Anda di halaman 1dari 10

PANDUAN TATA RUANG PENYIMPANAN

REKAM MEDIS

Jl Gelatik No 1 Rt O6 Rw 01 Kel Sawah Kec.Ciputat Tangereang Selatan


Email : Puskesmaskpsawah@gmail.com, Tlp 021-74700060
web.www.puskesmaskpsawah@wordpress.com
TATA RUANG PENYIMPANAN REKAM MEDIS

A. KONSEP REKAM MEDIS

 Pengertian Rekam Medis


Menurut Dirjen Yanmed (2006 : 11) Rekam Medis adalah keterangan baik yang tertulis
maupun yang terekam tentang identitas, anamnesa,penentuan fisik laboraturium,diagnosa
segala pelayanan, dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien serta pengobatan baik di
rawat inap,rawat jalan, maupun yang mendapatkan pelayanan darurat.

Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas
pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada
pasien. (Peraturan Menteri Kesehatan No.269/Menkes/Per/III/2008).
Rekam Medis adalah fakta yang berkaitan dengan keadaan pasien, riwayat penyakit, dan
pengobatan masa lalu serta saat ini yang ditulis oleh profesi kesehatan yang memberikan
pelayanan kepada pasien tersebut.(Rustiyanto, 2009 : 6).

B. KEGUNAAN REKAM MEDIS

Menurut Dirjen Yanmed (2006 : 13) Kegunaan Rekam Medis dapat dilihat dari beberapa aspek,
antara lain:

1. Aspek Administrasi
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai administrasi, karena isinya menyangkut tindakan
berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan paramedis
dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan.

2. Aspek Medis
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai medis, karena catatan tersebut dipergunakan
sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada seorang
pasien.

3. Aspek Hukum
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai hukum, karena isinya menyangkut masalah
adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan, dalam rangka penegakan hukum serta
penyediaan bahan tanda bukti untuk penegakan keadilan.

4. Aspek Keuangan
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai uang, karena
isinya mengandung data/informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek keuangan.

5. Aspek Penelitian
Suatu berkas Rekam Medis Rekam Medis mempunyai nilai penelitian, karena isinya
menyangkut data/informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan.

6. Aspek Pendidikan
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai pendidikan, karena isinya menyangkut
data/informasi tentang perkembangan kronologis dan kegiatan pelayanan medis yang diberikan
kepada pasien dan digunakan sebagai bahan/referensi pengajaran dibidang profesi pemakai.
7. Aspek Dokumensi
Suatu berkas Rekam Medis mempunyai nilai dokumentasi, karena isinya menyangkut sumber
ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan pertanggungjawaban dan
laporan Rumah Sakit.

C. DASAR HUKUM REKAM MEDIS

1. UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan


2. UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. PP No. 10 tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran
4. UU No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
5. UU No.36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
6. PERMENKES No.269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis
7. Permenkes RI No.134/1978 tentang struktur Organisasi dan Tata kerja Rumah Sakit Umum
dimana antara lain disebutkan bahwa salah satu sub bagian adalah pencatatan medis
8. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI No. 30 Tahun
2013 tentang Jabatan Fungsional Perekam Medis dan Angka kreditanya.
9. PERMENKES RI No.129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah
Sakit.
10.Surat edaran Direktur Jendral pelayanan medik No.HK.00.06.1.5.01160 tanggal 21 Maret 1995
tentang petunjuk teknis pengadaan formulir Rekam Medis dasar dan pemusnahan Arsip Rekam
Medis di Rumah Sakit.

D. PERTANGGUNG JAWABAN TERHADAP REKAM MEDIS


Menurut Rustiyanto (2009 : 29 ) mengenai pertanggung jawaban terhadap rekam Medis yaitu
Rumah sakit bertanggung jawab untuk melindungi informasi yang ada di dalam Rekam Medis
terhadap kemungkinan hilangnya keterangan ataupum memasukkan data yang ada didalam Rekam
Medis atau dipergunakan oleh orang yang semestinya tidak diberi izin. Adapun tanggung jawab
itu di beban kan kepada :

1. Tanggung jawab dokter yang merawat


Tanggung jawab utama akan kelengkapan Rekam Medis terletak pada dokter yang merawat.
Dokter mengemban tanggung jawab terakhir akan kelengkapan dan kebenaran isi Rekam
Medis.
2. Tanggung jawab petugas Rekam Medis
Petugas Rekam Medis, membantu dokter yang merawat dalam mempelajari kembali Rekam
Medis. Analisis dari kelengkapan isi Rekam Medis dimaksudkan untuk mencari hal – hal yang
kurang dan masih diragukan, dalam rangka membantu dokter dalam menganalisis kembali
Rekam Medis, petugas Rekam Medis harus melakukan analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif.
3. Tanggung jawab Pimpinan Rumah Sakit
Pimpinan Rumah Sakit bertanggung jawab menyediakan fasilitas unit rekam Medis yang
meliputi ruangan, peralatan, dan tenaga yang memadai.Dengan demikian petugas Rekam
Medis dapat bekerja secara efektif.
4. Tanggung jawab mahasiswa Praktek
Dalam kegiatan praktek kerja lapangan di wajibkan mahasiswa kesehatan untuk selalu
bertanggung jawab dan menjaga kerahasiaan isi Rekam Medis .

E. SISTEM PENYIMPANAN REKAM MEDIS

 Penyimpanan Rekam Medis


Menurut Sugiarto,ac-Wahyono, (2005:51) “sistem penyimpanan adalah sistem yang
digunakan pada penyimpan dokumen agar kemudahan kerja penyimpanan dapat diciptakan
dan penemuan dokumen yang sudah disimpan dapat dilakukan dengan cepat bilamana
dokumen tersebut sewaktu–waktu dibutuhkan”.

Kegiatan penyimpanan Rekam Medis merupakan usaha melindungi rekam medis dari
kerusakan fisik dan isi dari rekam medis itu sendiri. Rekam medis harus disimpan dan dirawat
dengan baik karena rekam medis merupakan harta benda rumah sakit yang sangat berharga.
Prosedur penyimpanan adalah langkah–langkah pekerjaan yang dilakukan sehubungan
dengan akan disimpannya suatu dokumen. Sebelum menentukan suatu sistem yang akan
dipakai perlu terlebih dahulu mengetahui bentuk pengurusan penyimpanan yang ada dalam
pengelolaan rekam medis. Ada dua cara pengurusan penyimpanan dalam penyelenggaraan
Rekam medis (Depkes,1997:76) yaitu :

1. Sentralisasi
Sentralisasi adalah penyimpanan rekam medis pasien dalam satu kesatuan baik catatan
kunjungan poliklinik maupun catatan selama seorang pasien dirawat, disimpan pada satu
tempat yaitu bagian rekam medis.

 Kebaikan sistem sentralisasi adalah :


 Dapat mengurangi terjadinya duplikasi dalam pemeliharaan dan penyimpanan
rekam medis.
 Mudah menyeragamkan tata kerja, peraturan dan alat yang digunakan.
 Efisiensi kerja petugas.
 Permintaan akan rekam medis mudah dilayani setiap saat.
 Kelemahannya adalah :
 Perlu waktu dalam pelayanan rekam medis.
 Perlu ruangan yang luas, alat-alat dan tenaga yang banyak terlebih bila tempat
penyimpanan jauh terpisah dengan lokasi penggunaan rekam medis, misalnya
dengan poliklinik.
2. Desentralisasi
Desentralisasi adalah penyimpanan rekam medis pada masing-masing unit pelayanan.
Terjadi pemisahan antara rekam medis pasien poliklinik dengan rekam medis pasien
dirawat. Rekam medis poliklinik disimpan pada poliklinik yang besangkutan, sedangkan
rekam medis pasien dirawat disimpan dibagian rekam medis.

 Kebaikan sistem desentralisasi adalah :


 Efisiensi waktu, dimana pasien mendapat pelayanan
lebih cepat.
 Beban kerja yang dilaksanakan petugas rekam medis
lebih ringan.
 Pengawasan terhadap rekam medis lebih mudah karena lingkungan lebih
sempit.
 Kelemahannya adalah :
 Terjadi duplikasi dalam pembuatan rekam medis sehingga informasi tentang
riwayat penyakit pasien terpisah.
 Biaya yang diperlukan untuk pengadaan rekam medis, peralatan dan ruangan
lebih banyak.
 Bentuk atau isi rekam medis berbeda.
 Menghambat pelayan bila rekam medis dibutuhkan oleh unit lain.
F. KETENTUAN PENYIMPANAN REKAM MEDIS

1. Pada saat rekam medis dikembalikan ke unit rekam medis, sebelumnya harus di sortir menurut
nomor rekam medis sebelum di simpan. Hal ini membantu dn mempermudah petugas
penyimpanan pada saat pencarian rekam medis.
2. Hanya petugas rekam medis yang di perbolehkan menangani rekam medis, pengecualian
diberikan kepada pegawai rumah sakit yang bertugas pada sore dan malam hari. Dokter, staf
rumah sakit, pegawai dari bagian lain tidak diperkenankan mengambil rekam medis dari tempat
penyimpanan.
3. Pada waktu sore dan malam hari petugas dibagian poloklinik dan ruang rawat inap akan
mengawasi peraturan dimana harus menyimpan rekam medis pada tempat yang telah di
tentukan di unit rekam medis dan bagian lainnya.
4. Pengamatan terhadap penyimpanan harus dilakukan secara priodik, untuk menemukan salah
simpan dan menemukan kartu pinjam yang rekam medisnya belum dikembalikan.
5. Petugas penyimpanan harus memelihara kerapian dan keteraturan rak–rak penyimpanan yang
menjadi tanggung jawab.

 Tujuan Penyimpanan Dokumen Rekam Medis


1. Menjaga kerahasiaan dokumen rekam medis.
2. Mempunyai arti penting sehubungan dengan riwayat penyakit seseorang guna menjaga
kesinambungan rekam medis.
3. Mempermudah pengambilan kembali dokumen.
4. Mempermudah dan mempercepat penemuan kembali dokumen rekam medis yang di simpan
di rak penyimpanan.
5. Melindungi dokumen rekam medis dari bahaya pencuri, kerusakan fisik, kimiawi, maupun
biologi.

 Tata Cara Pengambilan Rekam Medis


Pengambilan rekam medis juga memiliki tata cara tertentu. Adapun tata cara pengambilan
rekam medis pasien yang dibutuhkan dari ruang penyimpanan rekam medis menurut (Dep. Kes,
1991 : 27) adalah sebagai berikut:

1. Pengeluaran rekam medis


Ketentuan pokok yang harus ditaati di tempat penyimpanan adalah :

 Rekam medis tidak boleh keluar dari ruangan reka medis, tanpa tanda keluar/kartu
permintaan.
 Apabila rekam medis dipinjam, wajib dikembalikan dalam keadaan baik dan tepat
waktunya. Seharusnya setiap rekam medis kembali lagi keraknya pada setiap akhir kerja
pada hari yang bersamaan.
 Rekam medis tidak di benarkan diambil dari rumah sakit, kecuali atas perintah
pengadilan
 Permintaan rutin terhadap rekam medis yang datang dari poliklinik, dari dokter yang
melakukan riset, harus diajukan kebagian rekam medis setiap hari pada jam yang telah
ditentukan. Petugas harus menulis dengan benar dan jelas nama pasien dan nomor rekam
medisnya.
2. Petunjuk Keluar (Outguide)
Petunjuk keluar adalah suatu alat yang penting untuk mengawasi penggunaan rekam
medis. Petunjuk keluar ini digunakan sebagai pengganti pada tempat rekam medis yang
diambil dari rak penyimpanan dan tetap berada di rak tersebut sampai rekam medis yang
diambil kembali.
3. Kode warna untuk map (sampul) rekam medis
Kode warna adalah untuk memberikan warna tertentu pada sampul, untuk mencegah keliru
simpan dan memudahkan mencari map yang salah simpan. Garis-garis warna denga posisi
yang berbeda pada pinggiran folder, menciptakan bermacam-macam posisi warna yang
berbeda-beda untuk tiap section penyimpanan rekam medis. Terputusnya kombinasi
warna dalam satu seksi penyimpanan menunjukkan adanya kekeliruan menyimpan. Cara
yang digunakan adalah 10 macam warna untuk 10 angka pertama dari 0 sampai 9.

G. RUANGAN PENGELOLAAN REKAM MEDIS

Lokasi ruangan rekam medis harus dapat memberi pelayanan yang cepat kepada seluruh
pasien, mudah dicapai dari segala penjuru dan mudah menunjang
pelayanan administrasi.Alat penyimpanan yang baik, penerangan yang baik, pengaturan suhu
ruangan, pemeliharaan ruangan, perhatian terhadap faktor keselamatan petugas, bagi suatu ruangan
penyimpanan rekam medis sangat membatu memelihara dan mendorong kegairahan kerja dan
produktivitas pegawai.Penerangan atau lampu yang baik, menghindari kelelahan
penglihatan petugas.Perlu diperhatikan pengaturan suhu ruangan, kelembaban, pencegahan debu
dan pencegahan bahaya kebakaran.

H. RUANG PENYIMPANAN REKAM MEDIS

Ruang penyimpanan rekam medis harus dapat memberi pelayanan yang cepat kepada
seluru pasien, mudah dicapai dari segala tempat dan mudah
menunjang administrasi.Ruang penyimpanan yang baik, pengaturan suhu ruangan, pemeliharaan
ruangan, perhatian terhadap keselamatan petugas.Ruang penyimpanan rekam medis sangat
membantu dalam memelihara dan mendorong kegairahan kerja dan produktivitas pegawai yang ada
di ruang penyimpanan rekam medis. Ruang penyimpanan harus memperhatikan hal – hal sebagai
berikut :
1. Untuk suhu udara di ruang penyimpanan rekam medis berkisar antara 18-28 ˚C sedangkan
kelembaban 50 % – 65 %, karena Indonesia negara tropis. Pemasangan air condition (AC) juga
bisa mengurangi banyaknya debu.
2. Menurut Kepmenkes No.1405 tahun 2012 tentang pencahayaan, pencahayaan adalah jumlah
penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara
efektif. Intensitas cahaya diruang kerja minimal 100 lux. Agar pencahayaan alami di ruang
penyimpanan memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan suatu tindakan sebagai berikut
:
 Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak menimbulkan kesilauan dan
memiliki intensitas sesuai dengan kebutuhannya.
 Kontras sesuai kebutuhan, hindarkan terjadinya kesilauan atau bayangan.
3. Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang optimum dan bola lampu sering
dibersihkan.
 Bola lampu yang mulai tidak berfungsi dengan baik untuk segera diganti.
4. Ruangan hendaknya terhindar dari serangan hama, perusak atau pemakan kertas arsip, antara
lain jamur, rayap, ngengat.
5. Ruangan penyimpanan arsip sebaiknya terpisah dari ruangan kantor lain untuk menjaga
keamanan arsip-arsip tersebut mengingat bahwa arsip tersebut sifatnya rahasia, mengurangi
lalu lintas pegawai lainnya, dan menghindari pegawai lain memasuki ruangan sehingga
pencurian arsip dapat dihindari. (Wursanto, 1991 : 221).
6. Alat penyimpanan rekam medis yang umum dipakai adalah rak terbuka (open self file unit),
lemari lima laci (five-drawer file cabinet), dan roll o’pack. Alat ini hanya mampu dimiliki oleh
rumah sakit tertentu karena harganya yang sangat mahal. Rak terbuka dianjurkan
7. karena harganya lebih murah, petugas dapat mengambil dan menyimpan rekam medis lebih
cepat, dan menghemat ruangan dengan menampung lebih banyak rekam medis dan tidak terlalu
makan tempat. Harus tersedia rak-rak penyimpanan yang dapat diangkat dengan mudah atau
rak-rak beroda .
8. Jarak antara dua buah rak untuk lalu lalang, dianjurkan selebar 90 cm. Jika menggunakan lemari
lima laci dijejer satu baris, ruangan lowong didepannya harus 90 cm, jika diletakkan saling
berhadapan harus disediakan ruang lowong paling tidak 150 cm, untuk memungkinkan
membuka laci-laci tersebut. Lemari lima laci memang tampak lebih rapi dan rekam medis
terlindungdari debu dan kotoran dari luar. Pemeliharaan kebersihan yang baik, akan
memelihara rekam medis tetap rapi dalam hal penggunaan rak-rak terbuka. Faktor-faktor
keselamatan harus diutamakan pada bagian penyimpanan rekam medis. (Dep.Kes, 1991 : 24).

I. LUAS RUANGAN PENYIMPANAN REKAM MEDIS

Kebanyakan di Indonesia untuk beberapa rumah sakit, didalam ruang penyimpanan berkas rekam
medis masih banyak memanfaatkan ruangan bekas atau bangunan lama, sehingga luas tempat
ruangan penyimpanan tidak diperhitungkan, untuk beberapa rak atau almari yang nantinya akan
digunakan didalam ruang penyimpanan berkas rekam medis.
Luas ruang penyimpanan harus memadai (baik untuk rak berkas rekam medis aktif dan in-aktif).
Ruangan penyimpanan berkas rekam medis aktif dan in-aktif sebaiknya dipisahkan, karena hal ini
akan lebih memudahkan petugas didalam pengambilan rekam medis yang masih aktif dan akan
lebih memudahkan didalam melaksanakan pemusnahan berkas rekam medis.(Ery
Rustiyanto,Warih Ambar)
Persyaratan ruangan khusus dibagian penyimpanan rekam medis yaitu :
1. Struktur bangunan harus kuat, terpelihara, bersih, dan tidak memungkinkan terjadinya
gangguan kesehatan dan kecelakaan bagi petugas di ruang penyimpanan.
2. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin dan bersih.
3. Setiap petugas diruang penyimpanan mendapatkan ruang udara minimal / petugas.
4. Dinding bersih dan berwarna terang, langit-langit kuat, bersih, berwarna terang, ketinggian
minimal 2,5 sampai 3 meter dari lantai.
5. Atap kuat dan tidak bocor.
6. Luas jendela, kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya minimal 1/6 kali luas
lantai.

J. PELAYANAN RAWAT JALAN


Menurut Huffman (Ekardius,1999:90) “Pelayanan Rawat jalan (ambulatory
service) adalah pelayanan yang diberikan kepada pasien yang tidak di rawat sebagai pasien rawat
inap”.

K. KONSEP TATA RUANG DAN ERGONOMI


 Teori Tata Ruang
Menurut George Terry Tata Ruang adalah penentuan mengenai kebutuhan – kebutuhan
ruang dan tentang penggunaannya secara rinci dari ruang tersebut untuk menyiapkan suatu
susunan praktis dari faktor – faktor fisik yang di anggap perlu bagi pelaksanaan kerja
perkantoran dengan biaya yang layak.

Menurut Sedarmayanti (1996:92) “Tata ruang adalah pengaturan dan penyusunan seluruh
mesin,alat perlengkapan kantor,serta perabotan kantor pada tempat yang tepat sehingga petugas
dapat bekerja dengan baik,nyaman,leluasa dan bebas untuk bergerak guna mencapai efisiensi
kerja.

 Tujuan Tata Ruang


Menurut Sedarmayanti (1996 : 2) Pengaturan tata ruang yang baik akan mengakibatkan
pelaksanaan pekerjaan kantor dapat di atur secara tertib dan lancar.Dengan demikian
komunikasi kerja pegawai akan semakin lancar, sehingga koordinasi dan pengawasan semakin
mudah, akhirnya dapat mencapai efisiensi kerja.
Apabila dirinci, maka tujuan tata ruang kantor antara lain, adalah :

1. Mencegah penghamburan tenaga dan waktu pegawai karena prosedur kerja dapat
dipersingkat.
2. Menjamin kelancaran proses pekerjaan.
3. Memungkinkan pemakaian ruang kerja agar lebih efisien.
4. Mencegah pegawai di bagian lain terganggu oleh publik yang akan menemui bagian tertentu,
atau mencegah terganggu oleh suara bising lainnya.
5. Menciptakan kenyamanan kerja pegawai.
6. Memberi kesan yang baik terhadap para pengunjung kantor.
7. Mengusahakan adanya keleluasaan bagi :
 Gerak pegawai yang sedang bekerja
 Kemungkinan untuk pegawai memanfaatkan ruangan bagi keperluan lain pada wktu
tertentu.
 Perkembangan dan perluasan kegiatan kantor di kemudian hari.

L. TEORI ERGONOMI

Menurut Sedarmayanti (1996 : 1) “Ergonomi adalah cabang ilmu yang sistematis untuk
memanfaatkan informasi mengenai sifat kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang
suatu sistem kerja, sehingga orang dapat bekerja pada sistem termaksud dengan baik, guna
mencapai tujuan melalui pekerjaan yang dilakukan dengan efisien, aman dan nyaman.

M. LINGKUNGAN DAN KONDISI FISIK TATA RUANG KANTOR

Suatu kondisi lingkungan dikatakan baik atau sesuai apabila manusia dapat melaksanakan
kegiatannya secara optimal, sehat, aman, nyaman.Ketidaksesuaian lingkungan kerja dapat dilihat
akibatnya dalam jangka waktu yang lama. Keadaan lingkungan yang kurag baik dapat menuntut
tenaga dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya waktu yang lebih banyak
dan tidak mendukung diperolehnya rencangan sistem kerja yang efisien (Sedarmayanti, 1996 : 23).

Berikut ini beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya suatu kondisi
lingkungan kerja dikaitkan dengan kemampuan manusia atau pegawai menurut Sedarmayanti (1996
: 23) diantaranya adalah :

1. Penerangan atau pencahayaan di tempat kerja


Penerangan atau pencahayaan sangat berpengaruh dengan keselamatan dan kelancaran kerja,
oleh sabab itu perlu diperhatikan adanya penerangan atau cahaya yang baik. Cahaya yang
kurang baik dapat mengakibatkkan penglihatan menjadi kurang jelas, sehingga pekerjaan akan
lambat dan banyak mengalami kesalahan dan pada akhirnya menyebabkan kurang efisien
dalam melaksanakan pekerjaan.

2. Temperatur atau suhu di tempat kerja


Temperatur atau suhu di tempat kerja harus diperhatikan karena dalam keadaan normal ,tiap
anggota tubuh manusia mempunyai temperatur yang berbeda. Temperatur yang terlampau
dingin akan mengakibatkan gairah kerja menurun, sedangkan terlampau panas, akan
mengakibatkan cepat timbul kelelahan dalam bekerja dan cenderung membuat banyak
kesalahan.

3. Kelembaban di tempat kerja


Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara, biasa dinyatakan dalam
persentase. Kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi oleh temperatur udara, dan secara
bersama-sama antara temperatur udara, dan secara bersama-sama antara temperatur,
kelembaban, kecepatan udara bergerak dan radiasi panas dari udara tersebut akan
mempengaruhi keadaan tubuh manusia pada saat menerima atau melepaskan panas dari
tubuhnya.

4. Sirkulasi udara di tempat kerja


Sirkulasi udara di tempat kerja harus di perhatikan karena jika udara yang dihirup oleh pekerja
di ruangan itu kotor bisa mengakibatkan kesehatan menurun seperti sesak nafas.

5. Kebisingan di tempat kerja


Kebisingan di tempat kerja sebaiknya dihindari agar pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan
dengan efisien sehingga produktiitas kerja meningkat.

6. Getaran mekanisme di tempat kerja


Getaran mekanisme adalah getaran yang di timbulkan oleh alat mekanis, yang sebagian dari
getaran ini sampai ke tubuh pegawai dan dapat menimbulkan akibat yang tidak di
inginkan.Getaran mekanisme dapat menganggu tubuh manusia seperti konsentrasi bekerja
berkurang, mudah lelah, kesesahan tubuh menurun.

7. Bau-bauan di tempat kerja


Bau-bauan di sekitar tempat kerja dapat dianggap pencemaran, karena dapat mengganggu
konseentrasi bekerja. Pemakaian air conditioner adalah salah satu cara yang dapat di gunakan
untuk menghilangkan bau–bauan yang mengganggu di sekitar tempat kerja.

8. Dekorasi di tempat kerja


Dekorasi di tempat kerja adalah kegiatan yang berkaitan dengan menghias ruang kerja,
mengatur tata letak dan perlengkapan dan lainnya untuk bekerja .

9. Musik di tempat kerja


Menurut para pakar, musik yang bernada lembut sesuai dengan suasana, waktu dan tempat d
apat membangun semangat pekerja untuk bekerja.

10. Keamanan ditempat kerja


Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam keadaan aman maka perlu
diperhatikan adanya keamanan dalam bekerja.Faktor keamanan perlu diwujudkan.Salah satu
upaya untuk menjaga keamanannya adalah dengan memanfaatkan tenaga satuan petugas
keamanan.

N. KONSEP EFEKTIVITAS PELAYANAN


 Pengertian Efektivitas
Menurut Handayaninggrat(2007 : 16) “Efektivitas adalah pengukuran dalam arti
tercapaimya sasaran atau tujuan yang telah di tentukan sebelumnya”.

Pengertian di atas dapat diartikan bahwa efektivitas yaitu bila sasaran atau tujuan telah tercapai
sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya adalah efektif, tetapi jika tujuan atau sasaran itu
tidak selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan maka pekerjaan itu tidak efektif. Atau
dengan kata lain efektivitas dapat diartikan sebagai suatu upaya peningkatan untuk mencapai
suatu tujuan secara tepat yang ditimbulkan dari pengaruh suatu hal tertentu.
 Tujuan dan Upaya-upaya Dalam Efektivitas
Menurut Handayaninggrat (2007 : 16) dalam mencapai efektivitas ada beberapa tujuan dan
sasaran yang harus dicapai.

1. Tujuan dari efektivitas yaitu :


 Mencegah dan mengurangi terjadinya tindakan-tindakan yang tidak diharapkan dari
karyawan yang dapat mengganggu jalannya pekerjaan.
 Mencapai produktivitas yang tinggi, perusahaan harus dapat menimbulkan semangat kerja
yang tinggi dari karyawan.
 Memproduksi lebih banyak keluaran (nilai rupiah dan unit jasa) dari setiap masukan.
 Mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan-tujuan.

2. Upaya-upaya dalam meningkatkan efektivitas kerja antara lain :

 Menetapkan standar-standar pelaksanaan kerja


Standar-standar pelaksanaan kerja harus ditetapkan untuk semua pekerjaan, agar tanggung
jawab dan apa yang diharapkan para karyawan jelas.

 Merumuskan secara jelas tanggung jawab perusahaan


Bila tanggungjawab pekerjaan tidak jelas dan berubah-ubah, para karyawan akan frustasi,
hasilnya dapat berupa kualitas rendah.

 Komitmen dengan implementasi


Harus mengimplementasikan segala yang akan menghasilkan peningkatan produktivitas.

Menurut Sedarmayanti (2009 : 59) “Efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan
gambaran seberapa jauh target dapat dicapai. Pengertian efektivitas ini lebih berorientasi
kepada keluaran sedangkan masalah penggunaan masukan kurang menjadi perhatian
utama.Apabila efisiensi dikaitkan dengan efektivitas maka walaupun terjadi peningkatan
efektivitas belum tentu efisiensi meningkat”.

O. PENGERTIAN PELAYANAN

Menurut Kotler (2002:83) “pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat
ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
mengakibatkan kepemilikan apapun”.

Menurut Manroe (1995 : 766) “Pelayanan addalah pelayanan jasa,ada timbal baliknya sehingga
menimbulkan ikatan, tuntutan dan kepuasan pemakai jasa.

Mengetahui,
Kepala UPT Puskesmas Kampung Sawah

Muhada Castra Dypura, Skm.,M.Si


NIP 19660414 198902 1 004