Anda di halaman 1dari 68

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

A DENGAN GASTRITIS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. A DENGAN GASTRITIS

Gastrits adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung, Khususnya
selaput lendir pada mukosa gaster yang sering diakibatkan oleh diet yang sembrono
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................................... i

DAFTAR ISI...................................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang......................................................................................................................... 1

B. Tujuan Penulisan.................................................................................................................... 1

C. Metode penulisan.................................................................................................................. 2

D. Sistematika............................................................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Konsep Teori Penyakit............................................................................................................ 4

1. Definisi .................................................................................................................................. 4

2. Anatomi dan Fisiologi............................................................................................................ 5

3. Etiologi................................................................................................................................... 6

4. Patofisiologi .......................................................................................................................... 7

5.
Komplikasi...................................................................................................................................... 9

6. Manifestasi Klinik................................................................................................................ 12

7. Pemeriksaan Diagnostik...................................................................................................... 13

8. Penatalaksanaan Medis....................................................................................................... 13
B. Konsep Proses Keperawatan................................................................................................ 15

1. Pengkajian........................................................................................................................... 15

2. Analisa Data dan Pathways................................................................................................. 18

3. Diagnosa Keperawatan....................................................................................................... 19

4. Intervensi Keperawatan...................................................................................................... 19

BAB III Tinjuan Kasus

A. Pengkaijian........................................................................................................................... 24

B. Analisa Data Keperawatan.................................................................................................. 30

C. Prioritas Diagnosa Keperawatan.......................................................................................... 32

D. Intervensi Keperawatan....................................................................................................... 32

E. Implementasi Keperawatan................................................................................................. 34

F. Evaluasi Keperawatan.......................................................................................................... 38

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan........................................................................................................................... 39

B. Saran.................................................................................................................................... 39

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................... 41

LAMPIRAN
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam tubuh manusia banyak terdapat system yang saling kerja sama dalam
mempertahnkan kehidupan. Sistem pencernaan merupakan salh satu system yang penting
dalam tubuh karena hasilnya nanti berupa energi yang sangat pentinng dalam proses
metabolisme dan kelangsungan hidu setiap sel di tubuh.

Dalam system pencernaan banyak organ-organ yang penting, salah satunya adalah
lambung. Di Lambung nantinya terjadi pemecahan dan penyerapan karbohidrat dan lapisan
ukosa lambung menghasilkan asam lambung (HCL) yang dalam kadar normalnya fungsinya
sangat penting.

Lambung (gaster) bisa mengalami kelainan seperti peradangan pada dinding lambung
(gastritis) jika pola hidup seperti pola makan dan diet yang tidak normal attau
mengkonsumsi jenis obat-obatan bisa mengakibatkan gastritis atau maag.

Gastritis merupakan salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai diklinik Penyakit
Dalam (IPD jilid II Edisi 3)Gastritis akut merupakan penyakit yang sering ditemukan
biasanya jinak dan dapat sembuh sendiri (Patofisiologi Sylvia & Wilson) dan ± 80 – 90%
yang dirawat di ICU menderita gastritis akut.

Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan harus memahami dan memberikan peran
dan asuhan yang tepat karena komplikasi dari gastrtits ini cukup berbahaya dan bisa
mengakibatkan kematian.

B. Tujuan

1. Tujuan umum :

Mahasiswa dapat mengetahui dan mencegah terjadinya gastritis serta


mengimplementasikan asuhan keperawatan demam gastritis di lapangan.
2. Tujuan khusus :

a. Mengetahui pengertian, etiologi, dan patofisiologi gastritis

b. Mengetahui pengkajian keperawatan pada kasus gastritis

c. Mengetahui diagnose yang mungkin muncul dan perencanaan tindakan keperawatan

d. Mampu mengaplikasikan tindakan keperawatan sesuai konsep dan sesuai indikasi klien

e. Mengetahui asuhan keperawatan pada kasus gastritis

C. Metode Penulisan

Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif yang


berbentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan sebagai cara pemecahan
masalah. Sedangkan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan :

1. Wawancara

Wawancara dilakukan dengan percakapan langsung dengan klien, keluarga dan perawat
ruangan.

2. Observasi

Pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung dan sistematis

3. Studi Dokumentasi

Pengumpulan data didapat dari pemeriksaan diagnostik, laboratorium, dan catatan


kesehatan lainnya.

4. Studi Kepustakaan

Pengumpulan data didapat dari sumber-sumber yang relevan untuk menunjang data, dan
selain itu dengan melakukan searching di internet.
D. Sistematika Penulisan

Dalam penyusunan makalah ini penulis menguraikan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I Pendahuluan

Berisi tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika
penulisan.

BAB II Tinjauan Teoritis

Berisi tentang konsep dasar yang mencakup pengertian, anatomi fisiologi, etiologi,
patofisiologi, komplikasi, manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostic, penatalaksanaan medis,
pengkajian keperawatan, analisa data, diagnosa yang mungkin muncul dan perencanaan
tindakan keperawatan.

BAB III Tinjauan Kasus

Berisi tentang pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, proses keperawatan dan
catatan perkembangan.

BAB IV Kesimpulan dan saran

A. Konsep Teori Penyakit

1. Definisi

Gastrits adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung, Khususnya
selaput lendir pada mukosa gaster yang sering diakibatkan oleh diet yang sembrono
(Smeltzer,2001 : 1062 ; Suyono, 2001 : 127 ; Hadi,, 1999: 181 ; Hinchliff, 1999 : 182).

Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Kapita Selecta Kedokteran, Edisi Ketiga hal 492)

Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat
bersifat akut, kronis, difus atau local (Patofisiologi, Sylvia A Price hal 422)
Gastritis adalah suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung dan
secara hispatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah
tersebut. (Imu Penyakit Dalam Jilid II)

Gastritis adalah peradangan lokal atau penyebaran pada mukosa lambung dan berkembang
dipenuhi bakteri (Charlene. J, 2001, hal : 138).

Jadi gastritis itu adalah Suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan
kerusakan erosi. Erosif karena perlukaan hanya pada bagian mukosa. bentuk berat dari gastritis
ini adalah gastritis erosive atau gastritis hemoragik. Perdarahan mukosa lambung dalam
berbagai derajad dan terjadi erosi yang berarti hilangnya kontinuitas mukosa lambung pada
beberapa tempat.

Gastritis dibagi menjadi 2 yaitu :

a. Gastritis akut

Salah satu bentuk gastritis akut yang sering dijumpai di klinik ialah gastritis akut erosif. Gastritis
akut erosif adalah suatu peradangan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan-kerusakan
erosif. Disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam daripada mukosa
muskularis.

b. Gastritis kronis

Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang menahun
(Soeparman, 1999, hal : 101). Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan
mukosa lambung yang berkepanjangan yang disebabkan baik oleh ulkus lambung jinak maupun
ganas atau oleh bakteri helicobacter pylori (Brunner dan suddart) Klasifikasi gastritis kronis
berdasarkan :

1) Gambaran hispatology

· Gastritis kronik superficial

· Gastritis kronik atropik


· Atrofi lambung

· Metaplasia intestinal

· Perubahan histology kalenjar mukosa lambung menjadi kalenjar-kalenjar mukosa usus


halus yang mengandung sel goblet.

2) Distribusi anatomi

· Gastritis kronis korpus (gastritis tipe A)Sering dihubungkan dengan proses autoimun dan
berlanjut menjadi anemia pernisiosa karena terjadi gangguan absorpsi vitamin B12 dimana
gangguan absorpsi tersebut disebabkan oleh kerusakan sel parietal yang menyebabkan sekresi
asam lambung menurun.

· Gastritis kronik antrum (gastritis tipe B) Paling sering dijumpai dan berhubungan dengan
kuman Helicobacter pylori.

2. Anatomi dan Fisiologi

Lambung adalah sebuah kantung otot yang kosong, terletak pada bagian kiri atas perut tepat
dibawah tulang iga. Lambung orang dewasa mempunyai panjang berkisar antara 10 inchi dan
dapat mengembang untuk menampung makanan atau minuman sebanyak 1 gallon. Bila
lambung dalam keadaan kosong, maka ia akan melipat, mirip seperti sebuah akordion. Ketika
lambung mulai terisi dan mengembang, lipatan – lipatan tersebut secara bertahap membuka.

Lambung memproses dan menyimpan makanan dan secara bertahap melepaskannya ke dalam
usus kecil. Ketika makanan masuk ke dalam esophagus, sebuah cincin otot yang berada pada
sambungan antara esophagus dan lambung (esophageal sphincter) akan membuka dan
membiarkan makanan masuk ke lambung. Setelah masuk ke lambung cincin in menutup.
Dinding lambung terdiri dari lapisan lapisan otot yang kuat. Ketika makanan berada di lambung,
dinding lambung akan mulai menghancurkan makanan tersebut. Pada saat yang sama, kelenjar
– kelenjar yang berada di mukosa pada dinding lambung mulai mengeluarkan cairan lambung
(termasuk enzim – enzim dan asam lambung) untuk lebih menghancurkan makanan tersebut.

Salah satu komponen cairan lambung adalah asam hidroklorida. Asam ini sangat korosif
sehingga paku besi pun dapat larut dalam cairan ini. Dinding lambung dilindungi oleh mukosa –
mukosa bicarbonate (sebuah lapisan penyangga yang mengeluarkan ion bicarbonate secara
regular sehingga menyeimbangkan keasaman dalam lambung) sehingga terhindar dari sifat
korosif asam hidroklorida. Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung ini kewalahan
dan mengakibatkan rusak dan meradangnya dinding lambung.

3. Etiologi

Penyebab dari Gastritis dapat dibedakan sesuai dengan klasifikasinya sebagai berikut :

· Gastritis Akut

Penyebabnya adalah obat analgetik, anti inflamasi terutama aspirin (aspirin yang dosis rendah
sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung).

Bahan kimia misal : lisol, alkohol, merokok, kafein lada, steroid dan digitalis. Gastritis juga dapat
disebabkan oleh obat-obatan terutama aspirin dan obat anti inflamasi non steroid (AINS), juga
dapat disebabkan oleh gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung seperti trauma, luka bakar
dan sepsis (Mansjoer, Arif, 1999, hal : 492).

· Gastritis Kronik

Penyebab dan patogenesis pada umumnya belum diketahui. Gastritis ini merupakan kejadian
biasa pada orang tua, tapi di duga pada peminum alkohol, dan merokok.

Penyebab lain adalah

· Diet yang sombrono , makan terlau banyak, dan makan yang terlalu cepat dan makan-
makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikroorganisme
Faktor psikologi Stress baik primer maupun sekunder dapat merangsang peningkatan produksi
asam-asam gerakan paristaltik lambung. Sterss juga akan mendorong gerakan antara makanan
dan dinding lambung menjadi tambah kuat. Hal ini dapat menyebabkan luka pada lambung.

· Stress berat (sekunder) akibat kebakaran, kecelakaan maupun pembedahan sering pula
menyebabkan tukak lambung akut. Infeksi bakteri Gastritis akibat infeksi bakteri dari luar tubuh
jarang terjadi sebab bakteri tersebut akan terbunuh oleh asam lambung. Kuman penyakit atau
infeksi bakteri penyebab gastritis, umumnya berasal dari dalam tubuh penderita bersangkutan.
Keadaan ini sebagai wujud komplikasi penyakit yang telah ada sebelumnya

4. Patofisiologi

Perangsangan sel vagus yang berlebihan selama stress psikologis dapat menyebabkan
pelepasan atau sekresi gastrin yang menyebabkan dari nukleus motorik dorsalis nervus vagus,
setelah melewati nervus vagus menuju dinding lambung pada sistem saraf enterik, kemudian
kelenjar-kelenjar gaster atau getah lambung, sehingga mukosa dalam antrum lambung
mensekresikan hormon gastrin dan merangsang sel-sel parietal yang nantinya produksi asam
hidroklorinnya berlebihan sehingga terjadi iritasi pada mukosa lambung (Guyton, 1997: 1021-
1022).

Obat-obatan, alkohol, garam empedu, atau enzim pankreas dapat merusak mukosa lambung,
mengganggu barier mukosa lambung dan memungkinkan difusi kembali asam dan pepsin ke
dalam jaringan lambung. Maka terjadi iritasi dan peradangan pada mukosa lambung dan
nekrosis yang dapat mengakibatkan perforasi dinding lambung dan perdarahan dan peritonitis
(Long, 1996 : 196).

Asam hidroklorida disekresi secara kontinyu sehingga sekresi meningkat karena mekanisma
neurogenik dan hormonal yang dimulai oleh rangsangan lambung. Jika asam lambung atau
hidroklorida tidak dinetralisir atau mukosa melemah akibatnya tidak ada perlindungan,
akhirnya asam hidroklorida dan pepsin akan merusak lambung, yang lama-kelamaan barier
mukosa lambung yaitu suplai darah, keseimbangan asam-basa, integritas sel mukosal dan
regenerasi epitel. Bahan-bahan seperti aspirin, alkohol dan Anti Inflamasi Non Steroid dapat
menurunkan produksi mukosa lambung.

Pada fase awal peradangan mukosa lambung akan merangsang ujung syaraf yang terpajan yaitu
syaraf hipotalamus untuk mengeluarkan asam lambung. Kontak antara lesi dan asam juga
merangsang mekanisme reflek lokal yang dimulai dengan kontraksi otot halussekitarnya. Dan
akhirnya terjadi nyeri yang biasanya dikeluhkan dengan adanya nyeri tumpul, tertusuk, terbakar
di epigastrium tengah dan punggung.

Dari masukan minuman yang mengandung kafein, stimulan sistem saraf pusat parasimpatis
dapat meningkatkan aktivitaas otot lambung dan sekresi pepsin. Selain itu nikotin juga dapat
mengurangi sekresi bikarbonat pankreas, karena menghambat netralisasi asam lambung dalam
duodenum yang lama-kelamaan dapat menimbulkan mual dan muntah.

Peradangan akan menyebabkan terjadinya hiperemis atau peningkatan vaskularisasi, sehingga


mukosa lambung berwarna merah dan menebal yang lama-kelamaan menyebabkan atropi
gaster dan menipis, yang dapatberdampak pada gangguan sel chief dan sel parietal, sel parietal
ini berfungsi untuk mensekresikan faktor intrinsik, akan tetapi karena adanya antibody maka
faktor intrinsik tidak mampu untuk menyerap vitamin B12 dalam makanan, dan akan terjadi
anemia perniciosa (Horbo,2000: 9 ; Smeltzer, 2001 : 1063 – 1066).

5. Komplikasi

a. Gastritis Akut

Gastritis akut dapat disebabkan oleh karena stres, zat kimia misalnya obat-obatan dan alkohol,
makanan yang pedas, panas maupun asam. Pada para yang mengalami stres akan terjadi
perangsangan saraf simpatis NV (Nervus vagus) yang akan meningkatkan produksi asam klorida
(HCl) di dalam lambung. Adanya HCl yang berada di dalam lambung akan menimbulkan rasa
mual, muntah dan anoreksia.
Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel kolumner, yang
berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya. Sedangkan mukus itu fungsinya
untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut tercerna. Respon mukosa lambung karena
penurunan sekresi mukus bervariasi diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan
mukosa gaster terdapat sel yang memproduksi HCl (terutama daerah fundus) dan pembuluh
darah.

Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl meningkat. Anoreksia juga dapat
menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh karena kontak HCl dengan mukosa
gaster. Respon mukosa lambung akibat penurunan sekresi mukus dapat berupa eksfeliasi
(pengelupasan). Eksfeliasi sel mukosa gaster akan mengakibatkan erosi pada sel mukosa.
Hilangnya sel mukosa akibat erosi memicu timbulnya pendarahan.

Pendarahan yang terjadi dapat mengancam hidup penderita, namun dapat juga berhenti sendiri
karena proses regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam waktu 24-48 jam setelah
pendarahan.

b. Gastritis Kronik

Gastritis kronik disebabkan oleh bakteri gram negatif Helicobacter pylori. Bakteri patogen ini
(helicobacter pylori) menginfeksi tubuh seseorang melalui oral, dan paling sering ditularkan dari
ibu ke bayi tanpa ada penampakan gejala (asimptomatik). Sekali bersarang, bakteri
Helicobacter pylori dapat bertahan di perut selama hidup seseorang. Namun, sekitar 10-15
persen individu yang terinfeksi kadang-kadang akan mengalami penyakit luka lambung atau
usus duabelas jari. Kebanyakan luka, lebih sering terjadi di usus duabelas jari daripada di
lambung.

Helicobacter pylori merupakan jenis bakteri Gram negative yang berbentuk spiral dan sangat
cocok hidup pada kondisi kandungan udara sangat minim. Bakteri Helicobacter pylori berkoloni
di dalam lambung dan bergabung dengan luka lambung atau duodenum (lihat gambar). Infeksi
oleh Helicobacter pylori banyak ditemui pada penduduk di negara-negara berstandar ekonomi
rendah dan memiliki kualitas kesehatan yang buruk.
Menempel dan Menginisiasi pembentukan luka

Helicobacter pylori tinggal menempel pada permukaan dalam lambung melalui interaksi antara
membran bakteri lektin dan oligosakarida yang spesifik dari glikoprotein membran sel-sel epitel
lambung. Mekanisme utama dari bakteri ini dalam menginisiasi pembentukan luka adalah
melalui produksi racun VacA.

Racun VacA akan menghancurkan keutuhan sel-sel tepi lambung melalui berbagai cara,
diantaranya adalah melalui pengubahan fungsi endolisosom, peningkatan permeabilitas
parasel, pembentukan pori dalam membran plasma, atau apoptosis (pengaktifan bunuh diri
sel).

Lokasi infeksi Helicobacter pylori di bagian bawah lambung dan mengakibatkan peradangan
hebat, yang sering kali disertai dengan komplikasi pendarahan dan pembentukan lubang-
lubang. Peradangan kronis pada bagian distal lambung meningkatkan produksi asam lambung
dari bagian badan atas lambung yang tidak terinfeksi. Ini menambah perkembangan tukak lebih
besar di usus duabelas jari.

Pada beberapa individu, Helicobacter pylori juga menginfeksi bagian badan lambung. Bila
kondisi ini sering terjadi, menghasilkan peradangan yang lebih luas yang tidak hanya
mempengaruhi borok di daerah badan lambung tetapi juga kanker lambung. Kanker lambung
merupakan kanker penyebab kematian kedua di dunia.

Peradangan di lendir lambung juga merupakan faktor risiko tipe khusus tumor limfa (lymphatic
neoplasm) di lambung, atau disebut dengan limfoma MALT (mucosa associated lymphoid
tissue, jaringan limfoid yang terkait dengan lendir). Infeksi Helicobacter pylori berperan penting
dalam menjaga kelangsungan tumor. Limfoma-limfoma dapat merosot saat bakteri-bakteri itu
dibasmi dengan antibiotik.

Helicobacter pylori hanya terdapat pada manusia dan telah menyesuaikan diri di lingkungan
lambung. Hanya sebagian kecil individu terinfeksi berkembang menjadi penyakit lambung.
Bakteri Helicobacter pylori sendiri sangat beragam dan galur-galurnya berbeda dalam banyak
hal, seperti perekatan ke lendir lambung dan kemampuan menimbulkan peradangan.
Walau pada satu individu terinfeksi, semua bakteri Helicobacter pylori tidak identik, dan selama
jalur infeksi kronis, bakteri menyesuaikan diri terhadap perubahankondisi-kondisi di lambung.

Tukak lambung dan usus duabela jari dapat diobati melalui penghambatan produksi asam
lambung, tetapi sering kali akan kambuh kembali akibat bakteri dan peradangan kronis
lambung tetap ada. Studi Marshall dan Warren menunjukkan bahwa penyakit tukak lambung
itu dapat diatasi hanya bila bakteri dibasmi dari lambung dengan antibiotik.

Namun, penggunaan antibiotik secara serampangan dapat mengakibatkan masalah serius, yaitu
ketahanan bakteri melawan obat-obat penting. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik
melawan Helicobacter pylori pada pasien-pasien yang tidak mengalami tukak lambung dan usus
duabelas jari harus dibatasi.

6. Manifestasi Klinik

a. Gastritis akut erosive

Gastritis akut erosive sangat bervariasi, mulai dari yang sangat ringan asimtomatik sampai
sangat berat yang dapat membawa kematian. Pada kasus yang sangat berat, gejala yang sangat
mencolok adalah :

1) Hematemetis dan melena yang dapat berlangsung sangat hebat sampai terjadi renjatan
karena kehilangan darah.

2) Pada sebagian besar kasus, gejalanya amat ringan bahkan asimtomatis. Keluhan – keluhan
itu misalnya nyeri timbul pada uluhati, biasanya ringan dan tidak dapat ditunjuk dengan tepat
lokasinya.

3) Kadang – kadang disertai dengan mual- mual dan muntah.

4) Perdarahan saluran cerna sering merupakan satu- satunya gejala.


5) Pada kasus yang amat ringan perdarahan bermanifestasi sebagai darah samar pada tinja
dan secara fisis akan dijumpai tanda – tanda anemia defisiensi dengan etiologi yang tidak jelas.

6) Pada pemeriksaan fisis biasanya tidak ditemukan kelainan kecuali mereka yang mengalami
perdarahan yang hebat sehingga menimbulkan tanda dan gejala gangguan hemodinamik yang
nyata seperti hipotensi, pucat, keringat dingin, takikardia sampai gangguan kesadaran.

b. Gastritis kronis

1) Bervariasi dan tidak jelas

2) Perasaan penuh, anoreksia

3) Distress epigastrik yang tidak nyata

4) Cepat kenyang

7. Pemeriksaan Diagnostik

Menurut priyanto, 2006 pemeriksaan diagnostik yang dianjurkan untuk pasien gastritis adalah:

a. Pemeriksaan darah seperti Hb, Ht, Leukosit, Trombosit.

b. Pemeriksaan endoskopi.

c. Pemeriksaan hispatologi biopsy segmen lambung.

8. Penatalaksanaan Medis
a. Pemeriksaan darah

Tes ini digunakan untuk memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam darah. Hasil tes yang
positif menunujukkan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu waktu dalam
hidupnya tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena infeksi. Tes darah dapat
juga dilakukan untuk memeriksa anemia yang terjadi akibat perdarahan lambung karena
gastritis.

b. Uji napas urea

Suatu metode diagnostik berdasarkan prinsip bahwa urea diubah oleh urease H. Pyloridalam
lambung menjadi amoniak dan karbondioksida (CO2). CO2 cepat diabsorbsi melalui dinding
lambung dan dapat terdeteksi dalam udara ekspirasi.

c. Pemeriksaan feces

Tes ini memeriksa apakah terdapat bakteri H. Pylori dalam feses atau tidak. Hasil yang positif
dapat mengindikasikan terjadinya infeksi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah
dalam feses. Hal ini menunjukkan adanya pendarahan dalam lambung.

d. Endoskopi saluran cerna bagian atas

Dengan tes ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang
mungkin tidak terlihat dari sinar-x. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang
kecil yang fleksibel(endoskop) melalui mulut dan masuk ke dalam esofagus, lambung dan
bagian atas usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu dianestesi sebelum endoskop
dimasukkan untuk memastikan pasien merasa nyaman menjalani tes ini. Jika ada jaringan
dalam saluran cerna yang terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel(biopsy)
dari jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tes
ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh
pulang ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang
kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resioko akibat tes ini. Komplikasi yang sering
terjadi adalah rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat menelan endoskop.
e. Rontgen saluran cerna bagian atas

Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya
akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dirontgen. Cairan ini akan
melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di rontgen.

f. Analisis Lambung

Tes ini untuk mengetahui sekresi asam dan merupakan tekhnik penting untuk menegakkan
diagnosis penyakit lambung. Suatu tabung nasogastrik dimasukkan ke dalam lambung dan
dilakukan aspirasi isi lambung puasa untuk dianalisis. Analisis basal mengukur BAO (basal acid
output) tanpa perangsangan. Uji ini bermanfaat untuk menegakkan diagnosis sindrom Zolinger-
Elison(suatu tumor pankreas yang menyekresi gastrin dalam jumlah besar yang selanjutnya
akan menyebabkan asiditas nyata).

g. Analisis stimulasi

Dapat dilakukan dengan mengukur pengeluaran asam maksimal (MAO, maximum acid output)
setelah pemberian obat yang merangsang sekresi asam seperti histamin atau pentagastrin. Tes
ini untuk mengetahui teradinya aklorhidria atau tidak.

B. Konsep Proses Keperawatan

1. Pengkajian

Anamnesa meliputi :

1) Identitas Pasien

a. Nama
b. Usia

c. Jenis kelamin : tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin

d. Jenis pekerjaan : tidak dipengaruhi jenis pekerjaan

e. Alamat

f. Suku/bangsa

g. agama

h. Tingkat pendidikan : bagi orang yang tingkat pendidikan rendah/ minim mendapatkan
pengetahuan tentang gastritis, maka akan menganggap remeh penyakit ini, bahkan hanya
menganggap gastritis sebagai sakit perut biasa dan akan memakan makanan yang dapat
menimbulkan serta memperparah penyakit ini.

i. Riwayat sakit dan kesehatan

1) Keluhan utama

2) Riwayat penyakit saat ini

3) Riwayat penyakit dahulu

2) Pemeriksaan fisik : Review of System

a. B 1 (breath) : takhipnea

b. B 2 (blood) : takikardi, hipotensi, disritmia, nadi perifer lemah, pengisian perifer lambat,
warna kulit pucat.

c. B 3 (brain) : sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran dapat terganggu, disorientasi,


nyeri epigastrum.

d. B 4 (bladder) : oliguri, gangguan keseimbangan cairan.


e. B 5 (bowel) : anemia, anorexia,mual, muntah, nyeri ulu hati, tidak toleran terhadap
makanan pedas.

f. B 6 (bone) : kelelahan, kelemahan

3) Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan darah

Tes ini digunakan untuk memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam darah. Hasil tes yang
positif menunujukkan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu waktu dalam
hidupnya tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena infeksi. Tes darah dapat
juga dilakukan untuk memeriksa anemia yang terjadi akibat perdarahan lambung karena
gastritis.

b. Uji napas urea

Suatu metode diagnostik berdasarkan prinsip bahwa urea diubah oleh urease H. Pylori dalam
lambung menjadi amoniak dan karbondioksida (CO2). CO2 cepat diabsorbsi melalui dinding
lambung dan dapat terdeteksi dalam udara ekspirasi.

c. Pemeriksaan feces

Tes ini memeriksa apakah terdapat bakteri H. Pylori dalam feses atau tidak. Hasil yang positif
dapat mengindikasikan terjadinya infeksi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah
dalam feses. Hal ini menunjukkan adanya pendarahan dalam lambung.

d. Endoskopi saluran cerna bagian atas

Dengan tes ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang
mungkin tidak terlihat dari sinar-x. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang
kecil yang fleksibel(endoskop) melalui mulut dan masuk ke dalam esofagus, lambung dan
bagian atas usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu dianestesi sebelum endoskop
dimasukkan untuk memastikan pasien merasa nyaman menjalani tes ini. Jika ada jaringan
dalam saluran cerna yang terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel(biopsy)
dari jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tes
ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh
pulang ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang
kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resioko akibat tes ini. Komplikasi yang sering
terjadi adalah rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat menelan endoskop.

e. Rontgen saluran cerna bagian atas

Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya
akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dirontgen. Cairan ini akan
melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di rontgen.

f. Analisis Lambung

Tes ini untuk mengetahui sekresi asam dan merupakan tekhnik penting untuk menegakkan
diagnosis penyakit lambung. Suatu tabung nasogastrik dimasukkan ke dalam lambung dan
dilakukan aspirasi isi lambung puasa untuk dianalisis. Analisis basal mengukur BAO (basal acid
output) tanpa perangsangan. Uji ini bermanfaat untuk menegakkan diagnosis sindrom Zolinger-
Elison (suatu tumor pankreas yang menyekresi gastrin dalam jumlah besar yang selanjutnya
akan menyebabkan asiditas nyata).

g. Analisis stimulasi

Dapat dilakukan dengan mengukur pengeluaran asam maksimal (MAO, maximum acid output)
setelah pemberian obat yang merangsang sekresi asam seperti histamin atau pentagastrin. Tes
ini untuk mengetahui teradinya aklorhidria atau tidak.

4) Psikososial
Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta
bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya, kecemasan
terhadap penyakit.

2. Analisa Data dan Pathways

3. Diagnosa Keperawatan

1. Defisit volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat dan output cair yang berlebih (mual dan muntah).

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake
asupan gizi.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

4. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.

5. nyeri berhungangan dengan stress asam lambung.

4. Intervensi Keperawatan

1. Defisit volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat dan output cair yang berlebih (mual dan muntah).

· Tujuan :
Mencegah output yang berlebih dan mengoptimalkan intake cair.

· Kriteria Hasil :

Mempertahankan volume cairan adekuat dengan dibuktikan oleh mukosa bibir lembab, turgor
kulit baik, pengisian kapiler berwarna merah muda, input dan output seimbang.

· Intervensi :

Intervensi

Rasional

Penuhi kebutuhan individual. Anjurkan klien untuk minum (Dewasa : 40-60 cc/kg/jam).

1. Berikan cairan tambahan IV sesuai indikasi. Awasi tanda-tanda vital, evaluasi turgor kulit,
pengisian kapiler dan membran mukosa.

2. Kolaborasi pemberian cimetidine dan ranitidine

3. Intake cairan yang adekuat akan mengurangi resiko dehidrasi pasien.

1. Mengganti kehilangan cairan dan memperbaiki keseimbangan cairan dalam fase segera.
2. Menunjukkan status dehidrasi atau kemungkinan kebutuhan untuk peningkatan
penggantian cairan.

3. Cimetidine dan ranitidine berfungsi untuk menghambat sekresi asam lambung

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake
asupan gizi.

· Tujuan :

· Gangguan nutrisi teratasi

· Kriteria Hasil :

a. Antoprometri: Berat badan, lingkar lengan atas kembali normal.

b. Albumin, hemoglobin normal.

c. Klinis : terlihat segar.

d. Porsi makan habis.

· Intervensi :

Intervensi

Rasional

1. Reduksi stress dan farmakoterapi seperti cytoprotective agent, penghambat pompa


proton, anatasida.
2. Koloborasi transfusi albumin.

3. Konsul dengan ahli diet untuk menentukan kalori / kebutuhan nutrisi .


4. Tambahan vitamin seperti B12.

5. Batasi makanan yang menyebabkan peningkatan asam lambung berlebih, dorong klien
untuk menyatakan perasaan masalah tentang makan diet.

6. Berikan nutrisi melalui IV sesuai indikasi.

1. Stress menyebabkan peningkatan produksi asam lambung, untuk klien dengan gastritis
penggunaan penghambat pompa proton membantu untuk mengurangi asam lambung dengan
cara menutup pompa asam dalam sel lambung penghasil asam. Kemudian untuk penggunaan
cytoprotective agent membantu untuk melindungi jaringan yang melapisi lambung dan usus
kecil. pada klien dengan gastritis antasida berfungsi untuk menetralisir asam lambung dan
dapat mengurangi rasa sakit.

2. Dengan tranfusi albumin diharapkan kadar albumin dalam darah kembali normal sehingga
kebutuhan nutrisi kembali normal.

3. Pemasukan individu dapat dikalkulasikan dengan berbagai perhitungan yang berbeda,


perlu bantuan dalam perencanaan diet yang memenuhi kebutuhan nutrisi.

4. Mencegah terjadinya anemia.

5. Keragu-raguan untuk makan mungkin diakibatkan oleh takut makanan yang menyebabkan
terjadinya gejala.
6. Program ini mengistirahatkan saluran pencernaan sementara , dan memenuhi nutrisi
sangat penting dan dibutuhkan.

3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemaha fisik.

· Tujuan :

Intoleransi aktifitas teratasi.

· Kriteria Hasil :

Klien tidak dibantu oleh keluarga dalam beraktifitas.

Intervensi

Rasional

1. Tingkatkan tirah baring atau duduk dan berikan obat sesuai dengan indikasi.

2. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.

3. Ajarkan klien metode penghematan energy untuk aktivitas (lebih baik duduk daripada
berdiri saat melakukan aktivitas)

1. Tirah baring dapat meningkatkan stamina tubuh pasien sehinggga pasien dapat
beraktivitas kembali.
2. Lingkungan yang nyaman dan tenang dapat mendukung pola istirahat pasien.

3. Klien dapat beraktivitas secara bertahap sehingga tidak terjadi kelemahan.

4. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.

· Tujuan :

Informasi tepat dan efektif.

· Kriteria Hasil :

Klien dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala, perawatan, pencegahan dan
pengobatan.

Intervensi

Rasional

1. Beri pendidikan kesehatan (penyuluhan) tentang penyakit, beri kesempatan klien atau
keluarga untuk bertanya, beritahu tentang pentingnya obat-obatan untuk kesembuhan klien.

2. Evaluasi tingkat pengetahuan pasien.

3. Memberikan pengetahuan dasar dimana klien dapat membuat pilihan informasi tentang
kontrol masalah kesehatan. Keterlibatan orang lain yang telah menerima masalah yang sama
dapat meningkatkan koping , dapat meningkatkan terapi dan proses penyembuhan.

1. Pengkajian/evaluasi secara periodik meningkatkan pengenalan/pencegahan dini


terhadap komplikasi seperti ulkus peptik dan pendarahan pada lambung
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkaijian

2. Identitas

Identitas pasien

Nama : Tn A

Umur : 56 tahun

Jenis kelamin : laki-laki

Pekerjaan : Pedagang

Pendidikan : SD

Status : Kawin

Identitas penanggung jawab

Nama : ny. N

Umur : 27 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Pedagang

Pendidikan : SMA

Status : Kawin

Hubungan dengan pasien : anak

3. Diagnosa Medis : Gastritis


4. Waktu Dan Tempat

Tgl masuk rumah sakit :

Tgl pengkajian :

Tempat Praktik :

5. Riwayat kesehatan

a. Keluhan utama

Saat masuk Rumah sakit : Klien datang Ke IGD RSUD Palabuhanratu jam 19.00 tanggal 19
september 2016 dengan keluhan nyeri pada ulu hati 4 hari yang lalu disertai mual
muntah

b. Saat pengkajian (PQRST) : Pada tanggal 21 september 2016 dilakukan pengkajian, klien
mengeluh nyeri pada ulu hati, dengan skala nyeri 5 disertai mual muntah

c. Keluhan penyerta : Klien mengatakan tidak nafsu makan.

d. Riwayat Kesehatan Dahulu

1) Pernah di rawat di Rumah sakit : Klien mengatakan pernah dirawat di rumah sakit 3 tahun
yang lalu, dengan penyakit yang sama

2) Obat-obatan yang pernah digunakan : Obat-obatan yang sering digunakan ketika di


rumah biasanya obat dari warung.

3) Tindakan (operasi) : Klien mengatakan belum pernah melakukan operasi.

4) Alergi : Klien mengatakan tidak memiliki alergi makanan maupun alergi obat-obatan.

5) Kecelakaan : Klien mengatakan pernah mengalami kecelakaan 3 tahun yang lalu.

6) Imunisasi : Keluarga mengatakan klien di imunisasi pada saat masih kecil.


6. Pola Fungsi Kesehatan

a. Pola Menejemen Kesehatan-Persepsi Kesehatan

1) Tingkat pengetahuan kesehatan/penyakit

Pasien mengatakan pasien tidak mengetahui tentang penyakit yang dideritanya.

2) Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan

Anak pasien mengatakan jika sakit selalu berobat ke puskesmas.

3) Factor factor resiko sehubungan dengan kesehatan

Anak pasien mengatakan pasien sering tidak mau makan.

b. Pola Istirahat Tidur

Sebelum Sakit : Anak pasien mengatakan sebelum sakit kebutuhan tidur pasien
tidak terganggu. Tidur ±7-8 jam. Mulai pukul 21.00-05.00, tidur dengan nyenyak, tidak
gelisah, dan tidak sering terjaga pada malam hari.

Selama Sakit :Anak pasien mengatakan selama sakit kebutuhan tidur pasien terganggu.
Tidurnya tidak teratur, mulai pukul 19.00, kadang hanya 1-2 jam kemudian terbangun,
lalu tidur lagi. Pasien sering merasa gelisah, tidurnya tidak nyenyak, dan sering terjaga
pada malam hari karena nyeri pada perutnya dan pasien merasa nyei pada luka di
bokongnya.

c. Pola Nutrisi Metabolik

Sebelum Sakit :Anak pasien mengatakan, sebelum sakit makan dan minum
pasien tidak mengalami masalh. Makan 3x/hari dengan nasi, sayur, dan lauk dan habis 1
porsi. Tidak mula dan tidak muntah. Minum ± 6-8 gelas/hari.
Selama Sakit :Anak pasien mengatakan, selama sakit nafsu makan pasien
menurun. Makan 3x/hari namun sedikit sedikit dan tidak habis. Kadang pasien mengeluh
mual dan ingin muntah. Minum hanya sedikit, 3-4 gelas/hari.

d. Pola Eliminasi

Sebelum Sakit :Anak pasien mengatakan, sebelum sakit BAB pasien teratur,
1x/hari, tidak keras dan tidak cair. BAK sering, 5-6x/hari dan tidak nyeri saat BAK.

Selama Sakit :Anak pasien mengatakan, selama sakit BAB pasien tidak teratur, kadang 3
hari baru BAB. BAK hanya sedikit.

Pasien terpasang kateter, urin hanya sekitar 300 cc/hari.

e. Pola Kognitif Perseptual

Sebelum sakit :Anak pasien mengatakan pasien dapat berkomunikasi dengan baik
dengan orang lain, dan mengerti apa yang dibicarakan ,berespon dan berorientasi dengan
baik dengan orang-orang sekitar”.

Selama sakit : Anak pasien mengatakan selama sakit pasien masih dapat
berkomunikasi dan berespon dengan baik. Akan tetapi selama sakit pasien jarang
berbicara, berbicara hanya seperlunya saja.

f. Pola Konsep Diri

Gambaran diri : Anak pasien mengatakan pasien tidak pernah mengeluh dengan
kondisi tubuhnya.

Identitas diri : Anak pasien mengatakan pasien masih dapat mengenali dirinya
sendiri.

Peran diri : Anak pasien mengatakan pasien berperan sebagai ibu rumah tangga
dan bekerja sebagai pedagang.
Ideal diri : Anak pasien mengatakan pasien selalu mengatakan ingin hidup dengan
baik, sehat, dan ingin melihat anaknya bahagia. Dan saat ini ibu berharap ingin cepat
sembuh.

Harga diri : Anak pasien mengatakan di rumah pasien sangat dihargai oleh anak,
menantu, dan keluarga.

g Toleransi Stres Koping

Sebelum sakit : Anak pasien mengatakan jika mengalami masalah pasien selalu
bercerita dengan anak anaknya atau keluarganya dan menyelesaikan masalah secara
bersama sama.

Selama sakit : Anak pasien mengatakan selama sakit jika mengalami masalah masih
selalu bercerita pada anaknya. Dan jika merasa tidak nyaman atau sakit pasien selalu
mengatakan pada anaknya.

h.Pola reproduksi-seksualitas

Pasien berjenis kelamin perempuan. Suami pasien sudah meninggal. Pasien memiliki 2 anak
perempuan.

i. Pola Hubungan peran

Sebelum sakit : Anak pasien mengatakan hubungan pasien dengan anak anaknya
maupun keluarga lainnya sangat baik dan tidak ada masalah. Pasien berperan sebagai ibu
rumah tangga dan bekerja sebagai pedagang.

Selama sakit : Anak pasien mengatakan hubungan pasien dengan anak dan
keluarganya tetap baik dan tidak ada masalah. Selama sakit pasien dirawat di rumah sakit
sehingga tidak bisa bekerja seperti biasanya.

j Sebelum sakit : Anak pasien mengatakan sebelum sakit pasien selalu sholat 5 waktu.
Selama sakit : Anak pasien mengatakan selama sakit pasien belum pernah sholat karena
kondisi sakitnya.

. Pola Nilai dan Keyakinan

7. Pemeriksaan Fisik

a. Sistem pernafasan

Tidak nampak retraksi dada, bentuk dada simetris, tak nampak penggunaan otot
bantu nafas, tidak ada massa, pola nafas normal. fokal fremitus normal, tidak ada nyeri
tekan, tidak teraba massa. suara paru sonor. suara paru vesikuler, tidak terdengar
wheezing dan ronkhi

b. Sistem kardiovaskular

Tidak nampak retraksi dada, bentuk dada simetris, tak nampak penggunaan otot
bantu nafas, tidak ada massa, ictus cordis tampak pada itercosta ke 5, tidak ada nyeri
tekan, tidak teraba massa, pulse teraba kuat, batas-batas jantung normal, suara redup,
suara paru reguler, tidak terdengar gallop.

c. Sistem pencernaan .

abdomen flat, simetris, auskultasi gaster normal, peristaltik usus 5x/ menit. Suara
lambung tympani, batas hepar normal, ada nyeri tekan di abdomen bagian kiri, tidak
terasa pembesaran hepar, tak teraba adanya massa. Mukosa Bibir tampak kering. Lidah
tampak putik dan kotor.

d. Sistem perkemihan

Karakteristik urine/BAK jernih, frekuensi 2-3 sehari,tidak ada nyeri pinggang, tidak
terpasang alat bantu BAK, tidak ada darah, bau khas, tidak ada benjolan.

e. Sistem endokrin

Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfatik


f. Sistem genetalia

Klien tidak terpasang DC

g. Sistem musculoskeletal

Pergerakan sendi normal, kekuatan otot penuh, tidak ada edema, turgor kulit baik, tidak
ada deformitas, tidak ada nyeri gerak, nyeri tekan, tidak ada pembengkakan pada
sendi,tidak menggunakan alat bantu, tidak ada fraktur, kemampuan ADL mandi,
berpakaian, eliminasi, mobilisasi di tempat tidur, pindah, ambulasi normal.

h. Sistem integumen

Turgor kulit baik, tidak ada sianosis/anemis, warna kulit sawo matang, tidak ada luka, tak
ada edema, tidak ada memar, benjolan,lesi.

i. Sistem persarafan

Tidak ada tremor, reflex cahaya pupil bagus, pupil isokor 3 mm, gerak bola mata bebas ke
segala arah, GCS 15, Kesadaran compos mentis, orientasi waktu, tempat, orang normal.
Brudzinki negatif, kaku kuduk negatif.

8. Terapi Obat

a. Peroral : Sukralfat, Paracetamol

b. Parenteral : RL/12 jam

JENIS TERAPI
RUTE TERAPI

DOSIS

INDIKASI TERAPI

Omeprazole inj

Parenteral (IV)

2 x 1 amp

Pengobatan anti emetik

Ondansentron inj

Parenteral (IV)

3 x 1 amp

Pengobatan anti mual

Paracetamol Oral

3 x 500 mg

Pengobatan anti piretik

SukralfatOral

3 x 1 cth

Pengobatan anti tukak duodenum

9. Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium darah, urine, feses

b. Pemeriksaan Rontgen
Tanggal

Jenis Pemeriksaan

Hasil Pemeriksaan

Nilai Normal

HB

14,1

12-16 gram/ dl

Leukosit

9800
4500-10000 sel/mm

Hematokrit

42

40-48%

Trombosit

302.000

150.000-400.000 sel/mm

Eritrosit

4,42
4,6-6,2juta sel/mm

10. Informasi Tambahan

Informasi tindakan pembedahan/riwayat telah dilakukan tindakan medis)

B. Analisa Data Keperawatan

Waktu

Symptom/Signs

Etiologi

Problem

Hari/Tanggal

DS :

§ Pasien mengatakan “nyeri di ulu hati”

§ Anak pasien mengatakan selama sakit kebutuhan tidur pasien terganggu. Tidurnya tidak
teratur, mulai pukul 19.00, kadang hanya 1-2 jam kemudian terbangun, lalu tidur lagi. Pasien
sering merasa gelisah, tidurnya tidak nyenyak, dan sering terjaga pada malam hari karena nyeri
pada perutnya

DO :

§ Keadaan Umum : Lemah, gelisah, wajah terlihat menahan nyeri.

§ RR : 32x/menit.

§ Irama nafas irregular

§ P : nyeri timbul saat makan Q: nyeri terasa seperti mau muntah R: nyeri di ulu hati S: 4 T:
hilang timbul.

§ Nyeri tekan pada daerah ulu hati

§ Leukosit 18.100/cmm

DS :

§ pasien merasa nyeri pada luka di bokonnya.

DO :

§ TD : 91/61 mmHg, Suhu : 38,8°C , RR : 32x/menit.

§ Terdapat luka di daerah bokong atas, luka lembab, kemerahan di daerah sekitar luka.

§ Akral hangat

§ Leukosit 18.100/cmm

Agen cedera biologis (Peradangan pada mukosa lambung)


Pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat (integritas kulit tidak utuh)

Nyeri akut
Risiko infeksi
C. Diagnosa Keperawatan

Nama Pasien : Tn. A Ruang/Unit :

No. Register : 144766 D. Medis : Gastritis

No Dx

Prioritas Diagnosa Keperawatan

1.

2.

Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (peradangan pada mukosa lambung)

Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat (integritas
kulit tidak utuh)

D. Intervensi Keperawatan

Tgl/Waktu

No. Dx
Tujuan Keperawatan

( NOC )

Rencana Tindakan

( NIC )

TTD/ Nama

1.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam, diharapkan nyeri berkurang sampai
dengan hilang dengan criteria hasil:

Pain Control :

7. Pasien dapat mengontrol nyeri

8. Pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang

9. Frekuensi nafas dbn (16-24x/menit)

10. Skala 0-1 dari 4

11. Pasien tidak gelisah

12. Leukosit dbn (4000-10.000 /cmm)


Pain Management :

1. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

2. Kaji nyeri secara komprehensif meliputi ( lokasi, karakteristik, dan onset, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri )

3. Kaji skala nyeri

4. Gunakan komunikasi terapeutik agar klien dapat mengekspresikan nyeri

5. Kaji factor yang dapat menyebabkan nyeri timbul

6. Anjurkan pada pasien untuk cukup istirahat

7. Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri

8. Monitor tanda tanda vital

9. Ajarkan tentang teknik nonfarmakologi (relaksasi) untuk mengurangi nyeri

10. Jelaskan factor factor yang dapat mempengaruhi nyeri

11. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat

2.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam, diharapkan tidak terjadi infeksi,
dengan criteria hasil :

Risk Control :

1. Suhu tubuh dbn (36-37°C )

2. Frekuensi nafas dbn (!6-24x/menit)

3. Tidak terjadi infeksi lebih laanjut

4. Tidak ada tanda tanda inflamasi (rubor, dolor, kalor, tumor, fungsiolesa)

5. Pasien dan keluarga mengetahui tindakan yang tepat untuk mencegah infeksi

6. Pasien dan keluarga dapat mengetahui tanda dan gejala infeksi

7. Pasien dan keluarga dapat mengetahui cara perawatan luka yang tepat

8. Integritas kulit membaik

Infection Control :

1. Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan, panas, nyeri, tumor.

2. Kaji tanda tanda vital

3. Lakukan teknik perawatan luka yang tepat

4. Tingkatkan nutrisi dan cairan

5. Monitor temperature tubuh

6. Gunakan srategi untuk mencegah infeksi nosokomial

7. Anjurkan untuk istirahat yang adekuat

8. Batasi pengunjung bila perlu


9. Ajarkan pada klien dan keluarga cara perawatan luka yang tepat

10. Jelaskan pada klien dan keluarga bagaimana mencegah infeksi

11. Jelaskan pada klien dan keluarga tanda dan gejala infeksi

12. Anjurkan dan ajarkan pada klien dan keluarga mencuci tangan dengan sabun

13. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat

E. Implementasi Keperawatan

Waktu

No. Dx

Implementasi

Respon

TTD/ Nama

Tgl
Jam
14.00

14.15
14.30

16.00

17.00

18.00

19.00
19.30

20.00

20.30

21.00
07.00

08.00
09.30

10.00

10.25

1&2
1

1&2

2
2

1&2
1&2
2

Menanyakan keluhan yang dirasakan klien


Mengukur TD, Suhu, menghitung nadi, RR

Melihat ekspresi wajah nyeri klien untuk menentukan skala nyeri

Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam pada pasien untuk mengurangi nyeri

Menganjurkan klien untuk beristirahat

Memberikan injeksi ranitidin 25 mg

Menganjurkan pada keluarga untuk memberikan makan pasien sedikit sedikit tapi sering dan
menganjurkan untuk minum yang cukup

Melihat luka di bokong pasien, mencatat adanya kemerahan di sekitar luka atau adanya tanda
tanda inflamasi lainnya

Menjelaskan pada pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi serta bagaimana cara
mencegah terjadinya infeksi

Mengukur TD, suhu, menghitung nadi dan RR


Mengecek urin output

Memberikan injeksi furosemid 20 mg

Melihat kondisi pasien dan menanyakan keluhan yang dirasakan pasien

Menganjurkan pada pasien untuk segera tidur

Menanyakan pada keluarga pasien kondisi dan keluhan pasien

Memberikan pengertian pada keluarga pasien, mengakhiri tindakan (mengucapkan terimakasih


dan salam)

Menutup tirai dan membatasi pengunjung


Mengukur TD, suhu, menghitung nadi dan RR

Menayakan kondisi dan keluhan pasien

Menanyakan pada keluarga makan dan minum pasien

Melakukan perawatan luka pada pasien

Mengajarkan pada keluarga teknik perawatan luka yang tepat

Menjelaskan pada pasien dan keluarga mengenai factor factor yang dapat menimbulkan nyeri
dan memperparah nyeri
Memberikan injeksi ranitidin 25 mg

Persiapan pasien akan dipindahkan

DS : pasien mengatakan nyeri pada perutnya

DO : pasien terlihat lemah dan wajah terlihat menahan nyeri

DO : TD : 110/70mmHg

Nadi : 95x/menit

Suhu : 38,8°C

RR : 32x/menit

DO : skala nyeri 4

DS : Pasien mengatakan nyeri sedikit berkurang

DS : pasien mengatakan “iya”

DO : pasien terlihat gelisah

DO : obat ranitidine 25 mg masuk melalui inj.selang infus

DS : keluarga pasien mengatakan pasien hanya mau makan sedikit karena perutnya merasa
nyeri dan mual

DS : keluarga pasien mengatakan “mbak ini lukanya lembab”

DS : pasien mengatakan nyeri pada lukanya


DO :luka lembab, kemerahan di daerah sekitar luka

DS : keluarga pasien mengatakan “iya mbak, saya mengerti. Terimakasih”

DO : TD : 124/89 mmHg

Suhu : 36,4°C

Nadi : 68x/menit

RR : 28x/menit

Urin : 300 cc

DO : Obat furosemid 20 mg masuk melalui inj.selang infuse

DS : keluarga pasien mengatakan “terimakasih mbak”

DS : keluarga pasien mengatakan pasien sering terlihat gelisah dan mengatakan pasien sering
mengeluh merasa tidak nyaman/nyeri pada perutnya

DO : skala nyeri 3, pasien terlihat gelisah

DS : pasien mengatakan “iya”

DS : keluarga pasien mengatakan pasien masih terlihat gelisah dan sulit tertidur. Pasien juga
mengeluh perutnya masih terasa tidak nyaman dan kadang nyeri pada luka di bokongnya

DS : keluarga pasien mengatakan “sama sama mbak, dan terimakasih juga’

DO : TD: 127/88 mmHg

Nadi : 71x/menit

Suhu : 37,1°C

RR : 26x/menit

DS : pasien mengatakan perutnya kadang kadang masih terasa nyeri, dan lukanya perih
DS : keluarga pasien mengatakan tadi malam pasien terlihat gelisah dan beberapa kali
terbangun

DS : keluarga pasien mengatakan pasien sudah makan, namun hanya sedikit karena pasien
masih mengeluh mual, minum sudah 1 gelas (240 cc)

DS : pasien mengeluh nyeri

DO : luka masih lembab, masih kemerahan di sekitar luka

DS : keluarga pasien mengatakan “iya mbak, saya mengerti. Terimakasih”

DS : pasien mengatakan “Iya”

DO : obat ranitidin 25 mg masuk melalui inj.selang infus

DS : Keluarga pasien mengatakan “terimakasi

F. Evaluasi Keperawatan

Waktu

Dx. Keperawatan

Evaluasi

TTD/Nama
Hari/Tgl

Jam

17.00

Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis

(peradangan pada mukosa lambung )

Risiko Infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer tidak adekuat (integritas kulit
tidak utuh )
DS : Pasien mengatakan perutnya kadang masih terasa nyeri

DS : P : nyeri timbul ketika makan Q : nyeri seperti mau muntah R: nyeri di daerah ulu hati T :
nyeri hilang timbul

DO : Skala : 3

Wajah terlihat gelisah

A : Tujuan belum tercapai

P : lanjutkan intervensi

( 1-11)

DS : pasien mengatakan lukanya masih terasa perih

DO : luka lembab dan masih kemerahan di daerah sekitar luka

A : Tujuan belum tercapai

P : Lanjutkan intervensi

(1, 2, 3, 4, 5, 13)

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Gastritis atau lebih dikenal sebagai magh berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti
perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan. Gastritis bukan merupakan penyakit
tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan
peradangan pada lambung. Biasanya, peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi oleh
bakteri yang sama dengan bakteri yang dapat mengakibatkan borok di lambung yaitu
Helicobacter pylori.

Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung ini kewalahan dan mengakibatkan rusak
dan meradangnya dinding lambung.

Gastritis yang terjadi tiba – tiba (akut) biasanya mempunyai gejala mual dan sakit pada perut
bagian atas, sedangkan gastritis kronis yang berkembang secara bertahap biasanya mempunyai
gejala seperti sakit yang ringan pada perut bagian atas dan terasa penuh atau kehilangan
selera. Bagi sebagian orang, gastritis kronis tidak menyebabkan apapun.

Pada gastritis akut zat iritasi yang masuk ke dalam lambung akan mengiitasi mukosa lambung.
Sedangkan pada gastritis kronik disebabkan oleh bakteri gram negatif Helicobacter pylori.
Bakteri patogen ini (helicobacter pylori) menginfeksi tubuh seseorang melalui oral, dan paling
sering ditularkan dari ibu ke bayi tanpa ada penampakan gejala (asimptomatik).

B. Saran

v Diharapkan kita dapat menjaga lambung kita dari makanan dan minuman yang masuk ke
tubuh agar tidak terinfeksi oleh bakteri Helicobacter pylori. Penyebab yang lain yang dapat
menimbulkan gastritis adalah stres fisik, bila stres meningkat maka produksi HCL (asam
lambung) yang mengakibatkan pH dalam lambung menjadi asam sehingga dapat merusak
lapisan lambung, oleh karena itu disarankan untuk tidak menyepelekan stres tersebut.

v Dengan penjabaran mengenai pencegahan gastritis, diharapkan kita lebih berhati-hati


terhadap makanan maupun faktor lain yang menyebabkan resiko infeksi pada lapisan lambung.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes,Marilyn.E.dkk.2006.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan


Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI
Bruner & Sudart, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 2, Edisi 8, EGC, Jakarta