Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

“Budidaya Tanaman Kedelai (Glycine max L.)”

DOSEN PENGAMPU :

DISUSUN OLEH :
Eliston Manurung (D1A016135)
Tria Agustin (D1A016136)
Syafa ()

KELAS : L

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kedelai (Glycine maxi L.) merupakan tanaman asli daratan Cina dan telah
dibudidayakan oleh manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan berkembangnya
perdagangan antar negara yang terjadi pada awal abad ke-19, menyebabkan
tanaman kedalai juga ikut tersebar ke berbagai negara yaitu Jepang, Korea,
Indonesia, India, Australia, dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di Indonesia
sejak abad ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di
pulau Jawa, kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau
lainnya.
Indonesia sebagai negara agraris tentu saja memiliki keragaman hayati
yang sangat beragam yang dibuktikan dengan beranekaragam jenis tanaman yang
dapat tumbuh di tanah Indonesia. Tanaman-tanaman tersebut dapat digolongkan
berdasarkan jenisnya yaitu tanaman perkebunan, hortikultura, obat, dan tanaman
pangan. Salah satu jenis tanaman pangan yang banyak dibudidayakan di Indonesia
adalah tanaman kedelai yang memiliki nama latin Glycine max L. yang termasuk
dalam tanaman semusim dan bisa tumbuh baik pada tanah sawah atau lahan
kering.
Tanaman kedelai dipandang penting karena merupakan sumber protein,
nabati, lemak, vitamin dan mineral yang murah dan mudah tumbuh diberbadai
wilayah Indonesia serta kedelai merupakan salah satu jenis tanaman palawija yang
cukup penting setelah kacang tanah dan jagung.
Pengolahan tanah menjadi salah satu komponen yang sangat penting
dalam pengelolaan sumber daya lahan dalam melakukan budidaya tanaman untuk
menciptakan keadaan fisik tanah yang kondusif bagi pertumbuhan dan
perkebangan benih dan akar tanaman serta menekan pertumbuhan gulma.
Sistem budidaya tanaman kedelai dimulai dengan pengolahan tanah, baik
tanpa olah tanah maupun pengolahan tanah intensif. Selanjutnya adalah
penanaman, pemupukan. Nutrisi tanaman berupa unsur hara mikro dan makro
sangat penting bagi masa pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai untuk
menunjang produkstivitas tanaman. Nutrisi tanaman yang berasal dari pupuk tidak
hanya dapat diberikan lewat akar, namun dapat juga diaplikasikan melalui organ
yang lain yaitu daun. Sehingga pemberian nutrisi dan penyerapan nutrisi oleh
tanaman dapat dioptimalkan sehingga tanaman tidak kekurangan unsur hara.
1.2 Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui tekhnik budidaya tanaman kedelai dengan baik dan
benar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kedelai (Glycine max L. Mer) merupakan salah satu komoditi pangan dari
famili leguminoseae yang dibutuhkan dalam pelengkap gizi makanan. Kedelai
memiliki kandungan gizi tinggi yang berperan untuk membentuk sel-sel tubuh dan
menjaga kondisi sel-sel tersebut (Suhardi, 2002).
Tanaman kedelai dipandang penting karena merupakan sumber protein,
nabati, lemak, vitamin dan mineral yang murah dan mudah tumbuh diberbadai
wilayah Indonesia serta kedelai merupakan salah satu jenis tanaman palawija yang
cukup penting setelah kacang tanah dan jagung. Sebagai bahan makanan kedelai
mempunyai kandungan gizi yang tinggi terutama protein (40%), lemak (20%),
karbohidrat (35%) dan air (8%) serta beberapa asam-asam kasein (Suprapto,
1997). Di Indonesia, kedelai banyak diolah untuk berbagai macam bahan pangan,
seperti: tauge, susu kedelai, tahu, kembang tahu, kecap, oncom, tauco, tempe, es
krim, minyak makan, dan tepung kedelai. Selain itu, juga banyak dimanfaatkan
sebagai bahan pakan ternak.
Kedelai merupakan tanaman legum yang kaya protein nabati, karbohidrat
dan lemak. Biji kedelai juga mengandung fosfor, besi, kalsium, vitamin B dengan
komposisi asam amino lengkap, sehingga potensial untuk pertumbuhan tubuh
manusia (Pringgohandoko dan Padmini, 1999). Kedelai juga mengandung asam-
asam tak jenuh yang dapat mencegah timbulnya arteri sclerosis yaitu terjadinya
pengerasan pembuluh nadi (Taufiq dan Novo, 2004).
Kedelai merupakan tanaman sumber protein yang murah, sehingga dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Kebutuhan terhadap
kedelai semakin meningkat dari tahun ketahun sejalan dengan bertambahnya
penduduk dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap makanan berprotein
nabati. Data BPS (2007 dalam Anonim 2008) menyebutkan kebutuhan kedelai
dalam negeri kurang lebih mencapai 2 juta ton/tahun, dimana produksi dalam
negeri tahun 2007 baru mencapai 608.263 ton. Produksi kedelai Nasional dalam 8
tahun terakhir dari tahun 2000 sampai 2007 ternyata mengalami penurunan rata-
rata sebesar 7,20 %.
Menurut Hilman, et al. (2004), proyeksi permintaan kedelai tahun 2018
sebesar 6,11 juta ton, sedangkan produksi kedelai tahun 2003 sekitar 672.000 ton,
padahal produksi tahun 1992 pernah mencapai 1,87 juta ton. Karenanya, tanpa
upaya dan kebijakan khusus, hingga tahun 2018 kebutuhan kedelai nasional tetap
akan bergantung pada impor.

Gambar 1. Tanaman Kedelai


Klasifikasi tanaman kedelai sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Familia : Papilionaceae
Genus : Glycine
Species : Glycine max (L.) Merill
Tanaman kedelai dapat tumbuh baik pada tanah gembur, lembab, dan tidak
tergenang air. Tanaman kedelai memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi
terhadap berbagai jenis tanah. Berdasarkan kesesuaian jenis tanah untuk pertanian
maka tanaman kedelai cocok ditanam pada jenis tanah alluvial, andisol, grumosol,
dan regosol, serta tanah latosol. Menurut Oktaviani dkk, (2013) bercocok tanam
kedelai di lahan kering dapat dilakukan berdasarkan varietas tanaman. Strategi
peningkatan produksi kedelai nasional dapat ditempuh dengan peningkatan
produktivitas atau dengan perluasan areal tanam. Peningkatan produktivitas
kedelai dapat dilakukan dengan cara pengelolaan tanaman secara intensifikasi
pada lahan sawah atau pada lahan kering. Tetapi pengelolaan tanaman di lahan
kering umumnya terkendala oleh ketersediaan air. Salah satu sumber utama air
dilahan kering adalah hujan. Sebaran hujan yang tidak selalu merata, baik
menurut ruang ataupun waktu, menyebabkan kondisi ketersediaan air tanah
berbeda.
Tanaman kedelai menghendaki kondisi tanah yang tidak terlalu basah
tetapi air tanah masih tersedia. Apabila dilihat dari syarat tumbuhnya tanaman
kedelai dapt tumbuh dengan baik pada tanah bertekstur gembur, lembab tidak
tergenang air, dan pada pH 6 – 6,8. Pengolahan tanah menjadi hal yang perlu
diperhatikan karena tujuannya untuk memberikan kondisi yang terbaik bagi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai. Namun, dalam kondisi tertentu
pengolahan tanah malah dapat merugikan karena dapat menyebabkan tekstur
tanah rusak dan mempercepat penguapan air tanah. Pada tanah jenis latosol dan
andosol yang bertekstur gembur, maka diolah dengan sistem tanpa olah tanah atau
TOT (Purwono dan Purnawati. 2007).
Sistem perakaran kedelai terdiri dari dua macam yaitu akar tunggang dan
akar sekunder (serabut) yang tumbuh dari akar tunggang. Kedelai juga sering kali
membentuk akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil. Pada
umumnya, akar adventif terjadi karena cekaman tertentu misalnya kadar air tanah
yang terlalu tinggi (Adisarwanto, 2008).
Batang tanaman kedelai berasal dari poros embrio yang terdapat pada biji
masak. Hipokotil merupakan bagian terpenting pada poros embrio, yang
berbatasan dengan bagian ujung bawah permulaan akar yang menyusun bagian
kecil dari poros bakal akar hipokotil. Bagian atas poros embrio berakhir pada
epikotil yang terdiri dari dua daun sederhana yaitu primordia daun bertiga pertama
dan ujung batang (Sumarno et al., 2007).
Kedelai mempunyai empat tipe daun yaitu kotiledon atau daun biji, dua
helai daun primer sederhana, daun bertiga, dan daun profila. Daun primer
berbentuk oval dengan tangkai daun sepanjang 1—2 cm, terletak berseberangan
pada buku pertama di atas kotiledon. Tipe daun yang lain terbentuk pada batang
utama dan cabang lateral terdapat daun trifoliat yang secara bergantian dalam
susunan yang berbeda. Anak daun bertiga mempunyai bentuk yang bermacam-
macam, mulai bulat hingga lancip (Sumarno et al., 2007)
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
3.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Kedelai
Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Rata -rata
Minggu Ke-
1 2 3
I 34 39,5 40,1 37.86
II 45 47 44 45.33
III 49,3 52 53,7 51.66
IV 52,3 55,6 57,2 55.03

Grafik Tinggi Tanaman Kedelai

70

60

50

40 1

30 2
3
20

10

0
Minggu Ke-1 Minggu Ke-2 Minggu Ke-3 Minggu Ke-4

3.1.2 Tabel Hasil Pengamatan Banyak Daun Tanaman Kedelai


Pengamatan Jumlah Daun Rata-Rata
Minggu Ke- 1 2 3
I 5 8 7 5,4
II 6 11 10 7
III 8 13 12 9
IV 10 16 14 11,2

3.1.3 Tabel Hasil Pengamatan Lebar Daun Tanaman Kedelai


Pengamatan Lebar Daun (cm) Rata-rata
Minggu Ke- 1 2 3
I 5,6 6,3 5,2 5.7
II 6,4 7,2 5,6 6.4
III 6,7 7,6 6,6 6.966667
IV 7,5 8 7,9 7.8
Grafik Lebar Daun Tanaman Kedelai\

25

20

15 3
2
10
1
5

0
Minggu Ke-1 Minggu Ke-2 Minggu Ke-3 Minggu Ke-4

3.1.4 Tabel Hasil Pengamatan Panjang Daun Tanaman Kedelai


Pengamatan Panjang Daun (cm) Rata- rata
Minggu Ke- 1 2 3
I 9,2 8,3 7,5 8.33
II 11,3 10,3 8,1 9.90
III 12 11,8 9 10.93
IV 13,5 13,9 10,5 11.93

Grafik Panjang Daun Tanaman Kedelai

16

14

12

10
1
8
2
6 3
4

0
Minggu Ke-1 Minggu Ke-2 Minggu Ke-3 Minggu Ke-4
3.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada tanaman kedelai.
Dengan menggunakan petakan pada jarak tanam 30x15 cm, pengamatan
dilakukan selama 4 Minggu, dengan menggunakan perlakuan dan terdapat 3
sampel yang akan diamati. Pengukuran pengulangan yang dilakukan setiap
interval 1 Minggu sekali. Dari hasil pengamatan 1 sampai dengan pengamatan 5
yaitu sampai tanaman kedelai berumur 4 minggu dapat dilihat bahwa tanaman
kedelai masih pada stadia pertumbuhan vegetatif yang ditandai dengan
bertambahnya tinggi tanaman dan jumlah daun yang terbentuk. Pada stadia ini
seluruh makanan yang dibentuk oleh tanaman kedelai melalui proses fotosintesis
digunakan oleh tanaman tersebut untuk memacu pertumbuhan batang dan
pembentukan daun. Dibandingkan dengan kedeai tanpa pelakukan maka yang
dengan perlakuan mengalami pertumbuhan vegetatif dan generatif yang lebih baik
Tanah dan iklim merupakan dua komponen lingkungan tumbuh yang
berpengaruh pada pertumbuhan tanaman kedelai. Pertumbuhan kedelai tidak bisa
optimal bila tumbuh pada lingkungan dengan salah satu komponen lingkungan
tumbuh optimal. Hal ini dikarenakan kedua komponen ini harus saling
mendukung satu sama lain sehingga pertumbuhan kedelai bisa optimal.
Selama tanaman kedelai dapat tumbuh baik pada tanah gembur, lembab,
dan tidak tergenang air. Tanaman kedelai memiliki kemampuan beradaptasi yang
tinggi terhadap berbagai jenis tanah. Menurut Oktaviani dkk, (2013) bercocok
tanam kedelai di lahan kering dapat dilakukan berdasarkan varietas tanaman.
Strategi peningkatan produksi kedelai nasional dapat ditempuh dengan
peningkatan produktivitas atau dengan perluasan areal tanam. Tetapi pengelolaan
tanaman di lahan kering umumnya terkendala oleh ketersediaan air. Salah satu
sumber utama air di lahan kering adalah hujan. Sebaran hujan yang tidak selalu
merata, baik menurut ruang ataupun waktu, menyebabkan kondisi ketersediaan air
tanah berbeda.
Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan pertanaman kedelai yaitu
kedalaman olah tanah yang merupakan media pendukung pertumbuhan akar.
Artinya, semakin dalam olah tanahnya maka akan tersedia ruang untuk
pertumbuhan akar yang lebih bebas sehingga akar tunggang yang terbentuk
semakin kokoh dan dalam.
Pengolahan tanah bertujuan untuk menciptakan daerah perakaran yang
baik untuk pertumbuhan tanaman. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa
pola pegolahan tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil
produksi tanaman (Dogbe et al, 2013).
Pupuk merupakan faktor penting yang mendukung pertumbuhan hasil
tanaman kedelai yang menjadi permasalahan saat ini. Kemudian kendala produksi
yang sangat menonjol adalah curah hujan yang tidak merata pada awal
pertumbuhan dan terlalu banyak air pada saat panen.
Upaya meningkatkan hasil tanaman kedelai dapat dilakukan melalui
pemanfaatan teknologi budidaya yang antara lain dengan beberapa pemberian
perlakuan pupuk hayati seperti bakteri penambat unsur N (nitrogen) yang
berpotensial untuk meningkatkan kesuburan tanah dan bakteri Endofitik.
Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk hayati
terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Menurut Misran (2013),
menerangkan bahwa rhizobium yang tumbuh dalam bintil akar leguminose
mengambil nitrogen langsung dari udara dengan aktifitas bersama sel tanaman
dan bakteri, nitrogen itu disusun manjadi senyawa seperti asam amino dan
polipeptida yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan, bakteri dan tanah
sekitarnya.
Budidaya tanaman kedelai merupakan suatu upaya memenuhi kebutuhan
pangan untuk memenuhi ketersediaan bahan baku makanan. Sitem budidaya yang
dilakukan untuk mendukung produktivitas tanaman, maka sistem budidaya harus
dilakukan dengan baik. Sistem budidaya yang baik untuk tanaman kedelai yang
umum dilakukan sesuai karakteristiknya adalah sebagai berikut.
1. Penyiapan bahan tanam/benih.
Benih disiapkan dengan cara melakukan seleksi benih dengan menentukan
kadar airnya, mutu benihnya, dan daya berkecambahnya serta daya
produktivitasnya. Benih dapat disiapkan dengan cara direndam untuk memecah
masa dormansi benih. benih yang adakan dijadikan bahan tanam harus memenuhi
syarat yaitu bersih, bernas, daya kecambah tinggi dan aman dari gangguan
organisme pngganggu tanaman.
2. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu pengolahan tanah
tanpa olah tanah (TOT) dan pengolahan tanah intensif. Persiapan tanam dilakukan
dengan menggunakan cangkul. Tanah yang sudah diolah dibarkan selam 5-7 hari.
Pencangkulan kedua dilakukan untuk meratakan, pengolahan tanah,
menggemburkan, dan membersihkan tanah dari gulma. Tanah dengan kemasaan
kurang dari 5,5 perlu dilakukan pengapuran untuk menghasilkan hasil tanam yang
baik. pengapuran dapat dilakukan sebulan sebelum musim tanam.
3. Penanaman
Setelah tahap penyediaan benih dan pengolahan tanah dilakukan baru
benih atau bibit kedelai ditanam pada lahan yang sudah diolahPenanaman kedelai
paling baik pada akhir musim hujan dan jumlah bibit yang dimasukkan dalam
lubang tanam antara 2-3 biji per lubang tanam dengan jarak tanam yang
digunakan adalah 20 x 20 cm.
4. Pemupukan
Pemupukan merupakan penambahan unsur hara esensial yang dibutuhkan
oleh tanaman untuk pertumbuhannya. Pemupukan yang diberikan pada tanaman
kedelai pupuk kandang yang dilakukan sebelum penanaman.
5. Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan meliputi berbagai kegiatan seperti penyiangan
gulma, yaitu dilakukan apabila ada gangguan gulma penyiangan dapat dilakukan
pada tanaman berumur 1 minggu sebelum panen. Penyulaman merupakan
kegiaatan perawatan tanaman untuk mengganti tanaman-tanaman yang mati
akibat hama dan penyakit atau faktor lain. Pengairan salah satu pemeliharaaan
yang diaplikasikan pada tanama kedelai, karena tanaman kedelai menghendaki
tanaman yang lembab. Selain itu pemeliharaan kedelai dapat dilakukan
pemupukan, pengendalian hama dan penyakit tanaman.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum dan pembahasan yang telah diuraikan dapat
disimpulkan bahwa:
1. Pengamatan pertumbuhan tanaman secara vegetative melalui parameter
tinggi tanaman, panjang daun, dan jumlah daun sangat penting dilakukan
untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman yaitu
faktor genetic dan lingkungan.
2. Tanaman kedelai memerlukan unsur hara yang cukup agar pertumbuhan
tanaman lebih optimal baik unsure hara mikro maupun makro.

5.2 Saran
Penulis menyarankan agar dalam melakukan budidaya tanaman selalu
memperhatikan jenis pupuk, cara pemupukan, takaran dosis pupuk, pengairan,
pola tanam serta pemilihan varietas yang unggul khususnya tanaman pada
tanaman pangan kedelai agar produksi semakin meningkat baik kualitas maupun
kuantitasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2001. Kedelai. http://www.warintek.bantul.go.id{Diakses pada tanggal
03 Desember 2018, pukul : 21.01WIB}
Arsyad, D.M. dan M. Syam. 1998. Kedelai. Sumber Pertumbuhan produksi dan
Teknik Budidaya. Edisi Revisi. Puslitbangtan. 30 hlm.
Hidayat, O. D. 1985. Morfologi Tanaman Kedelai. Hal 73-86. Dalam S.
Somaatmadja et al. (Eds.). Puslitbangtan. Bogor.
Rukmana, S. K. dan Y. Yuniarsih. 1996. Kedelai, Budidaya Pasca Panen. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta. 92 hal.
Suprapto. 1997. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya.

Ridwan, N.A. 2017. PENGARUH DOSIS PUPUK MAJEMUK NPK DAN


PUPUK PELENGKAP PLANT CATALYST TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI (Glycine max (L.)
Merill). Universitas Lampung. Bandar Lampung. Diunduhpadatanggal 7
Desember 2018.
Rianto, Agus. 2006. RESPONS KEDELAI (Glycine max (L.) Merril)
TERHADAP PENYIRAMAN DAN PEMBERIAN PUPUK FOSFOR
BERBAGAI TINGKAT DOSIS. SEKOLAH TINGGI ILMU
PERTANIAN DHARMA WACANA METRO. Diunduhtanggal 7
Desember 2018.
Nur, Muhammad. 2014. IDENTIFIKASI TINGKAT TOLERANSI TERHADAP
CEKAMAN CAHAYA PADA BEBERAPA VARIETAS KEDELAI
(Glycine max (L.) Merrill). FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
TEUKU UMAR MEULABOH. Aceh Barat
LAMPIRAN