Anda di halaman 1dari 45

TUGAS SISTEM TRANSMISI

Oleh :

Nama : I Wayan Gde Wredhira Wirartama


Nim : 1705542030
Jurusan : Teknik Elektro

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS UDAYANA 2019


BAB 2

2.1 Pengertian sistem Transmisi

Gambar 2.1 Transmisi Tegangan tinggi

Transmisi tenaga listrik merupakan proses penyaluran tenaga listrik dari


tempat pembangkit tenaga listrik (Power Plant) hingga substation distribution
sehingga dapat disalurkan sampai pada konsumer pengguna listrik melalui suatu
bahan konduktor, misalnya :
- Dari pembangkit listrik ke gardu induk.
- Dari satu gardu induk ke gardu induk lainnya.
- Dari gardu induk ke jaring tegangan menengah dan gardu distribusi.
Tenaga listrik di transmisikan oleh suatu bahan konduktor yang mengalirkan tipe
Saluran Transmisi Listrik. Pada sistem tenaga listrik, jarak antara pembangkit
dengan beban yang cukup jauh akan menimbukan adanya penurunan kualitas
tegangan yang diakibatkan pada saluran yang mengalami drop tegangan.

Gambar 2.2 Sistem Saluran Transmisi


Penyaluran tenaga listrik pada transmisi menggunakan arus bolak-balik
(AC) ataupun juga dengan arus searah (DC). Penggunaan arus bolak-balik yaitu
dengan sistem tiga-fasa atau dengan empat-fasa.

Gambar 2.3 Sistem Tiga-Fasa Gambar 2.4 Sistem Empat Fasa

Saluran Transmisi dengan menggunakan sistem arus bolak-balik tiga fasa


merupakan sistem yang banyak digunakan, mengingat kelebihan sebagai berikut :
1. Mudah pembangkitannya
2. Mudah pengubahan tegangannya
3. Dapat menghasilkan medan magnet putar
4. Dengan sistem tiga fasa, daya yang disalurkan lebih besar dan nilai
sesaatnya konstan

2.2 Saluran Transmisi berdasarkan Tegangan


Transmisi tenaga listrik sebenarnya tidak hanya penyaluran energi listrik
dengan menggunakan tegangan tinggi dan melalui saluran udara (overhead line),
namun transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat
lainnya, yang besaran tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi (UHV),
Tegangan Ekstra Tinggi (EHV), Tegangan Tinggi (HV), Tegangan Menengah
(MHV), dan Tegangan Rendah (LV). Sedangkan Transmisi Tegangan Tinggi
adalah berfungsi menyalurkan energi listrik dari satu substation (gardu) induk ke
gardu induk lainnya. Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara tiang (tower)
melalui isolator, dengan sistem tegangan tinggi. Standar tegangan tinggi yang
berlaku diindonesia adalah 30kV, 70kV dan 150kV

2.2.1 SALURAN UDARA TEGANGAN EKSTRA TINGGI (SUTET) 200


KV – 500 KV
• Pada umumnya digunakan pada pembangkitan dengan kapasitas di atas
500 MW.
• Tujuannya adalah agar drop tegangan dan penampang kawat dapat
direduksi secara maksimal, sehingga diperoleh operasional yang efektif
dan efisien.
• Permasalahan mendasar pembangunan SUTET adalah: konstruksi tiang
(tower) yang besar dan tinggi, memerlukan tapak tanah yang luas,
memerlukan isolator yang banyak, sehingga pembangunannya
membutuhkan biaya yang besar.
• Masalah lain yang timbul dalam pembangunan SUTET adalah masalah
sosial, yang akhirnya berdampak pada masalah pembiayaan, antara lain:
Timbulnya protes dari masyarakat yang menentang pembangunan
SUTET, Permintaan ganti rugi tanah untuk tapak tower yang terlalu
tinggi tinggi, Adanya permintaan ganti rugi sepanjang jalur SUTET dan
lain sebagainya.
• Pembangunan transmisi ini cukup efektif untuk jarak 100 km sampai
dengan 500 km.

2.2.2 SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI (SUTT) 30 KV – 150 KV


• Tegangan operasi antara 30 KV sampai dengan 150 KV.
• Konfigurasi jaringan pada umumnya single atau double sirkuit, dimana
1 sirkuit terdiri dari 3 phasa dengan 3 atau 4 kawat. Biasanya hanya 3
kawat dan penghantar netralnya digantikan oleh tanah sebagai saluran
kembali.
• Apabila kapasitas daya yang disalurkan besar, maka penghantar pada
masing-masing phasa terdiri dari dua atau empat kawat (Double atau
Qudrapole) dan Berkas konduktor disebut Bundle Conductor.
• Jika transmisi ini beroperasi secara parsial, jarak terjauh yang paling
efektif adalah 100 km.
• Jika jarak transmisi lebih dari 100 km maka tegangan jatuh (drop
voltaje) terlalu besar, sehingga tegangan diujung transmisi menjadi
rendah.
• Untuk mengatasi hal tersebut maka sistem transmisi dihubungkan secara
ring system atau interconnection system. Ini sudah diterapkan di Pulau
Jawa dan akan dikembangkan di Pulau-pulau besar lainnya di Indonesia.

2.2.3 SALURAN KABEL TEGANGAN TINGGI (SKTT) 30 KV – 150 KV


SKTT dipasang di kota-kota besar di Indonesia (khususnya di Pulau Jawa),
dengan beberapa pertimbangan :
• Di tengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT, karena
sangat sulit mendapatkan tanah untuk tapak tower.
• Untuk Ruang Bebas juga sangat sulit dan pasti timbul protes dari
masyarakat, karena padat bangunan dan banyak gedung-gedung tinggi.
• Pertimbangan keamanan dan estetika.
• Adanya permintaan dan pertumbuhan beban yang sangat tinggi.

Jenis kabel yang digunakan:


• Kabel yang berisolasi (berbahan) Poly Etheline atau kabel jenis Cross
Link Poly Etheline (XLPE).
• Kabel yang isolasinya berbahan kertas yang diperkuat dengan minyak
(oil paper impregnated).

2.2.3.1 SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) 6 KV – 20


KV
Di Indonesia, pada umumnya tegangan operasi SUTM adalah 6 KV dan 20
KV. Namun secara berangsur-angsur tegangan operasi 6 KV dihilangkan dan saat
ini hampir semuanya menggunakan tegangan operasi 20 KV. Transmisi SUTM
digunakan pada jaringan tingkat tiga, yaitu jaringan distribusi yang
menghubungkan dari Gardu Induk, Penyulang (Feeder), SUTM, Gardu Distribusi,
sampai dengan ke Instalasi Pemanfaatan (Pelanggan/ Konsumen).
Berdasarkan sistem pentanahan titik netral trafo, efektifitas penyalurannya
hanya pada jarak (panjang) antara 15 km sampai dengan 20 km. Jika transmisi lebih
dari jarak tersebut, efektifitasnya menurun, karena relay pengaman tidak bisa
bekerja secara selektif.
Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada (kemampuan
likuiditas atau keuangan, kondisi geografis dan lain-lain) transmisi SUTM di
Indonesia melebihi kondisi ideal di atas.
2.2.4 SALURAN KABEL TEGANGAN MENENGAH (SKTM) 6 KV – 20
KV
Ditinjau dari segi fungsi , transmisi SKTM memiliki fungsi yang sama
dengan transmisi SUTM. Perbedaan mendasar adalah, SKTM ditanam di
dalam tanah.
Beberapa pertimbangan pembangunan transmisi SKTM adalah:
• Kondisi setempat yang tidak memungkinkan dibangun SUTM.
• Kesulitan mendapatkan ruang bebas (ROW), karena berada di tengah
kota dan pemukiman padat.
• Pertimbangan segi estetika.

2.3 Konstruksi Saluran transmisi


Berdasarkan pemasangannya, saluran transmisi dibagi menjadi dua
kategori, yaitu
2.3.1 Saluran Udara (Overhead Lines), sakuran transmisi yang menyalurkan
energi listrik melalui kawat-kawat yang digantung pada isolator antara
menara atau tiang transmisi. Keuntungan dari saluran transmisi udara antara
lain :
1. Mudah dalam perbaikan
2. mudah dalam perawatan
3. mudah dalam mengetahui letak gangguan
4. Lebih murah

Kerugian :
1. karena berada diruang terbuka, maka cuaca sangat berpengaruh
terhadap kehandalannya, dengan kata lain mudah terjadi gangguan
dari luar, seperti gangguan hubungan singkat, gangguan tegangan bila
tersambar petir, dan gangguan lainnya.
2. Dari segi estetika/keindahan kurang, sehungga saluran transmisi
bukan pilihan yang ideal untuk transmisi di dalam kota.

Gambar 2.5 Saluran Listrik Udara Tegangan Tinggi

2.3.2 Saluran kabel bawah tanah (underground cable),


Saluran Kabel bawah laut, ini merupakan saluran listrik yang melewati
medium bawah air (laut) karena transmisi antar pulau yang jaraknya dipisahkan
oleh lautan.
saluran transmisi yang menyalurkan energi listrik melalui kabel yang
dipendam didalam tanah. Kategori saluran seperti ini adalah favorit untuk
pemasangan didalam kota, karena berada didalam tanah maka tidak mengganggu
keindahan kota dan juga tidak mudah terjadi gangguan akibat kondisi cuaca atau
kondisi alam. Namun tetap memiliki kekurangan, antara lain mahal dalam instalasi
dan investasi serta sulitnya menentukan titik gangguan dan perbaikkannya.

Gambar 2.6 Saluran Listrik Bawah tanah Gambar 2.7 Saluran Bawah Laut

2.3.3 Saluran Isolasi Gas


Saluran Isolasi Gas (Gas Insulated Line/GIL) adalah Saluran yang diisolasi
dengan gas, misalnya: gas SF6, seperti gambar Karena mahal dan resiko terhadap
lingkungan sangat tinggi maka saluran ini jarang digunakan

Gambar 2.8 Saluran Listrik Isolasi Gas

2.4 Komponen Transmisi Listrik.


Saluran transmisi Tenaga Listrik terdiri atas :
1. Tiang Penyangga / Tower
2. konduktor.
3. Isolator.
komponen-komponen utama dari saluran transmisi udara, terdiri dari:
2.4.1 MENARA TRANSMISI atau tiang transmisi, beserta pondasinya.
Gambar 2.9 Tower Transmisi
Tiang Penyangga Saluran transmisi dapat berupa saluran udara dan saluran
bawah tanah, namun pada umumnya berupa saluran udara. Energi listrik yang
disalurkan lewat saluran transmisi udara pada umumnya menggunakan kawat
telanjang sehingga mengandalkan udara sebagai media antar isolasi antar kawat
penghantar. Dan untuk menyanggah/merentangkan kawat penghantar dengan
ketinggian dan jarak yang aman bagi manusia dan lingkungan sekitarnya, kawat-
kawat penghantar tersebut dipasang pada suatu konstruksi bangunan yang kokoh,
yang biasa disebut menara/tower. Antar menra/tower listrik dan kawat penghantar
disekat oleh isolator.
Menara atau tiang transmisi adalah suatu bangunan penopang saluran
transmisi yang bisa berupa menara baja, tiang baja, tiang beton bertulang dan tiang
kayu. menurut penggunannya diklasifikasikan menjadi:
a. Tiang baja, tiang beton bertulang dan tiang kayu, umumnya digunakan
untuk saluran-saluran transmisi dengan tegangan kerja yang relatif rendah
(dibawah 70 kV).
b. Menara baja, digunakan untuk saluran transmisi yang tegangan kerjanya
tinggi (SUTT) dan tegangan ekstra tinggi (SUTET).menara baja itu sendiri
diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, menjadi:
 menara dukung.
 menara sudut.
 menara ujung.
 menara percabangan.
 menara transposisi.
Gambar 2.10 Jenis-jenis Tower Transmisi

2.4.1.1 Berdasarkan konstruksinya :


1. Lattice Tower
Lattice Tower merupakan jenis tower transmisi yang konstruksinya
menggunakan susuan baja profil yang berukuran kecil, sehingga dalam pengerjaan
atau pembangunan tower menjadi lebih mudah. Tower jenis ini biasanya dirancang
untuk ketinggian 20 – 120 meter. Berdasarkan susunan atau konfigurasi
penghantarnya lattice tower dibedakan menjadi 3 yakni :
a. Konstruksi Delta

Konstruksi lattice tower jenis Delta digunakan untuk mentransmisikan


energi listrik dalam konfigurasi penghantar single circuit dengan dua buah earth
wire. Konstruksi tower jenis ini biasanya digunakan untuk mentransmisikan
tegangan 220 kV – 500 kV karena pada konstuksi jenis ini pengaruh akibat mutual
induktansi antar penghantar dapat diperkecil karena menggunakan single circuit
dengan jarak antar penghantar yang cukup jauh.Konstruksi dari tower ini juga
sangat efektif unuk menahan beban berat kabel yang besar. Konstruksi dari tower
delta ini adalah sebagai berkut :

Bagian pondasi
Bagian pondasi tower biasanya konstruksi besi bertulang (stub) yang
ditanam didalam bumi, bagian stub yang muncul di permukaan tanah sekitar 0,5 –
1 meter lalu disemen serta di cat agar tidak mudah berkarat. Adapun jenis pondasi
yang gunakan berdasarkan kondisi tanah adalah normal (untuk tanah keras),Spesial
(untuk tanah lembek), Raft(untuk tanah rawa), Auger (untuk penanaman stub
dengan semen), rockdriller (untuk wilayah bebatuan).
Bagian Kaki Tower
Bagian kaki tower tersusun dari baja profil, biasanya pada tower lettice tipe
delta memiliki 4 jumlah kaki dengan jarak antar kaki 3 – 8 meter diluar stub. Area
diantara kaki tower ini biasanya disebut dengan halaman tower.Pada kondisi
tertentu (tanah tidak rata) perlu dilakukan penambahan atau pengurangan tinggi
kaki tower, biasanya ditandai dengan simbol +/-.
Bagian Badan Tower
Bagian badan tower merupakan kerangka utama dari tower yang tersusun
atas baja profil. Badan tower jenis delta memiliki bentuk agak lebih ramping dari
bagian pondasi. Pada badan tower biasanya terdapat plat tanda bahaya, aviation
lamp (rambu tanda penerbangan untuk pesawat yang melintas) dan ACD (Anti
Climbing Device).
Cross arm tower
Cross arm tower merupakan tempat menggantungnya penghantar fasa yang
digunakan untuk mentransmisikan tenaga listrik. Jarak antara penghantar pada
konstrukti tipe ini biasanya 3 - 8 meter tergantung dari besar tegangan yang di
transmisikan. Jarak antar konduktor ini sangat penting untuk diperhitungkan karena
mempengaruhi besar loses akibat mutual induktansi dari penghantar saluran
transmisi. Pada cross arm ini biasanya juga terdapatberbagai komponen isolator,
arching horn, transmission line arrester, dan lain sebagainya.
Earth wire Peak
Earth wire peak merupakan bagian paling teratas dari suatu tower. Pada
tower jenis ini menggunakan dua buah earth wire (double earth wire). Fungsi dari
earth wire ini adalah untuk melindungi penghantar fasa dari gangguan petir.
Biasanya dipasang dalam sudut tertentu agar dapat melindungi penghantar fasa dari
sambaran petir baik dari atas ataupun samping.

b. Konstruksi Piramida
Konstruksi lattice tower jenis piramida digunakan untuk mentransmisikan
energi listrik dalam konfigurasi penghantar double circuit. Konstruksi tower ini
terdiri dari dua jenis yakni double circuit-single earth wire untuk mentransmisikan
tenaga listrik pada tegangan 30 – 380 kV dan double circuit-double earth wire untuk
mentransmisikan tenaga listrik pada tegangan 70-500 kV. Konstruksi dari tower
piramida ini adalah sebagai berkut :

Bagian pondasi dan Kaki Tower


Sama seperti tower lattice lainya bagian pondasi tower merupakan
konstruksi besi bertulang (stub) yang ditanam didalam bumi, bagian stub yang
muncul di permukaan tanah sekitar 0,5 – 1 meter lalu disemen serta di cat agar tidak
mudah berkarat. Adapun jenis pondasi yang gunakan berdasarkan kondisi tanah
adalah normal (untuk tanah keras),Spesial (untuk tanah lembek), Raft(untuk tanah
rawa), Auger (untuk penanaman stub dengan semen), rockdriller (untuk wilayah
bebatuan). Bagian kaki tower tersusun dari baja profil, biasanya pada tower lettice
tipe delta memiliki 4 jumlah kaki dengan jarak antar kaki 3 – 8 meter diluar stub.
Area diantara kaki tower ini biasanya disebut dengan halaman tower.Pada kondisi
tertentu (tanah tidak rata) perlu dilakukan penambahan atau pengurangan tinggi
kaki tower, biasanya ditandai dengan simbol +/-.
Bagian Badan Tower
Bagian badan tower merupakan kerangka utama dari tower yang tersusun
atas baja profil. Badan tower jenis delta memiliki bentuk agak lebih ramping dari
bagian pondasi. Pada badan tower biasanya terdapat plat tanda bahaya, aviation
lamp (rambu tanda penerbangan untuk pesawat yang melintas) dan ACD (Anti
Climbing Device).
Cross arm tower
Cross arm tower merupakan tempat menggantungnya penghantar fasa yang
digunakan untuk mentransmisikan tenaga listrik. Pada tower jenis ini memiliki 6
buah corss arms yang jarak antar fasa sangat diperhitungkan untuk mengurangi
losses yang diakibatkan oleh mutual induktansi yang diakibatkan oleh masing-
masing penghantar. Biasanya pada konfigurasi double circuit Fasa R-S-T tersusun
secara vertikal di cross arms bagian kanan ataupun kiri. Pada transmisi tenaga
listrik dengan jarak yang sangat jauh kadangkala posisi penghantar fasa di tukar
karena pengaruh dari Capasitive losses. Pada cross arm ini biasanya juga terdapat
berbagai komponen isolator, arching horn, transmission line arrester, dan lain
sebagainya.
Vertical Spacing Between Conductor
Vertical Spacing Between Conductor merupakan rangkaian baja profil yang
memiliki tinggi tertentu yang berfungsi menjadi pemisah antara penghantar satu
dengan lainnya secara vertikal, untuk mengurangi losses yang ditimbulkan oleh
mutual induktansi dari setiap penghantar.
Earth wire Peak
Earth wire peak merupakan bagian paling teratas dari suatu tower. Pada
tower jenis ini menggunakan satu atau dua buah earth wire (double earth wire)
sesuai bentuk dari konfigurasi tower ini. Fungsi dari earth wire ini adalah untuk
melindungi penghantar fasa dari gangguan petir. Biasanya dipasang dalam sudut
tertentu agar dapat melindungi penghantar fasa dari sambaran petir baik dari atas
ataupun samping.

c. Konstruksi Zig-Zag

Konstruksi lattice tower jenis zig-zag pada dasarnya sama seperti tower
jenis piramida hanya saja tower jenis zig-zag ini digunakan untuk mentransmisikan
energi listrik dalam konfigurasi penghantar sigle circuit. Konstruksi tower jenis ini
biasanya digunakan untuk mentrasmisikan tenaga listrik pada tegangan 30 – 150
kV. Konstruksi dari tower zigzag ini adalah sebagai berkut :

Bagian pondasi dan Kaki Tower


Sama seperti tower lattice lainya bagian pondasi tower merupakan
konstruksi besi bertulang (stub) yang ditanam didalam bumi, bagian stub yang
muncul di permukaan tanah sekitar 0,5 – 1 meter lalu disemen serta di cat agar tidak
mudah berkarat. Adapun jenis pondasi yang gunakan berdasarkan kondisi tanah
adalah normal (untuk tanah keras),Spesial (untuk tanah lembek), Raft(untuk tanah
rawa), Auger (untuk penanaman stub dengan semen), rockdriller (untuk wilayah
bebatuan). Bagian kaki tower tersusun dari baja profil, biasanya pada tower lettice
tipe delta memiliki 4 jumlah kaki dengan jarak antar kaki 3 – 8 meter diluar stub.
Area diantara kaki tower ini biasanya disebut dengan halaman tower.Pada kondisi
tertentu (tanah tidak rata) perlu dilakukan penambahan atau pengurangan tinggi
kaki tower, biasanya ditandai dengan simbol +/-.
Bagian Badan Tower
Bagian badan tower merupakan kerangka utama dari tower yang tersusun
atas baja profil. Badan tower jenis delta memiliki bentuk agak lebih ramping dari
bagian pondasi. Pada badan tower biasanya terdapat plat tanda bahaya, aviation
lamp (rambu tanda penerbangan untuk pesawat yang melintas) dan ACD (Anti
Climbing Device).
Vertical Spacing Between Conductor
Vertical Spacing Between Conductor merupakan rangkaian baja profil yang
memiliki tinggi tertentu yang berfungsi menjadi pemisah antara penghantar satu
dengan lainnya secara vertikal, untuk mengurangi losses yang ditimbulkan oleh
mutual induktansi dari setiap penghantar.
Cross arm tower
Cross arm tower merupakan tempat menggantungnya penghantar fasa yang
digunakan untuk mentransmisikan tenaga listrik. Pada tower jenis ini memiliki 3
buah corss arms yang dipasangkan secara selang seling yang jarak antar fasa sangat
diperhitungkan untuk mengurangi losses yang diakibatkan oleh mutual induktansi
yang diakibatkan oleh masing-masing penghantar. Keunggulan jenis tower ini
adalah jarak antar penghantarnya yang cukup jauh karena cross arms yang dipasang
selang seling. Pada cross arm ini biasanya juga terdapat berbagai komponen
isolator, arching horn, transmission line arrester, dan lain sebagainya.
Earth wire Peak
Earth wire peak merupakan bagian paling teratas dari suatu tower. Pada
tower jenis ini menggunakan satu atau dua buah earth wire (double earth wire)
sesuai bentuk dari konfigurasi tower ini. Fungsi dari earth wire ini adalah untuk
melindungi penghantar fasa dari gangguan petir. Biasanya dipasang dalam sudut
tertentu agar dapat melindungi penghantar fasa dari sambaran petir baik dari atas
ataupun samping.

2. Tubular Steel Tower


Tubular Steel Tower adalah tiang baja berongga berbentuk sisi poligonal.
Memiliki konstruksi baja belahan berbentuk setengah atau sepertiga lingkaran
bergantung pada diameter yang kemudian melalui proses penyatuan-
penyambungan dengan pengelasan khusus. Tower jenis ini kurang efisien
untukdigunakan untuk transmisi sebab dibutuhkan keahlian dan ketelitian khusus
dalam pemasangan serta lokasi tower harus berada dekat dengan jalan karena tower
ini terdiri dari bagian-bagian yang cukup besar sehingga menyulitkan pekerjaan bila
berada jauh dari jalan. Adapun konstruksi tower ini adalah sebagai berikut :

Body tower
Body Tower adalah bagian utama dari tiang pole yang berfungsi sebagai
penopang dari palang dan insulator.Untuk pemakaian pada saluran dengan jarak
rentang yang panjang (menyeberang sungai, lembah dan sebagainya), digunakan
tiang khusus yang konstruksi dan dimensinya dibuat lebih besar serta lebih kuat
dari pada jenis tiang yang standar. Tiang baja terbuat dari high steel yang
berpenampang poligonal atau bulat.
Palang (Travers)
Palang (Travers) merupakan tempat menggantungnya penghantar fasa
yang digunakan untuk mentransmisikan tenaga listrik. Pada tower jenis ini
memiliki 6 buah travers yang jarak antar fasa sangat diperhitungkan untuk
mengurangi losses yang diakibatkan oleh mutual induktansi yang diakibatkan oleh
masing-masing penghantar. Biasanya pada konfigurasi double circuit Fasa R-S-T
tersusun secara vertikal di travers bagian kanan ataupun kiri. Pada travers ini
biasanya juga terdapat berbagai komponen isolator, arching horn, transmission
line arrester, dan lain sebagainya.
Pondasi Tower
Bagian pondasi tower biasanya konstruksi besi bertulang (stub) yang
ditanam didalam bumi, bagian stub yang muncul di permukaan tanah sekitar 0,5 –
1 meter lalu disemen serta di cat agar tidak mudah berkarat. Adapun jenis pondasi
yang gunakan berdasarkan kondisi tanah adalah normal (untuk tanah
keras),Spesial (untuk tanah lembek), Raft(untuk tanah rawa), Auger (untuk
penanaman stub dengan semen), rockdriller (untuk wilayah bebatuan).

3. Concrete pole Tower

Concrate pole tower adalah tower transmisi dengan konstruksi berupa


beton. Tower jenis ini biasanya berjenis tower H dan tower I seperti pada gambar
4. Tower ini memiliki konfigurasi penghantar single circuit dan double circuit.
Tower ini sering digunakan pada wilayah perkotaan karena tidak memakan tempat
terlalu banyak dan juga biayanya lebih murah dari tiang baja. Tower jenis ini
biasanya digunakan untuk transmisi 30 kV – 110 kV Adapun konstruksi tower ini
adalah sebagai berikut:
Palang (Travers)
Palang (Travers) merupakan tempat menggantungnya penghantar fasa yang
digunakan untuk mentransmisikan tenaga listrik. Pada tower jenis ini memiliki 6
buah travers yang jarak antar fasa sangat diperhitungkan untuk mengurangi losses
yang diakibatkan oleh mutual induktansi yang diakibatkan oleh masing-masing
penghantar. Biasanya pada konfigurasi double circuit Fasa R-S-T tersusun secara
vertikal di travers bagian kanan ataupun kiri untuk konfigurasi double circuit dan
memiliki 3 buah fasa untuk konfigurasi single circuit. Pada travers ini biasanya juga
terdapat berbagai komponen isolator, arching horn, transmission line arrester, dan
lain sebagainya.
Body tower
Body Tower adalah bagian utama dari tiang pole yang berfungsi sebagai
penopang dari palang dan insulator. Untuk pemakaian pada saluran dengan jarak
rentang yang panjang (menyeberang sungai, lembah dan sebagainya), digunakan
tiang khusus yang konstruksi dan dimensinya dibuat lebih besar serta lebih kuat
dari pada jenis tiang yang standar. Tiang beton terbuat dari beton kuat
berpenampang bulat.
Pondasi Tower
Bagian pondasi tower biasanya konstruksi besi bertulang (stub) yang
ditanam didalam bumi, bagian stub yang muncul di permukaan tanah sekitar 0,5 –
1meter lalu disemen serta di cat agar tidak mudah berkarat. Adapun jenis pondasi
yang gunakan berdasarkan kondisi tanah adalah normal (untuk tanah keras), Spesial
(untuk tanah lembek), Raft (untuk tanah rawa), Auger (untuk penanaman stub
dengan semen), rockdriller (untuk wilayah bebatuan).
4. Wooden Pole Tower

Wooden Pole Tower adalah tower transmisi dengan konstruksi berupa


Kayu. Tower jenis ini biasanya berjenis tower H dan tower I seperti pada gambar
5. Tower ini memiliki konfigurasi penghantar single circuit dan double circuit.
Tower ini jarang digunakan karena daya tahan tiang ini tidak terlalu bagus dan
sangat tergantung cuaca (pelapukan). Tower jenis ini biasanya digunakan sebagai
tower sementara selama masih ada pembangunan tower lattice. Adapun konstruksi
tower ini adalah sebagai berikut:

Palang (Travers)
Palang (Travers) merupakan tempat menggantungnya penghantar fasa yang
digunakan untuk mentransmisikan tenaga listrik. Pada tower jenis ini memiliki 6
buah travers yang jarak antar fasa sangat diperhitungkan untuk mengurangi losses
yang diakibatkan oleh mutual induktansi yang diakibatkan oleh masing-masing
penghantar. Biasanya pada konfigurasi double circuit Fasa R-S-T tersusun secara
vertikal di travers bagian kanan ataupun kiri untuk konfigurasi double circuit dan
memiliki 3 buah fasa untuk konfigurasi single circuit. Pada travers ini biasanya juga
terdapat berbagai komponen isolator, arching horn, transmission line arrester, dan
lain sebagainya.
Body tower
Body Tower adalah bagian utama dari tiang pole yang berfungsi sebagai
penopang dari palang dan insulator.Untuk pemakaian pada saluran dengan jarak
rentang yang panjang (menyeberang sungai, lembah dan sebagainya), digunakan
tiang khusus yang konstruksi dan dimensinya dibuat lebih besar serta lebih kuat
dari pada jenis tiang yang standar. Body dari tower ini menggunakan kayu dengan
penampang bulat.
Pondasi Tower
Bagian pondasi tower biasanya konstruksi besi bertulang (stub) yang ditanam
didalam bumi, bagian stub yang muncul di permukaan tanah sekitar 0,5 – 1 meter
lalu disemen serta di cat agar tidak mudah berkarat. Adapun jenis pondasi yang
gunakan berdasarkan kondisi tanah adalah normal (untuk tanah keras),Spesial
(untuk tanah lembek), Raft(untuk tanah rawa), Auger (untuk penanaman stub
dengan semen), rockdriller (untuk wilayah bebatuan).

2.4.1.2 Menurut Fungsinya:


Berdasarkan fungsinya tower transmisi dapat dibagi mejadi 7 jenis yakni:
a. Dead end tower
Dead end Tower yaitu tiang akhir yang belokasi di dekat gardu induk,
tower ini hampir sepenuhnya menanggung gaya tarik. Biasanya konstruksi tiang
yang digunakan adalah tiang lattice delta.
b. Section Tower
Section Tower yaitu tiang penyekat antara sejumlah tower penyangga
dengan sejumlah tower penyangga lainnya karena alasan kemudahan
pembangunan (penarikan kawat) umumnya mempunyai sudut belok yang kecil.
Biasanya konstruksi tiang yang digunakan adalah tiang lattice tipe delta.
c. Suspension Tower
Suspension Tower yaitu tower penyangga, tower ini hampir sepenuhnya
menanggung daya berat, umumnya tidak mempunyai sudut belokan. Biasanya
konstruksi tiang yang digunakan adalah tiang lattice tipe piramid atau zig-zag.
d. Tension Tower
Tension Tower yaitu tower penegang, tower ini menanggung gaya tarik
yang lebih besar dari pada gaya berat, umumnya mempunyai sudut belok.
Biasanya konstruksi tiang yang digunakan adalah tiang lattice tipe piramid.
e. Transposision Tower
Transposision Tower yaitu tower tension yang digunakan sebagai tempat
melakukan perubahan posisi kawat fasa guna memperbaiki impedansi transmisi.
f. Gantry Tower
Gantry Tower yaitu tower berbentuk portal digunakan pada persilangan
antara dua saluran transmisi. Tiang ini dibangun di bawah saluran transmisi
existing.
g. Combined tower
Combined Tower yaitu tower yang digunakan oleh dua buah saluran
transmisi yang berbeda tegangan operasinya.
2.4.2 Konduktor
Konduktor adalah media untuk tempat mengalirkan arus listrik dari
Pembangkit listrik ke Gardu induk atau dari GI ke GI lainnya, yang terentang lewat
tower-tower. Konduktor pada tower tension dipegang oleh tension clamp,
sedangkan pada tower suspension dipegang oleh suspension clamp. Dibelakang
clamp tersebut dipasang rencengan isolator yang terhubung ke tower.
Sedangkan Kawat Tanah atau Earth wire (kawat petir / kawat tanah) adalah
media untuk melindungi kawat fasa dari sambaran petir. Kawat ini dipasang di atas
kawat fasa dengan sudut perlindungan yang sekecil mungkin, karena dianggap petir
menyambar dari atas kawat.
a. Bahan konduktor
Bahan konduktor yang dipergunakan untuk saluran energi listrik perlu
memiliki sifat sifat sebagai berikut :
1) konduktivitas tinggi.
2) kekuatan tarik mekanikal tinggi
3) titik berat
4) biaya rendah
5) tidak mudah patah

Konduktor jenis Tembaga (BC : Bare copper) merupakan penghantar yang


baik karena memiliki konduktivitas tinggi dan kekuatan mekanikalnya cukup baik.
Namun karena harganya mahal maka konduktor jenis tembaga rawan pencurian.
Aluminium harganya lebih rendah dan lebih ringan namun konduktivitas dan
kekuatan mekanikalnya lebih rendah dibanding tembaga.
Pada umumnya SUTT maupun SUTET menggunakan ACSR (Almunium
Conductorn Steel Reinforced). Bagian dalam kawat berupa steel yang mempunyai
kuat mekanik tinggi, sedangkan bagian luarnya mempunyai konduktifitas tinggi.
Karena sifat electron lebih menyukai bagian luar kawat daripada bagian sebelah
dalam kawat maka ACSR cocok dipakai pada SUTT/SUTETI. Untuk daerah yang
udaranya mengandung kadar belerang tinggi dipakai jenis ACSR/AS, yaitu kawat
steelnya dilapisi dengan almunium.
Pada saluran transmisi yang perlu dinaikkan kapasitas penyalurannya
namun SUTT tersebut berada didaerah yang rawan longsor, maka dipasang
konduktor jenis TACSR (Thermal Almunium Conductor Steel Reinforced) yang
mempunyai kapasitas besar tetapi berat kawat tidak mengalami perubahan yang
banyak. Konduktor pada SUTT/SUTET merupakan kawat berkas (stranded) atau
serabut yang dipilin, agar mempunyai kapasitas yang lebih besar dibanding kawat
pejal.
b. Urutan fasa
Pada sistem arus putar, keluaran dari generator berupa tiga fasa, setiap fasa
mempunyai sudut pergerseran fasa 120º. Pada SUTT dikenal fasa R; S dan T yang
urutan fasanya selalu R diatas, S ditengah dan T dibawah. Namun pada SUTET
urutan fasa tidak selalu berurutan karena selain panjang, karakter SUTET banyak
dipengaruhi oleh faktor kapasitansi dari bumi maupun konfigurasi yang tidak selalu
vertikal. Guna keseimbangan impendansi penyaluran maka setiap 100 km
dilakukan transposisi letak kawat fasa.
c. Penampang dan jumlah konduktor
Penampang dan jumlah konduktor disesuaikan dengan kapasitas daya yang
akan disalurkan, sedangkan jarak antar kawat fasa maupun kawat berkas
disesuaikan dengan tegangan operasinya. Jika kawat terlalu kecil maka kawat akan
panas dan rugi transmisi akan besar. Pada tegangan yang tinggi (SUTET)
penampang kawat , jumlah kawat maupun jarak antara kawat berkas mempengaruhi
besarnya corona yang ditengarai dengan bunyi desis atau berisik.
d. Jarak antar kawat fasa
Jarak kawat antar fasa SUTT 70kV idealnya adalah 3 meter, SUTT= 6 meter
dan SUTET=12 meter. Hal ini karena menghindari terjadinya efek ayunan yang
dapat menimbulkan flash over antar fasa.
Kawat konduktor ini digunakan untuk menghantarkan listrik yang
ditransmisikan. Kawat konduktor untuk saluran transmisi tegangan tinggi ini selalu
tanpa pelindung/isolasi, hanya menggunakan isolasi udara.
Jenis Konduktor yang dipakai:
1. Tembaga dengan konduktivitas 100% (cu 100%)
2. Tembaga dengan konduktivitas 97,5% (cu 97,5%)
3. Alumunium dengan konduktivitas 61% (Al 61%)

Jenis yang sering dipakai adalah jenis alumunium dengan campuran baja.
• Jenis-jenis penghantar Aluminium
 AAC (All-Alumunium Conductor), yaitu kawat penghantar yang
seluruhnya terbuat dari alumunium.
 AAAC (All-Alumunium-Alloy Conductor), yaitu kawat penghantar yang
seluruhnya terbuat dari campuran alumunium.
 ACSR (Alumunium Conductor Steel-Reinforced) Conductor, Steel-
Reinforced), yaitu kawat penghantar alumunium berinti kawat baja.
 ACAR (Alumunium Conductor, Alloy-Reinforced), yaitu kawat penghantar
alumunium yang di perkuat dengan logam campuran.
Jenis yang sering digunakan adalah ACSR.

Gambar 2.11 Jenis-jenis Konduktor


2.4.2.1 Resistansi (R) konduktor
“Besar hambatan /tahanan/ resistansi sebuah penghantar / konduktor adalah
berbanding lurus dengan luas area”. Resistansi juga berbanding lurus dengan
resistivitas (besar tahanan tertentu) .
Resistansi (R) sebuah konduktor bisa dihitung dengan rumus berikut:

R=ρxl/A
Dimana:
R : Resistansi dalam satuan Ohm ( Ω ),
ρ : Resistivitas dalam satuan Ωm,
l : panjang dalam satuan meter
A : luas area dalam satuan m2

2.4.2.2 Perhitungan luas penampang konduktor


Perhitungan luas penampang konduktor dapat dilakukan dengan
beberapa cara, salah satunya adalah dengan rumus berikut :

P2 ρ L
A=
PL V2 cos2 φ

di mana
P = daya A = luas penampang konduktor
V = tegangan ρ = tahanan jenis kawat
I = arus L = panjang saluran
R = tahanan kawat PL = rugi-rugi
cos φ = faktor daya

2.4.2.3 Andongan
Andongan adalah jarak titik terendah dari sebuah konduktor dengan garis
lurus konduktor tersebut yang dibentangkan pada dua titik. Sedangkan kekuatan
tarik adalah kemampuan menahan suatu konduktor yang dibentangkan pada dua
titik. Kawat konduktor yang dipasang antara dua titik struktur pendukung menara
transmisi tidak akan berbentuk suatu garis lurus horizontal, melainkan akan
membentuk suatu andongan (sag).

Besar andongan tergantung dari suhu udara sekeliling saluran. Pada siang
hari, karena terik panas matahari, kawat juga akan menjadi panas dan sedikit
memanjang dan andongan akan menjadi lebih besar, sebaliknya pada malam hari
dengan kondisi udara yang lebih dingin, kawat akan menjadi lebih pendek sehingga
mengencang dan andongan akan mengecil. (Ihsan, Muhammad. Sara, Ira Devi. Lubis,
Rakhmad Syafutra. 2017 )

Faktor yang mempengaruhi andongan dan kekuatan tarik pada konduktor adalah :

 Berat konduktor per satuan panjang


 Span (jarak antara dua menara transmisi)
 Temperatur
 Tekanan udara

a. Andongan Kawat Tranmisi Pada Permukaan Rata.


Menghitung andongan :
W S2
𝑑=
8𝐻

Menghitung kekuatan tarik :

W2 S 2 1 WS 2
𝑇𝐴𝐵 = 𝐻 + = 𝐻 [1 + ( )]
8𝐻 8 𝐻

Menghitung perubahan panjang kawat akibat andongan :

8d2
𝐿 = 𝑆 (1+ )
3S2

dimana :
S : Panjang gawang/span (meter)
H : Kekuatan tarik (kg)
w : Berat kawat per satuan panjang (kg/m)
d : Andongan/sag (meter)
𝑇𝐴𝐵 : Kekuatan tarik kawat (kg)
A : Luas Penampang kawat (mm2 )
L : Perubahan panjang kawat akibat andongan (m)
b. Andongan Kawat Tranmisi Pada Permukaan Yang Tidak Rata.

maka besar andongan pada menara A dan B sebesar :


h
𝑑𝐴 = 𝑑 (4d − 1) 2
h
𝑑𝐵 = 𝑑 ( + 1) 2
4d

dimana :
d : Andongan pada menara sama tinggi (m)
h : Tinggi menara (m)
Sedangkan untuk kekuatan tarik kawat diperoleh dari persamaan berikut ini :

𝑇𝐴 = 𝐻 + (𝑤 × 𝑑𝐴 )

𝑇𝐵 = 𝐻 + (𝑤 × 𝑑𝐵 )

dimana :
H : Kekuatan tarik kawat (kg)
w : Berat kawat (kg/m)
c. Pengaruh Arus Saluran

Perhitungan kemampuan hantar arus pada saluran transmisi harusmemenuhi


persamaan keseimbangan panas, yaitu panas yang dibangkitkan oleh konduktor
(panas rugi-rugi listrik + panas penyerapan matahari) sama dengan panas yang
dilepaskan konduktor secara konveksi dan radiasi.

𝑊𝑒 + 𝑊𝑠 = 𝑊𝑐 + 𝑊𝑟

𝑊𝑒 = 𝐼 2𝑅

𝑊𝑠 = 𝛼. 𝐸. 𝑑
dimana :
We : Rugi listrik (W/m)
I : Arus (A)
R : Tahanan (Ohm/m)
Ws : Panas yang diserap dari matahari (W/m)
α : Koefisien serap matahari (1 untuk konduktor lama, 0,6 untuk konduktor baru)
E : Intensitas radiasi matahari (1000-1500 W/m2 )
d : Diameter konduktor (m)

Panas dari penghantar menyebar secara radiasi dan konveksi. Secara radiasi
sesuai dengan hukum Stefan Boltzman yang menyatakan bahwa jumlah panas
tersebar oleh radiasi berbanding pangkat empat dari suhu mutlak penghantar.
𝑊𝑟 = 17,9 . 10−8 𝑒(𝑇𝑐 4 − 𝑇𝑎 4 ) 𝑑

Sedangkan secara konveksi :

𝑊𝑐 = 18 △ 𝑡 √p Vm d

Dari persamaan diatas

𝐼 2𝑅 + 𝛼. 𝐸. 𝑑 = 18 △ 𝑡 √p Vm d+ 17,9 . 10−8 𝑒(𝑇𝑐 4 − 𝑇𝑎 4 ) 𝑑

Persamaan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui nilai kenaikan


temperatur sehingga dapat menghitung andongan dan kekuatan tarik akibat
pembebanan arus saluran.
2.4.2.4 Radius rata-rata Geometri (GMR)

Geometric Mean Radius (GMR) atau jejari rata-rata geometris dari suatu
luas (area) adalah limit dari jarak rata-rata geometris (GMD) antara
pasanganpasangan elemen dalam luas iti sendiri jika jumlah elemen itu diperbesar
sampai tak berhingga. (Syahputra, Ramadoni. 2017)

Khusus untuk kawat bundar, GMR untuk satu kawat ialah jejari dari suatu
silinder berdinding yang sangat tipis mendekati nol sehingga induktansi dari
silinder itu sama dengan induktansi kawat asli.

Penggunaan GMR ini membutuhkan distribusi arus yang uniform dan tidak
ada bahan-bahan magnit, untuk bahan jenis ACSR dengan inti yang terdiri dari
kawat baja (bahan magnit). Dalam hal ini nilai tahanan/impedansi baja jauh lebih
besar dari bahan penghantar jenis tembaga atau allumunium (Al,Cu) dimisalkan
semua arus mengalir melewati penghantar, dan arus yang kecil yangmelewati baja
dapat diabaikan, dengan demikian GMR dapat digunakan pada ACSR.
 Induktansi Saluran
Induktansi adalah sifat rangkaian yang menghubungkan tegangan
yang diimbaskan oleh perubahan fluks dengan kecepatan perubahan arus [2].
Persamaan awal yang dapat menjelaskan induktansi adalah menghubungkan
tegangan imbas dengan kecepatan perubahan fluks yang meliputi suatu
rangkaian. Tegangan imbas adalah
𝑑𝜏
𝑒=
𝑑𝑡

Dimana: e = Tegangan imbas volt (V)

𝜏 = Banyaknya fluks gandeng rangkaian (weber-turns)

Banyaknya weber-turns adalah hasil perkalian masing-masing weber


dari fluks dan jumlah lilitan dari rangkaian yang digandengkannya. Jika arus
pada rangkaian berubah-ubah, medan magnet yang ditimbulkannya akan turut
berubah-ubah. Jika dimisalkan bahwa media di mana medan magnet ditimbulkan
mempunyai permeabilitas yang konstan, banyaknya fluks gandeng berbanding
lurus dengan arus, dan karena itu tegangan imbasnya sebanding dengan
kecepatan perubahan arus,

𝑑𝑖
𝑒=𝐿
𝑑𝑡

Dimana : L = Konstanta kesebandingan induktansi (H)


𝑑𝑖
= Kecepatan perubahan arus (A/s).
𝑑𝑡

Induktansi Saluran :
1 1
L1= 2𝜋 × 10 -7h [𝑙𝑛 𝑟1 + 4 𝑙𝑛 𝑑 12]
1
L1= 2𝜋 × 10 -7h [𝑙𝑛 + ln 𝑒1/4𝑙𝑛 𝑑 12 ]
𝑟1

 Kapasitansi Saluran
Kapasitansi suatu saluran transmisi adalah akibat beda potensial antara
penghantar, baik antara penghantar-penghantar maupun antara penghantar-
tanah. Kapasitansi menyebabkan penghantar tersebut bermuatan seperti yang
terjadi pada pelat kapasitor bila terjadi beda potensial di antaranya. Untuk
menentukan nilai kapasitansi antara penghantar-penghantar ditentukan dengan
persamaan:
𝜋𝑘 𝐹
𝐶𝑎𝑏 = ( )
𝑑 𝑀
ln ( 𝑟 )

Jika saluran dicatu oleh suatu transformator yang mempunyai sadapan


tengah yang ditanahkan, beda potensial antara kedua penghantar tersebut dan
kapasitansi ke tanah (kapasitansi ke netral), adalah muatan pada penghantar per
satuan beda potensial antara penghantar dengan tanah. Jadi kapasitansi ke netral
untuk saluran dan kawat adalah dua kali kapasitansi antara penghantar-
penghantar
2𝜋𝑘
𝐶𝑎𝑛 = (𝐹/𝑀)
𝑑
𝑙𝑛 ( 𝑟 )

Dimana: 𝐶𝑎𝑏 = 𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑎 − 𝑏 (𝐹/𝑀)

𝐶𝑎𝑛 = 𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ (𝐹/𝑀)


K = Permeabilitas bahan Dielektrik
D = Jarak antar penghantar (M)
r = Jari-jari antara penghantar (M)

Persamaan diatas juga dapat digunakan untuk menentukakan kapasitansi


saluran tiga-fasa dengan jarak pemisah yang sama. Jika penghantar pada saluran
tiga-fasa tidak terpisah dengan jarak yang sama, kapasitansi masing-masing fasa
ke netral tidak sama. Namun untuk susunan penghantar yang biasa,
ketidaksimetrisan saluran yang tidak ditrasnposisikan adalah sangat kecil,
sehingga perhitungan kapasitansi dapat dilakukakan seakan-akan semua saluran
itu ditransposisikan. Untuk saluran tiga fasa yang ditransposisikan, nilai
kapasitansi fasa ke netral ditentukan dengan persamaan:
2𝜋𝑘
𝐶𝑛 = (𝐹/𝑀) 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑡𝑢𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙
𝐷𝑒𝑞
𝑙𝑛 ( 𝑟 )

2𝜋𝑘
𝐶𝑛 = (𝐹/𝑀) 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑎𝑠
𝐷𝑒𝑞
𝑙𝑛 ( 𝑏 )
𝐷𝑠 𝐶

Dengan Deq adalah GMR penghantar, r adalah jari-jari penghantar dan


Dsb c adalah GMR penghantar berkas. Nilai Dsb c akan berubah sesuai dengan
jumlah lilitan dalam suatu berkas:
Untuk suatu berkas dua-lilitan;
4
𝐷𝑠𝑏 𝑐 = √(𝑟 × 𝑑)2 = √𝑟 × 𝑑

Untuk suatu berkas tiga-lilitan


9 3
𝐷𝑠𝑏 𝑐 = √(𝑟 × 𝑑 × 𝑑)3 = √𝑟𝑑 2

Untuk suatu berkas empat-lilitan

16 1
𝐷𝑠𝑏 𝑐 = √(𝑟 × 𝑑 × 𝑑 × 𝑑 × 22 )4 = 1.09 √𝑟𝑑 3
4

Untuk menghitung kapasitansi saluran kabel ke tanah perlu


menggunakan metode muatan bayangan, lihat Gambar 2.23. Pada metode ini
bumi dapat diumpamakan dengan suatu penghantar khayal yang bermuatan di
bawah permukaan bumi pada jarak yang sama dengan penghantar asli di atas
bumi. Penghantar semacam itu mempunyai muatan yang sama tetapi berlawanan
tanda dengan penghantar aslinya dan disebut penghantar bayangan. Jika
ditempatkan satu penghantar bayangan untuk setiap penghantar atas-tiang, fluks
antara penghantar asli dengan bayangannya adalah tegak lurus pada bidang yang
menggantikan bumi, dan bidang itu adalah suatu permukaan ekipotensial. Fluks
di atas bidang itu adalah sama seperti bila bumi ada tanpa adanya penghantar
bayangan. Persamaan untuk menentukan kapasitansi saluran kabel ke tanah
adalah
2𝜋𝑘
𝐶𝑛 = 3
𝐷𝑒𝑞 √𝐻12 𝐻23 𝐻31
ln ( 𝑏 ) − ln( 3 )
𝐷𝑠 𝑐 √𝐻1 𝐻2 𝐻3

Dimana: 𝐶𝑛 = 𝑘𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑘𝑖 𝑘𝑒 𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ (𝐹/𝑀)

H12 = Jarak antara penghantar 1 dengan penghantar bayang 2 (m)


H23 = Jarak antara penghantar 2 dengan bayangan 3 (m)
H31 = Jarak antara penghantar 3 dengan bayangan 1 (m)
H1 = Jarak antara penghantar 1 dengan permukaan bumi (m)
H2 = Jarak antara penghantar 2 dengan permukaan bumi (m)
H3 = Jarak antara penghantar 3 dengan permukaan bumi (m)

2.4.2.5 Jarak rata-rata Geometri (GMD)


Jika suatu lingkaran pada jejari r terdapat n titik yang jaraknya satu sama
lain sama besar maka GMD antara titiktitik itu adalah:

GMD = r 1-n √𝑛
Jarak-jarak bersama antara pasangan-pasangan titik itu adalah sama dengan
nx (n-1) jarak-jarak, dan hasil perkaliandari semua jark-jarak itu adalah
samadengan pangkat n(n - 1) dari GMD-nya.
 Kapasitansi dan reaktansi kapasistif pada rangkaian fase tunggal

Jika ada dua kawat paralel dipisahkan oleh media isolasi akan terbentuk
kapasitor, jadi mempunyai sifat untuk menyimpan muatan listrik. Jika suatu
perbedaan tegangan dipertahankan antara kedua kawat maka muatan-muatan listrik
pada kawat-kawat tersebut mempunyai tanda-tanda yang berlawanan.

Jika kita memandang dua kawat penghantar, yaitu kawat 1 dan kawat 2,
masing-masing memiliki potensial e1 dan e2.

Perbedaan potensial antara kawat 1 dan kawat 2 diberikan oleh persamaan


berikut.

𝑞1 1 1
𝑒12 = 𝑒1− 𝑒2 = [ln + ln + 2 𝐷12
2𝜋𝜀𝑣 ℎ 𝑟1 𝑟2
dengan, 𝜀𝑣 = konstanta dielektrik ruang hampa = 8,854 x 10-12 farad
per meter.

2.4.3 Isolator
Isolator pada sistem transmisi tenaga listrik disni berfungsi untuk penahan
bagian konduktor terhadap ground. Isolator disini bisanya terbuat dari bahan
porseline, tetapi bahan gelas dan bahan isolasi sintetik juga sering digunakan disini.
Bahan isolator harus memiiki resistansi yang tinggi untuk melindungi kebocoran
arus dan memiliki ketebalan yang secukupnya (sesuai standar) untuk mencegah
breakdown pada tekanan listrik tegangan tinggi sebagai pertahanan fungsi isolasi
tersebut. Kondisi nya harus kuat terhadap goncangan apapun dan beban konduktor.
Jenis isolator yang sering digunakan pada saluran transmisi adalah jenis porselin
atau gelas.
2.4.3.1 jenis-jenis Isolator
Menurut penggunaan dan konstruksinya, isolator diklasifikasikan menjadi:
A. Isolator jenis pasak

Gambar 2.12 Isolator jenis pasak


Isolator pasak adalah isolator yang memiliki pasak baja yang disekrup pada
bagian bawahnya, digunakan untuk keperluan sendiri – sendiri, karena kekuatan
mekanisnya rendah maka isolator ini dibuat dengan ukuran yang tidak besar

B. Isolator jenis pos-saluran

Gambar 2.12 Isolator jenis pos saluran


Isolator pos saluran terbuat dari porselin dengan pasak baja yang dipasang
pada bagian bawah isolator. Isolator ini terletak pada bagian ujung saluran.

C. Isolator jenis gantung

Gambar 2.12 Isolator Jenis Gantung


Isolator gantung (suspension), geandengan isolator gantung pada umumnya
dipakai pada saluran transmisi tegangan tinggi. Ada dua jenis isolator gantung yaitu
yaitu jenis clevis dan jenis ball-and-socket
Isolator jenis pasak dan isolator jenis pos-saluran digunakan pada saluran
transmisi dengan tagangan kerja relatif rendah (kurang dari 22-33kV), sedangkan
isolator jenis gantung dapat digandeng menjadi rentengan rangkaian isolator yang
jumlahnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

2.4.3.2 Karakteristik Isolator Jaringan


Karakteristik pada isolator dapat dibagi menjadi:
1. Karakteristik Isolator
a. Mempunyai kekuatan mekanis yang tinggi agar dapat menahan beban
kawat penghantar
b. Memiliki konstanta dielektrikum (relative permittivity) yang tinggi,
agar memberikan kekuatan dielektrik (dielectric strength) tinggi juga.
c. Mempunyai tahanan isolasi (insulation resistance) yang tinggi agar
dapat menghindari kebocoran arus ke tanah
d. Mempunyai perbandingan (ratio) yang tinggi antara kekuatan pecah
dengan tegangan loncatan api (flash over voltage)
e. Menggunakan bahan yang tidak berpori-pori dan tidak terpengaruh oleh
perubahan temperatur
f. Bebas dari kotoran dari luar dan tidak retak maupun tergores, agar dapat
dilewati oleh air atau gas di atmosfir
g. Mempunyai kekuatan dielektrik (dielectric strenght) dan kekuatan
mekanis (mechanis strenght) yang tinggi
h. Bahan yang mampu mengisolir atau menahan tegangan yang
mengenainya
i. Tidak terlalu berat

2. Karakteristik Elektris
Isolator memiliki dua elektroda yang terbuat dari bahan logam berupa besi
atau baja campuran sebagai tutup (cap) dan pasak (pin) yang dipisahkan oleh bahan
isolasi. Dimana tiap bahan isolasi mempunyai kemampuan untuk menahan
tegangan yang mengenainya tanpa menjadi rusak, yang disebut dengan kekuatan
dielektrikum.
Apabila tegangan diterapkan pada isolator yang ideal di kedua elektroda
tersebut, maka dalam waktu singkat arusnya yang mengalir terhenti dan didalam
bahan isolasi terjadi suatu muatan (Q). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan
tegangan (V) diantara kedua elektroda. Besarnya muatan itu adalah:

Q = C.V
Dimana nilai kapasitas C tergantung pada nilai konstanta dielektrik dari
suatu bahan uang terdapat diantara kedua elektroda tersebut. Makin tinggi nilai
konstanta dielektrikum suatu bahan isolasi makin besar kapasitansi isolasi tersebut.
Untuk bahan isolasi porselin dan gelas nilai konstante dielektriknya lebih
tinggi dibandingkan dengan bahan-bahan isolasi yang lain. Bandingkan konstante
dielektrik bahan-bahan di bawah ini.

Tabel 2.1 Nilai Konstanta Dilektrikum Beberapa Bahan


Jenis Ε Jenis Ε
Bahan Bahan
Ebonit 2,8 Parafin 2,1 – 2,5
Fiber 2,5 – 5 Kertas 2,0 – 2,6
Gelas 5,4 – 9 Porselin 5,7 – 6,8
Mika 2,5 – 6,6 Air 2,0 – 3,5
Minyak 2,2 – 6,6 Kayu 2,5 – 7,7

Selain nilai konstanta dielektrik yang mempengaruhi nilai kapasitansi, luas


dan tebalnya suatu bahan mempengaruhi juga nilai kapitansi tersebut. Makin besar
volume suatu bahan makin bertambah tinggi muatannya, dan makin besar nilai
kapasitansinya yang ditentukan dengan persamaan.

C=ε
A
4πd

Dimana :
C = kapasitansi suatu bahan (Farad)
ε = konstanta dilektrikum
A = luas permukaan bahan (m2 )
d = diameter atau tebal bahan (m)

Nilai kapasitansi ini akan diperbesar lagi karena kelembaban udara, debu,
panas udara, kerusakan mekanis, proses kimia serta tegangan lebih yang
mempengaruhi permukaan dari bahan isolasi tersebut.
Oleh karena itu pendistribusian tegangan pada bahan isolasi tidak seragam,
dan lebih besar pada bagian yang terkena tegangan. Hal ini disebabkan terjadinya
arus kebocoran (leakage current) yang melalui permukaan bahan tersebut. Arus
kebocoran ini kecil kalau dibandingkan dangan arus yang mengalir pada bahan
isolasi tersebut,yang besarnya adalah :

V
Il = R
i
Dimana :
Il = arus kebocoran dalam Ampere
V = tegangan yang melaluinya dalam Volt
Ri = tahanan isolasi dalam Ω

3. Karakteristik Mekanis
Selain harus memenuhi persyaratan listrik, isolator harus memiliki kekuatan
mekanis guna memikul beban mekanis penghantar yang diisolasikannya. Porselin
sebagai bagian utama isolator, mempunyai sifat sebagai besi cor, dengan tekanan-
tekanan yang besar dan kuat-tarik yang lebih kecil. Kuat tariknya biasanya 400-900
kg/cm2, sedangkan kuat tekanannya 10 kali lebih besar.
Porselin harus bebas dari lubang-lubang (blowholes) goresan-goresan,
keretakan-keretakan, serta mempunyai ketahanan terhadap perubahan suhu yang
mendadak tumbukan-tumbukan dari luar.
Gaya tarik isolator yang telah dipasang relatif besar, sehingga kekuatan
porselin dan bagian-bagian yang disemenkan padanya harus dibuat besar dari
kekuatan bagian-bagian logamnya.
Kekuatan mekanis dari isolator gantung dan isolator batang panjang harus
diuji untuk mengetahui kemampuan mekanis dan keseragamannya. Kekuatan jenis
ini dan line post ditentukan oleh kekuatan pasaknya (pin) terhadap moment tekukan
(bending momen) oleh penghantar. Pengkajian kekuatannya karena itu dilakukan
dengan memberikan beban kawat secara lateral terhadap pasak.
Dalam perencanaan saluran transmisi udara, tegangan lebih pada isolator
merupakan faktor penting. Ditempat-tempat dimana pengotoran udara tidak
mengkhawatirkan, surja-hubung (switchingsurge) merupakan faktor penting dalam
penentuan jumlah isolator dan jarak isolator. Karakteristik lompatan api dari surja-
hubung lain dari karakteristik frekuensi rendah dan impuls.

2.4.3.3 Kegagalan pada Isolator


Beberapa hal yang menyebabkan kegagalan pada suatu isolator adalah :
a. Keretakan Isolator
Penyebab utama pecahnya atau retaknya suatu isolator adalah tekanan yang
dihasilkan didalam bahan porselen yang diakibatkan oleh ketidakseragaman
pemuaian dan penyusutan yang terdapat dalam bahan semen, baja, dan porselen
yang disebabkan oleh musim panas, dingin, kekeringan dan kelembaban atau akibat
adanya pemanasan pada isolator tersebut. Untuk menghindari keretakan pada
isolator tersebut, maka telah dilakukan beberapa perbaikan dalam desain
pembuatannya, yakni dengan cara menempatkan sejenis pelindung yang kecil
diantara lapisan terluar dari porselen dengan pasak baja sehingga pemuaiannya
dapat terlaksana secara merata.
b. Ketidakmurnian Bahan Isolator
Jika bahan yang digunakan untuk pembuatan isolator tersebut amat buruk,
hal ini akan menimbulkan kebocoran pada isolator sehingga isolator tidak baik
untuk pemakaian yang kontiniu.
c. Sifat Penyerapan Bahan Yang Digunakan Dalam Pembuatan Isolator
Jika bahan porselen yang digunakan dalam pembuatan isolator dipabrikasi
pada suhu rendah, maka hal ini akan mengakibatkan kekeroposan pada isolator
tersebut dan dengan alasan ini maka isolator akan menyerap embun dari lapisan
udara atau semen. Kebocoran arus akan dimulai dari isolator tersebut yang akan
menyebabkan kegagalan sebagai akibat dari pemakaian bahan yang digunakan
dalam pembuatan isolator.
d. Bahan Pelapis Isolator Yang Kurang Baik
Bila bahan isolator tidak benar-benar dilapisi pelapis yang baik
sebagaimana mestinya, maka air akan mudah merembes yang dapat menyebabkan
menempelnya debu pada permukaan isolator tersebut yang dapat bersifat sebagai
penghantar dan mereduksikan jarak lompatan bunga api listrik.
e. Lompatan Bunga Api Listrik (Flashover)
Bila terjadi lompatan bunga api listrik dari suatu kawat ke kawat yang lain
maka hal ini akan menimbulkan pemanasan yang berlebihan pada isolator dan dapat
menyebabkan pecahnya isolator tersebut.
f. Tekanan Mekanis
Pada saat penarikan kawat-kawat penghantar pada suatu pemasangan
jaringan maka isolator akan mengalami tekanan mekanis, sehingga bila bahan
digunakan kurang baik, maka hal ini dapat menyebabkan kerusakan atau pecahnya
isolator.
g. Terjadinya Hubung Singkat
Terkadang gangguan alam seperti kumpulan burung yang hinggap atau
pepohonan yang mengena pada kawat penghantar maupun isolator dapat
mengakibatkan terjadinya arus hubung singkat, kondisi ini merupakan penyebab
terjadinya kegagalan dari suatu isolator. Keadaan seperti ini hanya mungkin terjadi
bila jarak antar konduktor lebih kecil dari standar yang telah ditentukan.

2.4.3.4 Kegagalan Isolator/Tegangan tembus (puncture)


Kenaikan kapasitansi membuat isolator manjadi tidak ideal, yang
seharusnya arus mengalir berhenti dalam waktu yang singkat, akan tetapi turun
perlahan-lahan.
Akan tidak ideal lagi isolator tersebut apabila terjadi tegangan yang
diterapkan diantara kedua elektroda isolator tersebut mengalami tegangan loncatan
api (flash over voltage) atau tegangan tembus pada isolator ini.
Dalam sistim tenaga listrik tegangan loncatan api ini biasa dikatakan sebagai
tegangan lebih (over voltage) yang ditimbulkan dari dua sumber. Pertama sumber
berasal dari sistim itu sendiri yang berupa hubungan singkat (short circuit), sedang
yang kedua sumber dari luar sistim biasa disebut gangguan sambaran petir.
Tegangan Tembus merupakan Tegangan di mana isolasi antara dua
konduktor akan rusak. Tegangan ini harus setidaknya 50 % ~ 100 % lebih besar
dari tegangan kapasitor dinilai. Tegangan tembus inilah yang terutama menentukan
nilai suatu isolator sebagai penyekat dan menunjukkan kekuatan dielektrik dari
isolator yang besarnya untuk tiap-tiap isolator berbeda-beda.
Isolator terdiri dari bahan porselin yang diapit oleh elektroda-elektroda.
Dengan demikian isolator terdiri dari sejumlah kapasistansi. Kapasistansi ini
diperbesar oleh terjadinya lapisan yang menghantarkan listrik, karena kelembaban
udara, debu dan bahan-bahan lainnya pada permukaan isolator tersebut. Karena
kapasistansi ini maka distribusi tegangan pada saluran gandengan isolator tidak
seragam. Potensial pada bagain yang terkena tegangan (ujung saluran) adalah
paling besar dengan memasang tanduk busur api (arcing horn), maka distribusi
tegangan diperbaiki.
Tegangan lompatan api (flashover voltage) pada isolator terdiri atas
tegangan-tegangan lompatan api frekuensi rendah (bolak-balik), impuls dan tembus
dalam minyak (bolak-balik frekuensi rendah).
Tegangan lompatan api frekuensi rendah kering adalah tegangan lompatan
apai yang terjadi bila tegangan diterapkan diantara kedua elektroda isolator yang
bersih dan kering permukaanya, nilai konstanta serta nilai dasar karakteristik
isolator. Tegangan lompatan api basah adalah tegangan lompatan api yang terjadi
bila tegangan diterapkan diantara tegangan kedua elektroda isolator yang basah
karena hujan, atau dibasahi untuk menirukan hujan.
Tegangan lompatan api impuls adalah tegangan lompatan api yang terjadi
bila tegangan impuls dengan gelombang standar diterapkan. Karakteristik impuls
terbagi atas polaritas positif dan negatif. Biasanya tegangan dengan polaritas positif
(yang memberikan nilai loncatan api yang rendah) yang dipakai. Untuk polaritas
positif tegangan loncatan api basah dan kering sama.
Tegangan tembus (puncture) frekuensi rendah menunjukan kekuatan
dielektrik dari isolator, dan terjadi bila tegangan frekuensi rendah diterapkan antara
kedua elektroda isolator yang dicelupkan pada minyak sampai isolator tembus.
Untuk isolator dalam keadaan baik tegangan tembus ini lebih tinggi dari tegangan
loncatan api frekuensi rendah, dan nilainya kira-kira 140 kV untuk isolator gantung
250 mm.

2.4.3.4 Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tahanan Isolasi.


Faktor-faktor yang mempengaruhi pengukuran tahanan isolasi antara lain
adalah (a) Arus Absorbsi, (b) Suhu, (c) tegangan yang diterapkan. Berhubung
dengan adanya arus absorbsi, maka dalam pengukuran tahanan perlu diperhatikan
lamanya tegangan diterapkan dan bahwa sebelumnya pengukuran dimulai, bahan
yang hendak diuji sudah dibebaskan dari muatan yang melekat padanya (waktu
pelepasan biasanya 5-10menit). Selanjutnya untuk menilai kondisi suatu bahan
isolasi dipakai suatu indeks polarisasi:
𝑅1 0 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 𝐼1 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
𝛼𝑝 = =
𝑅1 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 𝐼1 0 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡

dimana R menyatakan tahanan isolasi, dan I menyatakan jumlah arus yang


mengalir, semuanya diukur sesudah 1 atau 10 menit. Bila 𝛼𝑝 = 1, maka dalam
bahan isolasi terdapat kebocoran, ini berarti bahwa bahan isolasi tersebut tidak
baik.
2.5 Sistem Proteksi Saluran Transmisi
2.5.1 Relay arus lebih
Relay arus lebih adalah relay yang bekerja terhadap arus lebih, ia akan
bekerja bila arus yang mengalir melebihi nilai settingnya (I set).
2.5.1.1 Prinsip Kerja
Pada dasarnya relay arus lebih adalah suatu alat yang mendeteksi besaran
arus yang melalui suatu jaringan dengan bantuan trafo arus. Harga atau besaran
yang boleh melewatinya disebut dengan setting.
Macam-macam karakteristik relay arus lebih:
a. Relay waktu seketika (Instantaneous relay)
b. Relay arus lebih waktu tertentu (Definite time relay)
c. Relay arus lebih waktu terbalik (Inverse Relay)

1. Relay Waktu Seketika (Instantaneous relay)


Relay yang bekerja seketika (tanpa waktu tunda) ketika arus yang mengalir
melebihi nilai settingnya, relay akan bekerja dalam waktu beberapa mili detik (10
– 20 ms).

Gambar 2. Karakteristik Relay Waktu Seketika (Instantaneous Relay).

2. Relay arus lebih waktu tertentu (definite time relay)


Relay ini akan memberikan perintah pada PMT pada saat terjadi gangguan
hubung singkat dan besarnya arus gangguan melampaui settingnya (Is), dan jangka
waktu kerja relay mulai pick up sampai kerja relay diperpanjang dengan waktu
tertentu tidak tergantung besarnya arus yang mengerjakan relay,
Gambar 2. Karakteristik Relay Arus Lebih Waktu Tertentu (Definite Time Relay).

3. Relay arus lebih waktu terbalik


Relay ini akan bekerja dengan waktu tunda yang tergantung dari besarnya
arus secara terbalik (inverse time), makin besar arus makin kecil waktu tundanya.
Karakteristik ini bermacam-macam dan setiap pabrik dapat membuat karakteristik
yang berbeda-beda, karakteristik waktunya dibedakan dalam tiga kelompok:
• Standar invers
• Very inverse
• Extreemely inverse

Gambar 2. Karakteistik Relay Arus Lebih Waktu Terbalik (Inverse Relay).

2.5.1.2 Pengaman Pada Relay Arus Lebih


Pada relay arus lebih memiliki 2 jenis pengamanan yang berbeda antara
lain:
• Pengamanan hubung singkat fasa. Relay mendeteksi arus fasa. Oleh karena itu,
disebut pula “Relay fasa”. Karena pada relay tersebut dialiri oleh arus fasa,
maka settingnya (Is) harus lebih besar dari arus beban maksimum. Ditetapkan
Is = 1,2 x In (In = arus nominal peralatan terlemah).
• Pengamanan hubung tanah. Arus gangguan satu fasa tanah ada kemungkinan
lebih kecil dari arus beban, ini disebabkan karena salah satu atau dari kedua hal
berikut:
Gangguan tanah ini melalui tahanan gangguan yang masih cukup tinggi.
Pentanahan netral sistemnya melalui impedansi/tahanan yang tinggi, atau
bahkan tidak ditanahkan Dalam hal demikian, relay pengaman hubung singkat
(relay fasa) tidak dapat mendeteksi gangguan tanah tersebut. Supaya relay
sensitive terhadap gangguan tersebut dan tidak salah kerja oleh arus beban,
maka relay dipasang tidak pada kawat fasa melainkan kawat netral pada
sekunder trafo arusnya. Dengan demikian relay ini dialiri oleh arus netralnya,
berdasarkan komponen simetrisnya arus netral adalah jumlah dari arus ketiga
fasanya. Arus urutan nol dirangkaian primernya baru dapat mengalir jika
terdapat jalan kembali melalui tanah (melalui kawat netral)

Gambar 2. Sambungan Relay GFR dan 2 OCR.

2.5.2 Relay Gangguan Tanah atau Ground Fault Relay(GFR)


Relay hubung tanah ground fault relay (Ground Fault Relay) ini berfungsi
untuk memproteksi SUTM/SKTM dari gangguan tanah. Menurut Djiteng Marsudi
dalam Operasi Sistem Tenaga Listrik bahwa GFR (ground fault relay) maupun
OCR (Over Current Relay) seringkali di gunakan sebagai pengaman utama atau
main protection pada jaringan distribusi tegangan menengah
2.5.2.1 Prinsip Kerja GFR

Gambar 2. Relay hubung tanah ground fault relay

Gangguan satu fasa ke tanah sangat tergantung dari jenis pentanahan dan
sistemnya. Gangguan satu fasa ke tanah umumnya bukan merupakan hubung
singkat melalui tahanan gangguan, sehingga arus gangguannya menjadi semakin
kecil dan tidak bisa terdeteksi oleh Over Current Relay (OCR). Dengan demikian
diperlukan relai pengaman gangguan tanah. Prinsip kerja Ground Fault
Relay (GFR) yaitu pada kondisi normal dengan beban.
seimbang arus –arus fasa Ir, Is, dan It (Ib) sama besar sehingga kawat netral
tidak timbul arus dan relai gangguan tanah tidak dialiri arus. Namun bila terjadi
ketidakseimbangan arus atau terjadi gangguan hubung singkat fasa ke tanah maka
akan timbul arus urutan nol pada kawat netral. Arus urutan nol ini akan
mengakibatkan Ground Fault Relay (GFR) bekerja. (Edil Herwan : 2009).

Untuk menentukan penyetelan (setting) Ground Fault Relay (GFR)


terlebih dahulu diketahui besar arus hubung singkat yangmungkin terjadi, dan
harus diketahui terlebih dahulu impedansi sumber, reaktansi trafo tenaga, dan
impedansi penyulang. Dan setelah ketigakomponen yang telah disebutkan, baru
dapat ditentukan total impedansijaringan. Total impedansi jaringan inilah yang
akan langsung digunakan dalam perhitungan arus hubung singkat.

Gambar 2. Prinsip Kerja GFR

2.5.3 Relai Differensial


2.5.3.1 Pengertian Relai Differensial
Relay differensial merupakan suatu relay yang prinsip kerjanya berdasarkan
kesimbangan (balance), yang membandingkan arus-arus sekunder transformator
arus (CT) terpasang pada terminal-terminal peralatan atau instalasi listrik yang
diamankan. Penggunaan relay differensial sebagai relay pengaman, antara lain pada
generator, transformator daya, bus bar, dan saluran transmisi. Relay differensial
digunakan sebagai pengaman utama (main protection) pada transformator daya
yang berguna untuk mengamankan belitan transformator bila terjadi suatu
gangguan. Relay ini sangat selektif dan sistem kerjanya sangat cepat.

2.5.3.2 Prinsip Kerja Relai Differensial


Sebagaimana disebutkan diatas, Relay differensial adalah suatu alat proteksi
yang sangat cepat bekerjanya dan sangat selektif berdasarkan keseimbangan
(balance) yaitu perbandingan arus yang mengalir pada kedua sisi trafo daya melalui
suatu perantara yaitu trafo arus (CT). Dalam kondisi normal, arus mengalir melalui
peralatan listrik yang diamankan (generator, transformator dan lain-lainnya). Arus-
arus sekunder transformator arus, yaitu I1 dan I2 bersikulasi melalui jalur IA. Jika
relay pengaman dipasang antara terminal 1 dan 2, maka dalam kondisi normal tidak
akan ada arus yang mengalir melaluinya.
Gambar 2 Pengawatan Dasar Relay Differensial

Jika terjadi gangguan diluar peralatan listrik peralatan listrik yang


diamankan (external fault), maka arus yang mengalir akan bertambah besar, akan
tetapi sirkulasinya akan tetap sama dengan pada kondisi normal, sehingga relay
pengaman tidak akan bekerja untuk gangguan luar tersebut. Jika gangguan terjadi
didalam (internal fault), maka arah sirkulasi arus disalah satu sisi akan terbalik,
menyebabkan keseimbangan pada kondisi normal terganggu, akibatnya arus ID
akan mengalir melalui relay pengaman dari terminal 1 menuju ke terminal 2.
Selama arus-arus sekunder transformator arus sama besar, maka tidak akan ada arus
yang mengalir melalui kumparan kerja (operating coil) relay pengaman, tetapi
setiap gangguan (antar fasa atau ke tanah) yang mengakibatkan sistem
keseimbangan terganggu, akan menyebabkan arus mengalir melalui Operating
Coil relay pengaman, maka relai pengaman akan bekerja dan memberikan perintah
putus (tripping) kepada circuit breaker (CB) sehingga peralatan atau instalasi
listrik yang terganggu dapat diisolir dari sistem tenaga listrik.

Gambar 2 Sistem Pengaman Relay Differensial

2.5.3.3 Tinjauan Beberapa Masalah Terhadap Relay Differensial


1. Karakteristik CT
Relay differensial dalam operasinya bahwa dalam keadaan normal atau
terjadi gangguan diluar daerah pengamanannya arus pada relay sama dengan nol.
Karena itu kemungkinan salah kerja dari relay differnsial dapat terjadi, arus yang
dapatmenyebabkan relay salah kerja tersebut dinamakan arus ketidakseimbangan.
Bila suatu arus yang besar mengalir melalui suatu trafo arus maka arus pada
terminal sekunder tidak lagi linear terhadap arus primer. Hal ini disebabkan
kejenuhan pada intinya. Pada relay differensial trafo arusnya harus identik, namun
kejenuhan intinya tidak dapat sama betul. Hal ini disebabkan perbedaan beban dari
masingmasing trafo arus tersebut.

2. Karakteristik Trafo Arus pada relay differensial

Gambar 2 Karakteristik Trafo Arus (CT) Pada Relay Differensial

3. Perubahan Sadapan Berbeban


Pada saat ini umumnya transformator sudah dilengkapi dengan pengubah
sadapan berbeban dimana tap input dapat dirubah untuk mendapatkan output yang
dikehendaki. Penyetelan dari trafo-trafo arus pada transformator daya telah diset
pada tegangan nominal dari transformator daya tersebut. Dengan demikian bila
terjadi gangguan pada waktu operasi transformator tersebut, maka tegangan pada
sisi primernya harus dirubah agar tegangan pada sisi sekundernya tetap. Oleh
karena itu harga-harga tap trafo yang telah diset pada tegangan nominalnya tadi
tidak akan tepat lagi. Hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya arus ketidak
seimbangan yang dapat membuat relay salah kerja.

4. Adanya Arus Serbu Magnetisasi (Magnetising Inrush Current) Pada Trafo


Jika trafo daya dihubungkan kesuatu sumber tenaga (jaringan) maka pada
sisi primernya akan terjadi proses transient yaitu menaiknya arus yang dinamakan
arus serbu magnetisasi (Magnetising Inrush Current) yang besarnya dapat mencapai
8 sampai 30 kali dari arus beban penuh yang terjadi dalam waktu relative cepat.
Peristiwa ini dapat membawa pengaruh terhadap kerja suatu relay kendatipun pada
daerah pengamanan tidak terjadi kesalahan.

2.5.4 Relay Jarak


Relay Jarak merupakan proteksi utama pada penghantar transmisi baik
tegangan 150 kV maupun 500 kV. rele ini bkerja dengan cara mengukur tegangan
dan arus pada penghantar kemudian menghitung impedansinya. Impedansi hasil
perhitungan rele kemudian di bandingkan dengan settingnya. apabila hasil
perhitungan impedansi lebih kecil dari nilai setting maka rele akan memberi
perintah lepas (trip) kepada PMT. Relai jarak bekerja dengan mengukur besaran
impedansi (Z), dan transmisi dibagi menjadi beberapa daerah cakupan pengamanan
yaitu Zone-1, Zone-2, dan Zone-3, serta dilengkapi juga dengan teleproteksi (TP)
sebagai upaya agar proteksi bekerja selalu cepat dan selektif didalam daerah
pengamanannya.

2.5.4.1 Prinsip Kerja Relai Jarak


Relai jarak mengukur tegangan pada titik relai dan arus gangguan yang
terlihat dari relai, dengan membagi besaran tegangan dan arus, maka impedansi
sampai titik terjadinya gangguan dapat ditentukan. Perhitungan impedansi dapat
dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

Zf=Vf/If

Dimana:
Zf = Impedansi (ohm)
Vf = Tegangan (Volt)
If = Arus gangguan

Relai jarak akan bekerja dengan cara membandingkan impedansi gangguan yang
terukur dengan impedansi setting, dengan ketentuan:
a. Bila harga impedansi ganguan lebih kecil dari pada impedansi seting relai
maka relai akan trip.
b. Bila harga impedansi ganguan lebih besar daripada impedansi setting relai
maka relai akan tidak trip.

2.5.5 Kawat Tanah


2.5.5.1 Pengertian Kawat Tanah
Kawat Tanah (Earth wire/ ground wire/ kawat petir) adalah suatu pengaman
dari sistem tenaga listrik khususnya pada sistem transmisi yaitu dengan melindungi
kawat penghantar atau kawat fasa terhadap sambaran petir. Kawat tanah ini
dipasang di atas kawat fasa dengan sudut perlindungan yang sekecil mungkin,
karena dianggap petir menyambar dari atas kawat. Oleh karena itu, kawat tanah
juga disebut sebagai kawat pelindung (shield wires). Kawat tanah dipasang sejajar
dengan tiang dan terletak di atas kawat fasa pada sistem transmisi listrik sehingga
jika terjadi sambaran petir, yang terkena adalah kawat tanah bukan kawat fasanya
sehingga peralatan listrik pada sistem transmisi tidak mengalami kerusakan.
Sambaran petir yang mengenai kawat tanah akan ditanahkan (grounding). Namun
jika petir menyambar dari samping maka dapat mengakibatkan kawat fasa
tersambar dan dapat mengakibatkan terjadinya gangguan.
2.5.5.2 Bahan Kawat Tanah
Kawat tanah pada umumnya digunakan kawat baja (steel wires) yang telah
di Galvanis sehingga lebih murah, tetapi tidak jarang digunakan ACSR (dilapisi
dengan almunium).
2.5.5.3 Hubungan Isokreaunic Level (Ikl) dengan Kawat Tanah Transmisi Hantaran
Udara
Salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah kebutuhan kawat tanah yang
dilakukan untuk mendirikan transmisi hantaran udara adalah jumlah hari guruh
tahunan "Isokreaunic Level" (Ikl) yang terjadi pada daerah transmisi itu akan
didirikan. Pengaruh atau hubungan keduanya akan sangat jelas pada saat
menentukan perkiraan jumlah gangguan yang terjadi pada transmisi hantaran udara
tersebut. Yang mana perkiraan jumlah gangguan berbanding lurus terhadap jumlah
hari guruh tahunan yang terjadi
2.5.5.4 Pemasangan Kawat Tanah
Pada tower tension dipegang oleh tension clamp, sedangkan pada tower
suspension dipegang oleh suspension clamp. Pada tension clamp dipasang kawat
jumper yang menghubungkannya pada tower agar arus petir dapat dibuang ke tanah
lewat tower. Untuk keperluan perbaikan mutu pentanahan maka dari kawat jumper
ini ditambahkan kawat lagi menuju ke tanah yang kemudian dihubungkan dengan
kawat pentanahan. Salah satu penunjang kinerja dari kawat tanah adalah
pentanahan tiang, yang berfungsi untuk menyalurkan arus listrik dari kawat tanah
(groundwire) akibat terjadinya sambaran petir. Terdiri dari kawat tembaga atau
kawat baja yang di klem pada pipa pentanahan dan ditanam di dekat pondasi tower
(tiang) SUTT.
2.5.5.5 Efektifitas Perlindungan Kawat Tanah
Efektivifitas perlidungan kawat tanah diharapkan mampu melindungi kawat
fasa dengan baik, sehingga tidakterjadi sambaran petir langsung ke kawat fasa.
Keefektifan perlindungan kawat tanah bertambah baik jika kawat tanah semakin
dekat dengan kawat fasa. Untuk memperoleh perlindungan (perisaian) yang baik,
harus memenuhi persyaratan penting sebagai berikut:
Supaya petir tidak menyambar langsung kawat fasa maka jarak kawat tanah
di atas kawat fasa diatur sedemikian rupa.
Pada tengah gawang kawat tanah harus mempunyai jarak yang cukup di atas
kawat fasa untuk mencegah terjadinya lompatan api karena tegangan pantulan
negatif dari dasar menara yang kembali ke tengah gawang.
Saat petir menyambar menara secara langsung, tidak terjadi flashover pada isolator.
Tahanan kaki menara harus cukup kecil untuk menurunkan tegangan yang
dibebani isolator agar tidak terjadi lompatan api (flashover) pada isolator.
2.5.5.6 Jumlah dan Posisi Kawat Tanah
Jumlah kawat tanah paling tidak ada satu buah diatas kawat fasa, namun
umumnya di setiap tower dipasang dua buah. Pemasangan yang hanya satu buah
untuk dua penghantar akan membuat sudut perlindungan menjadi besar sehingga
kawat fasa mudah tersambar petir. Sudut perlindungan kawat tanah terhadap tower
yang standar adalah 35o – 45o. Jarak antara groundwire dengan kawat fasa di tower
adalah sebesar jarak antar kawat fasa, namun pada daerah tengah gawang dapat
mencapai 120% dari jarak tersebut.
2.5.5.7 Daerah Proteksi Kawat Tanah
Petir akan menyambar semua benda yang dekat dengan awan. Atau dengan
kata lain benda yang tinggi akan mempunyai peluang yang besar tersambar petir.
Transmisi tenaga listrik di darat dianggap lebih efektif menggunakan saluran udara
dengan mempertimbangkan faktor teknis dan ekonomisnya. Tentu saja saluran
udara ini akan menjadi sasaran sambaran petir langsung. Apalagi saluran udara
yang melewati perbukitan sehingga memiliki jarak yang lebih dekat dengan awan
dan mempunyai peluang yang lebih besar untuk disambar petir.
Selama terjadinya pelepasan petir, muatan positif awan akan menginduksi muatan
negatif pada saluran tenaga listrik. Muatan negatif tambahan ini akan mengalir
dalam 2 arah yang berlawanan sepanjang saluran. Surja ini mungkin akan merusak
isolasi saluran atau hanya terjadi pelepasan di antara saluran-saluran tersebut.
Desain isolasi untuk tegangan tinggi (HV) dan tegangan ekstra tinggi (EHV)
cenderung untuk melindungi saluran dari adanya tegangan lebih akibat surja
hubung dan surja petir. Untuk tegangan ultra tinggi (UHV), desain isolasi lebih
cenderung kepada proteksi terhadap surja hubung. Adanya tegangan lebih ini akan
mengakibatkan naiknya tegangan operasi yang tentunya dapat merusak peralatan-
peralatan listrik.
Salah satu cara melindungi saluran tenaga listrik tersebut adalah dengan
menggunakan kawat tanah pada saluran. Prinsip dari pemakaian kawat tanah ini
adalah bahwa kawat tanah akan menjadi sasaran sambaran petir sehingga
melindungi kawat phasa dengan daerah/zona tertentu.
Kawat tanah yang digunakan untuk melindungi saluran tenaga listrik,
diletakkan pada ujung teratas saluran dan terbentang sejajar dengan kawat phasa.
Groundwire ini dapat ditanahkan secara langsung atau secara tidak langsung
dengan menggunakan sela yang pendek.

2.5.6 Circuit Breaker (CB)


Circuit Breaker (CB) adalah salah satu peralatan pemutus daya yang
berguna untuk memutuskan dan menghubungkan rangkaian listrik dalam kondisi
terhubung ke beban secara langsung dan aman, baik pada kondisi normal maupun
saat terdapat gangguan. Berdasarkan media pemutus listrik / pemadam bunga api,
terdapat empat jenis CB sebagai berikut :
1) Air Circuit Breaker (ACB), menggunakan media berupa udara.
2) Vacuum Circuit Breaker (VCB), menggunakan media berupa vakum.
3) Gas Circuit Breaker (GCB), menggunakan media berupa gas SF6.
4) Oil Circuit Breaker (OCB), menggunakan media berupa minyak.

Berikut ini adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu peralatan untuk
menjadi pemutus daya :
1) Mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara kontinu.
2) Mampu memutuskan atau menutup jaringan dalam keadaan berbeban ataupun
dalam keadaan hubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus
daya itu sendiri.
3) Mampu memutuskan arus hubung singkat dengan kecepatan tinggi.
2.5.7 DC System Power Supply
DC System Power Supply merupakan pencatu daya cadangan yang terdiri
dari Battery Charger, sebagai peralatan yang mengubah tegangan AC ke DC,
dan Battery, sebagai penyimpan daya cadangan. Sebagai peralatan proteksi, DC
System Power Supply merupakan peralatan yang sangat vital karena jika terjadi
gangguan dan kontak telah terhubung, maka DC System Power Supply akan
bekerja yang menyebabkan CB membuka. Charger sebenarnya adalah sumber
utama dari DC power supply, karena charger adalah alat untuk merubah
AC power menjadi DC power (rectifier).

2.6 Perlengkapan Gardu Transmisi


1. Busbar atau Rel, Merupakan titik pertemuan/hubungan antara trafo-trafo
tenaga, Saluran Udara TT, Saluran Kabel TT dan peralatan listrik lainnya
untuk menerima dan menyalurkan tenaga listrik/daya listrik.
2. Ligthning Arrester, biasa disebut dengan Arrester dan berfungsi sebagai
pengaman instalasi (peralatan listrik pada instalasi Gardu Induk) dari
gangguan tegangan lebih akibat sambaran petir (ligthning Surge).
3. Transformator instrument atau Transformator ukur, Untuk proses
pengukuran. Antara lain:
a. Transformator Tegangan, adalah trafo satu fasa yang menurunkan
tegangan tinggi menjadi tegangan rendah yang dapat diukur dengan
Voltmeter yang berguna untuk indikator, relai dan alat sinkronisasi.
b. Transformator arus, digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya
ratusan amper lebih yang mengalir pada jaringan tegangan tinggi.
Disamping itu trafo arus berfungsi juga untuk pengukuran daya dan
energi, pengukuran jarak jauh dan rele proteksi
c. Transformator Bantu (Auxilliary Transformator), trafo yang digunakan
untuk membantu beroperasinya secara keseluruhan gardu induk
tersebut.
4. Sakelar Pemisah (PMS) atau Disconnecting Switch (DS), Berfungsi untuk
mengisolasikan peralatan listrik dari peralatan lain atau instalasi lain yang
bertegangan.
5. Sakelar Pemutus Tenaga (PMT) atau Circuit Breaker (CB), Berfungsi untuk
menghubungkan dan memutuskan rangkaian pada saat berbeban (pada
kondisi arus beban normal atau pada saat terjadi arus gangguan).
6. Sakelar Pentanahan, Sakelar ini untuk menghubungkan kawat konduktor
dengan tanah / bumi yang berfungsi untuk menghilangkan/mentanahkan
tegangan induksi pada konduktor pada saat akan dilakukan perawatan atau
pengisolasian suatu sistem.
7. Kompensator, alat pengubah fasa yang dipakai untuk mengatur jatuh
tegangan pada saluran transmisi atau transformator. SVC (Static Var
Compensator) berfungsi sebagai pemelihara kestabilan
8. Peralatan SCADA dan Telekomunikasi, (Supervisory Control And Data
Acquisition) berfungsi sebagai sarana komunikasi suara dan komunikasi
data serta tele proteksi dengan memanfaatkan penghantarnya.
9. Rele Proteksi, alat yang bekerja secara otomatis untuk mengamankan suatu
peralatan listrik saat terjadi gangguan, menghindari atau mengurangi
terjadinya kerusakan peralatan akibat gangguan