Anda di halaman 1dari 5

STUDI KASUS BAB 2

Bisnis Elektronik (E- Business ) dan Kerja Sama Global

Kelompok 6 : 1. Aizatul Aulia (201512134)

2. Hilma Vinata Sari (201812073)

3. Basma (201812119)

4. Aila Fernanda Rizkia (201812126)

5. Aida Khoerus Shofa (201812131)

6. Fitri Hardiyanti (201812132)

7. Tasya Dian Salsabela (201812149)

Kelas : Akuntansi 2C

Mata Kuliah : Sistem Informasi Manajemen


STUDI KASUS 1

“DAPATKAH PERUSAHAAN PENERBANGAN MENYELESAIKAN MASALAH


KAPASITAS BAGASI MEREKA?”

PERTANYAAN STUDI KASUS 1

1. Transaksi seperti apa yang dilayani sistem penanganan bagasi?


 Transaksi yang dilayani sistem penanganan bagasi yaitu pihak bandara melakukan
check in barang bawaan penumpang kemudian barang bawaan penumpang ditandai
dengan barcode yang bisa dibaca komputer sistem penanganan bagasi,kemudian
barcode tersebut dipindai untuk menentukan kemana barang akan dikirim. Setelah di
scan, sistem akan mengetahui di manapun barang bawaan penumpang berada.
2. Komponen manajemen,organisasi dan teknologi apa saja yang terlibat dalam sistem
penanganan bagasi?
 Komponen Manajemen :
a. Sistem administrasi dan operasional: pegawai bandara penerima barang bawaan.
b. Sistem pelaporan manajemen: data yang dimasukkan ke dalam sistem,yang
mencantumkan tentang semua hal/transaksi barang yang ada pada bagian check
in bandara.
c. Sistem database : kumpulan dari data transaksi barang.
d. Sistem pencarian: data bagasi yang telah dicatat dan masuk ke dalam sistem,
maka akan dapat dicari dan ditelusuri informasi mengenai barang tersebut.
Komponen Teknologi :
Pada sistem penanganan bagasi, banyak teknologi yang terlibat diantaranya, berbagai
jenis sensor,actuator (alat pemindah barang menggunakan daya listrik), perangkat
mekanik dan komputer. Sistem tersebut menggunakan 3 juta baris bahasa
pemrograman. Dan melibatkan beberapa teknologi yang telah dimutakhirkan,
DCVs,scanner barcode otomatis,radio frequency identification, serta alat pembawa
barang berteknologi tinggi yang dilengkap dengan meja penyortir.
3. Masalah apa yang coba dipecahkan oleh sistem penanganan bagasi? Diskusikan dampak
bisnis dari masalah ini. Apakah sistem penanganan bagasi yng dikembangkan saat ini adalah
jawaban atas pesoalan tesebut?
 Ya ,karena dari sistem penanganan bagasi ini dapat meminimalisir pelayanan bagasi
yang buruk,keterlambatan barang bawaan dan tingginya angka kehilangan barang
bawaan.
4. Laporan manajemen seperti apa yang dapat dihasilkan dari sistem penanganan bagasi ini?
 Laporan periodis : laporan dihasilkan dalam selang waktu seperti
harian,mingguan,bulanan.
Laporan perkecualian dimana laporan yang hanya muncul kalau terjadi keadaan yang
normal.
Laporan perbandingan: laporan yang menunjukkan dua/lebih himpunan info yang
serupa.
STUDI KASUS 2

“MENGENDALIKAN PROCTER & GAMBLE MELALUI DECISION COCKSPITS”

PERTANYAAN STUDI KASUS 2

1. Dengan pengimplementasian Business Sufficiency,Business Sphere,dan Decisin Cockpit


masalah-masalah manajemen,organisasi,dan teknologi apa saja yang harus dipecahkan?
 Pada data penjualan dalam suatu negara , wilayah jalur distribusi produk, serta tingkat
pengecer ,berikut dengan pemicunya seperti periklanan dan daya konsumsi
masyarakat yang menjadi faktir spesifik data ekonomi suatu wilayah dan negara ,
mengurangi kerumitan terkait penyusunan laporan statistik,untuk penghematan biaya
pemeliharaan data dengan menggunakan menggunakan serangkaian data
terstandarisasi pda seluruh perusahaan,yang menghindarkan perusahaan dari kesalah
duplikasi dan penggandaan data.
2. Bagaimana perangkat pendukung pengambilan keputusan mengubah cara perusahaan
menjalankan bisnis? Seberapa efektif perangkat tersebut? Mengapa atau mengapa tidak?
 Program tersebut dikembangkan berdasarkan serangkaian model analisis yang
menunjukkan apa yang terjadi dengan organisasi bisnis saat ini (pengiriman,
penjualan, pangsa pasar). Mengapa hal-hal tersebut terjadi, serta tindakan apa yang
perlu diambil oleh P&G. Model program “Mengapa” bersumber pada data penjualan
dalam suatu negara,wilayah,jalur distribusi produk,serta tingkat pengecer,berikut
dengan pemicunya seperti periklanan dan daya konsumsi masyarakat , yang menjadi
faktor spesifik data ekonomi suatu wilayah dan negara.
3. Bagaimana hubungan sistem-sistem ini dengan strategi bisnis yng dijalankan P&G ?
 Saat ini P&G dapat mengakses data penjualan,persediaan,biaya iklan serta data
pengiriman yang berasal dari kejadian 1 tahun yang lalu secara lebih cepat dan lebih
sering. Peningkatan pada perangkat analisis yang didanai perusahaan mengartikan
informasi yang sama akan disajikan secara lebih terperinci dan spesifik. Diperusahaan
P&G, Business Sphere kebanyakan digunakan oleh manajer kelas atas dan kalangan
eksekutif, tetapi perusahaan memutuskan untuk memperluas prinsip yang sama secara
lebih mendalam kebidang bisnisnya.
STUDI KASUS 3

“HARUSKAH PERUSAHAAN MERANGKUL PELAKU BISNIS JEJARING SOSIAL?”

PERTANYAAN STUDI KASUS

1. Identifikasi faktor-faktor di bidang tekniologi,manajemen ,dan organisasi yang bertyanggung


jawab terhadap lambatnya tingkat penyerapan pengetahuan di bidang jejaring sosial internal
perusahaan.
 Faktor-faktor yang bertanggung jawab terhadap lambatnya tingkat penyerapan
pengetahuan di bidang jejaring sosial internal perusahaan.
a) Bidang Teknologi
Lambatnya tingkat penyerapan pengetahuan jejaring sosial internal perusahaan
di bidang teknologi dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan perusahaan
masih dalam tahapan yang berkembang, sehingga membuat karyawan masih
belum memahami, belum bisa menerapkan teknologi tersebut dan mereka
beranggapan bahwa teknologi tersebut sangat sulit dipelajari.
b) Bidang Manajemen
Lambatnya tingkat penyerapan pengetahuan jejaring sosial internal perusahaan
di bidang manajemen adalah kurangnya dorongan untuk menggunakan aplikasi
atau jejaring sosial karena manajemen cenderung hanya menyediakan fasilitas
berupa aplikasi atau jejaring sosial tersebut tanpa harus mewajibkan para
karyawan untuk menggunakan fasilitas tersebut.
c) Bidang Organisasi
Lambatnya tingkat penyerapan pengetahuan jejaring sosial internal perusahaan di
bidang Organisasi adalah mayoritas kalangan professional di bidang bisnis
teknologi menganggap kinerja jejaring sosial internal yang dimiliki hanya biasa-
biasa saja, bahkan dibawah rata-rata. Karyawan juga terbiasa menjalankan
kegiatan bisnis dengan cara konvensional, dan beresiko menghadapi kelambanan
dalam kinerja organisasi yang akan menimbulkan kesulitan karena para karyawan
beranggapan waktunya terlalu sedikit untuk mempelajari aplikasi baru tersebut.
2. Mengapa perusahaan yang di jelaskan dalam kasus kali ini berhasil menerapkan teknologi
jejaring sosial internal pada perusahaan mereka? Jelaskan jawaban anda.
 Perusahaan yang dijelaskan dalam kasus kali ini dapat berhasil menerapkan teknologi
jejaring sosial internal pada perusahaan mereka karena terdapat beberapa faktor:
a. Jejaring sosial yang dimiliki dapat menjembatani komunitas internal dan eksternal
sehingga memudahkan perusahaan untuk berhubungan dengan pemasok, mitra ,
dan pelanggan dari luar perusahaan.
b. Perangkat lunak yang di gunakan selalu berinovasi sehingga teknologi yang
dimiliki dapat bersaing dengan pasar pada umumnya
c. Jejaring sosial internal dapat mempermudah kerjasama tim walupun meraka
terdapta di zona waktu berbeda sehingga berdampak langsung pada proses
peningkatan pendapatan perusahaan.
d. Perangkat jejaring sosial internal dapat menekan biaya komunikasi antara para
manager dan karyawan yang tersebar di berbagai belahan dunia. Selain itu memiliki
fasilitas lenih efisien dalam menemukan konten yang dibutuhkan.

3. Apakah setiap perusahaan perlu menerapkan jejaaring sosial perusahaan? Mengapa atau
mengapa tidak?
 Iya, karena banyak hal positif yang dapat diperoleh dari penggunaan jejaring sosial
tersebut bagi perusahaan, seperti halnya mengefisiensi biaya, mempermudah
komunikasi baik antar karyawan maupun antar klien yang berada di berbagai tempat
yang berbeda, mempermudah menyebarluaskan segala informasi baik internal
maupun eksternal perusahaan, memperluas akses pasar perusahaan.