Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

METODE LAGRANGE

Dosen Pengampu : 1. Dr. Eng. I Dewa Nyoman Nurweda Putra, S.Si, M. Si.
2. I Wayan Gede Astawa Karang. S.Si, M.si., Ph.D
3. I Gede Hendrawan, S.Si, M.Si, Ph.D.

Asisten Dosen : Gede Arya Kusuma Artha

Disusun oleh :

Kelompok 07

Nama : Krispinus Arif Sinaga Mali

NIM : 1813521050

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS UDAYANA
JIMBARAN
2018
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-
Nya saya dapat menyelesaikan laporan ini dengan selesai tepat pada waktunya.
Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas Fisika Dasar Tentang Lagrange. Banyak
rintangan yang saya lewati, baik itu yang datang dari diri saya sendiri maupun yang
datang dari luar.
Dalam penulisan laporan ini banyak sekali pihak-pihak yang berjasa dalam
membantu pembuatan laporan ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak
terimakasih kepada.Orang tua yang telah mendoakan dan selalu mendukung untuk
kelancaran kuliah dan juga praktikum Fisika Dasar, Serta dalam penyusunan laporan
praktikum ini.Dosen pengampuh mata kuliah Fisika Dasar tahun 2018 Bapak Dr. Eng.
I Dewa Nyoman Nurweda Putra, S.Si.,M.Si Bapak I Wayan Gede Astawa Karang,
S.Si.,M.Si.,Ph.D Bapak I Gede Hendrawan,S.Si.,M.Si.,Ph.D Kepada asisten dosen
Fisika Dasar Gede Arya Kusuma Artha yang senantiasa sabar membimbing kami
selama praktikum dan penulisan laporan akhir praktikum ini.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
memperluas wawasan pada penulisan laporan selanjutnya. Dan semoga dengan
selesainya laporan ini dapat bermanfaat bagi saya dan teman-teman.

Bukit Jimbaran, 25 Desember 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang........................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 3
1.3 Tujuan ............................................................................................................................. 3
1.4 Manfaat ........................................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................................... 4
2.1 Metode Langrange .................................................................................................... 4
2.2 Arus Laut ......................................................................................................................... 4
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM ........................................................................................... 7
3.1 Waktu dan Tempat ................................................................................................... 7
3.2 Alat dan Bahan ................................................................................................................ 7
3.2.1 Pembuatan Drifter Buoy .......................................................................................... 7
3.2.2 Pengukuran Arus .................................................................................................... 10
3.3 Prosedur Praktikum ...................................................................................................... 11
3.3.1 Prosedur Pembuatan Drifter Buoy ......................................................................... 11
3.3.2 Prosedur Pengukuran Arus .................................................................................... 12
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................................... 13
4.1 Hasil ......................................................................................................................... 13
4.1.1 Percobaan I ..................................................................................................... 13
4.1.2 Percobaan II .................................................................................................... 13
4.1.3 Percobaan III ................................................................................................... 14
4.2 Perhitungan............................................................................................................. 15
4.3 Ralat Nisbi ............................................................................................................... 17
4.4 Pembahasan ................................................................................................................. 19
BAB V PENUTUP ..................................................................................................................... 20
5.1 Kesimpulan .................................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 22
LAMPIRAN ............................................................................................................................... 24

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Arus merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dapat disebabkan oleh
tiupan angin, atau karena perbedaan dalam densitas air laut atau dapat pula disebabkan
oleh gerakan bergelombang panjang. Selain itu juga bisa disebabkan karena pasang
surut(Nontji, 2005).
Besar kecilnya arus disebabkan oleh berbagai faktor yakni tiupan angin musim,
suhu permukaan laut yang selalu berubah-ubah dan kecepatan angin. Tiupan angin
musim ini juga akan menimbulkan arus yang dinamakan arus musim. Indonesia dikenal
dengan 2 musim yakni musim barat dan musim timur dimana siklus perubahan tiap
musim ditandai dengan adanya perubahan tekanan udara sehingga menimbulkan arah
tiupan angin yang berbeda pula. Kecepatan angin dapat menimbulkan gaya gesek di
permukaan laut. Selain itu kecepatan arus dipengaruhi oleh gaya koriolis. Efek ini
timbul akibat gerak rotasi gumi dan posisi gumi dalam mengitari matahari, serta
berperan dalam menentukan arah arus. Perbedaan densitas merupakan faktor yang
mempengaruhi kecepatan arus. Arus ini bersama dengan drift current membentuk arus
umum atau horizontal. Arus yang timbul sebagai akibat dari perbedaan suhu dan
salinitas mengontrol distribusi suhu dan salinitas di samudera. Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya arus adalah angin, perbedaan permukaan air laut, perbedaan
temperatur, perbedaan salinitas, pasang surut dan bentuk pantai(Wibisono, 2010).
Tenagan angin memberikan pengaruh terhadap arus permukan (atas) sekitar 2 %
dari kecepatan angin itu sendiri. Kecepatan arus ini akan berkurang sesuai dengan
makin bertambahnya kedalaman perairan sampai pada akhirnya angin tidak
berpengaruh pada kedalaman 200 meter(Agus, 2003). ). Arus air yang terjadi di daerah
globle disebut arus samudera. Arus osean menggambarkan pergerakan air dari satu
lokasi ke lokasi lainnya. Arus biasanya diukur dalam meter per detik atau dalam simpul
(1 knot = 1,85 kilometer per jam atau 1,15 mil per jam). Arus oseanik didorong oleh
tiga faktor utama yaitu :

1
1. Naik dan turunnya arus pasang surut.
Tides menciptakan arus di lautan, yang terkuat di dekat pantai, dan di teluk dan
muara di sepanjang pantai. Ini disebut "arus pasang surut." Arus pasang surut berubah
dalam pola yang sangat teratur dan dapat diprediksi untuk tanggal mendatang. Di
beberapa lokasi, arus pasang surut yang kuat dapat berjalan dengan kecepatan delapan
knot atau lebih (Thurman, 2005).
2. Angin menggerakkan arus yang berada pada atau di dekat permukaan laut.
Di dekat daerah pesisir angin cenderung mendorong arus pada skala lokal dan dapat
mengakibatkan fenomena seperti daerah pesisir. Pada skala yang lebih global, di laut
terbuka, angin menggerakkan arus yang mengalirkan air selama ribuan mil ke seluruh
baskom laut(Hutabarat, 2008).
3. Sirkulasi termohalin
Ini adalah proses yang didorong oleh perbedaan kepadatan air karena variasi suhu
(thermo) dan salinitas (halin) di berbagai belahan samudera. Arus yang didorong oleh
sirkulasi termohalin terjadi pada tingkat laut dalam dan dangkal dan bergerak jauh lebih
lambat dari arus pasang atau arus permukaan. Kepadatan air laut adalah jumlah massa
air laut per satu satuan volume. Kepadatan merupakan fungsi langsung dari kedalaman
laut, dan juga dipengaruhi oleh salinitas, suhu, dan tekanan. Secara umum, nilai
kerapatan (berkisar antara 1,02 sampai 1,07 g / cm3) akan meningkat dengan
meningkatnya salinitas dan tekanan dan suhu rendah. Perubahan kepadatan dapat
disebabkan oleh proses: Penguapan pada permukaan laut. Massa air pada kedalaman
<100 m sangat dipengaruhi oleh angin dan gelombang, sehingga besarnya kerapatan
relatif homogen. Di bawah lapisan ini terjadi perubahan suhu yang cukup besar
(Thermocline) dan salinitas (Halocline), sehingga terjadi perubahan kepadatan pola
yang cukup besar (Pynocline). Di bawah Pynocline ke dasar laut memiliki kerapatan
yang lebih padat. Stabilitas dipengaruhi oleh perbedaan densitas air laut, yang disebut
kepadatan atau sirkulasi termohalin(Wibisono, 2005).
Kecepatan arus dapat dibedakan dalam 4 kategori yakni kecepatan arus 0-0,25 m/dtk
yang disebut arus lambat, kecepatan arus 0,25-0,50 m/dtk yang disebut arus sedang,

2
kecepatan arus 50 - 1 m/dtk yang disebut arus cepat, dan kecepatan arus diatas 1 m/dtk
yang disebut arus sangat cepat. (Ihsan, 2009).

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada praktikum kali adalah, sebagi berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan arus laut ?


2. Bagaimana cara kerja metode Lagrange dalam mengukur arus laut di pantai
Nyang-Nyang ?
3. Bagaimana cara menghitung kecepatan rata-rata arus yang berada di pantai
Nyang-Nyang ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan pada praktikum kali ini adalah untuk :

1. Untuk mengetahui pengertian arus laut.


2. Untuk mengetahui cara kerja langrange dalam mengukur arus laut.
3. Untuk mengetahui kecepatan rata-rata arus laut di pantai Nyang-nyang

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diperoleh dari praktikum kali ini adalah Mahasiswa dapat
memahami konsep dari lagrange juga memahami teknik pengukuran arus yang
dilakukan dengan pendekatan Lagrangian, sehingga bisa mengukur dan
mengetahui kecepatan arus pantai Nyang-nyang

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metode Langrange


Metode langrange merupakan metode pengukuran aus yang dilakukan dengan
pengamatan gerak arus permukanan dari saru titik ketitik berikutnya dalam rentang
waktu tertentu. Metode ini dilakukan dengan memperhitungkan jalur yang dilalui oleh
setiap partikel fluida yang yang dinyatakan sebagai fungsi dari waktu sebagai acuan
penentuan arah dan laju suatu fluida. Metode ini ditemukan oleh Joseph Langrange
(1736-1811), seorang matematikawan yang berasal dari Prancis ( Cahyo Agung , dkk,
2014). Kelebihan dari metode lagrange adalah instrument yang digunakan
seperti bola duga dapat sendiri dan harganya lebih ekonomis jika dibandingkan denga
n instrument yang modern. Turunan instrument modern lagrange adalah The Swallow
dimana merupakan pelampung jenis apung netral, yang berarti bahwa massa
mengembang ini disesuaikan sebelum meluncur sehingga akan tenggelam ke area
dengan besar densitas yang dapat ditentukan. Kerapatan air laut sebenarnya adalah
fungsi tekanan primarilya. Karena kompresibilitas air laut menyebabkan densitas
menjadi lebih besar dari pada suhu atau salinitas. The Swallow mengambang
mengirimkan pulsa suara pada interval tertentu, yang diikuti dengan mendengarkan
hydrophone dari kapal yang mengejar float (pelampung) dan sekaligus menentukan
posisinya sendiri. Kekurangan dari bola duga adalah tingkat ketelitian yang rendah
karena dapat terjadi eror baik dari pengamat maupun instrument yang dibuat. Panjang
tali yang digunakan juga hanya sebatas 5-10 meter. Pencatatan arah arus juga tidak
dapat digunakan mengingat bahwa kecepatan arus yang didapat hanya dari jarak
(panjang tali) dan waktu yang dibutuhkan saat tali menegang (Sudarto, etall, 2013)

2.2 Arus Laut


Air laut selalu bergerak baik secara horizontl maupun secara vertikal bahkan
terjadi juga gerakan gabungan antara vertikal dan horizontal (turbulensi). Gerakan air
laut dapat diklasifikasikan ke dalam gelombang, arus, dan pasang surut
(Romimohtarto, 2001).

4
Arus laut adalah gerakan massa air laut yang berpindah dari suatu tempat ke tempat
lain. Arus di permukaan laut terutama disebabkan oleh gerakan angin, sedangkan arus
kedalaman laut disebabkan oleh densitas massa air laut. Selain itu, arus permukaan air
laut juga disebabkan oleh gerakan pasang surut air laut atau gelombang (Gross, 1990).
Terjadinya arus di lautan disebabkan oleh faktor utama yaitu faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal seperti perbedaan densitas air laut, gradien tekanan
mendatar dan gesekan lapisan air laut. Sedangkan faktor eksternal seperti gaya tarik
matahari dan bulan, gaya gravitasi, gaya tektonik dan gaya anein (Gross, 1990).
Selain diatas, faktor yang mempengaruhi arus, yaitu adalah bentuk topografi dasar
lautan dan pulau-pulau yang ada di sekitarnya. Beberapa sisitem lautan utama di dunia
dibatasi oleh massa daratan dari tiga sisi dan pula oleh arus equatorial counter di sisi
yang keempat. Batas-batas ini menghasilkan sistem aliran yang hampir tertutup dan
cenderung membuat aliran mengarah ke dalam suatu bentuk bulatan (Gross, 1990).

Adapun rumus untuk mencari kecepatan arus adalah sebagai berikut :


𝒔
𝒗=
𝒕
Keterangan :
v= kecepatan (m/s)
s= jarak (m)
t= waktu (s)
sedangkan untuk mencari kecepatan rata-rata dari arus adalah sebagai berikut :

̅ = 𝒗𝟏 + 𝒗𝟐 + 𝒗𝟑 + ….. + 𝒗𝒏
𝒗

Keterangan :
𝑣̅ = kecepatan rata-rata (m/s)
(Royke,2009).

Gaya Coriollis mempengaruhi aliran massa air, dimana gaya ini akan
membelokkan arah dari arah yang lurus. Gaya Coriollis juga yang menyebabkan

5
timbulnya perubahan-perubahan arah arus yang kompleks susunannya yang terjadi
sesuai dengan semakin dalamnya kedalaman suatu perairan. Pembelokan itu akan
mengarah ke kanan di belahan bumi utara dan mengarah ke kiri di belahan bumi
selatan. Gaya ini yang mengakibatkan adanya aliran gyre yang searah jarum jam (ke
kanan) pada belahan bumi utara dan berlawanan dengan arah jarum jam di belahan
bumi selatan. Perubahan arah arus dari pengaruh angin ke pengaruh gaya coriollis
dikenal dengan spiral ekman (Pond dan Pickard, 1983).
Menurut letaknya arus laut dibedakan menjadi:
1. Arus atas
Arus yang bergerak di permukaan laut. Faktor pembangkit arus atas ini adalah
angin yang bertiup di atasnya. Tenaga angin memberikan pengaruh terhadap
permukaan sekitar 2% dari kecepatan angin itu sendiri. Kecepatan arus ini akan
berkurang sesuai dengan bertambahnya kedalaman perairan. (Bernawis, 2000).
2. Arus bawah
Arus yang bergerak di bawah permukaan laut. Selain pergerakan arah arus
mendatar, angin dapat menimbukan arus air vertikal yang dikenal dengan
upwelling dan downwelling (Bernawis, 2000).

6
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Adapun Waktu dan tempat pelasanaa praktikum yaitu sebagai berikut
Waktu : 15.30 WITA - selesai.
Hari, Tanggal : Sabtu, 23 Desember 2018.

Tempat : Pantai Nyang nyang

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk praktikum sebagai berikut :

3.2.1 Pembuatan Drifter Buoy


3.2.1.1 Alat Pembuatan Drifter Buoy
Alat yang digunakan untuk membuat drift buoy sebagai berikut :
No. Nama Alat Gambar Kegunaan
1 Gergaji Untuk memotong pipa

2. Gunting Untuk memotong


karung dan tali rafia

7
3. Jarum Untuk menjarit karung

4. Rollmeter Untuk mengukur


panjang pipa dan tali
rafia

3.2.1.2 Bahan Pembuatan Drifter Buoy


Bahan untuk membuat drift buoy sebagai berikut :
No. Nama Bahan Gambar Kegunaan
1. Pipa ½ dim Sebagai kerangka
Drifter Buoy

2. Botol Sebagai pelampung

8
3. Karung Sebagai pembentuk
baling – baling

4. Pipa T Sebagai penghubung


kerangka pipa

5. Lem Sebagai perekat pada


pipa

6. Tali nilon Untuk menjarit karung

9
7. Tali rafia Untuk mengikat
Drifter Buoy

3.2.2 Pengukuran Arus


3.2.2.1 Alat Pengukuran Arus
Adapun alat untuk mengukur arus sebagai berikut :
No. Nama Alat Gambar Kegunaan
1 Drifter Buoy Untuk mengukur arus

2 Stopwatch Untuk menghitung


waktu

10
3 Alat tulis Untuk mencatat data
yang didapatkan

3.2.2.2 Bahan Pengukuran Arus


No. Nama Bahan Gambar Kegunaan
1. Arus pantai Sebagai media
pengamatan arus

3.3 Prosedur Praktikum

3.3.1 Prosedur Pembuatan Drifter Buoy


Adapun prosedur pembuatan Drifter Buoy adalah sebagai berikut :
1. Dipotong pipa menggunakan gergaji menjadi 7 bagian dengan rincian 3 pipa
berukuran 50 cm dan 4 pipa berukuran 25 cm.
2. Dirangkai 7 pipa tersebut hingga membentuk kerangka baling – baling.
3. Dijarit kerangka baling – baling dengan karung menggunakan tali nilon.
4. Diikat botol kosong pada atas permukaan Drifter Buoy sebagai pelampung.
5. Diikat pemberat pada bagian bawah Drifter Buoy menggunakan tali raffia.
6. Diikat bagian atas Drifter Buoy menggunakan tali raffia sepanjang 10 meter.

11
3.3.2 Prosedur Pengukuran Arus
Adapun prosedur pengukuran arus di Pantai Mertasari sebagai berikut :
1. Disiapkan Drifter Buoy.
2. Drifter Buoy dibawa turun ke laut.
3. Dilepas Drifter Buoy sampai dengan jarak 10 m sambil dihitung waktunya
menggunakan stopwatch.
4. Dicatat waktu yang tertera di stopwatch.
5. Dilakukan 4 kali pengulangan sebanyak 10 kali dengan selang waktu 30 men

12
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Adapun hasil dari percobaan Praktikum Fisika Dasar Metode Lagrange adalah:
4.1.1 Percobaan I
Adapun data hasil percobaan pertama Metode Lagrange adalah :
Tempat : Pantai Nyang-Nyang, Pecatu.
Waktu Pengamatan : 23 Desember 2018, pukul 15.30 WITA.
Panjang Tali : 10 meter.
Keadaan Cuaca : Berawan.
Keadaan Air Laut : Pasang.
Percobaan Panjang Tali (m) Waktu (s)
1 10 m 60,12 s
2 10 m 60,44 s
3 10 m 59,57 s
4 10 m 60,25 s
5 10 m 58,55 s
6 10 m 60,35 s
7 10 m 60,06 s
8 10 m 60,23 s
9 10 m 60,33 s
10 10 m 58,04 s

4.1.2 Percobaan II
Adapun data hasil percobaan pertama Metode Lagrange adalah :
Tempat : Pantai Nyang-Nyang, Pecatu.
Waktu Pengamatan : 23 Desember 2018, pukul 16.00 WITA.
Panjang Tali : 10 meter.
Keadaan Cuaca : Berawan.
Keadaan Air Laut : Pasang.

13
Percobaan Panjang Tali (m) Waktu (s)
1 10 m 55,30 s
2 10 m 55,10 s
3 10 m 56,15 s
4 10 m 54,22 s
5 10 m 53,20 s
6 10 m 55,06 s
7 10 m 53,20 s
8 10 m 54,04 s
9 10 m 52,35 s
10 10 m 50,20 s

4.1.3 Percobaan III


Adapun data hasil percobaan pertama Metode Lagrange adalah :
Tempat : Pantai Nyang-Nyang, Pecatu.
Waktu Pengamatan : 23 Desember 2018, pukul 16.30 WITA.
Panjang Tali : 10 meter.
Keadaan Cuaca : Mendung.
Keadaan Air Laut : Pasang.
Percobaan Panjang Tali (m) Waktu (s)
1 10 m 45,02 s
2 10 m 45,24 s
3 10 m 44,05 s
4 10 m 44,27 s
5 10 m 43,55 s
6 10 m 44,17 s
7 10 m 44,23 s
8 10 m 43,45 s
9 10 m 43,21 s
10 10 m 43,18 s

14
4.2 Perhitungan
Adapun rumus yang digunakan dalam Metode Lagrange yaitu :
𝑠
𝑣=
𝑡
dengan : v = Kecepatan (m/s)
s = Jarak (m)
t = Waktu

4.2.1 Data perhitungan pada percobaan pertama :


Percobaan Panjang Tali (m) Waktu (s) Kecepatan (m/s)
𝒔
𝒗=
𝒕
1 10 m 60,12 s 0,1663 m/s
2 10 m 60,44 s 0,1654 m/s
3 10 m 59,57 s 0,1678 m/s
4 10 m 60,00 s 0,1666 m/s
5 10 m 58,55 s 0,1707 m/s
6 10 m 60,35 s 0,1657 m/s
7 10 m 60,06 s 0,1665 m/s
8 10 m 60,23 s 0,1660 m/s
9 10 m 60,33 s 0,1657 m/s
10 10 m 58,04 s 0,1722 m/s
Rata-rata 0,1672 m/s

4.2.2 Data perhitungan pada percobaan kedua :


Percobaan Panjang Tali (m) Waktu (s) Kecepatan (m/s)
𝒔
𝒗=
𝒕
1 10 m 55,30 s 0,1808 m/s
2 10 m 55,10 s 0,1814 m/s
3 10 m 56,15 s 0,1780 m/s
4 10 m 54,22 s 0,1844 m/s

15
5 10 m 53,20 s 0,1879 m/s
6 10 m 55,06 s 0,1816 m/s
7 10 m 53,20 s 0,1879 m/s
8 10 m 54,04 s 0,1850 m/s
9 10 m 52,35 s 0,1910 m/s
10 10 m 50,20 s 0,1992 m/s
Rata-rata 0,1857 m/s

4.2.3 Data perhitungan pada percobaan ketiga :


Percobaan Panjang Tali (m) Waktu (s) Kecepatan (m/s)
𝒔
𝒗=
𝒕
1 10 m 45,02 s 0,2221 m/s
2 10 m 45,24 s 0,2210 m/s
3 10 m 44,05 s 0,2270 m/s
4 10 m 44,27 s 0,2258 m/s
5 10 m 43,55 s 0,2296 m/s
6 10 m 44,17 s 0,2263 m/s
7 10 m 44,23 s 0,2260 m/s
8 10 m 43,45 s 0,2301 m/s
9 10 m 43,21 s 0,2314 m/s
10 10 m 43,18 s 0,2315 m/s
Rata-rata 0,2270 m/s

16
4.3 Ralat Nisbi
Adapun ralat nisbi pada percobaan lagrange ini, yaitu dengan rumus sebagai
berikut :

∑(𝑋𝑖− x )2
∆𝑋 = √ 𝑛
∆= 𝑟𝑎𝑙𝑎𝑡 (𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖)
Xi = jumlah kecepatan
x = rata – rata kecepatan
𝑛 = jumlah data.
Percobaan I pada tanggal 23 Desember pukul 15.30 WITA
n = 10
x = 0,1672
((Xi- x )) = (0,1663-0,1672) + (0,1654-0,1672) + (0,1678-0,1672) +
(0,1666-0,1672) + (0,1707-0,1672) + (0,1657-0,1672) +
(0,1665-0,1672) + (0,1660-0,1672) + (0,1657-0,1672) +
(0,1722-0,1672)
= (-0,0009) + (-0,0018) + 0,0006 + (-0.0006) + 0,0035 + (-0,0015) + (-
0,0007) + (-0,0012) + (-0,0015) + 0,005
= 0,0009
(0.003)2
∆𝑋 = √ 10

0.00000081
=√ 10

= √0.000000081

= 0.00028460498
0.00028460498
Persentase = 100 % − × 100%
0.1672

= 100% - 0.17%

= 99.83%

Percobaan II pada tanggal 23 Desember pukul 12.00 WITA


n = 10
x = 0.1857
((Xi- x )) = (0.1808-0.1857) + (0.1814-0.1857) + (0.1780-0.1857) +

17
(0.1844-0.1857) + (0.1879-0.1857) + (0.1816-0.1857) +
(0.1879-0.1857) + (0.1850-0.1857) + (0.1910-0.1857) +
(0.1992-0.1857)
= -0.0049 + (-0.0043) + (-0.0077) + (-0.0013) + 0.0022 + (-
0.0041) + 0.0022 + (-0.0007) + 0.0053 + 0.0135
= 0.002

(0.002)2
∆𝑋 = √ 10

0.0000004
=√ 10

= √0.00000064

= 0.0008
0.0008
Persentase = 100 % − × 100%
0.1857

= 100% - 0,43%

= 99,57%
Percobaan III pada tanggal 23 desember pukul 16.30 WITA
n = 10
x = 0.2270
((Xi- x )) = (0.2221-0.2270) + (0.2210-0.2270) + (0.2270-0.2270) +
(0.2258-0.2270) + (0.2296-0.2270) + (0.2263-0.2270) +
(0.2260-0.2270) + (0.2301-0.2270) + (0.2314-0.2270) +
(0.2315-0.2270)
= -0.005 - 0.006 + 0 - 0.0012 + 0.0026 - 0.0007 - 0.001 + 0.0031 +
0.0044 + 0.0045
= 0.0007

(0.0007)2
∆𝑋 = √
10

0.00000049
=√ 10

= √0.000000049

= 0.000221359436212
0.0002213594436212
Persentase = 100 % − × 100%
0.2270

18
= 100% - 0,09%

= 99.91%

4.4 Pembahasan
Dalam praktikum kali ini, praktikum menggunakan metode Lagrange dalam
mengukur kuat arus pada Pantai Nyang-nyang. Praktikum dilakukan selama satu jam
dikarenakan pasang surut dari Pantai Nyang-nyang. Pada hari minggu yaitu tanggal 23
Desember 2018, praktikum hanya dilakukan sekali saja. Beberapa anggota kelompok
turun untuk mengukur arus tersebut. Praktikum dilakukan pada pukul 15.30 WITA
dan kondisi pantai saat itu pasang naik dengan cuaca yang berawan . Setelah melakukan
praktikum, didapatkan data yang beraneka ragam, yaitu pada Percobaan Setelah
dilakukan percobaan, hasil yang didapatkan dihitung dengan menggunakan rumus
kecepatan berikut:

𝒔
𝒗=
𝒕

Keterangan: v = Kecepatan (m/s)


t = waktu (s)
s = jarak (m)

Hasil perhitungan yang didapatkan dari 4 (empat) kali percobaan yang


dilakukan mulai dari pukul 15.30 WITA pada hari Minggu, 23 Desember 2018. Pada
percobaan yang pertama, pukul 15.30 WITA keadaan cuaca sedang berawan
(mendung) dan kondisi air laut pasang, dilakukan pengamatan sebanyak 10 kali dengan
rata-rata kecepatan arus yang didapatkan yaitu 0,1672 m/s dengan persentase ketepatan
jawaban 99,83%. Pada percobaan II, pada pukul 16.00 WITA keadaan cuaca sedang
berawan dan air laut pasang dilakukan pengamatan sebanyak 10 kali dengan rata-rata
kecepatan arus yang didapatkan yaitu 0,1857 m/s dengan persentase ketepatan jawaban
99,57%. Pada percobaan III, pukul 16.30 WITA keadaan cuaca berawan dan air laut
masih pasang, dilakukan pengamatan sebanyak 10 kali dengan rata-rata kecepatan arus
yang didapatkan yaitu 0,2270 m/s dengan persentase ketepatan jawaban 99,91%.

19
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Arus laut adalah gerakan massa air laut yang berpindah dari suatu tempat ke
tempat lain. Arus di permukaan laut terutama disebabkan oleh gerakan angin,
sedangkan arus kedalaman laut disebabkan oleh densitas massa air laut. Selain
itu, arus permukaan air laut juga disebabkan oleh gerakan pasang surut air laut
atau gelombang. Terjadinya arus di lautan disebabkan oleh faktor utama yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti perbedaan densitas
air laut, gradien tekanan mendatar dan gesekan lapisan air laut. Sedangkan
faktor eksternal seperti gaya tarik matahari dan bulan, gaya gravitasi, gaya
tektonik dan gaya anein.
2. Metode langrange merupakan metode pengukuran aus yang dilakukan dengan
pengamatan gerak arus permukanan dari saru titik ketitik berikutnya dalam
rentang waktu tertentu. Metode ini dilakukan dengan memperhitungkan jalur
yang dilalui oleh setiap partikel fluida yang yang dinyatakan sebagai fungsi dari
waktu sebagai acuan penentuan arah dan laju suatu fluida. Metode ini
ditemukan oleh Joseph Langrange
3. Kecepatan arus pada Pantai Nyang-nyang diperoleh dengan menggunakan
𝑠
rumus kecepatan, yaitu 𝑉 = 𝑡 . Dari data yang telah didapatkan, dapat diketahui

Pada praktikum fisika dasar Metode Lagrange di Pantai Nyang-Nyang, Pecatu


dilakukan 4 kali percobaan dengan selang waktu yang berbeda. Pada percobaan
pertama, kecepatan rata rata arus ini sebesar 0,1672 m/s, pada percobaan kedua,
kecepatan rata rata arus ini sebesar 0,1857 m/s, pada percobaan ketiga ,
kecepatan rata rata arus ini sebesar 0,2270 m/s, pada percobaan keempat,
kecepatan rata rata arus ini sebesar 0,2322 m/s,

20
5.2 Saran

Sebagai penulis, penulis menyarankan untuk praktikum selanjutnya mencari


pantai yang bagus untuk praktikum lagrangenya agar tidak terjadi lagi kepatah alat
yang digunakan untuk praktikum, dan untuk praktikum selanjutnya agar lebih baik
lagi.

21
DAFTAR PUSTAKA
Hutabarat, Sahala Evans, Stewart M. 2008. Penantar Oseanografi. Jakarta: UI Press
Ihsan, N. 2009. Komposisi Hasil Tangkapan Sondong Di Kelurahan Batu Teritip
Kecamatan Sungai Sembilan Kota Dumai Provinsi Riau. Skripsi. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau : Pekanbaru. 102 hal (tidak
diterbitkan)
Nontji, Anugerah., 2005. Laut Nusantara. Cetakan Keempat. Djambatan. Jakarta.
Supangat, Agus. 2003. Pengantar Oseanografi. Bandung : ITB
Thurman, Harold V. 2005. Essentials of Oseanography 11th Edition. Jakarta: Erlangga
Wibisono, M.S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Jakarta : Grasindo
Wibisono. 2010. Pengantar Ilmu Kelautan. Edisi 2. Universitas Indonesia (UI-Press) :
Jakarta. 259 Halaman.
Royke M. 2009. PENGARUH PASANG SURUT PADA PERGERAKAN ARUS
PERMUKAAN DI TELUK MANADO. Jurnal Perikanan dan Kelautan
Tropis, V (3). pp. 15-19. ISSN 1411-9234.

Sudarto, et all,. 2013. Kondisi Arus Permukaan Di Perairan Pantai: Pengamatan


Dengan Metode Lagrangian. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan
Tangkap. 1 (3) : 98-102.

Cahyo Agung dkk.2014. Pengukuran Arus dan Metode Akustik untuk Observasi
Perubahan Suhu atau Densitas. Makalah. Program Studi Ilmu Kelautan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Brawijaya. Malang

Bernawis, L.I. 2000. Temperature and Pressure Respons on El-Nino 1997 and La-
Nina 1998 in Lombok Strait. The JSPS-DGHE International Symposium
on Fisheries Science in Tropical Area.
Gross, M.G. 1990. Oceanography; A View of Earth Prentice Hall. Inc. Englewood
Cliff. New Jersey.

22
Pond, S dan Pickard, G.L. 1983. Introductory Dynamical Oceanography 2nd ed.
British Library Cataloguing in Publication Data. Pramadya Paramita.
Jakarta.
Romimohtarto,K. dan S. Juwana. 2001. Oseanografi Fisika. Puslitbang Oseanologi
LlPI. Jakarta.

23
LAMPIRAN

24