Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Penyakit Sendi Degeneratif ( osteoartritis) adalah penyakit kerusakan tulang
rawan sendi yang berkembang lambat dan penyebabnya belum diketahui (Kalim,
IPD,1997).Atau gangguan pada sendi yang bergerak ( Price & Wilson,1995).
Osteoarthritis yang juga dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau
osteoarthritis (sekalipun terdapat inflamasi) merupakan kelainan sendi yang paling
sering ditemukan dan kerapkali menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas).

1.2 TUJUAN
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa keperawatan mampu melaksanakan asuhan keperawatan
pada klien dengan gangguan sistem pencernaan akibat sirosis hepatis secara
langsung dan komprehensif meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual dengan
pendekatan proses Keperawatan (pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana
keperawatan, implementasi, evaluasi).
Agar mahsiswa keperawatan bisa menyelesaikan kasus-kasus yang
terjadi dalam masalah keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk menjelaskan pengertian dari Osteoartritis.
b. Untuk menjelaskan Etiologi dari Osteoartritis.
c. Untuk menjelaskan patofisiologi Osteoartritis.
d. Untuk menjelaskan manifestasi klinis Osteoartritis
e. Untuk menjelaskan penatalaksanaan dariOsteartritis.
f. Untuk menjelaskan asuhan keperawatan gangguan muskuloskletal dengan
Osteoartritis.
BAB 2
TINJAUAN TEORI

1.1. PENGERTIAN
Osteoartritis yang dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau
osteoartrosis (sekalipun terdapat inflamasi ) merupakan kelainan sendi yang
paling sering ditemukan dan kerapkali menimbulkan ketidakmampuan
(disabilitas). (Smeltzer , C Suzanne, 2002 hal 1087)
Osteoartritis merupakan golongan rematik sebagai penyebab kecacatan
yang menduduki urutan pertama dan akan meningkat dengan meningkatnya usia,
penyakit ini jarang ditemui pada usia di bawah 46 tahun tetapi lebih sering
dijumpai pada usia di atas 60 tahun. Faktor umur dan jenis kelamin menunjukkan
adanya perbedaan frekuensi (Sunarto, 1994, Solomon, 1997).
Sedangkan menurut Harry Isbagio & A. Zainal Efendi (1995) osteoartritis
merupakan kelainan sendi non inflamasi yang mengenai sendi yang dap
at digerakkan, terutama sendi penumpu badan, dengan gambaran patologis yang
karakteristik berupa buruknya tulang rawan sendi serta terbentuknya tulang-tulang
baru pada sub kondrial dan tepi-tepi tulang yang membentuk sendi,
sebagai hasil akhir terjadi perubahan biokimia, metabolisme, fisiologis d
an patologis secara serentak pada jaringan hialin rawan, jaringan subkondrial dan
jaringan tulang yang membentuk persendian.( R. Boedhi Darmojo & Martono
Hadi ,1999)

1.2. ETIOLOGI
Beberapa penyebab dan faktor predisposisi adalah sebagai berikut:
1. Umur
Perubahan fisis dan biokimia yang terjadi sejalan dengan bertambahnya umur
dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar air, dan endapannya berbentuk
pigmen yang berwarna kuning.
2. Pengausan (wear and tear)
Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan sendi
melalui dua mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena bahan
yang harus dikandungnya.
3. Kegemukan
Faktor kegemukan akan menambah beban pada sendi penopang berat badan,
sebaliknya nyeri atau cacat yang disebabkan oleh osteoartritis mengakibatkan
seseorang menjadi tidak aktif dan dapat menambah kegemukan.
4. Trauma
Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang
menimbulkan kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik send
i tersebut.
5. Keturunan
Heberden node merupakan salah satu bentuk osteoartritis yang biasanya
ditemukan pada pria yang kedua orang tuanya terkena osteoartritis,
sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang tuanya yang terkena.
6. Akibat penyakit radang sendi lain
Infeksi (artritis rematord; infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan reaksi
peradangan dan pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi ol
eh membran sinovial dan sel-sel radang.
7. Joint Mallignment
Pada akromegali karena pengaruh hormon pertumbuhan, maka rawan sendi
akan membal dan menyebabkan sendi menjadi tidak stabil/seimbang
sehingga mempercepat proses degenerasi.
8. Penyakit endokrin
Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air dan garam-garam proteglikan yang
berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehingga merusak sifat fisik
rawan sendi, ligamen, tendo, sinovia, dan kulit. Pada diabetes melitus,
glukosa akan menyebabkan produksi proteaglikan menurun.
9. Deposit pada rawan sendi
Hemokromatosis, penyakit Wilson, akronotis, kalsium pirofosfat dapat
mengendapkan hemosiderin, tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal
monosodium urat/pirofosfat dalam rawan sendi.
1.3. KLASIFIKASI
Osteoartritis diklasifikasikan menjadi :
a. Tipe primer ( idiopatik) tanpa
kejadian atau penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan
osteoartritis
b. Tipe sekunder seperti akibat trauma, infeksi dan pernah fraktur (Long, C
Barbara, 1996 hal 336)

1.4. PATOFISIOLOGI
Penyakit sendi degeneratif merupakan suatu penyakit kronik, tidak
meradang, dan progresif lambat, yang seakan-akan merupakan proses penuaan,
rawan sendi mengalami kemunduran dan degenerasi disertai dengan
pertumbuhan tulang baru pada bagian tepi sendi.
Proses degenerasi ini disebabkan oleh proses pemecahan kondrosit yang
merupakan unsur penting rawan sendi. Pemecahan tersebut diduga diawali oleh
stress biomekanik tertentu. Pengeluaran enzim lisosom menyebabkan dipecahnya
polisakarida protein yang membentuk matriks di sekeliling kondrosit sehingga
mengakibatkan kerusakan tulang rawan. Sendi yang paling sering terkena adalah
sendi yang harus menanggung berat badan, seperti panggul lutut dan kolumna
vertebralis. Sendi interfalanga distal dan proksimasi.
Osteoartritis pada beberapa kejadian akan mengakibatkan terbatasnya
gerakan. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang dialami atau diakibatkan
penyempitan ruang sendi atau kurang digunakannya sendi tersebut.
Perubahan-perubahan degeneratif yang mengakibatkan karena peristiwa-
peristiwa tertentu misalnya cedera sendi infeksi sendi deformitas congenital dan
penyakit peradangan sendi lainnya akan menyebabkan trauma pada kartilago yang
bersifat intrinsik dan ekstrinsik sehingga menyebabkan fraktur ada ligamen atau
adanya perubahan metabolisme sendi yang pada akhirnya mengakibatkan tulang
rawan mengalami erosi dan kehancuran, tulang menjadi tebal dan terjadi
penyempitan rongga sendi yang menyebabkan nyeri, kaki kripitasi, deformitas,
adanya hipertropi atau nodulus. ( Soeparman ,1995).

1.5. WOC

1.6. MANIFESTASI KLINIS


1. Rasa nyeri pada sendi
Merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan bertambah apabila
sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.
2. Kekakuan dan keterbatasan gerak
Biasanya akan berlangsung 15 – 30 menit dan timbul setelah istirahat atau
saat memulai kegiatan fisik.
3. Peradangan
Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan dalam ruang
sendi akan menimbulkan pembengkakan dan peregangan simpai sendi yang
semua ini akan menimbulkan rasa nyeri.
4. Mekanik
Nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama dan
akan berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya dengan
keadaan penyakit yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak berat.
Nyeri biasanya berlokasi pada sendi yang terkena tetapi dapat menjalar,
misalnya pada osteoartritis coxae nyeri dapat dirasakan di lutut, bokong
sebelah lateril, dan tungkai atas.
Nyeri dapat timbul pada waktu dingin, akan tetapi hal ini belum dapat
diketahui penyebabnya.
5. Pembengkakan Sendi
Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan
cairan dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa adanya pemerahan.
6. Deformitas
Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi.
7. Gangguan Fungsi
Timbul akibat Ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi.

1.7. PEMERIKSAAN PENUNJANG


- Foto Rontgent menunjukkan penurunan progresif massa kartilago sendi
sebagai penyempitan rongga sendi
- Serologi dan cairan sinovial dalam batas normal

1.8. PENATALAKSANAAN
a. Tindakan preventif
- Penurunan berat badan
- Pencegahan cedera
- Screening sendi paha
- Pendekatan ergonomik untuk memodifikasi stres akibat kerja
b. Farmakologi : obat NSAID bila nyeri muncul
c. Terapi konservatif ; kompres hangat, mengistirahatkan sendi, pemakaian
alat- alat ortotik untuk menyangga sendi yang mengalami inflamasi
d. Irigasi tidal ( pembasuhan debris dari rongga sendi), debridemen artroscopik,
e. Pembedahan; artroplasti
1.9. PENGKAJIAN
1. Aktivitas/Istirahat
- Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan memburuk dengan stress pada sendi,
kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi secara bilateral dan simetris
limitimasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang,
pekerjaan, keletihan, malaise. Keterbatasan ruang gerak, atropi otot, kulit:
kontraktor/kelainan pada sendi dan otot.
2. Kardiovaskuler
- Fenomena Raynaud dari tangan (misalnya pucat litermiten, sianosis kemudian
kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.
3. Integritas Ego
- Faktor-faktor stress akut/kronis (misalnya finansial pekerjaan,
ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan.
- Keputusasaan dan ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan).
- Ancaman pada konsep diri, gambaran tubuh, identitas pribadi,
misalnya ketergantungan pada orang lain.
4. Makanan / Cairan
- Ketidakmampuan untuk menghasilkan atau mengkonsumsi makanan atau
cairan adekuat mual, anoreksia.
- Kesulitan untuk mengunyah, penurunan berat badan, kekeringan pada
membran mukosa.
5. Hygiene
- Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan diri,
ketergantungan pada orang lain.
6. Neurosensori
- Kesemutan pada tangan dan kaki, pembengkakan sendi
7. Nyeri/kenyamanan
- Fase akut nyeri (kemungkinan tidak disertai dengan pembengkakan
jaringan lunak pada sendi. Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama pagi
hari).
8. Keamanan
- Kulit mengkilat, tegang, nodul sub mitaneus
- Lesi kulit, ulkas kaki
- Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
- Demam ringan menetap
- Kekeringan pada mata dan membran mukosa
9. Interaksi Sosial
- Kerusakan interaksi dengan keluarga atau orang lain, perubahan
peran: isolasi.
10. Penyuluhan/Pembelajaran
- Riwayat rematik pada keluarga
- Penggunaan makanan kesehatan, vitamin, penyembuhan penyakit tanpa
pengujian
- Riwayat perikarditis, lesi tepi katup. Fibrosis pulmonal, pkeuritis.
11. Pemeriksaan Diagnostik
- Reaksi aglutinasi: positif
- LED meningkat pesat
- protein C reaktif : positif pada masa inkubasi.
- SDP: meningkat pada proses inflamasi
- JDL: Menunjukkan ancaman sedang
- Ig (Igm & Ig G) peningkatan besar menunjukkan proses autoimun
-RO: menunjukkan pembengkakan jaringan lunak, erosi sendi,
osteoporosis pada tulang yang berdekatan, formasi kista tulang,
penyempitan ruang sendi

1.10. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan distensi jaringan oleh
akumulasi cairan/proses inflamasi, distruksi sendi.
2. Intoleran aktivitas berhubungan dengan perubahan otot.
3. Risiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang.
4. Perubahan pola tidur berhubungan dengan nyeri
5. Kurang Perawatan Diri berhubungan dengan Kerusakan Auskuloskeletal:
Penurunan Kekuatan, Daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, Depresi.
6. Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran berhubungan dengan
perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum.

1.11. PERENCANAAN

DX.1. Nyeri akut / kronis berhubungan dengan distensi jaringan oleh


akumulasi cairan / proses inflamasi, distruksi sendi.
Kriteria Hasil - Menunjukkan nyeri hilang/terkontrol
: - Klien terlihat rileks dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi
dalam aktivitas
- Mengikuti program terapi
-Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan
ke dalam program kontrol nyeri.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan
1. Membantu dalam menentukan
intensitas nyeri (skala 0 – 10), catat kebutuhan managemen nyeri dan
faktor-faktor yang mempercepat dan keefektifan program.
tanda-tanda rasa nyeri.
2. berikan matras atau kasur keras,
bantal kecil. Tinggikan linen tempat
2. Matras yang lembut/empuk, bantal yang
tidur sesuai kebutuhan. besar akan mencegah pemeliharaan
kesejajaran tubuh yang tepat,
menempatkan setres pada sendi yang
sakit. Peninggian linen tempat tidur
3. biarkan pasien mengambil posisi menurunkan tekanan pada sendi yang
yang nyaman pada waktu tidur atau terinflamasi / nyeri
duduk di kursi. Tingkatkan istirahat
3. Pada penyakit berat, tirah baring
di tempat tidur sesuai indikasi. mungkin diperlukan untuk membatasi
4. dorong untuk sering mengubah nyeri atau cedera sendi.
posisi. Bantu pasien untuk bergerak
di tempat tidur, sokong sendi yang
4. Mencegah terjadinya kelelahan umum
sakit di atas dan di bawah, hindari dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi,
gerakan yang menyentak. mengurangi gerakan/rasa sakit pada
5. anjurkan pasien untuk mandi air sendi.
hangat atau mandi pancuran pada
waktu bangun. Sediakan waslap
hangat untuk mengompres sendi-
5. Panas meningkatkan relaksasi otot dan
sendi yang sakit beberapa kali mobilitas, menurunkan rasa sakit dan
sehari. Pantau suhu air kompres, air melepaskan kekakuan di pagi hari.
mandi. Sensitifitas pada panas dapat dihilangkan
6. berikan masase yang lembut dan luka dermal dapat disembuhkan.
kolaborasi.
7. Beri obat sebelum aktivitas atau
6. Meningkatkan elaksasi/mengurangi
latihan yang direncanakan sesuai tegangan otot
petunjuk seperti asetil salisilat. 7. Meningkatkan relaksasi, mengurangi
tegangan otot, memudahkan untuk ikut
serta dalam terapi.
DX.2. Intoleran aktivitas b/d perubahan otot.
Kriteria Hasil Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang
: diinginkan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Pertahankan istirahat tirah 1. Untuk mencegah kelelahan dan
baring/duduk jika diperlukan. mempertahankan kekuatan.
2. Bantu bergerak dengan bantuan 2. Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan
seminimal mungkin. otot dan stamina umum.
3. Dorong klien mempertahankan 3. Memaksimalkan fungsi sendi dan
postur tegak, duduk tinggi, berdiri mempertahankan mobilitas.
dan berjalan. 4. Menghindari cedera akibat kecelakaan
4. Berikan lingkungan yang aman dan seperti jatuh.
menganjurkan untuk menggunakan
alat bantu. 5. Untuk menekan inflamasi sistemik akut.
5. Berikan obat-obatan sesuai indikasi
seperti steroid.
DX.3. Risiko cedera b/d penurunan fungsi tulang.
Kriteria Hasil : Klien dapat me mpertahankan keselamatan fisik.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kendalikan lingkungan dengan 1.: Lingkungan yang bebas bahaya akan
Menyingkirkan bahaya yang tampak mengurangi resiko cedera dan
jelas, mengurangi potensial cedera membebaskan keluargadari
akibat jatuh ketika tidur misalnya kekhawatiran yang konstan.
menggunakan penyanggah tempat
tidur, usahakan posisi tempat tidur
rendah, gunakan pencahayaan
2. Hal ini akan memberikan pasien merasa
malam siapkan lampu panggil otonomi, restrain dapat meningkatkan
2. Memantau regimen medikasi agitasi, mengegetkan pasien akan
3. Izinkan kemandirian dan kebebasan meningkatkan ansietas
maksimum dengan memberikan
kebebasan dalam lingkungan yang
aman, hindari penggunaan restrain,
ketika pasien melamun alihkan
perhatiannyaketimbang
mengagetkannya.
DX.4. Perubahan pola tidur b/d nyeri
Kriteria Hasil : Klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat atau tidur.
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri :
1. Tentukan kebiasaan tidur biasanya 1. Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi
dan biasanya dan perubahan yang intervensi yang tepat.
terjadi. 2. Meningkatkan kenyamaan tidur serta
2. Berikan tempat tidur yang nyaman. dukungan fisiologis/psikologis
3. Bila rutinitas baru mengandung aspek
3. Buat rutinitas tidur baru yang sebanyak kebiasaan lama, stress dan
dimasukkan dalampola lama dan ansietas yang berhubungan dapat
lingkungan baru. berkurang.
4. Membantu menginduksi tidur
4. Instruksikan tindakan relaksasi 5. Meningkatkan efek relaksasi
5. Tingkatkan regimen kenyamanan
waktu tidur, misalnya mandi hangat
dan massage. 6. Dapat merasakan takut jatuh karena
6. Gunakan pagar tempat tidur sesuai perubahan ukuran dan tinggi tempat
indikasi: rendahkan tempat tidur bila tidur, pagar tempat untuk membantu
mungkin. mengubah posisi
7. Tidur tanpa gangguan lebih
7. Hindari mengganggui bila mungkin, menimbulkan rasa segar dan pasien
misalnya membangunkan untuk obat mungkin mungkin tidak mampu kembali
atau terapi tidur bila terbangun.
Kolaborasi :
1. Berikan sedative, hipnotik sesuai
indikasi 1. Mungkin diberikan untuk membantu
pasien tidur atau istirahat.
DX.5. Kurang Perawatan Diri berhubungan dengan Kerusakan Auskuloskeletal:
Penurunan Kekuatan, Daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, Depresi.
Kriteria Hasil Klien dapat melaksanakan aktivitas per awatan sendiri
: secara mandiri
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji tingkat fungsi fisik 1. Mengidentifikasi tingkat
2. Pertahankan mobilitas, kontrol bantuan/dukungan yang diperlukan
terhadap nyeri dan progran latihan 2. Mendukung kemandirian
3. Kaji hambatan terhadap fisik/emosional
partisipasi dalam perawatan diri, 3. Menyiapkan untuk meningkatkan
identifikasi untuk modifikasi kemandirian yang akan meningkatkan
lingkungan harga diri
4. Identifikasikasi untuk perawatan 4. Memberikan kesempatan untuk dapat
yangdiperlukan, misalnya; lift, melakukan aktivitas secara mandiri
peninggian dudukan toilet, kursi
roda
DX.6. Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran b/d
perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum.
Kriteria Hasil Mengungkapkan peningkatan rasa percaya
: kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan
gaya hidup dan kemungkinan keterbatasan.
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri :
1. Dorong pengungkapan mengenai 1. Beri kesempatan untuk mengidentifikasi
masalah mengenai proses rasa takut/kesal menghadapinya secara
penyakit,harapan masa depan. langsung.
2. Diskusikan arti dari 2. Mengidentifikasi bagaimana penyakit
kehilangan/perubahan pada mempengaruhi persepsi diri dan
pasien/orang terdekat. Memastikan interaksi dengan orang lain akan
bagaimana pandangan pribadi psien menentukan kebutuhan terhadap
dalam memfungsikan gaya hidup intervensi atau konseling lebih lanjut.
sehari-hari termasuk aspek-aspek
seksual. 3. Isyarat verbal/nonverbal orang terdekat
3. Diskusikan persepsi pasien dapat mempunyai pengaruh mayor pada
mengenai bagaiman orang terdekat bagaimana pasien memandang dirinya
menerima keterbatasan. sendiri.
4. Nyeri melelahkan, dan perasaan marah,
4. Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan umum terjadi.
bermusuhan, 5. Dapat menunjukkan emosional atau
ketergantungan. metode maladaptive, membutuhkan
5. Perhatikan perilaku menarik intervensi lebih lanjut atau dukungan
diri,penguanan menyangkal atau psikologis.
terlalu memperhatikan
tubuh/perubahan. 6. Membantu pasien mempertahankan
kontrol diri yang dapat meningkatkan
perasaan harga diri.
6. Susun batasan pada prilaku
maladaptive. Bantu pasien untuk
mengidentifikasi perilaku positif 7. Meningkatkan perasaan
yang dapat membantu koping. kompetensi/harga diri, mendorong
kemandirian, dan mendorong partisipasi
dan terapi.
7. Ikut sertakan pasien dalam
merencanakan perawatan dan
membuat jadwal aktivitas. 1. Pasien/orang terdekat mungkin
Kolaborasi : membutuhkadukungann selama
1. Rujuk pada konseling psikiatri berhadapan dengan proses
jangkapanjang/ketidakmampuan

2. Berikan obat-obat sesuai petunjuk 2. Mungkin dibutuhkan pada saat


munculnya depresi hebat sampai pasien
mengembangkan kemampuankoping
yang efektif.
BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
.
Osteoartritis merupakan golongan rematik sebagai penyebab kecacatan yang
menduduki urutan pertama dan akan meningkat dengan meningkatnya usia, penyakit ini
jarang ditemui pada usia di bawah 46 tahun tetapi lebih sering dijumpai pada usia di atas
60 tahun. Faktor umur dan jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan frekuensi
(Sunarto, 1994, Solomon, 1997).
Pasien yang beresiko tinggi mengalami Osteomielitis adalah mereka yang
nutrisinya buruk, lansia, kegemukan, atau penderita diabetes mellitus. Selain itu,
pasien yang menderita artitis rheumatoid, telah di rawat lama di rumah sakit,
mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, menjalani pembedahan sendi
sebelum operasi sekarang, atau sedang mengalami sepsis rentan, begitu pula yang
menjalani pembedahan ortopedi lama, mengalami infeksi luka mengeluarkan pus,
mengalami nefrosis insisi margial atau dehidrasi luka, atau memerlukan evakuasi
hematoma pascaoperasi

3.2 SARAN
1) Mahasiswa
1. Gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk mencari ilmu untuk masa
depan yang cemerlang.
2. Gunakanlah makalah ini sebagai sumber ilmu untuk mempelajari
tentang asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sirosis
hepatis.
2) Akademik
1. Bimbinglah mahasiswa-mahasiswa keperawatan dalam membuat
asuhan keperawatan yang baik dan benar
DAFTAR PUSTAKA

Doenges E Marilynn, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta


Kalim, Handono, 1996., Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Mansjoer, Arif, 2000., Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FKUI,
Jakarta.
Prince, Sylvia Anderson, 2000., Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit., Ed. 4, EGC, Jakarta.

edyria selalu