Anda di halaman 1dari 24

1

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara hukum, hal ini diamanatkan dalam pasal 1

ayat (3) Undang Undang Dasar 1945. Prinsip negara hukum yaitu menjamin

kepastian hukum, ketertiban hukum, dan perlindungan hukum yang intinya ialah

kebenaran dan keadilan. Menurut Zairin Harahap suatu negara hukum

menghendaki segala tindakan atau perbuatan penguasa mempunyai dasar hukum

yang jelas atau ada legalitasnya baik berdasarkan hukum tertulis maupun hukum

tidak tertulis.1

Prinsip negara hukum, sebuah negara harus memiliki suatu pedoman

yang kuat, hal ini sebagaimana diperjelas dalam Bab IX pasal 24 dan pasal 25

UUD 1945 diatur ketentuan mengenai kekuasaan kehakiman. Dari pasal 24

UUD 1945 tersebut antara lain dapat diketahui bahwa di Indonesia terdapat

adanya 4 (empat) lingkungan peradilan, yaitu Lingkungan Peradilan Umum,

Lingkungan Peradilan Agama, Lingkungan Peradilan Militer dan Lingkungan

Peradilan Tata Usaha Negara. Menurut Rozali Abdullah, atas dasar ketentuan

pasal 24 UUD 1945 dari bunyi pasal tersebut jelaslah bagi kita bahwa dasar

hukum pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara yang bebas dan madiri

ternyata cukup kuat, sama halnya dengan ketiga Peradilan lainnya yang sudah

lama ada yaitu Peradilan Umum, Peradilan Agama dan Peradilan Militer.2

1
Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2005, hlm. 1.
2
Rozali Abdullah., Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2002, hlm. 11.
2

Peradilan Tata Usaha Negara mempunyai tugas dan wewenang untuk

memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara yang

diajukan oleh masyarakat atau obyek yang menerima keputusan tersebut.

Kompetensi absolut Peradilan Tata Usaha Negara diatur dalam pasal 1 angka 4

UU No. 5 Tahun 1986 jo UU No. 9 Tahun 2004 adalah sengketa Tata Usaha

Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata

Usaha Negara baik di pusat maupun di daerah sebagai akibat dikeluarkannya

Keputusan Tata Usaha Negara termasuk Sengketa Kepegawaian berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sengketa Tata Usaha Negara terjadi karena adanya seseorang atau badan

hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan

Tata Usaha Negara, yaitu suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan

atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara

yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat

konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang

atau badan hukum perdata. Gugatan yang diajukan oleh seseorang atau badan

hukum yang merasa dirugikan akibat terbitnya suatu KTUN tersebut haruslah

sesuai dengan alasan-alasan yang diatur dalam pasal 53 ayat (2) UU No. 5 Tahun

1986.

Menurut ketenutuan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 5 Tahun

2014 dalam pasal 35 dengan tegas menyebutkan bahwa penyelesaian sengketa

tersebut dilakukan melalui Peradilan Tata Usaha Negara. Menurut R. Wiryono


3

suatu permasalahan seperti halnya suatu sengketa yang berakibat timbulnya

kerugian terhadap suatu ketetapan yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata

usaha negara yang penyelesaian sengketanya melalui Peradilan Tata Usaha

Negara yang telah diatur dalam Pengadilan baru berwenang memeriksa,

memutuskan, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara jika seluruh

upaya administratif telah diselesaikan.3

Salah contoh satu Putusan Pengadilan yang memiliki permasalahan tentang tidak

diterimanya objek sengketa yang digugatkan karena KTUN tersebut tidak

memenuhi syarat yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan

hukum perdata.

sebagai bentuk Keputusan Tata Usaha Negara adalah Putusan Pengadilan Tata

Usaha Negara Nomor : 121/G/2015/PTUN-JKT yang memutus sengketa

dengan para pihak antara JUNAIDI YUSUF,S.E., Warga Negara Indonesia,

Pekerjaan Pensiunan PD Pasar Jaya, yang selanjutnya di sebut sebagai

PENGGUGAT Melawan GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS

IBUKOTA JAKARTA yang selanjutnya di sebut sebagai TERGUGAT , Bahwa

yang menjadi obyek gugatan Sengketa Tata Usaha Negara adalah Keputusan

Gubernur yang berupa: Surat Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Nomor: 65/-088.1 tertanggal 21 Januari 2015 perihal: Perubahan Batas Usia

Pensiun Pegawai PD Pasar Jaya.

3
R. Wiyono., Hukum Peradilan Tata Usaha Negara, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm. 9
4

Permasalahan yang ada dalam putusan pengadilan diatas adalah PENGGUGAT

sebagai Pegawai PD Pasar Jaya Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI)

Jakarta,dan selaku Ketua KORPRI Unit PD Pasar Jaya masih produktif untuk

bekerja yang sudah berkerja selama 30 tahun dan berusia 56 tahun. Perusahaan

Daerah Pasar Jaya sebagai salah satu Perusahaan Milik Daerah Propinsi DKI

Jakarta yang pegawainya turut berperan aktif dan bertanggung jawab

menjalankan perusahaan dengan baik dengan memiliki fungsi dan tugas masing-

masing, salah satunya berperan untuk memberikan Pendapatan Asli Daerah.

Terkait usia batas masa kerja/pensiun pegawai Perusahaan Daerah Pasar Jaya

yang telah diatur dalam Keputusan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota

Jakarta No. 23 Tahun 2003 tentang Peraturan Kepegawaian Perusahaan Daerah

Pasar Jaya .

Akan tetapi dengan terbitnya Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang

Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mulai berlakunya pada tanggal 15 Januari

2014,penggugat berpendapat bahwa ketentuan mengenai batas usia pengakhiran

masa kerja di lingkungan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta yang semula usia 56

(lima puluh enam) harus disesuaikan dengan Undang-Undang No.5 Tahun 2014

sehingga berubah menjadi usia 58 (lima puluh delapan) tahun, sebagaimana

dinyatakan dalam Pasal 90 Undang-Undang No.5 tahun 2014 tentang Aparatur

Sipil Negara (ASN).

Lalu pada tanggal 21 Januari 2015 Tergugat telah menerbitkan Surat Gubernur

Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor: 65/-088.1 tertanggal 21 Januari

2015 perihal: Status kepegawaian pegawai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
5

yaitu Perubahan Batas Usia Pensiun Pegawai PD Pasar Jaya yg ber isi pegawai

PD Pasar Jaya bukan termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN), sehingga tidak

secara otomatis dapat diberlakukan ketentuan Undang-Undang No. 5 Tahun

2014 tentang Aparatur Sipil Negara.

Terhadap Surat Keputusan Tergugat tersebut Penggugat merasa sangat

dirugikan mengingat Penggugat selaku Ketua KORPRI Unit PD Pasar Jaya

masih produktif untuk bekerja. Dalam Pertimbangan Hukum, Majelis Hakim

menyatakan bahwa Surat Keputusan Tergugat dalam perkara a quo tidak dapat

disebut sebagai Keputusan Tata Usaha Negara dikarenakan tidak memenuhi

unsur kepentingan dari orang atau badan hokum perdata sehingga Majelis

Hakim menyatakan bahwa gugatan Penggugat tidak diterima

terkait permasalahan syarat kepentingan dari orang atau badan hokum perdata

Keputusan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diuraikan di atas, menarik

untuk dikaji dan dianalisis. Karena untuk menentukan Apakah Keputusan Objek

Sengketa telah memenuhi unsur kepentingan dari orang atau badan hokum

perdata ataukah tidak, perlu ditelaah lebih lanjut dengan menggunakan konsep

hukum dan doktrin-dokrin hukum.

Berdasarkan hal di atas, Penulis tertarik untuk menelaah lebih lanjut dengan

melakukan suatu penelitian dan akan dituangkan dalam bentuk skripsi yang

berjudul : Kedudukan Surat Gurbenur Ibu Kota Jakarta Nomor:65/.088.1

perihal: Status kepegawaian pegawai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)

sebagai obyek sengketa di PTUN.


6

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut di atas, maka

dapat dirumuskan permasalahan, sebagai berikut :

1. Apakah Surat Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Perihal

perubahan batas usia pension Pegawai PD Pasar Jaya dalam perkara Putusan

Nomor 121/G/2015/PTUN.JKT termasuk dalam pengertian Keputusan Tata

Usaha Negara ?

2. Apakah pertimbangan hukum hakim dalam tidak diterimanya gugatan

penggugat telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan aupb?

C. Kerangka Teori

1. Konsep Negara Hukum

Sebagai Negara Hukum, setiap penyelenggaraan urusan

pemerintahan haruslah berdasarkan pada hukum yang berlaku (wetmatigheid

van bestuur). Sebagai Negara yang menganut desentralisasi mengandung arti

bahwa urusan pemerintahan pusat dan urusan pemerintahan daerah. Artinya

ada perangkat pemerintah pusat dan ada perangkat pemerintah daerah, yang

diberi otonomi yakni kebebasan dan kemandirian untuk mengatur dan

mengurus urusan rumah tangga daerah.4

Pemerintahan adalah bestuurvoering atau pelaksanaan tugas

pemerintah, sedangkan pemerintah ialah organ atau aparat yang menjalankan

4
Ibid, Hlm 17
7

pemerintahan. Pemerintah dalam arti luas mencakup semua alat kelengkapan

negara, yang pada pokoknya terdiri dari cabang-cabang kekuasaan eksekutif,

legislatif, dan yudisial atau alat-alat kelengkapan negara lain yang bertindak

untuk dan atas nama negara.5

2. Hukum Administrasi Negara

a. Pengertian Hukum Administrasi Negara

Administrasi (Administrare), mempunyai dua arti. Pertama,

kegiatan catat-mencatat. Kedua, mereka atau kompleks jabatan (jabatan)

yang menyelenggarakan kegiatan pencatatan termaksud pada point

pertama. Dalam bahasa belanda untuk Hukum Administrasi Negara

dikenal tiga istilah, yaitu Bestuursrecht, Administratiefrecht, serta

Statikaatrecht in engere zin. Sedangkan dalam bahasa Inggris: Hukum

Administrasi disebut dengan Administrative Law, Prancis: Hukum

Administrasi disebut dengan Droit Administratif, Jerman: Hukum

Administrasi disebut dengan Verwaltungsrecht.

Istilah Hukum Administrasi Negara merupakan terjemahan dari

istilah bahasa Belanda, Administratiefrecht. Hukum Administrasi

memiliki beberapa pengertian berdasarkan sudut pandang. Prajudi

Atmosudirdjo mengatakan Hukum Administrasi Negara adalah hukum

5
Ibid, Hlm 20-21
8

mengenai operasi dan pengendalian dari kekuasaan-kekuasaan

administrasi atau pengawasan terhadap penguasa-penguasa administrasi.

b. Ruang Lingkup Hukum Administrasi Negara

Philipus M. Hadjon dan kawan-kawan membagi Hukum

Administrasi Negara menjadi menjadi 2 bagian, yaitu Lapangan Hukum

Administrasi Khusus dan Lapangan Hukum Administrasi Umum. Yang

dimaksud dengan hukum administrasi khusus adalah peraturan-peraturan

hukum yang berhubungan dengan bidang tertentu dari kebijaksanaan

seperti contoh : hukum atas tata ruang dan hukum perizinan bangunan.

Sebaliknya yang dimaksud dengan hukum administrasi umum adalah

peraturan-peraturan hukum yang tidak terikat pada suatu bidang tertentu

dari kebijaksanaan penguasa, seperti contoh : algemene beginselen van

behoorlijk bestuur (asas-asas umum pemerintahan yang baik), dan

undang-undang peradilan tata usaha negara.6

c. Asas-asas Hukum Administrasi Negara

Hukum Administrasi Negara. Pembentukannya didasarkan kepada

suatu asas, dan asas yang menjadi dasar suatu kaidah disebut asas hukum,

maka dalam lapangan Hukum Administrasi Negara dikenal juga asas-asas

Hukum Administrasi Negara, yaitu sebagai berikut :

a. Asas Legalitas ialah Setiap perbuatan administrasi berdasarkan hukum.

Maksudnya ialah bahwa setiap perbuatan administrasi negara dalam

membuat peraturan maupun dalam membuat ketetapan haruslah

6
Philipus M. Hadjon, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia., hlm. 32.
9

berdasarkan hukum yang berlaku. Asas legalitas merupakan salah satu

prinsip utama yang dijadikan sebagai dasar dalam setiap

penyelenggaraan pemerintahan dan kenegaraan di setiap negara hukum

terutama bagi negara-negara hukumdalam sistem kontinental. 7

b. Asas tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan/asas de tournement de

pouvoir.

c. Asas tidak boleh menyerobot wewenang badan administrasi negara

yang satu dengan yang lainnya/asas exes de pouvoir.

d. Asas kesamaan hak bagi setiap penduduk negara atau disebut asas non

diskriminasi yang dimaksud ialah Asas kesamaan hak bagi setiap

penduduk adalah asas untuk mencegah timbulnya perbuatan

administrasi negara yang diskriminatif terhadap penduduk Indonesia,

karena hal tersebut bertentangan dengan pasal 27 ayat (1) Undang-

Undang Dasar 1945.

e. Asas upaya memaksa atau bersanksi sebagai jaminan agar taat kepada

Hukum Administrasi Negara ialah Asas upaya memaksa atau bersanksi

adalah asas untuk menjamin ketaatan penduduk kepada peraturan-

peraturan administrasi negara.

f. Asas kebebasan ialah Asas kebebasan yaitu kepada badan-badan

administrasi negara diberikan kebebasan dalam menyelesaikan masalah

menyangkut kepeningan umum, bangsa dan negara yang disebut asas

freies ermessen.

7
Ibid, Hlm. 94
10

d. Tindakan Pemerintahan (Bestuur Handelingen)

Pada negara hukum, setiap tindakan pemerintahan harus

berdasarkan atas hukum, karena dalam negara terdapat prinsip

wetmatigheid van bestuur atau asas legalitas. Asas ini menentukan bahwa

tanpa adanya dasar wewenang yang diberikan oleh suatu peraturan

perundang-undangan yang berlaku, maka segala macam aparat pemerintah

tidak akan memiliki wewenang yang dapat mempengaruhi atau mengubah

keadaan atau posisi hukum warga masyarakatnya.8

3. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara

Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara (PERATUN) menurut

Rozali Abdullah adalah rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara

bagaimana orang harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan

berjalannya peraturan Hukum Administrasi Negara.9 Hukum Acara

PERATUN dapat juga disebut sebagai hukum yang mengatur berbagai tata

cara bersengketa di lingkungan hukum peradilan Tata Usaha Negara.

Hukum Acara PERATUN merupakan salah satu unsur dari

peradilan, sehingga Hukum Acara PERATUN merupakan hukum formal.

Begitupun dengan hukum materiil dari Hukum Acara PERATUN yang

merupakan unsur terpenting karena tanpa adanya hukum materiil maka

8
Titik Triwulan T dan Ismu Gunadi Widodo, Hukum Tata Usaha Negara dan.Hukum
Acara Peradilan Tata Usaha Negara Indonesia I, Hlm. 109
9
Rozalli Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 1994, hlm. 1.
11

peradilan akan lumpuh. Sebaliknya tanpa hukum formal maka peradilan akan

menjadi liar karena tidak ada batasan yang jelas penerapan wewenang.10

a. Asas-Asas Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara

Ciri khas hukum acara peradilan tata usaha negara terletak pada asas

– asas hukum yang melandasinya, yaitu :

a. Asas praduga rechtmatig (vermoeden van rechtmatigheid =

praesumptio iustae causa). Asas ini mengandung makna bahwa setiap

tindakan penguasa selalu harus dianggap rechtmatig sampai ada

pembatalannya. Dengan asas ini, gugatan tidak menunda pelaksanaan

KTUN yang dibuat (pasal 67 ayat 1 Undang-undang 5 tahun 1986);

b. Asas pembuktian bebas. Hakim yang menetakan beban pembuktian.

Hal ini berbeda dengan ketentuan pasal 1865 BW. Asas ini dianut

pasal 107 UU Nomor 5 tahun 1986 hanya saja masih dibatasi

ketentuan pasal 100;

c. Asas keaktifan hakim (dominus litis). Keaktifan hakim dimaksudkan

untuk mengimbangi kedudukan para pihak karena tergugat adalah

pejabat tata usaha negara sedangkan penggugat adalah orang atau

badan hukum perdata. Penerapan asas ini antara lain terdapat dalam

ketentuan pasal 58, 63 ayat 1, 2, 80, 85.

10
Sjachran Basah, Hukum Acara Pengadilan Dalam Lingkungan Peradilan Administrasi,
Rajawali Pers, Jakarta, 1989, hlm. 1.
12

d. Asas putusan pengadilan mempunyai kekuatan mengikat “erga

omes”. Sengketa TUN adalah sengketa hukum publik. Dengan

demikian putusan pengadilan TUN berlaku bagi siapa saja tidak hanya

bagi para pihak yang bersengketa. Dalam rangka ini kiranya ketentuan

pasal 83 tentang intervensi bertentangan dengan asas “erga omes”.

b. Kompetensi Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara

Kompetensi Relatif merupakan kewenangan memeriksa/mengadili

perkara berdasarkan pembagian daerah hukum (distribusi kekuasaan).

Kompetensi Relatif ini diatur dalam pasal 6 Undang-undang Nomor 9

tahun 2004 tentang PERATUN, yang menyatakan ;

a. Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di Ibukota

Kabupaten/Kota, dan daerah hukumnya meliputi wilayah

Kabupaten/Kota.

b. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara berkedudukan di Ibukota

Provinsi dan daerah hukumnya meliputu wilayah Provinsi. Mengenai

susunan Pengadilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, oleh

Pasal 8 UU PERATUN ditentukan bahwa Pengadilan di lingkungan

Peradilan Tata Usaha Negara terdiri dari ;

1) Pengadilan Tata Usaha Negara yang merupakan Pengadilan Tingkat

Pertama (PTUN);
13

2) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara yang merupakan Pengadilan

Tingkat Banding (PTTUN).11

Kompetensi Absolut Peradilan Tata Usaha Negara kurang lebih

memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Yang bersengketa (pihak-pihak) adalah Orang atau Badan Hukum

Perdata dengan Pejabat Tata Usaha Negara.

b. Objek Sengketa adalah Keputusan Tata Usaha Negara yakni

penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata

Usaha Negara.

c. Keputusan yang dijadikan objek sengketa ini berisi tindakan hukum

pejabat tata usaha negara.

d. Keputusan yang dijadikan objek sengketa itu bersifat konkret,

individual, dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi orang atau

badan hukum perdata.12

c. Keabsahan Keputusan Tata Usaha Negara

Pejabat Tata Usaha Negara pada saat menjalankan tugasnya salah

satunya yaitu mengeluarkan keputusan, yang selanjutnya disebut sebagai

Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN), pengertiannya terdapat pada Pasal

1 ayat 9 UU Nomor 51 Tahun 2009. Sedangkan yang dimaksud dengan

bersifat konkret, individual dan final adalah sebagai berikut :

11
R. Wiyono., Op.Cit. Hlm. 2
12
SF Marbun, Dimensi-Dimensi Pemikiran Hukum Administrasi Negara, UII Press,
Yogyakarta,2001, Hlm 186
14

a. Bersifat konkret, artinya objek yang diputuskan dalam keputusan tata

usaha negara itu tidak abstrak, tetapi berwujud, tertentu atau dapat

ditentukan.

b. Bersifat individual, artinya keputusan tata usaha negara itu tidak

ditujukan untuk umum, tetapi tertentu, baik alamat maupun hal yang

dituju.

c. Bersifat final, artinya sudah Definitif dan karenanya dapat

menimbulkan akibat hukum.13

Hukum Administrasi menganut asas presumtio justae causa yang

maksudnya bahwa suatu keputusan TUN harus selalu dianggap benar dan

dapat dilaksanakan, sepanjang hakim belum membuktikan sebaliknya.

Dasar pengujian suatu Keputusan Tata Usaha Negara sebagaimana

diatur dalam pasal 53 ayat 2 UU Nomor 5 Tahun 1986 Jo. Undang-undang

Nomor 9 tahun 2004, yaitu :

a. Keputusan Tata Usaha Negara tersebut bertentangan dengan peraturan

perundang-undangan; atau

b. Keputusan Tata Usaha Negara tersebut bertentangan dengan Asas-Asas

Umum Pemerintahan yang Baik. Dalam Praktiknya Majelis Hakim

dalam pengujiannya terhadap Keputusan Tata Usaha Negara telah

sesuai ketentuan Pasal 53 di atas, adalah meliputi tiga aspek yaitu :

13
R. Wiyono, Op.Cit, Hlm. 28
15

 Aspek Kewenangan, yaitu meliputi hal berwenang, tidak

berwenang atau melanggar kewenangan. Dasar kewenangan

Badan/Pejabat TUN adalah secara atribusi (berasal dari perundang-

undangan yang melekat pada suatu jabatan), delegasi (adanya

pemindahan/pengalihan suatu kewenangan yang ada), dan mandat

(dalam hal ini tidak ada pengakuan kewenangan atau pengalihan

kewenangan).

 Aspek Substansi/materi, yaitu meliputi pelaksanaan atau

penggunaan kewenangannya apakah secara materi/substansi telah

sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum atau peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

 Aspek Prosedural, yaitu apakah prosedur pengambilan keputusan

tata usaha negara yang disyaratkan oleh peraturan perundang-

undangan dalam pelaksanaan kewenangan tersebut telah ditempuh

atau tidak.14

3. Hukum Kepegawaian

Pengertian Aparatur Sipil Negara adalah setiap warga negara

Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang telah ditentukan,

diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam jabatan

negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku. Hak dan kewajiban ASN diatur dalam

14
Ibid, Hlm. 323-325
16

pasal 21 UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Setiap

Aparatur Sipil Negara berhak memperoleh :

a. Gaji, tunjangan, dan fasilitas;

b. Cuti;

c. Jaminan pensiun dan jaminan hari tua;

d. Perlindungan; dan

e. Pengembangan kompetensi.

Aparatur Sipil Negra selain mendapatkan hak juga mempunyai

kewajiban, kewajiban ASN dalam pasal 23 adalah sebagai berikut :

a. Setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan

pemerintah yang sah;

b. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;

c. Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang

berwenang;

d. Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;

e. Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,

kesadaran, dan tanggung jawab;


17

f. Menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan

dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar

kedinasan;

g. Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia

jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

h. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

Aparatur Sipil Negara selain adanya hak dan kewajiban, adapula

pengaturan mengenai peraturan disiplin ASN. Pengertian Peraturan Disiplin

ASN adalah peraturan yang mengatur kewajiban, larangan, dan sanksi

apabila kewajiban tidak di taati atau larangan dilanggar oleh ASN.

Penegakan disiplin terdiri dari hukuman disiplin ringan sebagaimana

dimaksud pada ayat 1 huruf a PP No. 53 Tahun 2010, terdiri dari :

a. Teguran lisan;

b. Teguran tertulis; dan

c. Pernyataan tidak puas secara tertulis.

Jenis hukuman disiplin sedang sebagaimana dimaksud pada ayat 1

huruf b, terdiri dari :

a. Penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun;

b. Penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun; dan


18

c. Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun.

Jenis hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud pada ayat 1

huruf c, terdiri dari :

a. Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun;

b. Dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah;

c. Pembebasan dari jabatan;

d. Dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS; dan

e. Pemberhentian dengan tidak hormat sebagai PNS.

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mempelajari Surat Gubernur Provisi Daerah Khusus Ibu Kota

Jakarta Perihal Perubahan Batas Usia Pensin Pegawai Pd Pasar Jaya dalam

perkara Putusan Nomor 121/G/2015/PTUN.JKT termasuk dalam

pengertian Keputusan Tata Usaha Negara

2. Untuk mengetahui dan memahami. Surat Gubernur Provisi Daerah

Khusus Ibu Kota Jakarta Perihal Perubahan Batas Usia Pensin Pegawai Pd

Pasar Jaya dalam pekara di atas menjadi kompetensi absolut Pengadilan

Tata Usaha Negara

E. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :


19

1. Kegunaan Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

pengetahuan dan kepustakaan tentang ilmu hukum pada umumnya dan pada

khususnya ilmu Hukum Administrasi Negara dan Hukum Acara Peradilan

Tata Usaha Negara yang berkaitan dengan penerapan peraturan perundang-

undangan dan asas-asas umum pemerintahan yang baik dalam pertimbangan

hukum hakim dalam putusan Pengadilan Tata Usaha Negara.

2. Kegunaan Praktis

Memberikan pengetahuan kepada penulis, kalangan mahasiswa, masyarakat

umum, dan praktisi perihal pelaksanaan Hukum Acara Peradilan Tata Usaha

Negara yang berkaitan dengan penerapan peraturan perundang-undangan dan

asas-asas umum pemerintahan yang baik dalam pertimbangan hukum hakim

dalam putusan Pengadilan Tata Usaha Negara.

F. Metode Penelitian

Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

Yuridis Normatif, Menurut Johny Ibrahim, metode pendekatan yuridis

normatif adalah suatu prosedur ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan

logika keilmuan hukum dan sisi normatifnya. Logika keilmuan yang ajeg dalam

penelitianhukum normatif dibangun berdasarkan disiplin ilmiah dan cara-cara

kerja ilmu normatif, yaitu ilmu hukum yang objeknya hukum itu sendiri.15

1. Metode Pendekatan

15
Johny Ibrahim , Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif, Banyumedia, Malang,
2008,Hlm.57
20

Metode Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Pendekatan Perundang-undangan (Statute Approach), Pendekatan Kasus

(Case Approach), dan Pendekatan Konseptual.

 Pendekatan perundang-undangan dilakukan dengan menelaah semua

peraturan undang-undangan dan regulasi yang bersangkut paut dengan

masalah hukum yang sedang ditangani. Pendekatan ini akan membuka

kesempatan kepada peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan

kesesuaian antara undang-undang dengan undang-undang lainnya,

antara undang-undang dan undang-undang dasar, antara regulasi

dengan undang - undang.16

 Pendekatan Kasus dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap

kasus - kasus yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi yang telah

menjadi putusan pengadilan, yang telah mempunyai kekuatan hukum

tetap.17

 Pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan

doktrin - doktrin yang berkembang didalam ilmu hukum. Dengan

mempelajari pandangan - pandangan dan doktrin di dalam ilmu hukum,

konsep - konsep hukum dan asas-asas hukum yang relevan dengan

masalah yang dihadapi.18

2. Spesifikasi Penelitian

16
M. Syamsudin, Operasionalisasi Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2007,Hlm. 58
17
Ibid, Hlm. 58
18
Ibid, Hlm. 60
21

Spesifikasi Penelitian yang digunakan adalah preskriptif, yaitu suatu

penelitian yang menggambarkan keadaan dari objek yang diteliti dengan

keyakinan-keyakinan tertentu yang didasari atas perundang-undangan yang

ada dan kemudian mengambil kesimpulan dari bahan-bahan dari objek

masalah yang akan diteliti dengan keyakinan-keyakinan tertentu.19

3. Lokasi Penelitian

Lokasi dari penelitian ini dilakukan di Pusat Informasi Ilmiah (PII)

Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, UPT Perpustakaan

Universitas Jenderal Soedirman, Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia

dan Pengadilan Tata Usaha Negera Jakarta.

4. Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum ini merupakan bahan-bahan hukum yang

mempunyai kekuatan mengikat, yang dapat berupa norma dasar (Pancasila),

peraturan dasar seperti Batah Tubuh Undang-Undang Dasar 1945,

Peraturan Perundang-undangan, hukum yang tidak dikodifikasi, hukum

adat, hukum islam, yurisprudensi, traktat dan doktrin.20 Dari data sekunder

tersebut akan dibagi dan diuraikan ke dalam tiga bagian, yaitu :

a. Bahan Hukum Primer

Bahan Hukum Primer adalah semua peraturan hukum yang merupakan

sumber hukum. Dalam penelitian ini, bahan hukum primer yaitu

19
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta, 2005, Hlm. 141
20
M. Syamudin, Op.Cit, Hlm. 96
22

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

Amandemen;

2. Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang nomor 5 tahun

1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana diubah

dengan Undang-Undang nomor 9 tahun 2004 tentang Perubahan

Atas Undang-Undang nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata

Usaha Negara;

3. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi

Pemerintahan;

4. Undang-undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman;

5. Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara;

6. Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai

Negeri Sipil;

7. Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta

Nomor121/G/2015/PTUN-JKT .

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang erat kaitannya

dengan bahan hukum primer, dan dapat membantu menganalisis dan

memahami bahan hukum primer, misalnya rancangan peraturan

perundang – undangan, hasil karya ilmiah para sarjana, hasil-hasil

penelitian, jurnal, dan sebagainya.21

21
Ibid, Hlm. 96
23

c. Bahan Hukum Tersier

Bahan Hukum Tersier adalah bahan yang memberikan petunjuk

terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yaitu kamus

dan ensiklopedia.22

5. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan bahan hukum primer dilakukan dengan

menginventarisasi bahan hukum primer seperti peraturan perundang-

undangan, putusan Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Nomor

121/G/2015/PTUN-JKT , yurisprudensi, dan doktrin yang relevan dengan

objek penelitian ini. Pengumpulan bahan hukum sekunder dilakukan

dengan cara Studi Kepustakaan, adalah kegiatan mengumpulkan dan

memeriksa atau menelusuri dokumen-dokumen atau kepustakan yang dapat

memberikan informasi atau keterangan yang dibutuhkan oleh peneliti.23

Seperti terhadap Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan

Kedua Atas UU Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara,

hasil-hasil penelitian, literatur-literatur, makalah-makalah dalam seminar,

artikel-artikel, risalah-risalah sidang di Pengadilan Tata Usaha Negara

(PTUN) Jakarta, serta petunjuk teknis maupun petunjuk pelaksana yang

dikeluarkan oleh Mahkamah Agung maupun PTUN Jakarta yang relevan

dengan objek penelitian.

6. Metode Penyajian Bahan Hukum

22
Peter Mahmud Marzuki, Op.Cit, Hlm. 141
23
M. Syamsudin, Op.Cit, Hlm. 101
24

Penyajian bahan hukum dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk


24
Teks Naratif atau secara naratif yaitu suatu penyajian dalam bentuk

rangkaian kalimat yang bersifat narasi atau bersifat menguraikan,

menjelaskan dan sebagainya, yang mendasarkan pada teori yang disusun

secara logis dan sistematis.

7. Metode Analisis Bahan Hukum

Penelitian ini mengambil data bahan-bahan hukum yang diperoleh

lalu dianalisis secara kualitatif, yaitu analisis yang dilakukan dengan

memahami dan merangkai data yang telah dikumpulkan dan disusun secara

sistematis, kemudian ditarik kesimpulan.

Cara pengambilan kesimpulan dilakukan secara deduktif yaitu cara

menarik kesimpulan dari suatu permasalahan yang bersifat umum terhadap

masalah-masalah konkret yang dihadapi.25

24
Ibid, Hlm. 119
25
Ibid, Hlm. 72