Anda di halaman 1dari 14

KARAKTERISTIK ARANG AKTIF TONGKOL JAGUNG

(Zea mays Linn) DENGAN PENAMBAHAN ASAM FOSFAT (H3PO4)


PADA BEBERAPA VARIASI SUHU AKTIVASI

Characteristics Of Activated Charcoal From Corn cob


(Zea mays Linn) by Phosphoric Acid (H3PO4)
at Several Activation Temperature activation

Firda Indariani. 1) Febriana Tri Wulandari, S.Hut.,MP.2) Dwi Sukma Rini, S.Hut.,M.Sc.2)
Unit Pelaksana Program Studi Kehutanan UNRAM
1) Mahasiswa Program Studi Kehutanan UNRAM
2) Dosen Pembimbing Program Studi Kehutanan UNRAM
E-mail : Firdaindariani00@gmail.com

RINGKASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik arang aktif tongkol jagung, serta
mengetahui bagaimana pengaruh penambahan asam fosfat (H 3PO4) dan variasi suhu
aktivasi terhadap karakteristik arang aktif tongkol jagung. Penelitian ini menggunakan
metode eksperimental dengan RAL Faktorial. Faktor yang digunakan adalah
penambahan H3PO4 (Konsentrasi 0% dan 10%) dan faktor suhu (300 0C, 400 0C dan
500 0C). Hasil penelitian dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) pada
taraf nyata 5%. Jika diantara perlakuan ada yang berbeda nyata, maka dilakukan uji
lanjut dengan menggunakan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa, karakteristik arang aktif tongkol jagung dengan
menggunakan aktivasi kimia dan fisika memiliki nilai rata-rata rendemen 45,18%, kadar
air 1,95%, zat terbang 67,68%, zat abu 16.05%, karbon terikat 16,30 dan daya serap
iod 201,63 mg/gr. Interaksi penambahan H3PO4 dengan suhu aktivasi berpengaruh
nyata terhadap nilai rendemen. Sedangkan penambhan H3PO4 berpengaruh nyata
terhadap nilai rendemen, kadar zat terbang, kadar zat abu, dan kadar karbon terikat.
Variasi suhu aktivasi berpengaruh nyata terhadap nilai rendemen, kadar zat abu dan
daya serap iod.

Kata Kunci : Tongkol jagung, arang aktif, asam fosfat (H3PO4), suhu aktivasi.

1
SUMMARY

This study aims to determine the characteristics of activated charcoal from corn cob, as
well as to find out how the effect of addition of H3PO4 and activation temperature
variations on the characteristics of corn cobs activated charcoal. This study used
experimental methods with Factorial RAL. The factors used were the addition of H 3PO4
(0% and 10% concentration) and temperature factors (300 0C, 400 0C and 500 0C). The
results were analyzed using analysis of Variance (ANOVA) at the 5% significant level. If
there was a significant difference, then tested further using Duncan’s Multiple Range
Test (DMRT). The results showed that the characteristics of corn cobs activated
charcoal using chemical and physical activation had an average yield of 45,18%,
moisture content 1,95%, volatil matter 67,68%, ash content 16.05%, fixed carbon to
16,30 and the absorption of iodine 201,63 mg/gr. The interaction of addition of H 3PO4
with activation temperature significantly affected the yield. While the addition of H 3PO4
has a significant effect on the yield value, volatil matter, ash content and fixed carbon.
The variation of activation temperature has a significant effect on yield, ash content and
absorption of iodine.

Keyword : Corn cob, activated charcoal, phosphoric acid (H3PO4), temperature


activation.

2
1. PENDAHULUAN kw/ha pada tahun 2014. Jika dalam 1 ha
dapat ditanami jagung sebanyak
250.000 batang dengan jarak tanam 20
Jagung merupakan salah satu jenis cm x 20 cm dan dalam satu batang
tanaman pangan biji-bijian dari keluarga jagung dapat menghasilkan maksimal 2
rumput-rumputan dan merupakan buah jagung, maka dalam sekali panen
tanaman semusim (Rizky, 2015). 1 ha dapat menghasilkan 500.000
Tanaman jagung mempunyai daya tongkol jagung. Berdasarkan informasi
adaptasi yang tinggi baik di daerah yang diperoleh dari petani, biasanya
subtropik ataupun tropik. Tanaman tongkol jagung hanya digunakan
jagung termasuk sumber pangan kedua sebagai pakan ternak, bahan bakar
setelah padi. Tanaman jagung banyak memasak penduduk di sekitar pertanian
tersebar di Indonesia. Umumnya dalam jumlah yang sedikit. Sehingga
tanaman jagung banyak dijumpai di masih banyak tongkol jagung yang tidak
daerah dataran rendah maupun dataran dapat dimanfaatkan dan berakhir
tinggi, pada lahan sawah atau tegalan, menjadi limbah. Apabila tidak diolah
dengan suhu optimal antara 21-340C, dengan baik, maka tumpukan limbah
dengan PH tanah antara 5,6-7,5 dan dapat mencemari lingkungan karena
dapat tumbuh pada ketinggian antara belum terdegradasi.
1000-1800 m dpl (Budidaya Tanaman
Pangan, 2009). Jagung dapat dijadikan Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan
makanan pokok terutama di daerah upaya pemanfaatan limbah jagung agar
Timur. Salah satu daerah yang banyak memiliki nilai tambah dan tidak
dijumpai jagung adalah di daerah Nusa mencemari lingkungan. Salah satu
Tenggara Barat, khususnya di langkah yang bisa dilakukan adalah
Kabupaten Sumbawa, Dompu, Bima mengkonversi tongkol jagung menjadi
dan Lombok. arang aktif. Arang aktif merupakan
arang yang diproses secara fisika atau
Menurut Data Biro Pusat Statistik NTB kimia sehingga mempunyai daya serap
(2015), produksi jagung berdasarkan atau adsorpsi yang tinggi. Arang aktif
angka tetap 2014 adalah sebesar dapat dibuat dari bahan yang
785.864 ton pipilan kering, jumlah mengandung karbon (Aisiyah, 2016).
produksi ini mengalami peningkatan Tongkol jagung berpotensi dijadikan
dibandingkan dengan produksi pada arang aktif karena memiliki kandungan
tahun 2013 yang mencapai angka senyawa karbon yang cukup tinggi,
633.733 ton. Peningkatan jumlah yaitu 40% selulosa, 36% hemiselulosa
produksi ini disebabkan karena dan 16% lignin yang mengindikasikan
meningkatnya luas panen jagung tahun bahwa tongkol jagung berpotensi
2014 dibandingkan dengan tahun 2013. sebagai bahan pembuat arang aktif
Pada tahun 2014 luas panen meningkat (Anonim, 2003 Cit. Choiriyah, 2010).
sebanyak 16,304 ha, yaitu dari 110,273
ha menjadi 126,577 ha. Naiknya Penelitian mengenai pembuatan arang
produksi ini juga disebabkan oleh aktif tongkol jagung sudah banyak
naiknya produktivitas jagung. Produksi dilakukan baik menggunakan aktivasi
jagung meningkat 8,03 % dari 57,47 kimia maupun aktivasi fisika (Aisiyah,
kw/ha pada tahun 2013 menjadi 62,09 2016, Sukarta, 2014, Isa, 2012, Suryani,

3
2009, Fahrizal, 2008). Pembuatan arang 2. METODE DAN BAHAN
aktif tongkol jagung pada penelitian- Metode
penelitian sebelumnya menggunakan Metode penelitian yang digunakan
aktivasi kimia berupa bahan NaOH dan dalam penelitian ini yaitu metode
KOH, selain dari bahan kimia tersebut, penelitian eksperimen. Penelitian
aktivasi lain juga bisa menggunakan eksperimen adalah suatu cara untuk
asam fosfat. Hasil penelitian mencari hubungan sebab akibat antara
menunjukkan bahwa penggunaan dua faktor yang disengaja ditimbulkan
aktivator asam fosfat memberikan hasil oleh peneliti dengan mengeliminasi atau
yang lebih baik dibandingkan dengan mengurangi atau menyisihkan faktor-
aktivator ZnCl2 dan KOH (Esterlita dan faktor lain yang mengganggu.
Herlina, 2015). Selain itu asam fosfat Eksperimen selalu dilakukan dengan
lebih murah dan mudah didapatkan maksud untuk melihat akibat suatu
serta penggunaan asam fosfat mampu perlakuan (Arikunto, 2010 Cit. Wijaya,
membuka pori dan membersihkan zat-
2017).
zat sisa karbonisasi (Fauziah, 2009).
Berdasarkan penelitian Mars dan Bahan dan Alat
Reinoso (n.d), Cit. Esterlita dan Herlina Bahan-bahan yang digunakan dalam
(2015), bahwa penggunaan aktivator penelitian ini adalah limbah tongkol
asam fosfat dapat menghasilkan karbon jagung yang diperoleh dari petani
aktif yang berkualitas baik yang memiliki jagung di daerah NTB, asam fosfat
mikropori maksimum yaitu terjadi pada (H3PO4) 10% sebagai bahan aktivator
kondisi operasi suhu < 450 0C. kimia, larutan iod 0,1 N sebagai bahan
Pernyataan tersebut didukung oleh uji daya serap iod, larutan Amilum 1 %
penelitian Guo dan Rockstrow (2007), sebanyak 2 ml berfungsi sebagai
Cit. Suhendra et al (2010) yang indikator daya serap iod, aquades
menggunakan sekam padi dengan sebagai air pembersih arang aktif dan
aktivator asam fosfat yang natrium tio-sulfat 0,05 N (Na2S2O3)
memperlihatkan bahwa luas permukaan sebagai bahan titrasi. Alat-alat yang
dan volume pori tinggi terjadi pada suhu digunakan dalam penelitian ini adalah
> 300 0C. parang, tungku drum, suhu laser,
Penelitian ini bertujuan untuk lumpang porselin, ayakan 40 mesh,
mengetahui pengaruh interaksi toples kaca, tanur, cawan porselin, capit
penambahan H3PO4 dengan suhu besi, oven, desikator, pipet tetes,
aktivasi terhadap sifat fisika dan kimia timbangan analitik, gelas ukur, labu
arang aktif tongkol jagung, untuk erlenmeyer, seker dan sentrifugat.
mengetahui pengaruh penambahan Rancangan dan Analisis Data
H3PO4 terhadap sifat fisika dan kimia
arang aktif tongkol jagung dan untuk Penelitian ini menggunakan metode
mengetahui pengaruh variasi suhu eksperimental dengan RAL Faktorial.
aktivasi terhadap sifat fisika dan kimia Faktor yang digunakan adalah
arang aktif tongkol jagung. penambahan H3PO4 (Konsentrasi 0%
dan 10%) dan faktor suhu (300 0C, 400
0C dan 500 0C). Hasil penelitian

dianalisis menggunakan Analisis Sidik


Ragam (ANOVA) pada taraf nyata 5%.

4
Jika diantara perlakuan ada yang arang aktif yang dihasilkan setelah
berbeda nyata, maka dilakukan uji lanjut dilakukan proses karbonisasi dan
dengan menggunakan uji lanjut aktivasi, sehingga nilai yang diharapkan
Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). adalah nilai rendemen tinggi. Berikut
Pengujian kualitas arang aktif dilakukan merupakan hasil perhitungan rata-rata
berdasarkan Standar Nasional rendemen arang aktif tongkol jagung
Indonesia (SNI) 06 – 3730 – 1995 dengan dua konsentrasi bahan kimia
(Nurhayati et al, 2015). berupa H3PO4 dan pemanasan pada
tiga taraf suhu yang berbeda. Nilai yang
3. HASIL DAN PEMBAHASAN dihasilkan berkisar antara 23,63% -
81,92%. Data hasil pengujian rendemen
Rendemen dapat dilihat pada Tabel 1.
Penetapan nilai rendemen arang aktif
bertujuan untuk mengetahui jumlah

Tabel 1. Nilai rendemen arang aktif tongkol jagung (Zea mays Linn )
A
T Rata-rata (%)
A1 A2
T1 31,77 81,92 56,85
T2 29,49 57,61 43,55
T3 23,63 46,65 35,14
Rata-rata (%) 28,30 62,06 45,18
Keterangan : A1 : Konsentrasi Asam Fosfat (H3PO4) 0%, A2 : Konsentrasi Asam Fosfat (H3PO4) 10%, T1
: Suhu 300 0C, T2: Suhu 400 0C, T3 : Suhu 500 0C.

Pada Tabel 1 terlihat bahwa nilai rendemen tertinggi diperoleh dari perlakuan A2T1
dengan nilai sebesar 81,92%. rendemen yang dihasilkan semakin
Sedangkan untuk rendemen terendah menurun. Pada suhu aktivasi yang lebih
diperoleh dari perlakuan A1T3 dengan tinggi pengurangan zat volatile menjadi
nilai sebesar 23,63%. Tingginya nilai lebih besar sehingga hasil padatan yang
rendemen pada perlakuan A2T1 diperoleh menjadi lebih sedikit. Dengan
disebabkan karena penambahan demikian suhu rendah pada perlakuan
konsentrasi aktivator asam fosfat A2T1 belum mampu mengurangi zat
(H3PO4) dapat memperlambat oksidasi volatil dari arang aktif sehingga nilai
lanjutan, sehingga selain berfungsi rendemen yang dihasilkan tinggi.
sebagai aktivator, H3PO4 juga berfungsi
sebagai pelindung arang dari suhu yang Kadar Air
tinggi (Murtono dan Iriany, 2017). Selain Kadar air arang aktif ditetapkan dengan
itu, tingginya rendemen pada perlakuan tujuan untuk mengetahui sifat
A2T1 disebabkan karena suhu yang higroskopis arang aktif yaitu
digunakan pada perlakuan A2T1 adalah kemampuan arang aktif dalam
suhu yang paling rendah. Menurut menyerap molekul air dari
Legrouri et al, (2012) Cit. Turmuzi dan lingkungannya. Kadar air dalam arang
Syaputra (2015) bahwa semakin aktif dapat mempengaruhi
meningkatnya suhu aktivasi, maka kemampuannya sebagai adsorben.

5
Semakin tinggi kadar air arang aktif, perlakuan yang dihasilkan memenuhi
kemampuannya sebagai adsorben standar kualitas arang aktif menurut
menjadi berkurang yang disebabkan Standar Nasional Indonesia (SNI) No.
karena terisinya pori arang aktif oleh air. 06 – 3730 – 1995 yaitu maksimum 15%.
(Cahyani, 2012 Cit. Sukarta, 2014). Nilai Data hasil pengujian kadar air dapat
yang dihasilkan berkisar antara 1,14% - dilihat pada Tabel 3
3,39%. Nilai kadar air dari setiap

Tabel 2 Nilai kadar air arang aktif tongkol jagung (Zea mays Linn).
A
T A1 A2 Rata-rata (%)
T1 3,39 1,14 2,27
T2 2,63 1,16 1,90
T3 2,01 1,38 1,70
Rata-rata (%) 2.68 1,23 1,95
Keterangan : A1 : Konsentrasi Asam Fosfat (H3PO4) 0%, A2 : Konsentrasi Asam Fosfat (H 3PO4) 10%, T1
: Suhu 300 0C, T2: Suhu 400 0C, T3 : Suhu 500 0C.

Berdasarkan data pada Tabel 2 nilai ini berkisar antara 51,88% - 79,54%.
kadar air terbaik dengan angka paling Nilai kadar zat terbang dari setiap
rendah diperoleh dari perlakuan A2T1 perlakuan yang dihasilkan belum
yaitu dengan nilai kadar air sebesar memenuhi standar kualitas arang aktif
1,14%. Sedangkan nilai kadar air menurut Standar Nasional Indonesia
tertinggi diperoleh dari perlakuan A1T1, (SNI) No. 06 – 3730 – 1995 yaitu
dengan nilai sebesar 3,39%. maksimum 25%. Data hasil pengujian
Rendahnya nilai kadar air pada kadar zat terbang dapat dilihat pada
perlakuan A2T1 disebabkan karena Tabel 3.
aktivasi dengan menggunakan aktivator
asam fosfat (H3PO4) mampu
menimbulkan efek dehidrasi pada arang
selama aktivasi (Marsh dan Reinoso,
2006 Cit. Hendra et al, 2015). Dengan
demikian, penambahan asam fosfat
(H3PO4) pada proses aktivasi akan
menurunkan kadar air.

Kadar Zat Terbang


Penentuan kadar zat terbang ini
merupakan suatu cara untuk
mengetahui seberapa besar permukaan
arang aktif mengandung zat lain selain
karbon sehingga mempengaruhi daya
serapnya (Pari et al, 2006 Cit.
Darmawan et al, 2009). Kadar zat
terbang tongkol jagung pada penelitian

6
Tabel 3 Nilai kadar zat terbang arang aktif tongkol jagung (Zea mays Linn).
A
T Rata-rata (%)
A1 A2
T1 79,54 66,19 72,87
T2 75,55 57,66 66,61
T3 75,25 51,88 63,57
Rata-rata (%) 76,78 58,58 67,68
Keterangan : A1 : Konsentrasi Asam Fosfat (H3PO4) 0%, A2 : Konsentrasi Asam Fosfat (H 3PO4) 10%, T1
: Suhu 300 0C, T2: Suhu 400 0C, T3 : Suhu 500 0C.

Pada Tabel 3 terlihat bahwa nilai kadar dapat membantu dalam mengurai
zat terbang terbaik dengan nilai senyawa non karbon (Pari, 2006 Cit.
terendah diperoleh dari perlakuan A2T3 Hendra et al, 2015). Sehingga aktivasi
dengan nilai 51.88%. Sedangkan nilai dengan H3PO4 dapat menurunkan kadar
kadar zat terbang tertinggi diperoleh dari zat terbang.
perlakuan A1T1 dengan nilai 79,54.
Rendahnya nilai kadar zat terbang pada Kadar Zat Abu
perlakuan A2T3 disebabkan karena Penentuan kadar abu ini bertujuan
suhu aktivasi yang tinggi menyebabkan untuk menentukan kandungan oksida
retort lebih cepat untuk bereaksi, logam dalam arang aktif. Nilai rata-rata
sehingga zat terbang lebih mudah kadar zat abu berkisar antara 7.87% -
terangkat bersamaan dengan terjadinya 23.27%. Sehingga hanya sebagian kecil
degradasi uap air (Fauziah, 2009 Cit. dari nilai kadar zat abu yang memenuhi
Sakmah, 2017). Selain itu, adanya Standar Nasional Indonesia (SNI) No.
aktivasi kimia juga membantu dalam 06 – 3730 – 1995 yaitu maksimum 10
menurunkan kadar zat terbang. Hal ini %. Data hasil pengujian kadar zat abu
karena pertukaran gugus OH pada dapat dilihat pada Tabel 4
bahan baku dengan PO4 dari H3PO4

Tabel 4 Nilai kadar zat abu arang aktif tongkol jagung (Zea maysLinn).
A
T Rata-rata (%)
A1 A2
T1 18,90 7,87 13,39
T2 22,14 10,99 16,57
T3 23,27 13,13 18,20
Rata-rata (%) 21,44 10,66 16,05
Keterangan : A1 : Konsentrasi Asam Fosfat (H3PO4) 0%, A2 : Konsentrasi Asam Fosfat (H 3PO4) 10%, T1
: Suhu 300 0C, T2: Suhu 400 0C, T3 : Suhu 500 0C.

Berdasarkan data pada Tabel 4 nilai tertinggi diperoleh dari perlakuan A1T3
kadar abu terendah diperoleh dari dengan nilai yang diperoleh sebesar
perlakuan A2T1 dengan nilai sebesar 23,27%. Menurut Polii (2017) semakin
7,87%. Sedangkan nilai kadar abu tinggi suhu aktivasi, maka kadar abu

7
juga meningkat. Hal ini terjadi karena bersih dari pengotor, sehingga akan
pada aktivasi suhu tinggi terjadi menyebabkan kemampuan daya serap
penguraian senyawa-senyawa arang aktif menjadi lebih tinggi (Sukarta,
berbentuk mineral yang mengendap 2014). Besarnya nilai kadar karbon
sebagai padatan dalam arang aktif. terikat dari arang aktif dapat ditentukan
Sehingga suhu yang rendah pada dari besarnya nilai kadar abu dan kadar
perlakuan A2T1 dapat menjadikan zat terbang. Nilai kadar karbon terikat
kadar abu arang aktif rendah. yang dihasilkan berkisar antara 1,57% -
35,00%. Nilai kadar karbon terikat dari
Kadar Karbon Terikat setiap perlakuan yang dihasilkan belum
Kadar karbon terikat ditetapkan dengan memenuhi standar kualitas arang aktif
tujuan untuk mengetahui kandungan menurut Standar Nasional Indonesia
karbon setelah proses karbonisasi dan (SNI) No. 06 – 3730 – 1995 yaitu
aktivasi. Semakin tinggi nilai dari kadar minimum 65%. Data hasil pengujian
karbon terikat menunjukkan kemurnian kadar karbon terikat dapat dilihat pada
pada arang aktif semakin tinggi dan Tabel 5

Tabel 5 Nilai kadar karbon terikat arang aktif tongkol jagung (Zea maysLinn).
T A Rata-rata (%)
A1 A2
T1 1,57 25,94 13,76
T2 2,30 31,35 16,83
T3 1,66 35.00 18,33
Rata-rata (%) 1,84 30,76 16,30
Keterangan : A1 : Konsentrasi Asam Fosfat (H3PO4) 0%, A2 : Konsentrasi Asam Fosfat (H 3PO4) 10%, T1
: Suhu 300 0C, T2: Suhu 400 0C, T3 : Suhu 500 0C.

Berdasarkan data pada Tabel 5 nilai Daya Serap Iod


kadar karbon terikat tertinggi diperoleh Daya serap iodin ditetapkan dengan
dari perlakuan A2T3 dengan nilai yang tujuan untuk menunjukkan kemampuan
diperoleh sebesar 35.00%. Sedangkan arang aktif dalam menyerap adsorbat
nilai kadar karbon terendah diperoleh dan merupakan parameter utama dalam
dari perlakuan A1T1 dengan nilai menentukan kualitas arang aktif.
1,57%. Tingginya nilai kadar karbon Besarnya daya serap arang aktif
terikat ditentukan dari besarnya nilai terhadap yodium menggambarkan
kadar abu dan kadar zat terbang. semakin banyaknya struktur mikropori
Menurut Darmawan et al, (2009) kadar yang terbentuk dan memberikan
karbon mempunyai hubungan yang gambaran terhadap besarnya diameter
tidak searah dengan kadar abu dan zat mikropori yang dapat dimasuki oleh
terbang. Pada kondisi suhu tinggi molekul yang ukurannya tidak lebih
kandungan zat terbangnya relatif kecil besar dari 10 Ao (Smisek dan Cerny,
sehingga kandungan karbon yang 1970 ; Yue et al, 2003). Hal ini juga
dihasilkan lebih besar. mengindikasikan bahwa luas
permukaan arang aktif semakin besar.
Nilai daya serap iod yang dihasilkan
berkisar antara 195,89 mg/gr – 208,80

8
mg/gr. Nilai daya serap iod arang aktif Indonesia (SNI) No. 06 – 3730 – 1995
dari setiap perlakuan yang dihasilkan yaitu minimum 750 mg/gr. Data hasil
belum memenuhi standar kualitas arang pengujian daya serap iod dapat dilihat
aktif menurut Standar Nasional pada Tabel 6.
Tabel 6 Nilai daya serap iod arang aktif tongkol jagung (Zea mays Linn).
A
T Rata-rata (%)
A1 A2
T1 195,89 200,11 198,00
T2 198,09 199,92 199,01
T3 206,94 208,80 207,87
Rata-rata (mg/g) 200,31 202,94 201,63
Keterangan : A1 : Konsentrasi Asam Fosfat (H3PO4) 0%, A2 : Konsentrasi Asam Fosfat (H 3PO4) 10%, T1
: Suhu 300 0C, T2: Suhu 400 0C, T3 : Suhu 500 0C.

Berdasarkan data pada Tabel 6 nilai di dalam arang akan menimbulkan


daya serap iod tertinggi diperoleh dari struktur mikropori dan mesopori pada
perlakuan A2T3 dengan nilai sebesar struktur bagian dalam (Yue et al, 2003
208,80 mg/gr. Sedangkan nilai daya Cit. Pari et al, 2006). Selain itu
serap iod terendah diperoleh dari peningkatan luas permukaan karbon
perlakuan A1T1 dengan nilai sebesar aktif ini disebabkan oleh H3PO4
195,89 mg/gr. Tingginya nilai daya meresap ke dalam arang dan membuka
serap iod pada perlakuan A2T3 permukaan yang mula-mula tertutup
dikarenakan senyawa P2O5 hasil oleh komponen kimia sehingga luas
dekomposisi H3PO4 yang terperangkap permukaan yang aktif bertambah besar.

Nilai Signifikansi Arang Aktif Tongkol Jagung (Zea mays Linn)


Sig
Sifat
Interaksi Konsentrasi Suhu
(H3PO4) (T)
Rendemen (%) ,0080** ,0000** ,0003**
Kadar Air (%) ,6831ns ,0769ns ,8226ns
Kadar Zat Terbang(%) ,5812ns ,0005** ,1750ns
Kadar Zat Abu (%) ,8374ns ,0000** ,0007**
Kadar Karbon Terikat (%) ,6992ns ,0000** ,6795ns
Daya Serap Iod (%) ,9294ns ,3840ns ,0321*
Keterangan : * berbeda nyata pada taraf 5%, ** berbeda sangat nyata, ns non signifikan.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (H3PO4) dengan suhu aktivasi,


diketahui bahwa hanya rendemen yang sedangkan untuk konsentrasi
berpengaruh sangat nyata terhadap penambahan asam fosfat (H3PO4) yang
interaksi penambahan asam fosfat berpengaruh sangat nyata adalah nilai

9
rendemen, kadar zat terbang, kadar zat 90 81,92 c

abu dan kadar karbon terikat. Faktor 80

Rendemen (%)
70
variasi suhu aktivasi berpengaruh nyata 57,61 b 46,65 b
60
terhadap nilai rendemen, kadar zat abu 50
Konsentrasi

31,77 a A1
dan daya serap iod arang aktif tongkol 40 29,49 a
23,63 a A2
jagung. Sehingga perlu dilakukan uji 30
20
lanjut untuk mengetahui beda kritis
10
setiap perlakuan. Namun, karena pada 0
penambahan konsentrasi asam fosfat T1 T2 T3
(H3PO4) hanya terdapat dua jenis Suhu
perlakuan yang digunakan, yakni Gambar 1 Nilai rendemen berdasarkan
konsentrasi asam fosfat 0% (A1) dan pengaruh interaksi penambahan asam fosfat
penambahan konsentrasi asam fosfat (H3PO4) dengan suhu aktivasi.
10% (A2), maka tidak perlu dilakukan uji
lanjut. Hasil uji lanjut menggunakan metode
DMRT (Duncan’s) menunjukkan bahwa
Hasil uji lanjut Duncan’s terhadap rendemen arang aktif tongkol jagung T1
interaksi penambahan asam fosfat berbeda nyata dengan T2 dan T2
(H3PO4) dengan suhu aktivasi berbeda nyata dengan T3. Sehingga,
menunjukkan bahwa perlakuan A1T1, pemilihan suhu yang optimal dalam
A1T2 dan A1T3 tidak berbeda nyata. menghasilkan rendemen terbaik dapat
Perlakuan A2T3 dan A2T2 tidak dilakukan atas dasar suhu yang
berbeda nyata. Namun, semua menghasilkan rendemen tertinggi.
perlakuan tersebut berbeda nyata Rendemen tertinggi diperoleh dari
dengan A2T1. Sehingga pemilihan perlakuan T1 yaitu dengan suhu 300 oC
interaksi yang optimal dalam dengan nilai rata-rata yang diperoleh
menghasilkan rendemen terbaik dapat sebesar 56,85%. Nilai rendemen pada
dilakukan atas dasar interaksi yang tiga taraf suhu aktivasi dapat dilihat
menghasilkan nilai rendemen tertinggi. pada Gambar 2.
Rendemen tertinggi diperoleh dari
perlakuan A2T1 yaitu interaksi
56,85 a
penambahan asam fosfat (H3PO4) 10% 60
43,55 b
Rendemen 9%)

50
suhu 300 oC, dengan nilai rendemen 40
35,14 c
sebesar 81,92%. Pengaruh interaksi 30
penambahan asam fosfat (H3PO4) 20
10
dengan suhu aktivasi dapat dilihat pada 0
Gambar 1. T1 T2 T3
Suhu

Gambar 2 Nilai rendemen pada tiga taraf suhu


aktivasi

Dari Gambar 2 di atas dapat dilihat


bahwa dengan meningkatnya suhu
aktivasi rendemen arang yang
dihasilkan semakin sedikit. Hal ini dapat
disebabkan oleh masih meningkatnya
laju reaksi antara karbon dan gas-gas di

10
dalam retort dan makin banyaknya sebagai padatan dalam arang aktif.
jumlah senyawa kadar zat menguap Sehingga suhu yang rendah pada
yang terlepas (Ramdja, 2008). Setiap perlakuan T1 dapat menjadikan kadar
kenaikan suhu 100 oC menyebabkan abu arang aktif rendah.
nilai menurun sebesar 13-9 %.
Hasil uji lanjut menggunakan metode
Hasil uji lanjut DMRT (Duncan’s) DMRT (Duncan’s) menunjukkan bahwa
menunjukkan bahwa kadar zat abu nilai daya serap iod arang aktif tongkol
arang aktif tongkol jagung T1 berbeda jagung T1 tidak berbeda nyata dengan
nyata dengan T2 dan T3. Namun, T2 T2, sedangkan T2 berbeda nyata
tidak berbeda nyata dengan T3. dengan T3. Sehingga, pemilihan suhu
Sehingga pemilihan suhu yang optimal yang optimal dalam menghasilkan daya
dalam menghasilkan kadar zat abu serap iod terbaik dapat dilakukan atas
terbaik dapat dilakukan atas dasar suhu dasar suhu yang menghasilkan daya
yang menghasilkan kadar zat abu serap iod tertinggi. Daya serap iod
terendah. Kadar zat abu terendah tertinggi diperoleh dari perlakuan T3
diperoleh dari perlakuan T1 dengan yaitu dengan suhu 500 oC dengan nilai
suhu 300 oC dengan nilai rata-rata yang rata-rata yang diperoleh sebesar 207,87
diperoleh sebesar 13,39%. Nilai kadar mg/g. Nilai daya serap iod pada tiga
zat abu pada tiga taraf suhu aktivasi taraf suhu aktivasi dapat dilihat pada
dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 4.

18,20 b
20 16,57 b
Kadar Zat Abu 9%)

13,39 a 210
15 207,87 b
208
Daya Serap Iod (mg/gr)

10 206
204
5
202
198 a 199,01 a
0 200
T1 T2 T3 198
Suhu
196
Gambar 3 Nilai kadar zat abu pada tiga taraf 194
suhu aktivasi 192
T1 T2 T3
Suhu

Dari Gambar 3 di atas menunjukkan Gambar 4 Nilai daya serap iod pada tiga taraf
bahwa, setiap kenaikan suhu 100 0C suhu aktivasi
pada perlakuan T1 dan T2
menyebabkan nilai kadar zat abu Dari Gambar 4 di atas menunjukkan
meningkat sebesar 3% dan pada bahwa, setiap kenaikan suhu 100 0C
perlakuan T2 dan T3 hasilnya tidak pada perlakuan T1 dan T2
berbeda nyata yaitu peningkatannya menyebabkan nilai daya serap iod
hanya 1%. Menurut Polii (2017) meningkat sebesar 1% sehingga tidak
semakin tinggi suhu aktivasi, maka berbeda nyata dan pada perlakuan T3
kadar abu juga meningkat. Hal ini terjadi meningkat 8%. Menurut Polli (2017),
karena pada aktivasi suhu tinggi terjadi semakin tinggi suhu aktivasi, maka daya
penguraian senyawa-senyawa serap iod juga meningkat, hal ini
berbentuk mineral yang mengendap menunjukkan semakin tinggi suhu,

11
maka semakin banyak pori-pori arang DAFTAR PUSTAKA
aktif yang terbuka membentuk rongga Aisiyah, R. H. 2016. Pemanfaatan
yang lebih besar ukurannya dari molekul Karbon Aktif Dari Limbah
I2, sehingga molekul I2 masuk ke dalam Tongkol Jagung Sebagai Filter
rongga arang aktif. Air. Skripsi. Fakultas Matematika
4. KESIMPULAN dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Institut Pertanian Bogor.
Berdasarkan hasil penelitian dan
analisis sidik ragam karakteristik arang BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat.
aktif tongkol jagung (Zea mays Linn) 2015. Berita Resmi Statistik. No.
dengan penambahan asam fosfat 75/11/54/Th.IX, 2 November
(H3PO4) pada beberapa variasi suhu 2015.
aktivasi yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa : Budidaya Tanaman Pangan. 2009.
1. Interaksi penambahan asam fosfat Badan Ketahanan Pangan dan
(H3PO4) dengan suhu aktivasi Penyuluhan Pertanian Aceh.
berpengaruh nyata terhadap nilai Balai Pengkajian Teknologi
rendemen arang aktif tongkol jagung. Pertanian NAD.
Hasil terbaik diperoleh dari
penambahan konsentrasi asam fosfat Choiriyah, S. 2010. Kajian Pirolisis
10% (A2) pada suhu 300 oC (T1). Tongkol dan Kelobot Jagung
2. Penambahan asam fosfat (H3PO4) untuk Identifikasi Produksi Bahan
berpangaruh nyata terhadap nilai Tambahan Pangan (Pengawet
rendemen, kadar zat terbang, kadar Flavour. Aktioksisan) dan Bio oil.
zat abu dan kadar karbon terikat Skripsi.. Fakultas Teknologi
arang aktif tongkol jagung. Hasil Pertanian. Institut Pertanian
terbaik diperoleh dari penambahan Bogor.
konsentrasi asam fosfat (H3PO4) 10
% (A2). Darmawan, S. Pari, G. dan Sofyan, K.
3. Variasi suhu aktivasi berpengaruh 2009. Optimasi Suhu dan Lama
nyata terhadap nilai rendemen, kadar Aktivasi dengan Asam Phosfat
zat abu dan daya serap iod arang dalam Produksi arang aktif
aktif tongkol jagung. Tempurung Kemiri.Jurnal Ilmu
dan Teknologi Hasil Hutan. 2(2) :
51-56.

Esterlita, M.O dan Herlina, N. 2015.


Pengaruh Penambahan Aktivator
ZnCl2, KOH dan H3PO4 Dalam
Pembuatan Karbon Aktif Dari
Pelepah Aren (Arenga pinnata).
Jurnal Teknik Kimia. Vol 4. No 1..
Universitas Sumatera Utara.

12
Fandi, A. W. 2017. Variasi Arah Radial Kulit Kayu Acacia mangium.
Sifat Fisika dan Mekanika Kayu Jurnal Penelitian Hasil Hutan.Vol.
Jati (Tectona grandis Linn. f.) 24.N0 1. Bogor.
Sumbawa Barat.Skripsi. Program
Studi Kehutanan. Universitas Polii, F. F. 2017. Pengaruh Suhu dan
Mataram. Lama Aktivasi Terhadap Mutu
Arang Aktif dari Kayu Kelapa.
Fauziah, N. 2009. Pembuatan Arang Jurnal Industri Hasil Perkebunan.
Aktif Secara Langsung dari Kulit Vol. 12. No 2. Balai Riset dan
Acasia mangium wild dengan Standarisasi Industri Manado.
Aktivasi Fisika dan Aplikasi
Sebagai Absorben. Skripsi, Ramdja, F. Halim, M dan J. Handi.
Departemen Kehutanan. Institut 2008. Pembuatan Karbon Aktif
Pertanian Bogor. dari Pelepah Kelapa (Cocus
nucifera). Jurnal Teknik Kimia.
Hendra, D,. Wulandari, A,. Gustina, K,. No. 2. Vol. 15. Jurusan Teknik
dan Wibisono, H. S. 2015. Kimia. Fakultas Teknik.
Pemanfaatan Arang Aktif Universitas Sriwijaya.
Cangkang Buah Bintaro (Cerbera
manghas) sebahai Adsorben Rizky, I. P. 2015. Aktivasi Arang
pada Peningkatan Kualitas Air Tongkol Jagung Menggunakan
Minum. Jurnal. Penelitian Hasil HCl Sebagai Adsorben Ion Cd
Hutan. Vol. 33. No. 3. Fakultas (II). Skripsi. Program Studi Kimia.
Matematika dan Ilmu Universitas Negeri Semarang.
Pengetahuan Alam. Departemen
Kimia. Institut Pertanian Bogor. Sakmah. 2017. Pengaruh Penambahan
Asam Fosfat (H3PO4) dan Variasi
Nurdiansah, H. dan Susanti, D. 2013. Suhu Aktivasi terhadap Sifat
Pengaruh Variasi Temperatur Arang Aktif Kulit Buah Aren
Karbonisasi dan Temperatur (Arenga pinnata Merr.). Skripsi.
Aktivasi Fisika dari Elektroda Program Studi Kehutanan.
Karbon Aktif Tempurung Kelapa Universitas Mataram.
dan Tempurung Kluwak
Terhadap Nilai Kapasitansi
Electrik Double Layer Capacitor
(EDLC).Vol 2. No 1. Jurnal
Teknik Pomits. Jurusan Teknik
Material dan Metalurgi. Fakultas
Teknologi Industri. Institut
Teknologi Sepuluh November
(ITS).

Pari, G., D, Hendra dan R.A, Pasaribu.


2006. Pengaruh Lama Waktu
Aktivasi Dan Konsentrasi Asam
Fosfat Terhadap Mutu Arang Aktif

13
Smisek, M and S. Cerny. 1970. Active
Carbon. Manufacture Properties
and application. Elsevier.
Publishing Company. New York.

Suhendra, D dan Gusnawan, E. R.


2010. Pembuatan Arang Aktif dari
Batang Jagung menggunakan
Aktivator Asam Sulfat dan
Penggunaannya pada
Penjerapan Ion Tembaga (II).
Makara Sains. Vol. 14. No. 1.
FMIPA. Universitas Mataram.

Sukarta, F. 2014. Pemanfaatan Arang


Aktif Tempurung Kelapa Sawit
Dan Tongkol Jagung Sebagai
Adsorben Logam Berat Pada
Limbah Batik. Skripsi, Institut
Pertanian Bogor.

Turmuzi, M. dan Syaputra. 2015.


Pengaruh Suhu Dalam
Pembuatan Karbon Aktif Dari
Kulit Salak (Salacca edulis)
Dengan Impregnasi Asam Fosfat
(H3PO4).Vol 4.No.1. Jurnal Teknik
Kimia. Universitas Sumatera
Utara.

Yue, Z,. Economy, J., and C. L.


Mangun. 2003. Preparation of
fibrous porous materials by
chemical activation 2. H3PO4
activation of polymer coated
fibers. Carbon 41: 1809-1817.

14