Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Eschericia coli

Bakteri pencemar dalam susu dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu


bakteri patogen dan bakteri pembusuk. Bakteri pembusuk seperti Micrococcus sp,
Pseudomonas sp, dan Bacillus sp akan menguraikan protein menjadi asam amino
dan merombak lemak dengan enzim lipase sehingga susu menjadi asam dan
berlendir. Beberapa Bacillus sp yang mencemari susu antara lain adalah B. cereus,
B. subtilis, dan B. licheniformis. Bakteri patogen yang sering mencemari susu salah
satunya adalah Eschericia coli (Suwito, 2016).

 Klasifikasi bakteri Escherichia coli


Kindom : Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gammaproteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Spesies : Escherichia coli

Escherichia coli termasuk dalam famili Enterobacteriaceae, genus


Escherichia, bersifat aerob, berbentuk batang, biasanya mempunyai flagela untuk
alat gerak, dan termasuk kelompok Gram negatif. Sebagian besar dari Eschericia
coli yang berada dalam saluran pencernaan hewan dan manusia merupakan flora
normal, namun ada yang bersifat patogen sehingga dapat menyebabkan diare pada
manusia dan hewan (Gie dkk. 2015).

 Macam-macam Escherichia coli

Berdasarkan patogenesis, E. coli dibagi menjadi 6 kelompok yaitu


enteropathogenic E. coli (EPEC), enterotoxigenic E. coli (ETEC),
enterohemorrhagic E. coli (EHEC), enteroaggregative E. coli (EAEC),
enteroinvasive E. coli (EIEC), dan diffusely adherent E. coli (DAEC). Kelompok
EHEC yang mampu menghasilkan shiga-like toxin atau verotoxin disebut shiga
toxin-producing E. coli (STEC) atau verocytotoxi genic E. coli (VTEC).
Verocytotoxigenic E. coli serotype O157:H7 bersifat patogen pada manusia dan
menyebabkan foodborne disease (Paddock et al., 2012). Baru-baru ini di Canada 11
orang dilaporkan sakit karena E. coli. Mereka sakit setelah makan keju yang dibuat
dari susu mentah. Satu orang diantaranya meninggal dunia pada akhir Agustus
2013, walau British Columbia Centre for Disease Control belum menyimpulkan
bahwa orang tersebut meninggal karena makan keju (Gie dkk. 2015).

Gejala klinis, epidemiologi dan faktor virulensi dari beberapa strain


Eschericia coli.

Strain Gejala Klinis Epidemiologi Faktor virulensi


EPEC Diare berair Pada anak-anak Melekat pada
mukosa usus dan
merusak vili-vili
usus
EHEC Diare berair, Food borne, Shiga like toxin
hemoragik kolitis water borne
Hemolytic uremic
syndrome
ETEC Diare berair Traveler diare Pili, heat-labile
dan heatstable
enterotoksin
Enteroaggregative Diare berlendir Pada anak-anak Pili, sitoksin
Enteroinvasive Disentri, diare Food bone Pili, sitoksin
berair Seluler invasif

2.2 Eschericia coli O157: H7

E. coli O157: H7 adalah bakteri patogen, anggota Enterobacteriaceae yang


merupakan penyebab sakit parah. E. coli O157: H7 dapat menghasilkan shiga toksin
(STEC) dan dianggap sebagai verocytotoxin yang memproduksi E. coli (VTEC).
STEC diproduksi oleh E. coli O157: H7 menyebabkan beberapa penyakit seperti :
kram perut, diare berdarah (hemoragik kolitis), demam, muntah, Hemolytic Uremic
Syndrome (HUS) dan bahkan kematian. E. coli O157: H7 dapat ditemukan
dibeberapa susu mentah dan produk susu seperti : keju dari susu mentah, susu
pasteurisasi dan yogurt, karena E. coli O157: H7 hidup diusus dan dapat melekat
pada kulit sapi termasuk paha ketika sapi membuang kotorannya (Kristanti dkk.
2015).

E. coli O157: H7 termasuk kelompok enterohemoragik E. coli (EHEC)


pada manusia yang menyebabkan terjadinya hemorrhagic colitis (HC), Hemolytic
Uremic Syndrome (HUS), dan thrombocytopenia purpura (TPP). Infeksi E. coli
O157:H7 pada manusia terjadi karena minum susu yang terkontaminasi feses sapi
atau dari lingkungan (Suwito, 2010). Bakteri E. coli O157:H7 dapat menyebabkan
diare akut, dehidrasi, gagal ginjal dan penyakit-penyakit lain, terutama akan
menyerang pada bayi yang daya tahan tubuhnya belum lengkap, serta orang tua dan
orang sakit menahun yang daya kekebalan tubuhnya menurun (Djamal dkk. 2009).

Efek STEC menyebabkan diare berdarah pertama kali dikenali pada tahun
1982 di AS dan juga menyebabkan HUS (Kristanti, 2015). Kasus dari STEC telah
dilaporkan di banyak negara hingga 2013. Kasus infeksi E. coli O157:H7 banyak
dilaporkan terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, tetapi data
untuk kasus yang terjadi di Indonesia sangat sedikit. Ini disebabkan belum
tersedianya media selektif untuk isolasi bakteri patogen ini. Bakteri E.coli O157:H7
ini mempunyai beberapa gen spesifik seperti gen sxt1 dan sxt2 ( gen pengkode
toksin Shiga), eae ( gen pengkode toksin intimin) dan gen fliCH7 yang hanya
dimiliki oleh bakteri strain E. coli O157:H7. Adanya gen stx2 akan mengkodekan
toksin yang lebih poten dalam menimbulkan penyakit dibandingkan toksin yang
dikodekan oleh gen stx1. Toksin yang dihasilkan akan berikatan dengan reseptor
glikolipid pada saluran sel endotelial dari usus. Jika toksin sampai pada ginjal akan
menimbulkan haemolytic uraemic syndrome yaitu infeksi akut yang ditandai
dengan anemia dan gagal ginjalSampai saat ini belum diperoleh informasi tentang
gen penghasil toksin penyebab hemolisa darah pada bakteri E.coli O157:H7 dari
sampel makanan dan lingkungan di Indonesia umumnya dan dari Sumatera Barat
khususnya (Djamal dkk. 2009).
DAFTAR PUSTAKA

Djamal, A. A., Marlina, M., & Yuherman, Y. 2009. Karakterisasi Gen Penghasil
Toksin pada Bakteri Patogen Escherichia coli O157 dalam Rangka
Penanggulangan Penyakit Diare Berdarah pada Masyarakat.

Gie, J. L. T., & Drastini, Y. 2015. Identifikasi Escherichia coli O157: H7 pada Susu
Sapi Perah dan Lingkungan Peternakan. Jurnal Kedokteran Hewan-
Indonesian Journal of Veterinary Sciences, 9(2).

Kristanti, M. I., & Budiarso, T. Y. 2015. Monitoring of Eschericia coli O157 from
Raw Cow’s Mk in the Storage Tank in Sleman District, Yogyakarta. In
Proceeding of International Congress.

Suwito, W. 2016. Bakteri yang sering Mencemari Susu: Deteksi, Patogenesis,


Epidemiologi, dan Cara Pengendaliannya. Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, 29(3), 96-100.