Anda di halaman 1dari 6

I.

Identitas Diri
Nama : I Made Reynaldo
NIM : 1703511096
Fakultas/Prodi : Peternakan/Peternakan
Perguruan Tinggi : Universitas Udayana
II. Judul Esai
Refleksi Sumpah Pemuda dan Rekonsiliasi Nasional
III. Pendahuluan
Lahirnya sumpah pemuda adalah dalam rangka mwujudkan
persatuan dan kesatuan antarorganisasi kepemudaan yang sudah ada,
maka dimulaikah pertemuan antar organiasi sejak 1920. Namun pada saat
itu mereka belum menemukan solusi yang tepat karena berbeda landasan
pemikiran.
Pada tanggal 15 November 1925 diadakan Kongres
Pemuda untuk membahas panitia pelaksanaan kesepakatan bersama. Dan
pada tanggal 30 april 1926 organisasi pemuda berkumpul dan
melaksanakan rapat Kongres Pemuda I. Kongres ini berhasil merumuskan
dasar-dasar pemikiran bersama yaitu :
1. Kemerdekaan Indonesia merupakan Cita-cita bersama seluruh
pemuda di Indonesia.
2. Seluruh Organisasi kepemudaan bertujuan untuk menggalang
persatuan
Para pemuda kemudian menyelenggarakan Kongres Pemdua II
pada tanggal 26 sampai 28 oktober. Sayang pada kongres ini sempat erjadi
insiden dimana pemimpin rapat tidak diperkenankan menyebut tentang
kemerdekaan Indonesia. Mereka merasa dipersulit dan banyak dari
mereka yang dipenjara dan diasingkan ke daerah terpencil.
Pada 28 oktober 1928 yaitu hari terakhir kongres pemuda II
akhirnya sumpah pemuda lahir. Mohammad Yamin membuat inti sari
selruh isi kongres. Dari inti sari itulah lahir perumusan sumpah pemuda
yang disetujui seluruh peserta kongrres pemdua II.
Sumpah Pemuda 1928 Berbunyi : Pertama , Kami Putera dan
puteri indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah indonesia.
Kedua, Kami putera dan puteri indonesia mengaku berbangsa yang satu,
bangsa indonesia. Ketiga, Kami putera dan puteri indonesia menjunjung
bahasa persatuan, bahasa indonesia.

IV. Isi

Meskipun sudah 84 tahun berlalu, Sumpah Pemuda tetap relevan


untuk kita refleksikan bersama mengingat kondisi dan permasalahan
bangsa, khususnya terhadap para pemuda sekarang. Pemuda adalah
tonggak sejarah sebuah bangsa. Hal ini diamini oleh Ben Anderson,
seorang Indonesianis, dalam bukunya Java in a Time of Revolution:
Occupation & Resistance (1944-1946), bahwa sejarah Indonesia adalah
sejarah pergerakan pemuda.

Sederetan penggerak perjuangan bangsa rata-rata adalah pemuda.


Kartini ketika menyuarakan Cri de Coueur (jeritan hati nurani) berusia 20
tahunan. Soekarno juga baru berusia 26 tahun ketika menjadi pemimpin
Partai Nasional Indonesia. Tan Malaka mulai aktif di pergerakan saat
berusia 16 tahun. Mohammad Hatta belum genap 25 tahun usianya saat
mendirikan Perhimpunan Indonesia di Belanda. Begitu juga Sutomo,
Gunawan Mangunkusumo beserta tokoh-tokoh yang lain mendirikan
Boedi Oetomo saat berusia 20-25 tahun. HOS Tjokroaminoto saat
memimpin Syarikat Islam juga berusia 25 tahun. Wikana, Chaerul Saleh,
dan Soekarni saat memaksa Soekarno memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia juga berusia 25-30 tahun.

Pemuda pada masa-masa tahun 1928 merupakan pemuda yang


bangkit rasa nasionalismenya. Lalu mereka yang berasal dari latar
belakang beragam organisasi seperti Jong Java, Jong Batak, Jong Ambon,
Jong Islamiten Bond, Jong Celebes, Jong Sumatera, Jong Borneo, dll.,
merasa terpanggil untuk melakukan rekonsiliasi dan bersatu melawan
penjajah.

Sebelumnya, mereka terkotak-kotak ke dalam organisasi pemuda


kesukuan tersebut. Mereka masing-masing berjuang dengan corak
perlawanan kedaerahan. Hal inilah yang justru memperlemah kekuatan
sehingga Kolonial Belanda dengan mudah mematahkan perlawanan-
perlawanan mereka.

Kemudian mereka tersadarkan, bahwa perjuangan membutuhkan


sebuah kekuatan besar. Dan kekuatan besar tersebut tidak akan muncul
jika mereka terpecah-belah karena perbedaan primordial yang ada. Maka
dari itu, mereka merasa sangat penting untuk segera melakukan
rekonsiliasi dan melupakan luka-luka perpecahan yang pernah ada.
Kesadaran itu mereka tuangkan dalam bentuk Sumpah Pemuda, yaitu
sebuah kesadaran dan pengakuan berbangsa, bertanah air dan berbahasa
yang satu; Indonesia.

Bangsa, tanah air dan bahasa yang satu

Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan bahasa.


Keanekaragaman ini menjadi kekuatan manakala kita semua bersatu;
Mengakui tanah air yang satu tanah air Indonesia dan menjunjung tinggi
bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dan hal itu telah dipelopori
oleh para pemuda pada tahun 1928 tadi.

Namun fakta hari ini tidak merefleksikan hal itu. Pemuda, yang
seharusnya menjadi tulang punggung dan problem solver bangsa, malah
menjadi bagian dari problem maker. Betapa tidak, banyak pemuda kini
yang terkena narkoba, melakukan seks bebas, tindakan premanisme dan
tawuran. Komisi Nasional Perlindungan Anak menyatakan bahwa
sepanjang enam bulan pertama tahun 2012 ada 139 kasus tawuran pelajar,
12 di antaranya menyebabkan kematian, meningkat dari tahun sebelumnya
yang mencapai 128 kasus.
Dalam dunia politik pun banyak pemuda yang malah terjerat kasus
korupsi. Alih-alih memberi solusi bagi bangsa ini, mereka malah sibuk
dengan kepentingan kelompoknya sendiri. Ormas-ormas pemuda pun
berpecah belah. Bahkan ada ormas pemuda yang mengalami dualisme
kepemimpinan. Sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri atas kondisi
pemuda hari ini.

Kemudian jika kita tilik Bahasa Indonesia, nasibnya kurang lebih


sama. Bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa pemersatu, kebanggaan dan
eksistensi kebangsaan. Namun faktanya, sangat jauh panggang dari pada
api. Nilai terendah dalam Ujian Nasional adalah mata pelajaran bahasa
Indonesia. Beberapa kasus malah nilai Bahasa Inggris lebih tinggi dari
nilai Bahasa Indonesia. Hal ini merefleksikan bahwa pemuda masa kini
tidak lagi peduli dengan Bahasa Indonesia.

Bahasa yang berkembang sekarang justru bahasa gaul dan "alay"


yang meracuni gaya berbahasa para pemuda. Banyak istilah asing yang
kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa
Indonesia saja sampai saat ini telah memasuki edisi ke-4 yang memuat
90.000 lema. Edisi perdananya memuat sekitar 62.000 lema (1988), edisi
ke-2 memuat sekitar 72.000 lema (1991), edisi ke-3 memuat sekitar
78.000 lema (2001). Meningkatnya kosa kata dalam setiap edisi tersebut
menunjukkan bahwa bahasa Indonesia cukup dinamis perkembangannya.

Rekonsiliasi pemuda

Mengingat permasalahan-permasalahan di atas, perlu adanya


langkah nyata pemuda untuk melakukan sebuah rekonsiliasi nasional.
Lupakanlah dendam dan luka-luka di antara kita. Perbedaan adalah suatu
keniscayaan, sedangkan persatuan adalah sebuah keharusan. Rekonsiliasi
menjadi langkah awal menuju ke sana.

Pemuda merupakan aset bangsa. Setidaknya ada 3 fungsi penting


pemuda, yaitu sebagai agen perubahan, sebagai iron stock (cadangan masa
depan), dan sebagai kekuatan moral intelektual. Hendaknya, hal inilah
yang harus ditanamkan dalam jiwa para pemuda pada rekonsiliasi tersebut.

Pemuda adalah agen perubahan. Hasan al Banna, seorang tokoh


pergerakan Mesir, pernah berkata: "Dalam setiap kebangkitan sebuah
peradaban di belahan dunia manapun, maka akan kita jumpai bahwa
pemuda adalah salah satu rahasianya." Pemuda hari ini adalah generasi
pemimpin bangsa 10 hingga 20 tahun yang akan datang. Karena itu juga
harus memiliki kekuatan moral dan intelektual. Sebuah pepatah berbunyi:
"Sesungguhnya di tangan dan langkah pemudalah urusan dan hidupnya
sebuah bangsa."

Jika hal tersebut telah tertanamkan dalam jiwa para pemuda, maka
kesadaran bersama seperti ketika Sumpah Pemuda tahun 1928 juga akan
bangkit kembali. Akan timbul kesadaran bahwa mereka tidak boleh
terpecah-belah hanya karena sekat-sekat primordial seperti ras, kelompok,
agama dan aliran ideologi.Jangan sampai para pemuda dipecah belah oleh
pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mari hapuskan dendam.
Hapuslah luka-luka yang ada. Dan mari bergandengan tangan. Kemajuan
dan masa depan bangsa ada di pundak para pemuda. Mari kita pikul
bersama. Karena itu, rekonsiliasi pemuda, sangat mendesak untuk
dilakukan.

V. Kesimpulan
Sumpah Pemuda sangat besar pengaruhnya bagi bangsa Indonesia. Rasa
persatuan dan kesatuan semakin tebal yang semakin meluas tidak hanya
dikalangan pemuda saja tetapi juga dikalangan masyarakat luas. Sifat
kedaerahan yang sebelumnya sangat kuat menjadi berganti dengan sifat
Nasionalisme yang mengakar pada semangat persatuan untuk terwujudnya
bangssa Indonesia yang merdeka dari belenggu penjajahan. Kita juga tidak
boleh membeda bedakan satu dengan yang lainnya karena kita semua
dalam darah yang satu dan tanah air indonesia, Kita juga harus bangga
dengan keragaman yang kita miliki, seperti kata dalam Bhinneka Tunggal
Ika, Walaupun kita berbeda tetapi tetap satu, kata satu yaitu satu darah,
satu tanah air dan satu bangsa.
VI. Daftar Pustaka
https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-
warga/wacana/12/10/24/mce67n-refleksi-sumpah-pemuda-rekonsiliasi-
nasional
https://www.academia.edu/32896285/MAKALAH_LATAR_BELAKA
NG_SUMPAH_PEMUDA_and_MAKNA_IKRAR_SUMPAH_PEMUD
A_PERTAMA