Anda di halaman 1dari 9

Tegangan tembus (puncture) frekuensi rendah menunjukan kekuatan

dielektrik dari isolator, dan terjadi bila tegangan frekuensi rendah diterapkan antara
kedua elektroda isolator yang dicelupkan pada minyak sampai isolator tembus.
Untuk isolator dalam keadaan baik tegangan tembus ini lebih tinggi dari tegangan
loncatan api frekuensi rendah, dan nilainya kira-kira 140 kV untuk isolator gantung
250 mm

Tabel Tegangan Lompatan dan Tegangan Tembus Isolator


Isolator Tegangan.
Tinggi “Pin-Type” Isolator EHV “Pin-Type”

250 180 Pin Pin 10 20 30 40 50 60


mm mm Besar Kecil

Tegangan Lompatan 80 60 50 45 85 110 135 160 185 20


50%, Kering (KV)

Tegangan Lompatan 50 32 30 27 35 75 95 115 135 155


50% Bolak balik 50
Hz, Basah (KV)

Tegangan Lompatan 125 100 120 160 200 240 280 320
50% Impuls (KV)

Tegangan Tembus 140 120 90 80 150 200 250 270 300 350
(KV)

Teg Ketahanan 50 75 65
Hz dalam Minyak

Tegangan Frekuensi
Tinggi Tegangan Frekuensi Tinggi 3-5 detik
2.4 Pengaman Sistem Transmisi
1. Komponen pengaman (pelindung) pada transmisi tenaga listrik
memiliki fungsi sangat penting
2. Komponen pengaman pada saluran udara transmisi tegangan tinggi,
antara lain:
a. Kawat tanah, grounding dan perlengkapannya, dipasang di
sepanjang jalur SUTT. Berfungsi untuk mengetanahkan arus listrik
saat terjadinya gangguan (sambaran) petir secara langsung.
b. Pentanahan tiang, Untuk menyalurkan arus listrik dari kawat tanah
(ground wire) akibat terjadinya sambaran petir. Terdiri dari kawat
tembaga atau kawat baja yang di klem pada pipa pentanahan dan
ditanam di dekat pondasi tower (tiang) SUTT.
c. Jaringan pengaman, berfungsi untuk pengaman SUTT dari
gangguan yang dapat membahayakan SUTT tersebut dari lalu lintas
yang berada di bawahnya yang tingginya melebihi tinggi yang
dizinkan
d. Bola pengaman, dipasang sebagai tanda pada SUTT, untuk
pengaman lalu lintas udara (Fredya,2019)

2.5.1 Lightning Arrester


Lightning arrester adalah alat proteksi bagi peralatan listrik terhadap
tegangan lebih, yang disebabkan oleh petir atau surja hubung (switching surge).
Alat ini bersifat sebagai by-pass disekitar isolasi yang membentuk jalan dan mudah
dilalui arus kilat kesistem pentanahan sehingga tidak menimbulkan tegangan lebih
yang tinggi dan tidak merusak isolasi peralatan listrik. By-pass ini harus sedemikian
rupa sehingga tidak mengganggu aliran daya sistem frekuensi 50 hz.

Gambar 2.21 Konstruksi Arrester


Sumber : Antoni (2014)
2.5.1.1 Prinsip kerja Lightning Arrester
Pada sistem Tegangan Ekstra Tinggi (TET) yang besarnya di atas 350 kV,
surja tegangan yang disebabkan oleh switching lebih besar dari pada surja petir.
Saluran udara yang keluar dari pusat pembangkit listrik merupakan bagian instalasi
pusat pembangkit listrik yang paling rawan sambaran petir dan karenanya harus
diberi lightning arrester. Selain itu, lightning arrester harus berada di depansetiap
transformator dan harus terletak sedekat mungkin dengan transformator. (Gilang
sudirga,2016)

Hal ini perlu karena pada petir yang merupakan gelombang berjalan menuju
ke transformator akan melihat transformator sebagai suatu ujung terbuka (karena
transformator mempunyai isolasi terhadap bumi/tanah) sehingga
gelombang pantulannya akan saling memperkuat dengan gelombang yang datang.

Berarti transformator dapat mengalami tegangan surja dua kali besarnya


tegangan gelombang surja yang datang. Untuk mencegah terjadinya hal ini,
lightning arrester harus dipasang sedekat mungkin dengan transformator.

Lightning arrester bekerja pada tegangan tertentu di atas tegangan operasi


untuk membuang muatan listrik dari surja petir dan berhenti beroperasi pada
tegangan tertentu di atas tegangan operasi agar tidak terjadi arus pada tegangan
operasi, dan perbandingan dua tegangan ini disebut rasio proteksi arrester.

Tingkat isolasi bahan arrester harus berada di bawah tingkat isolasi bahan
transformator agar apabila sampai terjadi flashover, maka flashover diharapkan
terjadi pada arrester dan tidak pada transformator.

2.5.2 Pentanahan
Pentanahan merupakan salah satu faktor kunci dalam usaha pengamanan
(perlindungan) instalasi listrik. Agar sistem pentanahan dapat bekerja dengan
efektif, sistem pentanahan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Membuat jalur impedansi rendah ke tanah untuk pengamanan


personil dan peralatan, menggunakan rangkaian yang efektif.
2. Dapat melawan dan menyebarkan gangguan berulang dan arus
akibat surja hubung (surge current).
3. Menggunakan bahan tahan korosi terhadap berbagai kondisi
kimiawi tanah, untuk menyakinkan kontinuitas penampilannya
sepanjang umur peralatan yang dilindungi.
4. Menggunakan sistem mekanik yang kuat namun mudah dalam
pelayanan.
Sistem pentanahan yang baik akan memberikan keandalan pada sistem
tenaga listrik, disamping keamanan yang terjaga pada sistem tenaga listrik juga
peralatan lain yang mendukungnya.
a. Jenis Pentanahan
A. Pentanahan sistem (System Grounding)
Pentanahan Sistem (System Grounding) didefinisikan sebagai
hubungan ke tanah dari salah satu penghantar dari sistem distribusi atau sistem
perkawatan di dalam mesin. Pentanahan sistem biasa dilakukan pada sekunder
transformator yang mempunyai hubungan bintang atau dilakukan pada netral
pembangkit. Apabila sistem yang digunakan adalah sistem delta, pentanahan
dapat dilakukan dengan jalan menggunakan transformator pentanahan. Tujuan
dari pentanahan sistem adalah sebagai berikut:
1. Pada sistem yang besar yang tidak ditanahkan, arus gangguan
relatif besar sehingga busur listrik yang timbul tidak dapat padam
dengan sendirinya, hal ini akan menimbulkan busur tanah, pada
sistem yang ditanahkan gejala tersebut hampir tidak ada.
2. Untuk membatasi tegangan-tegangan pada fase-fase yang tidak
terganggu (sehat).
Metoda -metoda pentanahan netral dan sistem-sistem tenaga adalah:

1. Pentanahan melalui tahanan (resistance grounding).


2. Pentanahan melalui reaktor (reactor grounding).
3. Pentanahan tanpa impedansi (solid grounding).
4. Pentanahan efektif (effective grounding).
5. Pentanahan dengan kumparan Petersen.
b. Perlengkapan Pentanahan
Pentanahan perlengkapan merupakan hubungan ke tanah dari bagian-
bagian metal yang dalam keadaan normal tidak membawa arus pada semua
perlengkapan yang berhubungan dengan sistem tenaga listrik, seperti: pipa-pipa
metal, raceway, pelindung kabel, mof kabel, kabinet, kotak saklar, kerangka motor,
tangki transformator, lemari kontrol, dan sebagainya. Secara singkat tujuan
pentanahan peralatan dapat diformulasikan sebagai berikut:
1. Mencegah terjadinya tegangan kejut listrik yang berbahaya bagi
orang yang ada dalam daerah tersebut.
2. Untuk memungkinkan timbulnya arus tertentu baik besarnya
maupun lamanya dalam keadaan gangguan tanah tanpa
menimbulkan kebakaran atau ledakan pada bangunan atau isinya.
3. Untuk memperbaiki unjuk kerja (performance) dari sistem.
Batas tahanan pentanahan perlengkapan adalah:

1. Untuk stasiun-stasiun besar, tahanan bus pentanah 1 Ohm.


2. Untuk stasiun yang lebih kecil, tahanan bus pentanah 5 Ohm.
3. Untuk perumahan dan kota-kota yang belum mempunyai sistem
air ledeng, tahanan bus pentanah 25 Ohm.
4. Untuk peralatan-peralatan elektronis yang sangat peka, tahanan
pentanahan harus kurang dari l Ohm, yaitu sekitar 0.5 Ohm.
5. Untuk menara transmisi 150 KV tanahan pentanahan kaki menara
tidak lebih dari 5 Ohm.

2.5.3 Kawat Tanah


Kawat Tanah atau Earth wire (kawat petir / kawat tanah) adalah media untuk
melindungi kawat fasa dari sambaran petir. Kawat ini dipasang di atas kawat fasa
dengan sudut perlindungan yang sekecil mungkin, karena dianggap petir
menyambar dari atas kawat. Namun jika petir menyambar dari samping maka dapat
mengakibatkan kawat fasa tersambar dan dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan.(Jendry,leli,2017)

Kawat pada tower tension dipegang oleh tension clamp, sedangkan pada
tower suspension dipegang oleh suspension clamp. Pada tension clamp dipasang
kawat jumper yang menghubungkannya pada tower agar arus petir dapat dibuang
ke tanah lewat tower. Untuk keperluan perbaikan mutu pentanahan maka dari kawat
jumper ini ditambahkan kawat lagi menuju ketanah yang kemudian dihubungkan
dengan kawat pentanahan.

A. Bahan Kawat Tanah


Bahan ground wire terbuat dari steel yang sudah digalvanis, maupun sudah
dilapisi dengan almunium. Pada SUTET yang dibangun mulai tahun 1990an,
didalam ground wire difungsikan fibre optic untuk keperluan telemetri, tele proteksi
maupun telekomunikasi yang dikenal dengan OPGW (Optic Ground Wire),
sehingga mempunyai beberapa fungsi.

B. Jumlah dan posisi Kawat Tanah


Jumlah Kawat Tanah paling tidak ada satu buah diatas kawat fasa, namun
umumnya di setiap tower dipasang dua buah. Pemasangan yang hanya satu buah
untuk dua penghantar akan membuat sudut perlindungan menjadi besar sehingga
kawat fasa mudah tersambar petir. Jarak antara ground wire dengan kawat fasa di
tower adalah sebesar jarak antar kawat fasa, namun pada daerah tengah gawangan
dapat mencapai 120% dari jarak tersebut.
2.6 Gangguan Sistem Tenaga Listrik

Pada dasarnya suatu sistem tenaga listrik harus dapat beroperasi secara
terus menerus secara normal, tanpa terjadi gangguan. Akan tetapi gangguan pada
sistem tenaga listrik tidak dapat dihindari. Gangguan dapat disebabkan oleh
beberapa hal berikut:
a. Gangguan karena kesalahan manusia (kelalaian)
b. Gangguan dari dalam sistem, misalnya karena faktor ketuaan, arus
lebih, tegangan lebih sehingga merusak isolasi peralatan.
c. Gangguan dari luar, biasanya karena faktor alam. Contohnya cuaca,
gempa, petir, banjir, binatang, pohon dan lain-lain.
Jenis-Jenis Gangguan
Jenis gangguan bila ditinjau dari sifat dan penyebabnya dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Beban lebih, ini disebabkan karena memang keadaan pembangkit yang
kurang dari kebutuhan bebannya.
b. Hubung singkat, jika kualitas isolasi tidak memenuhi syarat, yang
mungkin disebabkan faktor umur, mekanis, dan daya isolasi bahan
isolator tersebut.
c. Tegangan lebih, yang membahayakan isolasi peralatan di gardu.
d. Gangguan stabilitas, karena hubung singkat yang terlalu lama.
(Widyastuti,2019)

2.6.1 Hubung Singkat Sistem Tenaga Listrik

Hubung singkat / short circuit adalah salah satu gangguan yg bisa terjadi di
sistem tenaga listrik. Defenisi hubung singkat menurut IEC 60909 adalah,
hubungan konduksi sengaja atau tidak sengaja melalui hambatan atau impedansi
yg cukup rendah antara dua atau lebih titik yg dalam keadaan normalnya
mempunyai beda potensial. Penyebab dari hubung singkat diantaranya adalah:

a. Hubungan kontak langsung dengan konduktor bertegangan


b. Temperatur berlebih karena adanya arus berlebih / overload
c. Pelepasan / discharge elektron yg merusak karena tegangan
berlebih
d. Busur / arcing karena pengembunan bersama dengan udara,
terutama pada isolator
e. Akibat dari hubung singkat diantaranya adalah:
f. Membahayakan keselamatan manusia
g. Putusnya suplai tenaga listrik
h. Kerusakan peralatan listrik karena peningkatan tekanan termal
dan mekanis yg akhirnya tidak bisa ditoleransi oleh peralatan
listrik
Jenis-jenis hubungan singkat dalam sistem tenaga listrik diantaranya
adalah sebagai berikut:
a. Hubung singkat simetri

Hubung singkat ini terjadi pada sistem 3 fasa saja. Hubung


singkat ini terjadi pada ketiga konduktor berarus terhubung singkat
secara bersamaan. Jenis hubung singkat simetri hanya untuk hubung
singkat 3 fasa dengan atau tanpa ke tanah. Hanya 5% dari total
kejadian gangguan hubung singkat adalah hubung singkat 3 fasa.
(Gravatar,2014)
b. Hubung singkat tidak simetri

Hubung singkat ini terjadi pada sistem 1 dan 3 fasa. Hubung


singkat ini terjadi di antara konduktor berarus dengan atau tanpa ke
tanah.Hubung singkat tidak simetri ini dapat dibagi lagi menjadi
beberapa bagian, yaitu sebagai berikut (Gravatar,2014);
1. Fasa ke fasa tanpa ke tanah
2. Fasa ke fasa dengan ke tanah
3. Fasa ke tanah (80% dari total gangguan hubung
singkat) Diagram hubung singkat ditunjukkan seperti
dibawah:

Gambar 2.22 Hubung singkat: a. 3 Fasa b. Fasa ke fasa c. Fasa-fasa ke tanah d. Fasa ke tanah
(Gravatar,2014)

Perhitungan arus hubung singkat bisa menggunakan beberapa metode:

a. Metode impedansi
b. Metode komposisi
c. Metode konvensional
d. Metode komponen simetri
Sedangkan menurut standard, terbagi atas 2 yaitu:

a. IEEE
b. IEC
2.7 Perlengkapan Gardu Transmisi
1. Busbar atau Rel, Merupakan titik pertemuan/hubungan antara trafo-trafo
tenaga, Saluran Udara TT, Saluran Kabel TT dan peralatan listrik lainnya
untuk menerima dan menyalurkan tenaga listrik/daya listrik.
2. Ligthning Arrester, biasa disebut dengan Arrester dan berfungsi sebagai
pengaman instalasi (peralatan listrik pada instalasi Gardu Induk) dari
gangguan tegangan lebih akibat sambaran petir (ligthning Surge).
3. Transformator instrument atau Transformator ukur, Untuk proses
pengukuran. Antara lain:
a. Transformator Tegangan, adalah trafo satu fasa yang menurunkan
tegangan tinggi menjadi tegangan rendah yang dapat diukur dengan
Voltmeter yang berguna untuk indikator, relai dan alat sinkronisasi.
b. Transformator arus, digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya
ratusan amper lebih yang mengalir pada jaringan tegangan tinggi.
Disamping itu trafo arus berfungsi juga untuk pengukuran daya dan
energi, pengukuran jarak jauh dan rele proteksi
c. Transformator Bantu (Auxilliary Transformator), trafo yang digunakan
untuk membantu beroperasinya secara keseluruhan gardu induk
tersebut.
4. Sakelar Pemisah (PMS) atau Disconnecting Switch (DS), Berfungsi untuk
mengisolasikan peralatan listrik dari peralatan lain atau instalasi lain yang
bertegangan.
5. Sakelar Pemutus Tenaga (PMT) atau Circuit Breaker (CB), Berfungsi untuk
menghubungkan dan memutuskan rangkaian pada saat berbeban (pada
kondisi arus beban normal atau pada saat terjadi arus gangguan).
6. Sakelar Pentanahan, Sakelar ini untuk menghubungkan kawat konduktor
dengan tanah / bumi yang berfungsi untuk menghilangkan/mentanahkan
tegangan induksi pada konduktor pada saat akan dilakukan perawatan atau
pengisolasian suatu sistem.
7. Kompensator, alat pengubah fasa yang dipakai untuk mengatur jatuh
tegangan pada saluran transmisi atau transformator. SVC (Static Var
Compensator) berfungsi sebagai pemelihara kestabilan
8. Peralatan SCADA dan Telekomunikasi, (Supervisory Control And Data
Acquisition) berfungsi sebagai sarana komunikasi suara dan komunikasi data
serta tele proteksi dengan memanfaatkan penghantarnya.
9. Rele Proteksi, alat yang bekerja secara otomatis untuk mengamankan suatu
peralatan listrik saat terjadi gangguan, menghindari atau mengurangi
terjadinya kerusakan peralatan akibat gangguan