Anda di halaman 1dari 16

38

BAB IV

ANALISA GANGGUAN PLTU 2 BANTEN LABUAN

4.1 Gangguan PLTU 2 Banten Labuan

PLTU 2 Banten Labuan terdiri dari 2 unit yang masing-masing memilki daya

terpasang 300 MW. Output tegangan dari generator sebesar 20 KV yang kemudian

dinaikkan oleh Generator Transformer (GT) menjadi 150 KV. Dari GT ini akan di

masukkan ke Gardu Induk Labuan. Janis gardu induk Labuan ini adalah Gas

Insulation Substasion atau Gas Insulation Switchgear (GIS) 150 KV menggunakan

gas SF 6 sebagai media pendinginya. GIS 150 KV Labuan 1 ½ Breaker.


MENES 1 MENES 2 SAKETI 1 SAKETI 2

DIAMETER 1 DIAMETER 2 150KV BUSBAR B DIAMETER 3 DIAMETER 4

5B1-2 5B2-2 5B3-2 5B4-2

5B1 5B2 5B3 5B4


5B1-3 5B2-3 5B3-3 5B4-3
5B1-1 5B2-1 5B3-1 5B4-1

5AB1-2 5AB2-2 5AB3-2 5AB4-2

5AB1 5AB2 5AB3 5AB4

5AB1-1 5AB2-1 5AB3-1 5AB4-1

5A1-2 5A2-2 5A4-2


5A1-3 5A2-3 5A4-3
5A1 5A2 5A4

5A1-1 5A2-1 5A4-1

150KV BUSBAR A

SST
GT 1 GT 2

Gambar 4.1. Single Line Diagram PLTU Labuan–GIS 150 kV Labuan

38
39

Gardu induk Labuan terdiri dari 11 unit circuit breakers, 29 kelompok

pemisah, 31 kelompok pemisah pentanahan. Semua peralatan bermerk XI’AN

SHIKY terkecuali pegas mekanisme hidrolik diimpor dari ABB dan motor untuk

spring Circuit Breaker bermerk Groschop buatan jerman. serta memiliki 7 BAY yang

diantaranya meliputi:

1. BAY Penghantar 150 KV Menes 1

2. BAY Penghantar 150 KV Menes 2

3. BAY Penghantar 150 KV Saketi 1

4. BAY Penghantar150 KV Saketi 2

5. BAY GT ( GENERATOR TRANSFORMATOR ) 1 @370 MVA

6. BAY GT ( GENERATOR TRANSFORMATOR ) 2 @370 MVA

7. BAY SST ( Startup/Standby TRANSFORMATOR ) @ 25 MVA

Pada hari Senin, 18 April 2011, jam 14:56:54.998 WIB Turbine Unit 1 trip

dan jam 14:56:55.486 WIB Turbine Unit 2 trip. Gangguan di indikasikan berasal dari

line saketi 150 kV. Berikut data hasil Download dari relay jarak GE D60 Multilin.

Tabel 4.1 Data gangguan Rele Type GE D60 Multilin


40

Keterangan :

Prefault Magnitude : Arus dan tegangan sebelum gangguan

Prefault Angle : Sudut fasa arus dan tegangan saat terjadi gangguan.

Fault magnitude : Arus dan tegangan sebelum terjadi gangguan

Fault Angle : Sudut fasa arusa dan tegangan saat gangguan

Berdasarkan table 4.1, gangguan terjadi di line saketi pada jarak 9.1 km.

Dari data arus sebelum gangguan dan sesudah gangguan, jenis gangguannya

merupakan hubung singkat 3 fasa, karena gangguan ini menyebabkan Arus Ia, Ib, Ic

naik dan Va, Vb, Vc turun, dan sudut fasa bergeser tetapi beda fasa tetap 120 °.

Bentuk gelombang sebelum dan sesudah gangguan dapat dilihat pada gambar 4.2

berikut ini.

Gambar 4.2 Oscillography Distance Relay D 60


41

4.2 Analisa Perhitungan Arus Hubung Singkat

Untuk menghitung arus hubung singkat, di hitung sesuai titik gangguan yang

telah dideteksi olek rele jarak sesuai table 4.1, yaitu di line saketi sejauh 9.1 km.

SAKETI

#1 #2 #1 #2
Fault
150 kV 9.1 km
BUS A
5B1 5B2 5B3 5B4

5AB1 5AB2 5AB3 5AB4

5A1 5A2 5A4


150 kV
BUS B

GT #1 GT #2
20 kV 20 kV

G #1 G #2

SST
UAT #1 UAT #2

Gambar 4.3 Diagram Satu Garis Titik Gangguan

Tabel 4.2 Data Generator Unit 1 dan 2

Jenis Data Keterangan

Tipe QFSN-300-2-20B

Daya Mampu (P) 300MW

Faktor daya (cos µ) 0.85 (lagging)


42

Tegangan Kerja (V) 20 kV

Kapaitas Arus (I) 10189 A

Frekuensi Kerja (f) 50 Hz

Tegangan Penguat (Vf) 455 V

Arus Penguat (If) 2075 A

Xd 1.7826

X'd 0.1923(Saturated value )

X"d 0.1727(Saturated value )

X2 0.1737(Saturated value )

Metode Eksitasi Shunt static self-excitation system

Metode Pendingin Water-hydrogen-hydrogen

Pentanahan Netral Trafo Rated Voltage 20 kV / 0.22 kV

Tabel 4.3 Data Main Transformer Unit 1/2

Jenis Data Keterangan

Kapasitas Daya 370 MVA

Rasio Tegangan Kerja 150 ± 4 × 2.5% / 20kV

Rasio Arus Kerja 1424.1 A /10681 A

Vektor group YN,d1

Tegangan Impedansi 14 %

Impedansi Urutan Nol 8Ω / phase

Operasi saat beban penuh tanpa pendingin 20 min


43

Tabel 4.4 Data Line 150 kV Saketi

Jenis Data Keterangan

Panjang Saluran 20 km (double)

R1 0.0411 Ω/km

X1 0.2812 Ω/km(Z1=0.2842 Ω/km )

Z0 Z0≈3Z1 (Double circuit)

Maximum operation mode I K(3) 13.68KA I K(1) 14.1KA

Minimum operation mode I K(3) 9.6 KA I K(1) 10.2 KA

4.2.1 Menentukan Nilai Impedansi Masing-Masing Peralatan

Sebelum menentukan impedansi masing-masing peralatan, kita

menentukan harga dasar (base) yang akan digunakan dalam perhitungan ini :

Base Daya (SB) = 100 MVA

Base Tegangan = Sesuai angka perbandingan pada transformator.

Untuk menentukan base arus, menggunakan persamaan 3.8, maka perhitungan base

arus adalah sebagai berikut :

100 x10 3 100000


Base Arus = = = 384.8 A
3 x150 259,81

a. Menentukan Impedansi Baru Generator

Untuk menentukan nilai impedansi baru generator dalam satuan Per Unit

(PU) , menggunakan persamaan 3.13 dan data impedansi sesuai table 4.3,

sehingga perhitungan impedansinya adalah :


44

= 0.0489 pu

b. Menentukan Impedansi Baru Main Transformer

Untuk menentukan nilai impedansi baru Main Transformer dalam satuan

Per Unit (PU) , menggunakan persamaan 3.13 dan data impedansi sesuai table

4.4, sehingga perhitungan impedansinya adalah :

= 0.0378 pu

c. Menentukan Impedansi Baru Transmisi Saketi 150 kV

Untuk menentukan nilai impedansi baru Transmisi Saketi 150 kV dalam

satuan Per Unit (PU) , menggunakan persamaan 3.13 dan data impedansi sesuai

table 4.5, sehingga perhitungan impedansinya adalah :

- Impedansi Ujung Saluran Saketi (20 km)

= 0.0253 PU

- Impedansi Titik Gangguan Saluran Saketi (9.1 km)

= 0.0115 pu

Sehingga gambar impedansi urutan posistif di atas adalah sebagai berikut :


45

XS1=0.0253 pu
atau
XS2=0.0115 pu
150 kV

XT1=0.0378 pu XT2=0.0378 pu

20 kV 20 kV

XG1=0.0489 pu XG2=0.0489 pu

1 2

Gambar 4.4 Nilai Impedansi Urutan Positif

Dari gambar diatas, maka dapat dihitung proses untuk menghitung nilai

impedansi total sebagai berikut :

X seri 1 = XG1 + XT1 = 0.0489pu + 0.0378pu = 0.0867 pu.

X seri 2 = XG2 + XT2 = 0.0489pu + 0.0378pu = 0.0867 pu.

XS1=0.0253 pu
atau
XS2=0.0115 pu

Xseri 1=0.0867 pu Xseri 2=0.0867 pu


46

1 1 1 1 1
Xparallel Xseri1 Xseri 2 0.0867 0.0867

Xparallel = 0.04335 pu

XS1=0.0253 pu
atau
XS2=0.0115 pu

X parallel=0.04335 pu

Dari perhitungan diatas, maka untuk menentukan impedansi total adalah sebagai

berikut :

a. Impedansi total Untuk jarak transmisi 20 km (XT1)

XT1 = X parallel + XS1 = 0.04335 pu + 0.0253 pu = 0.06865 pu

b. Impedansi total Untuk jarak transmisi 9.1 km (XT2)

XT = X parallel + XS2 = 0.04335 pu + 0.0115 pu = 0.05485 pu

XT1=0.06965 pu XT2=0.05485 pu
47

4.2.2 Perhitungan Arus Hubung Singkat 3 Fasa Transmisi Saketi

a. Perhitungan Arus Hubung Singkat Saketi Pada Titik Ujung (20 km)

Untuk menghitung arus hubung singkat 3 fasa, menggunakan persamaan 3.14

dan perhitungan impedansi total yang telah dihitung :

1 1
I hs 3Ø = 14.56 pu
XT 1 0.06865 pu

Karena masih dalam satuan pu, maka nilai arus hubung singkat 3 fasa diubah ke

satuan ampere menggunakan persamaan 3.11, berikut perhitunganya :

Harga arus sebenarnya = Per unit Arus x Harga Base Arus

Harga arus sebenarnya = 14.56 pu x 384.8 A = 5602.68 A

b. Perhitungan Arus Hubung Singkat Saketi Pada Titik Gangguan (9.1 km)

Untuk menghitung arus hubung singkat 3 fasa, menggunakan persamaan 3.14

dan perhitungan impedansi total yang telah dihitung :

1 1
I hs 3Ø = 18.23 pu
XT 2 0.05485 pu

Karena masih dalam satuan pu, maka nilai arus hubung singkat 3 fasa diubah ke

satuan ampere menggunakan persamaan 3.11, berikut perhitunganya :

Harga arus sebenarnya = Per unit Arus x Harga Base Arus

Harga arus sebenarnya = 18.23 pu x 384.8 A = 7000.32 A

Dari data gangguan dan perhitungan arus hubung singkat, dapat dipastikan

bahwa gangguan yang terjadi adalah hubung singkat 3 fasa.

Gangguan yang terjadi di saketi kemungkinan besar memang karena sambaran

petir, hal ini didasarkan pada :


48

1. Arrester di Gardu Induk Saketi counternya bertambah yang artinya arrester

telah bekerja pada semua fasa R,S,T ketika terjadi gangguan di transmisi

150 kV saketi.

2. Arrester antara GIS dan GT#1, GT#2, SST juga bekerja yaitu counternya

bertambah pada fasa R.

3. Tetapi Arrester di GIS Labuan sisi outgoing saluran 150 kV saketi tidak

bekerja.

4.3. Analisa Gangguan PLTU 2 banten Labuan

4.3.1 Urutan Kejadian

Berdasarkan data yang diperoleh, berikut urutan kejadian:

1. Rele Jarak di GIS 150 kV Labuan mendeteksi gangguan hubung singkat 3 fasa di

line arah saketi sejauh 9.1 km (lihat tabel 4.1).

2. CB/PMT 5AB4 mendeteksi gangguan dengan waktu pick up 14:56:54:053. Jenis

gangguan 3 fasa, hal ini dapat dilihat di data gangguan adanya Re_tripping

element single pole dan double pole dengan kode (op_RetrpA, op_RetrpB,

op_RetrpC, op_Retrp3P) yang waktunya 53 ms. Auto reclose block dibuktikan

dengan input biner VEBI_lockout : 1.

Setelah PMT open, ada input biner dari relay proteksi generator / transformer

setelah 6584 ms.

3. CB/PMT 5B3 mendeteksi gangguan dengan waktu pick up 14:56:54:054. Jenis

gangguan 3 fasa, hal ini dapat dilihat di data gangguan adanya Re_tripping

element single pole dan double pole dengan kode (op_RetrpA, op_RetrpB,

op_RetrpC, op_Retrp3P) yang waktunya 53 ms. Auto reclose block dibuktikan

dengan input biner VEBI_lockout : 1.


49

4. CB/PMT 5B4 mendeteksi gangguan dengan waktu pick up 14:56:54:060. Jenis

gangguan 3 fasa, hal ini dapat dilihat di data gangguan adanya Re_tripping

element single pole dan double pole dengan kode (op_RetrpA, op_RetrpB,

op_RetrpC, op_Retrp3P) yang waktunya 73 ms. Auto reclose block dibuktikan

dengan input biner VEBI_lockout : 1.

5. Pada saat kejadian pada point 1,2,3 dan 4 diatas, kemungkinan terjadi drop

tegangan di sisi pembangkit yaitu tegangan 20 kV, dibuktikan dengan indikasi

alarm under voltage di inverter motor penggerak Coal Feeder unit 1 dan unit 2

dan hal ini menyebabkan MFT bekerja oleh sinyal kehilangan bahan bakar atau

Loss of Fuel. Selain coal feeder, peralatan auxiliary pembangkit yang sensisitif

terhadap drop tegangan juga trip diantaranya seperti : lube oil pump, cooling

pump, dan air compressor.

6. Turbin unit 1 Trip pukul : 14:56:54.998. dibuktikan dengan G-T management

relay cubicle A unit 1 yang mendeteksi Main Steam Valve (MSV) turbin close

pukul 14:56:55.035.

7. Turbin unit 2 trip pukul 14:56:55.486. dibuktikan dengan G-T management relay

cubicle A unit 2 yang mendeteksi Main Steam Valve (MSV) turbin close pukul

14:56:55.510. Setelah kejadian Ini G-T management relay cubicle B unit 2

memerintahkan proteksi sequence reverse power bekerja pukul 14:56:57.192.

8. PMT/CB 5A4 trip pukul 14:57:01.879

9. Pada saat MSV turbin unit 1 trip (point 6) menyebabkan G-T management relay

cubicle A dan B unit 1 alarm proteksi reverse power pukul 14:57:28.877.

Kemudian menyebabkan G-T management relay cubicle A unit 1 memerintahkan

reverse power bekerja pukul 14:57:28.811. Kemudian menyebabkan G-T


50

management relay cubicle B unit 1 memerintahkan reverse power bekerja pukul

14:57:28.837.

10. PMT/CB 5AB2 trip pukul 14:57:30.028.

11. PMT/CB 5A2 trip pukul 14:57:01.088.

4.3.2 Kondisi PLTU dan GIS sebelum gangguan

1. Berikut kondisi unit 1 dan unit 2 sebelum trip :

- Kondisi Unit 1 Sebelum Gangguan

Beban : 260 MW

MSM : Medium Speed Mill (MSM) yang beroperasi MSM A, MSM B,

MSM C, MSM E (MSM D tidak siap)

- Kondisi Unit 2 Sebelum Gangguan

Beban : 238 MW

MSM : Medium Speed Mill (MSM) yang beroperasi MSM A, MSM B,

MSM D, MSM E (MSM C tidak siap).

2. Data Beban GIS Labuan Sebelum gangguan

Tabel 4.5 Data Beban GIS 150 kV Labuan Sebelum Gangguan

Menes 1 Menes 2 Saketi 1 Saketi 2


Waktu
(MW) (MW) (MW) (MW)
13:00 242.1 241.2 6.75 6.3
13:15 243.9 242.55 6.75 6.3
13:30 243 242.55 6.75 6.3
13:45 239.85 238.95 8.55 8.1
14:00 233.55 232.65 8.55 8.1
14:15 225.9 225 8.55 8.1
14:30 221.85 220.5 8.55 8.1
14:45 216 215.1 8.55 8.1
51

4.3.3 Analisa Trip Unit 1 dan 2 PLTU 2 Banten Labuan

1. Rele jarak mendeteksi gangguan hubung singkat 3 fasa Saketi 2 dan PMT 5B4,

PMT 5AB4, PMT 5B3 open. Sistem pengaman di saluran sudah bekerja, tetapi

semestinya tidak menimbulkan pembangkit trip, karena beban yang di salurkan

lewat line saketi 2 sebesar 8.1 MW (tabel 4.5) dan beban lebih banyak di

salurkan ke Menes 1 dan 2.

2. Pembangkit trip diawali oleh tripnya semua peralatan coal feeder karena terjadi

under voltage, hal ini bisa dilihat pada Variable Speed Drive (VSD) ada alarm

undervoltage.

ALARM UNDER VOLTAGE

Gambar 4.5 Electronic Coal feeder

Dengan tripnya coal feeder maka suplai bahan bakar yang masuk ke

Mill akan berhenti, sehingga bahan bakar yang masuk ke ruang bakar boiler juga

akan stop. Sehingga sebagai pengaman boiler akan trip dari sinyal loss of fuel

sehingga Main Fuel Trip (MFT) bekerja dan boiler trip. Berikut tampilan DCS

MFT first out.


52

Gambar 4.6 Tampilan DCS MFT / Penyebab Boiler Trip

3. Karena Boiler trip, maka sinyal MFT akan memerintahkan turbin trip oleh ETS.

Jika boiler trip maka produksi uap akan berhenti, sehingga turbin juga akan trip

karena suplai uap ke turbin juga terganggu, sebagai pengaman turbin harus trip.

Gambar 4.7 DCS ETS Turbin Trip


53

4.4. Dampak Kejadian Terhadap PLTU 2 Banten Labuan

Dengan trip-nya pembangkit, menyebabkan pembangkit kehilangan

kemampuan unit yang semestinya bisa di transfer ke system. Berikut dampak

kejadian.

4.5.1 Dampak Terhadap Unit PLTU Labuan Unit 1

1. Kehilangan kemampuan unit : 260 MW selama 33 jam

2. Loss of opportunity : 8580 MWh

3. Peralatan yang rusak : PCV HP by pass oil bocor, LP By pass hanger

lepas, turning gear start gagal.

4.5.1 Dampak Terhadap Unit PLTU Labuan Unit 2

1. Kehilangan kemampuan unit : 238 MW selama 24 jam

2. Perkiraan Loss of opportunity : 5712 MWh.