Anda di halaman 1dari 27

TUGAS

Imlementasi Hukum Ketenagakerjaan Terhadap Jaminan


Kesehatan dan Keselamatan Tenaga Kerja di Indonesia
(Disusun Sebagai Mata Kuliah Hukum Ketenagakerjaan)

OLEH

NAMA : AGUS TRIYANTO

NIM : H1A116911

KELAS : F

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
karunianya makalah ini dapat terselesaikan makalah ini dengan baik dan tepat
waktu. Makalah ini disusun mengenai Imlementasi Hukum Ketenagakerjaan
Terhadap Jaminan Kesehatan Tenaga Kerja di Indonesia.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang


terlibat dalam penyusunan makalah ini, semoga makalah ini dapat memberi
wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Kami menyadari bahwa penyusunan
makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami harapkan kritik dan
saran yang dapat membangun untuk menyempurnakan makalah ini.

Kendari,20 April 2019

Penulis,

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...................................................................................... 1

B.Rumusan Masalah .................................................................................. 3

C. Tujuan .................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Perlindungan Hukum Tehadap Jaminan Kesehatan dan


Keselamatan Tenaga Kerja di Indonesia........................................4
B. Implementasi Hukum Terhadap jaminan Kesehatan dan
Keselamatan Tenaga Kerja di Indonesia........................................ 8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ......................................................................................... 21

B. Saran.............................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyediaan lapangan pekerjaan merupakan salah satu kewajiban negara

sesuai yang diamanatkan dalam Pasal 27 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Kesatuan Tahun 1945 (UUDNRI 1945) yang menyatakan

bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan kehidupan yang layak. Untuk

melaksanakan amanat konstitusi tersebut negara mengeluarkan berbagai aturan dan

kebijaksanaan untuk memberikan jaminan dan kesempatan kepada warga negara.

Dalam konteks industri, proses produksi yang makin maju dan berkembang

tentunya perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja sebagai faktor produksi.

Upaya pemerintah dalam melindungi hak-hak pekerja telah lama

dilaksanakan dengan pemberlakuan berbagai regulasi di bidang ketenagakerjaan.

Hal ini direalisasikan pemerintah dengan diberlakukannya berbagai peraturan

perundangundangan seperti Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1970 tentang

Keselamatan Kerja, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial

Tenaga kerja (yang selanjutnya disingkat Jamsostek), dan Peraturan Menteri

Tenaga Kerja No: Per.05/Men/1996 mengenai Sistem Manajemen Keamanan dan

Keselamatan Kerja (yang selanjutnya disingkat K3). Selanjutnya Undang-Undang

Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan diberlakukan guna mengatur

berbagai hal terkait ketenagakerjaan dan menjadi landasan hukum ketenagakerjaan.

Tujuan pemberlakuan Undang-Undang Ketenagakerjaan dalam penjelasan umum

undang-undang ini secara normatif adalah pembebasan manusia Indonesia dari

1
perbudakan dan perhambaan dan memberikan posisi yang seimbang antara buruh

atau pekerja dan pengusaha.

Salah satu aspek yang dijamin oleh hukum ketenagakerjaan adalah adanya

jaminan K3, sebagai upaya untuk mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan

dan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja. Jaminan

keselamatan kerja merupakan perlindungan pekerja dari aktivitas pekerjaannya

yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya,

landasan tempat kerja dan lingkungan kerja serta cara melakukan pekerjaan guna

menjamin keselamatan tenaga kerja dan aset perusahaan agar terhindar dari

kecelakaan dan kerugian lainnya. Keselamatan kerja berkaitan dengan peralatan

yang digunakan oleh pekerja seperti mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses

pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara

melakukan pekerjaan. Keselamatan kerja bersasaran segala tempat kerja. Salah satu

aspek penting sasaran keselamatan kerja mengingat resiko bahanya adalah

penerapan teknologi, terutama teknologi yang lebih maju dan mutakhir.

Keselamatan kerja merupakan sarana utama untuk pencegahan kecelakaan,

cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja. Keselamatan kerja yang baik

adalah pintu gerbang bagi keamanan tenaga kerja, kecelakaan selain menjadi sebab

hambatan-hambatan langsung juga merupakan kerugian-kerugian secara tidak

langsung, yakni kerusakan mesin dan peralatan kerja, terhentinya proses produksi

untuk beberapa saat, kerusakan pada lingkungan kerja dan lain-lain. Biaya-biaya

sebagai akibat kecelakaan kerja, baik langsung atau tidak langsung, cukup bahkan

2
kadang-kadang terlampau besar sehingga bila diperhitungkan secara nasional hal

itu merupakan kehilangan yang berjumlah besar

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Perlindungan Hukum Tehadap Jaminan Kesehatan dan Keselamatan

Tenaga Kerja di Indonesia ?

2. Bagaimana Implementasi Hukum Terhadap Jaminan Kesehatan Tenaga Kerja

di Indonesia ?

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui Perlindungan Hukum Tehadap Jaminan Kesehatan dan

Keselamatan Tenaga Kerja di Indonesia.

2. Untuk Mengetahui Implementasi Hukum Terhadap jaminan Kesehatan Tenaga

Kerja di Indonesia

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perlindungan Hukum Terhadap Jaminan Kesehatan dan Keselamatan


Tenaga Kerja di Indonesia
Pekerja atau tenaga kerja menurut ketentuan Pasal 1 angka 2 Undang-

Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa tenaga

kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun

di luar hubungan kerja, guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi

kebutuhan sendiri maupun masyarakat.

Perusahaan wajib mengikutsertakan setiap pekerja pada program Jaminan

Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), karena hal tersebut merupakan hak setiap tenaga

kerja, baik dalam hubungan kerja maupun tenaga kerja luar hubungan kerja. Oleh

karena itu, program Jamsostek tersebut wajib dilakukan oleh setiap perusahaan

sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Ayat (2) jo. Pasal 4 Ayat (1) dan Ayat (2) UU

Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek.

Persyaratan dan tata cara kepesertaan dalam program Jamsostek diatur lebih

lanjut dalam PP Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Jamsostek, yang

antara lain disebutkan, bahwa pengusaha yang (telah) mempekerjakan sebanyak 10

(sepuluh) orang tenaga kerja, atau membayar upah paling sedikit Rp1 juta sebulan,

wajib mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam program Jamsostek pada badan

penyelenggara, yakni PT Jamsostek (Persero) sebagaimana diatur dalam ketentuan

Pasal 2 Ayat (3) PP Nomor 14 Tahun 1992.

4
Perusahaan yang tidak mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam Program

Jamsostek, diancam dengan sanksi hukuman kurungan (penjara) selama-lamanya 6

(enam) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp50 juta sebagaimana diatur dalam

Pasal 29 Ayat (1) UU Nomor 3 Tahun 1992 dan juga dapat dikenakan sanksi

administratif berupa pencabutan izin usaha (Pasal 47 huruf a PP Nomor 14 Tahun

1992). Perusahaan diwajibkan menanggung semua konsekuensi yang terjadi dan

terkait dengan program jaminan sosial tersebut, seperti konsekuensi bilamana

terjadi kecelakaan kerja, kematian dan/atau jaminan hari tua serta jaminan

pelayanan kesehatan (Pasal 8 Ayat (1) dan Pasal 12 Ayat (1) Pasal 14 Ayat (1) dan

Pasal 16 Ayat (1) UU Nomor 3 Tahun 1992). Sesuai dengan ketentuan Pasal 6 UU

Nomor 3 Tahun 1992 jo. Pasal 2 Ayat (1) PP Nomor 14 Tahun 1992, bahwa lingkup

program jaminan sosial tenaga kerja meliputi 4 (empat) program, yakni jaminan

kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JK) dan jaminan hari tua (JHT) serta

jaminan pemelihaaan kesehatan (JPK). Dari keempat program tersebut, 3 (tiga)

diantaranya dalam bentuk jaminan uang yaitu JKK, JK dan JHT, sedangtkan 1

(satu) dalam bentuk jaminan pelayanan (JPK).

Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Ayat (3) dan Ayat (4) jo. Ayat (1) dan Ayat

(2) PP Nomor 14 Tahun 1992, bahwa pengusaha wajib mengikutsertakan tenaga

kerjanya dalam program-program jaminan sosial tenaga kerja yang diselenggarakan

oleh badan penyelenggara (PT Persero Jamsostek). Namun khusus untuk JPK, bagi

pengusaha yang telah menyelengarakan program JPK sendiri bagi tenaga kerjanya

dengan manfaat lebih baik dari paket jaminan pemeliharaan kesehatan dasar PT

5
Persero Jamsostek (JPK-Dasar) tidak wajib ikut dalam program JPK yang

diselenggarakan oleh PT Persero Jamsostek.

Kecelakaan kerja menurut Pasal 1 angka 6 UU Nomor 3 Tahun 1992 tentang

Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan

hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian

pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat

kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia

Nomor 609 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyelesaian Kasus Kecelakaan Kerja

dan Penyakit Akibat Kerja), santunan cacat sebagian (cacat anatomis) untuk

selamanya dibayar sekaligus dengan besarnya adalah % sesuai tabel x 80 (delapan

puluh) bulan upah. Yang dimaksud dengan santunan cacat sebagian (Cacat

Anatomis) untuk selamanya, menurut Kepmenaker 609/2012, yaitu santunan yang

diberikan kepada tenaga kerja apabila akibat dari kecelakaan kerja, tenaga kerja

mengalami cacat sebagian dimana bagian dari anggota tubuhnya hilang.

Persentase yang digunakan untuk perhitungan santunan cacat sebagian,

didasarkan pada cacat apa yang diderita oleh pekerja. Sesuai dengan Peraturan

Pemerintah Nomor 53 Tahun 2012 tentang perubahan Kedelapan atas Peraturan

Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan

Sosial Tenaga Kerja diketahui bahwa untuk kecelakan kerja yang mengakibatkan

kecacatan, maka persentase yang digunakan adalah 15%. Jadi, rumus santunannya

adalah 15% x 80 (delapan puluh) bulan upah. Tata cara pengajuan klaim jaminan

6
kecelakaan kerja, diatur lebih lanjut dalam Pasal 8 sampai dengan Pasal 14

Permenakertrans Nomor PER-12/MEN/VI/2007 Tahun 2007 tentang Petunjuk

Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan, dan

Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagaimana telah diubah dengan

Permenakertrans Nomor PER.06/MEN/III/2009 Tahun 2009 tentang Perubahan

Atas Permenakertrans Nomor PER-12/MEN/VI/2007 Tahun 2007 tentang Petunjuk

Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan, dan

Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

Perlindungan hukum kecelakaan kerja yang mengakibatkan pekerja

meninggal dunia, maka ahli waris pekerja/buruh berhak mendapatkan hak-haknya

sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau hak-hak yang telah

diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama,

demikian yang disebut dalam Pasal 61 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 13 Tahun

2003 tentang Ketenagakerjaan. Hal ini berarti, tanggung jawab perusahaan dalam

hal pekerjanya meninggal dunia itu sebenarnya bergantung pada peraturan

perundang-undangan yang berlaku atau hak-hak yang telah diatur dalam perjanjian

kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

Pengaturan lain terdapat dalam Pasal 2 Ayat (3) Peraturan Pemerintah

Nomor 84 Tahun 2013 tentang Perubahan Kesembilan Atas Peraturan Pemerintah

Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga

Kerja, yang menyatakan bahwa pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja

sebanyak 10 orang atau lebih, atau membayar upah paling sedikit Rp.1.000.000,

(satu juta rupiah) sebulan, wajib mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam program

7
jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1). Pasal 31 Ayat

(1) UU SJSN, peserta yang mengalami kecelakaan kerja berhak mendapatkan

manfaat berupa pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medisnya dan

mendapatkan manfaat berupa uang tunai apabila terjadi cacat total tetap atau

meninggal dunia.

Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), PT Jamsostek berubah menjadi BPJS

Ketenagakerjaan dan efektif beroperasi pada pada tanggal 1 Juli 2015. BPJS

Ketenagakerjaan merupakan program publik yang memberikan perlindungan bagi

tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu dan penyelenggaraan

nya menggunakan mekanisme asuransi sosial.

B. Implementasi Hukum Terhadap jaminan Kesehatan dan Keselamatan


Tenaga Kerja di Indonesia
a. Kesehatan Tenaga Kerja

Kesehatan kerja sebagai suatu aspek atau unsur kesehatan yang erat

kaitannya dengan lingkungan kerja dan pekerjaan, yang secara langsung maupun

tidak langsung dapat memepengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja. Terdapat

beberapa pengertian kesehatan kerja, Kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu

kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang

sempurna baik fisik, mental maupun sosial sehingga memungkinkan dapat bekerja

secara optimal (Lalu Husni, 2005:140). Kesehatan kerja (occupational health)

adalah bagian dari ilmu kesehatan atau kedokteran yang memepelajari bagaimana

8
melakukan usaha preventif dan kuratif serta rehabilitatif, terhadap penyakit atau

gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh-faktor faktor pekerjaan dan

lingkungan kerja maupun penyakit umum dengan tujuan agar pekerja memperoleh

derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik fisik, mental dan sosial (Tarwaka,

2008:22). Secara garis besar dalam Pasal 164 – Pasal 166 UndangUndang Nomor

36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mengatur mengenai:

1. Kesehatan kerja diselenggarakan dengan maksud setiap pekerja dapat

bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat

sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan

dengan program perlindungan tenaga kerja.

2. Upaya kesehatan kerja pada hakikatnya merupakan penyerasian kapasitas

kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja. Pelayanan kesehatan kerja adalah

pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pekerja sesuai dengan jaminan

sosial tenaga kerja dan mencakup upaya peningkatan kesehatan,

pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Syarat kesehatan kerja meliputi persyaratan kesehatan pekerja baik fisik

maupun psikis sesuai dengan jenis pekerjaannya, persyaratan bahan baku

dan proses kerja serta persyaratan tenpat atau lingkungan kerja.

3. Tempat kerja yang wajib menyelenggarakan kesehatan kerja adalah tempat

kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit

atau mempunyai tenaga kerja paling sedikit 10 (sepuluh) orang.

9
Dalam upaya penyelenggaraan kesehatan kerja di tempat kerja atau

perusahaan, pada dasarnya bertujuan untuk:

1. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan tenaga kerja yang

setinggi-tingginya baik fisik, mental dan sosial di semua lapangan

pekerjaan.

2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kondisi

lingkungan kerja.

3. Melindungi tenaga kerja dari bahaya kesehatan yang ditimbulkan akibat

pekerjaan.

4. Menempatkan tenaga kerja pada lingkungan kerja yang sesuai dengan

kondisi fisik tubuh dan mental psikologis tenaga kerja yang bersangkutan.

Penyakit Akibat Kerja Penyakit yang ditimbulkan karena hubungan kerja

dianggap sebagai kecelakaan kerja dan bisa terjadi secara tiba-tiba maupun melalui

proses dalam jangka waktu tertentu. “Penyakit yang timbul akibat hubungan kerja

adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja (Pasal 1

Keppres No 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Ditimbulkan Akibat Kerja).”

Penyakit akibat kerja ditetapkan berdasarkan karakteristik penyebab dan proses

terjadinya yang lambat. Sedangkan kecelakaan terjadi karena proses terjadinya

cepat dan cenderung mendadak. Di tempat kerja mengandung sumber-sumber

bahaya yang dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja. Pengenalan potensi

bahaya harus dilaksanakan sedini mungkin untuk mengadakan upaya pengendalian

dan upaya untuk mencegah timbulnya penyakit akibat kerja. Berikut adalah potensi-

10
potensi bahaya yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau penyakit akibat

kerja:

1. Potensi Bahaya Fisik Potensi bahaya yang dapat menyebabkan gangguan-

gangguan kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar, misalnya:

terpapar kebisingan intensitas tinggi, suhu ekstrim (panas,dingin),

intensitas penerangan kurang memadai, getaran, radiasi, dll.

2. Potensi Bahaya Kimia Potensi yang berasal dari bahan-bahan kimia yang

dipergunakan dalam proses produksi. Potensi bahaya ini dapat memasuki

atau mempengaruhi tubuh tenaga kerja. Terjadinya pengaruh dari bahaya

kimia ini terhadap tubuh tenaga kerja tergantung dari jenis bahan kimia,

bentuk potensi bahaya (debu, gas, uap, asap, dll), daya racun bahan

(toksitas), cara masuk ke tubuh, dll.

3. Potensi Bahaya Biologis Potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan

oleh kumankuman penyakit yang terdapat di udara, yang berasal dari atau

bersumber pada tenaga kerja yang menderita penyakit-penyakit tertentu,

misalnya: TBC, Hepatitis A/B, aids, dll ataupun yang berasal dari bahan-

bahan yang dipergunakan dalam proses produksi.

4. Potensi Bahaya Fisiologis Potensi bahaya yang berasal atau disebabkan

oleh penerapan kesehatan kerja yng tidak baik ataupun tidak sesuai dengan

norma-norma Ergonomi yang berlaku, dalam melakukan pekerjaan sera

peralatan kerja. Termasuk dalam potensi bahaya fisiologis ini antara lain:

sikap dan cara kerja yang tidak sesuai, pengaturan kerja yang tidak tepat,

11
beban kerja yang tidaks esuai dengan kemampuan pekerja ataupun

ketidakserasian antara mesin dan manusia.

5. Potensi Bahaya Psikologis Potensi bahaya ini berasal atau ditimbulkan

oleh kondisi atau aspek-aspek psikologis tenaga kerja yang kurang baik dan

kurang mendapatkan perhatian seperti: penempatan tenaga kerja yang tidak

sesuai dengan bakat, minat, kepribadian, motivasi, temperamen atau

pendidikannya, sistem seleksi dan klasifikasi tenaga kerja yang tidak

sesuai, kurangnya ketrampilan tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya

sebagai akibat kurangnya pelatihan yang diperoleh, serta hubungan antara

individu yang tidak harmoni dan tidak serasi dalam organisasi kerja yang

kesemua potensi ini dapat menimbulkan stress akibat kerja.

6. Potensi Bahaya dari Proses Produksi Potensi bahaya yang berasal atau

ditimbulkan oleh berbagai kegiatan yang dilakukan dalam proses produksi,

yang sangat tergantung dari: bahan dan peralatan yang dipakai, kegiatan

serta jenis kegiatan yang dilakukan. (Tarwaka, 2008:24).

b. Keselamatan Tenaga Kerja

Keselamatan kerja merupakan dari, oleh dan untuk tenaga kerja,

setiap orang dan masyarakat yang mungkin akan terkena dampak dari suatu

proses produksi industri. Keselamatan kerja merupakan sarana utama untuk

mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan kerugian

berupa luka/cidera, cacat, kematian maupun kerugian harta benda dan

kerusakan peralatan dan mesin dan kerusakan lingkungan yang secara luas.

12
Keselamatan kerja dalam suatu tempat kerja mencakup berbagai

aspek yang berkaitan dengan kondisi dan keselamatan sarana produksi,

manusia dan cara kerja (Soehatman Ramli, 2010:28). Dalam Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja secara tegas dan

jelas menetapkan syarat-syarat keselamatan kerja yang harus dipenuhi oleh

setiap orang atau badan yang menjalankan usaha, baik formal maupun

informal, dimanapun berada dalam upaya memberikan perlindungan

keselamatan dan kesehatan semua orang yang berada di lingkungan

usahanya (Tarwaka, 2008:4). Persyaratan keselamatan kerja menurut Pasal

3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

adalah sebagai berikut.

a. mencegah dan mengurangi kecelakaan.

b. mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;

c. mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;

d. memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu

kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya;

e. memberi pertolongan pada kecelakaan;

f. memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;

g. mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu,

kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca,

sinar radiasi, suara dan getaran;

h. mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik

fisik maupun psikis, peracunan, infeksi dan penularan.

13
i. memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;

j. menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik;

k. menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;

l. memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;

m. memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan,

cara dan proses kerjanya;

n. mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang,

tanaman atau barang;

o. mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;

p. mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat,

perlakuan dan penyimpanan barang;

q. mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;

r. menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan

yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

Di samping syarat-syarat keselamatan kerja sesuai Pasal 3 ayat (1) Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja di atas, juga dilengkapi

syarat keselamatan kerja dalam perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran,

perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan

penyimpanan bahan, barang, produk teknis dan aparat produksi yang mengandung

dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan. Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-

prinsip teknis ilmiah yang mencakup bidang konstruksi, bahan, pengolahan, dan

pembuatan, perlengkapan alat perlindungan, pengujian dan pengesahan,

pengepakan, pemberian label guna menjamin keselamatan barang-barang itu

14
sendiri, keselamatan tenaga kerja yang melakukannya dan keselamatan umum.

Syarat inilah yang tercantum dan diatur dalam Pasal 4 ayat (1) dan (2) Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

C. Hak dan Kewajiban Tenaga Kerja dan Pengusaha

Pengusaha sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keselamatan dan

kesehatan kerja tenaga kerja di tempat kerja. Kewajiban pengusaha dalam

melaksanakan tanggung jawab tersebut adalah (Lalu Husni, 2005:134):

1. Terhadap tenaga kerja yang baru bekerja, pengusaha berkewajiban

menunjukkan dan menjelaskan tentang:

a. Kondisi dan bahaya yang dapat timbul di tempat kerja;

b. Semua alat pengamanan dan pelindung yang diharuskan.

c. Cara dan sikap dalam melakukan pekerjaan.

d. Memeriksakan kesehatan baik fisik maupun mental tenaga kerja yang

bersangkutan.

2. Terhadap tenaga kerja yang telah atau sedang dipekerjakan pengusaha

berkewajiban untuk:

a. Melakukan pembinaan dalam hal pencegahan kecelakaan,

penanggulangan kebakaran, pemberian pertolongan pertama pada

kecelakaan (P3K), peningkatan usaha Keselamatan dan Kesehatan

Kerja pada umumnya.

b. Memeriksakan kesehatan baik fisik maupun mental secara berkala.

15
c. Menyediakan secara cuma-cuma semua alat perlindungan diri yang

diwajibkan untuk tempat kerja yang bersangkutan bagi seluruh tenaga

kerja.

d. Memasang gambar dan peraturan perundnag-undangan tentang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta bahan pembinaan lainnya di

tempat kerja sesuai dengan petunjuk pegawai pengawas atau ahli

Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

e. Melaporkan setiap peristiwa kecelakaan kerja yang terjadi termasuk

peledakan, kebakaran dan penyakit akibat kerja yang terjadi di tempat

kerja tersebut kepada Departemen Tenaga Kerja setempat.

f. Membayar biaya pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ke

Kantor Perbendaharaan Negara setempat setelah mendapat penetapan

besarnya biaya oleh Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja

setempat.

g. Menaati semua persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja baik

yang diatur dalam peraturan perundangundangan maupun yang

ditetapkan oleh pegawai pengawas.

Sedangkan tenaga kerja memiliki kewajiban dalam tercapainya program

Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang diatur dalam Pasal 12 Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah:

1.Memberikan keterangan yang benar apabila diminta oleh pegawai

pengawas atau ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

2.Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan

16
3.Memenuhi dan menaati persyaratan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

yang berlaku di tempat kerja.

Sedangkan hak-hak yang diperoleh tenaga kerja adalah:

1. Meminta kepada pimpinan atau pengurus perusahaan tersebut agar

dilaksanakan semua syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang

diwajibkan di tempat kerja.

2. Menyatakan keberatan apabila syarat Keselamatan dan Kesehatan

Kerja serta APD (Alat Perlindungan Diri) yang diwajibkan tidak

memenuhi persyaratan, kecuali dalam hal khusus ditetapkan lain oleh

pegawai pengawas dalam batasbatas yang masih dapat

dipertanggungjawabkan.

D. Potensi Bahaya yang Menyebabkan Kecelakaan Kerja

Keselamatan kerja erat kaitannya dengan kecelakaan kerja, yakni suatu

kejadian yang tidak dikehendaki dan sering tidak terduga yang dapat menimbulkan

kerugian baik waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa yang terjadi di

dalam suatu proses kerja industri atau yang berkaitan dengan hal tersebut. Unsur-

unsur kecelakaan kerja adalah sebagai berikut.

1.Tidak diduga semula, oleh karena dibelakang peristiwa kecelakaan kerja tidak

terdapat unsur kesengajaan atau perencanaan.

2.Tidak diinginkan atau diharapkan, karena setiap peristiwa kecelakaan kerja

akan selalu disertai kerugian baik fisik maupun mental.

3.Selalu menimbulkan kerugian dan kerusakan, yang sekurangkurangnya

menyebabkan gangguan proses kerja. (Tarwaka, 2008:5)

17
Suatu kecelakaan kerja hanya akan terjadi apabila terdapat berbagai faktor

penyebab secara bersamaan pada suatu tempat kerja atau proses produksi. Dari

beberapa penelitian para ahli memberikan indikasi bahwa suatu kecelakaan kerja

tidak dapat terjadi dengan sendirinya, akan tetapi terjadi oleh salah satu atau

beberapa faktor penyebab kecelakaan sekaligus dalam satu kejadian. Berikut

penyebab kecelakaan kerja secara umum:

1. Sebab dasar atau asal mula Terjadinya kecelakaan kerja pastilah terlihat dari

sebab dasar yang menjadikan terjadinya peristiwa kecelakaan kerja yang

dapat dilihat dari faktor:

a. Komitmen atau partisipasi dari pihak manajemen atau pimpinan

perusahaan dalam upaya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

di perusahaannya;

b. Manusia atau para pekerjanya sendiri, dan

c. Kondisi tempat kerja, sarana kerja dan lingkungan kerja.

2. Sebab Utama Sebab utama dari kejadian kecelakaan kerja adalah adanya

faktor dan persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja yang belum

dilaksanakan secara benar (Substandards). Sebab utama kecelakaan kerja

meliputi faktor:

a. Faktor manusia atau adanya tindakan tidak aman (unsafe action).

Dilatar belakangi oleh adanya tindakan berbahaya dari tenaga kerja bisa

terjadi karena:

1) Kurang pengetahuan dan ketrampilan kerja (lack of knowledge

and skill)

18
2) Ketidakmampuan bekerja secara normal (inadequate

capability)

3) Ketidakfungsian tubuh karena cacat yang tidak Nampak

(bodily defect)

4) Kelelahan dan kejenuhan (fatique and boredom)

5) Sikap dan tingkah laku yang tidak aman (unsafe attitude and

habits)

6) Kebingungan dan stress karena prosedur kerja yang baru dan

belum dapat dipahami (confuse and stress)

7) Belum menguasai atau belum trampil dengan peralatan atau

mesin baru (lack of skill)

8) Penurunan konsentrasi dari tenaga kerja saat melakukan

pekerjaan (difficulty in concentrating)

9) Sikap masa bodoh dari tenaga kerja (ignorance)

10) Kurangnya motivasi kerja dari tenaga kerja (improper

motivation)

11) Kurangnya kepuasan kerja (low job satisfaction)

12) Sikap kecenderungan mencelakai diri sendiri, dan sebagainya.

b. Faktor lingkungan atau kondisi tidak aman (unsafe condition).

Lingkungan disini diartikan bahwa kecelakaan kerja terjadi apabila

lingkungan fisik (mesin, peralatan, pesawat, bahan, lingkungan dan

tempat kerja, proses kerja sifat pekerjaan dan sistem kerja) dan

19
faktor-faktor yang berkaitan dengan penyediaan fasilitas,

pengalaman manusia yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja.

c. Interaksi manusia dan sarana pendukung kerja. Apabila interaksi

dan sarana pendukung kerja tidak berjalan dengan sesuai maka akan

terjadi kecelakaan kerja. Dengan demikian, penyediaan sarana kerja

yang sesuai dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasan

manusia harus sudah dilaksanakan sejak perencanaan.

3. Komponen peralatan kerja Peralatan kerja tenaga kerja haruslah didesain,

dipelihara dan dipergunakan dengan baik sehingga potensi bahaya dari

penggunaan peralatan kerja dapat dihindari.

4. Komponen lingkungan kerja Pertimbangan tertentu harus diberikan

terhadap faktor lingkungan kerja seperti, tata letak ruang, kebersihan,

intensitas penerangan, suhu, kelembaban, kebisingan, vibrasi ventilasi, dll

yang sangat mempengaruhi kenyamanan, kesehatan dan keselamatan kerja

tenaga kerja.

5. Organisasi kerja Manajemen keselamatan kerja merupakan variabel

terpenting dalam pengembangan program keselamatan kerja di tempat

kerja. Struktur organisasi yang mempromosikan kerjasama antara pekerja

untuk pengenalan dan pengendalian potensi bahaya akan mempengaruhi

perilaku pekerja secara positif. Pengembangan manajemen kerja akan

efektif dalam menentukan kinerja keselamatan secara umum di tempat kerja

dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja.

20
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengaturan yang terdapat dalam Pasal 2 Ayat (3) Peraturan Pemerintah

Nomor 84 Tahun 2013 tentang Perubahan Kesembilan Atas Peraturan Pemerintah

Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga

Kerja, yang menyatakan bahwa pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja

sebanyak 10 orang atau lebih, atau membayar upah paling sedikit Rp.1.000.000,

(satu juta rupiah) sebulan, wajib mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam program

jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1). Pasal 31 Ayat

(1) UU SJSN, peserta yang mengalami kecelakaan kerja berhak mendapatkan

manfaat berupa pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medisnya dan

mendapatkan manfaat berupa uang tunai apabila terjadi cacat total tetap atau

meninggal dunia.

Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), PT Jamsostek berubah menjadi BPJS

Ketenagakerjaan dan efektif beroperasi pada pada tanggal 1 Juli 2015. BPJS

Ketenagakerjaan merupakan program publik yang memberikan perlindungan bagi

tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu dan penyelenggaraan

nya menggunakan mekanisme asuransi sosial.

Kesehatan kerja sebagai suatu aspek atau unsur kesehatan yang erat

kaitannya dengan lingkungan kerja dan pekerjaan Secara garis besar terdapat dalam

Pasal 164 – Pasal 166 UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,

21
Keselamatan kerja dalam suatu tempat kerja mencakup berbagai aspek yang

berkaitan dengan kondisi dan keselamatan sarana produksi, manusia dan cara kerja.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja secara

tegas dan jelas menetapkan syarat-syarat keselamatan kerja yang harus dipenuhi

oleh setiap orang atau badan yang menjalankan usaha, baik formal maupun

informal, dimanapun berada dalam upaya memberikan perlindungan keselamatan

dan kesehatan semua orang yang berada di lingkungan usahanya.

B. Saran
Peran pemerintah, dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) juga sangat

penting dalam melakukan pengawasan seperti kunjungan rutin ke perusahaan dan

mendengar langsung keluhan dari tenaga kerja yang ada di perusahaan tersebut

sebagai upaya menindaklanjuti pihak pengusaha yang telah lalai tidak memberikan

Jamsostek kepada pekerjanya khususnya tenaga kerja harian lepas. Tenaga kerja

harian lepas juga harus lebih berani untuk memperjuangkan hak- haknya, dengan

cara melaporkan setiap pelanggaran yang dilakukan perusahaan kepada Disnaker

melalui serikat pekerja/buruh atau perwakilan dari tenaga kerja, terlebih lagi jika

hal tersebut sudah diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan.

22
Daftar Pustaka

Asyhadie, Zaeni. Hukum Kerja, Rajawali Press, Jakarta, 2007.

Dahlia Hafni Lubis. 2007. “Penyelenggaraan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan


PT Askes dan PT Jamsostek”. Jurnal Wawasan. Vol. 13 No. 2.

Manulang, Sendjun. H. Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia,


Rineka Cipta, Jakarta, 20

Tarwaka. 2008. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Manajemen dan Implementasi


K3 di Tempat Kerja. Surakarta: Harapan Press.

Akbar, Prayudha. 2015. Hukum Ketenagakerjaan. [online]. Tersedia:


https://materimahasiswahukumindonesia.blogspot.co.id/2015/01/hukum-
ketenagakerjaan.html.

Peraturan PerUndang-Undang

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Mengenai

Tenaga Kerja

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan

Sosial

23