Anda di halaman 1dari 8

JAMUR PILOBOLUS (JAMUR PADA KOTORAN KUDA)

Maria Ulfa Mauluda R1, Rizal Maulana Hasby2, Fatiya Shofwaturrohmani3 .


Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
e-mail: ulfamaura@gmail.com.

ABSTRAK
Pilobolus merupakan salah satu jamur zygomycota, yang habitatnya di
kotoran hewan herbivora. Philobulus mempunyai morfologi sporangium dari
Pilobolus berbentuk seperti balon bertangkai yang diujungnya terdapat spora
berwarna hitam. Tujuan dari praktikum kali ini adalah mengamati spora yang
dihasilkan dari jamur Pilobolus (jamur pada kotoran kuda). Pilobolus
menunjukkan adanya mekanisme fototropisme dimana sporangiumnya
menembakkan spora ke arah datangnya cahaya (Shot-gun Fungi) yang dimana
pertumbuhan jamur ini sangat dipengaruhi oleh sinar matahari.

Kata Kunci : Jamur Pilobolus, Jamur pada kotoran kuda, Jamur Zygomycota

I. PENDAHULUAN pertahanan diri dan penempelan


Fungi atau jamur
saat berada di media buatan.
didefinisikan sebagai kelompok
Pilobolus mempunyai tangkai
organisme eukariotik, tidak
yang besar, dan water doplet
berpindah tempat (nonmotile),
yang sedikit. Bentuk
bersifat uniselular atau
sporangiosfor dari pilobolus ini
multiselular, memiliki dinding sel
adalah bulat besar, dan terlihat
dari glukan, mannan, dan kitin,
seperti ada benang-benang halus
tidak berklorofil, memperoleh
(Bourret, 1986)
nutrient dengan menyerap Pada lingkungan yang
senyawa organik, serta sesuai, zigospora akan tumbuh
berkembang biak secara seksual dan membentuk sporangium.
dan aseksual (Adi, 1992). Sporangium ini memiliki struktur
Philobulus mempunyai
penopang yang disebut
morfologi Sporangium dari
sporangiofora. Selanjutnya,
Pilobolus berbentuk seperti balon
reproduksi secara aseksual
bertangkai yang diujungnya
dimulai lagi yaitu ditandai
terdapat spora berwarna hitam.
dengan pematangan sporangium
Terdapat lapisan kristal kalsium
hingga sporangium tersebut
oksalat melingkupi sporangium
pecah dan spora tersebar keluar.
yang berperan dalam mekanisme
Contoh Zygomycotina : Pilobolus bereproduksi
Pilobolus sp, jamur ini sering dengan menembakkan sporanya
disebut ‘pelempar topi’ atau cap yang berwarna hitam ke
thrower, karena bila tumbuhan semacam rumput.
sporangiumnya telah masak, Setelah itu, hewan herbivora
jamur ini bisa melontarkannya akan memakan rumput, spora
sampai sejauh 8 meter. Spora Pilobolus juga akan terbawa.
tersebut kemudian melekat pada Selama berada di dalam saluran
rumput atau tumbuhan lain. pencernaan hewan herbivora,
Ketika tumbuhan tersebut spora akan bergerminasi sebagai
dimakan hewan, spora jamur bentuk pertahanan terhadap suhu
yang melekat tersebut akan dan bahan kimia dalam saluran
berkecambah di dalam saluran pencernaan herbivora. Setelah
pencernaan dan akan tumbuh proses pencernaan berakhir,
pada kotoran yang dikeluarkan spora Pilobolus juga akan ikut
hewan tersebut (Becker, 1994). keluar bersama feses. Di luar
Pilobolus adalah cendawan
tubuh, spora Pilobolus akan
koprofil yang tergolong dalam
berkecambah membentuk
Zygomycota. Pilobolus disebut
miselium, feses hewan akan
cendawan koprofil karena dapat
menjadi sumber nutrisi bagi
hidup di kotoran hewan dan
spora tersebut. Spora yang
dapat bertindak sebagai
berkecambah akan berkembang
cendawan saprob. Keunikan dari
membentuk struktur reproduksi
cendawan ini adalah dapat
yang memiliki spora. Spora ini
menembakkan sporanya sehingga
akan ditembakkan kembali ke
terkadang Pilobolus disebut Shot-
rumput. Siklus ini akan terus
gun Fungi. Pilobolus
berlanjut selama ada hewan
menunjukkan adanya mekanisme
herbivora yang memakan rumput
fototropisme dimana
dan menjadi inang selanjutnya
sporangiumnya menembakkan
(Odum, 1971).
spora ke arah datangnya cahaya Cahaya matahari sangat
(Odum, 1971). mempengaruhi pertumbuhan
Pilobolus. Di bawah ujung
sporangiofor merupakan daerah jam kira-kira setengahnya.
yang peka terhadap cahaya Buatlah posisi miring kotoran
(Fototropisme dan fototaksis). kuda di dalam botol jam itu.
Tangkai tersebut akan tumbuh ke Basahi kultur jamur tersebut
arah cahaya matahari. Ketika dengan air agar lembab, lalu
jamur telah matang, maka tutuplah botol itu seluruhnya
tekanan air di dalam tangkai dengan kertas karbon. Kertas
menyebar sampai dengan ujung karbon penutup mulut botol
tangkai dan menyebabkan ujung dilubangi agar udara dapat
tangkai meledak. Saat itulah masuk. Biarlah kultur ini selama
terjadi penyebaran spora dengan 3-6 hari, kemudian amati jamur
penembakan spora ke udara. tersebut di bawah mikroskop.
Peristiwa ini umumnya terjadi Langkah selanjutnya, cukil
pada siang hari (Becker, 1994) jamur itu dengan jamur peparat
Oleh karena itu tujuan
dan letakkan pada kaca preparat
praktikum kali ini adalah
yang telah ditetesi air. Buanglah
mengamati spora yang dihasilkan
kotoran kuda yang melekat pada
dari jamur Pilobolus (jamur pada
jamur itu dengan menggunakan
kotoran kuda)
dua jarum pentul sehingga jamur
II. METODE KERJA terlihat jelas. Amati jamur di
Alat-alat yang digunakan bawah mikroskop. Perhatikan
dalam praktikum ini adalah Botol sporangium, sporangifor dan
Jam/Botol Sele, mikroskop, kaca hifanya.
preparat, sendok bekas, dan
jarum pentul.
Bahan–bahan yang
digunakan dalam percobaan
jamur pilobolus adalah Kotoran III. HASIL DAN
kuda, kertas karbon, dan air. PEMBAHASAN
Langkah pertama,ambil
kotoran dengan menggunakan
sendok tersebut ke dalam botol
Foto Literatur

a
b

d
c
(Wikipedia,2018)
Perbesaran 40x10
(Dokumen Pribadi, 2018)
Keterangan : Klasifikasi:
a. Spora Kingdom : Fungi
b. Sporangiosfor Subfilum : Mucormycotina
c. Hifa Ordo : Mucorales
d. Sporangium Family : Pilobolaceae
Genus : Pilobolus
Spesies : Pilobolus roridus

Setelah mengamati
pertumbuhan jamur pilobolus ini
diketahui bahwa cahaya matahari
sangat mempengaruhi
pertumbuhan Pilobolus. Hal ini
dilihat dari tembakan spora
didalam botol menuju ke arah
lubang yang sengaja dibuat. Hal
ini sesuai dengan pendapat
(Gould, 2003) yang menyatakan
bahwa penyebaran spora pada
terbang spora tersebut merupakan
yang tercepat di alam. Percepatan
siang hari akan memberi terbang spora Pilobolus dalam 1
kesempatan yang lebih baik mm pertama adalah 0–45 mph.
untuk mendarat di tempat yang Pilobolus dapat kita sejajarkan
cerah di mana rumput atau dengan sniper yang ulung, karena
tanaman sudah berkembang dan spora-nya dapat terbang melewati
hewan seperti kuda akan tubuh hewan ternak dan dalam
merumput disana. kecepatan yang demikian
Di bawah ujung fantastis.
sporangiofor merupakan daerah Menurut Adi Yudianto
yang peka terhadap cahaya (1992), peristiwa terlontarnya
(Fototropisme dan fototaksis). spora bergantung pada tekanan
Tangkai tersebut akan tumbuh ke turgor pada sporangium. Saat
arah cahaya matahari. Ketika tekanan turgor telah mencukupi,
jamur telah matang, maka sporangium akan menembakkan
tekanan air di dalam tangkai sporanya ke arah datangnya
menyebar sampai dengan ujung cahaya. Jarak yang ditempuh
tangkai dan menyebabkan ujung spora dapat lebih jauh dibanding
tangkai meledak. Saat itulah ukuran sporangiofor cendawan
terjadi penyebaran spora dengan itu sendiri. Peristiwa terlontarnya
penembakan spora ke udara. spora diatur oleh regulasi
Peristiwa ini umumnya terjadi adenosin monofosfat siklik
pada siang hari (Moore,1980). regulasi ini terjadi bila terdapat
Menurut Hariana (2005), glukosa pada lingkungan.
bahwa spora-spora yag Pilobolus bereproduksi
ditembakkan tersebut terbang dengan menembakkan sporanya
pada kecepatan 10,8 m per detik yang berwarna hitam ke
dan pada ketinggian kurang lebih tumbuhan semacam rumput.
2 m dari permukaan tanah. Setelah itu, hewan herbivora
Mereka dapat terbang sejauh akan memakan rumput, spora
kurang lebih 2,5 m. Kecepatan Pilobolus juga akan
terbawa.Selama berada di dalam sebagai media pertumbuhannya
saluran pencernaan hewan (Gunawan et al, 2009).
herbivora, spora akan Untuk mengamati
bergerminasi sebagai bentuk mekanisme fototropisme dapat
pertahanan terhadap suhu dan dibuat lubang untuk jalan
bahan kimia dalam saluran masuknya cahaya. Setelah
pencernaan herbivora.Setelah beberapa hari, miselium
proses pencernaan berakhir, Pilobolus akan tumbuh di atas
spora Pilobolus juga akan ikut kotoran dan mengarah ke arah
keluar bersama feses. Di luar lubang cahaya yang dibuat. Di
tubuh, spora Pilobolus akan sekitar lubang akan terdapat
berkecambah membentuk bintik hitam yang merupakan
miselium, feses hewan akan spora yang telah ditembakkan
menjadi sumber nutrisi bagi oleh sporangium.
spora tersebut. Spora yang
berkecambah akan berkembang IV. KESIMPULAN
Dari pengamatan yang
membentuk struktur reproduksi
telah dilakukan dapat
yang memiliki spora.Spora ini
disimpulkan bahwa,
akan ditembakkan kembali ke
Pilobolus merupakan salah
rumput. Siklus ini akan terus
satu jamur zygomycota,
berlanjut selama ada hewan
yang habitatnya di kotoran
herbivora yang memakan rumput
hewan herbivora. Pilobolus
dan menjadi inang selanjutnya.
menunjukkan adanya
Pilobolus selain hidup di
mekanisme fototropisme
alam bebas juga dapat
dimana sporangiumnya
ditumbuhkan dalam media
menembakkan spora ke arah
buatan. Spora Pilobolus terdapat
datangnya cahaya (Shot-gun
dalam kotoran hewan herbivora
Fungi) yang dimana
seperti sapi, kambing, dan kuda.
pertumbuhan jamur ini
Kotoran dimasukkan dalam
sangat dipengaruhi oleh sinar
sebuah wadah tertutup dan gelap.
matahari.
Pada wadah diberi kapas basah
DAFTAR PUSTAKA
Adi Yudianto, Suroso. PT Penebar Swadaya.
1992. Pengantar Depok.
Cryptogamae. Moore RT. 1980.
Bandung: Tarsito "Taxonomic proposals
Becker EW. 1994. for the classification of
Microalgae marine yeasts and other
Biotechnology and yeast-like fungi
Microbiology. New including the smuts".
York: Cambridge Botanica Marine 23:
University Press. 361–73 The
Bourret JA (1986) classification system
Evidence that a glucose presented here is based
mediated rise in cyclic on the 2007
AMP triggers phylogenetic study by
germination of Hibbett et all.
Pilobolus longipes Odum, E.P. 1971.
spores. Experimental Fundamentals of
mycology. Vol. 10 (1): Ecology . WB Saunders
60–66. Company.Phyladelphia.
Gunawan AW dan Agustina Wikipedia. 2018.
TW. 2009. Biologi & [https://id.wikipedia.org
Bioteknologi Cendawan /wiki/Pilobolus]
dalam Praktik. Ed.2. Diakses pada 31
Jakarta: Universitas Oktober 2018 pukul
Atma Jaya. 11.30 WIB.
Gould, Dinah.2003. Fungi
(Jamur) Penembak
Ulung. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Jakarta.
Hariana, A. 2005. Jamur
dan Perkembangannya.

Anda mungkin juga menyukai