerus karena adanya interaksi
manusia dengan lingkungan yang saling mempengaruhi.
b. Prinsip resonansi Prinsip bahwa proses kehidupan manusia selalu
berirama dan frekuensinya bervariasi, mengingat manusia memiliki
pengalaman beradaptasi dengan lingkungan.
c. Prinsip helicy. Prinsip bahwa setiap perubahan dalam proses kehidupan
manusia berlangsung perlahan-lahan dan terdapat hubungan antara
manusia dan lingkungan.
3. Perkembangan Manusia
Tahap tahap perkembangan manusia memiliki fase yang cukup
panjang. Untuk tujuan pengorganisasian dan pemahaman, kita umumnya
menggambarkan perkembangan dalam pengertian periode atau fase
perkembangan.
Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan
meliputi urutan sebagai berikut: Periode pra kelahiran, masa bayi, masa
awal anak anak, masa pertengahan dan akhir anak anak, masa remaja,
masa awal dewasa, masa pertengahan dewasa dan masa akhir dewasa.
Perkiraan rata rata rentang usia menurut periode berikut ini
memberi suatu gagasan umum kapan suatu periode mulai dan berakhir.
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai pada setiap periode tahap
tahap perkembangan manusia:
a. Periode prakelahiran (prenatal period)
Adalah saat dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini
merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal
hingga menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak
dan perilaku, yang dihasilkan kira kira dalam periode 9 bulan.

5
b. Masa bayi (infacy)
Adalah periode perkembangan yang merentang dari kelahiran
hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat
bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang
terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis,
koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial.
c. Masa awal anak anak (early chidhood)
Adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi
hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan
periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil belajar semakin
mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan
keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah,
mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk
bermain dengan teman teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu
sekolah dasar, maka secara umum mengakhiri masa awal anak anak.
d. Masa pertengahan dan akhir anak anak (middle and late childhood)
Adalah periode perkembangan yang merentang dari usia kira
kira enam hingga sebelas tahun, yang kira kira setara dengan tahun
tahun sekolah dasar, periode ini biasanya disebut dengan tahun tahun
sekolah dasar. Keterampilan keterampilan fundamental seperti
membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal
berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi
menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri
mulai meningkat.
e. Masa remaja (adolescence)
Adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga
masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12
tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja
bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan
tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan
perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada,

6
perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada
perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat
menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan
semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.
f. Masa awal dewasa (early adulthood)
Adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia
belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada
usia tugapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian
pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak
orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang
secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.
g. Masa pertengahan dewasa (middle adulthood)
Adalah periode perkembangan yang bermula pada usia kira
kira 35 hingga 45 tahun dan merentang hingga usia enam puluhan
tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung
jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya
menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta
mempertahankan kepuasan dalam berkarir.
h. Masa akhir dewasa (late adulthood)
Adalah periode perkembangan yang bermula pada usia
enampuluhan atau tujuh puluh tahun dan berakhir pada kematian. Ini
adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan
kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian
diri dengan peran peran sosial baru.

7
BAB II
MEMENUHI KEBUTUHAN FISIK

A. Kebutuhan Oksigenasi
Kebutuhan oksigenisasi merupakan salah satu kebutuhan dasar
manusia yang merupakan kebutuhan fisiologis. Pemenuhan kebutuhan
oksigenisasi ditujukanuntuk menjaga kelangsungan metabolisme sel tubuh,
mempertahankan hidupnya, dan melakukan aktivitas untuk berbagai organ
atau sel.
1. Sistem Pernapasan yang terdiri atas :
a. Saluran pernapasan bagian atas, Terdiri atas hidung, faring dan
epitologis. Saluran ini berfungsi dalam menyaring, menghangatkan,
dan melembapkan udara yang dihirup.
b. Saluran pernapasan bagian bawah, Terdiri atas trachea, bronkus,
segmen bronchi, dan bronchiolus. Saluran ini berfungsi mengalirkan
udara dan memproduksi surfaktan.
c. Paru-paru, Merupakan organ pertama dalam sistem pernapasan.
Terletak di dalam rongga toraks setinggi tulang selangka sampai
dengan diafragma. Terdiri atas dua bagian, yaitu paru-paru kanan dan
kiri. Berfungsi sebagai tempat pertukaran gas oksigen dan
karbondioksida.
2. Proses pemenuhan oksigenisasi dalam tubuh terdiri atas tiga tahapan,
yaitu:
a. Ventilasi, Merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dari
atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Proses
ventilasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
1) Adanya konsentrasi oksigen di atmosfer.
2) Adanya kondisi jalan napas yang baik.
3) Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada paru-paru dalam
melaksanakan ekspansi atau kembang kempis.

8
b. Difusi, Merupakan pertukaran antara O2 dari alveoli ke kapiler paru-
paru dan CO2dari kapiler ke alveoli. Proses difusi gas ini dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu :
1) Luasnya permukaan paru-paru
2) Tebal membran respirasi/permeabilitas (epitel alveoli dan
interstisial).
3) Perbedaan tekanan dan konsentrasi O2.
4) Afinitas gas
c. Transportasi, Merupakan proses pendistribusian antara O2 kapiler ke
jaringan tubuh dan CO2 jaringan tubuh ke kapiler. Proses transportasi
gas ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
1) Kardiak output
2) Kondisi pembuluh darah
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigenisasi, yaitu :
a. Saraf otonom
b. Hormonal dan obat
c. Alergi pada saluran napas
d. Faktor perkembangan
e. Faktor lingkungan
f. Faktor prilaku
4. Gangguan/masalah dalam pemenuhan kebutuhan oksigenisasi, yaitu :
a. Hipoksia
b. Perubahan pola pernapasan
b. Obstruksi jalan napas
c. Pertukaran gas
5. Tindakan untuk mengatasi masalah kebutuhan oksigen, antara lain :
a. Latihan napas
b. Latihan batuk efektif
b. Pemberian oksigen
c. Fisioterapi dada
d. Pengisapan lender

9
B. Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit
1. Pengaturan kebutuhan cairan elektrolit dalam tubuh diatur oleh :
a. Ginjal, Fungsi ginjal yakni sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi
garam dalam darah, dan pengaturan ekskresi bahan buangan atau
kelebihan garam.
b. Kulit, Fungsi kulit berkaitan dengan proses pengaturan panas. Melalui
kelenjar keringat suhu dapat diturunkan dengan melepaskan air yang
jumlahnya kurang lebih setengah liter sehari. Perangsangan kelenjar
keringat dapat diperoleh dari aktivitas otot, suhu lingkungan, dan
melalui kondisi tubuh yang panas.
c. Paru-paru, Fungsi paru-paru berkaitan dengan respons akibat
perubahan frekuensi dan kemampuan bernapas. Organ paru-paru
menghasilkan Insensible water loss ± 400 ml / hari.
d. Gastrointestinal, Berperan dalam mengeluarkan cairan melalui proses
penyerapan dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal, cairan yang
hilang dalam system ini sekitar 100-200 ml/hari.
e. Sistem endokrin (hormonal), Mekanisme rasa haus dapat
merangngsang pelepasan rennin. Mekanisme ini dikontrol oleh sistem
hormonal, yakni ADH (Anti Diuretik Hormon), aldosteron,
prostaglandin, dan glukokortikoid.
2. Cara pemindahan cairan, antara lain :
a. Difusi, (bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas/zat padat
secara acak).
b. Osmosis, (proses perpindahan pelarut murni melalui membrane
semipermiabel).
c. Transpor aktif, (menerima/memindahkan molekul dari konsentrasi
rendah ke konsentrasi tinggi).
3. Faktor yang berpengaruh dalam cairan, yaitu :
a. Tekanan cairan
b. Membran semipermiabel

10
4. Jenis-jenis cairan, antara lain :
a. Cairan zat gizi (nutrien), Seperti karbohidrat dan air, asam amino, dan
lemak.
b. Blood volume expanders, Seperti human serum albumin dan dextran
dengan konsentrasi yang berbeda.

C. Kebutuhan Nutrisi
Salah satu fungsi Nutrisi bagi tubuh adalah membantu proses
pertumbuhan tulang dan perbaikan sel. Kekurangan nutrisi bagi tubuh dapat
menyebabkan kelemahan otot dan memudahkan terjadinya penyakit.
Sistem yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi adalah
sistem pencernaan, yang terdiri atas saluran pencernaan dan organ asesoris.
1. Saluran pencernaan, terdiri dari :
a. Mulut, Di dalam mulut, makanan mengalami proses mekanis melalui
proses mengunyah. Makanan akan dihancurkan sampai merata dengan
bantuan enzim emilase yang akan memecah amilun menjadi maltosa.
Di dalam mulut juga terdapat kelenjar saliva yang menghasilkan saliva
untuk mencerna hidrat arang, khususnya amilum dan melicinkan bolus
sehingga mudah ditelan.
b. Faring dan esophagus, Faring langsung berhubungan dengan esofagus,
sebuah tabung yang memiliki otot dengan panjang 20-25cm yang
terletak di belakang trakhea dan di depan tulang punggung, kemudian
masuk melalui toraks menembus diafragma yang berhubungan
langsung dengan abdomen dan menyambung dengan lambung.
Esofagus merupakan bagian yang menghantarkan makanan dari faring
menuju lambung, bentuknya seperti silinder yang berongga dengan
panjang 2cm. Kedua ujungnya dilindungi oleh sphincter.
c. Lambung, Lambung memilik fungsi Motoris dan fungsi sekresi
pencernaan, fungsi motoris adalah menampung makanan, memecah
makanan menjadi partikel kecil, dan mencampurnya dengan asam

11
lambung. Fungsi sekresi dan pencernaan adalah mensekresi
pepsinogen renin, dan lipase.
d. Usus halus, Usus halus mencerna dan mengabsorpsi Chyme dari
lambung. Zat makanan yang telah halus akan diabsorpsi di dalam usus
halus, yakni pada duodenum. Di sini terjadi absorpsi besi, kalsium,
dengan bantuan Vitamin D, A, E, dan K dengan bantuan empedu dan
asam folat.
e. Usus besar, Fungsi utama usus besar adalah mengabsorpsi air (90%),
elektrolit, Vitamin dan sedikit glukosa.
2. Organ assesoris, terdiri dari :
a. Hati
b. Kantong empedu
c. Pankreas
3. Zat gizi merupakan zat yang terdapat di dalam makanan, yang terdiri dari :
a. Karbohidrat
b. Lemak
c. Protein
d. Mineral
e. Vitamin
f. Air

D. Kebutuhan Eliminasi
Terdiri atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan
eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar).
1. Kebutuhan eliminasi urine
a. Organ yang berperan dalam terjadinya eliminasi urine, adalah :
Ginjal, Kandung kremih, Uretra.
b. Komposisi urine : Air (96%), Larutan (4%).
1) Larutan Organik (urea, amona, kreatin, dan asam urat)
2) Larutan Anorganik (Na, Cl, K,SO4, Mg, NaCl, dan fosfor)
c. Faktor yang mempengaruhi eliminasi urine, antara lain :
1) Diet dan asupan
2) Respons keinginan awal untuk berkremih

12
3) Gaya hidup
4) Stess psikologis
5) Tingkat aktivitas
6) Tingkat perkembangan
7) Kondisi penyakit
8) Sosiokultural
9) Kebiasaan seseorang
10) Tonus Otot
11) Pembedahan
12) Pengobatan
13) Pemeriksaan diagnostic
d. Tindakan untuk mengatasi masalah eliminasi urine , antara lain:
1) Pengumpulan urine untuk bahan pemeriksaan
2) Menolong buang air kecil dengan menggunakan urineal
3) Melakukan kateterisasi

E. Kebutuhan Istirahat Dan Tidur


1. Pengertian Istirahat
stirahat berarti menyegarkan diri atau diam setelah melakukan
kerja keras; suatu keadaan untuk melepaskan lelah; bersantai untuk
menyegarkan diri; atau suatu keadaan melepaskan diri dari segala hal yang
membosankan, menyulitkan, bahkan menjengkelkan. Karakteristik
istirahat menurut Narrow (1967) :
a. Merasakan bahwa segala sesuatu dapat diatasi.
b. Merasa diterima.
c. Mengetahui apa yang sedang terjadi.
d. Bebas dari gangguan ketidaknyamanan.
e. Mempunyai sejumlah kepuasan terhadap aktivitas yang mempunyai
tujuan.
f. Mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan.

13
2. Pengertian Tidur
Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat
dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai (Guyton 1986)
Tabel kebutuhan tidur manusia
Umur Tingkat Perkembangan Jumlah kebutuhan tidur
0-1 Bulan Bayi Baru Lahir 14-18 jam/hari
1-18 Bulan Masa Bayi 12-14 jam/hari
18 Bln-3Thn Masa Anak 11-12 jam/hari
3-6 Tahun Masa Prasekolah 11 jam/hari
6-12 Tahun Masa Sekolah 10 jam/hari
12-18 Tahun Masa Remaja 8,5 jam/hari
18-40 Tahun Masa Dewasa 7-8 jam/hari
40-60 Tahun Masa Muda Paruh Baya 7 jam/hari
60 Thn ke atas Masa Dewasa Tua 6 jam/hari

F. Kebutuhan Stimulasi
Kebutuhan stimulasi meliputi berbagai kegiatan yang merangsang
semua indera (pendengaran, penglihatan, sentuhan, membau, mengecap),
merangsang gerakan kasar dan halus, berkomunikasi, emosi-sosial,
kemandirian, berpikir, dan berkreasi. Kebutuhan stimulasi bermain sejak dini
akan besar pengaruhnya pada berbagai kecerdasan anak (multipel inteligen)

G. Kebutuhan Seksusalitas

Merupakan kebutuhan dasar manusia berupa ekspresi perasaan 2


individu secara pribadi yg saling menghargai, memperhatikan, dan
menyayangi, sehingga terjadi sebuah hubungan timbal balik antara kedua
individu tersebut.
Seksualitas meliputi bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka
dan bagaimana mereka mengkomunuksikan perasaan tersebut terhadap orang
lain melalui tindakan yang dilakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan,

14
senggama, atau melalui perilaku yang lebih halus seperti isyarat gerak tubuh,
etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata.
Raharjo (1999) menjelaskan bahwa seksualitas merupakan suatu
konsep, kontruksi sosial terhadap nilai, orientasi, dan perilaku yang berkaitan
dengan seks.

15
BAB III
KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL

A. Pengertian Psikososial
Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik
yang bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal
balik.Masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh
timbal balik sebagai akibat terjadinya perubahan sosial atau gejolak sosial
dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa (Depkes, 2011).
Contoh masalah psikososial antara lain: psikotik gelandangan dan
pemasungan, penderita gangguan jiwa. Masalah anak: anak jalanan dan
penganiayaan anak. Masalah anak remaja: tawuran dan kenakalan,
penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Masalah seksual: penyimpangan
seksual, pelecehan seksual dan eksploitasi seksual, tindak kekerasan sosial,
stress paska trauma, pengungsi/ migrasi, masalah usia lanjut yang terisolir.
Masalah kesehatan kerja: kesehatan jiwa di tempat kerja, penurunan
produktifitas dan stres di tempat kerja, dan lain-lain. Serta HIV/AIDS.

B. Konsep Dasar Psikososial


Dalam kebutuhan Maslow dinyatakan bahwa tingkat yang paling
tinggi dalam kebutuhan manusia adalah tercapainya aktualisasi diri untuk
mencapai aktualisasi diri diperlukan konsep diri yang sehat.
1. Konsep diri, Konsep diri adalah semua perasaan kepercayaan dan nilai
yang diketahui tentang dirinya dan memengaruhi individu dalam
bersosialisasi dengan orang lain. Konsep diri berkembang secara bertahap
saat bayi mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain.
Pembentukan konsep diri ini sangat dipengaruhi oleh asuhan orang tua dan
lingkungannya.
2. Citra diri, adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak
sadar. Sikap ini mencakup presepsi dari pasangan tentang ukuran, bentuk,
dan fungsi penampilan tubuh saat ini dan masa lalu.
3. Ideal diri, Presepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai
dengan standar perilaku. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan
pribadi.

16
4. Harga diri, Harga diri adalah penilaian terhadap hasil yang dicapai dengan
analisis, sejauh mana perilaku memenuhi ideal diri. Jika individu selalu
sukses maka cenderung harga dirinya akan tinggi dan jika mengalami
kegagalan cenderung harga diri menjadi rendah. Harga diperoleh dari diri
sendiri dan orang lain.
5. Peran diri, Peran diri adalah pola sikap, perilaku nilai yang diharapkan dari
seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.
6. Identitas diri, Identitas diri adalah kesadaran akan dirinya sendiri yang
bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesis dari
semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh.
7. Kepuasan penampilan peran, Individu yang mempunyai kepribadian sehat
akan dapat berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat
kepuasan, dapat memercayai dan terbuka pada orang lain serta membina
hubungan interdependen.

C. Tahap Perkembangan Sosial


Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian memiliki ciri utama,
setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis. Adapun tingkatan dalam
delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia adalah sebagai
berikut:
1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)
a. Terjadi pada usia 0 s/d 18 bulan.
b. Dari lahir sampai usia satu tahun dan merupakan tingkatan paling
dasar dalam hidup.
c. Bayi sangat tergantung dari pengasuhan.
d. Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa selamat
dan aman dalam dunia.
2. Autonomy vs Shame and Doubt (otonomi vs malu dan ragu-ragu)
a. Terjadi pada usia 18 bulan s/d 3 tahun.
b. Masa awal kanak-kanak dan berfokus pada perkembangan besar dari
pengendalian diri.
c. Latihan penggunaan toilet adalah bagian yang penting.
d. Kejadian-kejadian penting lain meliputi pemerolehan pengendalian
lebih yakni atas.

17
e. Pemilihan makanan, mainan yang disukai, dan juga pemilihan pakaian.
f. Anak yang berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan
percaya diri, sementara yang tidak berhasil akan merasa tidak cukup
dan ragu-ragu terhadap diri sendiri.
3. Initiative vs Guilt ( inisiatif dan rasa bersalah)
a. Terjadi pada usia 3 s/d 5 tahun.
b. Masa usia prasekolah mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya
akan dunia melalui permainan langsung dan interaksi sosial lainnya.
c. Anak yang berhasil dalam tahap ini merasa mampu dan kompeten
dalam memimpin orang lain. Adanya peningkatan rasa tanggung jawab
dan prakarsa.
d. Mereka yang gagal mencapai tahap ini akan merasakan perasaan
bersalah, perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif.
e. Rasa bersalah dapat digantikan dengan cepat oleh rasa berhasil.
4. Industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri)
a. Terjadi pada usia 6 s/d pubertas.
b. Melalui interaksi sosial, anak mulai mengembangkan perasaan bangga
terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka.
c. Anak yang didukung dan diarahkan oleh orang tua dan guru
membangun perasaan kompeten dan percaya dengan ketrampilan yang
dimilikinya.
d. Anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari
orang tua, guru, atau teman sebaya akan merasa ragu akan
kemampuannya untuk berhasil.
e. Prakarsa yang dicapai sebelumnya memotivasi mereka untuk terlibat
dengan pengalaman baru.
f. Ketika beralih ke masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, mereka
mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan
keterampilan intelektual.

18
g. Permasalahan yang dapat timbul pada tahun sekolah dasar adalah
berkembangnya rasa rendah diri, perasaan tidak berkompeten dan tidak
produktif.
h. Guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan ketekunan
anak-anak.
5. Identity vs Identify Confusion (identitas vs kebingungan identitas)
a. Terjadi pada masa remaja, yakni usia 10 s/d 20 tahun.
b. Selama remaja ia mengekplorasi kemandirian dan membangun
kepakaan dirinya.
c. Anak dihadapkan dengan penemuan siapa, bagaimana, dan kemana
mereka menuju dalam kehidupannya.
d. Anak dihadapkan memiliki banyak peran baru dan status sebagai orang
dewasa, pekerjaan dan romantisme.
e. Jika remaja menjajaki peran dg cara yang sehat dan positif maka
identitas positif akan dicapai.
f. Jika suatu identitas remaja ditolak oleh orangtua, jika remaja tidak
secara memadai menjajaki banyak peran, jika jalan masa depan positif
tidak dijelaskan, maka kebingungan identitas merajalela.
g. Bagi mereka yang menerima dukungan memadai maka eksplorasi
personal, kepekaan diri, perasaan mandiri dan control dirinya akan
muncul dalam tahap ini.
h. Bagi mereka yang tidak yakin terhadap kepercayaan diri dan
hasratnya, akan muncul rasa tidak aman dan bingung terhadap diri dan
mas depannya.
6. Intimacy vs Isolation (keintiman vs keterkucilan)
a. Terjadi selama masa dewasa awal (20an s/d 30an tahun)
b. Tahap ini penting, yaitu tahap seseorang membangun hubungan yang
dekat & siap berkomitmen dengan orang lain.
c. Mereka yang berhasil di tahap ini, akan mengembangkan hubungan
yang komit dan aman.

19
d. Identitas personal yang kuat penting untuk mengembangkan hubungan
yang intim.
e. Jika mengalami kegagalan, maka akan muncul rasa keterasingan dan
jarak dalam interaksi dengan orang.
7. Generativity vs Stagnation (bangkit vs stagnan)
a. Terjadi selama masa pertengahan dewasa
b. Selama masa ini, mereka melanjutkan membangun hidupnya berfokus
terhadap karir dan keluarga.
c. Mereka yang berhasil dalam tahap ini, maka akan merasa bahwa
mereka berkontribusi terhadap dunia .
d. Mereka yang gagal melalui tahap ini, akan merasa tidak produktif dan
tidak terlibat di dunia ini.
8. Integrity vs depair (integritas vs putus asa)
a. Terjadi selama masa akhir dewasa.
b. Cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa lalu.
c. Mereka yang tidak berhasil pada fase ini, akan merasa bahwa hidupnya
percuma dan mengalami banyak penyesalan.
d. Individu akan merasa kepahitan hidup dan putus asa.
e. Mereka yang berhasil melewati tahap ini, berarti ia dapat
mencerminkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami.
f. Individu ini akan mencapai kebijaksaan, meskipun saat menghadapi
kematian.

20
21
BAB IV
PRINSIP PENCEGAHAN INFEKSI

A. Pengertian Pencegahan Infeksi


Pencegahan infeksi adalah bagian esensial dari asuhan lengkap yang
diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir dan harus dilaksakan secara rutin
pada saat menolong persalinan dan kelahiran bayi,saat memberikan asuhan
dasar selama kunjungan antenatal atau pasca persalinan/bayi baru lahir atau
saat menatalaksana penyulit. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap
aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong
persalinan dan tenaga kesehatan lainnya. Juga upaya-upaya menurunkan
resiko terjangkit atau terinfeksi mikroorganisme yang menimbulkan
penyakit-penyakit berbahaya (Wiknjosastro, G, 2008).

B. Prinsip-prinsip Pencegahan Infeksi


Pencegahan infeksi yang efektif didasarkan pada prinsip-prinsip berikut :
1. Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus dianggap
dapat menularkan penyakit karena infeksi yang terjadi bersifat
asimptomatik (tanpa gejala)
2. Setiap orang harus dianggap beresiko terkena infeksi
3. Permukaan tempat pemeriksaan, peralatan dan benda-benda lain yang
akan dan telah bersentuhan dengan kulit tak utuh/selaput mukosa atau
darah, harus diangap terkontaminasi sehingga setelah selesai digunakan
harus dilakukan proses pencegahan infeksi secara benar.
4. Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda lainnya
telah diproses dengan benar, maka semua itu harus dianggap masih
terkontaminasi.
5. Resiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total, tapi dapat dikurangi
hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan-tindakan
pencegahan infeksi yang benar dan konsisten. (Wiknjosastro, G, 2008)

22
C. Penatalaksaan Pencegahan Infeksi
Ada berbagai praktek pencegahan infeksi yang membantu
mencegah mikroorganisme berpindah dari satu individu ke individu lainnya
(ibu, bayi baru lahir, dan para penolong persalinan) sehingga dapat
memutus rantai penyebar infeksi, penatalaksanaan pencegahan infeksi
antara lain sebagai berikut :
1. Cuci tangan, Cuci tangan adalah prosedur yang paling penting dari
pencegahan penyebaran infeksi yang menyebabkan kesakitan dan
kematian ibu dan bayi baru lahir. Cuci tangan harus dilakukan :
a. Segera setelah tiba ditempat kerja
b. Sebelum melakukan kontak fisik secara langsung dengan ibu atau bayi
baru lahir
c. Setelah kontak fisik langsung dengan ibu atau bayi baru lahir
d. Sebelum memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril
e. Setelah melepaskan sarung tangan (kontaminasi melalui lubang atau
robekan sarung tangan)
f. Setelah menyentuh benda yang mungkin terkontaminasi oleh darah
atau cairan tubuh lainnya atau setelah menyentuh selaput mukosa
(misalnya hidung, mulut, mata, vagina) meskipun saat itu sedang
menggunakan sarung tangan
g. Setelah kekamar mandi
h. Sebelum pulang kerja
Prosedur cuci tangan :
a. Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan.
b. Basahi tangan dengan air bersih dan mengalir
c. Gosok dengan kuat kedua tangan, gunakan sabun biasa atau yang
mengandung anti mikroba selama 15 sampai 30 detik (pastikan
menggosok sela – sela jari). Tangan yang terlihat kotor harus dicuci
lebih lama.
d. Bilas tangan dengan air bersih yang mengalir.

23
e. Biarkan tangan kering dengan cara diangin – anginkan atau keringkan
dengan kertas tisu yang bersih dan kering atau handuk pribadi yang
bersih dan kering.
f. Bila menggunakan sabun padat (misalnya sabun batangan), gunakan
dalam potongan-potongan kecil dan tempatkan sabun dalam wadah
yang berlubang-lubang untuk mencegah air menggenangi sabun
tersebut.
g. Jangan mencuci tangan dengan jalan mencelupkannya ke dalam wadah
berisi air meskipun air tersebut sudah ditambah larutan antiseptik.
Mikroorganisme dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam
larutan tersebut.
h. Bila tidak tersedia air mengalir :
1) Gunakan ember tertutup dengan keran yang bisa ditutup pada
saat mencuci tangan dan dibuka kembali jika akan membilas.
2) Gunakan botol yang sudah diberi lubang agar air bisa mengalir.
3) Minta orang lain menyiramkan air ke tangan.
4) Gunakan pencuci tangan yang mengandung anti mikroba
berbahan dasar alkohol (campurkan 100 mL 60-90% alkohol
dengan 2 mL gliserin. Gunakan kurang lebih 2 mL dan gosok
kedua tangan hingga kering, ulangi tiga kali).
i. Keringkan tangan anda dengan handuk bersih dan kering. Jangan
menggunakan handuk yang juga digunakan oleh orang lain. Handuk
basah/ lembab adalah tempat yang baik untuk mikroorganisme
berkembang biak.
j. Bila tidak ada saluran air untuk membuang air yang sudah digunakan,
kumpulkan air di baskom dan buang ke saluran limbah atau jamban di
kamar mandi. (Wiknjosastro, G, 2008).
2. Memakai Sarung Tangan dan perlengkapan pelindung lainnya
Pakai sarung tangan sebelum menyentuh sesuatu yang basah
(kulit tak utuh, selaput mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya) atau
peralatan, sarung tangan atau sampah yang terkontaminasi.

24
Jika sarung tangan diperlukan, ganti sarung tangan untuk
menangani setiap ibu atau bayi baru lahir setelah terjadi kontak
langsung untuk menghindari kontaminasi silang atau gunakan sarung
tangan yang berbeda untuk situasi yang berbeda pula.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian sarung
tangan :
a. Gunakan sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi untuk
prosedur apapun yang akan mengakibatkan kontak dengan jaringan
dibawah kulit seperti persalinan, penjahitan vagina atau
pengambilan darah
b. Gunakan sarung tangan periksa yang bersih untuk menangani darah
atau cairan tubuh
c. Gunakan sarung tangan rumah tangga atau tebal untuk mencuci
peralatan, menangani sampah, juga membersihkan darah atau cairan
tubuh.
Sarung tangan sekali pakai lebih dianjurkan, tapi jika sarananya
sangat terbatas, sarung tangan bisa digunakan berulang kali jika
dilakukan dekontaminasi, cuci dan bilas, desinfeksi tingkat tinggi atau
sterilisasi. Jika sarung tangan sekali pakai digunakan berulang kali,
jangan diproses lebih dari tiga kali karena mungkin telah terjadi
robekan / lubang yang tidak terlihat atau sarung tangan dapat robek
pada saat sedang digunakan.

D. Daftar Tilik Pencegahan Infeksi


DAFTAR TILIK PENCEGAHAN INFEKSI
NAMA RUMAH SAKIT :
ALAMAT RUMAH SAKIT :
RUANG :
BULAN :

25
SANGAT KURAN SANGAT
NO INDIKATOR TINDAKAN
BAIK
BAIK CUKUP
G KURANG

26
1 CUCI o Air
TANGAN bersih
mengal
ir
o Sabun
cair
o Lap
kering
dan
bersih
o Petuga
s
tampak
mencu
ci
o tangan
dan
menger
ingkan
tangan
o Melepa
skan
sarung
tangan
setelah
kontak
dengan
pasien
2. ALAT o Sarung
PELINDU tangan
NG bersih
o Sarung
tangan
steril
o Sarung
tangan
rumah
tangga
o Masker
o Gaun/s
chort
o Pelindu
ng
wajah

27
o Pelindu
ng kaki
o Tutup
kepala
3. Dekontam o Laruta
inasi alat n
klorin
o Wadah
plastic

o Alat
direnda
m
dalam
klorin
10
menit
o Alat
steril
disimp
an
dalam
wadah
kering
dan
bersih
4 Pengolaha o Wadah
n alat tahan
tajam tusuka
n
o Isi
wadah
kurang
dari ¾
penuh
o Tidak
ada
bagian
tajam
yang
keluar
o Jarum
tidak
disarun

28
gkan

o Penyar
ungan
satu
tangan
5 Limbah o Sampa
h
dipisah
kan
sesuai
jenis
o Tidak
ada
sampah
terkont
aminas
i
o Increna
rator
dan
atau
IPAL
berfun
gsi
dengan
baik.

Keterangan
Sangat baik : ≥ 90%
PETUGAS PATUH MENGIKUTI PROSEDUR
Baik : 70 –
89% PETUGAS PATUH MENGIKUTI PROSEDUR
Cukup : 60 –
69% PETUGAS PATUH MENGIKUTI PROSEDUR
Kurang : 50 –
59% PETUGAS PATUH MENGIKUTI PROSEDUR
Sangat Kurang :≤
50% PETUGAS PATUH MENGIKUTI PROSEDUR

29
BAB V
PEMROSESAN ALAT / INSTRUMENT

A. Definisi
Pemrosesan alat adalah salah satu cara untuk menghilangkan sebagian
besar mikroorganisme berbahaya penyebab penyakit dari peralatan kesehatan
yang sudah terpakai. Pemrosesan alat juga dikatakan suatu tindakan yang
dilakukan untuk membunuh kuman pada alat – alat medis. Pemrosesan alat
dilakukan dengan menggunakan bahan desinfektan melalui cara
dekontaminasi, mencuci atau membilas, dan sterilisasi.

B. Jenis-jenis Pemrosesan Alat


1. Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah langkah pertama dalam menangani
peralatan, perlengkapan,sarung tangan, dan benda – benda lainnya yang
terkontaminasi. Dekontaminasi membuat benda – benda lebih aman untuk
ditangani petugas pada saat dilakukan pembersihan. Untuk perlindungan
lebih jauh, pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah
tangga dari latex, jika menangani peralatan yang sudah digunakan atau
kotor.
Segera setelah digunakan, masukkan benda – benda yang telah
terkontaminasi ke dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit. Ini akan
dengan cepat mematikan virus hepatitis B dan HIV. Pastikan bahwa benda
– benda yang terkontaminasi telah terendam seluruhnya dalam larutan
klorin.
Daya kerja larutan klorin akan cepat menurun sehingga harus
diganti minimal setiap 24 jam sekali atau lebih cepat, jika terlihat telah
kotor atau keruh.
2. Pencucian atau bilas
Pencucian adalah sebuah cara yang efektif untuk menghilangkan
sebagian besar mikroorganisme pada peralatan dan instrument yang kotor

30
atau sudah digunakan. Baik seterilisasi maupun desinfeksi tingkat tinggi
menjadi kurang efektif tanpa proses pencucian sebelumnya.jika benda –
benda yang terkontaminasi tidak dapat dicuci segera setelah
didekontaminasi,bilas peralatan dengan air untuk mencegah korosi dan
menghilangkan bahan – bahan organic,lalu cuci dengan seksama secepat
mungkin.
3. Desinfeksi Tingkat Tinggi ( DTT )
DDT adalah cara efektif untuk membunuh mikroorganisme
penyebab penyakit dari peralatan, sterilisasi tidak selalu memungkinkan
dan tidak selalu praktis. DTT bisa dijangkau dengan cara merebus,
mengukus atau secara kimiawi. Ini dapat menghilangkan semua organisme
kecuali beberapa bakteri endospora sebesar 95%.
4. Sterilisasi
Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau penghancuran
semua bentuk kehidupan mikroba yang dilakukan di rumah sakit melalui
proses fisik maupun kimiawi. Strilisasi jika dikatakan sebagai tindakan
untuk membunuh kuman patoge atau apatoge beserta spora yang terdapat
pada alat perawatan atau kedokteran denngan cara merebus,stoom,panas
tinggi atau bahan kimia.jenis sterilisasi antara lain sterlisasi cepat,strilisasi
panas kering,strerilisasi gas ( formalin, H2O2 ), rdiasi ionisasi.

C. Daftar Tilik

STERILISASI ALAT MEDIS

No.Dokumen :

PUSKESMAS DAFTAR No.Revisi :


…… TILIK
Tanggal terbit:

Halaman : 1/

31
Tidak
No Langkah Kegiatan Ya Tidak
Berlaku

1 Apakah petugas mempersiapkan alat yang


akan disteril
2 Apakah petugas memilah alat sesuai
jenisnya.
3 Apakah petugas membuka sterilisator

4 Apakah petugas mengisi sterilisator


dengan air sampai batas air
5 Apakah petugas memasukkan instrumen
yang akan disterilkan
6 Apakah petugas menutup sterilisator

7 Apakah petugas menyambungkan kabel


ke sumber listrik
8 Apakah setelah 15 – 20 menit (suhu
mencapai 100 o), petugas mencabut kabel
dari sumber listrik
9 Apakah petugas membuka sterilisator

10 Apakah Petugas mengambil alat dengan


korentang dan memindahkan alat ke
tempat steril
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a. Sterilisator jangan dibuka selama
proses
b. Alat-alat yang dapat disterilkan hanya
alat-alat yang terbuat dari logam
.....,…..……………………

Pelaksana/Auditor

32
………..

33
BAB VI
PENANGANAN PEMBUANGAN SAMPAH

A. Pengertian Sampah Medis


Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau di
buang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam
yang tidak mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi
yang negatif karena dalam penanganannya baik untuk membuang atau
membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar.
Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga
untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang
rusak atau bercacat dalam pembikinan manufktur atau materi berkelebihan
atau ditolak atau buangan (Kementerian Lingkungan Hidup, 2005).
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang disebut
sebagai sampah medis adalah berbagai jenis buangan yang dihasilkan rumah
sakit dan unit-unit pelayanan kesehatan yang dapat membahayakan dan
menimbulkan gangguan kesehataan bagi manusia, yakni pasien maupun
masyarakat.
Sampah yang secara potensial menularkan penyakit memerlukan
penanganan dapat pembuangan, dan beberapa teknologi non-insinerator
mampu mendisinfeksi sampah medis ini. Teknologi-teknologi ini biasanya
lebih murah, secara teknis tidak rumit dan rendah pencemarannya bila
dibandingkan dengan insinerator.
Banyak jenis sampah yang secara kimia berbahaya, termasuk obat-
obatan, yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas kesehatan. Sampah-sampah
tersebut tidak sesuai diinsinerasi. Beberapa, seperti merkuri, harus dihilangkan
dengan cara merubah pembelian bahan-bahan; bahan lainnya dapat didaur-
ulang; selebihnya harus dikumpulkan dengan hati-hati dan dikembalikan ke
pabriknya. Studi kasus menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip ini dapat
diterapkan secara luas di berbagai tempat, seperti di sebuah klinik bersalin
kecil di India dan rumah sakit umum besar di Amerika. Sampah hasil proses

34
industri biasanya tidak terlalu banyak variasinya seperti sampah domestik atau
medis, tetapi kebanyakan merupakan sampah yang berbahaya secara kimia.

B. Jenis Sampah Medis


Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2, yaitu sampah organik
(biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering).
Sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-
daunan, sampah dapur, dll. Sampah jenis ini dapat terdegradasi
(membusuk/hancur) secara alami. Sebaliknya dengan sampah kering, seperti
kertas, plastik, kaleng, dan lain-lain. Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi
secara alami.
Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia
merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah.
Selain itu, terdapat jenis sampah atau limbah dari alat-alat pemeliharaan
kesehatan.
Beberapa diantaranya sangat mahal biaya penanganannya karena
berupa bahan kimia berbahaya, seperti obat-obatan, yang dihasilkan oleh
fasilitas-fasilitas kesehatan. Namun demikian tidak semua sampah medis
berpotensi menular dan berbahaya. Sejumlah sampah yang dihasilkan oleh
fasilitas-fasilitas medis hampir serupa dengan sampah domestik atau sampah
kota pada umumnya. Sementara sampah hasil proses industri biasanya tidak
terlalu banyak variasinya seperti sampah domestik atau medis, tetapi
kebanyakan merupakan sampah yang berbahaya secara kimia.
Limbah klinis berasal dari pelayanan medis, perawatan, gigi,
veterinary, farmasi atau yang sejenisnya serta limbah yang dihasilkan rumah
sakit pada saat dilakukan perawatan, pengobatan atau penelitian. Berdasarkan
potensi bahaya yang ditimbulkannya limbah klinis dapat digolongkan dalam
limbah benda tajam, infeksius, jaringan tubuh, citotoksik, farmasi, kimia,
radio aktif dan limbah plastik.

35
C. Pengaruh Sampah Terhadap Kesehatan
1. Efek langsung : efek yang disebabkan karena kontak langsung dengan
sampah, misalnya : sampah beracun ; sampah yang korosif terhadap tubuh
yang karsinogenik, teragonik, sampah yang mengandung kuman pathogen
(berasal dari sampah rumah tangga dan industri).
2. Efek tidak langsung : dapat dirasakan masyarakat akibat proses :
pembusukan, pembakaran, pembuangan sampah secara sembarangan,
penyakit bawaan vector yang berkembang biak didalam sampah ( lalat
dan tikus).

D. Prinsip Penanganan Sampah Medis


Prinsip-prinsip yang dapat diterapkan dalam penangan sampah
misalnya dengan menerapkan prinsip 3-R, 4-R atau 5-R. Penanganan sampah
3-R adalah konsep penanganan sampah dengan cara reduce (mengurangi),
reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur-ulang sampah), sedangkan
4-R ditambah replace (mengganti) mulai dari sumbernya. Prinsip 5-R selain
4 prinsip tersebut di atas ditambah lagi dengan replant (menanam kembali).
Penanganan sampah 4-R sangat penting untuk dilaksanakan dalam rangka
pengelolaan sampah padat perkotaan yang efisien dan efektif, sehingga
diharapkan dapat mengrangi biaya pengelolaan sampah.
1. Reduce (Mengurangi)
Sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang
kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin
banyak sampah yang dihasilkan.
2. Reuse (Memakai kembali)
Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali.
Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang).
Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia
menjadi sampah.

36
3. Recycle (Mendaur ulang)
Sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa
didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah
banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang
memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
4. Replace ( Mengganti)
Teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang
yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga
telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah
lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila
berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini
tidak bisa didegradasi secara alami.

37
BAB VII
PEMERIKSAAN FISIK PADA IBU

A. Konsep Dasar Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan yang lengkap dari penderita
untuk mengetahui keadaan atau kelainan dari penderitaan. Tujuannya adalah
untuk mengetahui bagaimana kesehatan umum ibu (bila keadaan umumnya
baik agar di pertahankan jangan sampai daya tahan tubuh menurun) , untuk
mengetahui adanya kelainan, bila ada kelainan, kelainan itu lekas diobati dan
disembuhkan agar tidak menganggu.
Pemeriksaan dilakukan pada klien yang baru pertama kali datang
periksaan , ini di lakukan dengan lengkap. Pada pemeriksaan ulangan, di
lakukan yang perlu saja jadi tidak semuanya. Waktu persalinan, untuk
penderita yang belum pernah diperiksa di lakukan dengan lengkap bila masih
ada waktu dan bagi ibu yang pernah periksa di lakukan yang perlu saja.
Hal-hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan pemeriksaan
fisik, diantaranya sikap petugas kesehatan saat melakukan pengkajian. Selain
itu, harus menjaga kesopanan, petugas harus membina hubungan yang baik
dengan pasien. Sebelum melakukan pemeriksaan, pastikan lingkungan tempat
peemeriksaan senyaman mungkin, termasuk mengatur pencahayaan. Asuhan
kebidanan pada ibu hamil dengan adanya pencatatan data yang akurat,
diharapkan pengambilan tindakan yang dilakukan sesuai dengan masalah atau
kondisi klien.

B. Prinsip Dasar Pemeriksaan Fisik


Tujuan umum pemeriksaan fisik adalah untuk memperoleh informasi
mengenai status kesehatan pasien. Tujuan definitif pemeriksaan fisik adalah,
pertama, untuk mengidentifikasi status “normal” dan kemudian mengetahui
adanya variasi dari keadaan normal tersebut dengan cara memvalidasi
keluhan-keluhan dan gejala-gejala pasien, penapisan/skrining keadaan
wellbeing pasien, dan pemantauan masalah kesehatan/penyakit pasien saat
ini. Informasi ini menjadi bagian dari catatan/rekam medis (medical record)

38
pasien, menjadi dasar data awal dari temuantemuan klinis yang kemudian
selalu diperbarui (updated) dan ditambahkan sepanjang waktu.
Prinsip Pelaksanaan Pemeriksaan Fisik :
1. Cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan .
2. Pastikan bahwa kuku jari bersih tidak panjang, sehingga tidak menyakiti
pasien.
3. Terlebih dahulu hangatkan tangan dengan air hangat sebelum menyentuh
pasien atau gosok bersama-sama kedua telapak tangan dengan telapak
tangan satunya.
4. Jelaskan pada pasien secara umum apa yang akan dilakukan .
5. Gunakan sentuhan yang lembut tetapi,tidak menggelitik pasien dan cukup
kuat untuk memeperoleh informasi yamg akurat.
6. Buatlah pendekatan dan sentuhan sehingga menghargai jasmani pasien
dengan baik, serta sesuai dengan hak pasien terhadap kepantasan dan atas
hak pribadi.
7. Tutupi badab pasien selama pemeriksaan dan hanya bagian yang di periksa
yang terbuka.
Prinsip umum dari pemeriksaan fisik adalah dilakukan secara
komprehensif.

C. Teknik Dasar Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik pada kehamilan dapat dilakukan melalui
pemeriksaan sebagai berikut :
1. Inspeksi (Pandang)
Langkah pertama pada pemeriksaan pasien adalah inspeksi, yaitu
melihat dan mengevaluasi pasien secara visual dan merupakan metode
tertua yang digunakan untuk mengkaji/menilai pasien. Inspeksi dilakukan
untuk menilai keadaan ada tidaknya cloasma gravidarum pada
muka/wajah, pucat atau tidak pada selaput mata, dan ada tidaknya edema.
Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan pada leher untuk menilai
ada tidaknya pembesaran kelenjar gondok atau kelenjar limfe.

39
Pemeriksaan dada untuk menilai bentuk buah dada dan pigmentasi putting
susu. Pemeriksaan perut untuk menilai apakah perut membesar ke depan
atau ke samping, keadaan pusat, pigmentasi linea alba, serta ada tidaknya
striae gravidarum. Pemeriksaan vulva untuk menilai keadaan perineum,
ada tidaknya tanda chadwick, dan adanya fluor. Kemudian pemeriksaan
ekstremitas untuk menilai ada tidaknya varises.
2. Palpasi ( Meraba )
Palpasi dilakukan untuk menentukan besarnya rahim dengan
menentukan usia kehamilan serta menentukan letak anak dalam rahim.
Pemeriksaan secara palpasi di lakukan dengan menggunakan metode
leopold , yakni :
a. Leopold I

Leopold I digunakan untuk menentukan usia kehamilan dan


bagian apa yang ada dalam fundus, dengan cara pemeriksa berdiri
sebelah kanan dan menghadap ke muka ibu, kemudian kaki ibu di
bengkokkan pada lutut dan lipat paha, lengkungkan jari-jari kedua
tangan untuk mengelilingi bagian atas fundus, lalu tentukan apa yang
ada di dalam fundus. Bila kepala sifatnya keras, bundar, dan
melenting. Sedangkan bokong akan lunak, kurang bundar, dan
kurang melenting.tinggi normal fundus selama kehamilan dapat di
tentukan.

40
b. Leopold II

Leopold II digunakan untuk menetukan letak punggung


anak dan letak bagian kecil pada anak. Caranya :
1) Kedua tangan pemeriksa berada di sebelah kanan dan kiri perut
ibu.
2) Ketika memeriksa sebelah kanan, maka tangan kanan menahan
perut sebelah kiri kea arah kanan.
3) Raba perut sebelah kanan menggunakan tangan kiri dan rasakan
bagian apa yang ada di sebelah kanan (jika teraba benda yang
rata, atau tidak teraba bagian kecil, terasa ada tahanan, maka itu
adalah punggung bayi, namun jika teraba bagian-bagian yang
kecil dan menonjol maka itu adalah bagian kecil janin)
c. Leopold III

Leopold III digunakan untuk menentukan bagian apa yang


terdapat di bagian bawah dan apakah bagian anak sudah atau belum
terpegang oleh pintu atas panggul. Caranya :
1) Tangan kiri menahan fundus uteri.
2) Tangan kanan meraba bagian yang ada di bagian bawah uterus.
Jika teraba bagian tang bulat, melenting keras, dan dapat

41
digoyangkan maka itu adalah kepala. Namun jika teraba bagian
yang bulat, besar, lunak, dan sulit digerakkan, maka itu adalah
bokong. Jika dibagian bawah tidak ditemukan kedua bagian
seperti yang diatas, maka pertimbangan apakah janin dalam letak
melintang.
3) Pada letak sungsang (melintang) dapat dirasakan ketika tangan
kanan menggoyangkan bagian bawah, tangan kiri akan
merasakan ballottement (pantulan dari kepala janin, terutama ini
ditemukan pada usia kehamilan 5-7 bulan).
4) Tangan kanan meraba bagian bawah (jika teraba kepala,
goyangkan, jika masih mudah digoyangkan, berarti kepala belum
masuk panggul, namun jika tidak dapat digoyangkan, berarti
kepala sudah masuk panggul). Lalu lanjutkan pada pemeriksaan
Leopold VI untuk mengetahui seberapa jauh kepala sudah masuk
panggul.
d. Leopold IV

Leopold IV digunakan untuk menentukan apa yang menjadi


bagian bawah dan seberapa masuknya bagian bawah tersebut ke
dalam rongga punggung. Caranya :
1) Pemeriksa menghadap ke kaki pasien
2) Kedua tangan meraba bagian janin yang ada dibawah
3) Jika teraba kepala, tempatkan kedua tangan di dua belah pihak
yang berlawanandi bagian bawah
4) Jika kedua tangan konvergen (dapat saling bertemu) berarti
kepala belum masuk ke panggul. Jika kedua tangan divergen
(tidak saling bertemu) berarti kepala sudah masuk ke panggul.

42
3. Perkusi (ketukan)
Perkusi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan mendegarkan
bunyi getaran/gelombang suara yang di hantarkan kepermukaan tubuh
dari bagian tubuh yang di periksa. Pemeriksaan di lakukan dengan
ketokan jari atau tangan pada permukaan tubuh. Perjalanan
getaran/gelombang suara tergantung oleh kepadatan media yang dilalui.
Derajat bunyi di sebut dengan resonansi. Karakter bunyi yang di hasilkan
dapat menentukan lokasi , ukuran , bentuk , dan kepadatan struktur di
bawah kulit. Sifat gelombang suara yaitu semakin banyak jaringan ,
semakin lemah hantarannya dan udara/gas paling resonan.
4. Auskultasi (mendengar)
Auskultasi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan
mendengarkan bunyi yang terbentuk dalam organ tubuh. Hal ini
dimaksudkan untuk mendeteksi adanya kelainan dengan cara
membandingkan dengan bunyi normal. Auskultasi, dilakukan umumnya
dengan stetoskop monoaural untuk mendengarkan bunyi jantung
anak,bising talipusat, gerakan anak, bising rahim, bunyi aorta , serta
bising usus. Bunyi jantung anak dapat di dengar pada akhir bulan ke-5,
walaupun dengan ultrasonografi dapat diketahui pada akhir bulan ke-3.
Bunyi jantung pada anak dapat terdengar di kiri dan kanan di bawah tali
pusat bila presentasi kepala. Bila terdengar setinggi tali pusat, maka
presentasidi daerah bokong. Bila terdengar pada pihak berlawanan dengan
bagian kecil, maka anak fleksi dan bila sepihak maka defleksi.
Dalam keadaan sehat, bunyi jantung antara 120-140 kali per menit.
Bunyi jantung dihitung dengan menedengarknnya selama 1 menit penuh.
Bila kurang dari 120 kli per menit atau lebih dari 140 per menit,
kemungkinan janin dalam keadaan gawat janin. Selain bunyi jantung
anak, dapat didengarkan bising tali pusat seperti denyut nadi ibu, bunyi
aorta frekuensinya sama seperti denyut nadi dan bising usus yang sifatnya
tidak teratur.

43
D. Daftar Tilik Pemeriksaan Fisik

DAFTAR TILIK
PEMERIKSAAN ANC

KUNJUNGAN ANTENATAL
KASUS
NO LANGKAH KERJA 1 2 3 4 5

1 MENYAMBUT IBU
Menyambut ibu dengan seorang yang menemani ibu

Memperkenalkan diri kepada ibu

Menanyakan nama dan usia ibu

2 RIWAYAT KEHAMILAN SEKARANG


HPHT dan apakah normal
Gerakan Janin

Tanda-tanda bahaya atau penyulit

Keluhan umum

Obat yang dikonsumsi (termasuk jamu)

Kekhawatiran-kekhawatiran khusus

3 RIWAYAT KEHAMILAN YANG LALU


Jumlah kehamilan
Jumlah anak yang lahir hidup

Jumlah kelahiran premature

Jumlah keguguran

Persalinan dengan tindakan (Operasi Sesar, Forsep,


Vakum)
Riwayat perdarahan pada persalinan atau pasca
persalinan
Berat bayi <2,5 kg atau >4 kg

44
Masalah lain

4 RIWAYAT KESEHATAN / PENYAKIT YANG


DIDERITA SEKARAND DAN DULU
Masalah kardiovaskulaer

Hipertensi

Diabetes

Malaria

Penyakit kelamin/HIV/AIDS

Imunisasi tetanus toxoid

Lainnya

5 RIWAYAT SOSIAL EKONOMI


Status perkawinan
Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan ibu

Riwayat KB

Dukungan Keluarga

Pengambilan keputusan dalam keluarga

Gizi yang dikonsumsi dan kebiasaan makan

Kebiasaan hidup sehat, merokok, minum-minuman


keras, mengkonsumsi obat terlarang
Beban kerja dan kegiatan sehari-hari

Tempat dan petugas kesehatan yang diinginkan untuk


membantu persalinan
6 PEMERIKSAAN FISIK
Memperhatikan tingkat energi ibu, keadaan emosi dan
posturnya selama melakukan pemeriksaan
Menjelaskan seluruh prosedur sambil melakukan
pemeriksaan
Mengajukan pertanyaan lebih lanjut untuk klasifikasi
sambil melakukan pemeriksaan sesuai dengan
kebutuhan dan kelayakan

45
7 TANDA-TANDA VITAL
Menyiapkan alat-alat didekat klien
Siapkan alat-alat dan perlengkapan secara ergonomic
Menjelaskan seluruh prosedur sambil melakukan
pemeriksaan

Mengajukan pertanyaan lebih lanjut untuk klasifakasi


sambil melakukan pemeriksaan sesuai dengan
kebutuhan dan kelayakan
Mengukur tinggi dan berat badan

Mengukur tekanan darah, nadi dan suhu

Meminta ibu untuk melepaskan pakaian dan


menawarkan kain linen untuk penutup tubuh (atau
meminta ibu untuk melonggarkan pakaiannya)
8 KEPALA DAN LEHER
Memeriksa apakah ada oedema pada wajah

Memeriksa apakah mata :

 Pucat pada kelopak bagian bawah


 Berwarna kuning (jaundice) pada sclera

Memeriksa apakah rahang pucat dan memeriksa gigi

Memeriksa leher dan meraba leher untuk mengetahui :

 Pembesaran kelenjar thyroid


 Pembesaran pembuluh limfe

9 PAYUDARA
Dengan posisi tangan klien disamping, lalu memeriksa
payudara :

 Bentuk, ukuran dan kesimetrisan


 Putting payudara menonjol atau masuk kedalam
 Adanya kolostrum atau cairan lain

Pada saat klien mengangkat tangan ke atas kepala,


memeriksa payudara untuk mengetahui adanya retraksi
atau dimpling
Klien berbaring dengan tangan kiri diatas, lakukan
palpasi secara sistematis pada payudara sebelah kiri
(lakukan secara bergantian), lakukan dari arah

46
payudara, axilla dan putting, kalau-kalau terdapat :

 Massa
 Pembesaran pembuluh limfe

10 ABDOMEN
Memeriksa apakah ada bekas luka operasi

Mengukur tinggi fundus uteri menggunakan tangan


(kalau >12 minggu) dan menggunakan pita pengukur
(kalau > 22 minggu)
Melakukan palpasi pada abdomen untuk mengetahui
letak presentasi, posisi dan penurunan kepala janin
Menghitung denyut jantung janin (dengan feteskop jika
> 18 minggu)
11 TANGAN DAN KAKI
Memeriksa apakah tangan dan kaki

 Oedema
 Pucat pada kuku kaki

Memeriksa dan meraba kaki untuk mengetahui adanya


varices

Memeriksa refleks patella untuk melihat apakah terjadi


gerakan hipo atau hiper

12 PANGGUL GENITALIA LUAR


Membantu ibu mengambil posisi untuk pemeriksaan
panggul dan menutup tubuh untuk menjaga privasi
Memakai sarung tangan baru

Memisahkan labia mayora dan memeriksa labia minora,


kemudian klitoris, lubang uretra dan introitus vagina
untuk melihat adanya :

 Tukak atau luka


 Varices

Cairan (warna, konsistensi, jumlah, bau)


Mengurut uretra dan pembuluh skene untuk
mengeluarkan cairan nanah dan darah (bila ada)
Melakukan palpasi pada kelenjar bartholini untuk
mengetahui adanya :

47
 Pembengkakan
 Massa atau kista
 Cairan

Sambil melakukan pemeriksaan selalu mengamati


wajah ibu untuk mengetahui apakah ibu merasakan
nyeri atau sakit karena prosedur ini
13 PANGGUL : PEMERIKSAAN MENGGUNAKAN
SPEKULUM
Memperlihatkan speculum pada ibu sambil menjelaskan
bahwa benda tersebut akan dimasukkan kedalam vagina
ibu dan bagaimana hal ini akan terasa oleh ibu
Menjelaskan kepadabibu bagaimana caranya agar relaks
selama dilakukan pemeriksaan (misal : bernafas melalui
perut atau dada, lemaskan badan sambil kedua kaki
tetap diregangkan)
Meminta ibu untuk mengatakan jika apa yang dilakukan
menyebabkan ibu tidak nyaman
Basahi speculum dengan air DTT atau lumuri dengan
jelly (jika tidak ada specimen yang akan diambil)
Memegang speculum dengan miring, memisahkan
bagian labia dengan tangan kiri sementara tangan kanan
memasukkan speculum dengan hati-hati, hindari
menyentuh uretra dan klitoris
Memutar speculum dan membuka (balde) nya untuk
melihat serviks
Memeriksa serviks untuk melihat adanya :

a. Cairan atau darah


b. Adanya luka/lesi

Memeriksa dinding vagina untuk melihat adanya :

 Cairan atau darah


 Luka

Menutup dan mengeluarkan speculum dengan hati-hati


dengan posisi miring
Meletakkan speculum yang sudah digunakan dalam
sebuah tempat untuk didekontaminasikan
14 PANGGUL : PEMERIKSAAN BIMANUAL
Menjelaskan kepada ibu bahwa pemeriksaan dilakukan
berkesinambungan
Meminta ibu untuk mengatakan jika ibu merasakan

48
tidak nyaman dengan pemeriksaan yang dilakukan
Memasukkan dua jari kedalam vagina, merenggangkan
kedua jari tersebut menekan kebawah
Mencari letak serviks dan merasakan untuk :

 Rasa nyeri karena gerakan (nyeri tekan/nyeri


goyang)

Menggunakan 2 tangan (satu tangan diatas abdomen, 2


jari dalam vagina) untuk palpasi uterus :

 Ukuran, bentuk dan posisi


 Mobilitas
 Rasa nyeri (amati wajah ibu)
 Massa

Melepaskan tangan pelan-pelan, melepaskan sarung


tangan dan memasukkan ke dalam larutan
dekontaminasi
Membantu ibu untuk bangun dari meja pemeriksaan

Mencuci tangan dengan sabun dan air serta


mengeringkannya diudara terbuka atau melapnya
dengan kain bersih
15 TES LABORATORIUM
Melakukan tes laboratorium yang diperlukan :

 Protein urine
 Hemoglobin
 Glukosa urine

16 PEMBELAJARAN/PENDIDIKAN KESEHATAN
Memberitahukan kepada ibu hasil temuan dalam
pemeriksaan

Menghitung usia kehamilan

Mengajari ibu mengenai ketidaknyamanan yang


mungkin akan dialami ibu
Sesuai dengan usia kehamilan, ajari ibu mengenal :

 Nutrisi
 Olah raga ringan
 Istirahat
 Kebersihan

49
 Pemberian ASI
 KB pasca salin
 Tanda-tanda bahaya
 Aktifitas seksual
 Kegiatan sehari-hari/pekerjaan
 Obat-obatan dan merokok
 Body mekanik
 Pakaian/sepatu

17 PROMOSI KESEHATAN
Memberikan imunisasi TT, jika dibutuhkan

Memberikan suplemen zat besi/folat dan menjelaskan


bagaimana mengkonsumsinya serta kemungkinan efek
samping
Memberikan Vit A jika dibutuhkan

Memberikan yodium jika dibutuhkan

18 PERSIAPAN PERSALINAN DAN KESIAGAAN


KEGAWAT DARURATAN
Memulai membicarakan mengenai persiapan persalinan
:

 Siapa yang akan membantu waktu kelahiran


 Tempat melahirkan
 Peralatan yang dibutuhkan oleh ibu dan bayi
 Persiapan keuangan

Mengawali membicarakan mengenai persiapan


kelahiran dan komplikasi kegawat daruratan

 Sarana transportasi
 Persiapan biaya
 Pembuatan keputusan dalam keluarga
 Donor darah

19 KESIMPULAN DARI KUNJUNGAN


Menjadwalkan kunjungan berikutnya (kunjungan
ulang)

Mencatat hasil-hasil kunjungan dalam bentuk SOAP

SKOR NILAI = ∑ NILAI/27 x 100 %

50
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING

51
BAB VIII
PEMERIKSAAN FISIK PADA BAYI DAN ANAK BALITA

A. Pemeriksaan Fisik Pada Bayi


Merupakan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh bidan, perawat, atau
dokter untuk menilai status kesehatan yang dilakukan pada saat bayi baru
lahir, 24 jam setelah lahir, dan pada waktu pulang dari rumah sakit. Dalam
melakukan pemeriksaan ini sebaiknya bayi dalam keadaan telanjang di bawah
lampu terang, sehingga bayi tidak mudah kehilangan panas. Tujuan
pemeriksaan fisik secara umum pada bayi adalah menilai status adaptasi atau
penyesuaian kehidupan intrauteri kedalam kehidupan ekstrauteri serta mencari
kelainan pada bayi. Adapun pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada bayi
antara lain :
1. Hitung Frekuensi Nafas
Pemeriksaan frekuensi nafas ini dilakukan dengan menghitung
rata-rata pernapasan dalam satu menit. Pemeriksaan ini dikatakan
normal pada bayi baru lahir apabila frekuensinya antara 30-60 kali per
menit, tanpa adanya retraksi dada dan suara merintih saat ekspirasi, tetapi
apabila bayi dalam keadaan lahir kurang dari 2.500 gram atau usia
kehamilan kurang dari 37 minggu, kemungkinan terdapat adanya retraksi
dada ringan. Jika pernapasan berhenti beberapa detik secara periodik,
maka masih dikatakan dalam batas normal.
2. Lakukan Inspeksi pada Warna Bayi
Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui apakah ada warna
pucat, icterus, sianosis sentral, atau tanda lainnya. Bayi dalam keadaan
aterm umumnya lebih pucat dibandingkan bayi dalam keadaan preterm
mengingat kondisi kulitnya lebih tebal.
3. Hitung Denyut Jantung Bayi dengan Menggunakan Stetoskop
Pemeriksaan denyut jantung untuk menilai apakah bayi mengalami
gangguan yang menyebabkan jantung dalam keadaan tidak normal, seperti
suhutubuh yang tidak normal, perdarahan, atau gangguan napas.
Pemeriksaan denyut jantung ini dikatakan normal apabila frekuensinya

52
antara 100-160 kali per menit. Masih dalam keadaan normal apabila diatas
60 kali per menit dalam jangka waktu yang relatif pendek, beberapa kali
per hari, dan terjadi selama beberapa hari pertama jika bayi mengalami
distress
4. Ukur Suhu Aksila
Lakukan pemeriksaan suhu melalui aksila untuk menentukan
apakah bayi dalam keadaan hipotermi atau hipertermi. Dalam kondisi
normal suhu bayi antara 36,5-37,5 derajat celcius.
5. Kaji Postur dan Gerakan
Pemeriksaan ini untuk menilai ada atau tidaknya
epistotonus/hiperekstensi tubuh yang berlebihan dengan kepala dan tumit
ke belakang, tubuh melengkung ke depan, adanya kejang/spasme, serta
tremor.
Pemeriksaan postur dalam keadaan normal apabila dalam keadaan
istirahat kepalan tangan longgar dengan lengan panggul dan lutut
semifleksi. Selanjutnya pada bayi berat kurang dari 2.500 gram atau usia
kehamilan kurang dari 37 minggu ekstremitasnya dalam keadaan sedikit
ekstensi. Apabila bayi letak sungsang, di dalam kandungan bayi akan
mengalami fleksi penuh pada sendi panggul atau lutut/sendi lutut ekstensi
penuh, sehingga kaki bisa mencapai mulut. Selanjutnya gerakan
ekstremitas bayi harusnya terjadi secara spontan dan simetris disertai
dengan gerakan sendi penuh dan pada bayi normal dapat sedikit gemetar.
6. Periksa Tonus atau Kesadaran Bayi
Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat adanya letargi, yaitu
penurunan kesadaran dimana bayi dapat bangun lagi dengan sedikit
kesulitan, ada tidaknya tonus otot yang lemah, mudah terangsang,
mengantuk, aktifitas berkurang, dan sadar (tidur yang dalam tidak
merespons terhadap rangsangan). Pemeriksaan ini dalam keadaan normal
dengan tingkat kesadaran mulai dai diam hingga sadar penuh serta bayi
dapat dibangunkan jika sedang tidur atau dalam keadaan diam.

53
7. Pemeriksaan Ekstremitas
Pemeriksaan ini berfungsi untuk menilai ada tidaknya gerakan
ekstremitas abnormal, asimetris, posisi dan gerakan yang abnormal
(menghadap kedalam atau keluar garis tangan ), serta menilai kondisi jari
kaki, yaitu jumlahnya berlebih atau saling melekat.
8. Pemeriksaan Kulit
Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat ada atau tidaknya
kemerahan pada kulit atau pembengkakan, postula (kulit melepuh), luka
atau trauma, bercak atau tanda abnormal pada kulit, elastisitas kulit, serta
ada tidaknya ruam popok (bercak merah terang dikulit daerah popok pada
bokong). Pemeriksaan ini normal apabila tanda seperti eritema toksikum
(titik merah dan pusat putih kecil pada muka, tubuh, dan punggung ) pada
hari kedua atau selanjutnya, kulit tubuh yang terkelupas pada hari pertama.
9. Pemeriksaan Tali Pusat
Pemeriksaan ini untuk melihat apakah ada kemerahan, bengkak,
bernanah, berbau, atau lainnya pada tali pusat. Pemeriksaan ini normal
apabila warna tali pusat kebiruan pada hari pertama dan mulai mongering
atau mengacil dan lepas pada hari ke-7 hingga ke-10.
10. Pemeriksaan Kepala dan Leher
Pemeriksaan bagian kepala yang dapat diperiksa antara lain sebagai
berikut :
a. Pemeriksaan rambut dengan menilai jumlah dan warna,
adanya lanugo, terutama pada daerah bahu dan punggung.
b. Pemeriksaan wajah dan tengkorak dapat dilihat adanyamaulage, yaitu
tulang tengkorak yang saling menumpuk pada saat lahir untuk dilihat
simetris atau tidak. Ada tidaknya caput succedaneum (edema pada
kulit kepala, lunak dan tidak berfluktuasi, batasnya tidak tegas, serta
menyebrangi sutura dan akan hilang dalam beberapa hari ).
Adanya cepal hematum terjadi sesaat setelah lahir dan tidak tampak
pada hari pertama karena tertutup olehcaput
succedaneum, konsistensinya lunak, berfluktuasi, berbatas tegas pada

54
tepi tulang tengkorak, tidak menyebrangi sutura, dan apabila
menyebrangi sutura akan mengalami fraktur tulang tengkorak yang
akan hilang sempurna dalam waktu 2-6 bulan. Adanya pendarahan
yang terjadi karena pecahnya vena ysang menghubungkan jaringan
diluar sinus dalam tengkorak, batasnya tidak tegas, sehingga bentuk
kepala tampak simetris. Selanjutnya diraba untuk menilai adanya
fluktuasi dan edema. Pemeriksaan selanjutnya adalah
menilai fontanella dengan cara melakukan palpasi menggunakan jari
tangan, kemudian fontanel posterior dapat dilihat proses penutupannya
setelah usia dua bulan, dan fontanel anterior menutup saat usia 12-18
bulan.
c. Pemeriksaan mata untuk menilai adanya strabismus atau tidak, yaitu
koordinasi gerakan mata yang belum sempurna. Cara memeriksanya
adalah dengan menggoyangkan kepala secara perlahan-lahan, sehingga
mata bayi akan terbuka, kemudian baru diperiksa. Apabila ditemukan
jarang berkedip atau sensitivitas terhadap cahaya berkurang, maka
kemungkinan mengalami kebutaan. Apabila ditemukan adanya
epicantus melebar, maka kemungkinan anak mengalami sindrom
down. Pada glaucoma kongenital, dapat terlihat pembesaran dan terjadi
kekeruhan pada kornea. Katarak kongenital dapat dideteksi apabila
terlihat pupil yang berwarna putih. Apabila ada trauma pada mata
maka dapat terjadi edema palpebral, perdarahan konjungtifa, retina,
dan lain-lain.
d. Pemeriksaaan telinga dapat dilakukan untuk menilai adanya gangguan
pendengaran. Dilakukan dengan membunyikan bel atau suara jika
terjadi reflex terkejut, apabila tidak terjadi reflex, maka kemungkinan
akan terjadi gangguan pendengaran.
e. Pemeriksaan hidung dapat dilakukan dengan cara melihat pola
pernapasan, apabila bayi bernapas melalui mulut, maka kemungkinan
bayi mengalami obstruksi jalan napas karena adanya atresia koana
bilateral atau fraktur tulang hidung atau ensevalokel yang menonjol ka

55
naso faring, sedangkan pernapasan cuping hidung akan menunjukkan
gangguan pada paru, lubang hidung kadang-kadang banyak mukosa.
Apabila secret mukopurulen dan berdarah, perlu dipikirkan adanya
penyakit sifilis kongenital dan kemungkinan lain.
f. Pemeriksaan mulut dapat dilakukan dengan melihat adanya kista yang
ada pada mukosa mulut. Pemeriksaan lidah dapat dinilai melalui warna
dan kemampuan reflex mengisap. Apabila ditemukan lidah yang
menjulur keluar, dapat dilihat adanya kemungkinan kecacatan
kongenital.
g. Adanya bercak pada mukosa mulut, palatum, dan pipi biasanya disebut
sebagai monilia albicans, gusi juga perlu diperiksa un tuk menilai
adanya pigmen pada gigi, apakah terjadi penumpukan pigmen yang
tidak sempurna.
h. Pemeriksaan leher dapat dilakukan dengan melihat pergerakan, apabila
terjadi keterbatasan dalam pergerakannya, maka kemungkinan terjadi
kelainan pada tulang leher, misalnya kelainan tiroid, hemangioma, dan
lain-lain.
11. Pemeriksaan Dada dan Punggung
Merupakan pemeriksaan yang dilakukan pada daerah dada dan
punggung, yang dilakukan untuk melihat adanya kelainan bentuk, melihat
adanya gangguan pada pernapasan seperti apabila ditemukan pernapasan
paradoksal dan retraksi pada inspirasi, adanya kesimetrisan. Apabila tidak
simetris maka kemungkinan bayi mengalami pneumotoraks, paresis
diafragma atau hernia diafragmatika dan pernapasan normal bayi pada
umumnya dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan,
frekuensi pernapasan bayi normal antara 40-60 kali per menit,
perhitungannya harus satu menit penuh karena terdapat periodic
breathing dimana pola pernapasan pada neonates terutama pada prematur
adanya henti napas yang berlangsung 20 detik dan terjadi secara berkala.
Kadang-kadang pada kelenjar susu pada bayi ditemukan air susu karena
pengaruh hormonal.

56
Pada pemeriksaan secara palpasi dapat ditemukan ada tidaknya
fraktur klavikula dengan cara meraba ictus kordis dengan menentukan
posisi jantung, secara auskultasi frekuensi jantung dilakukan dengan
menggunakan stetoskop dengan menilai jumlah frekuensi jantung secara
normal bayi antara 120-160 kali per menit. adanya bising sering
ditemukan pada bayi, bunyi pernapasan pada bayi adalah bronkovesikuler
dan terdengarnya bising usus pada daerah dada menunjukkan adanya
hernia diafragmatika.
12. Pemeriksaan Abdomen
Pemeriksaan pada abdomen ini meliputi pemeriksaan secara
inspeksi untuk melihat bentuk dari abdomen. Apabila didapatkan abdomen
membuncit yang dapat diduga kemungkinan disebabkan
hepatosplenomegali atau cairan didalam rongga perut, adanya kembung
apabila didapatkan adanya perforasi usus atau ileus. Pada perabaab hati
biasanya teraba 2-3 cm dibawah arcus kosta kanan, limpa teraba 1 cm
dibawah arkus kosta kiri. Pada palpasi ginjal dapat dilakukan dengan
pengaturan posisi terlentang dan tungkai bayi dilipat agar otot-otot dinding
perut dalam keadaan relaksasi, batas bawah ginjal dapat diraba setinggi
umbilicus diantara garis tengah dan tepi perut. Dan bagian-bagian ginjal
dapat diraba sekitar 2-3 cm adanya pembesaran pada ginjal dapat
disebabkan oleh neoplasma, kelainan bawaan atau thrombosis vena
renalis.
13. Pengukuran Antropometri
Pada bayi baru lahir, perlu dilakukan pengukuran antropometri
seperti berat badan yang normal adalah sekitar 2.500-3.500 gram, apabila
ditemukan berat badan kurang dari 2.500 gram, maka dapat dikatakan bayi
memiliki berat badan lahir rendah (BBLR). Akan tetapi, apabila
ditemukan bayi dengan berat badan lahir lebih dari 3.500 gram, maka bayi
dimasukkan dalam kelompok makrosomia.
Pengukuran antropometri lainnya adalah pengukuran panjang
badan secara normal, panjang badan bayi baru lahir adalah 45-50 cm,

57
pengukuran lingkar kepala normalnya adalah 33-35 cm, pengukuran
lingkar dada normalnya adalah 30-33 cm. apabila ditemukan diameter
kepala lebih besar 3 cm dari lngkar dada, maka bayi menggalami
hidrosefalus ddan apabila diameter kepala lebih kecil 3 cm dari lingkar
dada, maka bayi tersebut mengalami mikrosefalus.
14. Pemeriksaan Genetalia
Pemeriksaan genetalia ini untuk mengetahui keadaan labium minor
yang tertutup oleh labia mayor, lubang uretra dan lubang vagina
seharusnya terpisah, namun apabila ditemukan satu lubang maka
didapatkan terjadinya kelainan dan apabila ada secret pada lubang vagina,
hal tersebut karena pengaruh hormon. Pada bayi laki-laki sering
didapatkan fimosis, secara normal panjang penis pada bbayi adalah 3-4 cm
dan 1-1,3 cm untuk lebarnya, kelainan yang terdapat pada bayi adalah
adanya hipospadia yang merupakan defek dibagian ventral ujung penis
atau defek sepanjang penisnya. Epispadia merupakan kelainan defek pada
dorsum penis.
15. Pemeriksaan Anus dan Rectum
Pemeriksaan anus dan rectum dapat dilakukan untuk menilai
adanya kelainan otresia ani atau mengetahui posisinya, adanya meconium
secara umum keluarnya pada 24 jam apabila ditemukan dalam waktu 48
jam belum keluar maka dimungkinkan adanya meconium plug syndrome,
megakolon atau obstraksi saluran pencernaan.
16. Pemeriksaan Urine dan Tinja
Pemeriksaan urine dan tinja bermanfaat untuk menilai ada atau
tidaknya diare serta kelainan pada daerah anus. Pemeriksaan ini normal
apabila bayi mengeluarkan feses cair antara 6-8 kali per menit, dapat
dicurigai apabila frekuensi meningkat serta adanya lendir atau darah.
Adanya perdarahan pervaginam pada bayi baru lahir dapat terjadi selama
beberapa hari pada minggu pertama kehidupan.

58
17. Pemeriksaan Refleks
Panduan pemeriksaan reflex ini dapat dilihat pada table berikut :
Pemeriksaan cara Kondisi Kondisi
Refleks Pengukuran Normal Patologis/abnorm
al
Berkedip Sorotkan Dijumpai Jika tidak dijumpai
cahaya ke pada tahun menunjukkan
mata bayi pertama kebutaan
Tanda Babinzki Gores telapak Jari kaki Bila
kaki mengembang pengembangan jari
sepanjang dan ibu jari kaki dorso fleksi
tepi luar, kaki dorsof setelah usia 2
dimulai dari leksi, tahun, adanya
tumit dijumpai tanda lesi
sampai usia 2 ekstrapiramidal
tahun
Merangkak Letakkan Bayi membuat Apabila gerakan
bayi gerakan tidak simetris
tengkurap merangkak adanya tanda
diatas dengan lengan kelainan
permukaan dan kaki bila neurologis.
yang rata. diletakkan
pada
abdomen.
Menari/melangka Pegang bayi Kaki akan Reflex menetap
h sehingga bergerak ke melebihi 4-8
kakinya atas dank e minggu merupakan
sedikit bawah bila keadaan abnormal
menyentuh sedikit
permukaan disentuhkan

59
yang keras ke permukaan
keras
dijumpai pada
4-8 minggu
pertama.
Ekstrusi Sentuh lidah Lidah ekstensi Ekstensi lidah yang
dengan ujung ke arah luar persisten adanya
spatel lidah bila disentuh, sindrom down
dijumpai pada
usia 4 bulan
Galant’s Gores Punggung Tidak adanya
punggung bergerak kea reflex
bayi rah samping menunjukkan lesi
sepanjang sisi bila medulaspinalis
tulang distimulasi, transversal
belakang dari dijumpai pada
bahu sampai 4-8 minggu
bokong pertama
Moro Ubah posisi Lengan Reflex yang
dengan tiba- ekstensi, jari- menetap lebih pada
tiba atau jari 4 bulan. Adanya
pukul mengembang, kerusakan otak,
meja/tempat kepala respons tidak
tidur terlempar ke simetris. Adanya
belakang, hemiparesis,
tungkai fraktur klavikula
sedikit atau cedera fleksus
ekstensi, brakialis, tidak ada
lengan respons ekstremitas
kembali ke bawah, adanya

60
tengah dengan dislokasi pinggul
tangan atau cedera
menggengga medulla spinalis.
m tulang
belakang dan
ekstremitas
bawah
ekstensi.
Lebih kuat
selama 2
bulan
menghilang
pada usiia 3-4
bulan.
Neck righting Letakkan Bila bayi Tidak ada reflex
bayi dalam terlentang, atau reflex
posisi bahu dan menetap lebih dari
terlentang, badan 10 bulan
coba menarik kemudian menunjukkan
perhatian pelvis berotasi adanya gangguan
bayi dari satu kea rah system saraf pusat
sisi dimana bayi
diputar dan
dijumpai
selama sepulu
bulan pertama
Menggenggam Letakkan jari Jari-jari bayi Fleksi yang tidak
(palmar grasp) ditelapak melengkung simetris
tangan bayi disekitar jari menunjukkan
dari sisi yang adanya paralisis,

61
ulnar, jika diletakkan reflex
reflex lemah ditelapak menggenggam
aatau tidak tangan bayi yang menetap
ada berikan dari sisi ulnar, menunjukkan
bayi botol reflex ini ggangguan serebral
atau dot, menghilang
karena pada usia 3-4
mengisap bulan
akan
mengeluarka
n refleks

Rooting Gores sudut Bayi memutar Tidak adanya


mulut bayi kearah pipi reflex
garis tengah yang digores, menunjukkan
bibir reflex ini adanya gangguan
menghilang neurologis beratt.
pada usia 3-4
bulan, tetapi
bisa menetap
sampai usia
12 bulan,
khususnya
selama tidur
Kaget (startie) Bertepuk Bayi Tidak adanya
tangan mengekstensi reflex
dengan keras dan menunjukkan
memfleksi adanya gangguan

62
lengan dalam pendengaran
merespons
terhadap suara
yang keras,
tangan tetap
rapat, reflex
ini akan
menghilang
setelah usia 4
bulan
Mengisap Berikan bayi Bayi Reflex yang lemah
botol dan dot mengisap atau tidak ada
dengan kuat menunjukkan
dalam kelambatan
berespons perkembangan atau
terhadap kkeadaan
stimulasi, neurologis yang
reflex ini abnormal
menetap
selama masa
bayyi dan
mungkin
terjadi selama
tidur tanpa
stimulasi
Tonic neck Putar kepala Bayi Tidak normal bila
dengan cepat melakukan respons terjadi
ke satu sisi perubahan setiap kepala
posisi bila diputar, jika
kepala diputar menetap adanya

63
ke satu sisi, kerusakan serebral
lengan dan mayor.
tungkai
ekstensi
kearah sisi
putaran kepala
dan fleksi
pada sisi pada
sisi yang
berlawanan,
normalnya
reflex ini
tidak terjadi
setiap kali
kepala
diputar.
Tampak kira-
kira pada usia
2 bulan dan
menghilang
pada usia 6
bulan

B. Pemeriksaan Fisik Pada Anak Balita


Merupakan pengkajian yang dilakukan pada anak yang bertujuan
untuk memperoleh data status kesehatan anak serta dapat dijadikan sebagai
dasar dalam menegakkan diagnosis. Adapun pemeriksaannya adalah sebagai
berikut :
1. Pemeriksaan Keadaan Umum
Pemeriksaan ini terdiri atas pemeriksaan status kesadaran, status
gizi, tanda-tanda vital, dan lain-lain.

64
2. Pemeriksaan Kesadaran
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai status kesadaran anak,
ada dua macam penilaian status kesadaran, yaitu penilaian secara kualitatif
dan penilaian secara kuantitatif. Secara kualitatif didapatkan antara lain :
compos mentis, yaitu anak mengalami kesadaran penuh dengan
memberikan respons yang cukup terhadap stimulus yang diberikan; apatis,
yaitu anak acuh tak acuh terhadap keadaan sekitarnya; somnelon, yaitu
anak memiliki kesadaran yang lebih rendah dengan ditandai dengan anak
tampak mengantuk, selalu ingin tidur, tidak responsive terhadap
rangsangan ringan, dan masih memberikan respons tterhadap rangssangan
yang kuat; sopor, yaitu anak tidak memberikan respons ringan maupun
sedang, tapi masih memberikan respons sedikit terhadap rangsangan yang
kuat dengan adanya reflex pupil terhadap cahaya yang masih positif;
koma, yaitu anak tidak dapat bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan
apapun, reflex pupil terhadap cahaya tidak ada; dan delirium merupakan
tingkat kesadaran yang paling rendah ditandai dengan disorientasi sangat
iritatif, kacau, dan salah persepsi terhadap rangsangan sensorik.
Dalam penilaian kesadarran anak, sering kali ditemukan
permasalahan, seperti kesulitan dalam penilaian kesadaran melalui respons
yang diberikan pada anak, karena respons dari anak tidak menjadikan
ukuran mutlak keadaan kesadaran baik atau terjadi gangguan.
3. Pemeriksaan Status Gizi
Penilain status gizi ini dapat dilakukan dengan melakukan
beberapa pemeriksaan, seperti pemeriksaan antropometri, yang meliputi
pemeriksaan berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, pemeriksaan
klinis dan laboratorium yang dapt digunakan untuk menentukan status gizi
anak. Selanjutnya dalam penilaian status gizi anak dapat disimpulkan
apakah anak mengalami gizi baik, cukup, atau gizi yang kurang.
4. Pemeriksaan Nadi
Pemeriksaan nadi seharusnya dilakukan dalam keadaan tidur atau
istirahat. Pemeriksaan nadi dapat dilakukan berssamaan dengan

65
pemeriksaan denyut jantung untuk mengetahui adanya pulsus deficit yang
merupakan denyut jantung yang tidak cukup kuat untuk menimbulkan
denyut nadi, sehingga denyut jantung lebih tinggi daripada denyut nadi.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kecepatan atau ffrekuensi nadi,
misalnya dapat ditemukan takikardi yang merupakan denyut jantung llebih
cepat daripada kecepatan normal, keadaan ini dapat terlihat pada keadaan
hipertermia, aktivitas tinggi, ansietas, tirotoksikosis, miokarditis, gagal
jantung, serta dehidrasi atau rejantan. Pada keadaan hipertermia,
meningkatnya suhu satu derajat celcius akan meningkatkan denyut nadi
sebanyak 15-20 kali per menit.
Penilaian yang berkaitan dengan pemeriksaan nadi adalah ada atau
tidaknya takikardi sinus, yang ditandai dengan adanya variasi 10-15
denyutan dari menit ke menit. takikardi supraventikuler paroksisimal yang
ditandai dengan nafi sulit dihitung karena frekuensinya sangat tinggi (lebih
dari 2000 kali per menit) dan kecepatan nadi konstan sepanjang serangan.
Disamping takikardi, terdapat istilah brikardi, yaitu frekuensi
denyut jantung yang kurang dari normal atau denyut jantung lambat. Dalm
penilaian brikardi, terdapat brikardi sinus dan brikardi relative apabila
denyutan nadi lebih sedikit dibandingkan dengan kenaikan suhu. Selain
pemeriksaan frekuensi nadi, dapat juga dilakukan pemeriksaan irama
denyutan nadi. Selanjutnya diraba apakah iramanya normal atau tidak,
hasil perabaab dapat berupa disritmia (aritmia) sinus. Disritmia merupakan
ketidakteraturan nadi dimana denyut nadi lebih cepat saat inspirasi dan
akan lebih lambat saat ekspirasi, kemudian apabila teraba nadi sepasang-
sepasang dinamakan pulsus bigeminus dan apabila teraba tiga kelompok-
kelompok disebut pulsus trigeminus, serta untuk melihat kkelainan lebih
lanjut dapat dengan elektrokardiografi.
Selain itu, pemeriksaan nadi lainnya adalah kualitas nadi apakah
normal atau cukup. Hal ini dapat dinilai seperti adanya pulsus seler
ditandai dengan nadi teraba sangat kuat dan turun dengan cepat akibat
tekanan nadi (perbedaan tekanan sistolik dan diastolic yang sangat besar).

66
Apabila lemah menunjukkan adanya kegagalan dalam sirkulasi, adanya
pulsus parvus et tardus yang ditandai dengan amplitude nadi yang rendah
dan teraba lambat naik dapat terjadi pada stenosis aorta. Adanya pulsus
alternas, ditandai dengan denyut nadi yang berselang-seling kuat dan
lemah menunjukkan adanya beban ventrikel kiri yang berat. Adanya
pulsus paradoksus ditandai dengan nadi yang teraba jelas lemah saat
inspirasi dan teraba normal atau kuat saat ekspirasi yang menunjukkan
tamponade jantung.
5. Pemeriksaan tekanan darah
Dalam melakukan pemeriksaan tekanan darah, hasilnya sebaiknya
dicantumkan dalam posisi apa pemeriksaan darah dilakukan, seperti tidur,
duduk, berbaring, atau menangis. Sebab posiisi akan memengaruhi hasil
penilaian tekanan darah yang dilakukan. Pemeriksaan tekanan darah dapat
dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung pada pasien.
Pemeriksaan yang sering kita lakukan adalah pemeriksaan secara tidak
langsung dengan menggunakan spigmomanometer yang dapat dilakukan
secara palpasi atau secara auskultasi dengan bantuan stetoskop.
Pemeriksaan ini untuk menilai adanya kelainan pada gangguan
system kardiovaskular, apabila didapatkan perbedaan tekanan darah
sistolik pada saat inspirasi dan saat ekspirasi lebih dari 10 mmHg, maka
dapat dikatakan anakk mengalami pulsus paradoksus yang kemungkinan
menyebabkan terjadinya tamponade jantung, gagal jantung, dan lain-lain.

C. Daftar Tilik Pemeriksaan BBL


DAFTAR TILIK
PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR

Penilaian setiap kinerja yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :


0 Gagal : Bila langkah klinik tidak dilakukan.
Langkah klinik dilakukan tetapi tidak mampu
1 Kurang : mendemonstrasikan sesuai prosedur.

67
Langkah klinik dilakukan dengan bantuan, kurang terampil
atau kurang cekatan dalam mendemonstrasikan dan waktu
2 Cukup : yang diperlukan relatif lebih lama menyelesaikan suatu tugas.
Langkah klinik dilakukan dengan bantuan, kurang percaya
diri, kadang-kadang tampak cemas dan memerlukan waktu
3 Baik : yang dapat dipertanggung jawabkan
Langkah klinik dilakukan dengan benar dan tepat sesuai
Sangat dengan tekhnik prosedur dalam lingkup kebidanan dan waktu
baik efisien.
4 /Mahir :

NO KOMPONEN 0 1 2 3 4
A PERSIAPAN ALAT
1 1.Baki beralas berisi :
1. Bak instrument
2. Pita meter ( metlin ) dan alat ukur LILA,Jangka
Martil
3. Stetoskop
4. Pen Light
5. Termometer axilla dan rectal
6. Kom berisi tissue
7. Botol berisi air klorin dan air bersih
8. Kom berisi kapas suntik
9. Spuit 1 cc
10. Obat – obatan ( Vit K atai Vit Neo K dan vaksin
Hepatitis )
11. Tetes mata / salep mata
12. Peneng bayi
13. Stempel untuk bayi
14. Celemek / skot
15. Kertas cap kaki
16. Kain bersih

68
NO KOMPONEN 0 1 2 3 4
17. Tempat yang datar , rata , bersih , kering ,
hangat dan terang
18.Alat ukur berat badan bayi dan tinggi badan
19.Nierbekken / bengkok ( 1 buah )
20.Baskom berisi air klorin
21.Tempat sampah medis (kuning) 1 buah, kotak sampah
non medis
(hitam) 1 buah dan sefty box ( 1 buah )

B. PERSIAPAN BBL
2 Bayi masih dalam keadaan memakai baju
sebelum dilakukan pemeriksaan
Jaga suhu ruangan agar tetap hangat
C. LANGKAH – LANGKAH PEMERIKSAAN
3 .Mengkaji Riwayat
a. Faktor Lingkungan seperti :
 Konduksi adalah kehilangan panas pada bayi
yang di karenakan benda yang menempel pada
tubuh bayi dengan contoh stetoskop , timbangan
, meja tempat tidur bayi
 Konveksi adalah kehilangan panas pada bayi
karena suhu di ruangan lebih dingin dari suhu
tubuh bayi dengan contoh kipas angin, AC,
udara dari luar jendela
 Radiasi adalah kehilangan panas bayi karena
suhu di ruangan lebih dingin dari suhu tubuh
bayi
 Evaporasi adalah kehilangan panas pada bayi
karena tubuh bayi yang panas dengan contoh
terkena air ketuban , kencing bayi

69
NO KOMPONEN 0 1 2 3 4
b. Faktor Genetik
Faktor keturunan dengan contoh golongan
darah, penyakit keturunan seperti DM, Jantung,
hipertensi, asma ,TB
c. Faktor Sosial terdiri dari:
 Ekonomi
 Budaya
 Pendidikan orang tua
d. Faktor Ibu dan Perinatal sepert :
 Penyakit yang menyertai saat kehamilan seperti
jantung, DM, hipertensi , asma
 Bayi lahir dengan asfiksia
e. Faktor Neonatal
D Mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan
air mengalir , keringkan dengan kain bersih atau
biarkan mengeringkan sendiri . Kenakan sarung
tangan yang bersih
PEMERIKSAAN
4 Amati bayi dan ibu sebelum menyentuh bayi .
Jelaskan pada ibu bahwa sebaiknya dia
melakukan kontak mata dengan bayinya dan
membelai bayinya dengan seluruh bagian
tangan ( bukan hanya dengan jari – jarinya ) .
Mintalah ibu untuk membuka baju bayinya
5 Lihat postur , tonus dan aktivitas bayi . Bayi
sehat akan bergerak aktif
6 Lihat kulit bayi , Jelaskan pada ibunya bahwa
wajah , bibir dan selaput lendir harus berwarna
merah muda , tanpa bintik – bintik kemerahan

70
NO KOMPONEN 0 1 2 3 4
atau bisul
7 Hitung pernafasan dan lihat tarikan dinding
dada bawah ketika bayi sedang tidak menangis .
Jelaskan pada ibunya bahwa frekuensi nafas
normal 40 – 60 kali permenit
Lihat gerakan pernafasan di dada dan perut
Jelaskan bahwa seharusnya tidak ada tarikan
dinding dada bawah yang dalam

8 Stetoskop diletakkan di dada kiri bayi setinggi


apeks kordis . Hitung detak jantung dengan
stetoskop . Frekuensi detak jantung normal
adalah 100 – 160 kali permenit
9 Lakukan pengukuran suhu ketiak . Jelaskan
suhu normal adalah 36,5 – 37,5 º C
10 Lihat dan raba bagian kepala apakah ada
pembengkakan atau abnormalitas dan raba ubun
– ubun besar kemudian Mengukur panjang bayi
dan lingkar kepala bayi .
- Kepala di bagi menjai 3 bagian :
a. Ubun - - ubun
UUB , bentuknya segi empat
UUK, bentuknya segitiga
Daerah sinsiput , verteks , occipital
b. Sutura , Molase
Sutura Frontalis : Yang memisahkan antara
kedua os frontalis
Sutura Koronia : Yang memisahkan os
frontalis dan os Parientalis
Sutura Sagitalis : Yang memisahkan antara

71
NO KOMPONEN 0 1 2 3 4
kedua os parientalis
Sutura Lambdoidea : Yang memisahkan os
Occipitalis dan parientalis
c. Pembengkakan atau daerah bregmatika ada
pembengkakan atau cekungan
d. Ukur Lingkar kepala
Ambil metlin kemudian lingkarkan untuk
mengukur sircumferensia ( keliling )
Circ. Suoccipito – Bregmatika : 32 cm ( LBK
)
Circ . Fronto – Occipitalis : 34 cm (
LPK)
Circ . mento – Occipitalis : 35 cm (LD)
Ukuran Diameter
d.Occipito – frontalis : 12 cm ( LPK )
d.Mento – occipitalis : 13,5 cm ( LD )
d.Suboccipito – bregmatika : 9,5 cm (LBK)
d.Biparientalis : 9,25 cm
d.Bitemporalis : 8 cm
11 Lihat mata : Jelaskan bahwa seharusnya tidak
ada kotoran / sekret dan beri bayi salep / tetes
mata antibiotika di 1 jam pertama pada saat
IMD
12 Lihat bagian mulut ( lidah , selaput lendir ) ,
Jika bayi menangis masukkan satu jari yang
menggunakan sarung tangan ke dalam dan raba
langit – langit , apakah ada bagian yang terbuka
dan nilai kekuatan hisap bayi
13 Lihat dan raba bagian perut untuk memastikan
bahwa perutnya terasa lemas

72
NO KOMPONEN 0 1 2 3 4
14 Lihat tali pusat . Jelaskan ke ibu bahwa
seharusnya tidak ada perdarahan ,
pembengkakan , nanah, bau atau kemerahan
pada kulit sekitarnya
15 Lihat punggung dan raba tulang belakang
16 Beri bayi Vitamin K1 1 mg intramuskuler di
paha kiri di 1 jam pertama pada menyusui dan
setelah 1 jam pemberian K1 maka berikan
imunisasi Hepatitis B di paha kanan
17 Lihat lubang anus dan alat kelamin . Hindari
untuk memasukkan alat atau jari dalam
melakukan pemeriksaan anus

18 Tanyakan pada ibu apakah bayi sudah buang air


besar dan buang air kecil
Pastikan dalam 24 jam pertama bayi sudah
buang air besar dan buang air kecil
19 Mintalah ibu untuk memakaikan pakaian dan
menyelimuti bayi
20 Timbang bayi menggunakan selimut , berat bayi
adalah hasil timbangan dikurangi berat selimut ,
Jelaskan kepada ibu tentang perubahan berat
bayi dalam minggu pertama berat bayi mungkin
turun dahulu baru kemudian naik kembali
21 Cuci tangan dengan sabun antiseptik dan air
mengalir , keringkan dengan kain yang bersih
22 Minta ibu untuk menyusui bayinya
Jelaskan posisi bayi yang baik : kepala dan
badan dalam garis lurus : wajah bayi
menghadap payudara : Ibu mendekatkan bayi ke

73
NO KOMPONEN 0 1 2 3 4
tubuhnya
Jelaskan perlekatan yang benar : bibir
bawah melengkung keluar , sebagian besar
areola berada di dalam mulut bayi
Jelaskan tanda – tanda bayi menghisap
dengan baik : menghisap dalam dan pelan ,
tidak terdengar suara kecuali menelan di sertai
berhenti sesaat
Anjurkan ibu untuk menyusui sesuai dengan
keinginan bayi tanpa memberi makanan atau
minuman lain

74
BAB IX
PERSIAPAN UNTUK PEMERIKSAAN LABORATORIUM

A. Menetapkan Kebutuhan Pemeriksaan Laboratorium


Pemeriksan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur
pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan/sample dari penderita, dapat
berupa urine (air kencing), darah, sputum (dahak), atau sample dari hasil
biopsy.
Pemeriksaan laboratorium merupakan prosedur pemeriksaan khusus
yang dilakukan pada pasien untuk membantu menegakan diagnosis. Prosedur
dan pemeriksaan khusus merupakan bagian dari tindakan untuk mengatasi
masalah kesehatan yang dilaksanakan secara tim. Pemeriksaan laboratorium
merupakan pemeriksaan penunjang, setelah pemeriksaan utama yang
dilakukan oleh seorang dokter. Penilaian hasil laboratorium sangat penting
untuk mendeteksi penyakit, menentukan risiko, memantau perkembangan
penyakit, memantau pengobatan dan lain-lain. Hasil suatu pemeriksaan
laboratorium sangat penting dalam membantu diagnosa, memantau perjalanan
penyakit serta menentukan prognosa dari suatu penyakit serta keluhan pasien.
Pemeriksaan laboratorium awal pada wanita dengan resiko ringan
meliputi tes darah berikut : golongan darah dan faktor rhesus(Rh), skining
antibodi, hitung darah lengkap (hematokrit), Rapid Plasma Reagin (RPR),
atau tes lain untuk mendeteksi sifilis, titer rubela, HBSAg dan HIV. Banyak
juga klinisi melakukan kultur urine. Kondisi umum klien memungkinkan
pelaksanaan tes tambahan. Seiring kemajuan tes kehamilan, tes tambahan
seperti skrining tripel serum maternal juga diperlukan.
1. Pemeriksaan Darah, Pemeriksaan "sederhana" terhadap darah bertujuan
untuk mengetahui:
a. Kadar hemoglobin: mendeteksi kemungkinan adanya anemia atau
pendarahan. Kadar normal: 12-18.
b. Jumlah sel darah putih (leukosit): mendeteksi kemungkinan adanya
infeksi. Kadar normal: 5.000 - 10.000.

75
c. Jumlah sel darah merah (eritrosit): mendeteksi kemungkinan adanya
anemia. Kadar normal: 4,2 - 6,2 juta.
d. Jumlah trombosit: mendeteksi kemungkinan adanya pendarahan.
Kadar normal: 150 - 450 ribu.
e. Angka hematokrit: mendeteksi kemungkinan adanya kekurangan
cairan plasma yang menyebabkan angkanya tinggi, atau kekurangan
produksi sel darah merah yang menyebabkan angkanya rendah. Kadar
normal: 42 - 52.
f. Laju endap darah: mendeteksi kemungkinan adanya peradangan.
Kadar normal 0 - 15.(1)
2. Pemeriksaan Urine
a. Urine sewaktu, Untuk berbagai pemeriksaan digunakan urin sewaktu,
yakni urin dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan secara
khusus.Pemeriksaan ini baik untuk pemeriksaan rutin tanpa keluhan
khusus.
b. Urine pagi, Maksudnya, urin yang pertama-tama dikeluarkan di pagi
hari setelah bangun tidur. Urin ini lebih pekat daripada urin yang
dikeluarkan di siang hari. Pemeriksaan urin pagi baik untuk sedimen,
berat jenis, protein, juga tes kehamilan. Sebaliknya, urin pagi tidak
baik untuk pemeriksaan penyaring karena adanya glukosuria.
c. Urin postprandial, Maksudnya, urin yang pertama kali dikeluarkan 1,5
- 3 jam sehabis makan. Sampel ini berguna untuk pemeriksaan
glukosuria.
d. Urin 24 jam, Sampel ini digunakan untuk mengetahui keandalan angka
analisis. Untuk mengumpulkan urin 24 jam diperlukan botol besar,
bervolume 1,5 liter atau lebih yang ditutup dengan baik. Botol harus
bersih dan memerlukan zat pengawet. Cara mengumpulkan urin ini
dikenal juga sebagai timed specimen, yakni urin siang 12 jam, dan urin
malam 12 jam. Urin siang 12 jam dikumpulkan dari pukul 07.00
sampai 19.00Sementara urin malam 12 jam, dikumpulkan dari pukul
19.00 sampai pukul 7.00 keesokan harinya. Adakalanya urin 24 jam

76
ditampung terpisah-pisah dalam beberapa botol dengan maksud
tertentu. Contohnya, pada penderita diabetes melitus untuk melihat
banyaknya glukosa dari santapan satu hingga santapan berikutnya.

B. Pemeriksaan Lab Yang Dianjurkan Selama Kehamilan


1. Trimester pertama (Usia kehamilan 1-12 minggu)
Pada awal kehamilan, Anda disarankan untuk melakukan basic
pregnancy test. Pemeriksaan ini bermanfaat sebagai pemeriksaan awal
calon ibu untuk mendeteksi berbagai resiko yang dapat mengganggu
kehamilan.
Basic pregnancy test mencakup melakukan pemeriksaan seperti
pemeriksaan urin, Hb, Leukosit, Trombosit, Hemakokrit,LED,
Eritrosit,MCV, Mch, Lekosit Diff Count, Ferritin, HBsAg, ABO dan RH
Grouping, Anti Toxoplasma IgM, Anti Rubella IgM, Anti CMV IgM, Anti
HSV2 IgM, Anti HIV, Urea, Creatin, VDRL, TPHA.
Pada saat usia kehamilan memasuki 11 hingga 14 minggu, Anda
dianjurkan kembali lagi untuk melakukan pemeriksaan Sindrom freeB-
HCG dan PaPP-A test, dan NIPT (Non Invasive Prenatal Test) terutama
bagi Anda wanita hamil yang telah berusai 35 tahun. Hal ini penting
dilakukan, karena risiko memiliki bayi dengan kelainan kromosom
cenderung lebih rentan.
2. Trimester kedua (Usia kehamilan 13-24 minggu)
Pemeriksaan laboratorium pada trimester kedua ini bermanfaat
untuk mendeteksi adanya risiko Diabetes Gestasional, yang berarti tingkat
glukosa meningkat dan gejala diabetes lainnya akan muncul selama
kehamilan calon ibu bila sebelumnya belum pernah diiagnosis diabetes.
Sebelum melakukan pemeriksaan ini, Anda harus berpuasa terlebih dahulu
pada malam sebelumnya selama 10 hingga 22 jam atau sekitar pukul 22.00
sampai 08.00 WIB.
Pemeriksaan laboratorium pada trimester dua mencakup
pemeriksaan urin dan Triple Test yang terdiri dari Alfafetoprotein/AFP,

77
Estriol. dan Human Chorionic Gonadotrophin/hCG, Hematology
Rtoproteinutin, OGTT, Ureum, Creatinin, HBA1C.
3. Trimester ketiga (Usia kehamilan 25-40 Minggu)
Pemeriksaan pada trimester III bermanfaat untuk mengetahui
kondisi tubuh calon ibu memasuki persiapan persalinan, seperti fungsi
ginjal, kadar hemoglobin, gula darah dan mendeteksi adanya infeksi
saluran kemih. Untuk itu Anda dianjurkan melakukan pemeriksaan ini 19
hingga 20 hari atau sekitar 2-3 minggu sebelum memasuki proses
persalinan. Pemeriksaan laboratorium pada trimester III, meliputi
Hematology rutin, gambaran darah tepi (PBS), glukosa sewaktu, ureum,
creatinin, urin rutin, urin culture.
Dari rincian di atas, mungkin Anda bertanya, mengapa di setiap
trimester selalu dilakukan pemeriksaan urine? Hal ini penting dilakukan
karena infeksi saluran kemih pada wanita hamil dapat menyebabkan
infeksi ginjal yang akhirnya dapat berakibat keguguran atau kelahiran
prematur. Selain itu, infeksi saluran kemih akut juga sering
mempengaruhi infeksi pada dinding rongga amnion atau air ketuban,
sehingga bisa menyebabkan ketuban pecah dini dan berpotensi
meningkatkan resiko infeksi pada janin.

C. Daftar Tilik Pemeriksaan Lab


CONTOH DAFTAR TILIK PEMERIKSAAN LABORATORIUM

PEMERIKSAAN LANGKAH-LANGKAH PEMERIKSAAN


LABORATORIUM No.

Pemeriksaan Gula Persiapan Alat:


Dalam urin  2,5 cc Benedict
 1 Spuit 3 cc
 1 Pipet tetes Urin
 Bunser Burner
 1 Korek api
 2 Tabung Reaksi

78
 1 Penjepit tabung reaksi
 1 pasang Handscoen
 Pena dan buku catatan
 Larutan Disinfektan dalam waskom
Isilah tabung reaksi dengan benedict masing-
1
masing 2,5 cc
2 Tetesi tabung tersebut dengan 4 tetes urin
Panaskan urin yang sudah tercampur diatas
3 lampu spiritus berjarak 2-3 cm dari ujung lampu
sampai mendidih
Kocok dan bandingkan dengan tabung yang lain
4
lihat perbedaaan
5 Membaca hasil dan mendokumentasikan
Pemeriksaan Protein Persiapan Alat:
Urine  2-3 cc urin
 1 Spuit 3 cc
 1 Pipet tetes Asam asetat
 Bunser Burner
 1 Korek api
 2 Tabung Reaksi
 1 Penjepit tabung reaksi
 1 pasang Handscoen
 Pena dan buku catatan
 Larutan Disinfektan dalam waskom
1 Isilah tabung reaksi dengan urin 2-3 cc
Panaskan urin di atas lampu spritus (Bunser
2 Burner) berjarak 2-3 cm dari ujung lampu
sampai mendidih
Kalau urin keruh tambahkan 3-5 tetes asam
3 asetat 6%, ini menunjukkan adanya HR dan ini
tidak signifikan untuk protein
4 Kalau urin tetap keruh panaskan sekali lagi
Kalau urin masih tetap keruh berarti ada protein
5
dalam urin
6 Mencatat hasil pemeriksaan

79
Pemeriksaan HB Persiapan Alat:
Sahli  Hcl 0,1%
 1 lancet Blood
 Tisu kering
 Kapas alkohol
 Aquabidest
 1 tabung pengencer
 1 Pipet darah
 1 Pipet pengencer
 1 pengaduk
 Larutan Disinfektan dalam waskom
Isilah tabung Haemometer dengan Hel 1%
1
sampai angka 2
Tusuk ujung jari dengan jarum yang steril,
2 bersihkan darah yang pertama keluar dengan
kapas/tisu
Gunakan pipet untuk menghisap darah mencapai
3
warna biru pada tabung / 20 mm
Masukkan darah ke dalam tabung kemudian isap
4 larutan keluar dan masuk pipet sampai semua
darah keluar dari pipet
Aduk Hcl dengan darah samapai benar-benar
5
tercampur
Masukkan aquadest tetes demi tetes ke dalam
6 tabung, diaduk kembali setelah ditetesi sampai
warnanya sama dengan warna standar
Lihat ujung paling atas dan baca angka diujung
7
tersebut, itulah kadar Hbnya lalu catat hasilnya

D. Pembacaan Hasil Pemeriksaan


Protein Urin
Lebih Urin jelas
Kekeruhan keruh dan keruh dan Urin sangat keruh
Kondisi
ringan tanpa terdapat kekeruhan dan
urin
butiran butiran itu bergumpal2/memadat
(0,01-0,05%) (0,05- berkeping2 (>0,5%)
0,2%) (0,2-0,5%)
Nilai + ++ +++ ++++

80
Glukosa Urin

Kehijauan
warna urin kuning keruh Jingga Merah keruh
kekuning2an
(1-1,5%) (2-3,5%) (>3,5%)
(0,5-1%)
Nilai + ++ +++ ++++

Hb Sahli

Kadar Hb
>10 - <11 gr % ≥7 – 10 gr % <7 gr %

Klasifikasi Anemia Ringan Anemia Sedang Anemia Berat

81
BAB X
PRINSIP DAN TEKNIK PEMBERIAN OBAT

A. Prinsip-prinsip Pemberian Obat


Pemberian obat kepada pasien terdapat beberapa cara,yaitu melalui
rute oral, parenteral, rektal, vaginal, kulit, mata, telinga dan hidung.
Dalam pemberian obat ada beberapa hal yang harus di perhatikan demi
meminimalisir kesalahan di antaranya : Prinsip 6 benar pemberian obat:
1. Benar pasien, Sebelum memberikan obat cek kembali identitas pasien.
2. Benar obat, Selum memberikan obat kepada pasien, label pada botol atau
kemasan harus di periksa minimal 3 kali.
3. Benar dosis, Sebelum memberikan obat perawat harus memeriksa dosis
obat dengan hati-hati dan teliti, jika ragu perawat harus berkonsultasi
dengan dokter atau apoteker sebelum di lanjutkan ke pasien.
4. Benar cara/rute, Ada banyak rute/cara dalam memberikan obat, perawat
harus teliti dan berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan pemberian obat.
5. Benar waktu, Ketepatan waktu sangat pentingkhususnya bagi obat yang
efektivitas tergantung untuk mencapai atau mempertahankan darah yang
memadai, ada beberapa obat yang diminum sesudah atau sebelum makan,
juga dalam pemberian antibiotik tidak oleh di berikan bersamaan dengan
susu, karna susu dapat mengikat sebagian besar obat itu,sebelum dapat di
serap tubuh.
6. Benar dokumentasi, Setelah obat itu di berikan kita harus
mendokumentasikan dosis, rute, waktu dan oleh siapa obat itu di berikan,
dan jika pasien menolak pemberian obat maka harus di dokumentasikan
juga alasan pasien menolak pemberian obat.

82
BAB XI
PERAWATAN BEDAH KEBIDANAN DAN PERAWATAN LUKA

A. Perawatan Pasca Bedah


Setelah tindakan pembedahan (pascabedah), beberapa hal yang perlu
dikaji diantaranya adalah setatus kesadaran, kualitas jalan nafas, sirkulasi dan
perubahan tanda fital yang lain, keseimbangan elektrolit, kardiofaskular,
lokasi daerah pembedahan dan sekitarnya, serta alat yang digunakan dalam
pembenahan.
Rencana Tindakan:
1. Meningkatkan proses penyembuhan luka dan mengurangi rasa nyeri dapat
dilakukan dengan cara merawat luka, serta memperbaiki asupan makanan
tinggi protein dan vitamin C. Protein dan vitamin C dapat membantu
pembentukan kolagen dan mempertahankan integritas dinding kapiler.
2. Mempertahankan respirasi yang sempurna dengan latihan nafas, tarik
nafas yang dalam dengan mulut yang terbuka, lalu tahan nafas selama 3
detik dan hembuskan. Atau, dapat pula dilakukan dengan menarik nafas
melalui hidung dengan menmggunakan diafragma, kemudian nafas
dikeluarkan pelahan lahan melalui mulut yang di kuncupkan.
3. Mempertahankan sirkulasi, dengan stoking pada pasien yang beresiko
tromboflebitis atau pasien dilatih agar tidak duduk terlalu lama dan harus
meninggikan kaki pada tempat duduk guna mempelancar vena balik.
4. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, dengan memberikan
cairan sesuai dengan kebutuhan pasien; monitor input dan output; serta
mempertahankan nutrisi yang cukup
5. Mempertahankan eliminasi, dengan mempertahankan asupan dan output;
serta mencegah terjadinya lentensi urin
6. Mempetrahankan aktifitas dengan latihan yang memperkuat otot sebelum
ambulatory
7. Mengurangi kecemasan dengan melakukan komunikasi secara terapautik

83
B. Konsep Dasar Dalam Perawatan Luka
1. Luka
a. Menurut R. Sjamsu Hidayat, 1997 : Luka adalah hilang atau rusaknya
sebagian jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam atau
tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau
gigitan hewan.
b. Menurut Koiner dan Taylan : Luka adalah terganggunya (disruption)
integritas normal dari kulit dan jaringan di bawahnya yang terjadi
secara tiba-tiba atau disengaja, tertutup atau terbuka, bersih atau
terkontaminasi, superfisial atau dalam.
c. Menurut Mansjoer, Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya
kontuinuitas jaringan.
d. Menurut Inetna, Luka adalah injury pada jaringan yang mengganggu
proses selular normal. Disimpulkan luka adalah suatu keadaan
terputusnya kontinuitas jaringan tubuh karena gesekan, tekanan, suhu,
infeksi, dan yang lainnya yang dapat menyebabkan terganggunya
fungsi tubuh sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam bahasa
Indonesia dikenal dengan kata luka, borok, koreng, dekubitus, dan
lain-lain.
2. Klasifikasi Luka
a. Berdasarkan Sifat Kejadian
1) Luka disengaja (intentional traumatic), Contoh : luka radiasi, luka
bedah
2) Luka tidak disengaja (unintentional traumatic), Contoh : Luka
terbuka (abrasi / gesekan, puncture / tusukan, hautration / akibat
alat yang digunakan dalam perawatan luka), luka tertutup.
b. Berdasarkan Penyebab, Luka mekanik
1) Vulnus scissum (luka sayat / luka insisi / incised wounds)
karakteristik : pinggiran luka rapi.
2) Vulnus contusum (luka memar / contusion wound) karakterisitik :
cedera pada jaringan bawah kulit akibat benturan benda tumpul.

84
3) Vulnus laceratum (luka robek) karakteristik : terdapat robekan
jaringan yang menyebabkan jaringan rusak.
4) Vulnus puncture (luka tusuk / puncture wound) karakteristik : luka
luar tampak kecil namun bagian dalam besar.
5) Vulnus sclopetorum (luka tembak).
6) Vulnus morsum (luka gigitan) karakteristik : tidak jelas bentuknya.
7) Vulnus abrasio (luka terkikis / abraced wound) karakteristik : tidak
sampai ke pembuluh darahLuka non mekanik, Contoh : sengatan
listrik, obat.
c. Berdasarkan Lamanya Proses Penyembuhan
1) Luka akut: Adalah luka yang sembuh sesuai dengan waktu proses
penyembuhan luka (21 hari sesuai dengan proses menutupnya
luka). Contoh : luka operasi, luka kecelakaan dan luka bakar
2) Luka kronik : Adalah luka yang sulit sembuh dan fase
penyembuhan lukanya mengalami pemanjangan. Contoh : luka
tekan (dekubitus), luka karena diabetes, luka karena pembuluh
darah vena maupun arteri, luka kanker, luka dehiscene dan abses.
d. Berdasarkan Tingkat Kontaminasi
1) Luka bersih (clean wounds) : Yaitu luka bedah yang tidak
terinfeksi dan tidak terjadi proses peradangan (inflamasi). Biasanya
menghasilkan luka yang tertutup. Luka tidak mengenai sistem
gastrointestinal, pernapasan dan genitourinaria.
2) Luka bersih terkontaminasi (clean-contamined wounds) : Yaitu
luka pembedahan dimana sistem (sistem gastrointestinal,
pernapasan dan genitourinaria) sekitar luka terkontaminasi atau
terinfeksi.
3) Luka kontaminasi (contamined wounds) : Contoh : luka traumatik,
luka terbuka, luka bedah dengan asepsis yang buruk.
4) Luka infeksi (infected wounds) : Yaitu luka dimana area luka
terdapat patogen dan disertai tanda-tanda infeksi.

85
e. Berdasarkan Kedalaman Jaringan
1) Superficial : hanya jaringan epidermis
2) Partial thickness : luka yang meluas sampai ke dermis
3) Full thickness : luka meluas hingga ke lapisan yang paling dalam
dari jaringan subkutan hingga ke pascia dan struktur di bawahnya
seperti oto, tendon atau tulang.
f. Berdasarkan Stadium
1) Stadium I : Lapisan epidermis utuh, namun terdapat eritema atau
perubahan warna.
2) Stadium II : Kehilangan kulit superfisial dengan kerusakan lapisan
epidermis dan dermis. Eritema di jaringan sekitar yang nyeri, paas
dan oedema. Exudate (nanah) sedikit sampai sedang.
3) Stadium III : Kehilangan jaringan sampai dengan jaringan
subkutan, dengan terbentuknya rongga (cavity). Exudate sedang
sampai banyak.
4) Stadium IV : Kehilangan jaringan subkutan dengan terbentuknya
rongga (cavity) yang melibatkan otot, tendon dan tulang. Exudate
sedang sampai banyak.
g. Berdasarkan Penampilan Klinis
1) Nekrotik (hitam) : eschar (jaringan parut) yang mengeras dan
mengering atau lembab.
2) Sloughy (kuning) : jaringan mati yang fibrous (tidak elastis)
3) Terinfeksi (kehijauan) : terdapat tanda-tanda klinis adanya infeksi
seperti nyeri, panas, bengkak, kemerahan dan peningkatan eksudat
4) Granulasi (merah) : jaringan granulasi yang sehat
5) Epitelisasi (merah muda) : terjadi epitelisasi.
3. Perawatan Luka
a. Pengertian Perawatan Luka
Perawatan luka merupakan tindakan untuk merawat luka
dengan tujuan meningkatkan proses penyembuhan jaringan dan
mencegah infeksi. Perawatan luka operasi adalah Perawatan luka yang

86
dilakukan pada pasien operasi dengan tujuan mencegah infeksi dan
merasa aman.
b. Tujuan Perawatan Luka
1) Memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka.
2) Absorbsi drainase.
3) Menekan dan imobilisasi luka.
4) Mencegah jaringan epitel baru dari cedera mekanis.
5) Menghambat atau membunuh mikroorganisme.
6) Mencegah perdarahan.
7) Mencegah luka dari kontaminasi.
8) Meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing.
9) Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien.
c. Indikasi Perawatan Luka
1) Balutan kotor dan basah akibat eksternal
2) Terdapat rembesan eksudat
3) Mengkaji keadaan luka
4) Untuk mempercepat debridement (pengangkatan) jaringan nekrotik
d. Prinsip Penyembuhan Luka, Ada beberapa prinsip dalam
penyembuhan luka menurut Taylor (1997), yaitu:
1) emampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi
oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang.
2) Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap
dijaga.
3) Respon tubuh secara sistemik pada trauma.
4) Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka.
5) Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis
pertama untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme.
6) Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda
asing tubuh termasuk bakteri.

87
e. Faktor Yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka
1) Usia : Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada
orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis,
penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor
pembekuan darah.
2) Nutrisi : Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada
tubuh. Klien memerlukan diit kaya protein, karbohidrat, lemak,
vitamin C dan A, dan mineral seperti Fe, Zn. Klien kurang nutrisi
memerlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi mereka
setelah pembedahan jika mungkin. Klien yang gemuk
meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena
suplai darah jaringan adipose tidak adekuat.
3) Infeksi : Bakteri sumber penyebab infeksi. Infeksi menyebabkan
peningkatan inflamasi dan nekrosis yang menghambat
penyembuhan luka.
4) Sirkulasi (Hipovolemia) dan Oksigenasi : Sejumlah kondisi fisik
dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Adanya sejumlah besar
lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit
pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan
luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih
mudah infeksi, dan lama untuk sembuh. Aliran darah dapat
terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang menderita
gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes millitus.
Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia
atau gangguan pernapasan kronik pada perokok. Kurangnya
volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya
ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
5) Hematoma : Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah
pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam
sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut

88
memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga
menghambat proses penyembuhan luka.
6) Benda asing : Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan
menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut
diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan
lekosit (sel darah putih), yang membentuk suatu cairan yang kental
yang disebut dengan nanah (“Pus”)
7) Iskemia : Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat
penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi
dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka
terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya
obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
8) Diabetes Mellitus : Hambatan terhadap sekresi insulin akan
mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk
ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan
protein-kalori tubuh.
9) Keadaan Luka : Keadaan khusus dari luka mempengaruhi
kecepatan dan efektifitas penyembuhan luka. Beberapa luka dapat
gagal untuk menyatu.
4. Obat : Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti
neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik
yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka.
a. Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh
terhadap cedera.
b. Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
c. Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk
bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah
luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi
intravaskular.

89
BAB XII
MENDAMPINGI KLIEN YANG KRISIS

A. Definisi Pasien Krisis


Definisi pasien krisis adalah perubahan dalm proses yang
mengindikasikan hasilnya sembuh atau mati, sedangkan dalam bahasa yunani
artinya berubah atau berpisah. Definisi: pasien kritis adalah pasien dengan
disfungsi atau gagal pada satu atau lebih sistem tubuh, tergantung pada
penggunaan peralatan monitoring dan terapi.

B. Prioritas Pasien Yang Dikatakan Krisis


1. Pasien prioritas 1, kelompok ini merupakan pasien sakit kritis ,tidak
stabil,yang memerlukan perawatan inensif ,dengan bantuan alat – alat
ventilasi ,monitoring, dan obat – obatan vasoakif kontinyu dan lain –
pain.misalnya pasien bedah kardiotorasik,atau pasien shock
septik.pertimbangkan juga derajat hipoksemia, hipotensi, dibawah tekanan
darah tertentu.
2. Pasien prioritas 2, pasien ini memerluakn pelayanan pemantauan canggih
dari icu.jenis pasien ini beresiko sehingga memerlukan terapi
segera,karenanya pemantauan intensif menggunakan metoda seperti
pulmonary arteri cateteter sangat menolong.misalnya pada pasien penyakit
jantung,paru,ginjal, yang telah mengalami pembedahan mayor.pasien
prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi yang diterimanya.
3. Pasien prioritas 3, pasien jenis ini sakit kritis dan tidak stabil, dimana
status kesehatan sebelumnya,penyakit yang mendasarinya atau penyakit
akutnya, baik masing – masing atau kombinasinya,sangat mengurangi
kemungkinan sembuh dan atau mendapat manfaat dari terapi icu.
contoh – conoh pasien ini adalah pasien dengan keganasan metastasik
disertai penyulit infeksi pericardial tamponade,atau sumbatan jalan napas
atau pasien menderita penyakit jantung atau paru terminal disertai
komplikasi penyakit akut berat.pasien – pasien prioritas 3 mungkin

90
mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut berat.pasien –
pasien prioritas 3 mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi
penyakit akut,tetapi usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan
intubasi dan resusitasi kardio pulmoner.

C. Karakteristik Situasi Krisis


Secara umum karakter pasien dibedakan mejadi 2 tipe. Yang
cenderung ingin mencari informasi lebih jelas –information seeking- dan ada
yang tidak begitu mementingkan penjelasan dokter –non information seeking.
Para pasien yang jenis kedua hampir jarang ditemukan di era saat ini.
Mungkin yang masih ada di pedesaan yang penduduknya masih polos,
kalangan yang latar pendidikannya kurang, para pasien yang sudah terlampau
percaya pada dokternya atau terlanjur menganggap therapi yang diberikan
dokter selalu cocok dengan segala macam gejala penyakit yang dikeluhkan.
Mereka tidak terlalu peduli apa nama penyakitnya, bagaimana bisa terjadi,
bagaimana kemungkianan sembuh dan lain-lain.
Sudah cukup dengan diberikan obat , menerima nasehat mana yang
boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Begitu saja, tidak lebih.
Berbeda dengan yang kedua di atas, para pasien golongan pencari informasi
akan lebih aktif bertanya kepada dokternya. Mereka belum merasa puas kalau
dokter belum bisa atau pun belum sempat menjawab pertanyaan mereka.
Didasari juga oleh pengaruh psikis, golongan pasien ini dibedakan lagi antara
yang bisa menerima penjelasan dokter secara proporsional dan ada juga yang
bertype agak ‘ngeyel’. Mereka yang rada cerewet ini terkadang belum cukup
menerima sekali penjelasan dokter, banyak mengajukan pertanyaan yang
sama, lebih banyak mengungkapkan keluhan dibanding mendengar informasi
dokternya.

91
D. Daftar Tilik Pendampingan Klien Kritis

DAFTAR TILIK
MENDAMPINGI KLIEN SAKARATUL MAUT

Tanggal Penilaian :
Nama mahasiswa :

PENILAIAN :
Nilai 0 (nol) : Perlu Perbaikan
Langkah atau tugas tidak dikerjakan.
Nilai 1 (satu) : Mampu
Langkah dikerjakan tetapi kurang tepat.
Nilai 2 (dua) : Mahir
Langkah dikerjakan dengan benar, tepat dan tanpa ragu-ragu sesuai
prosedur.

Beri tanda ceklist (√) pada kolom penilaian


NILAI
No LANGKAH
0 1 2
1 Memberitahu keluarga tindakan yang akan
dilakukan (pendampingan sakaratul
maut).
2 Menyiapkan alat/catatan untuk menulis
pesan atau amanat dll.
3 Menyiapkan pasien dengan pasien yang
lain.
4 Mengijinkan keluarga untuk mendampingi,
pasien tidak ditinggalkan sendiri.
5 Membersihkan pasien dari keringat
(pasien harus selalu bersih).
6 Mengusahakan lingkungan tenang,
berbicara dengan suara lembut dan penuh
perhatian, dan tidak tertawa-tawa atau
bergurau disekitar pasien.
7 Membasahi bibir pasien dengan kassa
lembab bila tampak kering, menggunakan
pinset.
8 Membantu melayani dalam upacara
keagamaan.
9 Mengobservasi tanda-tanda kehidupan
(vital sign) terus menerus.

92
10 Menuci tangan dengan sabun dan
mengeringkan dengan handuk bersih.
11 Melakukan dokumentasi tindakan.
Nilai batas lulus = 75%

𝐍𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭


Nilai = x 100%
(𝐣𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐬𝐩𝐞𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐧𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐱 𝟐)

DOSEN

(.............................)

93
DAFTAR TILIK
MERAWAT JENASAH

Tanggal Penilaian :
Nama mahasiswa :

PENILAIAN :
Nilai 0 (nol) : Perlu Perbaikan
Langkah atau tugas tidak dikerjakan.
Nilai 1 (satu) : Mampu
Langkah dikerjakan tetapi kurang tepat.
Nilai 2 (dua) : Mahir
Langkah dikerjakan dengan benar, tepat dan tanpa ragu-ragu sesuai
prosedur.

Beri tanda ceklist (√) pada kolom penilaian


NILAI
No LANGKAH
0 1 2
1 Memberitahu keluarga bahwa jenazah akan
dibersihkan.
2 Menyiapkan alat dan mendekatkan ke
jenazah.
3 Mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir, mengeringkan dengan handuk
bersih.
4 Memakai celemek.
5 Menggunkan sarung tangan bila perlu.
6 Membersihkan jenazah dan mengganti
pakaian dengan pakaian bersih atau tertutup.
7 Meletakkan tangan jenazah menurut agam
yang bersangkutan.
8 Merapatkan kelopak tangan dan menutup
lobang-lobang pada tubuh (hidung,telinga dll)
dengan kassa atau kapas lembab.
9 Merapatkan mulut dengan cara mengikat
dagu ke kepala dengan verband.
10 Merapatkan kedua kaki, dengan cara kedua
pergelangan kaki diikat dengan verband.
11 Menutup jenazah dengan kain penutup mayat.
12 Mengisi lengkap formulir jenazah (nama, jenis
kelamin, tanggal/jam meninggal, asal ruangan
dll).

94
13 Mengikatnya label pada kaki jenazah.
14 Membawa jenazah ke kamar mayat oleh
petugas sesuai peraturan rumah sakit.
15 Membereskan peralatan.
16 Melepas sarung tangan.
17 Mencuci tangan degan sabun dan air
mengalir, mengaringkan dengan handuk
bersih.
18 Melakukan dokumentasi tindakan yang telah
dilakukan
Nilai batas lulus = 75%

𝐍𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭


Nilai = x 100%
(𝐣𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐬𝐩𝐞𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐧𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐱 𝟐)

DOSEN

(.............................)

95
DAFTAR TILIK
PENCEGAHAN INFEKSI

Tanggal Penilaian :
Nama mahasiswa :

PENILAIAN :
Nilai 0 (nol) : Perlu Perbaikan
Langkah atau tugas tidak dikerjakan.
Nilai 1 (satu) : Mampu
Langkah dikerjakan tetapi kurang tepat.
Nilai 2 (dua) : Mahir
Langkah dikerjakan dengan benar, tepat dan tanpa ragu-ragu sesuai
prosedur.

Beri tanda ceklist (√) pada kolom penilaian


NILAI
No LANGKAH
1 2 3
KEBERSIHAN RUANG PELAYANAN
1 Tidak ada darah, kotoran, debu, sarang laba-laba
pada permukaan di ruang pelayanan, termasuk
lantai, dinding, meja pemeriksaa, meja, kursi,
rak, lampu dan tirai.
MENCUCI TANGAN
2 Mencuci tangan :
a. Memeriksa (kontak langsung) klien.
b. Memakai sarung tangan.
3 Mencuci tangan sesudah tangan kemungkinan
terkontaminasi.
a. Menyentu selapuk lender.
b. Melepas srung tangan.
c. Memegang instrument/bahan habis pakai
yang terkontaminasi.
d. Menggunakan air mengalir, sabun dan
dikeringkan dengan handuk pribadi, atau.
e. Menggunakan antiseptic penggosok (alcohol-
glisering).
MEMAKAI SARUNG TANGAN
4 Untuk kontak dengan darah atau tubuh lainnya
membrane mukosa dan kulit yang tak utuh.
5 Saat menangani alat/bahan/barang yang
terkontaminasi.

96
PEMBROSESAN ALAT/SARUNG TANGAN BEKAS PAKAI
6 Dokumentasi
Merendam alat/sarung tangan bekas pakai di
dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
7 Mendokumentasi permukaan yang
terkontaminasi menggunakan klorin 0,5%.
8 Pencuci.
Mencuci alat bekas pakai dalam keadaan
terbuka atau lepas menggunakan
deterjen/sabun cair dan menyikat bagian
NILAI
No LANGKAH
1 2 3
bergerigi dan membilasnya menggunakan air
bersih dan dikeringkan untuk diproses lebih
lanjut.
9 Petugas memakai sarung tangan rumah tangga,
celemek, masker/pelindung wajah saat mencuci
peralatan.
10 Desinfeksi tigkat tinggi.
Merebus peralatan dalam panici tertutup dalam
keadaan semua perlatan terendam secara
menyeluruh selama 20 menit setelah air
mendidih.
11 Mengukus peralatan/sarung tangan dalam
keadaan tertutup selama 20 menit, setelah uap
keluar baru tutup panci.
12 Meredam peralatan dalam larutan klorin 0,1%
selama 20 menit, kemudian dibilas
menggunakan air DTT.
13 DTT wadah plastik menggunakan klorin 0,5%
selama 20 menit, kemudian membilasnya
dengan air DTT.
14 Sterilisasi.
Menggunakan otoklat : suhu 1210C (2500F),
mimal 20 menit tanpa bungkus/30 menit untuk
peralatan dibungkus.
15 Menggunakan panas kering (oven) : 60 menit
170 C/340 F atau 120 menit 160 C/320 F atau
150 menit, 150 C atau 300 F atau 180 menit 140
C/285 F atau semalaman 121 C/250 F.
16 Penyimpanan.
Alat-alata yang telah diproses, disimpan dalam
wadah steril/DTT tertutup dengan lebel tanggal
pemprosesan.
PENANGANAN SAMPAH

97
17 Menyediakan tempat terpisah untuk sampah
tidak terkontaminasi, sampah terkontaminasi
dan tempat sampah tahan tembus untuk
membuang benda-benda tajam yang tidk
digunakan lagi.
18 Menangani sampah terkontaminasi dalam
wadah anti bocor dan tertutup untuk dibakar
atau dikubur.

Nilai………………………….

DOSEN,

(.............................)

98
DAFTAR PUSTAKA

Dudley HAF, Eckersley JRT, Paterson-Brown S. 2000. Pedoman Tindakan


Medik dan Bedah. Jakarta, EGC.

Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.

Kusmiyati. 2007. Penuntun Belajar Keterampilan Dasar Praktik Klinik


Kebidanan. Yogyakarta, Fitramaya.

Maryunani, Anik. 2011. Ketrampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan (KDPK).


Jakarta: CV Trans Info Media

Musrifatul, A. Azis Alimul, (2009), Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk


Kebidanan, Salemba Medika, Jakarta

Prawirahardjo,sarwono.2009.ilmu kebidanan.jakarta:pt. Bina pustaka

Rabe,thomas.2003. Buku saku ilmu kebidanan. Jakarta : hipokrates.

Salmah, dkk. 2006.Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC.

Saminem. 2008. Kehamilan Normal. Jakarta: EGC.

Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta:


salemba medika.

Samba, Suharyati. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta, EGC.

Uliyah, Musrifatul, Alimul Hidayat Azis. 2006. Ketrampilan Dasar Praktik


Klinik Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Uliyah, Musrifatul, Alimul Hidayat Azis. 2011. Buku Ajar Ketrampilan Dasar
Praktik Klinik Kebidanan (KDPK). Surabaya: Health Book Publishing.

99

Anda mungkin juga menyukai