Anda di halaman 1dari 29

PERCOBAAN IV

COUNTER, ADDER, DAN MULTIPLEKSER ANALOG

4.1 Tujuan percobaan


1. Mengerti dan memahami sifat dan operasional counter
2. Mengerti dan memahami sifat dan operasional full adder
3. Mengerti dan memahami sifat dan operasional multiplekser analog

4.3 Alat-alat Percobaan


1. Board Percobaan 4
2. Multimeter digital

4.3 Dasar teori


4.3.1 Rangkaian Pencacah (Counter)
Rangkaian logika sekuensial yang dapat beguna untuk menghitung jumlah
pulsa yang masuk yang dinyatakan bilangan biner. Sebuah counter yang bekerja
berdasarkan urutan biner disebut counter biner (binary counter). Sebuah n-bit
counter biner tersusun dari n flip-flop dan dapat menghitung dalam biner dari 0
sampai dengan 2n –1.

4.3.2 4-BIT BINARY COUNTER


Binary counter atau counter biner adalah counter yang menghitung pulsa
yang masukdan menghasilkan output berupa bilangan biner. 4-bit binary counter
adalah counter yang terdiri dari 4 buah flip-flop dengan 4 buah terminal output
dan memiliki hitungan dari 0000 (0) sampai 1111 (15) yang berupa bilangan
biner.

Gambar 4.1 Rangkaian 4-bit Binary Counter.

Keempat flip-flop diatas dihubungkan secara cascade, hanya ada 1


(satu) flip-flop saja yang dihubungkan langsung ke sumber (input),
sehingga bekerjanya secara bertahap, oleh karena itu counter tersebut
disebut Assynchronous Counter atau Serial Counter. Tabel 10.1. dibawah
ini menunjukkan kerja 4-bit binary counter.

4.3.3 Asynchronous BCD Decade Counter


Rangkaian Asynchronous BCD Counter adalah rangkaian digital ynag
berfungsi melakukan proses penghitungan data input dan memeberikan output
data penghitungan tersebut dalam format data BCD (Binary Coded Decimal)
secara asynchronous (tidak sinkron/tidak simultan). Teknik penghitungan pada
Asynchronous BCD Counter adalah menghitung secara serial yaitu secara
bertahap dimana data output flip-flop pertama sebagai data input flip-flop kedua
dan data output flip-flop kedua sebagai data input flip-flop ketiga dan output data
flip-flop ketiga sebagai data input flip-flop ke empat dan seterusnya.
Asynchronous BCD Decade Counter adalah rangkaian penghitung data yang
dibatasi sampai 10 hitungan saja, proses counter dibatasi maksimal sampai 10 kali
penghitungan. Proses counter pada rangkaian Asynchronous BCD Decade
Counter adalah menghitung data clock secara serial dimana data clock adalah
input JK-FF pertama kemudian output JK-FF pertama sebagai clock JK-FF kedua
dan output JK-FF kedua sebagai clock JK-FF ketiga dan output JK-FF ketiga
sebagai clock JK-FF kempat kemudian pada hitungan ke sepeuluh (decade) secara
otomatis output conter direset kembali ke NOL (0000) menggunakan gerbang
NAND 3 input yang mendapat input data HIGH dari data BCD 9 (1001) sehingga
data output maksimum adalah BCD 9 (1001). Rangkaian Asynchronous BCD
Decade Counter hanya menghitung sebanyak 10 kali hitungan dengan output data
BCD 0 (0000) hingga BCD 9 (1001).

Gambar 4.2 Timing Diagram Asynchronous BCD Decade


Counter

Dari data pada tabel dan timing diagram diatam terlihat bahwa proses
penghitungan data clock dolakukan secara serial dan dibatasi sampai 10 kali
hitungan (decade) saja. Setiap 10 kali hitungan maka rangkaian Asynchronous
BCD Decade Counter diatas akan direset atau dipaksa kembali ke nilai awal lagi
BCD 0 (0000). Dimana output rangkaian Asynchronous BCD Decade Counter
dengan JK-FF diatas adalah data BCD 0 (0000) sampai BCD 9 (1001).

4.3.4 Full Adder


Full adder merupakan rangkaian elektronika yang menjumlahkan 2
bilangan yang telah dikonversikan kedalam bilangan biner dengan menjumlahkan
2 bit input ditambah dengan nilai carry-out dari penjumlahan bit sebelumnya.
outputnya adalah hasil dari penjumlahan (sum) dan bit kelebihannya (carry-out).

Gambar 4.3 Skema Full Adder


Tabel 4.1 Tabel kebenaran Skema Full Adder

Full Adder adalah sebuah rangkaian digital yang melaksanakan operasi


penjumlahan aritmetikadari 3 bit input. Full adder terdiri dari 3 buah input dan 2
buah output. Variabel input dari Fulladder dinyatakan oleh variabel A, B dan C in.
Dua dari variabel input ( A dan B ) mewakili 2 bitsignifikan yang akan
ditambahkan, input ketiga, yaitu C mewakili Carry dari posisi yang lebihrendah.
Kedua output dinyatakan dengan simbol S (Sum) dan Cn (Carry).Rangkaian Full-
Adder mampu menampung bilangan Carry dari hasil penjumlahan
sebelumnya.Jadi jumlah inputnya ada 3: A, B dan Ci, sementara bagian output ada
2: S dan Co. Ci ini dipakaiuntuk menampung bit Carry dari penjumlahan
sebelumnya.Full adder biasanya dapatmenjumlahkan banyak bilangan biner
dimana 8, 16, 32, dan jumlah bit biner lainnya. Pada Sumdigunakan gerbang
logika Ex-OR dan pada carry digunakan gerbang logika AND danmenggunakan
gerbang logika OR untuk menjumlahkan tiap-tiap carry.2.Tabel KebenaranFULL
ADDER mempunyai tiga input.Rangkaian di bawah ini menunjukan rangkaian
FULLADDER yang disertai dengan truth tablenya.C B A A (+) B S AB (A(+)B)
C

4.3.5 Demultiplexer
Demultiplxer atau dapat disingkat Demux merupakan suatu rangkaian
elektronika yang mempunyai output dua atau lebih dan hanya mempunyai satu
input (jumlah input dapat bergantung dari jumlah keluarannya), didalam
multiplexer terdapat suatu pemilih keluaran/outputnya, jadi demultiplexer
merupakan rangkaian yang dapat dipilih outputnya untuk meneruskan data dari
inputnya. Berkebalikan dari multiplexer yang dapat dipilih intputnya,
demultiplexer ini yang dipilih adalah outputnya. Untuk lebih mudahnya dapat
dilihat gambar dibawah ini :

Gambar 4.4 Demultiplexer

Dalam gambar tersebut data dimasukan dari inputnya kemudian pemilih


sel akan memilih salah satu output dari Q0 dan Q1 untuk meneruskan datanya.
Dan apabila diaplikasikan kedalam gerbang logika, Demultiplexer dapat
diimplementasikan sebagai berikut :

Gambar 4.5 Gerbang Logika Demultiplexer

Dengan menggunakan gerbang logika and dan not, secara sederhana


Demultiplexer dapat diimplementasikan sebagai rangkaian pemilih output.
Sehingga apabila pemilih berlogika 1 maka I1 akan menjadi output dari
demultiplexer, tetapi bila pemilih berlogika 0 maka Io yang akan menjadi input
dan meneruskan data ke Outputnya. Sama seperti multiplexer, rangkaian
demultiplexer dapat digunakan untuk memilih banyak keluaran(lebih dari dua
output dalam output berjumlah 2n.

Gambar 4.6 Gerbang Logika Demux 1 to 4


Gambar 4.7 Tabel Kebenaran Demux 4 to 1

Demultiplexer 4 keluaran ini akan mengeluarkan data yang sesuai ketika


pemilih menunjuk keluaran yang dituju, sebagai contoh pemilih menunjuk
keluaran F0 dengan memasukkan logika 00 pada pemilih, sehingga keluaran yang
akan mengeluarkan data hanyalah output F0, apabila Input berlogika 1 maka
keluaran F0 juga berlogika 1 dan juga sebaliknya, walaupun pada masukan/input
dimasukkan data tetapi keluaran lain tidak akan mengeluarkan data seperti output
F0 dan hanya akan berlogika 0 walaupun input berlogika 1.

4.3.6 Multiplexer
Multiplexer atau biasa disingkat dengan Mux adalah suatu rangkaian yang
mempunyai input/masukan dua atau lebih dan hanya mempunyai satu output/
keluaran (jumlah input dapat bergantung dari jumlah keluarannya), didalam
multiplexer terdapat suatu pemilih, untuk memilih masukannya, maka dapat
disimpulkan bahwa multiplexer merupakan rangkaian elektronika (dalam dunia
Elektronika) yang dapat dipilih inputnya untuk meneruskan data/sinyal kedalam
outputnya.

Gambar 4.8 Multiplexer

Multiplexer dari gambar diatas bisa diumpamakan sebuah saklar yang


akan memindah-mindah jalur untuk memilih inputnya, dan jika diaplikasikan
kedalam gerbang logika, multiplexer dapat diimplementasikan sebagai berikut :
Gambar 4.9 Multiplexer Dengan Gerbang Logika

Dengan menggunakan gerbang logika and, not, dan or, secara sederhana
multiplexer dapat diimplementasikan sebagai rangkaian pemilih input. Apabila
pemilih berlogika 1 maka I1 akan menjadi input dari multiplexer tetapi bila
pemilih berlogika 0 maka Io yang akan menjadi input dan meneruskan data ke
Outputnya. Rangkaian multiplexer dapat menggunakan lebih dari 2 input dimana
input dapat berjumlah 2n.

Gambar 4.10 Gerbang Logika Multiplexer 4 ke 1

Gambar 4.11 Tabel Kebenaran Multiplexer 4 ke 1

Dalam gambar diatas multiplexer 4 masukan ini terdapat dua pemilih input
dimana setiap logika pemilih mewakili setiap inputnya, lebih jelasnya dapat
dilihat tabel berikut :
Tabel 4.2 Selector dan Input
Selector Input
00 I0
01 I1
10 I2
11 I3
Sehingga multiplexer 4 masukan ini akan mengeluarkan data ketika pemilih
akan memilih data pada masukan yang dituju, sebagai contoh pemilih menunjuk
masukan I1 dengan memasukkan logika 10 pada pemilih, sehingga keluaran
hanya akan mengikuti data masukannya yaitu masukan I1, apabila I1 berlogika 1
maka keluaran juga berlogika 1 dan juga sebaliknya, walaupun masukan lainnya
mencoba untuk memasukkan data tetapi keluaran tidak akan terpangaruh dan
hanya akan mematuhi masukan data pada input I1.
4.4 Langkah-langkah percobaan
4.4.1 Percobaan BCD/Decade Up/Down Counter
Untuk menggunakan modul ini, lakukan langkah-langkah berikut :

Gambar 4.12 BCD/Decade Up/Down Counter 74LS190


Mode operasi parallel load:
1. PL = 0, -CE = -U/D = -CP = X
2. Ubah-ubah posisi saklar P dan kemudian tekan trigger secara perlahan 1x
dan catat output Q3 Q2 Q1 Q0. Lakukan secara berulang sampai 16 x.
Catat hasilnya pada tabel 4.3
Tabel 4.3 Percobaan mode PL
NO P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC
1 0 0 0 0
2 0 0 1 0
3 0 0 1 1
4 0 1 0 0
5 sd
13
14 1 1 1 0
15 1 1 1 1
16 0 0 0 0
Mode operasi count up:
3. PL = 1, CE = 0, -U/D = 0, Buat input 0000, kemudian tekan trigger secara
perlahan 1x dan catat output Q3 Q2 Q1 Q0.
4. Lakukan secara berulang sampai 20 x, pehatikan LED pada TC dan –RC, .
Catat hasilnya pada tabel 4.2
5. Buat input 0011 kemudian tekan trigger secara perlahan 1x dan catat
output Q3 Q2 Q1 Q0. Lakukan secara berulang sampai 20 x,
Tabel 4.4 Percobaan mode count up
NO P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC
1 0 0 0 0
2 0 0 0 0
3 0 0 0 0
4 0 0 0 0
5 sd
18
19 0 0 0 0
20 0 0 0 0
Tabel 4.5 Percobaan mode count up
NO P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC
1 0 0 1 1
2 0 0 1 1
3 0 0 1 1
4 0 0 1 1
5 sd
14
15 0 0 1 1
16 0 0 1 1
17 0 0 1 1
18 0 0 1 1
19 0 0 1 1
20 0 0 1 1

Mode operasi count down


6. PL = 1,CE = 0, -U/D = 1, kemudian tekan trigger secara perlahan 1x dan
catat output Q3 Q2 Q1 Q0.
7. Lakukan secara berulang sampai 20 x, pehatikan LED pada TC dan –RC,
Catat hasilnya pada tabel 4.
Tabel 4.6 Percobaan mode count down
NO P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC
1 1 1 1 1
2 1 1 1 1
3 1 1 1 1
4
5 sd
18
19 1 1 1 1
20 1 1 1 1

Tabel 4.7 Percobaan mode count down


NO P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC
1 1 1 0 0
2 1 1 0 0
3 1 1 0 0
4 1 1 0 0
5 sd 1 1 0 0
18
19 1 1 0 0
20 1 1 0 0

Mode operasi hold


8. Ini hanya memerlukan pin PL = 1dan CE = 1sedangkan pin lainnya don’t
care
9. Ubah-ubah posisi saklar P apa yang terjadi, Catat hasilnya pada tabel 4.6
Tabel 4.8 Percobaan mode hold
NO P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC
1 0 0 0 0
2 0 0 0 1
3 0 0 1 0
4 0 0 1 1
5 sd
14
15 1 1 1 1
16 0 0 0 0

4.4.2 Percobaan Binary Up/Down Counter


Untuk percobaan ini langkah-langkahnya sama dengan percobaan IV.1
sebelumnya. Pindahkan posisi CLK dari 74LS190 ke 74LS191. Catat hasilnya
seperti pada tabel sebelunya (TABEL 4.1 SD 4.6)

Gambar 4.13 Binary Up/Down Counter


4.4.3 Percobaan Full Adder 4 bit with carry
Modul percobaan ini adalah menjumlahkan bit A dan B dimana A1 dan B1
adalah LSB dan A4 dan B4 adalah MSB. Carry input ikut dianggap sebagai bit
tambahan. Jika hasil penjumlahan lebih besar dari 15, maka carry out = 1 dan
sebaliknya.Langkah –langkah dalam percobaan ini adalah mengatur posisi saklar
sesuai table di bawah dan catat hasilya pada table outputnya. Buat carry in 0 dulu
diikuti dengan 1

Gambar 4.14 Full adder 4 bit dengan carry in dan out


Untuk input berikut:
Tabel 4.9 Percobaan Full adder 4 bit
No A4 A3 A2 A1 B4 B3 B2 B1 CARRY IN

1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 0 0 0 0 0 0 0 0 1
3 0 0 0 0 0 0 0 1 0
4 0 0 0 0 0 0 0 1 1
5 0 0 0 0 0 0 1 0 0
6 0 0 0 0 0 0 1 0 1
7 0 0 0 0 0 0 1 1 0
8 0 0 0 0 0 0 1 1 1
9 1 0 0 0 0 1 0 0 1
10 1 0 0 0 0 1 0 0 0
11 1 0 0 0 0 1 0 1 1
12 1 0 0 0 0 1 0 1 0
13 1 0 0 0 0 1 1 0 1
14 1 1 0 0 0 1 1 0 0
15 1 1 0 0 1 0 0 0 1
16 1 1 0 0 1 0 0 0 0
17 1 1 0 0 1 0 0 1 1
18 1 1 1 0 1 0 0 1 0
19 1 1 1 0 1 0 0 0 1
20 1 1 1 0 1 0 0 0 0

Diperoleh output
No S4 S3 S2 S1 CARRY OUT
0
1
2
3

20

4.4.4 Percobaan Multiplekser analog 8 to 1

Gambar 4.15 Multiplekser analog 8 to 1

Untuk melakukan percobaan ini dibutuhkan voltmeter. Atur tegangan di


CH0 = 0.5 volt dengan mengatur potensimeternya begitu pula dengan yang lain
sesuai dengan table di bawah ini. (pasangkan kabel jumpernya menurut
channelnya masing-masing). Atur juga pin select input C,B,A sesuai tabelnya.
Kemudian ukur tegangan output dengan volt meter dengan keadaan seperti tabel
Tabel 4.10 Percobaan multipleser analog
CH7 CH6 CH5 CH4 CH3 CH2 CH1 CH0 C B A OUTPUT
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 0
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 1
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 0
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 1
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 0
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 1
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 0
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 1

4.4.5 Percobaan Demutiplekser analog 1 to 8


Lakukan hal yang sama untuk fungsi demultiplexer dengan meletakkan
kabel jumper ke pin output, atur pin select input dan ukur tegangan output pada
masing-masing channel. Catat hasil pengamatan anda.
Tabel 4.11 Percobaan demultipleser analog
CH7 CH6 CH5 CH4 CH3 CH2 CH1 CH0 C B A OUTPUT
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 0
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 1
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 0
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 1
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 0
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 1
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 0
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 1

4.4.6 Percobaan Multiplekser analog 4 to 1 ( cd4052bE)


Pakai nilai input analog seperti seperti pada percobaan 4.12 dan
hubungkan analog input dg input multiplexer serta atur posisi selesct input sesuai
dengan tabel 4.12 dan catat hasilnya.
Tabel 4.12 Percobaan multipleser analog 4 to 1
B A X0 X1 X2 X3 OUT Y0 Y1 Y2 Y3 out
0 0 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5
0 1 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5
1 0 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5
1 1 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5

4.4.7 Percobaan Demutiplekser analog 1 to 4


Lakukan hal yang sama untuk fungsi demultiplexer dengan meletakkan
kabel jumper ke pin output, atur pin select input dan ukur tegangan output pada
masing-masing channel. Catat hasil pengamatan anda.
Tabel 4.13 Percobaan multipleser analog 4 to 1
B A X0 X1 X2 X3 OUT Y0 Y1 Y2 Y3 out
0 0 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5
0 1 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5
1 0 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5
1 1 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5
4.5 Data Hasil Percobaan
4.5.1 Percobaan BCD/Decade Up/Down Counter
Tabel 4.14 Percobaan mode Paralel Load
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
2 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1
3 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2
4 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 3
5 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 4
6 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 5
7 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 6
8 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 7
9 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 8
10 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 9
11 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 10
12 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 11
13 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 12
14 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 13
15 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 14
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
Tabel 4.15 Percobaan mode count up
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 4
2 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 5
3 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 6
4 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 7
5 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
6 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1
7 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
8 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1
9 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 2
10 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 3
11 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 4
12 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 5
13 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 6
14 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 7
15 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 8
16 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 9
17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
18 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1
19 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 2
20 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 3
Tabel 4.16 Percobaan mode count down
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 2
2 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0
3 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 9
4 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 6
5 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 3
6 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 2
7 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1
8 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0
9 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 9
10 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 8
11 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7
12 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 6
13 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 5
14 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 4
15 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 3
16 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 2
17 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1
18 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0
19 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 9
20 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 8

Tabel 4.17 Percobaan mode hold


No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 15
2 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 15
3 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 15
4 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 15
5 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 15
6 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 15
7 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 15
8 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
9 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 15
10 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 15
11 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 15
12 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 15
13 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 15
14 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 15
15 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 15
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
4.5.2 Percobaan binary Up/Down Counter
Tabel 4.18 Percobaan mode PL
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
2 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1
3 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2
4 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 3
5 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 4
6 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 5
7 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 6
8 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 7
9 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 8
10 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 9
11 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 10
12 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 11
13 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 12
14 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 13
15 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 14
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15

Tabel 4.19 Percobaan Count Down Binary


No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
2 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 14
3 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 13
4 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 12
5 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 11
6 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 10
7 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 9
8 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 8
9 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7
10 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 6
11 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 5
12 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 4
13 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 3
14 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 2
15 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1
16 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0
17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
18 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 14
19 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 13
20 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 12
Tabel 4.20 Hold Binary
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 15
2 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 15
3 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 15
4 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 15
5 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 15
6 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 15
7 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 15
8 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
9 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 15
10 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 15
11 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 15
12 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 15
13 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 15
14 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 15
15 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 15
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15

4.5.3 Percobaan Full Adder 4 Bit With Carry


Tabel 4.21 Input Percobaan Full Adder 4 Bit
No A4 A3 A2 A1 B4 B3 B2 B1 CARRY IN

1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 0 0 0 0 0 0 0 1 0
3 0 0 0 0 0 0 1 0 0
4 0 0 0 0 0 0 1 1 0
5 1 0 0 0 0 1 0 0 0
6 1 0 0 0 0 1 0 1 0
7 1 1 0 0 0 1 1 0 0
8 1 1 0 0 1 0 0 0 0
9 1 1 1 0 1 0 0 1 0
10 1 1 1 0 1 0 0 0 0
11 0 0 0 0 0 0 0 0 1
12 0 0 0 0 0 0 0 1 1
13 0 0 0 0 0 1 1 0 1
14 0 0 0 0 0 1 1 1 1
15 1 0 0 0 0 0 0 0 1
16 1 0 0 0 0 0 0 1 1
17 1 0 0 0 0 1 1 0 1
18 1 0 0 0 1 0 0 0 1
19 1 1 0 0 1 0 0 1 1
20 1 1 1 0 1 0 0 0 1
Tabel 4.22 Output Percobaan Full Adder 4 Bit
No S4 S3 S2 S1 CARRY DESIMAL
OUT
1 0 0 0 0 0 0
2 0 0 0 1 0 1
3 0 0 1 0 0 2
4 0 0 1 1 0 3
5 1 1 0 0 0 12
6 1 1 0 1 0 13
7 0 0 1 0 1 18
8 0 1 0 0 1 20
9 0 1 1 1 1 23
10 0 1 1 0 1 22
11 0 0 0 1 0 1
12 0 0 1 0 0 2
13 0 0 1 1 0 3
14 0 1 0 0 0 4
15 1 1 0 1 0 14
16 1 1 1 0 0 15
17 1 1 1 1 0 5
18 0 1 0 1 1 21
19 0 1 1 0 1 22
20 0 1 1 1 1 23

4.5.4 Percobaan Multiplekser Analog 8 to 1


Tabel 4.23 Percobaan Multiplekser analog
CH7 CH6 CH5 CH4 CH3 CH2 CH1 CH0 C B A OUTPUT
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 0 0V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 1 0,026 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 0 1,074 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 1 1,855 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 0 2,356 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 1 3,086 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 0 4,344 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 1 3,065 V
4.5.5 Percobaan Demultiplekser Analog 1 to 8
Tabel 4.24 Percobaan Demultiplekser Analog
CH7 CH6 CH5 CH4 CH3 CH2 CH1 CH0 C B A OUTPUT
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 0 1,475 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 1 1,190 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 0 1,403 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 1 1,646 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 0 1,296 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 1 2,057 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 0 0,565 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 1 0.298 V

4.5.6 Percobaan Multiplekser Analog 4 to 1(cd4052bE)


Tabel 4.25 Percobaan Multiplekser Analog 4 to 1
B A X0 X1 X2 X3 OUT Y0 Y1 Y2 Y3 OUT
0 0 4.0 3.5 3.0 2.5 3,273 2.0 1.5 1.0 0.5 0,005
0 1 4.0 3.5 3.0 2.5 4,158 2.0 1.5 1.0 0.5 0,011
1 0 4.0 3.5 3.0 2.5 3,115 2.0 1.5 1.0 0.5 0,029
1 1 4.0 3.5 3.0 2.5 0,056 2.0 1.5 1.0 0.5 0,015

4.5.7 Percobaan Demultiplekser Analog 1 to 4


Tabel 4.26 Percobaan Demultiplekser Analog 4 to 1
B A X0 X1 X2 X3 OUT Y0 Y1 Y2 Y3 OUT
0 0 4.0 3.5 3.0 2.5 2,674 2.0 1.5 1.0 0.5 1,025
0 1 4.0 3.5 3.0 2.5 4,357 2.0 1.5 1.0 0.5 1,033
1 0 4.0 3.5 3.0 2.5 3,115 2.0 1.5 1.0 0.5 1,025
1 1 4.0 3.5 3.0 2.5 1,900 2.0 1.5 1.0 0.5 0,041
4.6 Analisa Data Hasil Percobaan
4.6.1 Percobaan BCD/Decade Counter dengan Paralel Load
Pada percobaan ini input-nya diatur sebagai berikut PL = 0, -CE. –U/D, -
CP = X. Input pada percobaan ini terdiri dari P0, P1, P2, P3 dan output yang terdiri
dari Q0, Q1, Q2, Q3. Berikut ini adalah tabel hasil percobaan BCD/Decade Counter
dengan Paralel Load.
Tabel 4.27 Percobaan BCD/Decade Counter dengan Paralel Load
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
2 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1
3 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2
4 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 3
5 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 4
6 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 5
7 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 6
8 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 7
9 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 8
10 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 9
11 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 10
12 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 11
13 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 12
14 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 13
15 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 14
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa input P0, P1, P2, P3 akan
memberikan nilai yang sama dengan output Q0, Q1, Q2, Q3 sedangkan RC akan
mengeluarkan nilai logika “1” dan TC akan mengeluarkan nilai logika “0”.

4.6.2 Percobaan BCD/Decade Counter dengan Mode Count Up


Pada percobaan ini input-nya diatur sebagai berikut yaitu PL = 1, CE = 0, -
D/U = 0. Pada percobaan ini menggunakan trigger yang ditekan sebanyak 20 kali.
Indikator input dan output menggunakan LED. Jika LED padam maka bernilai
“0” sebaliknya jika LED menyala bernilai “1”. Berikut ini adalah tabel Percobaan
BCD/Decade Counter dengan Mode Count Up yang semua input-nya bernilai “0”.
Tabel 4.28 Percobaan BCD/Decade Counter dengan Mode Count Up
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 4
2 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 5
3 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 6
4 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 7
5 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
6 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1
7 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
8 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1
9 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 2
10 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 3
11 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 4
12 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 5
13 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 6
14 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 7
15 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 8
16 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 9
17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
18 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1
19 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 2
20 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 3

4.6.3 Percobaan BCD/Decade Counter dengan Mode Count Down


Pada percobaan ini input-nya diatur sebagai berikut PL = 1, CE = 0, -U/D
= 1. Pada percobaan ini menggunakan trigger yang ditekan sebanyak 20 kali.
Indikator pada percobaan ini menggunakan LED. Apabila LED menyala maka
bernilai logika “1” dan apabila LED padam maka bernilai logika “0”. Berikut
adalah tabel percobaan BCD/Decade Counter dengan Mode Count Down dengan
semua input bernilai “1”.
Tabel 4.29 Percobaan BCD/Decade Counter dengan Mode Count Down
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 2
2 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0
3 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 9
4 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 6
5 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 3
6 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 2
7 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1
8 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0
9 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 9
10 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 8
11 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7
12 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 6
13 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 5
14 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 4
15 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 3
16 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 2
17 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1
18 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0
19 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 9
20 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 8
Berikut adalah tabel percobaan BCD/Decade Counter dengan Mode Count
Down yang input P1 dan P0 bernilai “0”
4.6.4 Percobaan BCD/Decade Counter dengan Mode Hold
Pada percobaan ini menggunakan PL = 1, CE = 1 sedangkan yang lainnya
don’t care. Indikator percobaan ini menggunakan LED. Apabila LED menyala
maka berlogika “1” sebaliknya bila LED padam maka berlogika “0”. Pada
percobaan ini menggunakan trigger yang ditekan sebanyak 16 kali. Berikut adalah
tabel percobaan BCD/Decade Counter dengan Mode Hold.
Tabel 4.30 Percobaan BCD/Decade Counter dengan Mode Hold
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 15
2 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 15
3 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 15
4 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 15
5 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 15
6 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 15
7 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 15
8 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
9 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 15
10 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 15
11 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 15
12 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 15
13 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 15
14 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 15
15 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 15
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15

Berdasarkan data pada tabel diatas output Q2, Q1, Q0 dan TC bernilai “0”
dan Q3 dan RC bernilai “1”.

4.6.5 Percobaan Binary Counter dengan Mode Paralel Load


Pada percobaan ini input-nya diatur sebagai berikut PL = 0, -CE = , -U/D
= , CD = X. Input pada percobaan ini yaitu P0, P1, P2, P3 yang diatur menggunakan
biner mulai dari 0 sampai 15. Indikator input dan output menggunakan LED.
Apabila LED menyala maka bernilai “1” dan apabila padam maka berilai “0”.
Berikut adalah tabel data hasil percobaan Binary Counter dengan Mode Paralel
Load.
Tabel 4.31 Percobaan Binary Counter dengan Mode Paralel Load
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
2 0 0 0 1 0 0 0 1 1 1 1
3 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2
4 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 3
5 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 4
6 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 5
7 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 6
8 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 7
9 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 8
10 1 0 1 1 1 0 0 1 1 0 9
11 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 10
12 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 11
13 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 12
14 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 13
15 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 14
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
Berdasarkan tabel di atas output akan mengeluarkan hasil yang sama
dengan input-nya. Output RC dan TC pada saat input data yang terakhir nilai
keduanya berbeda. RC pada input data yang terakhir bernilai “1” sedangkan TC
bernilai “0”. Pada input pertama dan seterusnya akan menghasilkan nilai logika
yang berbeda dari input terakhir.

4.6.6 Percobaan Binary Counter dengan Mode Count Down


Pada percobaan ini input-nya diatur sebagai berikut yaitu PL = 1, CE = 0, -
U/D = 1. Output pada percobaan ini yaitu Q0, Q1, Q2, Q3, RC dan TC. Indikator
output menggunakan LED. Berikut adalah tabel hasil data Percobaan Binary
Counter dengan Mode Count Down dengan semua input bernilai “1”.
Tabel 4.32 Percobaan Binary Counter dengan Mode Count Down
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
2 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 14
3 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 13
4 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 12
5 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 11
6 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 10
7 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 9
8 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 8
9 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7
10 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 6
11 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 5
12 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 4
13 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 3
14 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 2
15 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1
16 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0
17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
18 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 14
19 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 13
20 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 12

Berikut adalah tabel Percobaan Binary Counter dengan Mode Count Down
yang input P1 dan P0 bernilai “0”.
Tabel 4.33 Percobaan Binary Counter dengan Mode Count Down
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 15
2 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 14
3 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 13
4 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 12
5 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 11
6 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 10
7 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 9
8 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 8
9 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 7
10 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 6
11 1 1 0 0 0 1 0 1 1 0 5
12 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 4
13 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 3
14 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 2
15 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 1
16 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0
17 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 15
18 1 1 0 0 1 1 1 0 1 0 14
19 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 13
20 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 12

Berdasarkan kedua tabel di atas output berurutan mulai dari kode biner 15
ke 0, nilai RC dan TC pada trigger 1 sampai 15 bernilai “1” dan “0” sedangkan
pada trigger ke 5 nilai RC dan TC bernilai “0” dan “1”.

4.6.7 Percobaan Binary Counter dengan Mode Hold


Pada percobaan ini input-nya menggunakan PL=1, CE=1. Percobaan ini
memiliki 6 output yaitu Q0, Q1, Q2, Q3, RC dan TC. Indikator output
menggunakan LED. Berikut adalah tabel hasil data Percobaan Binary Counter
dengan Mode Hold.
Tabel 4.34 Percobaan Binary Counter dengan Mode Hold
No P3 P2 P1 P0 Q3 Q2 Q1 Q0 RC TC DEC
1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 15
2 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 15
3 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 15
4 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 15
5 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 15
6 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 15
7 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 15
8 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15
9 1 0 0 0 1 1 1 1 1 0 15
10 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 15
11 1 0 1 0 1 1 1 1 1 0 15
12 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 15
13 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 15
14 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 15
15 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 15
16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 15

Berdasarkan tabel di atas output Q3, Q2, Q1 dan TC bernilai logika “0”
sedangkan Q0 dan RC berlogika “1”.

4.6.8 Percobaan Full Adder 4 Bit dengan Carry In 1


Pada percobaan ini terdapat 4 output yaitu S4, S3, S2, dan S1. Percobaan ini
menggunakan LED sebagai indikator. Apabila LED menyala maka bernilai “1”
sedangkan jika padam maka bernilai “0”. Berikut adalah tabel Percobaan Full
Adder 4 Bit dengan Carry In 1.
Tabel 4.35 Percobaan Full Adder 4 bit dengan Carry In 1
No Carry In S4 S3 S2 S1 Carry Out DEC
1 1 0 0 0 1 0 1
2 1 0 0 1 0 0 2
3 1 0 0 1 1 0 3
4 1 0 1 0 0 0 4
5 1 1 1 0 1 0 13
6 1 1 1 1 0 0 14
7 1 1 1 1 1 0 15
8 1 0 1 0 0 1 20
9 1 0 1 1 1 1 23
10 1 0 1 1 0 1 26

Berdasarkan tabel di atas percobaan full adder 4 bit dengan carry in 1


merupakan penjumlahan bilangan biner dengan carry 1 input A4, A3, A2 dan A1
akan dijumlahkan dengan input B4, B3, B2, dan B1. Apabila kedua input setelah
dijumlahkan memperoleh kode biner di atas 15 maka carry out bernilai “1”.
Apabila kedua input dijumlahkan memperoleh kode biner di bawah 15 maka carry
out bernilai “0”.

4.6.9 Percobaan Full Adder 4 bit dengan Carry In 0


Pada percobaan ini terdapat 4 output yaitu S4, S3, S2, dan S1. Percobaan
ini menggunakan LED sebagai indikator. Apabila LED menyala maka bernilai “1”
sedangkan jika padam maka bernilai “0”. Berikut adalah tabel Percobaan Full
Adder 4 Bit dengan Carry In 0.
Tabel 8.36 Percobaan Full Adder 4 bit dengan Carry In 0
No Carry In S4 S3 S2 S1 Carry Out DEC
1 0 0 0 0 0 0 0
2 0 0 0 0 1 0 1
3 0 0 0 1 0 0 2
4 0 0 0 1 1 0 3
5 0 1 1 0 0 0 12
6 0 1 1 0 1 0 13
7 0 1 1 1 0 0 14
8 0 0 1 0 0 1 20
9 0 0 1 0 1 1 21
10 0 0 1 1 0 1 22

Berdasarkan tabel di atas percobaan full adder 4 bit dengan carry in 1


merupakan penjumlahan bilangan biner dengan carry 1 input A4, A3, A2 dan A1
akan dijumlahkan dengan input B4, B3, B2, dan B1. Apabila kedua input setelah
dijumlahkan memperoleh kode biner di atas 15 maka carry out bernilai “1”.
Apabila kedua input dijumlahkan memperoleh kode biner di bawah 15 maka carry
out bernilai “0”.

4.6.10 Percobaan Multiplekser 8 to 1


Pada percobaan ini terdapat 8 to 1 yaitu CH0 sampai CH7 dan terdapat 3
input yaitu A, B, dan C. Berikut adalah tabel hasil Percobaan Multiplekser 8 to 1.
Tabel 4.37 Percobaan Multiplekser analog
CH7 CH6 CH5 CH4 CH3 CH2 CH1 CH0 C B A OUTPUT
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 0 0V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 1 0,026 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 0 1,074 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 1 1,855 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 0 2,356 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 1 3,086 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 0 4,344 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 1 3,065 V
4.6.11 Percobaan Demultiplekser 1 to 8
Pada percobaan ini terdapat 1 to 8 yaitu CH0 sampai CH7. Berikut adalah
tabel hasil percobaan Demultiplekser 1 to 8.
Tabel 4.38 Percobaan Demultiplekser analog
CH7 CH6 CH5 CH4 CH3 CH2 CH1 CH0 C B A OUTPUT
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 0 1,475 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 0 1 1,190 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 0 1,403 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0 1 1 1,646 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 0 1,296 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 0 1 2,057 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 0 0,565 V
4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 1 1 1 0.298 V

4.6.12 Percobaan Multiplekser 4 to 1(cd4052bE)


Pada percobaan ini terdapat 4 to 1 dari IN (X) dan IN (Y) yaitu X0, X1,
X2, X3, dan Y0, Y1, Y2, dan Y3. Berikut adalah tabel hasil percobaan
demultiplekser 4 to 1.
Tabel 4.39 Percobaan multiplekser analog 4 to 1
B A X0 X1 X2 X3 OUT Y0 Y1 Y2 Y3 OUT
0 0 4.0 3.5 3.0 2.5 3,273 2.0 1.5 1.0 0.5 0,005
0 1 4.0 3.5 3.0 2.5 4,158 2.0 1.5 1.0 0.5 0,011
1 0 4.0 3.5 3.0 2.5 3,115 2.0 1.5 1.0 0.5 0,029
1 1 4.0 3.5 3.0 2.5 0,056 2.0 1.5 1.0 0.5 0,015

Tabel 4.40 Percobaan demultiplekser analog 4 to 1


B A X0 X1 X2 X3 OUT Y0 Y1 Y2 Y3 OUT
0 0 4.0 3.5 3.0 2.5 2,674 2.0 1.5 1.0 0.5 1,025
0 1 4.0 3.5 3.0 2.5 4,357 2.0 1.5 1.0 0.5 1,033
1 0 4.0 3.5 3.0 2.5 3,115 2.0 1.5 1.0 0.5 1,025
1 1 4.0 3.5 3.0 2.5 1,900 2.0 1.5 1.0 0.5 0,041
4.7 Kesimpulan
1. Counter disebut serial counter karena output masing – masing flip-flop
yang digunakan akan berurutan dan sebaliknya akan berurutan atau
selangkah demi selangkah, hal ini disebabkan hanya flip – flop yang
paling ujung saja yang dikendalikan oleh sinyal clock. Sedangkan sinyal
clock untuk flip – flop hanya diambilkan masing – masing flip flop
sebelumnya.

2. Pada mode parallel load baik itu pada BCD/ Decade Counter maupun
Binary Counter maka nilai output hanya mengikuti nilai input saja.

3. Pada mode Count Up baik itu pada BCD/ Decade Counter maupun Binary
Counter maka nilai output akan melakukan pertambahan dari bawah ke
atas dan akan kembali ke nilai awal bila sudah mencapai nilai maksimal.

4. Pada mode Count Down baik itu pada BCD/ Decade Counter maupun
Binary Counter maka nilai output akan melakukan pertambahan dari atas
ke bawah dan akan kembali ke nilai awal bila sudah mencapai nilai
minimumnya.

5. Pada mode Hold baik itu pada BCD/ Decade Counter maupun Binary
Counter maka nilai output akan menampilkan nilai awal saja dan akan
diulang terus menerus.

6. Pada percobaan Full adder 4 Bit with Carry hasil output akan
menjumlahkan input-input yang masuk dan carry in akan menjadi input
tambahan dari prnjumlah. Ketika output lebih dari 15 maka carry out akan
bernilai 1 karena carry out berfungsi sebagai bit kelima.
7. Pada Multiplekser analog dari banyak input akan dikeluarkan satu output
saja. Output yang dikeluarkan sesuai dengan input seperti yang diatur oleh
pin select inputnya. Disini pin select input akan menentukan input mana
yang akan dijadikan outputnya.

8. Pada Demultiplekser analog satu input akan menjadi banyak output.


Dimana nilai output pada channel yang ditentukan oleh pin select input
akan sesuai dengan inputnya. Disini fungsi pin select input akan
menentukan nilai output mana yang akan sesuai dengan inputnya.
DAFTAR PUSTAKA

Almakky, Hari. 2015. Rangkaian Penjumlah atau Adder.


http://www.uniksharianja.com/2015/03/rangkaian-penjumlah-atau-
adder.html
Diakses pada tanggal 29 April 2018

Nugra, Anggara. 2011. Multiplexer dan Demultiplexer.


http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=147430
Diakses pada tanggal 30 April 2018

Rizki, Aditya. 2011. Tutorial Teknik Digital : Rangkaian Pencacah (Counter).


http://www.adityarizki.net/tutorial-teknik-digital-rangkaian-pencacah-
counter/
Diakses pada tanggal 30 April 2018