Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM URINALISIS DAN CAIRAN TUBUH

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS, KIMIA, DAN MIKROSKOPIS


CAIRAN OTAK
(Liquor Cerebro Spinalis)

Oleh Kelompk 6:

NI KADEK ARI DWIYANTI P07134017003

NI KADEK SRIMURTINI P07134017005

NUR ASTRI ADI NINGSI P07134017031

DEWA AYU WIDIADNYASARI P07134017032

NI KADEK SRI DAMAYANTI P07134017038

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2018
I. HARI DAN TANGGAL : Rabu, 11 Desember 2018 dan 18 Desember 2018
II. TUJUAN
1.1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami cara pemeriksaan none-apelt dan pandy serta
memahami cara hitung jumlah dan jenis sel pada cairan otak.
1.2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan none-apelt dan pandy untuk
mengetahui kenaikan kadar globulin dan albumin pada sampel LCS
(Liquior Cerebro Spinalis).
b. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan cara hitung jumlah dan jenis sel
pada sampel cairan otak untuk mengetahui jumlah sel serta dapat
membedakan jenis sel mononuklear dan polinuklear dalam cairan otak.
III. METODE
I.1. Pemeriksaan None-Apelt dan Pandy
a. Metode pemeriksaan None adalah none-apelt.
b. Metode pemeriksaan Pandy adalah pandy.
I.2. Pemeriksaan Hitung Jumlah dan Jenis Sel Pada Cairan Otak
Metode yang digunakan dalam menghitung jumlah dan jenis sel pada cairan
otak adalah bilik hitung/ kamar hitung Improved Neubaure.
IV. PRINSIP
a. Pemeriksaan None-Apelt
Reagen Nonne memberikan reaksi terhadap protein globulin dalam bentuk
kekeruhan yang berupa cincin. Ketebalan cincin berhubungan dengan kadar
globulin, makin tinggi kadarnya maka cincin yang terbentuk makin tebal.
b. Pemeriksaan Pandy
Reagen pandy memberikan reaksi terhadap protein (albumin dan globulin)
dalam bentuk kekeruhan. Pada keadaan normal tidak terjadi kekeruhan atau
kekeruhan yang ringan seperti kabut.
c. Pemeriksaan Hitung Jumlah dan Jenis Sel Pada Cairan Otak
Liquor Cerebro Spinalis diencerkan dengan larutan turk pekat akan ada sel
leukosit dan sel lainnya akan lisis dan dihitung selnya dalam kamar hitung di
bawah mikroskop.

V. DASAR TEORI
Liquor cerebrospinalis (LCS) adalah cairan jernih yang menyelimuti
susunan saraf pusat yang menggenangi otak dan medula spinalis. Liquor
cerebrospinalis (LCS) dapat ditemukan di rongga subaraknoid ( antara selaput
araknoid dan piameter ) serta di sistem ventrikular yang mengelilingi dan berada di
dalam otak serta medula spinalis. Otak memproduksi sekitar 500 ml LCS per hari
yang kemudian akan diserap kembali sehingga dapat ditemukan sebanyak 100-160
ml. Tujuh puluh persen LCS dibentuk oleh sel ependimal dalam plexus
choroideudus di dalam ventrikel otak melalui proses transpor aktif dan ultrafiltrasi.
Plexus choroideus merupakan kumpulan vena yang terdapat di keempat ventrikel
otak. Tiga puluh persen sisanya dibentuk oleh permukaan ventrikel serta
permukaan yang mengelilingi rongga subaraknoid ( Cahyani, 2017).
Cairan serebrospinal dibentuk dari kombinasi filtrasi kapiler dan sekresi
aktif dari epitel. LCS hampir meyerupai ultrafiltrat dari plasma darah tapi berisi
konsentrasi Na, K, bikarbonat, Cairan, glukosa yang lebih kecil dankonsentrasi Mg
dan klorida yang lebih tinggi. Ph LCS lebih rendah dari darah (Japradi, Iskandar.
2002 ).
Perbandingan komposisi normal cairan serebrospinal lumbal dan serum

Menurut Japradi, Iskandar (2002) fungsi LCS :


1. LCS menyediakan keseimbangan dalam sistem saraf. Unsur-unsur pokok pada
LCS berada dalam keseimbangan dengan cairan otak ekstraseluler, sehingga
mempertahankan lingkungan luar yang konstan terhadap sel-sel dalam sistem
saraf.
2. LCS mengakibatkann otak dikelilingi cairan, mengurangi berat otak dalam
tengkorak dan menyediakan bantalan mekanik, melindungi otak dari
keadaan/trauma yang mengenai tulang tengkorak.
3. LCS mengalirkan bahan-bahan yang tidak diperlukan dari otak, seperti CO 2
laktat, dan ion Hidrogen. Hal ini penting karena otak hanya mempunyai sedikit
sistem limfatik. Dan untuk memindahkan produk seperti darah, bakteri, materi
purulen dan nekrotik lainnya yang akan diirigasi dan dikeluarkan melalui villi
arakhnoid.
4. Bertindak sebagai saluran untuk transport intraserebral. Hormon-hormon dari
lobus posterior hipofisis, hipothalamus, melatonin dari fineal dapat dikeluarkan ke
LCS dan transportasi ke sisi lain melalui intraserebral.
5. Mempertahankan tekanan intrakranial. Dengan cara pengurangan LCS dengan
mengalirkannya ke luar rongga tengkorak, baik dengan mempercepat
pengalirannya melalui berbagai foramina, hingga mencapai sinus venosus, atau
masuk ke dalam rongga subarachnoid lumbal yang mempunyai kemampuan
mengembang sekitar 30%.

Pembentukan LCS di pleksus koroid diinervasi oleh saraf-adrenergik dan


koliergik. Perangsangan sistem adrenergic mengurangi produksi LCS, sedangkan
pemacuan saraf kolinergik dapat melipat-gandakkan kecepatan produksi LCS
normal. LCS mengisi ventrikel dan ruang subarachnoid. Pada anak normal,
produksi LCS 20 ml per jam. Volume total LCS pada bayi sekitar 50 ml, dan pada
orang dewasa 150 ml. Kecepatan produksi LCS pada orang dewasa sekitar 550 ml
per hari. Jadi, LCS mengalami pertukaran sekitar 3,7 kali sehari. Aliran LCS akibat
dari perbedaan tekanan yang ada antara sistem ventrikel dan saluran vena. Tekanan
di dalam ventrikel dapat setinggi 180 mm air pada keadaan normal, sedangkan
pada sinus sagitalis superior berada pada kisaran 90 mm air. Normalnya, LCS
mengalir dari ventrikel lateralis melalui foramen Monro ke dalam ventrikel ke tiga.
kemudian melewati akuaduktus Sylvius yang sempit, masuk ke ventrikel keempat.
LCS keluar dari ventrikel keempat melalui pasangan foramen Luschka lateral dan
foramen linea mediana Magendic ke dalam sisterna pada dasar otak. (Surya, 2013)
LCS mengalir melalui foramen Magendie dan Luschka menuju ruang
subarachnoid dan diserap melaui vili arakhnoidalis ke dalam vena, terutama sinus
vena serebrum. Vili terdiri atas tonjolan membran arakhnoid dan endotel sinus ke
dalam sinus vena. Di sektiar rute saraf spinalis juga terdapat vili serupa yang lebih
kecil dan menonjol ke dalam vena. Tonjolan ini berfungsi sebagai katup yang
memungkinkan bulk flow (aliran langsung) LCS ke dalam darah vena. Aliran
melaui vili ini adalah sekitar 500 ml per hari, dengan sejumlah kecil LCS
tambahan yang diserap melalui difusi ke dalam pembuluh darah serebrum. (Surya,
2013)
Menurut Japradi, Iskandar (2002) patofisiologi dari LCS sebagai berikut:
a. Warna
Normal cairan serebrospinal warnamya jernih dan patologis bila berwarna
kuning,santokhrom, cucian daging, purulenta atau keruh. Warna kuning muncul
dari protein. Peningkatan protein ditandai dengan perubahan warna adalah bila
lebih dari 1 g/L. Cairan serebrospinal berwarna merah muda berasal dari darah
dengan jumlah sel darah merah lebih dari 500 sdm/cm3. Sel darah merah yang
utuh akan memberikan warna merah. Eritrosit akan lisis dalam satu jam dan akan
memberikan warna cucian daging di dalam cairan serebrospinal. Cairan
serebrospinal tampak purulenta bila jumlah leukosit lebih dari 1000 sel/ml.
b. Tekanan
Tekanan LCS diatur oleh hasil kali dari kecepatan pembentukan cairan dan
tahanan terhadap absorpsi melalui villi arakhnoid. Bila salah satu dari keduanya
naik, maka tekanan naik, bila salah satu dari keduanya turun, maka tekanannya
turun. Tekanan LCS tergantung pada posisi, bila posisi berbaring maka tekanan
normal cairan serebrospinal antara 8-20 cm H2O pada daerah lumbal, siterna
magna dan ventrikel, sedangkan jika penderita duduk tekanan cairan serebrospinal
akan meningkat 10-30 cm H2O. Kalau tidak ada sumbatan pada ruang
subarakhnoid, maka perubahan tekanan hidrostastik akan ditransmisikan melalui
ruang serebrospinalis.
Pada keadaan normal penekanan vena jugularis akan meninggikan tekanan
10-20 cm H2O dan tekanan kembali ke asal dalam waktu 10 detik. Bila ada
penyumbatan, tak terlihat atau sedikit sekali peninggian tekanan. Karena keadaan
rongga kranium kaku, tekanan intrakranial juga dapat meningkat, yang bisa
disebabkan oleh karena peningkatan volume dalam ruang kranial, peningkatan
cairan serebrospinal atau penurunan absorbsi, adanya masa intrakranial dan
oedema serebri.
c. Jumlah sel
Jumlah sel leukosit normal tertinggi 4-5 sel/mm3, dan mungkin hanya
terdapat 1 sel polymorphonuklear saja. Sel leukosit jumlahnya akan meningkat
pada proses inflamasi. Perhitungan jumlah sel harus sesegera mungkin dilakukan,
tidak lebih dari 30 menit setelah dilakukan lumbal punksi. Bila tertunda maka sel
akan mengalami lisis, pengendapan dan terbentuk fibrin. Keadaaan ini akan
merubah jumlah sel.
Leukositosis ringan antara 5-20 sel/mm 3 adalah abnormal tetapi tidak
spesifik. Pada meningitis bakterial akut akan cenderung memberikan respon
perubahan sel yang lebih besar terhadap peradangan dibanding dengan yang
meningitis aseptik. Pada meningitis bakterial biasanya jumlah sel lebih dari 1000
sel/mm3, sedangkan pada meningitis aseptik jarang jumlah selnya tinggi.
Jika jumlah sel meningkat secara berlebihan (5000-10000 sel /mm 3),
kemungkinan telah terjadi rupture dari abses serebri atau perimeningeal perlu
dipertimbangkan. Perbedaan jumlah sel memberikan petunjuk ke arah penyebab
peradangan. Monositosis tampak pada inflamasi kronik oleh L. monocytogenes.
Eosinophil relatif jarang ditemukan dan akan tampak pada infeksi cacing dan
penyakit parasit lainnya termasuk Cysticercosis, juga meningitis tuberculosis,
neurosiphilis, lympoma susunan saraf pusat, reaksi tubuh terhadap benda asing.
d. Glukosa
Normal kadar glukosa berkisar 45-80 mg%. Kadar glukosa cairan
serebrospinal sangat bervariasi di dalam susunan saraf pusat, kadarnya makin
menurun dari mulai tempat pembuatannya di ventrikel, sisterna dan ruang
subarakhnoid lumbar. Rasio normal kadar glukosa cairan serebrospinal lumbal
dibandingkan kadar glukosa serum adalah >0,6. Perpindahan glukosa dari darah ke
cairan serebrospinal secara difusi difasilitasi transportasi membran. Bila kadar
glukosa cairan serebrospinalis rendah, pada keadaan hipoglikemia, rasio kadar
glukosa cairan serebrospinalis, glukosa serum tetap terpelihara. Hypoglicorrhacia
menunjukkan penurunan rasio kadar glukosa cairan serebrospinal, glukosa serum,
keadaan ini ditemukan pada derajat yang bervariasi, dan paling umum pada proses
inflamasi bakteri akut, tuberkulosis, jamur dan meningitis oleh carcinoma.
e. Protein
Kadar protein normal cairan serebrospinal pada ventrikel adalah 5-15 mg
%. Pada sisterna 10-25 mg% dan pada daerah lumbal adalah 15-45 ,g%. Kadar
gamma globulin normal 5-15 mg% dari total protein. Kadar protein lebih dari 150
mg% akan menyebabkan cairan serebrospinal berwarna xantokrom, pada
peningkatan kadar protein yang ekstrim lebih dari 1,5 gr% akan menyebabkan
pada permukaan tampak sarang laba-laba (pellicle) atau bekuan yang menunjukkan
tingginya kadar fibrinogen.
Kadar protein cairan serebrospinal akan meningkat oleh karena hilangnya
sawar darah otak (blood barin barrier), reabsorbsi yang lambat atau peningkatan
sintesis immunoglobulin loka. Sawar darah otak hilang biasanya terjadi pada
keadaan peradangan,iskemia baktrial trauma atau neovaskularisasi tumor, reabsorsi
yang lambat dapat terjadi pada situasi yang berhubungan dengan tingginya kadar
protein cairan serebrospinal, misalnya pada meningitis atau perdarahan
subarakhnoid.
Peningkatan kadar immunoglobulin cairan serebrospinal ditemukan pada
multiple sklerosis, acut inflamatory polyradikulopati, juga ditemukan pada tumor
intra kranial dan penyakit infeksi susunan saraf pusat lainnya, termasuk ensefalitis,
meningitis, neurosipilis, arakhnoiditis dan SSPE (sub acut sclerosing
panensefalitis). Perubahan kadar protein di cairan serebrospinal bersifat umum tapi
bermakna sedikit, bila dinilai sendirian akan memberikan sedikit nilai diagnostik
pada infeksi susunan saraf pusat.
f. Elektrolit
Kadar elektrolit normal LCS adalah Na 141-150 mEq/L, K 2,2-3,3 mRq, Cl
120-130 mEq/L, Mg 2,7 mEq/L. Kadar elektrolit ini dalam cairan serebrospinal
tidak menunjukkan perubahan pada kelainan neurologis, hanya terdpat penurunan
kadar Cl pada meningitis tapi tidak spesifik.
g. Osmolaritas
Terdapat osmolaritas yang sama antara LCS dan darah (299 mosmol/L0.
Bila terdapat perubahan osmolaritas darah akan diikuti perubahan osmolaritas
LCS.
h. PH
Keseimbangan asam basa harus dipertimbangkan pada metabolik asidosis
dan metabolik alkalosis. PH cairan serebrospinal lebih rendah dari PH darah,
sedangkan PCO2 lebih tinggi pada cairan serebrospinal. Kadar HCO3 adalah sama
(23 mEg/L). pH LCS relatif tidak berubah bila metabolik asidosis terjadi secara
subakut atau kronik, dan akan berubah bila metabolik asidosis atau alkalosis terjadi
secara cepat.

Metode pemeriksaan kadar protein LCS


a. Pemeriksaan Nonne-Aplet
Pemeriksaan Nonne-Aplet atau Ross-Jones digunakan untuk mengetahui
adanya protein jenis globulin secara kualitatif. Pemeriksaan ini menggunakan
larutan ammonoium sulfat jenuh yang terdiri dari 80 gram ammonium sulfat dalam
100 ml akuades. Prosedur pemeriksaan dengan menambahkan 2 tetes spesimen
LCS melalui dinding tabung pada 1 ml reagen Nonne-Aplet. Hasil positif apabila
terbentuk cincin putih ( Cahyani, 2017).
b. Pemeriksaan Pandy
Pemeriksaan Pandy digunakan untuk mengetahui adanya protein jenis
globulin dan albumin secara kualitatif. Pemeriksaan ini menggunakan larutan fenol
jenuh yang dibuat dari 10 ml penolum liquefactum dalam 90 ml akuades dan
disimpan selama beberapa hari dalam lemari gelap. Pemeriksaan dilakukan dengan
menambahkan 2 tetes spesimen LCS ke dalam 1 ml reagen Pandy. Hasil dibaca
segera dan dinyatakan positif apabilan terbentuk kekeruhan berwarna putih yang
bervariasi kabut halus hingga menyerupai gumpalan. Intensitas kekeruhan tersebut
dipengaruhi oleh kadar protein LCS ( Cahyani, 2017).

VI. ALAT DAN BAHAN


1. Test None-Apelt dan Pandy
a. Alat:
- Tabung kecil diameter 7 mm
- Pipet ukur 1 ml
- Ball pipet
- Pipet tetes
- Stopwatch
- Gelas arloji
b. Bahan
1) Reagent nonne : Larutan (NH4)2SO4 jenuh
2) R 1 : 85 g (NH4)2SO4 netral dilarutkan dalam 100 ml aquadest
dipanaskan pada suhu 90ºC, dibiarkan beberapa hari
3) Reagen Pandy
- Fenol kristal : 10 g
- Aquadest : 100 ml
- Dikocok, diinkubasi pada suhu 37ºC selama beberapa hari, reagen
harus sering dikocok
2. Pemeriksaan Hitung Jumlah dan Jenis Sel Pada Cairan Otak
a. Alat
- Pipet thoma leukosit
- Kamar hitung Improved Neubauer
- Glass beaker
- Mikroskop
b. Bahan
1) Sampel cairan otak
2) Reagen larutan turk pekat (turk rosental)
3) Aquadest
4) Tissue

VII. PROSEDUR KERJA


1. Pemeriksaan Makroskopis
No. Parameter Penilaian Normal
1. Warna Tidak berwarna, Kuning Tidak berwarna
muda, Kuning, Kuning
tua, Kuning coklat,
merah, hitam coklat
2. Kejernihan Jernih, agak keruh, keruh, Jernih
sangat keruh, keruh
kemerahan
3. Bekuan Tidak ada bekuan, ada Tidak ada bekuan
bekuan
4. pH 7,3 atau setara dengan pH
plasma/serum
5. BJ 1.000 – 1.010 1.003 – 1.008
Hal yang perlu diperhatikan :
a. Warna
- Normal warna LCS tampak jernih, wujud dan viskositasnya sebanding
air.
- Merah muda → perdarahan trauma akibat pungsi
- Merah tua atau coklat → perdarahan subarakhnoid akibat hemolisis dan
akan terlihat jelas sesudah disentrifuge
- Hijau atau keabu-abuan → pus
- Coklat → terbentuknya methemalbumin pada hematoma subdural
kronik
- Xanthokromia → (kekuning-kuningan) pelepasan hemoglobin dari
eritrosit yang lisis (perdarahan intraserebral/subarachnoid); juga
disebabkan oleh kadar protein tinggi (> 200 mg/dl)
b. Kekeruhan
- Normal → tidak ada kekeruhan atau jernih. Walaupun demikian LCS
yang jernih terdapat juga pada meningitis luetika, tabes dorsalis,
poliomyelitis, dan meningitis tuberkulosa.
- Keruh → ringan seperti kabut mulai tampak jika :
- Leukosit 200-500/ul3
- Eritrosit > 400/ml
- Mikroorganisme (bakteri, fungi, amoeba)
- Aspirasi lemak epidural sewaktu dilakukan pungsi
- Media kontras radiografi.
c. Konsistensi bekuan
- Bekuan banyak darah masuk
- Normal → tidak terlihat bekuan
- Bekuan → banyaknya fibrinogen yang berubah menjadi fibrin.
Disebabkan: trauma pungsi, meningitis supurativa, atau meningitis
tuberkulosa. Jendalan sangat halus à LCS didiamkan di dalam almari es
selama 12-24 jam.
2. Pemeriksaan Mikroskopis
a. Syarat pemeriksaan :
Dilakukan dlm waktu < 3 ’ karena bila > 3 ’ jml sel akan berkurang yang
disebabkan:
- Sel mengalami sitolisis
- Sel akan mengendap, sehingga sulit mendapat sampel yang homogen
- Sel terperangkap dalam bekuan
- Sel cepat mengalami perubahan morfologi
b. Jenis Pemeriksaan:
- Hitung Jumlah Sel
- Hitung Jenis Sel
- Bakterioskopi
c. Cara kerja:
1) Cairan otak yang diperiksa dikocok dahulu agar homogen
2) Larutan turk dihisap sampai angka 1
3) Larutan cairan otak dihisap sampai angka 11
4) Dikocok perlahan selama lebih kurang 3 menit dengan menggerakkan
pipet tegak lurus sumbu panjang pipet
5) Lalu dibuang 3 tetes cairan pertama
6) Diteteskan pada bilik hitung Improved Neubauer
7) Dibiarkan selama 5 menit agar sel mengedap
8) Dihitung sel dalam kamar hitung pada semua kotak leukosit di
mikroskop lensa objektif 10x/ 40x serta dihitung jenis selnya (hitung
dalam 3 kamar hitung, kemudian kalikan 3)
Dengan perhitungan : Jumlah sel/ mm3 = 10/9 X N sel/ mm3
3. Pemeriksaan Kimia
Pemeriksaan rutin yang dilakukan :
- Penetapan protein secara kualitatif
- Kadar protein
- Kadar glukosa
- Kadar klorida
a. Pemeriksaan None-Apelt
1) Tabung serologi diisi dengan 1 ml larutan ammonium sulfat jenuh
2) Dituang 0,5 ml LCS dengan cara pelan-pelan lewat dinding tabung
sehingga terbentuk 2 lapisan, di mana lapisan atas adalah LCS
3) Diamkan selama 3 menit
4) Kemudian dilihat pada perbatasan kedua lapisan dengan latar belakang
gelap
b. Pemeriksaan Pandy
1) Gelas arloji diisi dengan 1 ml reagen Pandy
2) Ditetesi dengan 1 tetes LCS
3) Kemudian dilihat segera ada tidaknya kekeruhan

VIII. INTERPRETASI HASIL


1. Pemeriksaan Makroskopis
No Parameter Penilaian Normal
1. Warna Tidak berwarna, Kuning muda, Kuning,Tidak berwarna
Kuning tua, Kuning coklat, merah, hitam
coklat
2. Kejernihan Jernih, agak keruh, keruh, sangat keruh,Jernih
keruh kemerahan
3. Bekuan Tidak ada bekuan, ada bekuan Tidak ada bekuan
4. pH 7,3 atau setara dengan pH plasma/serum

5. BJ 1.000 – 1.010 1.003 – 1.008

2. Pemeriksaan Kimia None-Apelt


Negatif : tidak terbentuk cincin putih
+1 : terbentuk cincin putih sangat tipis, hanya dapat dilihat
dengan latar belakang hitam, bila dikocok akan kembali
jernih
+2 : cincin putih tampak agak jelas, bila dikocok cairan jadi
opalescent
+3 : cincin putih tampak jelas, bila dikocok jadi keruh
+4 : cincin putih sangat jelas, bila dikocok cairan menjadi
keruh sekali
3. Pemeriksaan Kimia Pandy
Negatif : bila tidak terjadi kekeruhan (berkabut/ opalescent)
+1 : opalescent (kadar protein 50-100 mg%)
+2 : keruh (kadar protein 100-300 mg%)
+3 : sangat keruh (kadar protein 300-500 mg%)
+4 : keruh seperti susu (kadar protein > 500 mg%)

4. Pemeriksaan Hitung Jumlah dan Jenis Sel Pada Cairan Otak


a. Hitung Jumlah Sel
Normal = 0-5/ mm3
Borderline = 6-10/ mm3
Abnormal = > 10/ mm3
Anak - anak umur < 5 tahun, Normal = < 20/ mm3
b. Hitung Jenis Sel
MN 100% dan PMN 0%
IX. HASIL PENGAMATAN
Praktikum tanggal 11 Desember 2018
1. Pemeriksaan Makroskopis
No. Pemeriksaan Gambar Hasil
1 Warna Bening tidak berwarna
(normal)

2 Kejernihan Jernih (normal)

3 Bekuan Tidak ada bekuan


(normal)
4 pH 7-8 (normal)

2. Pemeriksaan Kimia
a. Pemeriksaan None-Apelt
Sebelum Sesudah Hasil
+2
(Terbentuk cincin
putih yang tampak
agak jelas, setelah
dikocok cairan jadi
Belum terbentuk cincin Terbentuk cincin putih opalescent)
putih yang tampak agak jelas,
setelah dikocok cairan
jadi opalescent

b. Pemeriksaan Pandy
Sebelum Sesudah Hasil
+2 (kadar protein
100-300 mg%)

Belum terjadi kekeruhan Terjadi kekeruhan yang


nyata

3. Pemeriksaan Mikroskopis
a. Hitung Jumlah Sel
Kotak Hitung Leukosit (Mono) Leukosit (Poli)
1 2 0
2 1 0
3 0 4
4 0 0
5 0 1
6 0 1
7 1 2
8 1 0
9 1 0
∑ 6 8

Hitung jumlah sel = xN

= x 14

= 15,6 sel/mm3
=
16 sel/mm3 (Abnormal)
b. Hitung Jenis Sel
Leukosit Mono (Berinti 1) Leukosit Poli (Berinti lebih dari 1)

Diperbesar Diperbesar

Persentase MN = x 100%

= x 100%

= 43%

Persentase PMN = x 100%


= x 100%

= 57%

Praktikum tanggal 18 Desember 2018


4. Pemeriksaan Makroskopis
NO Pemeriksaan Gambar Hasil
1 Warna Bening tidak berwarna
(normal)

2 Kejernihan Jernih (normal)

3 Bekuan Tidak ada bekuan


(normal)
4 pH 6-7 (normal)

5. Pemeriksaan Kimia
c. Pemeriksaan None-Apelt
Sebelum Sesudah Hasil
+2
(Terbentuk cincin
putih yang tampak
agak jelas, setelah
dikocok cairan jadi
opalescent)

Belum terbentuk cincin Terbentuk cincin putih


putih yang tampak agak jelas,
setelah dikocok cairan
jadi opalescent

d. Pemeriksaan Pandy
Sebelum Sesudah Hasil
+2 (kadar protein
100-300 mg%)

Belum terjadi kekeruhan Terjadi kekeruhan yang


nyata

6. Pemeriksaan Mikroskopis
c. Hitung Jumlah Sel
Kotak Hitung Leukosit (Mono) Leukosit (Poli)
1 0 0
2 0 2
3 1 0
4 1 0
5 0 1
6 0 1
7 0 1
8 0 1
9 0 0
∑ 2 6

Hitung jumlah sel = xN

= x8

=
9 sel/mm3 (Borderline)
d. Hitung Jenis Sel
Leukosit Mono (Berinti 1) Leukosit Poli (Berinti lebih dari 1)
Diperbesar Diperbesar

Persentase MN = x 100%

= x 100%

= 23%

Persentase PMN = x 100%

= x 100%

= 67%

X. PEMBAHASAN
Liquor Cerebrospinalis (LCS) atau cairan otak adalah cairan jernih yang
menyelimuti susunan syaraf pusat yang menggenangi otak dan medulla spinalis.
Fungsi utama LCS adalah sebagai alat pelindung bila terjadi hantaman keras pada
tengkorak yang dapat menyebabkan cidera berat. Liquor Cerebrospinalis (LCS)
atau cairan otak juga dapat digunakan untuk menentukan penyebab penyakit yang
menyerang susunan syaraf pusat (Widyastiti, 2000).
Liquor Cerebrospinalis (LCS) berasal dari plasma darah sehingga kandungan
serupa dengan plasma. LCS juga dapat diproduksi dan akan diserap kembali ke
dalam darah melalui granulasi araknoid di sinus sagitalis superior. Penyerapakan
kembali menjadikan proses turn over LCS mencapai hingga 3,7 kali per hari.
Aliran sistem vena yang berlangsung terus menerus menyebabkan pengenceran
konsentrasi beberapa molekul yang besar dan larut dalam lemak. Cairan ini
memiliki komposisi yang hampir sama dengan plasma darah, yaitu natrium,
kalium, urea, asam laktat, dan sulfonamide serta 12 zat lainnya yang komposisinya
berbeda denganplasma darah. Komposisi LCS dapat berubah – ubah, hal ini
dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
a. Perubahan jumlah dan zat dalam darah dan plasma darah
b. Perubahan permeabilitas pembuluh darah dan selaput otak
c. Eksudat inflamasi dengan selaput meningeal
d. Perubahan permeabilitas dari flexus meningeal (Widyastiti, 2000)
Pengambilan cairan otak dilakukan dengan maksud diagnostic atau untuk
melakukan tindakan terapi. Kelainan dalam hasil pemeriksaan dapat memberikan
petunjuk kearah suatu penyakit susunan syaraf setelah terjadi trauma. Cairan otak
biasanya diperoleh dengan melakukan punksi lumbal pada lumbal III dan IV pada
cavum subarachnoidale, namun dapat pula pada suboccipital ke dalam cisternal
magma atau punksi ventrikel, yang dapat disesuaikan dengan indikasi klinis. Hasil
punksi lumbal dimasukan dalam 3 tabung atau 3 syringe yang berbeda, antara
lain :
1. Tabung I berisi 1 mL
Dibuang karena tidak dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan karena
mungkin mengandung darah pada saat penyedotan
2. Tabung II berisi 7 mL
Digunakan untuk pemeriksaan serologi, bakteriologi dan kimia klinik
3. Tabung III berisi 2 mL
Digunakan untuk pemeriksaan jumlah sel, diff.count dan protein kualitatif atau
kuantitatif.
Tata cara pengambilan specimen LCS, yaitu :
1. Pasien dalam posisi miring pada salah satu sisi tubuh. Leher fleksi maksimal
(lutut ditarih kea rah dahi)
2. Tentukan daerah punksi lumbal diantara L4 dan L5 yaitu dengan menentukan
garis potongan sumbu kraniospinal (kolumna verterbralis) dan garis antara
kedua spinal ishiadika anterior superior (SIAS) kiri dan kanan. Punksi dapat
dilakukan antara L4 dan L5 atau antara L2 dan L3 namun tidak boleh pada
bayi.
3. Lakukan tindakan antiseptis pada kulit disekitar daerah punksi radius 10 cm
dengan larutan providon iodine diikuti larutan alcohol 70% dan tutup dengan
duk steril dimana daerah punksi lumbal dibiarkan terbuka.
4. Tentukan daerah kembali punksi dengan menekan ibu jari tangan yang telah
memakai sarung tangan steril (handscoon) selama 15 – 30 detik yang akan
menandai titik punksi tersebut selama 1 menit.
5. Tusukan jarum spinal atau styel pada tempat yang telah ditentukan. Masukan
jarum secara perlahan menyusur tulang vertebra sebelah proksimal dengan
mulut jarum terbuka ke atas sampai menembus durameter. Jika antara kulit dan
ruang subarakhnoi berbeda pada tiap anak tergantung umur dan keadaan gizi.
Umumnya 1,5 – 2,5 cm pada bayi dan meningkat menjadi 5 cm pada umur 3 –
5 tahun. Pada remaja jaraknya 6 – 8 cm.
6. Lepaskan style secara perlahan dan cairan keluar. Untuk mendapatkan aliran
cairan yang lebih baik, jarum diputar hingga mulut jarum mengarah ke krinal.
Ambil cairan untuk pemeriksaan.
7. Cabut jarum dan tutup lubang tusukan dengan plester. (Yuli, 2014)
Pemeriksaan LCS harus dilakukan dalam waktu kurang dari 30 menit setelah
pengambilan, hal ini karena jika waktunya melebihi 30 menit maka jumlah sel
akan berkurang yang disebabkan oleh :
a. Sel – sel mengalami cytolisis
b. Sel – sel mengendap sehingga sulit mendapatkan sampel yang homogen
c. Sel – sel terperangkap dalam bekuan
d. Sel – sel mengalami perubahan morfologi
Praktikum pemeriksaan Liquor Cerebrospinalis (LCS) ini dilakukan pada
dua sampel yang berbeda yang diperiksa pada hari yang berbeda pula. Sampel
pertama yang berlabel 3 diperiksa pada tanggal 11 Desember 2018, sedangkan
sampel kedua yang berlabel 2 diperiksa pada tanggal 18 Desember 2018.
Pemeriksaan cairan otak ini mencakup beberapa pemeriksaan yaitu pemeriksaan
makroskopis, mikroskopis dan kimia. Metode pemeriksaan makroskopis meliputi
beberapa pemeriksaan yaitu warna sampel, kejernihan, bekuan dan pH sampel.
Pada hasil pemeriksaan sampel pertama maupun kedua, warna yang terdapat pada
cairan LCS yaitu bening (tidak berwarna), hal ini menyatakan jika warna cairan
LCS pada pasien normal. Dalam keadaan patofosiologi cairan otak berwarna :
 Kekuning – kuningan
Warna ini dapat disebabkan derivate hemoglobin dari perdarahan yang telah
lama terjadi (minimum 6 jam, maksimum 1 – 1,5 minggu) yang berasal dari
bilirubin darah bila intensitas ikterus hebat. Cairan otak xantocrome karena
kadar protein yang sangat tinggi (>200 mg/dl) atau perdarahan dapat
membeku.
 Merah
Warna merah disebabkan oleh :
a. Pendarahan artificial yang merupakan komplikasi dari punksi
b. Pendarahan sub arachnoidal
 Coklat
Warna coklat disebabkan oleh perdarahan yang lama disertai dengan adanya
hemolisis, maka cairan otak (LCS) akan berwarna coklat
 Keabu – abuan
Warna keabu –abuan ini data dsebabkan oleh adanya leukosit dalam jumlah
besar (Yuli, Prastiwa, 2014).
Pada kedua sampel yang berlabel 3 dan 2 yang di periksa tidak terdapat
kekeruhan, sama seperti interpretasi yang terdapat jika jernih menandakan normal.
Walaupun demikian LCS yang jernih terdapat juga pada meningitis leutika, tabes
dorsalis, poliomyelitis dan meningitis tuberkulosa. Keruh ringan seperti kabut
mulai tampak jika :
- Lekosit 200 – 500/µl
- Eritrosit >400/ml
- Mikroorganisme seperti bakteri, fungi dan amoeba
- Aspirasi lemak epidural sewaktu dilakukan punksi
- Media kontras radiologi
Pemeriksaan makroskopis selanjutnya adalah pemeriksaan bekuan pada
sampel cairan otak. Pada kedua sampel yang diperiksa, tidak terdapat bekuan yang
terjadi. Hal ini ditunjukkan dengan tidak terlihatnya kabut putih yang menggumpal
karena bekuan terdiri dari atas benang fibrin. Adapun salah satu hal yang harus
diperhatikan dalam pemeriksaan LCS ialah LCS yang tercampur dengan darah
dalam jumlah banyak tidak dapat diperiksa karena akan sama hasilnya dengan
pemeriksaan dalam darah, terutama bila ada bekuan merah sebagaimana darah
membeku. Pemeriksaan makroskopis selanjutnya ialah pengukuran pH yang
dilakukan dengan menggunakan kertas pH dan indikator universal. Hasil
pemeriksaan antara kedua sampel sedikit berbeda. Pada sampel pertama yang
berlabel 3 didapatkan hasil pemeriksaan pH sebesar 7-8 (normal). Sedangkan pada
sampel kedua didapatkan hasil pemeriksaan pH sebesar 6-7. Cairan otak dalam
keadaan normal pH bereaksi sedikit alkalis.
Pemeriksaan mikroskopis cairan LCS menggunakan metode bilik hitung
dengan prinsip LCS diencerkan dengan larutan turk pekat akan ada sel leukosit dan
sel lainnya akan lisis. Pemeriksaan mikroskopis bertujuan untuk mengetahui
jumlah sel dalam cairan. Pemeriksaan mikroskopis meluputi hitung jumlah dan
hitung jenis sel pada cairan LCS. Namun pada praktikum yang telah dilakukan,
pemeriksaan mikroskopis hanya dilakukan hitung jumlah sel leukosit dengan
metode bilik hitung/ kamar hitung Improved Neubaure. Prinsip dari metode ini
yaitu Liquor Cerebro Spinalis diencerkan dengan larutan turk pekat akan ada sel
leukosit dan sel lainnya akan lisis dan dihitung selnya dalam kamar
hitung di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk mengetahui
adanya inflamasi karena ditemukannya leukosit pada LCS menjadi salah satu
diagnosa.
Leukosit masuk ke dalam LCS jika ada kerusakan pada pembuluh darah
atau sebagai akibat reaksi terhadap iritasi atau inflamasi. Jumlah sel leukosit
normal tertinggi adalah 4-5 sel/mm3, dan mungkin hanya terdapat 1 sel
polymorphonuklear, jumlah sel leukosit akan meningkat pada proses inflamasi.
Sedangkan nilai rujukan normal pada anak dan dewasa untuk jumlah lekosit
(monosit dan limposit) adalah 0 – 5 sel/ul, sedangkan untuk neonatus 0 – 30 sel/ul.
Perhitungan jumlah sel harus sesegera mungkin dilakukan yaitu tidak lebih dari 30
menit setelah dilakukan lumbal punksi. Bila pemeriksaan ditunda maka sel akan
mengalami lisis, terjadi pengendapan dan terbentuk fibrin. Keadaaan ini akan
mempengaruhi jumlah sel secara bermakna. Leukositosis ringan terjadi jika jumlah
leukosit antara 5-20 sel/mm3 disebut abnormal tetapi tidak spesifik. Pada
meningitis bakterial akut akan cenderung memberikan respon perubahan sel yang
lebih besar terhadap peradangan dibanding dengan yang meningitis aseptik. Pada
meningitis bakterial biasanya jumlah sel lebih dari 1000 sel/mm3, sedangkan pada
meningitis aseptik jarang jumlah selnya tinggi. Jika jumlah sel meningkat secara
berlebihan (5000-10000 sel /mm3), kemungkinan telah terjadi rupture dari abses
serebri atau perimeningeal perlu dipertimbangkan. Perbedaan jumlah sel
memberikan petunjuk ke arah penyebab peradangan. Monositosis tampak pada
inflamasi kronik oleh L. monocytogenes. Eosinophil relatif jarang ditemukan dan
akan tampak pada infeksi cacing dan penyakit parasit lainnya termasuk
Cysticercosis, juga meningitis tuberculosis, neurosiphilis, lympoma susunan saraf
pusat, reaksi tubuh terhadap benda asing (Yuli, Prastiwa, 2014).
Hasil praktikum penghitungan jumlah leukosit kemudian dimasukkan ke
dalam rumus perhitungan total leukosit pada LCS. Pada sampel pertama yang
berlabel 3 didapatkan hasil jumlah sel leukosit sebesar 16 sel/mm 3 dengan
persentase jenis sel monoblast sebesar 43% dan jenis sel polimonoblast sebanyak
57%. Sedangkan pada sampel kedua yang berlabel 2, didapatkan hasil jumlah sel
leukosit sebesar 9 sel/mm3 dengan persentase jenis sel monoblast sebesar 23% dan
jenis sel polimonoblast sebanyak 67%. Hal ini menandakan bahwa kedua sampel
LCS tersebut abnormal, adanya leukosit pada LCS menjadi indikasi adanya
peradangan/inflamasi (Yuli, Prastiwa, 2014).
Pemeriksaan kimia Nonne-Apwlt dan Pandy merupakan pemeriksaan
protein kualitatif yang paling umum digunakan untuk melihat adanya protein LCS.
Pemeriksaan pandy digunakan untuk mengeahui adanya protein jenis globulin dan
albumin secara kualitatif. Pemeriksaan ini dengan ditambahkan reagen pandy
sehingga mengalami denaturasi berupa kekeruhan hingga terjadi endapan putih.
Hasil kemudian segera dibaca dengan bantuan latar belakang yang gelap untuk
mempermudah melihat kekeruhan. Pada sampel pertama maupun kedua
didapatkan hasil positif (+2) yang ditandai dengan kekeruhan yang nyata. Hal ini
menunjukkan kadar protein albumin dan globulin pada sampel pertama maupun
kedua sebesar 100 – 300 mg%. Intensitas kekeruhan ini dipengaruhi oleh kadar
protein yang berada dalam LCS. Semakin tingggi intensitas proteinnya, maka
kekeruhan yang timbul akan semakin nyata (Widyastiti, 2000). Selanjutnya,
dilakukan pemeriksaan dengan metode Nonne-Apelt atau Ross-Jones digunakan
untuk mengetahui adanya protein jenis globulin secara kualitatif. Pemeriksaan ini
menggunakan reagen ammonium sulfat jenuh yang terdiri dari 80 gram ammonium
sulfta dalam 100 mL akuadest. Pada sampel pertama maupun kedua didapatkan
hasil positif (+2) yang ditandai dengan terbentuknya cincin putih yang tampak
agak jelas, dan setelah dikocok cairan menjadi opalescent.
XI. SIMPULAN
Liquor Cerebrospinalis (LCS) atau cairan otak adalah cairan jernih yang
menyelimuti susunan syaraf pusat yang menggenangi otak dan medulla spinalis.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada pemeriksaan cairan otak secara
makroskopis didapatkan cairan otak tersebut berwarna bening, jernih, tidak ada
bekuan dan pHnya 7-8. Kemudian hasil pemeriksaan secara kimia yaitu pada
metode pandy dinyatakan positif (+2) yaitu kekeruhan dengan kadar protein 100 –
300 mg% dan pada metode Nonne-Apelt atau Ross-Jones dinyatakan positif (+2)
yang menunjukan cincin putih tampak agak jelas, bila dikocok ciran menjadi
opalescent. Sedangkan pemeriksaan secara mikroskopis menggunakan mikroskop
jumlah total leukosit pada LCS didapatkan sebesar 16 sel/mm3 dengan jenis sel
monoblast 43% dan jenis sel polimonoblast yaitu 57%. Ini menandakan LCS
tersebut abnormal, adanya leukosit pada LCS menjadi indikasi adanya
peradangan/inflamasi.
DAFTAR PUSTAKA

Japradi, Iskandar. 2002. Cairan Serebrospinal. Tersedia pada


http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/1989/bedah-
iskandar%20japardi5.pdf?sequence=1. Diakses pada tanggal 15
Desember 2018.
Cahyani, 2017. Tinajuan Pustaka. Tersedia pada
http://repository.unimus.ac.id/470/3/KTI%20bagian%20isi%20bab
%202.pdf. Diakses pada tanggal 15 Desember 2018.
Surya. 2013. LCS Kimia Klinik. Tersedia:
https://www.scribd.com/doc/243303346/LCS-Kimklin. Diakses pada
tanggal 15 Desember 2018.
Widyastiti. (2000). Liquor Cerebrospinalis (LCS). Liquor Cerebrospinalis (LCS),
(Widyastiti), 3. http://repository.unimus.ac.id/470/3/KTI%20bagian
%20isi%20bab%202.pdf#page=1&zoom=auto,-19,762.
Yuli, Prastiwa. (2014). Makalah LCS.
http://www.academia.edu/11501281/Makalah_LCS

Anda mungkin juga menyukai