Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

TEORI AGENSI, TEORI STEWARDSHIP DAN TEORI

SIGNALING

Nama:

Khusriyah Khazanah – E2B016066

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena

telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini

bisa selesai pada waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi

dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah yang berjudul TEORI AGENSI, TEORI STEWARDSHIP DAN

TEORI SIGNALINGbisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami

memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan

kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik

lagi.

Semarang, April 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i


DAFTAR ISI......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ...................................................................................... 1
Tujuan Makalah .................................................................................... 4
Rumusan Masalah .................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Teori Agensi ........................................................................ 5
Jenis Masalah Keagenan ........................................................................ 7
Pengertian Teori stewardship ............................................................. 9
Perbedaan antara Agency Theory dan Stewardship Theory ......... 10
Pengertian Teori Signaling.................................................................. 13
Jenis –jenis Model Teori Signaling .................................................... 14

BAB III PENUTUP


Kesimpulan ........................................................................................... 15
Saran ..................................................................................................... 18

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Saat ini kebutuhan akan informasi akuntansi terus berkembang. Tidak hanya

dibutuhkan oleh pihak internal, seperti manajer, tetapi juga oleh pihak eksternal, seperti

investor, kreditur, dan pemerintah. Informasi yang mereka butuhkan tentunya bukan

merupakan informasi yang asal-asalan, tetapi informasi yang menunjukkan kondisi

sebenarnya dari suatu perusahaan yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan. Hal ini

menyebabkan timbulnya usaha-usaha untuk merumuskan teori-teori akuntansi yang lebih

fleksibel dan relevan dengan perkembangan zaman dan pola pikir masyarakat yang terus

meningkat, serta mengembangkan disiplin akuntansi sehingga menjadi lebih bermanfaat

bagi perusahaan dan masyarakat.

Usaha ini dilakukan salah satunya dengan mengadakan penelitian-penelitian.

Penelitian di bidang akuntansi ini terus-menerus dilakukan oleh para peneliti akuntansi

dan telah memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan Teori Akuntansi

pada khususnya dan profesi akuntansi pada umumnya. Salah satu bidang akuntansi yang

diteliti adalah Teori Keagenan (Agency Theory). Teori ini merupakan salah satu teori

yang muncul dalam perkembangan riset akuntansi yang merupakan modifikasi dari

perkembangan model akuntansi keuangan dengan menambahkan aspek perilaku manusia

dalam model ekonomi.

1
Teori keagenan merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnis perusahaan

yang dipakai selama ini. Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja

antara pihak yang memberi wewenang yakni investor dengan pihak yang menerima

wewenang (agensi) yaitu manager. Menurut teori ini, hubungan antara pemilik dan

manajer pada hakekatnya sukar tercipta karena adanya kepentingan yang saling

bertentangan (Conflict of Interest). Pertentangan dan tarik-menarik kepentingan antara

prinsipal dan agen dapat menimbulkan permasalahan yang dalam Agency Theory dikenal

sebagai Asymmetric Information (AI).

Dalam perkembangannya, sekarang ini akuntansi telah berkembang dan tidak

hanya terpaku pada ilmu-ilmu ekonomi dan manajemen saja tetapi merambah keberbagai

disiplin ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, teknologi informasi, dan lain-lain. Banyak

teori- teori baru yang muncul dan berkembang dengan adanya pengaruh-pengaruh dari

ilmu-ilmu lain ini yang menjadikan akuntansi dapat memberikan lebih banyak dan lebih

luas kontribusinya dari sebelumnya. Dan Stewardship Theory merupakan salah satu teori

dalam akuntansi yang muncul sejalan dengan adanya perkembangan akuntansi yang

merambah pada displin ilmu lainnya.

Stewardship Theory berangkat dari perpektif pemikiran akuntansi manajemen yang

banyak didasari teori- teori psikologi dan sosiologi. Dalam pengelolaan Stewardship

Theory pengelolaan organisasi difokuskan pada harmonisasi antara pemilik modal

(principles) dengan pengelola modal (steward) dalam mencapai tujuan bersama.

Stewardship theory dalam akuntansi menjelaskan sebuah konstruk pola kepemimpinan

dan hubungan komunikasi antara shareholder dan manajemen,atau dapat pula hubungan

antara top manajemen dengan para manajer di bawahnya dalam sebuah organisasi

perusahaan dengan mekanisme situasional yang mencakup filosofis manajemen dan

perbedaan budaya organisasi, dan kepemimpinan dalam pencapaian tujuan bersama tanpa

2
menghalangi kepentingan masig-masing.

Hal positif dalam signalling theory merupakan perusahaan yang memberikan

informasi yang bagus akan membedakan mereka dengan perusahaan yang tidak memiliki

“berita bagus” dengan menginformasikan pada pasar tentang keadaan mereka, sinyal

tentang bagusnya kinerja masa depan yang diberikan oleh perusahaan yang kinerja

keuangan masa lalunya tidak bagus tidak akan dipercaya oleh pasar (Wolk dan Tearney

dalam Dwiyanti, 2010).

Secara umum, teori sinyal berkaitan dengan pemahaman tentang bagaimana suatu

sinyal sangat bernilai atau bermanfaat sementara sinyal yang lain tidak berguna. Teori

sinyal mencermati bagaimana sinyal berkaitan dengan kualitas yang dicerminkan di

dalamnya dan elemen-elemen apa saja dari sinyal atau komunitas sekitarnya yang

membuat sinyal tersebut tetap meyakinkan dan menarik. Selain itu, teori ini juga

mencermati apa yang akan terjadi manakala sinyal yang diisyaratkan tidak sepenuhnya

meyakinkan atau seberapa besar yang ketidakyakinan yang dapat ditoleransi sebelum

sinyal tersebut menjadi tidak bermakna sama sekali.

Penyinalan muncul dalam suatu lingkungan yang kompetitif. Hasrat dari pengirim

sinyal dan penerima sinyal seringkali sesuai, tetapi ada kalanya tidak sesuai sama sekali.

Ada kalanya persaingan agresif dan dilakukan terbuka tanpa upaya untuk

mengungkapkan, sebagaimana dapat dianalogikan seperti buruan dan pemburunya.

Buruan yang potensial dapat menyiratkan dirinya dengan tampilan yang penuh racun

atau mereka dapat lari cepat menghindar lalu kembali melakukan serangan membabi

buta. Pesaing yang potensial mungkin dapat memberi sinyal berupa kekuatan yang

dimiliki ke pesaing yang lain, jika pesaing tidak setara, pesaing yang lebih lemah tidak

melakukan apa-apa atau melakukan pertarungan sesungguhnya yang tentunya akan

sangat mahal biayanya bagi semuanya, atau menghindari persaingan sama sekali.

3
Kadangkala persaingan berupa adu cerdik, khususnya manakala perusahaan yang

bersaing adalah setara. Suatu sinyal merupakan aksi yang dapat dirasakan atau struktur

yang dimaksudkan untuk atau sudah berevolusi untuk mengindikasikan sesuatu yang sulit

ditebak atau sulit diduga tentang kualitas pemberi sinyal lingkungan pemberi sinyal.

Dalam hal ini tujuan sinyal adalah mengindikasikan kualitas tertentu. Artinya, sinyal

diisyaratkan dengan maksud untuk dinilai berbeda dengan pesaing atau lawan.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan Teori Keagenan (Agency Theory)?


2. Apakah jenis dari masalah keagenan (agency problems) serta dampak yang
ditimbulkan dari masalah tersebut?
3. Apa yang dimaksud dengan Stewardship Theory ?
4. Bagaimana perbedaan antara Agency Theory dan Stewardship Theory dalam
akuntansi manajemen ?
5. Apa yang dimaksud dengan Teori Signaling ?
6. Jenis/komponen Teori Signaling ?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Teori Keagenan (Agency Theory).
2. Untuk mengetahui jenis dari masalah keagenan serta dampak dari masalah
keagenan.
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan (Stewardship Theory).
4. Untuk mengetahui pengambilan keputusan prinsipal dalam memilih Agency
Theory atau Stewardship Theory
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Teori Signaling (Agency Theory).
6. Untuk mengetahuiJenis/komponen Teori Signaling ?

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Teori Agensi

Agency Theory merupakan bidang yang populer akhir-akhir ini. Pemisahan


pemilik dan manajemen di dalam literatur akuntansi disebut dengan Agency Theory
(teori keagenan). Teori ini merupakan salah satu teori yang muncul dalam
perkembangan riset akuntansi yang merupakan modifikasi dari perkembangan model
akuntansi keuangan dengan menambahkan aspek perilaku manusia dalam model
ekonomi. Teori agensi mendasarkan hubungan kontrak antara pemegang
saham/pemilik dan manajemen/manajer. Menurut teori ini hubungan antara pemilik
dan manajer pada hakekatnya sukar tercipta karena adanya kepentingan yang saling
bertentangan.

Salah satu hipotesis dalam teori keagenan ini adalah bahwa manajemen akan
mencoba memaksimalkan kesejahteraannya sendiri dengan cara meminimalisir
berbagai biaya keagenan (agency cost). Jensen dan Meckling (1976)
mendefinisikan agency cost sebagai jumlah dari biaya yang dikeluarkan prinsipal
untuk melakukan pengawasan terhadap agen. Hipotesis ini tidak sama artinya dengan
hipotesis yang menyebutkan bahwa manajemen mencoba memaksimalkan nilai
perusahaan (value of the firm). Oleh karena itu, manajemen diasumsikan akan
memilih prinsip akuntansi yang sesuai dengan tujuannya memaksimalkan
kepentingannya, bukan untuk memaksimalkan nilai perusahaan.

Menurut Anthony dan Govindrajan (2005) teori agensi adalah hubungan atau
kontrak antara principal dan agent. Teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-tiap
individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga
menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent.

5
Sedangkan Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan:

“agency relationship as a contract under which one or more person (the


principals) engage another person (the agent) to perform some service on their behalf
which involves delegating some decision making authority to the agent”.

Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang
(prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama
prinsipal serta memberi wewenang kepada agen membuat keputusan yang terbaik
bagi prinsipal. Jika kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk
memaksimumkan nilai perusahaan, maka diyakini agen akan bertindak dengan cara
yang sesuai dengan kepentingan prinsipal.

Teori keagenan (Agency Theory) merupakan basis teori yang mendasari


praktik bisnis perusahaan yang digunakan selama ini. Teori ini berakar dari sinergi
teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Prinsip utama teori ini
menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang (principal)
yaitu investor dengan pihak yang menerima wewenang (agen) yaitu manajer, dalam
bentuk kontrak kerja sama yang disebut “nexus of contract.”.

Teori keagenan/agency theory mengasumsikan bahwa semua individu


bertindak atas kepentingan mereka sendiri. Pemegang saham sebagai principal
diasumsikan hanya tertarik kepada hasil keuangan yang bertambah atau peningkatan
investasi di perusahaan, sedangkan para agen diasumsikan menerima kepuasan
berupa kompensasi keuangan dan syarat-syarat yang menyertai dalam hubungan
tersebut.

Karena perbedaan kepentingan ini, masing-masing pihak berusaha untuk


memperbesar keuntungan bagi diri sendiri. Principal menginginkan pengembalian
yang semaksimal mungkin dan secepatnya atas investasi yang salah satunya
dicerminkan dengan kenaikan porsi dividen dari tiap saham yang dimiliki. Agen
menginginkan kepentingannya diakomodir dengan pemberian
kompensasi/bonus/insentif/remunerasi yang “memadai”. Principal menilai prestasi
agen berdasarkan kemampuannya memperbesar laba untuk dialokasikan pada
pembagian dividen. Makin tinggi laba, harga saham dan dividen, maka agen dianggap
berhasil atau memiliki kinerja yang baik sehingga layak mendapat insentif yang
tinggi.

6
Sebaliknya Agen pun memenuhi tuntutan Principal agar mendapatkan
kompensasi yang tinggi. Sehingga bila tidak ada pengawasan yang memadai maka
Agen dapat memainkan beberapa kondisi perusahan agar seolah-olah target tercapai.
Permainan tersebut bisa atas prakarsa dari Principal ataupun inisiatif Agent sendiri.
Maka terjadilah Creative Accounting yang menyalahi aturan, misalnya piutang yang
tidak mungkin tertagih yang tidak dihapuskan dan pengakuan penjualan yang tidak
semestinya, yang berdampak pada besarnya nilai aktiva dalam Neraca yang
“mempercantik” laporan keuangan walaupun bukan nilai yang sebenarnya. Atau bisa
juga dengan melakukan income smoothing (membagi keuntungan ke periode lain)
agar setiap tahun kelihatan perusahaan meraih keuntungan, padahal kenyataannya
perusahaan mengalami kerugian atau laba turun.

2.2. Jenis Masalah Keagenan


Teori keagenan yang mulai berkembang mengacu kepada pemenuhan tujuan
utama dari manajemen keuangan yaitu memaksimalkan kekayaan pemegang saham.
Maksimalisasi kekayaan ini dilakukan oleh manajemen yang disebut agen.
Ketidakmampuan atau keengganan manajer untuk meningkatkan kekayaan pemegang
saham menimbulkan apa yang disebut masalah keagenan.
Masalah keagenan potensial terjadi apabila bagian kepemilikan manajer atas
saham perusahaan kurang dari seratus persen (Masdupi, 2005). Dengan proporsi
kepemilikan yang hanya sebagian dari perusahaan membuat manajer cenderung
bertindak untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk memaksimumkan perusahaan.
Inilah yang nantinya akan menyebabkan biaya keagenan (agency cost). Hampir
mustahil bagi perusahaan untuk memiliki zero agency cost dalam rangka menjamin
manajer akan mengambil keputusan yang optimal dari pandangan shareholders karena
adanya perbedaan kepentingan yang besar diantara mereka. Bahkan untuk mencapai
kepentingannya sendiri, manajemen bisa bertindak menggunakan akuntansi sebagai
alat untuk melakukan rekayasa. Perbedaan kepentingan antara principal dan agen atau
yang disebut Agency Problem ini, salah satunya disebabkan oleh adanya Asimmetric
Information.
Asimmetric Information (AI), yaitu informasi yang tidak seimbang yang
disebabkan karena adanya distribusi informasi yang tidak sama antara principal dan
agen. Dalam hal ini principal seharusnya memperoleh informasi yang dibutuhkan

7
dalam mengukur tingkat hasil yang diperoleh dari usaha agen, namun ternyata
informasi tentang ukuran keberhasilan yang diperoleh oleh principal tidak seluruhnya
disajikan oleh agen. Akibatnya informasi yang diperoleh principal kurang lengkap
sehingga tetap tidak dapat menjelaskan kinerja agen yang sesungguhnya dalam
mengelola kekayaan principal yang dipercayakan kepada agen.
Akibatnya adanya informasi yang tidak seimbang (asimetri) ini, dapat
menimbulkan 2 (dua) permasalahan yang disebabkan adanya kesulitan principal untuk
memonitor dan melakukan kontrol terhadap tindakan-tindakan agen. Jensen dan
Meckling (1976) menyatakan permasalahan tersebut adalah :
 Moral Hazard
Moral Hazard merupakan permasalahan yang muncul jika agen tidak
melaksanakan hal-hal yang telah disepakati bersama dalam kontrak kerja.
 Adverse Selection
Adverse Selection merupakan suatu keadaan dimana principal tidak dapat
mengetahui apakah suatu keputusan yang diambil oleh agen benar-benar
didasarkan atas informasi yang telah diperolehnya, atau terjadi sebagai sebuah
kelalaian dalam tugas.
Ditambahkan oleh Scott (2005) dalam bukunya Financial Accouting Theory
mengemukakan bahwa :
 Adverse Selection adalah jenis asimetri informasi dimana satu atau lebih pihak
untuk transaksi bisnis, atau transaksi potensial lainnya, memiliki keuntungan
informasi lebih di pihak lain.
 Moral hazard adalah jenis asimetri informasi dimana satu atau lebih pihak untuk
transaksi bisnis, atau transaksi potensial lainnya, dapat mengamati tindakan
mereka dalam pemenuhan transaksi tetapi pihak lain tidak bisa.

Adanya agency problem di atas, menimbulkan biaya keagenan (agency cost).


Biaya keagenan didefinisikan sebagai biaya yang ditanggung oleh pemegang saham
untuk mendorong manajer dalam memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham
daripada berperilaku mementingkan diri sendiri. Ada tiga jenis utama dari biaya
keagenan, yaitu:

1. Pengeluaran untuk memantau kegiatan manajerial, seperti biaya audit.

8
2. Pengeluaran untuk struktur organisasi dengan cara membatasi perilaku manajerial
yang tidak diinginkan.
3. Biaya kesempatan yang dapat terjadi ketika pemegang saham dikenakan
pembatasan, seperti persyaratan untuk suara pemegang saham pada permasalahan
tertentu, membatasi kemampuan manajer untuk mengambil tindakan yang
meningkatkan kekayaan pemegang saham.
Dengan tidak adanya upaya pemegang saham untuk mengubah perilaku
manajerial, biasanya akan ada kehilangan sebagian kekayaan pemegang saham karena
tindakan manajerial yang tidak pantas. Di sisi lain, biaya keagenan akan berlebihan
jika pemegang saham berusaha untuk memastikan bahwa setiap tindakan manajerial
sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Oleh karena itu, jumlah optimal biaya
keagenan yang harus ditanggung oleh pemegang saham harus ditentukan.

Menurut Jensen dan Meckling (1976) biaya keagenan terdiri dari:


 The monitoring expenditures by the principle
Biaya monitoring dikeluarkan oleh prinsipal untuk memonitor prilaku agen, termasuk
juga usaha untuk mengendalikan perilaku agen melalui budget restriction,
compensation policies.
 The bonding expenditures by the agent
The bonding cost dikeluarkan oleh agen untuk menjamin bahwa agen tidak akan
menggunakan tindakan tertentu yang akan merugikan prinsipal atau untuk menjamin
bahwa prinsipal akan diberi kompensasi jika ia tidak mengambil banyak tindakan.
 The residual loss
Merupakan penurunan tingkat kesjahteraan prinsipal maupun agen setelah adanya
agency relationship.

2.3 Pengertian Teori stewardship

Teori stewardship adalah teori yang menggambarkan situasi dimana para

manajer tidaklah termotivasi oleh tujuan- tujuan individu tetapi lebih ditujukan pada

sasaran hasil utama mereka untuk kepentingan organisasi, sehingga teori ini

mempunyai dasar psikologi dan sosiologi yang telah dirancang dimana para eksekutif

sebagai steward termotivasi untuk bertindak sesuai keinginan prinsipal, selain itu

9
perilaku steward tidak akan meninggalkan organisasinya sebab steward berusaha

mencapai sasaran organisasinya. Teori ini didesain bagi para peneliti untuk menguji

situasi dimana para eksekutif dalam perusahaan sebagai pelayan dapat termotivasi

untuk bertindak dengan cara terbaik pada principalnya (Donaldson dan Davis, 1989,

1991).

Pada Stewardship Theory, model of man ini didasarkan pada pelayan yang

memiliki perilaku dimana dia dapat dibentuk agar selalu dapat diajak bekerjasama

dalam organisasi, memiliki perilaku kolektif atau berkelompok dengan utilitas tinggi

daripada individunya dan selalu bersedia untuk melayani. Pada teori stewardship

terdapat suatu pilihan antara perilaku self serving dan pro- organisational, perilaku

pelayan tidak akan dipisahkan dari kepentingan organisasi adalah bahwa perilaku

eksekutif disejajarkan dengan kepentingan principal dimana para steward berada.

Steward akan menggantikan atau mengalihkan self serving untuk berperilaku

kooperatif. Sehingga meskipun kepentingan antara steward dan principal tidak sama,

steward tetap akan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Sebab steward berpedoman

bahwa terdapat utilitas yang lebih besar pada perilaku kooperatif, dan perilaku

tersebut dianggap perilaku rasional yang dapat diterima.

2.4 Perbedaan antara Agency Theory dan Stewardship Theory

Agency theory menguraikan hubungan antara pihak prinsipal dan agen,


dimana prinsipal adalah pihak yang memberikan mandat kepada pihak agen. Prinsipal
mendelegasikan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada agen dimana hak
dan kewajiban kedua belah pihak diuraikan dalam suatu perjanjian kerja yang saling
menguntungkan.
Inti dari teori agensi adalah asumsi sebagai “manusia” yang dapat ditelusuri
pada 200 tahun riset ekonomi. Model “manusia” yang mendasari teori agensi adalah
bahwa aktor rasional, merupakan individu yang memaksimalkan utilitasnya (Jensen
& Meckling, 1976). Keduanya agen dan prinsipal dalam teori agensi bertujuan

10
mendapatkan sebanyak mungkin utilitas dengan pengeluaran terakhir yang mungkin.
Perusahaan modern menciptakan pemisahan antara kepemilikan dan
pengawasan kekayaan (Berlee & Means, 1932). Pemilik menjadi prinsipal ketika
mereka mengkontrak eksekutif untuk me- manage perusahaannya. Sebagai agen,
eksekutif secara moral bertanggungjawab memaksimalisasikan utilitas pemegang
saham. Eksekutif menerima status agen karena anggapan pada peluang
memaksimalkan utilitasnya. Pada perusahaan modern, agen dan prinsipal dimotivasi
oleh kesempatan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Prinsipal menginvestasikan
kekayaannya di perusahaan dan mendesain sistem yang kuat sebagai cara
memaksimalkan utilitasnya. Agen menerima tanggung jawab me-manage investasi
prinsipal, karena anggapannya terhadap kemungkinan peluang perolehan
utilitas yang lebih besar daripada peluang lain.
ada memungkinkan agen akan secara rasional memaksimalkan utilitas yang
dimilikinya. Walsh & Seward (1990: 44) berargumen bahwa “jika manager
perusahaan berkubu pada kepentingan mereka sendiri dengan semata-mata bertujuan
menjamin kekuatannya, prestis, dan keuntungannya, organisasi kemungkinan
kehilangan posisi pada lingkungan yang kompetitif dan akan gagal.” Jika mekanisme
kontrol yang diusulkan oleh agen secara teoritis gagal, mekanisme pengawasan
eksternal akan mengkontrol self-serving manager (Walsh & Seward, 1990). Karena
biaya mekanisme eksternal pada utilitas prinsipal lebih besar, mekanisme internal
umumnya yang dipilih (Walsh & Seward, 1990).
Untuk melindungi kepentingan pemegang saham, meminimalkan biaya agensi
dan menjamin kesesuaian kepentingan agen-prinsipal, teori agensi memberikan
berbagai mekanisme. Dua mekanisme yang diterima adalah alternatif skema
kompensasi eksekutif dan struktur yang kuat (antara lain:Demsetz & Lehn, 1985;
Jensen & Meckling,1976). Skema insentif financial menyediakan reward dan
punishment yang bertujuan menyelaraskan kepentingan agen dan prinsipal. Jika
manajer menerima kompensasi yang menjadi subyek kesuksesan tujuan pemegang
saham (misal: long term reward tergantung pada kinerja perusahaan),
mereka akan menjadi termotivasi untuk berperilaku dengan cara konsisten
dengan kepentingan pemegang saham. Mekanisme kedua bertujuan membawa
perilaku agen pada pelurusan dengan kepentingan prinsipal adalah struktur yang kuat.
Dewan direktur menjaga potensi self-serving manager dengan mengecek pelaksanaan
audit dan evaluasi kinerja. Dewan mengkomunikasikan tujuan pemegang saham dan

11
kepentingannya pada manajer dan memonitor mereka untuk menjaga biaya agensi
selalu dalam pengawasan. Mekanisme pengawasan yang kuat adalah ditentukan,
karena teori agensi mengasumsikan bahwa kepentingan agen- prinsipal dapat berbeda
dan peluang yang diberikan pada agen akan memaksimalkan utilitas individualnya
pada biaya agensinya.
Agency Theory tidak menspesifikasikan total kontrol pada agen. Jika berupa
total kontrol, kemudian agen tidak leluasa dan perusahaan akan dikuasai seorang diri.
Hal yang pokok dari teori agensi adalah bahwa prinsipal mendelegasikan otoritasnya
pada agen untuk bertindak atas namanya. Pendelegasian ini memberikan agen
peluang membangun utilitasnya pada biaya utilitas prinsipalnya (kekayaan),
demikian, teori agensi menspesifikasikan pada kondisi kontrol intermediate, yang
mana pertama pendelegasian dankemudian kontrol untuk meminimalkan potensi
penyelewengan pendelegasian (Jensen & Meckling,1976).
Sebelumnya, Stewardship Theory terfokus pada kemungkinan struktur pada
manager yang lebih tinggi (Donaldson and Davis, 1989, 1991, 1994; Fox &
Hamilton, 1994). Sebagai contoh, Donalson dan Davis (1991) berargumen bahwa
bagi CEO yang seorang stewards, tindakan mendukung organisasi adalah fasilitas
terbaik ketika struktur perusahaan kuat memberikan mereka otoritas yang tinggi dan
keleluasaan. Situasi ini dicapai lebih riil jika kursi CEO pada dewan direktur.
Struktur ini akan dipandang sebagai disfungsi pada teori agency model of man.
Bagaimanapun, pada model stewardship of man, stewards memaksimumkan
utilitasnya sebagimana mereka mencapai tujuan organisasi daripada tujuan self
servingnya. Kursi CEO adalah tanggung jawab mendua bagi nasib perusahaan dan
memiliki power untuk menentukan strategi tanpa ketakutan membatalkan dengan
kursi diluar dewan. Demikian teori stewardship terfokus pada struktur yang
memfasilitasi dan memberdayakan daripada memonitor dan mengkontrol.
Sebelumnya, riset empiris berusaha untuk menvalidasi apakah agency theory atau
Stewardship Theory sebagai “satu cara terbaik” untuk perusahaan yang kuat,
berasumsi bahwa semua manager agen atau stewards. Hasil studi ini menghasilkan
penemuan yang tidak jelas; antara keduanya Agency dan Stewardship Theory dalam
menjelaskan manajemen (Donaldson & Davis,1994). Sebagai contoh, beberapa riset
menemukan bahwa agensi memahamkan kepemimpinan dewan yang independen
(sebuah jabatan non executive board) adalah berhubungan erat dengan tingginya
performance perusahaan (Berg & Smith, 1978; Daily & Dalton, 1994: Rechner &

12
Dalton,1991). Peneliti lain menemukan bahwa stewardship eksekutif pada kursi
dewan signifikan dengan lebih tingginya performace perusahaan (misal: Donaldson
& Davis,11989,1991; Finkltein & D’Aeni,1994). Yang lain masih menyarankan tidak
ada perbedaan signifikan dalam performance perusahaan antara eksekutif diluar kursi
dewan (Chaganti, Mahajan & Sharma, 1985; Molz, 1988). Bukti-bukti empiris
cenderung sama tidak jelasnya pada dimensi kekuatan yang lain (Donaldson &
Davis,1994). Dukungan untuk teori agensi dan stewardship menyarankan perlunya
merekonsiliasi perbedaan ini.

2.5 Pengertian Teori Signaling

Sinyal yang diisyaratkan oleh perusahaan dapat berbentuk sinyal mahal (costly

signaling) atau sinyal murah (costless signaling). Menurut literatur sinyal mahal

(Spence, 1973), jika biaya sinyal lebih tinggi bagi perusahaan yang berciri jelek

daripada perusahaan yang berciri bagus, maka perusahaan yang berciri jelek tidak

akan menirunya. Untuk itu, sinyal yang ditunjukkan harus sangat berarti (credible)

dan tidak mudah ditiru. Ross (1977) menunjukkan bagaimana utang dapat digunakan

sebagai sinyal mahal untuk membedakan perusahaan yang undervalued dari yang

overvalued. Menurut konsep sinyal murah (Crawford dan Sobel, 1982), perusahaan

dapat menggunakan pesan yang tidak mengikat dan tidak perlu diverifikasi. Salah satu

sinyal yang termasuk sinyal murah adalah rencana pembelian kembali saham (stock

repurchase). Namun demikian, Hertzel dan Jain (1991) menjelaskan bahwa pembelian

kembali saham juga dapat menjadi sinyal mahal. Brennan dan Hughes (1991)

membuat model tentang bagaimana perusahaan yang undervalued menggunakan stock

split yang dianggap sebagai sinyal murah yang diyakini dapat memotivasi broker

untuk menyajikan laporan yang menarik tentang perusahaan.

13
2.6 Jenis –jenis Model Teori Signaling

Megginson (1996) merangkum bahwa setidaknya ada empat pilar utama

model sinyal yang dikenal dalam literatur keuangan. Keempat model dimaksud adalah

(1) Model sinyal berbasis masa jatuh temponya utang (signaling models of debt

maturitychoice), (2) Model sinyal berbasis investasi korporasi (signaling models of

corporate investment), (3) Model sinyal struktur keuangan (signaling models of

financial structure), dan (4) Model sinyal dividen (dividend signaling model). Berikut

ini adalah ulasan masing-masing jenis model sinyal dimaksud.

1. Model Sinyal Berbasis Masa Jatuh Temponya Utang


Menurut model sinyal berbasis masa jatuh temponya utang manajer akan
memilih lama atau pendeknya masa pembayaran atau jatuh tempo (maturity
date) utang sebagai salah satu sinyal yang dapat menunjukkan bagus tidaknya
suatu perusahaan. Manajer melakukan hal ini karena didorong oleh adanya
ketimpangan informasi antara mereka dan investor (pihak luar). Pada model
sinyal atas struktur jatuh temponya utang, sinyal ditunjukkan manakala
perusahaan memiliki informasi privat tentang rating kredit di masa mendatang
(Flannery, 1986) dan penawaran tender (tender offer) pada saat perusahaan yang
menawar memiliki informasi privat tentang sinergi yang akan diperoleh
(Hirchleifer dan Titman, 1990). Brennan (1990) dan Stem (1988) telah juga
menunjukkan bahwa pertimbangan sinyal mungkin mempengaruhi bukan saja
keputusan keuangan tetapi juga keputusan investasi riil, yaitu pada saat manajer
memiliki kepentingan terhadap tingkat harga saat ini.
2. Model Sinyal Investasi Korporasi
Investasi modal dapat dijadikan sebagai suatu model untuk menunjukkan
tingkat keuntungan perusahaan (firm’s profitability) kepada investor di pasar
yang dikarakterisasi oleh ketimpangan informasi. Dalam hal ini manajer
perusahaan yang bagus dapat memilih atau menetapkan untuk melakukan
pengeluaran dana yang besar untuk investasi yang tidak dapat dengan mudah
ditiru oleh perusahaan yang kurang bagus. Manajer perusahaan yang bagus bisa

14
jadi mengorbankan keuntungan dengan harapan bahwa mereka mampu
membedakan keunggulannya kepada investor.
3. Model Sinyal Struktur Keuangan Model Sinyal Dividen
Hipotesis dalam teori model sinyal struktur keuangan (signaling models of
financial structure) masih bermuara pada ketimpangan informasi antara manajer
dan investor (sebagaimana dalam pecking order hypothesis). Dalam model ini
ditetapkan bahwa perusahaan berkualitas bagus akan menggunakan struktur
modal dalam upaya untuk membedakan dirinya dari perusahaan yang berkualitas
kurang bagus. Sinyal yang dipilih dalam konteks ini memang cukup berisiko
(mahal), yaitu dengan memilih utang relatif tinggi dalam struktur modalnya.
Hanya manajer perusahaan yang dapat mengatasi kemungkinan kegagalan
keuangan (financial distress) yang berani mengambil risiko memilih sinyal ini.
Oleh sebab itu, investor akan menghargai lebih bagus dan investor memiliki
kemampuan untuk membedakan dengan cepat mana perusahaan yang bagus dan
mana yang kurang bagus dari struktur modal suatu perusahaan. Dalam hal ini
investor telah dapat melakukan pemisahan. Dengan katakata lain, keseimbangan
pemisahan (separating equilibrium) dapat dicapai.
4. Model Sinyal Dividen
Model sinyal dividen (signaling models of dividend) didasarkan pada asumsi
bahwa dividen perlu dibagikan dalam rangka untuk memberikan sinyal tentang
adanya informasi positif (prospek bagus) perusahaan dari pihak internal
(manajer) yang diyakini memiliki kelebihan informasi kepada pemegang saham
di pasar yang dicirikan oleh adanya ketimpangan informasi. Manajemen atau
para pengelola perusahaan memiliki akses dan pengetahuan terhadap informasi
lebih bagus dibandingkan dengan pemegang saham (calon pemegang saham).
Perlu dicatat bahwa model sinyal dividen merupakan salah satu model sinyal
yang paling banyak diteliti.

15
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Agency theory merupakan salah satu teori yang muncul dalam perkembangan riset
akuntansi yang merupakan modifikasi dari perkembangan model akuntansi keuangan dengan
menambahkan aspek perilaku manusia dalam model ekonomi. Dalam Agency Theory
mengenal adanya Asymmetric Information (AI) yaitu informasi yang tidak seimbang yang
disebabkan karena adanya distribusi informasi yang tidak sama antara prinsipal dan agen.

Arifin (2005) menambahkan mekanisme pengawasan yang dapat mengurangi konflik


keagenan, yaitu:

1. Kepemilikan terkonsentrasi
Mekanisme pengawasan ini agak mirip dengan mekanisme kepemilikan institusional.
Kepemilikan dikatakan terkonsentrasi jika untuk mencapai control dominasi atau
mayoritas dibutuhkan penggabungan lebih sedikit investor. Jika control dipegang oleh
sedikit invetor maka akan semakin mudah control tersebut dijalankan. Kepemilikan
terkonsentrasi memiliki kekuatan control yang lebih rendah dibandingkan dengan
kepemilikan institusional karena mereka tetap harus melakukan koordinasi untuk
menjalankan hak kontrolnya. Di sisi lain, mekanisme kepemilikan terkonsentrasi juga
memiliki kemungkinan lebih kecil untuk munculnya peluang bagi kelompok investor
yang terkonsentrasi untuk mengambil tindakan yang merugikan investor yang lain.
2. Pasar Manajer
Arifin (2005) meyakinkan bahwa masalah keagenan akan berkurang dengan sendirinya
karena akan dicatat kerjanya oleh pasar manajer baik yang ada dalam perusahaan sendiri
maupun yang berasal dari luar perusahaan. Lapisan manajer atas akan digantikan oleh
manajer lapisan bawahnya jika kinerjanya kurang memuaskan. Namun, mekanisme pasar
manajer ini tidak dapat sepenuhnya berjalan karena pasar manajer bukan merupakan
pasar yang sempurna. Kelangkaan tenaga manajer dan sikap perlawanan dari pihak
manajer agar posisinya tidak diganti merupakan salah satu faktor yang menghambat
diciptakannya mekanisme pasar manajer untuk mengurangi masalah keagenan.

16
Berdasarkan definisi bahwa Agency Theory merupakan suatu teori yang menjelaskan
hubungan antara dua pihak yaitu principal dan agen, sedangka Stewardship Theory
merupakan teori yang menggambarkan situasi dimana para manajer atau eksekutif sebagai
steward untuk bertindak sesuai keinginan principal. Model yang dipilih agen dan principal
dalam pengambilan keputusan
ada empat macam:
a. Minimalisir biaya potensial
b. Agen bertindak oportunistik
c. Prinsipal bertindak oportunistik
d. Memaksimalkan kinerja potensial

Beberapa proposisi yang diusulkan berhubungan dengan faktor-faktor psikologis


dan sosiologis dalam penggunaan Stewardship Theory:
1. Orang yang memiliki dimotivasi oleh tingginya kebutuhan kemungkinan besar menjadi
steward dalam hubungan principal steward dibandingkan dengan yang tidak dimotivasi
oleh tingginya kebutuhan.
2. Orang yang dimotivasi oleh faktor intrinsik kemungkinan besar menjadi steward dalam
hubungan dengan principal / steward dibandingkan dengan yang dimotivasi oleh faktor
ektrinsik.
3. Orang yang mempunyai pengenalan yang tinggi dengan organisasi, kemungkinan besar
menjadi steward dalam hubungan dengan principal / steward dibandingkan dengan
pengenalan yang rendah dengan organisasi.

17
SARAN

Saran penulis bagi penelitian sejenis yang mungkin dilakukan di masa yang akan datang,

antara lain.

1. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan kriteria penentuan sampel lain sehingga

dimungkinkan terjadi penambahan jumlah sampel. Seperti contohnya perusahaan tidak perlu

secara konsisten terdaftar di LQ 45 dengan memperhatikan tanggal kejadian yang dipilih.

2. Penelitian selanjutnya dapat melakukan penelitian mengenai reaksi pasar pada saat IFRS

diterapkan di Indonesia yaitu pada tahun 2012. Tahun 2012 merupakan tahun dimana

perusahaan di Indonesia diharuskan untuk menerapkan PSAK berbasis IFRS pada laporan

keuangannya, sehingga dengan meneliti penerapan IFRS tersebut diharapkan akan lebih

mencerminkan reaksi investor mengenai penerapan IFRS di Indonesia.

3. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menggunakan periode pengamatan yang lebih luas

agar mendapatkan tanggal kejadian yang lebih banyak. Contohnya periode pengamatan yang

digunakan dari tahun 2008 yang merupakan tahun awal rencana penerapan IFRS hingga 2012

yang merupakan tahun dimana IFRS diterapkan di perusahaan – perusahaan Indonesia,

sehingga diharapkan reaksi pasar akan semakin terlihat pada saat sebelum dan sesudah

penerapan IFRS

18
DAFTAR PUSTAKA

Scott, William R. 2012. Financial Accounting Theory Sixth Edition. Pearson.

http://taskseekers.blogspot.com/2013/12/teori-keagenan.html

https://elqorni.wordpress.com/2009/02/26/mengenal-teori-keagenan/

James H. Davis, F. David Scoorman dan Lex Donalson, Toward a Stewardship


Theory of Management, Academy of Management Review Vol. 22, No. 1, page 22-
47, 1997.

John W. Dichaut and Kevin A. Mc. Cabe, The Behavioral Foundation of Stewardship
Accounting and a Proposed Program of Research : What is Accountability?, Behavioral
Research in Accounting Vol. 9, page 60-87, 1997.

Akerlof, G.A., 1970. The market for `Lemons': Quality uncertainty and the market
mechanism. Quarterly Journal of Economicsi, 84: 488-500.

Akhigbe, A., S.F. Borde, dan J. Madura, 1993. Dividend policy and signaling by insurance
companies. Journal of Risk and Insurance, 60: 413-428

19

Anda mungkin juga menyukai