Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

EKLAMPSIA

A. ANATOMI & FISIOLOGI

Perubahan Fisiologi Wanita Hamil


Segala perubahan fisik dialami wanita selama hamil berhubungan dengan
beberapa sistem yang disebabkan oleh efek khusus dari hormon. Perubahan ini
terjadi dalam rangka persiapan perkembangan janin, menyiapkan tubuh ibu untuk
bersalin, perkembangan payudara untuk pembentukan/produksi air susu selama
masa nifas. (Salmah dkk, 2006, hal.47)
1. Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh
estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada
dasarnya disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus.Pada bulan-bulan
pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah advokat, agak gepeng.Pada
kehamilan 4 bulan uterus berbentuk bulat dan pada akhir kehamilan kembali
seperti semula, lonjong seperti telur. (Wiknjosastro, H, 2006, hal. 89)
Perkiraan umur kehamilan berdasarkan tinggi fundus uteri :
1) Pada kehamilan 4 minggu fundus uteri blum teraba
2) Pada kehamilan 8 minggu, uterus membesar seperti telur bebek fundus
uteri berada di belakang simfisis.
3) Pada kehamilan 12 minggu kira-kira sebesar telur angsa, fundus uteri 1-2
jari di atas simfisis pubis.
4) Pada kehamilan 16 minggu fundus uteri kira-kira pertengahan simfisis
dengan pusat.
5) Kehamilan 20 minggu, fundus uteri 2-3 jari di bawah pusat.
6) Kehamilan 24 minggu, fundus uteri kira-kira setinggi pusat.
7) Kehamilan 28 minggu, fundus uteri 2-3 jari di atas pusat.
8) Kehamilan 32 minggu, fundus uteri pertengahan umbilicus dan prosessus
xypoideus.
9) Kehamilan 36-38 minggu, fundus uteri kira-kira 1 jari di bawah prosessus
xypoideus.
10) Kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun kembali kira-kira 3 jari di bawah
prosessus xypoideus. (Wiknjosastro, H, 2006. Hal. 90-91 dan Mandriwati,
G. A. 2008. Hal. 90).
2. Vagina
Vagina dan vulva juga mengalami perubahan akibat hormon estrogen
sehingga tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide).Tanda ini disebut
tanda Chadwick. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 95)
3. Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis
sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu.Namun
akan mengecil setelah plasenta terbentuk, korpus luteum ini mengeluarkan
hormon estrogen dan progesteron. Lambat laun fungsi ini akan diambil alih
oleh plasenta. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal .95)
4. Payudara
Payudara akan mengalami perubahan, yaitu mebesar dan tegang akibat
hormon somatomammotropin, estrogen, dan progesteron, akan tetapi belum
mengeluarkan air susu. Areola mammapun tampak lebih hitam karena
hiperpigmentasi. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 95)
5. Sistem Sirkulasi
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke
plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang
membesar pula.Volume darah ibu dalam kehamilan bertambah secara
fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. Volume
darah akan bertambah kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32 minggu,
diikuti dengancardiac output yang meninggi kira-kira 30%. (Wiknjosastro, H.
2006. Hal. 96).
6. Sistem Respirasi
Wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh rasa
sesak nafas.Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas karena usus
tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma sehingga diafragma
kurang leluasa bergerak. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 96)
7. Traktus Digestivus
Pada bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea) karena
hormon estrogen yang meningkat.Tonus otot traktus digestivus juga
menurun.Pada bulan-bulan pertama kehamilan tidak jarang dijumpai gejala
muntah pada pagi hari yang dikenal sebagai moorning sickness dan bila
terlampau sering dan banyak dikeluarkan disebut hiperemesis gravidarum.
(Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
8. Traktus Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh
uterus yang membesar sehingga ibu lebih sering kencing dan ini akan hilang
dengan makin tuanya kehamilan, namun akan timbul lagi pada akhir kehamilan
karena bagian terendah janin mulai turun memasuki Pintu Atas Panggul.
(Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
9. Kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena
pengaruh hormon Melanophore Stimulating Hormone (MSH) yang dikeluarkan
oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada
dahi, pipi, dan hidung, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Namun Pada kulit
perut dijumpai perubahan kulit menjadi kebiru-biruan yang disebut striae
livide. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
10.Metabolisme dalam Kehamilan
Pada wanita hamil Basal Metabolik Rate (BMR) meningkat hingga 15-20
%.Kelenjar gondok juga tampak lebih jelas, hal ini ditemukan pada kehamilan
trimester akhir.Protein yang diperlukan sebanyak 1 gr/kg BB perhari untuk
perkembangan badan, alat kandungan, mammae, dan untuk janin, serta
disimpan pula untuk laktasi nanti.Janin membutuhkan 30-40 gr kalsium untuk
pembentukan tulang terutama pada trimester ketiga.Dengan demikian makanan
ibu hamil harus mengandung kalsium, paling tidak 1,5-2,5 gr perharinya
sehingga dapat diperkirakan 0,2-0,7 gr kalsium yang tertahan untuk keperluan
janin sehingga janin tidak akan mengganggu kalsium ibu. Wanita hamil juga
memerlukan tambahan zat besi sebanyak 800 mg untuk pembentukan
haemoglobin dalam darah sebagai persiapan agar tidak terjadi perdarahan pada
waktu persalinan. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 98)
11. Kenaikan Berat Badan
Peningkatan berat badan ibu selama kehamilan menandakan adaptasi ibu
terhadap pertumbuhan janin. Perkiraan peningkatan berat badan adalah 4 kg
dalam kehamilan 20 minggu, dan 8,5 kg dalam 20 minggu kedua (0,4
kg/minggu dalam trimester akhir) jadi totalnya 12,5 kg. (Salmah, Hajjah.2006.
Hal.60-61)

B. PENGERTIAN
Eklampsia merupakan serangan konvulsi yang mendadak atau suatu
kondisi yang dirumuskan penyakit hipertensi yang terjadi oleh kehamilan,
menyebabkan kejang dan koma, (kamus istilah medis : 163,2001)
Eklampsia adalah apabila ditemukan kejang-kejang pada penderita dengan
gejala awal pre-eklampsia, yang juga dapat disertai koma.
Eklampsia adalah kejang yang terjadi pada ibu hamil dengan tanda-tanda
preeklampsia. Preeklampsia sendiri merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari
hipertensi (Tekanan darah ≥140/90 mmHg) bersamaan dengan proteinuriamasif
yang terjadi pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu.

C. ETIOLOGI
Menurut Manuaba, IBG, 2001 penyebab secara pasti belum diketahui,
tetapi banyak teori yang menerangkan tentang sebab akibat dari penyakit ini,
antara lain:
1. Teori Genetik
Eklamsia merupakan penyakit keturunan dan penyakit yang lebih sering
ditemukan pada anak wanita dari ibu penderita pre eklamsia.
2. Teori Imunologik
Kehamilan sebenarnya merupakan hal yang fisiologis. Janin yang
merupakan benda asing karena ada faktor dari suami secara imunologik dapat
diterima dan ditolak oleh ibu.Adaptasi dapat diterima oleh ibu bila janin
dianggap bukan benda asing,. dan rahim tidak dipengaruhi oleh sistem
imunologi normal sehingga terjadi modifikasi respon imunologi dan
terjadilah adaptasi.Pada eklamsia terjadi penurunan atau kegagalan dalam
adaptasi imunologik yang tidak terlalu kuat sehingga konsepsi tetap berjalan.
3. Teori Iskhemia Regio Utero Placental
Kejadian eklamsia pada kehamilan dimulai dengan iskhemia utero
placenta menimbulkan bahan vaso konstriktor yang bila memakai sirkulasi,
menimbulkan bahan vaso konstriksi ginjal. Keadaan ini mengakibatkan
peningkatan produksi renin angiotensin dan aldosteron.Renin angiotensin
menimbulkan vasokonstriksi general, termasuk oedem pada arteriol.
Perubahan ini menimbulkan kekakuan anteriolar yang meningkatkan
sensitifitas terhadap angiotensin vasokonstriksi selanjutnya akan
mengakibatkan hipoksia kapiler dan peningkatan permeabilitas pada
membran glumerulus sehingga menyebabkan proteinuria dan oedem lebih
jauh.
4. Teori Radikal Bebas
Faktor yang dihasilkan oleh ishkemia placenta adalah radikal bebas.
Radikal bebas merupakan produk sampingan metabolisme oksigen yang
sangat labil, sangat reaktif dan berumur pendek. Ciri radikal bebas ditandai
dengan adanya satu atau dua elektron dan berpasangan. Radikal bebas akan
timbul bila ikatan pasangan elektron rusak. Sehingga elektron yang tidak
berpasangan akan mencari elektron lain dari atom lain dengan menimbulkan
kerusakan sel.Pada eklamsia sumber radikal bebas yang utama adalah
placenta, karena placenta dalam pre eklamsia mengalami iskhemia. Radikal
bebas akan bekerja pada asam lemak tak jenuh yang banyak dijumpai pada
membran sel, sehingga radikal bebas merusak sel Pada eklamsia kadar lemak
lebih tinggi daripada kehamilan normal, dan produksi radikal bebas menjadi
tidak terkendali karena kadar anti oksidan juga menurun.
5. Teori Kerusakan Endotel
Fungsi sel endotel adalah melancarkan sirkulasi darah, melindungi
pembuluh darah agar tidak banyak terjadi timbunan trombosit dan
menghindari pengaruh vasokonstriktor. Kerusakan endotel merupakan
kelanjutan dari terbentuknya radikal bebas yaitu peroksidase lemak atau
proses oksidase asam lemak tidak jenuh yang menghasilkan peroksidase
lemak asam jenuh.
Pada eklamsia diduga bahwa sel tubuh yang rusak akibat adanya
peroksidase lemak adalah sel endotel pembuluh darah.Kerusakan endotel ini
sangat spesifik dijumpai pada glumerulus ginjal yaitu berupa “ glumerulus
endotheliosis “. Gambaran kerusakan endotel pada ginjal yang sekarang
dijadikan diagnosa pasti adanya pre eklamsia.
6. Teori Trombosit
Placenta pada kehamilan normal membentuk derivat prostaglandin dari
asam arakidonik secara seimbang yang aliran darah menuju janin. Ishkemi
regio utero placenta menimbulkan gangguan metabolisme yang menghasilkan
radikal bebas asam lemak tak jenuh dan jenuh. Keadaan ishkemi regio utero
placenta yang terjadi menurunkan pembentukan derivat prostaglandin
(tromboksan dan prostasiklin), tetapi kerusakan trombosit meningkatkan
pengeluaran tromboksan sehingga berbanding 7 : 1 dengan prostasiklin yang
menyebabkan tekanan darah meningkat dan terjadi kerusakan pembuluh
darah karena gangguan sirkulasi.
7. Teori Diet Ibu Hamil
Kebutuhan kalsium ibu 2 - 2½ gram per hari. Bila terjadi kekurangan-
kekurangan kalsium,hamil kalsium ibu hamil akan digunakan untuk
memenuhi kebutuhan janin, kekurangan kalsium yang terlalu lama
menyebabkan dikeluarkannya kalsium otot sehingga menimbulkan sebagai
berikut : dengan dikeluarkannya kalsium dari otot dalam waktu yang lama,
maka akan menimbulkan kelemahan konstruksi otot jantung yang
mengakibatkan menurunnya strike volume sehingga aliran darah menurun.
Apabila kalsium dikeluarkan dari otot pembuluh darah akan menyebabkan
konstriksi sehingga terjadi vasokonstriksi dan meningkatkan tekanan darah.

Penyebab Eklampsia sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi


pada penderita yang meninggal karena eklampsia terdapat perubahan yang khas
pada berbagai alat. Tetapi kelainan yang mengenai penyakit ini adalah smapmus
arteriole retensi Na dan air dan coogulasi intravaskuler.
Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang penyebab Eklampsia yaitu :
 Bertambahnya frekuensi pada primigramivida, kehamilan ganda, hidramnion,
dan molahidatisoda.
 Bertambahnya frekuensi seiring makin tuanya kehamilan
 Dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam
uterus
 Timbulnya hipertensi, edema, protein uria, kejang-kejang dan koma

D. FAKTOR RISIKO
Faktor risiko pada eklampsia adalah:
1. Primigravida
2. Wanita gemuk
3. Wanita dengan: Hipertensi esensial, kehamilan kembar, polihidramnion,
diabetes, mola hidatiform
4. Riwayat pre-eklampsia atau eklampsia pada kehamilan sebelumnya
5. Riwayat eklampsia keluarga

E. KLASIFIKASI
a. Eklampsia gravidarum
 kejadian 150 % sampai 60 %
 serangan terjadi dalam keadaan hamil
 Eklamsi (kejang) yang terjadi pada usia kehamilan 28 minggu
b. Eklampsia parturientum
 Kejadian sekitar 30 % sampai 35 %
 Saat sedang inpartu
 Batas dengan eklampsia gravidarum sukar ditentukan terutama saat mulai
inpartu.
c. Eklampsia puerperium
 Kejadian jarang
 Terjadinya serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir.
 Eklamsi (kejang) yang terjadi pada masa nifas 40 hari setelah melahirkan.

F. PATOFISIOLOGI
Eklampsia dimulai dari iskemia uterus plasenta yang di duga berhubungan
dengan berbagai faktor. Satu diantaranya adalah peningkatan resisitensi intra
mural pada pembuluh miometrium yang berkaitan dengan peninggian tegangan
miometrium yang ditimbulkan oleh janin yang besar pada primipara, anak kembar
atau hidraminion.
Iskemia utero plasenta mengakibatkan timbulnya vasokonstriksor yang
bila memasuki sirkulasi menimbulkan ginjal, keadaan yang belakangan ini
mengakibatkan peningkatan produksi rennin, angiostensin dan aldosteron. Rennin
angiostensin menimbulkan vasokontriksi generalisata dan semakin memperburuk
iskemia uteroplasenta. Aldosteron mengakibatkan retensi air dan elektrolit dan
udema generalisator termasuk udema intima pada arterior.
Pada eklampsia terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi
peningkatan hematokrit. Perubahan ini menyebabkan penurunan perfusi ke organ ,
termasuk ke utero plasental fatal unit. Vasospasme merupakan dasar dari
timbulnya proses eklampsia. Konstriksi vaskuler menyebabkan resistensi aliran
darah dan timbulnya hipertensi arterial. Vasospasme dapat diakibatkan karena
adanya peningkatan sensitifitas dari sirculating pressors. Eklamsi yang berat dapat
mengakibatkan kerusakan organ tubuh yang lain. Gangguan perfusi plasenta dapat
sebagai pemicu timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta sehinga dapat
berakibat terjadinya Intra Uterin Growth Retardation.
G. TANDA DAN GEJALA
 Bertambahnya berat badan yang berlebihan, terjadinya kenaikan 1 kg
perminggu
 Edema terjadi peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan
muka
 Hipertensi (diukur setelah pasien istirahat selama 30 menit)
- Td : 160/70 mmHg atau
- Tekanan sistolik meningkat >30 mmHg
- Diastolic >15 mmHg
- Tekanan diastolic pada trimester ke-II yang >85 mmHg patut dicurigai
sebagai preeclampsia
 Protein Uria
1. Terdapat protein sebanyak 0,3 g/I dalam urin 24 jam atau pemeriksaan
kualitatif +1/+2
2. Kadar protein >1g/1 dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter atau
urine porsi tengah, diambil 2x dalam waktu 6 jam.

Konvulsi eklampsia dibagi dalam 4 tingkat yakni :


1. Tingkat aura / awal keadaan ini berlangsung kira-kira 30 detik, mata
penderita terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar demikian pula
tangannya dan kepada diputar ke kanan / kiri.
2. Tingkat kejangan tonik, yang berlangsung kurang lebih 30 detik dalam
tingkat ini seluruh otot menjadi kaku, wajahnya kelihatan kaku, tangan
mengggenggam dan kaki membengkok ke dalam, pernafasan berhenti, muka
mulai menjadi sianotik, lidah dapat tergigit.
3. Tingkat kejangan klonik, berlangsung antara 1-2 menit, spesimustonik tonik
menghilang, semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang
cepat, mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit kembali, bola
mata menonjol, dan mulut keluar ludah yang berbusa muka menunjukkan
kongesti dan sianosis. Penderita menjadi dapat terjadi dari tempat tidurnya
akhirnya kejangan terhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur.
4. Tingkat koma, lamanya ketidaksadaran tidak selalu sama secara perlahan-
lahan penderita menjadi sadar lagi, akan tetapi dapat terjadi pula bahwa
sebelum itu timbul serangan baru dan yang berulang, sehingga ia tetap
dalam koma.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Urin: protein, reduksi, bilirubin, sedimen urin
2. USG
3. Darah: trombosit, ureum, kreatinin, SGOT, LDH dan bilirubin

I. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama pengobatan eklampsia ialah menghentikan berulangnya
serangan kejang dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang aman
setelah keadaan ibu mengizinkan.
Pengawasan dan perawatan yang intensif sangat penting bagi
penanganan penderita eklampsia, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit.
Pada pengangkutan ke rumah sakit diperlukan obat penenang yang cukup untuk
menghindarkan timbulnya kejangan;
Tujuan pertama pengobatan eklampsia ialah menghentikan kejangan
mengurangi vasospasmus, dan meningkatkan dieresis.Dalam pada itu,
pertolongan yang perlu diberikan jika timbul kejangan ialah mempertahankan
jalan pernapasan bebas, menghindarkan tergigitnya lidah, pemberian oksigen,
dan menjaga agar penderita tidak mengalami trauma. Untuk menjaga jangan
sampai terjadi kejangan lagi yang selanjutnya mempengaruhi gejala-gejala lain,
dapat diberikan beberapa obat, misalnya:
- Sodium pentothal sangat berguna untuk menghentikan kejangan dengan
segera bila diberikan secara intravena. Akan tetapi, obat ini mengandung
bahaya yang tidak kecil. Mengingat hal ini, obat itu hanya dapat diberikan di
rumah sakit dengan pengawasan yang sempurna dan tersedianya
kemungkinan untuk intubasi dan resusitasi. Dosis inisial dapat diberikan
sebanyak 0,2 – 0,3 g dan disuntikkan perlahan-lahan.
- Sulfat magnesicus yang mengurangi kepekaan saraf pusat pada hubungan
neuromuskuler tanpa mempengaruhi bagian lain dari susunan saraf. Obat ini
menyebabkan vasodilatasi, menurunkan tekanan darah, meningkatan
diuresis, dan menambah aliran darah ke uterus. Dosis inisial yang diberikan
ialah 8 g dalam larutan 40% secara intramuskulus; selanjutnya tiap 6 jam 4g,
dengan syarat bahwa refleks patella masih positif, pernapasan 16 atau lebih
per menit, dieresis harus secara intravena; dosis inisial yang diberikan
adalah 4 g 40% Mg SO4 dalam larutan 10 ml intravena secara perlahan-
lahan, diikuti 8 g IM dan selalu disediakan kalsium glukonas 1 g dalam 10
ml sebagai antidotum.
- Lytic cocktail yang terdiri atas petidin 100 mg, klorpomazin 100 mg, dan
prometazin 50 mg dilarutkan dalam glukosa 5% 500 ml dan diberikan secara
infus intravena. Jumlah tetesan disesuaikan dengan keadaan dan tensi
penderita. Maka dari itu, tensi dan nadi diukur tiap 5 menit dalam waktu
setengah jam pertama dan bila keadaan sudah stabil, pengukuran dapat
dijarangkan menurut keadaan penderita. (Prawirohardjo, Sarwono, 1991)

Sedangkan menurut Adi (2015) penatalaksanaan eklampsia adalah:


1) Tujuan
Memerlukan tindakan yang segera dengan tujuan berikut ini:
 Ketika eklampsia masih iminem, lakukanlah tindakan untuk
mencegahnya
 Stabilisasi kondisi ibu
 Pengendalian serangan kejang
 Pengendalian hipertensi
 Melahirkan bayi
 Pencegahan serangan kejang berikutnya
2) Stabilisasi kondisi ibu:
Langkah yang harus dilakukan:
 Memastikan patensi jalan napas
 Pemasangan infuse
 Pemindahan pasien
 Pemeriksaan
3) Obat-obatan:
 Sedasi
 Monitoring MgSO4
 Obat alternative
 Obat untuk hipertensi
 Antibiotic
 Monitoring janin
4) Melahirkan Bayi

J. KOMPLIKASI
Tergantung derajat Eklampsia, yang termasuk komplikasi antara lain
uteri ( uterus couvelaise ), sindrom HELLP ( Haemolysis Elevated Liver
Enzymes Low Platelet Cown). Ablasi retina KID (Koogulasi IntraVaskuler
Diseminata), gagal ginjal, perdarahan otak, edem paru, gagal jantung, syok dan
kematian.
Komplikasi pada janin berhubungan dengan akut kronisnya insufiensi
uteraplasental misalnya pertumbuhan janin terhambat dan prematuntas.
Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin, usaha utama
ialah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita eklampsia. Berikut adalah
beberapa komplikasi yang ditimbulkan pada preeklampsia berat dan eklampsia:
a. Solutio Plasenta
Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering
terjadi pada pre eklampsia.
b. Hipofibrinogemia
Kadar fibrin dalam darah yang menurun.
c. Hemolisis
Penghancuran dinding sel darah merah sehingga menyebabkan plasma darah
yang tidak berwarna menjadi merah.
d. Perdarahan Otak
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita
eklampsia.
e. Kelainan Mata
Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung selama
seminggu, dapat terjadi.
f. Edema Paru
Pada kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena penyakit jantung.
g. Nekrosis Hati
Nekrosis periportan pada preeklampsia, eklampsia merupakan akibat
vasopasmus anterior umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia,tetapi
ternyata juga ditemukan pada penyakit lain.Kerusakan sel-sel hati dapat
diketahui dengan pemeriksaan pada hati,terutama penentuan enzim-
enzimnya.
h. Sindrome Hellp
Haemolisis, elevatea liver anymes dan low platelet
i. Kelainan Ginjal
Kelainan berupa endoklrosis glomerulus, yaitu pembengkakkan sitoplasma
sel endotial tubulus. Ginjal tanpa kelainan struktur lain, kelainan lain yang
dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.
j. Komplikasi lain
 Lidah tergigit, trauma dan faktur karena jatuh akibat kejang-kejang
preumania
 aspirasi, dan DIC (Disseminated Intravascular Coogulation)
 Prematuritas
 Dismaturitas dan kematian janin intro uteri.

K. PROGNOSIS
Eklamsi adalah suatu keadaan yang sangat berbahaya, maka prognosa
kurang baik untuk ibu maupun anak. Prognosa dipengaruhi oleh paritas, usia
dan keadaan saat masuk rumah sakit. Kematian ibu antara 9.8%-25.5%,
kematian bayi 42.2% -48.9%.
L. PENGKAJIAN
Data yang dikaji pada ibu dengan eklampsia adalah :
a. Data subyektif :
 Identitas pasien dan penanggung jawab:Umur biasanya sering terjadi
pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun
 Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema,
pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur.
 Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler
esensial, hipertensi kronik, DM
 Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa,
hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklampsia atau eklampsia
sebelumnya
 Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok
maupun selingan
 Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan
kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi
resikonya.
b. Data Obyektif :
 Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam
 Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema
 Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress
 Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM (
jika refleks + )
 Pemeriksaan penunjang :
1. Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2 kali
dengan interval 6 jam
2. Laboratorium : protein urine dengan kateter atau midstream ( biasanya
meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ),
kadar hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini
meningkat, uric acid biasanya > 7 mg/100 ml
3. Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu
4. Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan
pada otak
5. USG ; untuk mengetahui keadaan janin
6. NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin.

M. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada Eklampsia adalah
sebagai berikut :
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan benda asing
dalam jalan nafas, sekresi yang tertahan
2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan asupan cairan,
kelebihan asupan natrium
3. Risiko cedera

INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi (NIC)


Keperawatan (NOC)
1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Airway suction
bersihan jalan nafas keperawatan 3x 24 jam,.diharap 1. Pastikan kebutuhan oral /
berhubungan dengan kan bersihan jalan nafas efektif tracheal suctioning
benda asing dalam Kriteria hasil 2. Auskultasi suara nafas
jalan nafas, sekresi Respiratory status : Airway sebelum dan sesudah
yang tertahan patency suctioning.
Indikator IR ER 3. Informasikan pada klien
- Mendemonstrasikan dan keluarga tentang
batuk efektif dan suctioning
suara nafas yang 4. Minta klien nafas dalam
bersih sebelum suction dilakukan.
- Tidak ada sianosis 5. Berikan O2 dengan
dan dyspnea menggunakan nasal untuk
- Mampu memfasilitasi suksion
mengeluarkan nasotrakeal
sputum 6. Gunakan alat yang steril
- Mampu bernafas sitiap melakukan tindakan
dengan mudah, 7. Anjurkan pasien untuk
Menunjukkan jalan istirahat dan napas dalam
nafas yang paten setelah kateter dikeluarkan
- Irama nafas regular dari nasotrakeal
- Frekuensi 8. Monitor status oksigen
pernafasan 16- pasien
20x/menit, SPO2 > 9. Ajarkan keluarga
98% bagaimana cara melakukan
- Tidak ada suara suksion
nafas abnormal) 10. Hentikan suksion dan
- Mampu berikan oksigen apabila
mengidentifikasikan pasien menunjukkan
dan mencegah bradikardi, peningkatan
factor yang dapat saturasi O2, dll.
menghambat jalan
nafas
Keterangan Airway Management
1. Keluhan ekstrim. 1. Buka jalan nafas, guanakan
2. Keluhan berat. teknik chin lift atau jaw
3. Keluhan sedang. thrust bila perlu
4. Keluhan ringan. 2. Posisikan pasien untuk
5. Tidak ada keluhan. memaksimalkan ventilasi
3. Identifikasi pasien
perlunya pemasangan alat
jalan nafas buatan
4. Pasang mayo bila perlu
5. Lakukan fisioterapi dada
jika perlu
6. Keluarkan sekret dengan
batuk atau suction
7. Auskultasi suara nafas,
catat adanya suara
tambahan
8. Lakukan suction pada
mayo
9. Berikan bronkodilator bila
perlu
10. Berikan pelembab udara
Kassa basah NaCl Lembab
11. Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan
status O2

2. Kelebihan volume Setelah dilakukan tindakan Fluid management


cairan berhubungan keperawatan 3 x 24 jam, 1. Kaji masukan yang relatif
dengan kelebihan diharapkan kelebihan volume terhadap keluaran secara
asupan cairan, cairan teratasi akurat
kelebihan asupan Kriteria Hasil: 2. Timbang berat badan
Fluid Balance setiap hari (ataui lebih
natrium
Indikator IR ER
sering jika diindikasikan)
- Kebutuhan volume
3. Kaji perubahan edema :
cairan kembali
normal ukur lingkar abdomen
- Tidak ada edema pada umbilicus serta
perifer pantau edema sekitar mata
- Tidak ada sunken- 4. Monitoring vital sign
eyes
- Tekanan darah
dalam batas yang
diharapkan
- Tidak ada suara
nafas tambahan

Keterangan
1. Keluhan ekstrim.
2. Keluhan berat.
3. Keluhan sedang.
4. Keluhan ringan.
5. Tidak ada keluhan.
3. Resiko cedera Setelah dilakukan tindakan Environment Management
keperawatan 3 x 24 jam, (Manajemen lingkungan)
diharapkan klien tidak mengalami 1. Sediakan lingkungan yang
cedera aman untuk pasien
Kriteria Hasil: 2. Identifikasi kebutuhan
Indikator IR ER keamanan pasien, sesuai
- Terbebas dari cedera dengan kondisi fisik dan
- Mampu menjelaskan fungsi kognitif pasien dan
cara/ metode untuk riwayat penyakit terdahulu
mencegah pasien
injury/cedera 3. Menghindarkan lingkungan
- mampu menjelaskan yang berbahaya (misalnya
factor risiko dari memindahkan perabotan)
lingkungan/perilaku 4. Memasang side rail tempat
personal tidur
- Mampu 5. Menyediakan tempat tidur
memodifikasi gaya yang nyaman dan bersih
hidup untuk 6. Membatasi pengunjung
mencegah injury 7. Memberikan penerangan
- Menggunakan yang cukup
fasilitas kesehatan 8. Menganjurkan keluarga
yang ada untuk menemani pasien.
- Mampu mengenali 9. Mengontrol lingkungan dari
perubahan status kebisingan
kesehatan 10. Memindahkan barang-barang
Keterangan yang dapat membahayakan
1. Tidak pernah dilakukan 11. Berikan penjelasan pada
2. Jarang dilakukan pasien dan keluarga atau
3. Kadang dilakukan pengunjung adanya
4. Sering dilakukan perubahan status kesehatan
5. Selalu dilakukan dan penyebab penyakit.
DAFTAR PUSTAKA

Angsar D. 2008. Hipertensi Dalam Kehamilan, dalam Ilmu Kebidanan. Edisi


IV. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawowihardjo
Arif, M. (2002). Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Bobak. (2004). Buku ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta: EGC.

Bulecheck, Gloria M, et al . 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan


Klasifikasi 2012-2014 (Nanda). Jakarta : EGC.
Bulecheck, Gloria M, et al. Nursing Intervention Classifcation (NIC) Fifth
Edition. USA: Mosbie Elsevier, 2008.
Bulecheck, Gloria M, et al. Nursing Outcomes Classifcation (NOC) Fourth
Edition. USA: Mosbie Elsevier, 2008
Capeninto, L.J. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. EGC
Jakarta
Doengoes,E. Marilyn. (2001). Rencana Perawatan Maternal / Bayi, Edisi 2.
Jakarta : EGC
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI
Manuaba, I.B.G., LA. Chandranita Manuaba, dan I.B.G. Fajar Manuaba. 2007.
Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC
Price, A. Sylvia.2006 Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi
4. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Sudhaberata, K., 2001. Profil Penderita Preeklampsia-Eklampsia di RSU


Tarakan Kaltim. http://www.infomedika.com

Sukrisno, Adi. 2014. Instant Access Ilmu Kebidanan. Pamulang: Binarupa


Aksara Publisher

Wiknjosastro H, Prawiroharjo. 2008. Kebidanan Dalam Masa Lampau, Kini


dan Kelak, dalam: Ilmu Kebidanan Edisi IV. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo

Anda mungkin juga menyukai