Anda di halaman 1dari 4

PENENTUAN STATUS BADAN HUKUM DALAM HPI

oleh:
Muhammad Rifki Rivaldi
A. Pendahuluan
Pembahasan mengenai tempat kedudukan badan hukum PT, dalam lingkup
HPI, ditempatkan dalam lingkup pembahasan mengenai status personal. Status
personal badan hukum, seperti halnya manusia, menentukan hak-hak dan
kewajiban yang dimilikinya. Kaidah-kaidah hukum status personal digunakan
untuk menentukan ada atau tidaknya suatu badan hukum, kemampuan bertindak
dalam hukum, hukum yang mengatur organisasi intern dan hubungan hukum
dengan pihak ketiga, dan berakhirnya status sebagai badan hukum (akibat
dilikuidasi misalnya).1
Peningkatan intensitas kegiatan perdagangan internasional dewasa ini
mengakibatkan semakin banyak pendirian badan hukum, seperti perusahaan
Perseroan Terbatas (PT) oleh pihak asing atau pihak lokal yang mengadakan
kerjasama patungan (joint venture). Sehubungan dengan pendirian badan hukum
itu masalah yang timbul adalah sistem hukum mana yang dapat digunakan untuk
menetapkan dan mengatur status kewenangan yuridis suatu badan hukum yang
mengandung elemen asing.
Badan hukum di sini adalah suatu perkumpulan atau organisasi yang oleh
hukum diperlakukan seperti seorang manusia, yaitu sebagai pengemban hak dan
kewajiban, dapat memiliki kekayaan sendiri, dapat menggugat dan digugat di
muka pengadilan. Perusahaan yang menurut hukum Indonesia yang sekarang
tergolong sebagai perusahaan yang berbadan hukum adalah Perseroan Terbatas
(PT), Perusahaan Perseroan (Persero), dan Koperasi.2

1
Sudargo Gautama. 2002. Indonesia dan Konvensi-Konvensi Hukum Perdata Internasional edisi kedua.
Bandung: Alumni. hal. 7.
2
Ahmad M. Ramli. 1994. Status Perusahaan Dalam Hukum Perdata Internasional Teori dan Praktek.
Bandung: CV. Mandar Maju.
Dalam teori dan praktek HPI berkembang beberapa doktrin atau asas yang
dapat digunakan untuk menentukan status badan hukum, yaitu:3
a. Asas Kewarganegaraan atau Domisili Pemegang Saham
Asas ini beranggapan bahwa status badan hukum ditentukan
berdasarkan hukum dari tempat di mana mayoritas pemegang sahamnya
menjadi warga negara (lex patriae) atau berdomisili (lex domicile). Asas
atau doktrin ini dianggap sudah kurang menguntungkan karena kesulitan
untuk menetapkan kewarganegaraan atau domisili dari mayoritas
pemegang saham, terutama bila komposisi kewarganegaraan atau
domisili yang beraneka ragam (beberapa negara).
b. Asas Centre of Administration / Business
Asas ini beranggapan bahwa status dan kewenangan yuridik suatu badan
hukum harus tunduk pada kaidah-kaidah hukum dari tempat yang
merupakan pusat kegiatan administrasi badan hukum tersebut. Teori ini
menghendaki agar hukum dari tempat dimana suatu badan hukum
memusatkan kegiatan bisnis atau manajemennya harus digunakan untuk
mengatur status yuridik badan hukum yang bersangkutan. Asas ini
umumnya diterima di negara-negara yang menganut sistem hukum
Eropa Kontinental seperti Italia, Spanyol, Perancis, Swiss, Jerman, dan
Belanda.
c. Asas Place of Incorporation
Asas ini beranggapan bahwa status dan kewenangan badan hukum
sebaiknya ditetapkan berdasarkan hukum dari tempat badan hukum itu
didirikan / dibentuk. Asas ini dianut di Indonesia (dan umumnya negara-
negara berkembang) sebagai reaksi terhadap penggunaan asas Centre of
Administration / Siege Social. Dalam Undang-undang nomor 1 tahun
1967 tentang Penanaman Modal Asing, pasal 3 ditetapkan bahwa :
“Pihak asing yang menanamkan modalnya di Indonesia haruslah : -
mendirikan badan hukum berdasarkan hukum Indonesia; - dan badan
hukum yang didirikan itu harus berkedudukan di Indonesia.
3
Ridwan Khairandy. 2007. Pengantar Hukum Perdata Internasional. Yogyakarta: FH-UII Press. h. 127
d. Asas Centre of Exploitation
Asas ini beranggapan bahwa status dan kedudukan badan hukum harus
diatur berdasarkan hukum dari tempat perusahaan itu memusatkan
kegiatan operasional, eksploitasi, atau kegiatan produksi barang maupun
jasa.
Indonesia sendiri dalam pengaturannya mengenai tempat kedudukan badan
hukum PT, menganut Prinsip Inkorporasi. Penggunaan prinsip inkorporasi ini
diatur dalam UUPT Pasal 5, yang menyebutkan bahwa: “Perseroan mempunyai
tempat kedudukan dalam wilayah negara Republik Indonesia yang ditentukan
dalam Anggaran Dasar.” Oleh sebab itu, berdasarkan ketentuan ini dapat
disimpulkan bahwa Indonesia menganut teori inkorporasi dalam menentukan
hukum yang berlaku bagi suatu badan hukum.
B. Contoh Kasus
Dalam persoalan ini akan diberikan contoh yang kasus posisinya sebagai
berikut:
1. Untuk menjalankan usahanya, PT. Matahari Kian Cemerlang, Tbk.
Sebuah badan hukum berbentuk perusahaan terbuka yang berkedudukan
di Jakarta, Indonesia melakukan perjanjian peminjaman uang dengan
Allied Ever Investment, Ltd. perusahaan investasi asal Hongkong
dengan menjaminkan hak tanggungan atas hak guna bangunan berikut
bangunan diatasnya yang berada di Jakarta yang ditandatangani
perjanjian tersebut di Singapura.
2. Sampai waktu yang ditentukan, PT. Matahari Kian Cemerlang belum
juga membayar utangnya alias jatuh tempo sehingga oleh Allied Ever
Investment, Ltd. Dinyatakan gagal bayar.
3. Allied Ever Investment, Ltd mengajukan gugatan wanprestasi ke
Pengadilan Hongkong.
C. Analisis
Titik Taut Primer:
Tempat kedudukan Para pihak. Pihak Penggugat tunduk pada hukum
Hongkong, sementara Pihak Tergugat tunduk pada hukum Indonesia.
Titik Taut Sekunder:
Tergugat berkedudukan hukum di Indonesia;
Lex Situs, alias benda jaminan berada di Indonesia;
Perjanjian ditandatangani (lex loci contractus) di Singapura;
Forum: Hongkong.
Dalam HPI lex fori status badan hukum menggunakan teori inkorporasi
sehingga menunjuk kaidah hukum Indonesia sebagai lex causae untuk
menyelesaikan perkara.
D. Kesimpulan
Penentuan lex causae mana yang diterapkan membutuhkan pertimbangan-
pertimbangan yang mendalam sehingga diperlukan ketelitian yang baik dari
Hakim Lex Fori untuk memeriksanya.
E. Daftar Pustaka
Ahmad M. Ramli. 1994. Status Perusahaan Dalam Hukum Perdata
Internasional Teori dan Praktek. Bandung: CV. Mandar Maju.
Ridwan Khairandy. 2007. Pengantar Hukum Perdata Internasional.
Yogyakarta: FH-UII Press.
Sudargo Gautama. 2002. Indonesia dan Konvensi-Konvensi Hukum Perdata
Internasional edisi kedua. Bandung: Alumni.