Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA PANGAN

ACARA III
LEMAK

Disusun Oleh:
Nama : Zainul Zulaika
NIM : H0916087
Kelompok :8

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018
ACARA III
LEMAK

A. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Analisa Pangan Acara III Lemak adalah:
1. Mengetahui kadar lemak bahan
2. Mengetahui penentuan kadar lemak dengan metode soxhlet
B. Tinjauan Pustaka
Menurut Sartika (2008), lemak adalah salah satu komponen makanan
multifungsi yang sangat penting untuk kehidupan. Penambahan lemak dalam
makanan memberikan efek rasa lezat dan tekstur makanan menjadi lembut serta
gurih. Komponen dasar lemak adalah asam lemak dan gliserol yang diperoleh
dari hasil hidrolisis lemak, minyak maupun senyawa lipid lainnya.
Setiadji (2007) menyatakan bahwa lemak merupakan senyawa organik yang
tidak larut dalam air, tetapi larut dalam zat pelarut organik non polar, seperti
aseton, alkohol, eter, benzena, kloroform dan sebagainya Lemak tersusun atas
rantai hidrokarbon panjang berantai lurus, bercabang, atau membentuk struktur
siklis. Lemak tersusun dari tiga elemen dasar yaitu karbon, hidrogen dan
oksigen. Secara kimiawi, lemak merupakan bagian dari lipida, yang merupakan
ester asam lemak dan gliserol (Muchtadi, 2014).
Soxhlet merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk mengekstrak
suatu bahan dengan pelarutan yang berulang-ulang dengan pelarut yang sesuai
(Wirakusumah, 2007). Menurut Wei et al. (2012), kandungan lemak dapat
diukur dengan metode ekstraksi Soxhlet. Prosedur analisa lemak dilakukan
dengan cara sampel dihaluskan dan diayak. Beberapa gram sampel dibungkus
dengan kertas saring. Kemudian kertas saring yang telah berisi sampel
ditempatkan di ruang Soxhlet. Kemudian ditambahkan beberapa ml pelarut.
Setelah diekstrak selama beberapa jam, ekstrak yang dihasilkan dioven pada
suhu tertentu. Hidayat (2012), menyatakan bahwa untuk menentukan kadar
lipida total pada suatu produk/bahan makanan dapat dilakukan dengan beberapa
teknik, yaitu ekstraksi non-solven, ekstraksi solven dan metode instrumental.
Ekstraksi non-solven adalah ekstraksi yang tidak mengguna-kan pelarut organik
dalam proses pemisahannya. Berikut adalah yang terrmasuk dalam ekstraksi
non-solven:
1. Metode Gerber
Metode ini mirip dengan metode Babcock, tapi menggunakan asam sulfat dan
isoamil alkohol, dengan bentuk botol yang sedikit berbeda.
2. Metode Detergent
Sampel dicampur dengan kombinasi surfaktan dalam botol Babcock.
Surfaktan akan menggantikan membran yang menyelubungi droplet emulsi
dalam sampel susu, menyebabkan lemak terpisah. Sampel disentrifugasi
sehingga lemak akan berada di leher botol sehingga kadar bisa ditentukan.
3. Metode Babcock
Prinsip metode ini adalah sampel berlemak/minyak dicerna (digest) dengan
asam sulfat pekat panas, maka protein akan mengendap dan kemudian larut,
sehingga lemak akan terpisah dari fase berair dan berada di bagian atas,
banyak minyak dapat diukur pada botol yang mempunyai skala volume.
Metode ini digunakan untuk penentuan secara cepat untuk sampel-sampel
berupa ikan, produk susu dan lain-lainnya (untuk menentukan lemak kasar).
Ekstraksi solven ada beberapa macam, yaitu:
1. Semi-Continuous Solvent Extraction
Alat yang paling sering digunakan dalam metode ini adalah Soxhlet, dimana
efisiensi ekstraksi lebih baik dari pada metode Batch Solvent Extraction.
Sampel dikeringkan, dihaluskan dan diletakkan dalam thimble
berpori.Thimble diletakkan dalam alat soxhlet yang dihubungkan dengan
kondensor.Labu soxhlet dipanaskan, solven menguap, terkondensasi dan
masuk ke bejana ekstraksi yang berisi sampel, dan mengesktraksi
sampel.Lemak tertinggal di labu karena perbedaan titik didih. Pada akhir
ekstraksi, solven diupakan dan massa lemak yang tersisa ditimbang.
% lemak = 100 x (berat lemak / berat sampel)
2. Batch Solvent Extraction
Metode ini dilakukan dengan mencampur sampel dan solven dalam wadah
yang sesuai (misalnya corong pisah).Wadah dikocok kuat, solven organik dan
fase air dipisahkan (oleh gravitasi atau dengan sentrifugasi). Fase air
dihilangkan dan konsentrasi lemak ditentukan dengan menguapkan solven
dan mengukur massa lemak yang tersisa.
% lemak = 100 x (berat lemak / berat sampel)
3. Accelerated Solvent Extraction
Ekstraksi ini dilakukan dengan instrumen yang temperatur dan tekanan-nya
tinggi.
4. Supercritical Fluid Extraction
Ekstraksi ini menggunakan alat khusus dimana tidak lagi pelarut yang
digunakan bukan pelarut organik melainkan menggunakan CO2 superkritik
sebagai pelarut.
5. Continuous Solvent Extraction
Metode ini disebut juga metode Goldfish.Metode Goldfish merupakan
metode yang mirip dengan metode Soxhlet kecuali labu ekstraksinya
dirancang sehingga solven hanya melewati sampel, bukan merendam sampel
(Hidayat, 2012).
Ekstraksi lemak menggunakan metode mikro soxhlet memiliki kelebihan
dan kekurangan. Rais (2004) menyatakan kelebihan mikro soxhlet jika
dibandingkan dengan metode yang lain yaitu terjadi kontak antara sampel
dengan pelarut yang murni secara berulang dan kemampuan mengekstraksi
sampel lebih tanpa tergantung jumlah pelarut yang banyak. Karena
bagaimanapun, dengan alasan toksisitas, prosedur obat dan pengobatan harus
menekan penggunaan pelarut dalam proses farmasetis. Penggunaan pelarut juga
dapat mempengaruhi kinetika kristalisasi dan morfologi kristal dari produk.
Menurut Hadi (2012), kelebihan ekstraksi mikro soxhlet ialah kemudahan dalam
merangkai alat. Ekstraksi soxhlet memiliki beberapa kelebihan dibandingkan
metode ekstraksi lainnya, yang pertama yaitu menggunakan metode dan
peralatan yang cukup sederhana, merupakan analisa yang tidak membutuhkan
biaya terlalu banyak (dibandingkan HPLC dan metode ekstraksi lain) serta yang
terutama yaitu metode ekstraksi soxhletasi mampu memberikan rendemen yang
cukup besar atau minyak yang dihasilkan cukup banyak, kemudian pelarut yang
dipakai juga dapat digunakan berulang kali sehingga dapat meminimalkan biaya
pengujian atau analisa (Gatbonton et al., 2013). Menurut Amelia dkk (2005),
keuntungan dari metode mikrosoxhlet pada penentuan kadar lemak bahan antara
lain pemanasannya dapat diatur, dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur
yang lunak dan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung, serta pelarut
yang digunakan lebih sedikit.
Sedangkan kekurangan ekstraksi lemak menggunakan metode soxhlet
antara lain jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui
kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah
dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya, bila
dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut
dengan titik didih yang terlalu tinggi serta karena pelarut didaur ulang, ekstrak
yang terkumpul pada wadah di sebelah bawah terus-menerus dipanaskan
sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas (Amelia dkk, 2005).
Kelemahan metode soxhlet yaitu memakan waktu yang lama serta penggunaan
zat organik yang biasanya beracun (Saputra, 2013). Bahan yang diuji harus
cukup kering, karena jika masih basah selain memperlambat proses ekstraksi, air
dapat turun ke dalam labu dan akan mempengaruhi dalam perhitungan
(Budimarwanti, 2000).
Tejasari (2005) menyatakan bahwa derajat polaritas pelarut yang akan
digunakan untuk mengekstraksi lemak harus sama dengan derajat polaritas
lemak yang akan dianalisis. Ekstraksi ini dapat dilakukan secara terputus-putus.
Pelarut yang memiliki titih didih lebih rendah akan diuapkan dan dikondensasi
saat melewati kondensor lalu pelarut akan jatuh membasahi bahan dan lemak
bahan akan terekstraksi sekitar 4-6 jam, ditunggu hingga pelarut turun kembali
dan sisa/residu lemak akan dioven untuk menguapkan sisa pelarut lalu ditimbang
hingga dicapai berat konstan kemudian dapat ditentukan persentase kadar
lemaknya yaitu nisbah berat lemak terhadap berat sampel kemudian dikali 100%.
Setiap lipida mempunyai polaritas yang berbeda-beda sehingga tidak ada bahan
pelarut umum untuk semua jenis lipida. Contohnya senyawa trigliserida yang
bersifat nonpolar akan mudah diekstraksi dengan pelarut nonpolar seperti
heksana atau petroleum eter (Novia, 2009).
Minyak dan lemak memiliki sifat umum yaitu larut dalam pelarut organik
seperti eter, benzena, aseton, kloroform dan sedikit larut dalam alkohol. Oleh
karena itu, untuk mengekstrak lemak biasanya digunakan pelarut organik
golongan alkohol (methanol, etanol, isopropanol, n-butanol), aseton, eter (dietil
eter, isopropyl eter, dioksan), halokarbon (kloroform, diklorometan),
hidrokarbon (heksana, benzena, sikloheksan, isooktan) atau campuran dari
pelarut-pelarut tersebut. Semakin banyak jumlah pelarut organik yang
digunakan dalam proses ekstraksi maka semakin tinggi jumlah komponen
terlarutnya (Susanti dkk, 2014). Jenis pelarut yang digunakan pada praktikum
analisa kadar lemak ini adalah petroleum benzene. Fungsi petroleum
benzene/eter adalah untuk mengekstraksi/melarutkan lemak pada bahan karena
lemak hanya dapat larut pada pelarut organik non polar (Murti, 2013).
Suatu produk mempunyai kadar lemak yang berbeda-beda yang dapat
disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi kandungan lemak
dalam suatu bahan pangan antara lain genotif, nutrisi dan waktu pengambilan
(pemanenan). Berdasarkan penelitian bahan yang belum matang sempurna atau
ditunda masa panennya dapat mengurangi jumlah kadar minyak dalam bahan.
Selain itu, proses pengolahan juga mempengaruhi kadar lemak. Misalnya proses
penggorengan, hal ini disebabkan karena bahan cenderung menyerap minyak
(lipida) pada saat penggorengan. Lain lagi dengan pengeringan, kadar air bahan
yang menurun menyebabkan penurunan massa bahan dimana massa awal bahan
digunakan sebagai pembagi dalam perhitungan persen kadar lemak, sehingga
bila dianalisis maka kadar lemak akan lebih tinggi dari bahan yang tidak
dikeringkan (Singh and Diwakar, 1993).
C. Metodologi
1. Alat
a. Alat ekstraksi Mikro Soxhlet
b. Blender
c. Eksikator
d. Kertas alumunium foil
e. Labu
f. Loyang
g. Oven
h. Penjepit
i. Timbangan Analitik
2. Bahan
a. Kertas Saring
b. Mie Burung Dara – Mie Telur Urai Original 1 gr
c. Mie Telur – Mie Pipih 1 gr
d. Mie Telur 3 Ayam – Mie Bulat 1 gr
e. Mie Telur Asli Atoom Bulan 1 gr
f. Mie Telur Gaga A1 1 gr
g. Pretoleum benzene
3. Cara Kerja
a. Persiapan
Pengovenan kertas saring selama 1 jam

Peletakan kertas saring dalam desikator 15 menit

1 gr sampel
Penimbangan
(a)

Pembungkusan sampel dengan kertas saring

Pengovenan sampel selama 5 jam

Peletakan sampel dalam desikator 15 menit

Pengovenan labu selama 30 menit

Peletakan labu dalam desikator 15 menit

Penimbangan labu (b)

Gambar 3.1 Diagram Alir Tahapan Proses Persiapan Uji Lemak


Mikro Soxhlet
b. Pengujian Kadar Lemak Bahan

Sampel

Peletakan pada pipa sirkulasi

Pemasangan alat ekstraksi mikro soxhlet


dan pemanasan aquades

Pengisian pelarut melalui pipa sirkulasi


Petroleum benzen
sebanyak 2 sirkulasi

Penungguan hingga 13 sirkulasi

Pengovenan labu selama 6 jam

Peletakan labu dalam desikator 15 menit

Penimbangan labu + lemak (c)

Penghitungan kadar lemak

Gambar 3.2 Diagram Alir Tahapan Pengujian Kadar Lemak


Metode Mikro Soxhlet
D. Hasil dan Pembahasan
Menurut Setiadji (2007), lemak merupakan senyawa organik yang tidak
larut dalam air tetapi larut dalam zat pelarut organik non polar, seperti aseton,
alkohol, eter, benzena, kloroform dan sebagainya. Lemak tersusun atas rantai
hidrokarbon panjang berantai lurus, bercabang, atau membentuk struktur siklis.
Lemak tersusun dari tiga elemen dasar yaitu karbon, hidrogen dan oksigen.
Secara kimiawi, lemak merupakan bagian dari lipida, yang merupakan ester
asam lemak dan gliserol (Muchtadi, 2014). Lemak kasar adalah hasil yang
diperoleh dari proses melarutkan bahan yang mengandung lemak dengan pelarut
organic dimana tidak hanya lemak saja yang terlarut tetapi juga pigmen dan zat
terlarut lainnya (Thiex et al., 2003). Sedangkan menurut Whitaker (1915), lemak
kasar ialah campuran beberapa senyawa yang tidak larut dalam air tetapi larut
dalam pelarut lemak seperti petroleum benzene, ether, karbon tetra klorida dsb.
Senyawa-senyawa yang dimaksud yaitu fosfolipid, sterol, asam lemak bebas,
karotenoid danpigmen lain.
Prinsip uji lemak yaitu melakukan ekstraksi dengan cara melarutkan
minyak atau lemak dalam bahan dengan pelarut organik yang mudah menguap.
Proses ekstraksi biasanya dilakukan dalam wadah (ketel) yang
disebut”extractor”. Pelarut yang biasanya digunakan dalam ekstraksi yaitu:
petroleum eter, benzena, dan alkohol (Munawaroh, 2010). Menurut
Darmasih (1997), metode analisa lipida dibedakan menjadi dua yaitu penetuan
kadar lemak kasar dan spesifik. Penentuan kadar lemak dimana terikut senyawa
selain lemak seperti fosfolipid, sterol, asam lemak bebas, karotenoid, dan
pigmen yang lain disebut penentuan kadar lemak kasar. Penentuan jenis ini
dibedakan menjadi dua yaitu dengan pelarut dan tanpa pelarut. Dengan pelarut
dibedakan menjadi ektraksi kering yang menggunakan soxhlet dan ekstraksi
basah menggunakan metode mojonnier. Sedangkan penentuan kadar lemak
tanpa pelarut menggunakan metode babcock. Analisis lipida spesifik dapat
dilakukan dengan uji libermann-buchard, dan uji Salkowski. Metode ekstraksi
soxhlet merupakan metode analisis kadar lemak secara langsung dengan cara
mengekstrak lemak dan bahan dengan pelarut organuk seperti heksana,
petroleum eter dan dietil eter. Prinsip kerja soxhlet yaitu lemak diekstrak
menggunakan pelarut organik. Setelah pelarutnya diuapkan, lemak dan bahan
dapat ditimbang dan dihitung persentasenya (Andarwulan, 2011).
Menurut Fretz et al., (2007), prinsip kerja dalam analisis lemak dengan
metode soxhlet adalah sampel ditempatkan di ruang ekstraksi dan pelarut
dipanaskan sampai refluks. Ruang ekstraksi Soxhlet dikosongkan saat tingkat
yang ditetapkan tercapai, dengan pelarut mengalir ke gelas panas. Selama setiap
siklus, sebagian senyawa non-volatil (lemak) larut dalam pelarut. Pada akhir
ekstraksi, senyawa yang diinginkan terkonsentrasi di dalam gelas kimia. Sistem
otomatis memiliki sensor tingkat optik dan bukan sebuah sifon, yang
memungkinkan untuk mengeksekusi lebih banyak siklus per jam dan dengan
demikian membuat ekstraksi lebih efisien dan lebih cepat.

Gambar 3.3 Rangkaian alat soxhlet (de Castro et al., 2000)


Menurut Irvan dan Januar (2015) soxhlet memiliki beberapa bagian yaitu
kondensor yanng berfungsi sebagai pendingin dan mempercepat proses
pengembunan. Timbal merupakan bagian alat yang berfungsi untuk menampung
sampel yang diinginkan zatnya. Pipa F adalah bagian alat sebagai tempat
jalannya uap bagi pelarut yang menguap dari proses penguapan. Sifon berfungsi
untuk perhitungan siklus. Apabila sifon penuh dengan larutan kemudian larutan
tersebut jatuh ke alas bulat maka ini dinamakan dengan 1 sirkulasi. Labu alas
bulat berfungsi sebagai wadah bagi sampel dan pelarutnya. Alat ini
menggunakan pemanas berupa hot plate yang berfungsi untuk memanaskan
larutan yang akan diekstrak.
Mie kering adalah mie yang telah dikeringkan hingga kadar airnya
mencapai 8 – 10%. Pengeringan umumnya dilakukan dengan penjemuran
dibawah sinar matahari atau dengan cabinet dryer. Mie kering mempunyai kadar
air rendah sehingga mempunyai daya simpan yang relative panjang dan mudah
penanganannya (Astawan, 1999). Menurut Mahdar, dkk (1991) mie yang baik
adalah mie yang secara kimiawi mempunyai nilai – nilai yang sesuai dengan
persyaratan yang telah ditetapkan oleh Departemen Perindustrian yaitu
berdasarkan penilaian secara kimiawi pada sifat adonan. Bahan baku utama
dalam pembuatan mie adalah tepung terigu. Bahan lainnya terdiri dari air dan
garam-garam seperti NaCl, Natrium karbonat, Kalium karbonat atau Natrium
tripoliphosfat. Air merupakan komponen penting dalam pembentukan gluten,
selain itu juga berfungsi sebagai media dalam pencampuran garam dan
pengikatan karbohidrat sehingga membentuk adonan yang baik. Garam dapur
berfungsi untuh memberi rasa, memperkuat tektur mie dan meningkatkan
elastisitas serta mengurangi kelengketan adonan (Koswara, 2009).
Tabel 3.1 Hasil Penghitungan Kadar Lemak Mie Metode Mikro Soxhlet
Berat Berat sampel Berat botol + Kadar
Sampel Kel. botol (gr) basah (gr) lemak setelah Lemak
(A) (B) dioven (gr) (C) (%)
Mi telur 3 ayam 17,751 1,020 17,751 0
1
– mi bulat
Mi telur 3 ayam 24,853 1,010 24,855 0,198
2
– mi pipih
Mi telur asli 18,148 1,001 18,148 0
3&6
atom bulan
Mi burung dara
– mi telur urai 4&7 24,312 1,001 24,138 0,599
original
Sumber : Laporan Sementara
Berdasarkan Tabel 3.1 diperoleh hasil penghitungan kadar lemak sampel
Mi Telur 3 Ayam – Mi Bulat menurut hasil praktikum adalah sebesar 0%,
sedangkan menurut nutrition fact sebesar 1,429%. Kadar lemak pada sampel Mi
Telur 3 Ayam – Mi Pipih menurut hasil praktikum adalah sebesar 0,198%,
sedangkan menurut nutrition fact sebesar 0,250%. Kadar lemak pada sampel Mi
Telur Asli Atoom Bulan menurut hasil praktikum adalah sebesar 0%, sedangkan
menurut nutrition fact sebesar 0%. Kadar lemak pada sampel Mi Burung Dara –
Mi Telur Urai Original menurut hasil praktikum adalah sebesar 0,599%,
sedangkan menurut nutrition fact sebesar 1,429%. Dari data tersebut, pada
sampel Mi Telur 3 Ayam – Mi Bulat, Mi Telur 3 Ayam – Mi Pipih, dan Mi
Burung Dara – Mi Telur Urai Original kadar lemak berdasarkan percobaan
kurang sesuai atau lebih rendah dari nutrition fact yang tercantum pada kemasan.
Hal tersebut dikarenakan pelarut yang digunakan (benzene) merupakan pelarut
yang sudah lama sehingga memungkinkan daya larutnya menurun. Selain itu,
pelarut benzene tidak dapat mengekstrak dengan baik jika dibandingkan dengan
pelarut n-heksana (Hadi, 2012).
Laju ekstraksi lemak dipengaruhi oleh metode ekstraksi, pelarut yang
digunakan, suhu, dan waktu ekstraksi yang dapat berpengaruh terhadap
konsentrasi dan kualitas lemak yang dihasilkan. Pemilihan pelarut yang tepat
berpengaruh terhadap polaritas yang sesuai dengan jenis lemak yang digunakan
agar reaksi bisa berjalan dengan cepat dan sesuai metode. Suhu menyesuaikan
titik didih dari pelarut yang digunakan sehingga waktu dapat berjalan lebih cepat
dan efektif (Sahriawati, 2016). Dalam penentuan kadar minyak atau lemak,
bahan yang diuji harus cukup kering, karena jika masih basah selain
memperlambat proses ekstraksi (Ketaren, 1986).
Menurut Edokpolo et al. (2015), pelarut yang digunakan pada analisis uji
lemak metode soxhlet ini adalah petroleum benzene atau benzene. Benzene
merupakan cairan tak berwarna pada suhu ruang yang memiliki melting point
sebesar 5,5oC. Densitas benzene ialah 0,87 g/cm3 pada suhu 20oC. Pelarut ini
juga memiliki boiling point yang relatif rendah yaitu pada suhu 80,1oC. Benzene
dalam bentuk gas maupun liquid memiliki sifat flammable sehingga perlu
berhati-hati dalam penggunaan maupun penyimpanannya. Kontak secara
langsung bisa menyebabkan iritasi kulit maupun mata. Dalam jangka panjang
juga bisa menyebabkan kanker. Pada praktikum analisa kadar lemak ini
digunakan pelarut petrolium benzen, fungsi petroleum benzene/eter adalah
untuk mengekstraksi/melarutkan lemak pada bahan karena lemak hanya dapat
larut pada pelarut organik non polar (Murti, 2013). Petroleum benzena dipilih
sebagai pengekstrak didasarkan pada derajat polaritas, dimana derajat polaritas
bergantung pada tetapan dielektrik. Semakin besar tetapan dielektrik suatu
pelarut maka kepolaran akan semakin besar. Nilai tetapan dielektrik petroleum
benzene cukup rendah, yaitu 2,28 sehingga lemak akan terekstrak pada
petroleum benzene (Ayuni, 2013).
Mengetahui kandungan lemak suatu bahan pangan dengan uji lemak
sangat penting dalam pengolahan pangan. Misalnya dalam teknologi pengolahan
roti, lemak penting dalam memberikan konsistensi empuk, halus dan berlapis-
lapis. Bahan lemak dalam teknologi es krim memberikan tekstur lembut dan
lunak. Selain itu dengan mengetahui kadar lemak suatu makanan kita dapat
menentukan akan mengonsumsi makanan tersebut atau tidak, dalam hal ini bagi
mereka yang menderita penyakit obesitas (Sudarmadji, 1996).
Metode analisa kadar lemak pada praktikum analisa pangan yaitu metode
soxhlet. Sahriawati (2016) menyatakan bahwa dalam bidang pangan, metode
soxhlet digunakan untuk menngekstraksi kandungan lemak pada bahan untuk
mengetahui konsentrasi dan kulaitas ekstrak minyak yang dihasilkan. Apabila
diteruskan, hasil ekstraksi lemak dapat dilanjutkan dengan pengukuran kadar
lain, seperti mengetahui pelarut dan suhu yang berpengaruh terhadap
optimalisasi proses ekstraksi minyak ikan. Lestari dan Mayasari (2016)
menyatakan metode soxhlet juga dapat digunakan untuk uji proksimat tempe
jagung fermentasi. Selain itu, mengetahui kadar lemak dalam makanan
diperlukan karena faktor ekonomi untuk menetukan harga jual; aspek legal guna
mematuhi standar/aturan pelabelan nutrisi; aspek kesehatan terutama dalam hal
pengembangan makanan rendah lemak; aspek kualitas jika sifat makanan
berdasarkan kadar lemak total; serta faktor proses dimana proses penanganan
produk juga bergantung pada kadar lemak total (Hidayat, 2012).
E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum Analisa Pangan Acara III Lemak, dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut.
1. Berdasarkan hasil praktikum dengan sampel mie kering, diperoleh nilai kadar
lemak untuk sampel Mi telur 3 ayam – mi bulat yaitu 0%, sampel Mi telur 3
ayam – mi pipih yaitu 0,198%, sampel Mi telur asli atom bulan yaitu 0% dan
sampel Mi burung dara – mi telur urai original yaitu 0,599%. Sedangkan
menurut nutrition fact, nilai kadar lemak untuk sampel Mi telur 3 ayam – mi
bulat yaitu 1,429%, sampel Mi telur 3 ayam – mi pipih yaitu 0,250%, sampel
Mi telur asli atom bulan yaitu 0% dan sampel Mi burung dara – mi telur urai
original yaitu 1,429%.
2. Prosedur analisa lemak metode soxhlet dilakukan dengan cara sampel
dihaluskan dan diayak. Beberapa gram sampel dibungkus dengan kertas
saring. Kemudian kertas saring yang telah berisi sampel ditempatkan di ruang
Soxhlet. Kemudian ditambahkan beberapa ml pelarut. Setelah diekstrak
selama beberapa jam, ekstrak yang dihasilkan dioven pada suhu tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Amelia, Mulyo Riska., Dwinova Nina., Azharman Trisno., S Wittresna Julyanty.,
Nurhalimah Fika Rafika., dan Hariyanti Arifatush yuni. 2005. Analisis
Kadar Lemak Metode Soxhlet (AOAC 2005). Departemen
Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, Bogor, Indonesia.
Andarwulan, N., F.Kusnandar & D. Herawati. 2011. Analisis Pangan. Jakarta: Dian
Rakyat.
Astawan Made, 1999. Membuat mie dan Bihun. Jakarta: Penebar Swadaya.
Ayuni, Ni Putu dan I Nyoman Sukarta. 2013. Isolasi dan Identifikasi Senyawa
Alkaloid pada Biji Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq). Seminar Nasional
FMIPA UNDIKSHA III Tahun 2013.
Budimarwati, C. 2000. Analisis Lipida Sederhana dan Lipida Kompleks. Modul e-
learning.
Darmasih. 1997. Penentapan Kadar Lemak Kassar dalam Makanan Ternak Non-
Ruminansia dengan Metode Kering. Lokakarya Fungsional Non-Peneliti.
de Castro, M. D. Luque and L. E. Garcia Ayuso. 2000. Soxhlet Extraction. USA:
Academic Press.
Edokpolo, Benjamin, Qiming Jimmy Yu 1 and Des Connell. 2015. Health Risk
Assessment for Exposure to Benzene in Petroleum Refinery Environments.
Int. J. Environ. Res. Public Health Volume 12.
Fretz, Claudia Blum., Andreas Baumann, Susanne Feifel. 2007. Fat Determination:
Comparison Between Soxhlet And Hot Extraction Using The Extraction
Units E-812/E-816. BÜCHI Labortechnik AG, Flawil, Switzerland 6 (47).
Gatbonton, Genevive L., Ana Patricia P., Kartina Mariz L dan Marylou M. 2013.
Soxhlet extraction of Philippine Avocado Fruit Pulp Variety 240. Journal
of Food and Nutrition 2(1):1-9.
Hadi, Saiful. 2012. Pengambilan Minyak Atsiri Bunga Cengkeh (Clove Oil)
Menggunakan Pelarut n-Heksana dan Benzena. Jurnal Bahan Alam
Terbarukan 1(2).
Hidayat, Rahmat. 2012. Analisis Makanan. Yogyakarta: UGM Press.
Irvan, Putra B. Manday dan Januar Sasmintha. 2015. Ekstraksi 1,8-Cineole Minyak
Daun Eucalyptus urophylla dengan Metode Ekstraksi Soxhlet. Jurnal Teknik
Kimia USU 4(3).
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak Dan Lemak Pangan. Jakarta: UI
PRESS.
Koswara, Sutrisno. 2009. Teknologi Pengolahan Mie. EbookPangan.com. diakses
pada tanggal 24 April 2018.
Lestari, Oke Anandika., dan Eva Mayasari. 2016. Pengaruh Fermentasi Tempe
Jagung Terhadap Kandungan Protein Dan Karotenoid. Jurnal Teknologi
Pertanian 17(2): 149-154.
Mahdar, D., Indra N, R., Renawa, I., dan Yahya, S 1991. Penelitian Pergantian
Bahan Tambahan Makanan yang Mengandung Borax untuk Pembuatan
Kerupuk dan Mie. Balai Penelitian dan Perkembangan Hasil Pertanian,
Proyek Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian, Bogor.
Muchtadi, Deddy. 2014. Pengantar Ilmu Gizi. Bandung: Penerbit Afabeta.
Munawaroh , Safaatul., dan Prima Astuti handayani. 2010. Ekstraksi Minyak Daun
Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana.
Jurnal Kompetensi Teknik 2(1): 74-75.
Murthi, Sumathi, Nurhayati Zainal Abidin, Ashril Yusof. 2013. Antioxidant
Activity in Crude Petroleum Benzene, Chloroform, Methanol and Water
Extracts of Six Selected Vegetables. Sains Malaysiana 42(9), Page. 53-59.
Novia., Yuliyati, Haerani., dan Yuliandhika, Riska. 2009. Pemanfaatan Biji Karet
sebagai Semi Drying Oil dengan Metode Ekstraksi Menggunakan Pelarut
N-Heksana. Jurnal Teknik Kimia 16(4).
Rais, I.R. 2014. Ekstraksi Andrografolid dari Andrographis paniculata (Burm.f.)
Nees Menggunakan Ekstraktor Soxhlet. Jurnal Pharmaciana 4(1).
Sahriawati. 2016. Optimasi Proses Ekstraksi Minyak Ikan Metode SOxhletasi
Dengan Variasi Jenis Pelarut Dan Suhu Berbeda. Jurnal Galung Tropika
5(3): 164 – 170.
Saputra, Irfan., Ghuzrina, Prihandini., Siti Zulaikah., and Rachimoellah. 2013.
Ekstraksi Senyawa Bioactiv dari Daun Moringa Oleifera. Jurnal Teknik
Pomits 2(1).

Sartika, Ratu Ayu Dewi. 2008. Pengaruh Asam Lemak Jenuh, Tidak Jenuh dan
Asam Lemak Trans terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional 2(4): 154-160.

Setiadji. 2007. Kimia Oraganik. Jember: FTP UNEJ.

Singh, R. Paul, Dennis R. Heldman. 1993. Introduction to Food Engineering.


Academic Press. California. USA.Standar Nasional Indonesia. 1992.
Biskuit. SNI 01-2973-1992.

Sudarmadji, Slamet. 1996. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta:


Penerbit Liberty.

Susanti, Carolina Maria., Ribut Sugiharto, Sri Setyani dan Subeki. 2014. Pengaruh
Jumlah Pelarut Etanol dan Suhu Fraksinasi terhadap Karakteristik Lemak
Kakao Hasil Ekstraksi Non-Alkalized Cocoa Powder. Jurnal Teknologi
Industri dan Hasil Pertanian 19 (2).
Tejasari. 2005. Nilai Gizi Pangan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Thiex, Nancy J., Shirley Anderson., and Bryan Gildemeister. 2003. Crude Fat,
Diethyl Ether Extraction, in Feed, Cereal Grain, and Forage
(Randall/Soxtec/Submersion Method): Collaborative Study. Journal Of
Aoac International 86(5): 888-898.
Wei, Xuan., Di Wu and Yong He. 2012. Non-destructive Measurement of Crude
Fat and Crude Protein Content of Oats from Different Geographical Zones
in China using Visible and Near-Infrared Spectroscopy. African Journal
of Agriculture Research 7 (11).
Wirakusumah. 2007. Kadar Lemak. Jakarta: Penyebar Swadaya. Jakarta.

Whitaker, M. C. 1915. The journal of Industrial and Engineering Chemistry.


LAMPIRAN
1. Perhitungan
𝐿𝑒𝑚𝑎𝑘 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
% Lemak Berdasarkan Kemasan = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑎𝑗𝑖𝑎𝑛 𝑥 100%

2
Sampel A = 𝑥 100% = 1,429%
140

% Lemak Berdasarkan Praktikum =


𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙 & 𝑙𝑒𝑚𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑜𝑣𝑒𝑛−𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙
𝑥 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ

17,751−17,751
Sampel A = 𝑥 100% = 0%
1,020

2. Dokumentasi

Gambar 3.4 Sampel Mie Kering Gambar 3.5 Penimbangan Sampel

Gambar 3.6 Pengekstraksian dengan Soxhlet