Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN

PEMBUATAN PREPARAT APUS DARAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Mikroteknik

Dosen Pengampu : Dra. Ely Rudiyatmi, M.Si.

Oleh:

Afra Fauziah Lisprabowoningtyas Putri

4411416008

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2019
A. JUDUL
Pembuatan Preparat Apus Darah

B. HARI, TANGGAL PRAKTIKUM


Senin, 01 April 2019

C. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Membuat preparat darah dengan metode smear atau apus menggunakan
zat warna giemsa
2. Mengamati dan menganalisis preparat apus darah manusia yang telah
dibuat

D. DASAR TEORI
Darah di dalam tubuh manusia memiliki fungsi yang sangat penting
sebagai alat untuk transportasi oksigen dan zat-zat yang dibutuhkan oleh
tubuh. Darah merupakan cairan tubuh yang berwarna merah, warna merah ini
merupakan protein pernafasan yang mengandung besi, yang merupakan
tempat terikatnya molekul-molekul oksigen yang disebabkan oleh
hemoglobin (Khasanah, 2016). Volume darah secara keseluruhan adalah satu
per dua belas berat badan atau kira-kira lima liter. Sekitar 55% adalah plasma
darah, sedangkan 45% terdiri atas sel darah, sisanya diisi oleh sejumlah bahan
organik, yaitu glukosa, lemak, urea, asam urat, kolesterol dan asam amino
(Fitria, 2012).
Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit.
Eritrosit (sel darah merah) pada hakikatnya adalah kantung hemogoblin
terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dalam darah. Leukosit (sel
darah putih) satuan pertahanan. sistem imun, diangkut dalam darah tempat
cedera atau tempat invasi mikro organisme penyebab penyakit. Trombosit
penting dalam homeostasis, penghentian pendarahan dari pembuluh yang
cedera (Fitryadi, 2017).
Darah manusia berwarna merah terang ketika terikat pada oksigen.
Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan
(respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang
merupakan tempat terikatnya molekul – molekul oksigen. Dan ketika oksigen
dilepas maka warna eritrosit akan berwarna lebih gelap, dan akan
menimbulkan warna kebiru – biruan pada pembuluh darah dan kulit (Mallo,
2012).
Preparat apus atau smear adalah preparat yang proses pembuatannnya
dengan metode apus atau smear, yaitu dengan cara mengapuskan atau
membuat lapisan tipis atau film suatu bahan yang berupa cairan atau bukan
cairan diatas gelas benda yang bersih dan bebas lemak. Selanjutnya
melakukan fiksasi, mewarnai, dan menutupnya dengan gelas penutup untuk
diamati dibawah mikroskop. Pada pembuatan preparat apus darah
menggunakan zat warna giemsa atau disebut juga pewarnaan Romanowski.
Prinsip dari pewarnaan giemsa adalah presipitasi hitam yang terbentuk dari
penambahan larutan methylene blue yang dilarutkan di dalam methanol.

E. PROSEDUR KERJA

Dua buah gelas benda (Gelas benda A dan B) dibersihkan dengan


menggunakan alkohol 70% yang diteteskan pada tisu. Tangan kiri dikipas-
kipaskan, ujung jari tengah tangan kiri diurut dan disterilkan dengan tisu yang
dibasahi alcohol 70%. Ditusukan blood lanset steril pada ujung jari tengah
tangan kiri tersebut. Tetesan darah pertama yang keluar diusapkan pada tisu
beralokohol 70% terlebih dahulu, setelah itu tetesan darah kedua ditempelkan
pada sisi kanan gelas benda A dengan jarak 0,5 cm dari tepi. Darah diapus
dengan cara menempelkan sisi pendek gelas benda B pada tetes darah di gelas
benda A dengan sudut 45o sampai terjadi kapilaritas. Gelas benda B didorong
kesisi kiri dengan cepat dan konstan sehingga terbentuk film darah yang tipis.
Lalu, apusan darah dikering anginkan diatas rak pewarnaan.
Permukaan film darah difiksasi dengan meneteskan metanol selama 5
menit diatas rak pewarnaan dan dikering-anginkan. Dengan menggunakan
pipet tetes, seluruh permukaan film darah ditetesi dengan beberapa tetes zat
warna Giemsa selama 8 menit. Setelah itu, apusan darah dicuci dengan
mengalirkan aquades (yang telah dididihkan dan didinginkan kembali) dari
dalam botol leher angsa. Preparat apus darah ditiriskan pada rak pewarnaan
dan dikeringkan. Kemudian, apusan darah diberi label sesuai identitas preparat
pada 0,5 cm dari ujung kanan gelas benda dengan posisi memanjang. Preparat
apus darah diamati menggunakan mikroskop pada perbesaran 40x10, difoto
dan dianalisis hasilnya.

F. HASIL DAN ANALISIS


Gambar preparat apus darah manusia Keterangan
Perbesaran :
1 40 x 10
Keterangan :
2
1. Neutrofil

3 2. Limfosit
3. Monosit

4 4. Basofil
5. Eosinofil

Analisis :

Preparat apus darah merupakan preparat permanen, yaitu preparat yang


keawetannya bertahun-tahun. Dalam hal ini, preparat apus darah manusia
kurang tipis dikarenakan sel-sel darah yang teramati masih terlihat bertumpuk
dan tidak jelas atau sulit dibedakan. Inti leukosit terwarnai dengan baik
sehingga kontras dengan sel darah lainnya. Dalam hal ini, pengamat sulit
membedakan sel darah putih yaitu basofil dan monosit dikarenakan bentuk
dari sel tersebut tidak begitu jelas atau pengamat kurang teliti.

G. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan preparat apus darah manusia, terlihat
eritrosit dalam jumlah yang banyak dan beberapa leukosit. Dalam
pengamatan ini, Eritrosit memiliki ciri-ciri yaitu sel berwarna merah,
berbentuk bulat, dengan bentuk seperti cekungan (cakram) pada sisi dalam
(tengah) dan tak berinti. Sedangkan leukosit memiliki ciri-ciri seperti sel
memiliki inti berwarna ungu kebiruan. Warna biru pada leukosit disebabkan
karena pewarnaan yang diberikan pada saat pembuatan preparat.
Jenis sel leukosit yang ditemukan dalam pengamatan ini ialah neutrofil,
eosinofil, basofil, limfosit dan monosit. Neutrofil merupakan jenis sel leukosit
yang paling banyak ditemukan hampir sekitar 50-70% yang ada pada
manusia. Limfosit memiliki jumlah berkisar 20-30% dari jumlah sel darah.
Jumlah sel eosinofil dalam aliran darah berkisar antara 2-8% dari jumlah
leukosit. Monosit merupan leukosit yang memiliki ukuran terbesar dan
jumlahnya 3-9% dari sel leukosit. Basofil merupakan leukosit yang
jumlahnya paling rendah sekitar 0,5-1,5% dari seluruh leukosit yang beredar
dalam aliran darah.
Praktikum pembuatan apusan darah manusia menggunakan metode apus/
smear. Darah yang diambil berasal dari darah praktikan. Dalam pembuatan
preparat apusan darah manusia menggunakan zat warna Giemsa. Terlihat
bahwa preparat secara kurang baik dikarenakan adanya kotoran, pewarnaan
yang kurang merata sehingga menimbulkan zat warna yang tersisa, serta sel
eritrosit yang terlihat dalam jumlah banyak namun ada beberapa sel yang
tampak menumpuk dan sel leukosit yang sulit untuk dibedakan jenisnya
contohnya basofil dan monosit. Hal tersebut menunjukkan bahwa apusan
masih tebal dan pewarnaan giemsa yang tidak merata.
Untuk pembuatan preparat apus darah ini menggunakan beberapa larutan,
diantaranya yaitu alkohol 70% berfungsi untuk mensterilkan jari tengah dan
peralatan seperti jarum franke dan gelas benda. Metil alkohol berfungsi untuk
fiksator dalam proses fiksasi, dan larutan giemsa berfungsi untuk melakukan
pewarnaan seluruh permukaan film darah. Pada saat tetesan pertama darah,
darah tidak digunakan untuk apusan melainkan dibuang, hal ini dimaksudkan
agar darah tidak terkontaminasi dengan alcohol sewaktu jari tengah
dibersihkan dan tetesan kedua dan ketiga dianggap sudah steril dan baru bisa
diambil untuk dijadikan sample.
H. SIMPULAN
1. Preparat apusan darah manusia dibuat dengan metode apus atau smear
menggunakan pewarnaan giemsa, sehingga sel leukosit dan eritrosit
dapat dibedakan
2. sel darah yang teramati ialah sel eritrosit yang berwarna merah dengan
bentuk cekungan ditengah namun terlihat menumpuk karena apusan
terlihat tebal dan leukosit yang intinya terwarna jelas dan kontras. \

I. SARAN
1. Dalam Pembuatan film darah harus tipis agar sel-sel darah tidak
menumpuk sehingga dapat teramati dengan baik
2. Dalam proses pengamatan, pengamat harus lebih teliti lagi untuk
menentukkan jenis dari sel darah

J. DAFTAR PUSTAKA

Khasanah, M. N., Harjoko, A., & Candradewi, I. (2016). Klasifikasi Sel Darah
Putih Berdasarkan Ciri Warna dan Bentuk dengan Metode K Nearest
Neighbor (K-NN). IJEIS (Indonesian Journal of Electronics and
Instrumentation Systems), 6(2), 151-162.
Fitria, Ligana. (2014). Karakteristik fisiologi hematologi darah owa jawa
dipenangkaran pusat studi satwa primate IPB. Journal IPB. 56-58.
Mallo, P. Y. (2012). Rancang Bangun Alat Ukur Kadar Hemoglobin dan Oksigen
Dalam Darah dengan Sensor Oximeter Secara Non Invasive. Jurnal
Teknik Elektro dan Komputer, 1(1).
Fitryadi, K., & Sutikno, S. (2017). Pengenalan Jenis Golongan Darah
Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Perceptron. Jurnal Masyaraka
Informatika, 7(1).