Anda di halaman 1dari 8

KATA PENGANTAR

Pertama ± tama penulis megucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT,yang telahmelimpahkan
rahmat dan hidayahnya kepada saya selaku penulis ,sehingga penulis bisamembuat makalah ini
dari awal hingga akhir dan dapat menyelesaikannya dengan baik.Makalah ini dibuat bertujuan
supaya para siswa bisa mengetahui fungsi dankegunaan dari sistem komponen CDI . Semoga
makalah ini dapat berguna bagi pembaca dan penulis, umunya kepada seluruh siswa, masyarakat
dan teman-teman.
Website automotif dan motor plusPenulis menyadari banyak kekurangan di dalam penyusunan makalah
ini,sehingga saran dan masukan sangat penulis harapkan.Akhir kata dari penulis semoga makalah
yangdibuat ini dapat bermanfaat bagi para siswa teknik mesin.
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Dalam melakukan proses pembakaran, mesin berbahan bakar bensin sangat bergantung pada
sistem pengapian. Kini, sistem pengapian telah bergeser dari modelmekanik platina menjadi
elektronik. Banyak masyarakat awam yang salahmengartikan sistem pengapian elektronik
sebagai CDI (Capactive Discharge Ignition).Padahal ada satu lagi teknologi pengapian tanpa
platina, yaitu TCI (TransistorizedControlled Ignition).

Capacitor Discharge Ignition(CDI)merupakan sistem pengapian elektronikyang sanga populer


digunakan pada sepeda motorsaat ini. Sistem pengapian CDIterbukti lebih menguntungkan dan
lebih baikdibanding sistem pengapiankonvensional (menggunakan platina).
Pada saat ini saya bermaksud untuk membahas tentang sistem CDI (Capacitor Discharge
Ignition) yang merupakan salah satu jenis sistem pengapian padakendaraan bermotor yang
memanfaatkan arus pengosongan muatan (dischargecurrent) dari kondensator, guna
mencatudayaKumparan pengapian (ignition coil).Dengan adanya tugas ini penulis berharap tugas ini
dapat memacu, motivasidan kereativitas mahasiswa dalam bidang kelistrikan otomotif terutama
pada sepedamotor dan mobil.

B. Identifikasi masalah

Pada tugas kali ini, penulis membuat makalah tentang CDI yang ada pada motor , disini kita dapat
mengetahui jenis-jenis pengapian dan komponen ± komponen dari sistem pengapian serta mengetahui
fungsi dan cara kerja darikomponen ± komponen tersebut dan juga masalah yang timbul pada
sistem CDI tersebut.

C. Ruang lingkup masalah


Setelah diliihat dari latar belakang dan identifikasi masalah, ruang lingkupmasalahnya sebagai
berikut :

Bagaimana cara kerja dan mengetahui fungsi dari komponen ± komponenCDI,jenis ± jenis CDI. Dan
membahas tentang keunggulan dan kerugian dari masing-masing komponen tersebut,dan cara
perbaikannya.

D. Permasalahan
Dalam permasalahan kali ini penulis di tuntut untuk mengetahui jenis-jenis,fungsi, manfaat dan
kegunaan dari alat itu sendiri.Pada kesempatan kali ini agar dapat mengetahui jenis-jenis
dan permasalahannya saya harus mengetahuinya dengan jelas sekali dan denganterperinci.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sistem pengapian CDI

CapacitorDischarge Ignition (CDI)merupakan sistem pengapian elektronik yang sangat


populerdigunakan pada sepeda motorsaat ini.
Karena bekerja dengan secara elektronik, sebagian besar komponennya merupakan komponen-
komponen elektronik yang ditempatkan padaPapan rangkaian tercetak atau Printed Circuit
Board (PCB), laludibungkus dengan bahan khusus agar terlindungi dari kotoran, uap, cairanmaupun panas.
Banyak orang yang menyebutnya modul CDI (CDI module),kotak CDI (CDI box), atau "CDI"
saja.Berdasarkan pencatu dayanya, sistem pengapian CDI terbagi menjadi dua jenis, yaitu:1.

Sistem pengapian CDI AC yang merupakan dasar dari sistem pengapian CDI, dan menggunakan
pencatu daya dari sumber Aruslistrik bolak-balik (dinamo AC/alternator).2.

Sistem pengapian CDI DC yang menggunakan pencatu daya darisumber arus listrik searah
(misalnya dinamo DC,Batere, maupunAki).

Sistem pengapian CDI terbukti lebih menguntungkandan lebih baikdibanding sistem pengapian
konven-sional (menggunakan platina).Dengansistem CDI, tegangan pengapianyang dihasilkan
lebih besar (sekitar 40 KV) dan stabil sehingga prosespembakaran campuran bensin dan udara
bisa berpeluang makinsempurnaDengan demikian, terjadinya endapan karbon pada busi juga
bisadihindari. Selain itu, dengan sistem CDI tidak memerlukan penyetelanseperti penyetelan
pada platina. Peran platina telah digantikan oleholeh thyristor sebagai saklar elektronik dan
pulser coil atau pick-upcoil (koil pulsa generator) yang dipasang dekat flywheel
generatoratau rotor alternator (kadang-kadang pulser coil menyatu sebagaibagian dari
komponen dalam piringan stator, kadang-kadang dipasangsecara terpisah).

2. Cara Kerja Sistem Pengapian CDI

Pada saat magnet permanen (dalam flywheel magnet) berputar,maka akan dihasilkan arus listrik
AC dalam bentuk induksi listrik dari

source coil seperti terlihat pada gambar disamping. Arus ini akanditerima oleh CDI unit dengan
tegangan sebesar 100 sampai 400 volt. Arus tersebut selanjutnya dirubah menjadi arus
setengah gelombang(menjadi arus searah) oleh diode, kemudian disimpan dalamkondensor
(kapasitor) dalam CDI unit. Kapasitor tersebut tidak akanmelepas arus yang disimpan sebelum
SCR (thyristor) bekerja. Padasaat terjadinya pengapian, pulsa generator akan menghasilkan
arussinyal. Arus sinyal ini akan disalurkan ke gerbang (gate) SCR. Denganadanya trigger
(pemicu) dari gate tersebut, kemudian SCR akan aktif (on) dan menyalurkan arus listrik dari
anoda (A) ke katoda (K).Dengan berfungsinya SCR tersebut, menyebabkan
kapasitormelepaskan arus (discharge) dengan cepat. Kemudian arus mengalirke kumparan
primer (primary coil) koil pengapian untuk menghasilkantegangan sebesar 100 sampai 400 volt
sebagai tegangan induksisendiri. Akibat induksi diri dari kumparan primer tersebut,
kemudianterjadi induksi dalam kumparan sekunder dengan tegangan sebesar15 KV sampai 20
KV. Tegangan tinggi tersebut selanjutnya mengalir ke busi dalam bentuk loncatan bunga api
yangakan membakar campuran bensin dan udara dalam ruang bakar.Terjadinya tegangan tinggi
pada koil pengapian adalah saat koil pulsadilewati oleh magnet, ini berarti waktu pengapian
(Ignition Timing)ditentukan oleh penetapan posisi koil pulsa, sehingga sistempengapian CDI
tidak memerlukan penyetelan waktu pengapian sepertipada sistem pengapian konvensional.
Pemajuan saat pengapianterjadi secara otomatis yaitu saat pengapian dimajukan bersamadengan
bertambahnya tegangan koil pulsa akibat kecepatan putaranmotor. Selain itu SCR pada sistem
pengapian CDI bekerjalebih cepat dari contact breaker (platina) dan kapasitor
melakukanpengosongan arus (discharge) sangat cepat, sehingga kumparansekunder koil
pengapian terinduksi dengan cepat dan menghasilkantegangan yang cukup tinggi untuk
memercikan bunga api pada busi

3Kelebihan Sistem Pengapian CDI


Secara umumbeberapa kelebihan sistem pengapian CDIantaralain:1. Tidak memerlukan
penyetelan saat pengapian, karena saat pengapian terjadi secara otomatisyang diatur secara
elektronik.2. Lebih stabil, karena tidak ada loncatan bunga api seperti yangterjadi pada breaker
point (platina) sistem pengapian konvensional.3. Mesin mudah distart, karena tidak tergantung
pada kondisi platina.4. Unit CDI dikemas dalam kotak plastik yang dicetak sehingga
tahanterhadap air dan goncangan.5. Pemeliharaan lebih mudah, karena kemungkinan aus pada
titikkontak platina tidak ada.

B. Komponen-Komponen Sistem Pengapian CDI

Secara sederhana sistem pengapian CDI bisa digambarkan dengan skema berikut ini, di mana
pada rangkaian tersebut jika dikelompokkan perbagian yang lebih kecil sesuai dengan kerja
masing-masing, maka dapat dikelompokkan menjadi enam blok atau bagian utama dari sistem
pengapian CDI. Berikut ini keenam bagian utama atau enam blok tersebut:

Konverter DC ke DC

DC to DC converter atau konverter DC ke DC berfungsi untuk mensuplai tegangan untuk


pengisian kapasitor. Komponen ini pada prinsipnya terdiri dari rangkaian pengubah arus DC
atau arus searah dari baterai menjadi (seolah-olah) arus AC atau bolak balik dengan rangkaian
flip-flop. Arus AC yang dihasilkan lalu dinaikkan tegangannya oleh transformator step up
menjadi sekitar 300 sampai 500 volt lalu disearahkan kembali dengan dioda sistem jembatan.
Tegangan tinggi (300-500 V) inilah yang digunakan untuk mengisi kapasitor. Dan secara
sederhana dapat dijelaskan bahwa konverter DC ke DC berfungsi untuk mengubah arus DC
menjadi AC kemudian menaikkan tegangannya lalu menyearahkan kembali menjadi arus
DC.

Kapasitor
Kapasitor berfungsi untuk menyimpan arus atau energi listrik yang disuplai oleh konverter DC
ke DC di atas.
Generator Pulsa

Generator pulsa atau generator sinyal berfungsi sebagai pemicu atau trigger atau penghasil
sinyal tegangan ON dan OFF yang kemudian digunakan untuk mengontrol kerja thyristor.
Penguat Pulsa (Amplifier)

Penguat pulsa atau amplifier berfungsi sebagai penguat sinyal tegangan yang dihasilkan oleh
generator pulsa, sehingga sinyal yang dihasilkan oleh generator pulsa tersebut menjadi cukup
kuat untuk mengaktifkan thyristor.

Saklar Thyristor

Saklar thyristor berfungsi untuk mengalirkan energi dari kapasitor ke koil pengapian. Thyristor
ini adalah komponen semikonduktor yang akan bekerja ON karena adanya sinyal tegangan di
kaki basisnya. Dan ketika distributor berputar, sinyal tegangan dihasilkan oleh pick up coil.
Pulsa tegangan ini dikuatkan oleh amplifier untuk selanjutnya mengaktifkan atau meng-ON-kan
thyristor. Dan pada saat thyristor ON, kapasitor mengeluarkan muatannya ke kumparan primer
koil. Lalu thyristor kembali OFF dan kapasitor terisi kembali.
Koil

Koil pengapian berfungsi sebagai transformator yang menghasilkan tegangan tinggi untuk
selanjutnya disalurkan ke busi. Metode atau cara pembuangan muatan kapasitor untuk
menghasilkan tegangan tinggi sehingga terjadi loncatan bunga api pada busi dan dapat dicapai
dengan menyimpan energi listrik pada kapasitor. Jika pengapian sudah tepat dan api siap untuk
dipercikkan, maka thyristor power akan aktif dan membentuk rangkaian tertutup antara
kapasitor dan kumparan primer koil. Kapasitor dengan cepat akan melepas muatannya melalui
kumparan primer koil. Aliran arus yang sangat cepat di dalam kumparan primer akan
menyebabkan terjadinya medan magnet pada koil dan menaikkan tegangan menjadi lebih tinggi
pada kumparan sekunder. Tegangan tinggi inilah yang disalurkan ke busi untuk menghasilkan
percikan bunga api pada busi.

Fungsi masing-masingnya pada komponen CDI.

1. SCR (silicon controlled rectifier)

SCR (silicon controlled rectifier) fungsinya yang terhubung dengan sistem kelistrikan dalam
jenis thyristor ini yang berfungsi sebagai saklar elektronik pelepasan arus yang di tampung pada
kondensator untuk dilepaskan menuju Koil.

3.Diode (DIODA)

Diode merupakan komponen semikunduktor yang memungkinkan arus listrk yang mengakir,
pada satu arah forwars bias yaitu, arah anoda ke katoda untuk mencegan arus listrik mengalir
pada arah yang berlawanan atau sebalinya. Reverase bias, berfungdi untuk menyerahkan arus
bulak balik AC yang berasal dari kamparan spool utnuk di simpan di konensator.
Berikut bagian-bagian yang bisa ditemui (beberapa diantaranya terkadang tidak dipakai karena
sesuatu hal) di dalam suatu sistem pengapian CDI:

1. Kumparan pengisian (charging coil).


2. Kumparan pemicu (trigger/pulser coil).
3. Penyearah (rectifier).
4. Baterai (battery).
5. Sekering (fuse).
6. Kunci kontak (contact switch).
7. Kondensator (capacitor).
8. Saklar elektronik (SCR).
9. Pengatur/penyetabil tegangan (voltage regulator/stabilizer).
10. Transformator penaik tegangan (voltage step up transformer).
11. Pengubah tegangan (voltage converter/inverter).
12. Pelipat tegangan (voltage multiplier/inverter).
13. Kumparan pengapian (ignition coil).
14. Kabel busi (spark plug cable).
15. Busi (spark plug).
16. Sistem pengawatan (wiring system).
17. Jalur bersama (common line) .

Cara kerja CDI:


Cara kerja rangkaian CDI AC: Saat kunci kontak di on-kan secara langsung memutuskan kontak
antara pulsar dan ground, sehingga saat mesin di hidupkan seketika poros engkol menggerakkan
magnet, ketika magnet berputar cepat diantara spul maka spul tersebut menghasilkan tegangan
tinggi ac kemudian disearahkan oleh dioda. Tegangan dc(400V) mengisi capasitor. Selanjutnya
sebuah pemicu(trigger dari picup) akan diaktifkan untuk menghentikan proses pengisian muatan
kondensator, sekaligus memulai proses pengosongan muatan kondensator untuk mencatudaya
kumparan pengapian melalui sebuah SCR. Saat pengosongan capasitor arus listrik mengalir
melewati coil primer dan menghasilkan induksi elektromagnet pada kumparan sekunder yang
menghasilkan percikan api.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Sistem pengapian merupakan bagian terpenting dalam suatu kendaraan. Sistem


pengapian sendiri merupakan suatu sistem pada motor bakar yang menjamin motor dapat
bekerja. Untuk sistem penyalaan campuran udara dan bahan bakar diperlukan syarat-syarat
bunga api yang kuat, saat pengapian yang tepat dan ketahanan yang cukup. Sistem pengapian ini
berfungsi menaikan tegangan baterai dari 12 V menjadi 10 kV-25 kV dengan mempergunakan
ignition coil dan kemudian membagi-bagikan tegangan tinggi tersebut ke masing-masing busi
melalui distributor dan kabel tegangan tinggi.

B. Saran
Kita, khususnya penulis haruslah mempelajari sistem pengapian lebih dalam. Karena
sistem ini perkembangannya lebih pesat dibanding sistem-sistem lain yang ada pada kendaraan.