Anda di halaman 1dari 2

Muhammad Ridho Hasan

in this issue >>> Artikel Psikologi Industri dan Organisasi


Don't ask, don't tell? Does disclosure Issue
46118010125

of gay identity affect partner


performance?
a controversial topic for Indonesians

Gay
Disclosure at work
current topics >>> Bagaimana pengungkapan identitas Gay terhadap partner kerja
Masyarakat Indonesia sudah biasa menghadapi perbedaan yang ada di dalam
Disclosure of something taboo society-nya sejak lahir didukung dengan adanya semboyan Bhinneka Tunggal Ika sejak
and “Disparate” dahulu. Perbedaan agama, ras, suku bangsa dan lain-lain sudah menjadi hal yang biasa.

Ada 1 studi yang menyatakan Namun, seberapa banyak masyarakat sudah bisa bertoleransi dengan perbedaan-perbedaan
bahwa bekerja dengan seseorang
tersebut?
yang identitasnya dalam hal ini
orientasi seksualnya jelas Zaman makin moderen, generasi terus berubah, pemikiran terus
membuat mitra kerja memiliki
kinerja yang lebih baik berkembang seiring dengan masuknya berbagai pengaruh dari luar terutama
. pengaruh dari Barat.
Dalam studi lain, khususnya
pendukung kebijakan yang Diantara banyaknya budaya yang masuk dan segala perbedaan yang
memaksa individu Gay ataupun ada mungkin pembahasan mengenai LGBT adalah hal yang paling tidak
Lesbian untuk menyembunyikan
orientasi seksual mereka ditempat diterima oleh sebagian masyarakat di negeri ini.
kerja dengan alasan agar tidak Di dunia kerja, seringkali terjadi diskriminasi ataupun intoleransi.
merusak kinerja mitra kerja
mereka. Dari segi perusahaan maupun dilingkup pekerja. Contohnya, ada beberapa

perusahaan yang tidak memperbolehkan pekerja wanita dengan hijab. Dari segi SDM-nya, masih banyak sekali orang
yang anti terhadap sesuatu yang berbeda dengannya entah itu agama, ras atau orientasi seksual. Seperti Gay Disclosure,
pengakuan seseorang terhadap orang lain tentang dirinya.
Benjamin A. Everly dan Margaret J. Shih, Geoffrey C. Ho dari University of California dalam jurnalnya
meneliti masalah tersebut dengan 2 studi. Pada studi pertama, seorang partisipan akan melakukan dua buah tes
matematika dengan soal yang sama namun di cubicle dan partner yang berbeda. Pertama, seorang partisipan
ditempatkan dalam cubicle 1 untuk mengerjakan tes matematika dengan seorang partner yang notabenenya adalah
seorang ambiguously gay. Sebelum memulai tes keduanya menuliskan identitas diri mereka dan bertukar identitas satu
sama lain. Partisipan concern terhadap kolom relationship sang partner yang menuliskan bahwa ia dalam sebuah
hubungan namun tidak disebutkan oleh sang partner jenis kelamin pasangannya tersebut. Partisipan merasa ambigu.
Setelah tes selesai ia diberi tahu oleh penguji bahwa partnernya pasangan partner tersebut adalah pria.
Kedua, partisipan dibawa ke cubicle 2 untuk melakukan tes yang sama dengan seorang openly gay. Partisipan
mengerjakan soal matermatika tanpa ada rasa ambigu seperti di cubicle 1 karna ia telah mengetahui kejelasan identitas
dari partner tersebut sejak awal. Dari kedua percobaan tersebut, hasil studi mengindikasikan bahwa partisipan
mengerjakan tes tersebut lebih baik dengan partner yang terbuka tentang orientasi seksualnya daripada partner yang
orientasinya ambigu bisajadi karena konsentrasi partisipan terpecah karena memikirkan keambiguan terhadap identitas
partner yang sebenarnya.
Enim ad minimeniam, quis
Lanjut ke studi kedua, studi kedua ini dirancang untuk memeriksa apa efek kinerja yang ada di studi pertama
erat nostr uexerci tation
berpengaruh sama kinerja sensor motorik atau tidak. Di studi kedua ini, partisipan diuji dengan memainkan game tembak-
ullamcorper nostru exerci
menembak padacorper
tation ullam Wii etGaming System atau yang biasa kita kenal sebagai nintendo atau konsol game semacamnya sambil
iusto odio dig nissim qui
dipasangkan dengan pasangan yang sama pada studi pertama yaitu ambiguously gay partner dan openly gay partner.
blandit praesent lupta. The True Cost
Hasilnya pun sama, partisipan yang dipasangkan dengan openly gay bekerja lebih baik daripada ia dipasangkan dengan
seorang yang identitasnya masih ambigu, ambiguously gay.
of Buying a Home
Singkatnya, studi-studi diatas telah memberikan bukti bahwa implikasi kinerja untuk menyembunyikan identitas
tidak hanya sebatas pada orang yang menyembunyikan identitasnya, tapi juga mempengaruhi orang-orang disekitar yang
secara langsung pada hari-harinya bertemu, berinteraksi dan bekerja sama satu sama lain. Dengan memeriksa efek
pengungkapan identitas pada mereka yang berinteraksi dengan identitiy holder, menghasilkan bahwa pengungkapan
identitas yang real dapat memfasilitasi kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi keterbukaan informasi yang
masih dalam tanda tanya.
Dalam hal ini pula dapat disimpulkan dan dikaitkan dengan kondisi-kondisi lain yang sering kita alami dalam
kehidupan sehari-hari. Pada intinya, poin yang sangat amat dapat kita ambil dari kasus ini adalah sebuah keterbukaan.
Setiap hari, setiap jam, setiap waktu manusia selalu memiliki kisah-kisahnya. Perubahan adalah hal yang biasa kita
hadapi. Begitupula perbedaan, hal yang mungkin selalu ada didepan mata kita setiap hari dan detiknya. Kita bisa
mengambil contoh dalam lingkup pertemanan. Ketika saya berada dalam satu circle yang tingkat keterbukaannya lebih
tinggi antara anggota satu sama lain, sayapun akan merasa lebih bebas, lepas dan lega di dalam hati saya. Namun ketika
saya berada di suatu kondisi dimana saya terpaksa menutup banyak hal dengan tidak banyak bicara ataupun diam karena
circle disekitar yang membawa vibes seperti itu maka saya pun akan terbawa. Singkatnya, bagaimana bisa seseorang
akan membuka tentang kisah-kisah dirinya, cerita sehari-harinya kepada lingkungan yang menurutnya tertutup terhadap
ask the experts >>>
hal tersebut.

Option congue nihil imperdiet doming id quod mazim placerat facer minim veni am ut
wisi enim ad minimeniam, quis erat nostr uexerci tation ullamcorper nostru exerci tation
ullam corper et iusto odio dig nissim qui blandit praesent lupta. Tummer delenit augue
duis dolore magna erat aliquam erat volutpat. Nam liber tempor cum soluta nobis sed.