Anda di halaman 1dari 4

KEPUTUSAN DIREKTUR

No.: 064-2/A-5/III/2018

Tentang

KEBIJAKAN BUDAYA KESELAMATAN

DIREKTUR RUMAH SAKIT MAWADDAH MEDIKA,

Menimbang : a. bahwa dalam upaya peningkatan mutu pelayanan, tidak hanya


ditentukan oleh sistem pelayanan yang ada, tetapi juga perilaku
pemberi pelayanan yang mencerminkan budaya mutu dan
keselamatan pasien.
b. bahwa sehubungan dengan yang dimaksud pada huruf a
tersebut, perlu adanya Kebijakan Budaya Keselamatan;
c. Bahwa Kebijakan Budaya Keselamatan terseut perlu
ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009


tentang Kesehatan;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014
tentang Tenaga Kesehatan;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Repubik Indonesia Nomor
1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien
Rumah Sakit;
MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR TENTANG KEBIJAKAN


BUDAYA KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT
MAWADDAH MEDIKA.
Pertama Kebijakan Budaya Keselamatan di Rumah Sakit Mawaddah
Medika sebagaimana terlampir dalam lampiran Surat Keputusan
ini;
Kedua : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Mojokerto
Pada Tanggal : 5 Maret 2018

Direktur,

dr. Sihwati Wilujeng, M.Kes


Lampiran
Keputusan Direktur
Nomor : 064-2A-5/III/2018
Tanggal : 5 Maret 2018

KEBIJAKAN BUDAYA KESELAMATAN


DI RUMAH SAKIT MAWADDAH MEDIKA

1. Budaya keselamatan dapat diartikan sevagai sebuah lingkungan yang kolaboratif,


dimana staf klinis memperlakukan satu sama lain dengan hormat, dengan melibatkan
dan memberdayakan pasien dan keluarganya.
2. Pimpinan mendorong staf klinis pemberi asuhan bekerja sama dalam tim yang efektif
dan mendukung proses kolaborasi interprofesional dalam asuhan berfokus pada pasien.
3. Budaya keselamatan merupakan hasil dari nilai-nilai , sikap, persepsi, kompetensi, dan
pola perilaku dari individu maupun kelompok, yang menentukan komitmen terhadap
keselamatan, serta kemampuan manajemen rumah sakit, dicirikan dengan komunikasi
yang berdasarkan saling percaya, dengan persepsi yang sama tentang pentingnya
keselamatan, dan dengan keyakinan akan manfaat langkah-langkah pencegahan.
4. Keselamatan dan mutu berkembang dalam satu lingkungan yang mendukung kerja
sama terhadap sesama, tanpa melibatkan jabatan mereka di rumah sakit.
5. Direktur rumah sakit menunjukkan komitmennya tentang budaya keselamatan dan
mendorong budaya keselamatan untuk rumah sakit. Adapun perilaku yang tidak
mendukung budaya keselamatan rumah sakit antra lain :
a. Perilaku yang tidak layak (inappropriate).
b. Perilaku yang mengganggu (disruptive).
c. Perilaku yang melecehkan (harassment).
d. Pelecehan seksual.
6. Hal- hal penting menuju budaya keselamatan di rumah sakit :
a. Staf rumah sakit mengetahui bahwa kegiatan operasional rumah sakit beresiko
tinggi dan bertekad untuk melaksanakan tugas dengan konsisten.
b. Regulasi serta lingkungan kerja mendorong staf tidak takut mendapat hukuman
membuat laporan tentang kejadian tidak diharapkan dan kejadian nyaris cidera.
c. Direktur rumah sakit mendorong tim keselamatan pasien melaporkan Insiden
Keselamatan pasien ke tingkat nasional sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
d. Mendorong kolaborasi antar staf klinis dengan pimpinan untuk mencari
penyelesaian masalah keselamatan pasien.
e. Rumah sakit mendukung dan menyiapkan sarana dan sumber daya untuk membantu
termujudnya budaya keselamatan dengan membentuk Tim Etik dan Hukum Rumah
Sakit.
f. Pelaporan budaya keselamatan diatur dan dikelola oleh Komite Etik dan Hukum
Rumah Sakit.

Ditetapkan di : Mojokerto
Pada Tanggal : 5 Maret 2018

Direktur,

dr. Sihwati Wilujeng, M.Kes.