Anda di halaman 1dari 2

Menurut laporan Jane Sandall dari King’s Collage London untuk RCM (The Royal Collage of

Midwifes) menyebutkan Midwife-led Continuity of Care merupakan perawatan berkesinambungan


yang dilakukan oleh bidan yang mengikuti perkembangan ibu sepanjang kehamilan, kelahiran dan
masa pascakelahiran, baik yang beresiko rendah maupun tinggi dan di semua unit pelayanan baik di
rumah (Bidan Praktik Mandiri) maupun di bawah instansi seperti Puskesmas dan Rumah Sakit.
(Saifudin,2013).

Berdasarkan review dari Cochrane pada 13 percobaan yang melibatkan 16.242 ibu dengan
membandingkan antara ibu yang menerima model asuhan secara berkesinambungan dengan ibu yang
menerima model asuhan yang tidak berkesinambungan. Didapatkan manfaat yang signifikan pada ibu
dan bayi serta tidak terdapat efek samping. Diantaranya adalah ibu yang mendapat asuhan kebidanan
berkesinambungan akan lebih sedikit mengalami tindakan invasif untuk mengurangi nyeri,
episiotomi, persalinan dengan alat dan partus lama, namun ibu akan mendapatkan perawatan
persalinan yang berkualitas, kelahiran spontan pervaginam, dan ditolong oleh bidan yang dikenal.
(Saifudin, 2013)

Prawirohardjo, Sarwono. 2013. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta: PT


Bina Pustaka

Asuhan kehamilan merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk mencegah
terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu juga untuk pertumbuhan dan
kesehatan janin. Perawatan kehamilan dipengaruhi oleh faktor pendukung dan faktor faktor penguat,
seperti pengetahuan yang diperoleh melalui pemahaman tentang perawatan kehamilan. Beberapa
faktor yang berpengaruhi antara usia, pendidikan, pekerjaan, paritas, dukungan keluarga, dan ekonomi
(Gamelia, dkk, 2013; h. 111).
Gamelia, Sistriarani, Colti, Masfiah, Siti,2013, Determinan Perilaku Perawatan
Kehamilan, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Volume. 8, No. 3.
Asuhan persalinan diberikan kepada klien saat persalinan dengan memperhatikan prinsip
asuhan sayang ibu dan sayang bayi yang merupakan bagian dari persalinan yang bersih dan aman.
Salah satu bentuk dari asuhan persalinan yaitu menghadirkan keluarga atau orang-orang terdekat
pasien untuk memberikan dukungan bagi ibu (Prawirohardjo, 2009; h. 336). Menurut Prawirohardjo
(2009; h. 360) bahwa asuhan masa neonatus sangat diprioritaskan karena merupakan masa kritis dari
kematian bayi. Dua pertiga dari kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan, 60%
kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Dengan pemantauan yang teratur
pada waktu nifas dan bayinya, dapat mencegah mortalitas dan morbiditas ibu dan bayinya.
Prawirohardjo, 2009, Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo, Jakarta : PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Asuhan masa nifas dibutuhkan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik bagi ibu
maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan
dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Pengetahuan ibu nifas tentang perawatan
luka perineum harus diajarkan dan ditanamkan. Status gizi ibu nifas sangat berpengaruh terhadap
proses penyembuhan luka. Gizi ini berfungsi untuk membantu proses metabolisme, pemulihan dan
pembentukan jaringan baru. Untuk meningkatkan pengetahuan ibu nifas bisa didukung oleh Ante
natal care (ANC) yang baik. Keaktifan petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan saat ANC
dapat meningkatkan pengetahuan ibu nifas dalam mendukung proses penyembuhan luka (Suryati,
2013; h. 26).
Suryati, 2013, Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Luka
Perineum Dan Status Gizi Dengan Proses Penyembuhan Luka, Jurnal Managemen
Keperawatan.