Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

ANALISIS FARMASI INSTRUMENTAL

Tentang :

“ANALISIS KUANTITATIF SEDIAAN OBAT MONOKOMPONEN

SEDIAAN OBAT CAIR DAN STERIL PADA SPEKTOFOTOMETRI “

Disusun Oleh :

Kelompok II (dua)

1. ERNIKE KAFIAR

2. LINDA TRI UTAMI

3. RISDAYANTI PABUNTANG

4. SAHRUL GUNAWAN

Dosen Pengampu : Miranda T.,S.Farm.,Apt M.Si

YAYASAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PAPUA


(YPMP)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) PAPUA
PROGRAM STUDI FARMASI
SORONG
2018
Kata pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah farmakognosi ini dengan baik.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah farmakognosi ini dapat


memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Sorong, Mei 2018

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………………………………………………….. i
KATA PENGANTAR …………………………………………………. ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................
Latar Belakang ………………………………………………
Rumusan Masalah …………………………………………..
Tujuan ………………………………………………………..
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………
A. Pengertian Spektrofotometer ……………………....
B. Bagian – Bagian Spektrofotometer ……………
C. Prinsip Kerja Spektrofotometer
D. Cara Kerja Spektrofotometer
E. Kalibrasi Spektrofotometer
F. Cara Perawatan Spektrofotometer
G. Jenis – Jenis Spektrofotometer
H. Penentuan kadar Vitamin C metode spektrofotometri
BAB III PENUTUP …………………………………………………….
Kesimpulan …………………………………………………
Saran ………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang


digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan
kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Sedangkan
peralatan yang digunakan dalam spektrofometri disebut spektrofotometer.
Para kimiawan telah lama menggunakan bantuan warna sebagai bantuan
dalam mengenali zat-zat kimia. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai suatu
perluasan pemeriksaan visual yang dengan studi lebih mendalam dari absorpsi
energi radiasi oleh macam-macam zat kimia memperkenankan dilakukannya
pengukuran ciri-ciri serta kuantitatifnya dengan ketelitian lebih besar.
Dengan semakin kompleksisitas berbagai keperluan saat ini, analisis kimia
dengan mempergunakan metoda fisik dalam hal identifikasi dari berbagai
selektifitas fungsi polimer campuran, pemodifikasi dan aditif digunakan untuk
plastik dan elastomer. Spektroskopi infra merah, metoda pengukuran fotometer
UV, gas dan liquid kromatografi dan spektroskopi masa bersama sama dengan
dari metoda pengukuran termoanalisis (DSC-TGA) merupakan alat yang teliti
sebagai pilihan untuk analisis kwalitatif dan kwantitatif bahan.

B. RUMUSAN MASALAH

C. TUJUAN MASALAH

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN

Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk


mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang
gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsayang disebut kuvet.
Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan.
Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding
dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet.

sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer


dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan
panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas
cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Jadi spektrofotometer
digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut
ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang
gelombang.

Kelebihan spektrofotometer dibandingkan fotometer adalah


panjang gelombang dari sinar putih lebih dapat terseleksi dan ini diperoleh
dengan alat pengurai seperti prisma, grating ataupun celah optis. Pada
fotometer filter, sinar dengan panjang gelombang yang diinginkan
diperoleh dengan berbagai filter dari berbagai warna yang mempunyai
spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu.

Pada fotometer filter, tidak mungkin diperoleh panjang gelombang


yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang
gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang
gelombang yang benar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan
alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari
sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi
untuk larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk mengukur
perbedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun pembanding.

B. BAGIAN ATAU KOMPONEN SPEKTROFOTOMETER

Secara garis besar spektrofotometer terdiri dari 4 bagian penting yaitu :

a) Sumber Cahaya

Sebagai sumber cahaya pada spektrofotometer, haruslah memiliki


pancaran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber energi
cahaya yang biasa untuk daerah tampak, ultraviolet dekat, dan inframerah
dekat adalah sebuah lampu pijar dengan kawat rambut terbuat dari
wolfram (tungsten). Lampu ini mirip dengan bola lampu pijar biasa,
daerah panjang gelombang (l ) adalah 350 – 2200 nanometer (nm).

b) Monokromator
Monokromator adalah alat yang berfungsi untuk menguraikan
cahaya polikromatis menjadi beberapa komponen panjang gelombang
tertentu (monokromatis) yang bebeda (terdispersi).

c) Cuvet

Cuvet spektrofotometer adalah suatu alat yang digunakan sebagai


tempat contoh atau cuplikan yang akan dianalisis. Cuvet biasanya terbuat
dari kwars, plexigalass, kaca, plastic dengan bentuk tabung empat persegi
panjang 1 x 1 cm dan tinggi 5 cm. Pada pengukuran di daerah UV dipakai
cuvet kwarsa atau plexiglass, sedangkan cuvet dari kaca tidak dapat
dipakai sebab kaca mengabsorbsi sinar UV. Semua macam cuvet dapat
dipakai untuk pengukuran di daerah sinar tampak (visible).

d) Detektor
Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya
pada berbagai panjang gelombang. Detektor akan mengubah cahaya
menjadi sinyal listrik yang selanjutnya akan ditampilkan oleh penampil
data dalam bentuk jarum penunjuk atau angka digital.
Dengan mengukur transmitans larutan sampel, dimungkinkan untuk
menentukan konsentrasinya dengan menggunakan hukum Lambert-Beer.
Spektrofotometer akan mengukur intensitas cahaya melewati
sampel (I), dan membandingkan ke intensitas cahaya sebelum melewati
sampel (Io). Rasio disebut transmittance, dan biasanya dinyatakan dalam
persentase (% T) sehingga bisa dihitung besar absorban (A) dengan rumus
A = -log %T.
C. PRINSIP KERJA

Prinsip kerja spektrofotometer adalah bila cahaya (monokromatik maupun


campuran) jatuh pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar masuk akan
dipantulkan, sebagian diserap dalam medium itu, dan sisanya diteruskan. Nilai
yang keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi karena
memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel.

Prisinp kerja dari spektrofotometer dapat di gambarkan sebagai berikut :


D. CARA KERJA SPEKTROFOTOMETER

Sinar berasal dari dua lampu yang berbeda, yaitu lampu wolfram untuk
sinar Visible (sinar tampak = 38 – 780nm) dan lampu deuterium untuk sinar Ultra
Violet (180-380nm) pada video lampu yang besar. Pilih panjang gelombang yang
diinginkan/diperlukan. Kuvet, ada dua karena alat yang dipakai tipe double beam,
disanalah kita menyimpan sample dan yang satu lagi untuk blanko. Detektor atau
pembaca cahaya yang diteruskan oleh sampel, disini terjadi pengubahan data sinar
menjadi angka yang akan ditampilkan pada reader.

Yang harus dihindari adanya cahaya yang masuk ke dalam alat, biasanya
pada saat menutup tenpat kuvet, karena bila ada cahaya lain otomatis jumlah
cahaya yang diukur menjadi bertambah.

E. KALIBRASI ALAT SPEKTROFOTOMETER


Kalibrasi yang dimaksud ini adalah men-seting blank alat
spektrofotometer, sebelum digunakan untuk analisis. Secara umum sbb :

1. Nyalakan alat spektrofotometer


2. Isi kuvet dengan larutan blanko (aquades)
3. Diseting/diatur panjang gelombang untuk kalibrasi.
4. ->keterangan: 0%T itu diukur saat kuvet dalam keadaan kosong. 100%T itu
diukur saat kuvet dalam keadaan terisi larutan.
5. Kuvet berisi larutan blanko dimasukkan ke spektrofotometer
6. lalu tekan tombol 0 ABS 100%T, tunggu sampai keluar kondisi setting blank
(dalam bentuk teks)

F. CARA PERAWATAN SPEKTROFOTOMETER


Cara Perawatan dan Penyimpanan Alat :

1. Sebelum digunakan, biarkan mesin warming-up selama 15-20 menit.


2. Spektrofotometer sebisa mungkin tidak terpapar sinar matahari langsung,
karena cahaya dari matahari akan dapat mengganggu pengukuran.
3. Simpan spektrofotometer di dalam ruangan yang suhunya stabil dan diatas
meja yang permanen.
4. Pastikan kompartemen sampel bersih dari bekas sampel.
5. Saat memasukkan kuvet, pastikan kuvet kering.
6. Lakukan kalibrasi panjang gelombang dan absorban secara teratur.

Hal-hal yang harus diperhatikan :

1. Larutan yang dianalisis merupakan larutan berwarna

Apabila larutan yang akan dianalisis merupakan larutan yang tidak berwarna,
maka larutan tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi larutan yang
berwarna. Kecuali apabila diukur dengan menggunakan lampu UV.

2. Panjang gelombang yang digunakan adalah panjang gelombang yang


mempunyai absorbansi maksimal.

Hal ini dikarenakan pada panajgn gelombang maksimal, kepekaannya juga


maksimal karena pada panjang gelombang tersebut, perubahan absorbansi
untuk tiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar. Selain itu disekitar
panjang gelombang maksimal, akan terbentuk kurva absorbansi yang datar
sehingga hukum Lambert-Beer dapat terpenuhi. Dan apabila dilakukan
pengukuran ulang, tingkat kesalahannya akan kecil sekali.

3. Kalibrasi Panjang gelombang dan Absorban


Spektrofotometer digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang
dipancarkan dan cahaya yang diabsorbsi. Hal ini bergantung pada spektrum
elektromagnetik yang diabsorb oleh benda. Tiap media akan menyerap cahaya
pada panjang gelombang tertentu tergantung pada senyawa yang terbentuk.
Oleh karena itu perlu dilakukan kalibrasi panjang gelombang dan absorban
pada spektrofotometer agar pengukuran yang di dapatkan lebih teliti.

G. JENIS – JENIS SPEKTROFOTOMETER

Spektrofotometri terdiri dari beberapa jenis berdasar sumber cahaya yang


digunakan. Diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Spektrofotometri Vis (Visible)


b. Spektrofotometri UV (Ultra Violet)
c. Spektrofotometri UV-Vis
d. Spektrofotometri IR (Infra Red)

a) Spektrofotometri Visible (Spektro Vis)

Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber


sinar/energi adalah cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk
spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia.

Panjang gelombang sinar tampak adalah 380 sampai 750 nm.


Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh kita, entah itu putih, merah,
biru, hijau, apapun.. selama ia dapat dilihat oleh mata, maka sinar tersebut
termasuk ke dalam sinar tampak (visible).
Sumber sinar tampak yang umumnya dipakai pada spektro visible
adalah lampu Tungsten. Tungsten yang dikenal juga dengan nama
Wolfram merupakan unsur kimia dengan simbol W dan no atom 74.
Tungsten mempunyai titik didih yang tertinggi (3422 ºC) dibanding logam
lainnya. karena sifat inilah maka ia digunakan sebagai sumber lampu.
Sample yang dapat dianalisa dengan metode ini hanya sample yang
memilii warna. Hal ini menjadi kelemahan tersendiri dari metode
spektrofotometri visible. Oleh karena itu, untuk sample yang tidak
memiliki warna harus terlebih dulu dibuat berwarna dengan menggunakan
reagent spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Reagent
yang digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan analat
yang akan dianalisa. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang
dihasilkan harus benar-benar stabil.
Salah satu contohnya adalah pada analisa kadar protein terlarut
(soluble protein). Protein terlarut dalam larutan tidak memiliki warna.
Oleh karena itu, larutan ini harus dibuat berwarna agar dapat dianalisa.
Reagent yang biasa digunakan adalah reagent Folin.
Saat protein terlarut direaksikan dengan Folin dalam suasana
sedikit basa, ikatan peptide pada protein akan membentuk senyawa
kompleks yang berwarna biru yang dapat dideteksi pada panjang
gelombang sekitar 578 nm. Semakin tinggi intensitas warna biru
menandakan banyaknya senyawa kompleks yang terbentuk yang berarti
semakin besar konsentrasi protein terlarut dalam sample.

b) Spektrofotometri UV (ultraviolet)

Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV


berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki
panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan
lampu deuterium. Deuterium disebut juga heavy hidrogen. Dia merupakan
isotop hidrogen yang stabil yang terdapat berlimpah di laut dan daratan.
Inti atom deuterium mempunyai satu proton dan satu neutron, sementara
hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki neutron. Nama
deuterium diambil dari bahasa Yunani, deuteros, yang berarti ‘dua’,
mengacu pada intinya yang memiliki dua pertikel. Karena sinar UV tidak
dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat menyerap sinar
ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna. Bening dan
transparan.
Oleh karena itu, sample tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna
dengan penambahan reagent tertentu. Bahkan sample dapat langsung
dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sample keruh
tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau centrifugasi. Prinsip dasar
pada spektrofotometri adalah sample harus jernih dan larut sempurna.

Tidak ada partikel koloid apalagi suspensi. Sebagai contoh pada analisa
protein terlarut (soluble protein). Jika menggunakan spektrofotometri
visible, sample terlebih dulu dibuat berwarna dengan reagent Folin, maka
bila menggunakan spektrofotometri UV, sample dapat langsung dianalisa.
Ikatan peptide pada protein terlarut akan menyerap sinar UV pada panjang
gelombang sekitar 280 nm. Sehingga semakin banyak sinar yang diserap
sample (Absorbansi tinggi), maka konsentrasi protein terlarut semakin
besar. Spektrofotometri UV memang lebih simple dan mudah dibanding
spektrofotometri visible, terutama pada bagian preparasi sample.

Namun harus hati-hati juga, karena banyak kemungkinan terjadi


interferensi dari senyawa lain selain analat yang juga menyerap pada
panjang gelombang UV. Hal ini berpotensi menimbulkan bias pada hasil
analisa.

c) Spektrofotometri UV-Vis

Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan


Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya
UV dan sumber cahaya visible. Meskipun untuk alat yang lebih canggih
sudah menggunakan hanya satu sumber sinar sebagai sumber UV dan Vis,
yaitu photodiode yang dilengkapi dengan monokromator. Untuk sistem
spektrofotometri, UV-Vis paling banyak tersedia dan paling populer
digunakan. Kemudahan metode ini adalah dapat digunakan baik untuk
sample berwarna juga untuk sample tak berwarna.

d) Spektrofotometri IR (Infra Red)


Dari namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometri ini berdasar
pada penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah
terbagi menjadi infra merah dekat, pertengahan, dan jauh. Infra merah
pada spektrofotometri adalah infra merah jauh dan pertengahan yang
mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 μm. Pada spektro IR meskipun
bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun biasanya lebih kepada
analisa kualitatif. Umumnya spektro IR digunakan untuk mengidentifikasi
gugus fungsi pada suatu senyawa, terutama senyawa organik. Setiap
serapan pada panjang gelombang tertentu menggambarkan adanya suatu
gugus fungsi spesifik.

Hasil analisa biasanya berupa signal kromatogram hubungan intensitas IR


terhadap panjang gelombang. Untuk identifikasi, signal sample akan
dibandingkan dengan signal standard. Perlu juga diketahui bahwa sample
untuk metode ini harus dalam bentuk murni. Karena bila tidak, gangguan
dari gugus fungsi kontaminan akan mengganggu signal kurva yang
diperoleh. Terdapat juga satu jenis spektrofotometri IR lainnya yang
berdasar pada penyerapan sinar IR pendek. Spektrofotometri ini di sebut
Near Infrared Spectropgotometry (NIR). Aplikasi NIR banyak digunakan
pada industri pakan dan pangan guna analisa bahan baku yang bersifat
rutin dan cepat.

H. ANALISA KUANTITATIF SEDIAAN OBAT CAIR DAN INJEKSI


(STERIL)

A. Penentuan kadar Vitamin C metode spektrofotometri

Vitamin C atau asam askorbat, merupakan vitamin yang dapat ditemukan dalam berbagai
buah-buahan dan sayuran. Vitamin C dapat disintesis dari glukosa atau diekstrak dari sumber-
sumber alam tertentu seperti jus jeruk. Vitamin pertama kali diisolasi dari air jeruk nipis oleh
Gyorgy Szent tahun 1928. Vitamin C bertindak ampuh mengurangi oksigen, nitrogen, dan
sulfur yang bersifat radikal. Vitamin C bekerja sinergis dengan tokoferol yang tidak dapat
mengikat radikal lipofilik dalam area lipid membrane dan protein. Pengobatan dengan vitamin
C dapat memulihkan kadar zat besi dalam tubuh. Ada beberapa metode yang dikembangkan
untuk penentuan kadar vitamin C diantaranya adalah metode spektrofotometri UV-Vis
(panjang gelombang 265 nm) dan metode iodimetri. Metode Spektrofotometri dapat
digunakan untuk penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih tanpa
pemisahan terlebih dahulu. Karena perangkat lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi
analisis dan mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di bidang analisis kimia
sedangkan iodimetri merupakan metode yang sederhana dan mudah diterapkan dalam suatu
penelitian.

 Sifat Fisika dan Kimia

Gambar 1. Asam Askorbat/Vitamin C

BM : 176,13

Sinonim : Acidum Ascorbicum, Asam askorbat, 3-okso-L-gulofuranolakton

 Definisi
Asam askorbat mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5% C 6H8O6.

 Pemerian
Hablur atau serbuk putih atau agak kuning. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi
berwarna gelap. Dalam keadaan kering stabil di udara, dalam larutan cepat teroksidasi. Melebur
pada suhu lebih kurang 1900 C.

 Kelarutan

Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform, dalam eter
dan dalam benzena.

 Baku pembanding

Asam askorbat BPFI. Spektrofotometri adalah sebuah metode analisis untuk mengukur
konsentrasi suatu senyawa berdasarkan kemampuan senyawa tersebut mengabsorbsi berkas
sinar atau cahaya. Spektrofotometri adalah alat yang terdiri dari spektrofotometer dan
fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang
tertentu, sementara fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau
diabsorpsi.

Istilah spektrofotometri berhubungan dengan pengukuran energi radiasi yang diserap oleh suatu
sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari radiasi maupun pengukuran panjang absorpsi
terisolasi pada suatu panjang gelombang tertentu (Underwood 1994). Secara umum
spektrofotometri dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
a) Spektrofotometer ultraviole
t b) Spektrofotometer sinar tampak
c) Spektrofotometer infra merah
d) Spektrofotometer serapan atom Spektrum elektromagnetik terdiri dari urutan gelombang
dengan sifat-sifat yang berbeda.

Kawasan gelombang penting di dalam penelitian biokimia adalah ultra lembayung (UV, 180-
350 nm) dan tampak (VIS, 350-800 nm). Cahaya di dalam kawasan ini mempunyai energi yang
cukup untuk mengeluarkan elektron valensi di dalam molekul tersebut (Keenan 1992).

Penyerapan sinar UV-Vis dibatasi pada sejumlah gugus fungsional atau gugus kromofor yang
mengandung elektron valensi dengan tingkat eksutasi rendah.

Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya monokromatik dari sumber
sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet (tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang
diteruskan maupun yang diserap oleh larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian
menyampaikan ke layar pembaca (Hadi 2009) Salah satu contoh instrumentasi analisis yang
lebih kompleks adalah spektrofotometer UV-Vis.

Alat ini banyak bermanfaat untuk penentuan konsentrasi senyawa-senyawa yang dapat
menyerap radiasi pada daerah ultraviolet (200 – 400 nm) atau daerah sinar tampak (400 – 800
nm) Analisis ini dapat digunakan yakni dengan penentuan absorbansi dari larutan sampel yang
diukur

. Pengukuran absorbansi untuk tujuan analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-
Visibel harus memenuhi hukum Lambert-Beer. Hukum Lambert Beer berlaku dengan baik bila
larutannya tidak terlalu encer ataupun pekat. Selain absorbansi (A), dapat juga dibaca
transmitan (%T). %T ini menunjukkan jumlah sinar REM yang diteruskan (ditransmisikan) oleh
senyawa yang diukur. Nilai dari %T merupakan kebalikan dari absorbansi atau sinar yang
diserap (A = -log %T). Kadar dapat dihitung berdasarkan persamaan : A1 x C1 = A2 x C2 (dengan
A adalah nilai absorbansi dari sampel atau standar, dan C adalah konsentrasi dari sampel atau
standar). Kadar yang diperoleh dari perhitungan ini baru menunjukkan kadar yang terukur,
belum menunjukkan kadar sampel yang sebenarnya. Untuk memperoleh kadar sampel
sebenarnya, hasil perhitungan tersebut kemudian dikalikan dengan besarnya pengenceran yang
dilakukan saat pembuatan larutan yang akan diukur serapannya. Faktor-faktor yang sering
menyebabkan kesalahan dalam menggunakan spektrofotometer dalam mengukur konsentrasi
suatu analit: 1.Adanya serapan oleh pelarut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko,
yaitu larutan yang berisi selain komponen yang akan dianalisis termasuk zat pembentuk warna.
2.Serapan oleh kuvet. Kuvet yang ada biasanya dari bahan gelas atau kuarsa, namun kuvet dari
kuarsa memiliki kualitas yang lebih baik. 3.Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran
dengan absorbansi sangat rendah atau sangat tinggi, hal ini dapat diatur dengan pengaturan
konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan (melalui pengenceran
atau pemekatan).

III. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan : Bahan yang digunakan :
1. Mortit dan stamper
2. Spatula
3. Gelas kimia 100 mL, 500 mL
4. Labu takar 250 mL, 100 mL
5. Gelas ukur 100 mL
6. Pipet tetes
7. Pipet volum 10 mL
8. Pipet ukut 5 mL, 10 mL
9. Corong gelas
10. Batang pengaduk
11. Botol semprot
12. Kuvet Shimadzu
13. Spektrofotometer UV-Vis 1. Tablet vitamin C (Vitacimin)
Shimadzu 2. Aquades
14. Neraca analitik 3. Asam askorbat

IV. Prosedur Kerja

1. Pembuatan Kurva Standar


2. Penentuan Kadar Vitamin C
3. Data dan Perhitungan
 Pengujian Statistik dengan SPSS (aras keberartian 5%)

Model Summary

R Adjusted R Std. Error of


R Square Square the Estimate
Model
.983 .978 .03583
1 .992a

Koefisien korelasi R = 0,992 > dari 0,95 Dengan


demikian grafik linear tesebut sangat bagus karena
mendekati 1,00

ANOVAa

Sum of Mean
Squares df Square F Sig.
Model

.230 1 .230 178.742


Regression .001b

.004 3 .001
Residual

.233 4
1 Total
Nilai F hitung = 178,742 dan nilai F tabel sebesar 6,60
Dengan melihat nilai F hitung > daripada F table berarti H ditolak sehingga 0

grafik linear tersebut dapat diterima Selain itu nilai signifikannya kurang
dari 0,05 yakni sebesar 0,001 sehingga grafik dapat diterima

Coefficientsa

Standardiz
Unstandardiz ed 95.0%
ed Coefficien Confidence
Coefficients ts Interval for B

Low Uppe
Std. er r
Erro Sig Boun Boun
B r Beta t . d d
Model
-
.03 - .34
1 .028 1.124 3 -.120 .057
(Constant)

.03 13.36 .00


Konst_vitC_p 8 .003 .992 9 1 .029 .047
1 pm
Persamaan regresi yang diperoleh adalah y = 0,038x-0,031

 Pengujian Pencilan (outlier)


 Perhitungan kadar vitamin C dalam sampel
Absorbansi sampel : 0,596
y = 0,0379x – 0,0312
0,506 = 0,0379x – 0,0312
0,5372 = 0,0379x
x = kadar vit. C = 14,17 ppm
Konsentrasi vitamin C dalam sampel sebenarnya :
= pengenceran x konsentrasi
= 200 x 14,17 ppm = 2834 ppm
Konsentrasi sampel = 8000 ppm
Kadar vitamin C dalam sampel :
=(konsentrasi vitamin C dalam sampel/konsentrasi sampel) x 100%
= (2834/8000) x 100% = 35,43 %
4. Pembahasan
Vitamin c atau asam askorbat merupakan bahan farmasi yang banyak dikonsumsi sebagai antioksidan.
Asam askorbat dalam sediaan farmasi dapat ditentukan dengan metode titrasi iodometri atau
spektrofotometri untraviolet pada panjang gelombang 265nm.
Pada praktikum ini akan dilakukan penentuan kadar vitamin c sediaan farmasi dengan metode
spektrofotometri pada panjang gelombang maksimum (ditentukan terlebih dahulu). Digunakan larutan
asam askorbat standar untuk membuat kurva kalibrasi.
Sampel berupa bahan farmasi vitamin C dengan merek dagang “vitacimin”, merupakan tablet vitamin c
yang berwarna kuning. Sampel obat di larutkan dalam air sebagai larutan induk, asam askorbat dan
bahan pengisi pada tablet vitacimin akan larut sempurna dalam 250mL air, vitamin c atau asam askorbat
tersebut kemudian dapat ditentukan kadarnya dengan spektrofotometer UV.

Spektrofotometer UV merupakan instrument yang menggunakan sumber cahaya, sumber cahaya dapat
berupa cahaya tampak ataupun ultraviolet, cahaya akan ditembakkan pada sampel (kuvet) dan
banyaknya cahaya yang diserap sampel dapat terukut pada detektor. Pada praktikum digunakan cahaya
ultraviolet.

Banyaknya cahaya yang diserap sampel pada panjang gelombang tertentu linear dengan kadarnya, isi
sesuai dengan hukum lambert beer. Menurut International Journal of Basic & Applied Sciences IJBAS-
IJENS Vol: 11 No: 02 hal.110 bahwa penentuan kadar vitamin c menggunakan metode spektrofotometri
sangat sensitive dengan deviasi relatif sebesar 0,81%.

Asam askorbat/vitamin C bersifat tidak stabil terhadap suhu, oksigen, pH dan juga keberadaan ion
logam seperti Fe2+, Cu2+ atau Ca2+ sehingga perlakuan sampel seharusnya sangat memperhatikan
stabilitas asam askorbat tersebut agar tidak terjadi degradasi asam askorbat menjadi senyawa asam
dehidroskorbat (Selimović, Amra dkk : 2011) Untuk menjaga stabilitas asam askorbat, seharusnya perlu
penambahan larutan buffer pH 5,4 pada sampel. Karena pada pH tersebut, stabilitias vitamin C pada
suhu kamar selama 30 menit. pH asam juga akan mencegah terjadinya reaksi oksidasi yang juga dapat
mengurangi kadar vitamin c yang terukur.

Selain itu suhu pengukuran asam askorbat dijaga pada suhu kamar, seharusnya tempat sampel
ditempatkan di atas es (dijaketi es) untuk mengurangi suhu yang dapat menyebabkan degradasi asam
askorbat.

Pada pengukuran sampel vitacimin ini, tidak diperhatikan faktor stabilitas asam askorbatnya, sehingga
kadar yang terukur menjadi lebih kecil dari kadar sesungguhnya. Standar asam askorbat diukur pada
panjang gelombang maksimum yang telah ditentukan sebelumnya, panjang gelombang maksimum
asam askorbat standar pada 271nm.

Pada panjang gelombang tersebut dilakukan pengukuran absorbansi terhadap larutan sampel vitacimin.
Dari pengukuran standar diperoleh kurva kalibrasi dengan persamaan y = 0,0379x – 0,0312 dan
absorbansi sampel vitacimin sebesar 0,596 sehingga kadar asam askorbat sampel vitacimin sebesar
14,17 ppm.
Kadar terukur tersebut dikalikan dengan faktor pengenceran (200x) sehingga kadar sesungguhnya
adalah 2834 ppm yang diperoleh dari larutan vitacimin 8000ppm. Jadi, kadar asam askorbat vitacimin
dalam persen sebesar 35,43%.

BAB III
PENUTUP

Kadar asam askorbat tablet “vitacimin” sebesar 35,43% yang di ukur


pada panjang gelombang maksimum asam askorbat 271nm.