Anda di halaman 1dari 45

ASUHAN KEPERAWATAN HOME CARE

PADA PASIEN POST OPERASI KATARAK HARI KE 2

Oleh:
KELOMPOK 3
B10-A:

1. DESAK PUTU BELLA ANDRIYANI (173222769)


2. I MADE SUTAMA (173222781)
3. MADE DIAN KUMARAWATI (173222787)
4. MADE DWI WIRA ADI ANTARI (173222788)
5. NI LUH MADE YUDIANI (173222792)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI


PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN ALIH JENJANG
2018
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas Waranugraha
Beliaulah penulis bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Home
Care Pada Pasien Post Operasi Katarak” ini tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat dengan bantuan dari berbagai pihak yang membantu menyelesaikan
tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karena itu, penulis mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat
membangun. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan
makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca sekalian.

Denpasar, Maret 2018

Penulis

2
KONSEP DASAR KATARAK

A. Pengertian Katarak
Katarak berasal dari bahasa Yunani “Katarrhakies”, dalam bahasa Inggris
“Cataract”, dan dalam bahasa Latin “Cataracta” yang berarti air terjun. Dalam bahasa
Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang
keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya (Ilyas,
2005).
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Biasanya terjadi
akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran (katarak kongenital). Dapat
juga berhubungan dengan trauma mata tajam maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid
jangka panjang, penyakit sistemik, pemajanan radiasi, pemajanan yang lama sinar
ultraviolet, atau kelainan mata lain seperti uveitis anterior (Suzzane C Smeltzer, 2002).
Menurut Corwin (2001), katarak adalah penurunan progresif kejernihan lensa.
Lensa menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang.
Katarak terjadi apabila protein-protein lensa yang secara normal transparan terurai dan
mengalami koagulasi.
Sedangkan menurut Mansjoer (2000), katarak adalah setiap keadaan kekeruhan
pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (panambahan cairan) lensa, denaturasi protein
lensa, atau akibat kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif.
Jadi, dapat disimpulkan katarak adalah kekeruhan lensa yang normalnya transparan
dan dilalui cahaya menuju retina, dapat disebabkan oleh berbagai hal sehingga terjadi
kerusakan penglihatan.

B. Etiologi Katarak
Katarak dapat timbul pada usia berapa saja setelah trauma lensa, infeksi mata, atau
akibat pajanan radiasi atau obat tertentu. Janin yang tepajan virus rubella dapat mengalami
katarak. Para pengidap diabetes melitus kronik sering mengalami katarak, yang
kemungkinan besar disebabkan oleh gangguan aliran darah ke mata dan perubahan
penanganan dan metabolisme glukosa.
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia
seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan tetapi,

3
katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda.
Penyebab katarak lainnya meliputi:
1. Faktor keturunan.
2. Cacat bawaan sejak lahir.
3. Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid.
4. Gangguan pertumbuhan.
5. Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.
6. Rokok dan Alkohol.
7. Operasi mata sebelumnya dan trauma (kecelakaan) pada mata.
8. Proses degeneratif (Katarak Senilis).
9. Penyakit mata lain (Uveitis).
10. Penyakit sistemik (DM).
11. Defek kongenital (salah satu kelainan herediter sebagai akibat dari infeksi virus
prenatal, seperti German Measles).
12. Faktor-faktor lainya yang belum diketahui.
Sebagian besar katarak yang disebut katarak senilis, terjadi akibat perubahan-
perubahan degeneratif yang berhubungan dengan pertambahan usia. Pajanan terhadap
sinar matahari selama hidup, alkohol, merokok dan asupan vitamin antioksidan yang
kurang dalam jangka waktu yang lama serta predisposisi herediter berperan dalam
munculnya katarak senilis.

C. Epidemologi / Insiden Kasus


Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. 20-40% orang usia 60
tahun ke atas mengalami penurunan ketajaman penglihatan akibat kekeruhan lensa.
Sedangkan pada usia 80 tahun ketas insidensinya mencapai 60-80%. Prevalensi katarak
congenital pada negara maju berkisar 2-4 setiap 10000 kelahiran. Frekuensi katarak laki-
laki dan perempuan sama besar. Di seluruh dunia, 20 juta orang mengalami kebutaan
akibat katarak.
Penyakit katarak tidak menimbulkan gejala rasa sakit tetapi dapat menggangu
penglihatan dari penglihatan kabur sampai menjadi buta. penyakit katarak di Indonesia
banyak terjadi pada umur di atas 40 tahun padahal sebagai penyakit yang degeneratif buta
katarak umumnya terjadi pada usia lanjut (SKRT-SURKESNAS, 2001).
Salah satu teori menyatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam
melindungi lensa dari degenerasi, jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia.

4
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda.
Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika orang memasuki
dekade ke tujuh (Brunner & Suddarth, KMB vol 3).
Di Indonesia, katarak merupakan penyebab utama kebutaan prevalensi buta katarak
0,78% dari prevalensi kebutaan 1,5% pertahun. Walaupun katarak merupakan penyakit
usia lanjut, namun 16-20% buta katarak telah dialami penduduk indonesia pada usia 40-
50 tahun (Badan Biro Statistik BPS 2004). Sedangkan di daerah maju seperti Amerika
Serikat (AS), Inggris, dan Jepang, kasus katarak terjadi pada orang berusia 60 tahun.
Artinya orang Indonesia lebih awal megidap katarak.

D. Patofisiologi Katarak
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk
seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung
tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan
yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya
usia, nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Disekitar opasitas
terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul
posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna, nampak seperti kristal salju
pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.
Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier ke
sekitar daerah diluar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalamui distorsi.
Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga
mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori
menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa.
Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori
lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari
degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada
kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun memiliki kecepatan yang berbeda. Dapat
disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemik, seperti diabetes. Namun kebanyakan
merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak
berkembang secara kronik ketika seseorang memasuki dekade ketujuh. Katarak dapat
bersifat kongenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat

5
menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering
berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-obatan,
alkohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka
waktu lama (Smeltzer, 2002).

E. Pathway Katarak
(Terlampir)

F. Manifestasi Klinik
Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya, pasien
melaporkan penurunan ketajaman fungsi penglihatan, silau, dan gangguan fungsional
sampai derajat tertentu yang diakibatkan karena kehilangan penglihatan tadi, temuan
objektif biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga
retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya
akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus
pada retina. Hasilnya adalah pandangan kabur atau redup, menyilaukan yang
menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari.
Pupil yang normalnya hitam, akan tampak kekuningan, abu-abu atau putih.
Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun , dan ketika katarak sudah sangat
memburuk, lensa koreksi yang lebih kuat pun tak akan mampu memperbaiki penglihatan.
Orang dengan katarak secara khas selalu mengembangkan strategi untuk
menghindari silau yang menjengkel yang disebabkan oleh cahaya yang salah arah.
Misalnya, ada yang mengatur ulang perabotan rumahnya sehingga sinar tidak akan
langsung menyinari mata mereka. Ada yang mengenakan topi berkelepak lebar atau kaca
mata hitam dan menurunkan pelindung cahaya saat mengendarai mobil pada siang hari
(Smeltzer, 2002).
Menurut Mansjoer (2000), pada katarak senil, dikenal 4 stadium yaitu: insipiens,
matur, imatur, dan hipermatur.

INSIPIENS MATUR IMATUR HIPERMATUR


KEKERUHAN Ringan Sebagian Seluruh Masif
CAIRAN Normal Bertambah Normal Berkurang
LENSA
IRIS Normal Terdorong Normal Tremulans
BILIK MATA Normal Dangkal Normal Dalam
DEPAN

6
SUDUT BILIK Normal Sempit Normal Terbuka
MATA
SHADOW Negative Postitif Negative Pseudopositif
TEST
PENYULIT - Glaucoma - Uveitis,
Glaukoma

G. Klasifikasi Katarak
Menurut Dale Vaughan (2000), katarak dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1. Katarak terkait usia (katarak senilis)
Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai. Satusatunya gejala
adalah distorsi penglihatan dan penglihatan yang semakin kabur.
2. Katarak anak-anak
Katarak anak-anak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Katarak kongenital, yang terdapat sejak lahir atau segera sesudahnya. Banyak
katarak kongenital yang tidak diketahui penyebabnya walaupun mungkin terdapat
faktor genetik, yang lain disebabkan oleh penyakit infeksi atau metabolik, atau
beerkaitan dengan berbagai sindrom.
b. Katarak didapat, yang timbul belakangan dan biasanya terkait dengan sebab-
sebab spesifik. Katarak didapat terutama disebabkan oleh trauma, baik tumpul
maupun tembus. Penyebab lain adalah uveitis, infeksi mata didapat, diabetes dan
obat.
3. Katarak traumatik
Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh cedera benda asing di lensa atau
trauma tumpul terhadap bola mata. Lensa menjadi putih segera setelah masuknya
benda asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus dan
kadang- kadang korpus vitreum masuk kedalam struktur lensa.
4. Katarak komplikata
Katarak komplikata adalah katarak sekunder akibat penyakit intraocular pada fisiologi
lensa. Katarak biasanya berawal didaerah sub kapsul posterior dan akhirnya mengenai

7
seluruh struktur lensa. Penyakit- penyakit intraokular yang sering berkaitan dengan
pembentukan katarak adalah uveitis kronik atau rekuren, glaukoma, retinitis
pigmentosa dan pelepasan retina.

5. Katarak bilateral
Katarak bilateral dapat terjadi karena gangguan-gangguan sistemik berikut: diabetes
mellitus, hipoparatiroidisme, distrofi miotonik, dermatitis atropik, galaktosemia, dan
syndrome Lowe, Werner atau Down.
6. Katarak toksik
Katarak toksik jarang terjadi. Banyak kasus pada tahun 1930-an sebagai akibat
penelanan dinitrofenol (suatu obat yang digunakan untuk menekan nafsu makan).
Kortokosteroid yang diberikan dalam waktu lama, baik secara sistemik maupun dalam
bentuk tetes yang dapat menyebabkan kekeruhan lensa.
7. Katarak ikutan
Katarak ikutan menunjukkan kekeruhan kapsul posterior akibat katarak traumatik
yang terserap sebagian atau setelah terjadinya ekstraksi katarak ekstrakapsular.

H. Pemeriksaan Penunjang
Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui
kemampuan melihat pasien. Visus pasien dengan katarak subkapsuler posterior dapat
membaik dengan dilatasi pupil. Pada pemeriksaan slit lamp biasanya dijumpai keadaan
palpebra, konjungtiva,dan kornea dalam keadaan normal. Iris, pupil, dan COA terlihat
normal. Pada lensa pasien katarak, didapatkan lensa keruh. Lalu, dilakukan pemeriksaan
shadow test untuk menentukan stadium pada penyakit katarak senilis. Ada juga
pemeriksaan-pemeriksaan lainnya seperti biomikroskopi, stereoscopic fundus
examination, pemeriksaan lapang pandang dan pengukuran TIO.
1. Retinometri adalah tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah penglihatan yang
turun itu disebabkan katarak atau tidak.
2. Keratometri
3. Pemeriksaan lampu slit
4. Oftalmoskopis yaitu dengan melihat refleks merah didalam manik mata atau pupil.
Apabila tidak ada katarak maka akan terlihat reflek merah padda pupil yang
merupakan reflek retina yang terlihat melalui pupil. Bila terdapat katarak atau

8
kekeruhan padat pada pupil maka refleks merah ini tidak akan terlihat.
5. A-Scan ultrasound (Echography)
6. Penghitungan sel endotel penting untuk fakoemulsifikasi dan implantasi.

I. Penatalaksanaan
Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Untuk menentukan kapan katarak
dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan. Tajam penglihatan dikaitkan
dengan tugas sehari-hari penderita. Satu-satunya terapi untuk pasien katarak adalah bedah
katarak dimana lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular
atau ekstrakapsular :
1. Ekstraksi intrakapsular (ICCE)
Lensa diangkat seluruhnya. Keuntungannya prosedur mudah dilakukan dan
Kerugiannya mata berisiko mengalami retinal detachment (lepasnya retina).
2. Ekstraksi ekstrakapsular (ECCE)
Pada teknik ini, bagian depan kapsul dipotong dan diangkat, lensa dibuang dari mata,
sehingga menyisakan kapsul bagian belakang. Lensa intraokuler buatan dapat
dimasukkan ke dalam kapsul tersebut. Kejadian komplikasi setelah operasi lebih kecil
kalau kapsul bagian belakang utuh.
3. Fakofragmentasi dan fakoemulsifikasi
Merupakan teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik
untuk mengangkat lensa melalui irisan yang kecil (2-5 mm), sehingga mempermudah
penyembuhan luka pasca-operasi. Teknik ini kurang efektif pada katarak yang padat.
4. Small Incision Catarac Sustruction (SICS)
Teknik operasi katarak dengan menggunakan metode SICS memerlukan dua sayatan
kecil di sisi bola mata, lalu melepas lensa mata keruh dan memasangkan lensa
intraokular buatan.
Operasi katarak terdiri dari pengangkatan sebagian besar lensa dan penggantian
lensa dengan implan plastik. Saat ini pembedahan semakin banyak dilakukan dengan
anestesi lokal daripada anestesi umum. Anestesi lokal diinfiltrasikan di sekitar bola mata
dan kelopak mata atau diberikan secara topikal. Jika keadaan sosial memungkinkan, pasien
dapat dirawat sebagai kasus perawatan sehari dan tidak memerlukan perawatan rumah
sakit.

9
Kekuatan implan lensa intraokular yang akan digunakan dalam operasi dihitung
sebelumnya dengan mengukur panjang mata secara ultrasonik dan kelengkungan kornea
(maka juga kekuatan optik) secara optik. Kekuatan lensa umumnya dihitung sehingga
pasien tidak akan membutuhkan kacamata untuk penglihatan jauh. Pilihan lensa juga
dipengaruhi oleh refraksi mata kontralateral dan apakah terdapat terdapat katarak pada
mata tersebut yang membutuhkan operasi. Jangan biarkan pasien mengalami perbedaan
refraktif pada kedua mata.
Pascaoperasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka pendek.
Kacamata baru dapat diresepkan setelah beberapa minggu, ketika bekas insisi telah
sembuh. Rehabilitasi visual dan peresepan kacamata baru dapat dilakukan lebih cepat
dengan metode fakoemulsifikasi. Karena pasien tidak dapat berakomodasi maka pasien
membutuhkan kacamata untuk pekerjaan jarak dekat meski tidak dibutuhkan kacamata
untuk jarak jauh. Saat ini digunakan lensa intraokular multifokal, lensa intraokular yang
dapat berakomodasi sedang dalam tahap pengembangan.

J. Komplikasi
Bila katarak dibiarkan maka akan terjadi komplikasi berupa glaucoma dan uveitis.
Glaukoma adalah peningkatan abnormal tekanan intraokuler yang menyebabkan atrofi
saraf optik dan kebutaan bila tidak teratasi (Doenges, 2000). Uveitis adalah inflamasi salah
satu struktur traktus uvea (Smeltzer, 2002).
Sedangkan komplikasi yang dapat timbul jika dilakukan tindakan operasi adalah
sebagai berikut.
1. Hilangnya vitreous
Hal ini dapat terjadi apabila kapsul posterior mengalami kerusakan selama operasi,
yang mengakibatkan gel vitreous dapat masuk ke dalam bilik anterior.
2. Prolaps iris
Iris dapat mengalami protrusi melalui insisi bedah pada periode pasca operasi dini.
Terlihat sebagai daerah berwarna gelap pada lokasi insisi, dan pupil mengalami
distorsi. Keadaan ini membutuhkan perbaikan segera dengan pembedahan.
3. Endoftalmitis
Komplikasi infektif ekstraksi katarak yang serius namun jarang terjadi (kurang dari
0,3%). Pasien datang dengan keluhan mata merah yang terasa nyeri, penurunan tajam
pengelihatan (biasanya dalam beberapa hari setelah pembedahan), pengumpalan sel
darah putih di bilik anterior.

10
4. Astigmatisme pascaoperasi
Mungkin diperlukan pengangkatan jahitan kornea untuk mengurangi astigatisme
kornea.

5. Edema makular sistoid


Makula menjadi edema setelah pembedahan, terutama bila disertai hilangnya vitreous.
Dapat sembuh seiring waktu namun dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan
yang berat.
6. Ablasio retina
Teknik-teknik modern dalam ekstraksi katarak dihubungkan dengan rendahya tingkat
komplikasi ini. Tingkat komplikasi ini bertambah bila terdapat kehilangan vitreous.
7. Opasifikasi kapsul posterior
Pada sekitar 20% pasien, kejernihan kapsul posterior berkurang pada beberapa bulan
setelah pembedahan ketika sel epitel residu bermigrasi melalui permukaannya.
Pengelihatan menjadi kabur dan mungkin didapatkan rasa silau.
8. Resiko iritasi dan infeksi
Jika jahitan nilon halus tidak diangkat setelah pembedahan maka jahitan dapat lepas
dalam beberapa bulan atau tahun setelah pembedahan dan mengakibatkan iritasi atau
infeksi. Gejala hilang dengan pengangkatan jahitan.

11
12
Pathway
Bertambahnya usia

Perubahan fisik Perubahan warna Perubahan kimia


lensa pada nukleus lensa

Perubahan protein
Perubahan serabut lensa
halus yang Hilangnya
memanjang dari transparansi lensa
badan silier ke luar
Perubahan dalam
lensa
serabut-serabut lensa,
mengalami denaturasi

Penglihatan menjadi
distorsi Terjadi koagulasi

Katarak
Terbentuknya daerah
keruh lensa
Dapat mengakibatkan:
Glaukoma,
Kebutaan

Tindakan :

Pre Operasi Intra Operasi Post Operasi

 Gangguan
Gangguan persepsi  Risiko  Nyeri akut
Nyeri
persepsi
sensori sensori hipotermia  Gangguan persepsi
Gangguan
sensori
 Risiko cedera
Risiko tinggi persepsi sensori
 Defisiensi  Risiko cedera
cedera  Risiko cedera
Risiko infeksi
Pengetahuan
 Kurangnya  Risiko infeksi
 Ansietas
pengetahuan
 Ansietas

13
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KATARAK

A. Pengkajian
1. Biodata
Identitas klien: nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/ bangsa,
pendidikan, pekerjaan, alamat dan nomor register.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Penurunan ketajaman penglihatan dan silau.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat kesehatan pendahuluan pasien diambil untuk menemukan masalah primer
pasien, seperti: kesulitan membaca, pandangan kabur, pandangan ganda, atau
hilangnya daerah penglihatan soliter. Perawat harus menemukan apakah
masalahnya hanya mengenai satu mata atau dua mata dan berapa lama pasien sudah
menderita kelainan ini. Riwayat mata yang jelas sangat penting. Apakah pasien
pernah mengalami cedera mata atau infeksi mata, penyakit apa yang terakhir
diderita pasien.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Eksplorasi keadaan atau status okuler umum pasien. Apakah ia mengenakan
kacamata atau lensa kontak, apakah pasien mengalami kesulitan melihat (fokus)
pada jarak dekat atau jauh, apakah ada keluhan dalam membaca atau menonton
televisi, bagaimana dengan masalah membedakan warna atau masalah dengan
penglihatan lateral atau perifer.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah riwayat kelainan mata pada keluarga derajat pertama atau kakek-nenek.
3. Pemeriksaan fisik
Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara keabuan pada
pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop (Smeltzer, 2002). Katarak
terlihat tampak hitam terhadap refleks fundus ketika mata diperiksa dengan
oftalmoskop direk. Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan katarak secara
rinci dan identifikasi lokasi opasitas dengan tepat. Katarak terkait usia biasanya terletak
didaerah nukleus, korteks, atau subkapsular. Katarak terinduksi steroid umumnya
terletak di subkapsular posterior. Tampilan lain yang menandakan penyebab okular
katarak dapat ditemukan, antara lain deposisi pigmen pada lensa menunjukkan

14
inflamasi sebelumnya atau kerusakan iris menandakan trauma mata sebelumnya
(James, 2005).
4. Perubahan pola fungsional (Gordon)
a. Persepsi tehadap kesehatan
Manajemen pasien dalam memelihara kesehatan, adakah kebiasaan merokok,
mengkonsumsi alkohol,dan apakah pasien mempunyai riwayat alergi terhadap
obat, makanan atau yang lainnya.
b. Pola aktifitas dan latihan
Kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas atau perawatan diri, apakah perlu
bantuan, ketergantungan penuh atau tidak.
c. Pola istirahat tidur
Berapa lama waktu tidur pasien, apakah ada kesulitan tidur seperti insomnia atau
masalah lain. Apakah saat tertidur sering terbangun.
d. Pola nutrisi metabolik
Adakah diet khusus yang dijalani pasien, jika ada anjuran diet apa yang telah
diberikan. Kaji nafsu makan pasien sebelum dan setelah sakit mengalami
perubahan atau tidak, adakah keluhan mual dan muntah, adakah penurunan berat
badan yang drastis dalam 3 bulan terakhir.
e. Pola eliminasi
Kaji kebiasaan BAK dan BAB pasien, apakah ada gangguan atau kesulitan. Untuk
BAK kaji warna, bau dan frekuensi sedangkan untuk BAB kaji bentuk, warna, bau
dan frekuensi.
f. Pola kognitif perseptual
Status mental pasien atau tingkat kesadaran, kemampuan bicara, mendengar,
melihat, membaca serta kemampuan pasien berinteraksi. Adakah keluhan nyeri
karena suatu hal, jika ada kaji kualitas nyeri.
g. Pola konsep diri
Bagaimana pasien mampu mengenal diri dan menerimanya seperti harga diri, ideal
diri pasien dalam hidupnya, identitas diri dan gambaran akan dirinya.
h. Pola koping
Masalah utama pasien masuk rumah sakit, cara pasien menerima dan menghadapi
perubahan yang terjadi pada dirinya dari sebelum sakit hingga setelah sakit.
i. Pola seksual reproduksi

15
Pola seksual pasien selama di rumah sakit, menstruasi terakhir dan adakah masalah
saat menstruasi.
j. Pola peran hubungan
Status perkawinan pasien, pekerjaan, kualitas bekerja, sistem pendukung dalam
menghadapi masalah, dan bagaiman dukungan keluarga selama pasien dirawat di
rumah sakit.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/status
organ indera ditandai dengan menurunnya ketajaman.
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan pada status kesehatan.
3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit
4. Nyeri akut berhubungan dengan luka pasca operasi.
5. Risiko cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
6. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invansif (operasi katarak)

C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa
No NOC NIC
Keperawatan
1. 1. Gangguan persepsi NOC NIC
sensori berhubungan a. Sensori function: Neurologik Monitoring:
dengan gangguan vision a. Monitor tingkat neurologis
penerimaan Kriteria Hasil: b. Monitor fungsi neurologis
sensori/status organ a. Menunjukan tanda klien
indera ditandai dan gejala persepsi c. Monitor respon neurologis
dengan menurunnya dan sensori baik: d. Monitor reflek-reflek
ketajaman penglihatan baik. meningeal
penglihatan. b. Mampu e. Monitor fungsi sensori dan
mengungkapkan persepsi : penglihatan,
fungsi persepsi dan penciuman, pendengaran,
sensori dengan tepat pengecapan, rasa
f. Monitor tanda dan gejala
penurunan neurologis klien

16
Eye Care:
a. Kaji fungsi penglihatan klien
b. Jaga kebersihan mata
c. Monitor penglihatan mata
d. Monitor tanda dan gejala
kelainan penglihatan
e. Monitor fungsi lapang
pandang, penglihatan, visus
klien
Monitoring Vital Sign:
a. Monitor TD, Suhu, Nadi dan
pernafasan klien
b. Catat adanya fluktuasi TD
c. Monitor vital sign saat pasien
berbaring, duduk atau berdiri
d. Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
e. Monitor TD, Nadi, RR
sebelum dan setelah aktivitas
f. Monitor kualitas Nadi
g. Monitor frekuensi dan irama
pernafasan
h. Monitor suara paru
i. Monitor pola pernafasan
abnormal
j. Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
k. Monitor sianosis perifer
l. Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
brakikardi, peningkatan
sistolik)

17
2. 1. Ansietas berhubungan NOC NIC
dengan perubahan a. Anxiety self-control Anxiety Reduction (penurunan
pada status kesehatan. b. Anxiety level kecemasan)
c. Coping a. Gunakan pendekatan yang
Kriteria Hasil : menenangkan
a. Klien mampu b. Nyatakan dengan jelas harapan
mengidentifikasi dan terhadap pelaku pasien
mengungkapkan c. Jelaskan semua prosedur dan
gejala cemas. apa yang dirasakan selama
b. Mengidentifikasi, prosedur
mengungkapkan dan d. Pahami prespektif pasien
menunjukkan tehnik terhadap situasi stres
untuk mengontol e. Temani pasien untuk
cemas. memberikan keamanan dan
c. Vital sign dalam mengurangi takut
batas normal. f. Dorong keluarga untuk
d. Postur tubuh, menemani anak
ekspresi wajah, g. Lakukan back / neck rub
bahasa tubuh dan h. Dengarkan dengan penuh
tingkat aktivfitas perhatian
menunjukkan i. Identifikasi tingkat kecemasan
berkurangnya j. Bantu pasien mengenal situasi
kecemasan. yang menimbulkan kecemasan
k. Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
l. Instruksikan pasien
menggunakan teknik relaksasi
m. Berikan obat untuk
mengurangi kecemasan
3. 1. Defisiensi NOC NIC
pengetahuan a. Knowledge: Disease Teaching: Disease Proses
berhubungan dengan Process

18
kurang informasi b. Knowledge: Health a. Berikan penilaian tentang
tentang penyakit Hehavior tingkat pengetahuan pasien
Kriteria Hasil: tentang proses penyakit yang
a. Pasien dan keluarga spesifik
menyatakan b. Jelaskan patofisiologidari
pemahaman tentang penyakit dan bagaimana hal ini
penyakit, kondisi, berhubungan dengan anatomi
prognosis, dan dan fisiologi, dengan cara yang
program pengobatan tepat.
b. Pasien dan keluarga c. Gambarkan tanda dan gejala
mampu melaksakan yang biasa muncul pada
prosedur yang penyakit, dengan cara yang
dijelaskan secara tepat
benar d. Identifikasi kemungkinan
c. Pasien dan keluarga penyebab, dengan cara yang
mampu menjelaskan tepat
kembali apa yang e. Sediakan informasi pada
dijelaskan pasien tentang kondisi,
perawat/tim kesehatan dengan cara yang tepat
lainnya f. Hindari jaminan yang kosong
g. Sediakan bagi keluarga
informasi tentang kemajuan
pasien dengan cara yang tepat
h. Diskusikan perubahan gaya
hidup yang mungkin
diperlukan untuk mencegah
komplikasi dimasa yang akan
datang dan ata proses
pengontrolan penyakit
i. Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
j. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau

19
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
k. Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas local,
dengan cara yang tepat
l. Intruksikan pasien mengenal
tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat
4. 1. Nyeri akut NOC : NIC:
berhubungan dengan a. Pain level, Pain Management
luka pasca operasi. b. Pain control, a. Lakukan pengkajian nyeri
c. Comfort level secara komprehensif termasuk
Kriteria Hasil: lokasi, karakteristik, durasi,
a. Mampu mengontrol frekuensi, kualitas dan faktor
nyeri (tahu penyebab presipitasi
nyeri, mampu b. Observasi reaksi nonverbal dari
menggunakan tehnik ketidaknyamanan
nonfarmakologi untuk c. Bantu pasien dan keluarga
mengurangi nyeri, untuk mencari dan menemukan
mencari bantuan) dukungan
b. Melaporkan bahwa d. Kontrol lingkungan yang dapat
nyeri berkurang mempengaruhi nyeri seperti
dengan menggunakan suhu ruangan, pencahayaan dan
manajemen nyeri kebisingan
c. Mampu mengenali e. Kurangi faktor presipitasi nyeri
nyeri (skala, f. Kaji tipe dan sumber nyeri
intensitas, frekuensi untuk menentukan intervensi
dan tanda nyeri) g. Ajarkan tentang teknik non
farmakologi: napas dala,

20
d. Menyatakan rasa relaksasi, distraksi, kompres
nyaman setelah nyeri hangat/ dingin
berkurang h. Berikan analgetik untuk
e. Tanda vital dalam mengurangi nyeri
rentang normal i. Tingkatkan istirahat
f. Tidak mengalami j. Berikan informasi tentang nyeri
gangguan tidur seperti penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan berkurang dan
antisipasi ketidaknyamanan
dari prosedur
k. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
5. 1. Risiko cedera NOC NIC
berhubungan a. Risk Kontrol Environment Management
dengan keterbatasan Kriteria Hasil: a. Sediakan Iingkungan yang
penglihatan. a. Klien terbebas dari aman untuk pasien
cedera b. Identifikasi kebutuhan
b. Klien mampu keamanan pasien, sesuai
menjelaskan dengan kondisi fisik dan fungsi
cara/metode untuk kognitif pasien dan riwayat
mencegah penyakit terdahulu pasien
injury/cedera c. Menghindarkan lingkungan
c. Klien mampu yang berbahaya (misalnya
menjelaskan faktor memindahkan perabotan)
resiko dari d. Memasang side rail tempat
lingkungan/perilaku tidur
personal e. Menyediakan tempat tidur
d. Mampu yang nyaman dan bersih
memodifikasi gaya f. Menempatkan saklar lampu
hidup untuk ditempat yang mudah
mencegah injury dijangkau pasien.
g. Membatasi pengunjung

21
e. Menggunakan h. Menganjurkan keluarga untuk
fasilitas kesehatan menemani pasien.
yang ada i. Mengontrol lingkungan dari
f. Mampu mengenali kebisingan
perubahan status j. Memindahkan barang-barang
kesehatan yang dapat membahayakan
k. Berikan penjelasan pada pasien
dan keluarga atau pengunjung
adanya perubahan status
kesehatan dan penyebab
penyakit.
6. 1. Risiko infeksi NOC NIC
berhubungan dengan a. Immune Status Infection Control
prosedur invansif b. Knowledge : a. Bersihkan lingkungan setelah
(operasi katarak) Infection control dipakai pasien lain
c. Risk control b. Pertahankan teknik isolasi
Kriteria Hasil: c. Batasi pengunjung bila perlu
a. Klien bebas dari d. Instruksikan pada pengunjung
tanda dan gejala untuk mencuci tangan saat
infeksi berkunjung dan setelah
b. Mendeskripsikan berkunjung meninggalkan
proses penularan pasien
penyakit, faktor yang e. Gunakan sabun antimikrobia
mempengaruhi untuk cuci tangan
penularan serta f. Cuci tangan setiap sebelum dan
penatalaksanaannya sesudah tindakan keperawatan
c. Menunjukkan g. Gunakan baju, sarung tangan
kemampuan untuk sebagai alat pelindung
mencegah timbulnya h. Pertahankan lingkungan
infeksi aseptik selama pemasangan alat
d. Jumlah leukosit i. Tingktkan intake nutrisi
dalam batas normal j. Berikan terapi antibiotik bila
perlu

22
e. Menunjukkan Infection Protection
perilaku hidup sehat a. Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
b. Monitor kerentangan terhadap
infeksi
c. Batasi pengunjung
d. Pertahankan teknik aspesis
pada pasien yang beresiko
e. Inspeksi kondisi luka / insisi
bedah
f. Dorong masukan cairan
g. Dorong istirahat
h. Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai resep
i. Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
j. Ajarkan cara menghindari
infeksi
k. Laporkan kecurigaan infeksi
l. Laporkan kultur positif

ASUHAN KEPERAWATAN HOME CARE NY. “WS”


DENGAN POST OPERASI KATARAK HARI KE 2
DI BR. BUSUNG YEH KANGIN PEMECUTAN DENPASAR
TANGGAL 5-7 MARET 2018

I. PENGKAJIAN/PENGUMPULAN DATA
A. IDENTITAS/DATA BIOGRAFIS KLIEN
1. Nama : Ny. WS
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Tempat Tanggal Lahir : Denpasar, 24 Desember 1943
4. Umur : 75 tahun
5. Agama : Hindu
23
6. Status Perkawinan : Kawin
7. Pekerjaan : Tidak bekerja
8. Pendidikan Terakhir : Tidak sekolah
9. Alamat Rumah : Jl. Gunung Batukaru, Br. Busung Yeh
Kangin Denpasar
10. Orang yang dekat dihubungi : “An. KP”
11. Hubungan dengan klien : Anak

B. KELUHAN UTAMA
Pada saat pengkajian, Ny. WS mengeluh nyeri pada luka post operasi katarak pada
mata kiri yang dilakukan 2 hari yang lalu. Nyeri terasa menusuk-nusuk ketika batuk
dan bergerak atau menoleh secara tiba-tiba.

C. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI


Ny. WS mengatakan penglihatan kabur pada mata kiri dirasakan sejak kurang lebih
1 tahun yang lalu. Penglihatan kabur/tidak jelas dan seperti ada kabut serta terkadang
Ny. WS merasa silau saat melihat cahaya. Ny. WS didiagnosa katarak oleh dokter
dan disarankan melakukan operasi pada mata kiri. Ny. WS sudah dioperasi katarak
pada dua hari yang lalu.

D. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU


Ny. WS memiliki riwayat penyakit Diabetes Mellitus, didiagnosis sejak kurang lebih
5 tahun yang lalu. Ny. WS hanya minum susu diabetasol untuk mengatasi penyakit
DM yang ia derita. Ny. WS pernah terjatuh di kamar mandi karena licin Ny. WS
belum pernah mendapat imunisasi karena saat anak-anak belum terdapat program
imunisasi. Ny. WS tidak memiliki alergi terhadap obat-obatan maupun makanan.

E. GENOGRAM

24
Ny. WS
Tn. MR 75 th
73 th

An. KP
41 th

Keterangan :
= meninggal

= laki-laki masih hidup


= perempuan masih hidup
= Ny. WS
= tinggal serumah

F. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Ny. WS merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ibu Ny. WS memiliki riwayat
DM sama seperti yang dialami oleh Ny. WS. Suami Ny. WS memiliki riwayat
hipertensi. Anak pertama Ny. WS meninggal saat masih berumur 7 tahun karena
demam. Adik Ny. WS yang masih 1 desa dengan Ny. WS memiliki riwayat katarak.

G. RIWAYAT PEKERJAAN
1. Pekerjaan saat ini : saat ini Ny. WS tidak bekerja
2. Alamat pekerjaan : saat ini Ny. WS tidak bekerja
3. Berapa jarak dari rumah : saat ini Ny. WS tidak bekerja
4. Alat transportasi : saat ini Ny. WS tidak bekerja
5. Pekerjaan sebelumnya : Guru Honorer
6. Berapa jarak dari rumah : < 1 km

25
7. Alat transportasi : sepeda motor
8. Sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan
Saat ini kebutuhan Ny. WS dipenuhi oleh anak laki-lakinya (An. KP) karena
Ny. WS sudah pensiun dan sesekali mendapatkan penghasilan dari membuat
banten. Ny. WS mengatakan bahwa kebutuhannya telah terpenuhi.

H. RIWAYAT LINGKUNGAN HIDUP


1. Type tempat tinggal
Ny. WS tinggal di rumah permanen dengan luas 800 m2
2. Kamar
Ny. WS memiliki 3 kamar tidur, 1 balai dan 1 kamar untuk barang-barang
3. Kondisi tempat tinggal
Kondisi tempat tinggal Ny. WS bersih dengan ventilasi cukup dan tata ruang
bagus dengan setiap bangunan memiliki tangga
4. Jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah
Jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah adalah 7 orang.
5. Derajat privasi
Ny. WS memiliki 1 kamar tidur untuk beristirahat dengan luas 4x3 m2.
6. Tetangga terdekat
Saat ini tetangga terdekat Ny. WS adalah anak Ny. WS sendiri yang berada di
depan rumah Ny. WS.
7. Alamat dan telepon : -

I. RIWAYAT REKREASI
1. Hobbi/minat
Ny. WS mengatakan suka jalan-jalan ke pantai setiap sore hari.
2. Keanggotaan dalam organisasi
Ny. WS mengatakan tidak pernah mengikuti kegiatan organisasi apapun.
3. Liburan/perjalanan
Ny. WS mengatakan setiap liburan biasa jalan-jalan ke pantai.

J. SISTEM PENDUKUNG
1. Perawat/bidan/dokter/fisioterapi

26
Pada saat sakit Ny. WS biasa memeriksakan dirinya ke dokter yang jaraknya
dekat dengan rumah
2. Jarak dari rumah : > 1 km
3. Rumah sakit : RS Sanglah, jaraknya > 5 km
4. Klinik :-
5. Pelayanan kesehatan di rumah
Ny. WS mengatakan tidak memiliki pelayanan kesehatan untuk di rumahnya
6. Makanan yang dihantarkan
Ny. WS mengatakan lebih sering mengambil makanan sendiri di dapur. Ny. WS
makan 3 kali sehari dengan porsi 1 piring habis. Pasien makan dengan menu
nasi+sayur+daging.
7. Perawatan sehari-hari yang dilakukan keluarga
Ny. WS mengatakan rutin minum susu diabetasol untuk mengatasi riwayat
penyakit DM. Ny. WS
8. Kondisi lingkungan rumah
Kondisi lingkungan rumah Ny. WS cukup tenang dan bersih, dan kamar Ny.
WS memiliki beberapa anak tangga tanpa pegangan sehingga meningkatkan
risiko jatuh pada lansia. Penyakit yang banyak diderita tetangga Ny. WS adalah
hipertensi dan katarak.
9. Lain-lain : tidak ada

K. SPIRITUAL/KULTURAL
1. Pelaksanaan ibadah
Ny. WS mengatakan biasa beribadah di merajan (menghaturkan canang) 1x
sehari, dan di pura desa jika ada odalan.
2. Keyakinan tentang kesehatan
Ny. WS mengatakan lebih mengutamakan pelayanan kesehatan dari pada
balian. Ny. WS meyakini bahwa penyakit yang ia alami murni karena medis
bukan ilmu gaib.

L. PEMERIKSAAN FISIK

27
Tinjauan Sistem
1. Keadaan umum : Ny. WS tampak bersih
2. Tingkat kesadaran : Compos mentis
3. Glasgow Coma Scale : E4V5M6
4. Tanda-Tanda Vital
a. Suhu : 36,4oC
b. Nadi : 84 x/menit
c. Tekanan darah : 110/70 mmHg
d. Pernafasan : 20x/menit
5. Tinggi badan : 46 cm (Tinggi lutut)
6. Berat badan : 152 cm
7. IMT : 19,04 kategori berat badan normal
8. Sistem Kardiovaskuler
Inspeksi : ictus cordis (-)
Palpasi : nyeri tekan (-)
Perkusi : redup
Auskultasi : murmur (-)
9. Sistem Pernafasan
Inspeksi : dada simetris, lesi (-)
Palpasi : nyeri tekan (-), pergerakan dada simetris
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler +/+, wheezing -/-, ronchi -/-
10. Sistem Integument
Lemak subkutan menyusut, kulit kering dan tipis
11. Sistem Persepsi Sensori
a. Penglihatan
Pada mata kiri post operasi katarak, pada lensa mata terdapat jahitan
sebnayak 5 simpul, terdapat oedem palpebral, dan mata merah. Mata kiri
tertutup kasa steril
b. Pendengaran
Bentuk simetris, nyeri tekan (-), lesi (-), serumen (-), pendengaran sedikit
berkurang
c. Hidung, Pembau
Bentuk simetris, sekret (-), nyeri tekan (-), lesi (-), penciuman baik.

28
12. Sistem Perkemihan
Frekuensi kencing ± 5 kali sehari, warna kuning dan bau khas urine
13. Sistem Musculoskeletal
Ekstremitas atas dan bawah : bentuk simetris, elastisitas menurun, nyeri tekan
(-), lesi (-), pergerakan optimal pada tangan, dan terbatas pada kaki
14. Sistem Endokrin
Leher : Bentuk simetris, tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid, tidak teraba
bendungan vena jugularis, tidak ada pembengkakan kelenjar limfa, nyeri tekan
(-), lesi (-)
15. Sistem Gastrointestinal
Inspeksi : distensi abdomen (-)
Auskultasi : bising usus 18 x/menit
Palpasi : nyeri tekan (-)
Perkusi : suara timpani
16. Sistem Reproduksi
Payudara mulai mengendur, menopause (+)
17. Sistem Neurosensori
Respon melambat

M. PENGKAJIAN FUNGSIONAL
MODIFIKASI DARI BARTHEL INDEKS
Item yang
NO Skor Nilai
dinilai
1 Makan 0 = Tidak mampu
(Feeding) 1 = Butuh bantuan memotong, mengoles mentega,
2
dan lain-lain
2 = Mandiri

29
2 Mandi 0 = Tergantung dengan orang lain
1
(Bathing) 1 = Mandiri
3 Perawatan diri 0 = Membutuhkan bantuan orang lain
(Grooming) 1 = Mandiri dalam perawatan muka, rambut, gigi, 1
dan bercukur
4 Berpakaian 0 = Tergantung dengan orang lain
(Dressing) 1 = Sebagian dibantu (missal mengancing baju) 2
2 = Mandiri
5 Buang air 0= Inkontinensia atau pakai kateter dan tidak
kecil terkontrol
2
(Bladder) 1 = Kadang inkotinensia (maks, 1x 24 jam)
2 = Kontinensia (teratur untuk lebih dari 7 hari)
6 Buang air 0 = Inkontinensia (tidak teratur atau perlu enema)
besar (Bowel) 1 = Kadang inkotinensia (sekali seminggu) 1
2 = Kontinensia (teratur)
7 Penggunaan 0 = Tergantung bantuan orang lain
toilet 1= Membutuhkan bantuan, tapi dapat melakukan
1
beberapa hal sendiri
2 = Mandiri
8 Transfer 0 = Tidak mampu
1 = Butuh bantuan untuk bisa duduk (2 orang)
2
2 = Bantuan kecil (1 orang)
3 = Mandiri
9 Mobilitas 0 = Imobilitas (tidak mampu)
1 = Menggunakan kursi roda
2 = Berjalan dengan bantan satu orang 3
3= Mandiri (meskipun menggunakan alat bantu
seperti tongkat)
10 Naik turun 0 = Tidak mampu
tangga 1 = Membutuhkan bantuan (alat bantu) 1
2 = Mandiri
Jumlah 16
Interpretasi hasil:

30
20 : Mandiri
12-19 : Ketergantungan Ringan
9-11 : Ketergantungan Sedang
5-8 : Ketergantungan Berat
0-4 : Ketergantungan Total

N. PENGKAJIAN KOGNITIF
1. Identifikasi tingkat intelektual dengan Short Protable Mental Status Questioner
(SPMSQ)
Instruksi :
Ajukan pertanyaan 1-10 pada daftar ini dan catat semua jawaban
Catat jumlah kesalahan total berdasarkan total kesalahan berdasarkan 10
pertanyaan

Skore No Pertanyaan Jawaban


+ -
 1 Tanggal berapa hari ini? 5
 2 Hari apa sekarang? Minggu
 3 Apa nama tempat ini? Busung Yeh
 4 Berapa nomor telepon Anda? Tidak punya
Dimana alamat Anda? Di banjar Busung
(tanyakan bila tidak memiliki telepon) Yeh Kangin
 5 Berapa umur Anda? 75 tahun
 6 Kapan Anda lahir? Tidak ingat
 7 Siapa Presiden Indonesia sekarang? Joko Widodo
 8 Siapa Presiden sebelumnya? Tidak tahu
 9 Siapa nama Ibu Anda? Wayan Mengkeg
 10 Berapa 20 dikurangi 3? (Begitu 17
seterusnya sampai bilangan terkecil)
8 2 Jumlah
Kesalahan 2 : Fungsi Intelektual Utuh

O. P

31
O.
O. PENGKAJIAN STATUS EMOSIONAL
Identifikasi masalah emosional
Pertanyaan tahap 1
a. Apakah klien mengalami kesulitan tidur?
Ny. WS mengatakan tidak mengalami kesulitan tidur. Ny. WS mengatakan
biasa tidur malam dari pukul 21.00-06.00 WITA, Ny. WS mengatakan pada
siang hari biasa beristirahat selama ± 1 jam.
b. Apakah klien sering merasa gelisah?
Ny. WS mengatakan tidak merasa gelisah.
c. Apakah klien sering murung dan menangis sendiri?
Ny. WS mengatakan tidak sering murung dan menangis sendiri
d. Apakah klien sering was-was atau khawatir?
Ny. WS mengatakan sudah merasa lebih baik karena mata kirinya sudah
dioperasi.
Pertanyaan tahap 2
a. Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari satu kali dalam satu bulan?
Ya
b. Ada atau banyak pikiran?
Tidak
c. Ada masalah atau gangguan dengan keluarga lain?
Tidak
d. Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter?
Tidak
e. Cenderung mengurung diri?
Tidak
Bila lebih dari satu atau sama 1 jawaban “ya” MASALAH EMOSIONAL
POSITIF (+)

P. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
Ny. WS tidak memiliki masalah dalam sosialisasi. Ny. WS rutin mengikuti posyandu
lansia yang ada di banjar.

32
Q. PENGKAJIAN SPIRITUAL
Ny. WS beragama Hindu. Ny. WS biasa sembahyang menghaturkan canang di
merajan rumahnya setiap hari. Ny. WS meyakini setiap orang pada akhirnya akan
meninggal.

R. PENGKAJIAN DEPRESI (menggunakan Geriatric Depression Scale)

33
NO ITEM PERTANYAAN YA TIDAK
1 Apakah Bapak/ Ibu sekarang ini merasa puas dengan 0
kehidupannya?
2 Apakah Bapak/ Ibu telah meninggalkan banyak kegiatan atau 0
kesenangan akhir-akhir ini?
3 Apakah Bapak/ Ibu sering merasa hampa/ kosong di dalam 0
hidup ini?
4 Apakah Bapak/ Ibu sering merasa bosan? 0
5 Apakah Bapak/ Ibu merasa mempunyai harapan yang baik di 0
masa depan?
6 Apakah Bapak/ Ibu merasa mempunyai pikiran jelek yang 0
mengganggu terus menerus?
7 Apakah Bapak/ Ibu memiliki semangat yang baik setiap saat? 1
8 Apakah Bapak/ Ibu takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi 1
pada Anda?
9 Apakah Bapak/ Ibu merasa bahagia sebagian besar waktu? 0
10 Apakah Bapak/ Ibu sering merasa tidak mampu berbuat apa- 1
apa?
11 Apakah Bapak/ Ibu sering merasa resah dan gelisah? 0
12 Apakah Bapak/ Ibu lebih senang tinggal dirumah daripada 0
keluar dan mengerjakan sesuatu?
13 Apakah Bapak/ Ibu sering merasa kawatir tentang masa depan? 1
14 Apakah Bapak/ Ibu akhir – akhir ini sering pelupa? 1
15 Apakah Bapak/ Ibu pikir bahwa hidup Bapak/ Ibu sekarang ini 0
menyenangkan?
16 Apakah Bapak/ Ibu sering merasa sedih dan putus asa? 0
17 Apakah Bapak/ Ibu merasa tidak berharga akhir-akhir ini? 0
18 Apakah Bapak/ Ibu sering merasa kawatir tentang masa lalu? 0
19 Apakah Bapak/ Ibu merasa hidup ini mengembirakan? 0
20 Apakah sulit bagi Bapak/ Ibu untuk memulai kegiatan yang 1
baru?
21 Apakah Bapak/ Ibu merasa penuh semangat? 1

34
22 Apakah Bapak/ Ibu merasa situasi sekarang ini tidak ada 0
harapan?
23 Apakah Bapak/ Ibu berpikir bahwa orang lain lebih baik 0
keadaanya daripada Bapak/ Ibu?
24 Apakah Bapak/ Ibu sering marah karena hal- hal yang sepele? 0
25 Apakah Bapak/ Ibu sering merasa ingin menangis? 1
26 Apakah Bapak/ Ibu sulit berkonsentrasi? 1
27 Apakah Bapak/ Ibu merasa senang waktu bangun tidur di pagi 0
hari?
28 Apakah Bapak/ Ibu tidak suka berkumpul di pertemuan sosial? 0
29 Apakah mudah bagi Bapak/ Ibu membuat suatu keputusan? 1
30 Apakah pikiran Bapak/ Ibu masih tetap mudah dalam 0
memikirkan sesuatu seperti dulu?
Jumlah 10

Ket: Setiap jawaban yang “ SESUAI” diberi skor 1


Skor 0-10 : Menunjukkan tidak depresi
Skor 11-20 : Menunjukkan depresi ringan
Skor 21-30 : Menunjukkan depresi sedang/ berat

S. PENGKAJIAN RISIKO JATUH


Pengkajian dengan instrumen “THE TIMED UP AND GO” (TUG)

NO LANGKAH
1 Posisi Ny. WS duduk di kursi
2 Minta Ny. WS berdiri dari kursi, berjalan 10 langkah (3 meter), kembali
ke kursi, ukur waktu dalam detik
Hasil: 22 detik (beresiko jatuh)

35
T. APGAR keluarga
NO ITEMS PENILAIAN SELALU KADANG - TIDAK
(2) KADANG PERNAH
(1) (0)
1 A: Adaptasi 
Saya puas bisa kembali pada keluarga (teman-
teman) saya untuk membantu apabila saya
mengalami kesulitan (adaptasi)

2 P: Partnership 
Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya
membicarakan sesuatu dan mengungapkan masalah
dengan saya (hubungan)

3 G: Growth 
Saya puas bahwa keluarga (teman-teman) saya
menerima dan mendukung keinginan saya untuk
melakukan aktivitas (pertumbuhan)

4 A: Afek 
Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) saya
mengekspresikan afek dan berespons terhadap
emosi saya, seperti marah, sedih atau mencintai

5 R: Resolve 
Saya puas dengan cara teman atau keluarga saya dan
saya menyediakan waktu bersama-sama
mengekspresikan afek dan berespon

JUMLAH 9 (tidak ada disfungsi keluarga)

36
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
A. ANALISA DATA
DATA INTERPRETASI MASALAH
NO
(SIGN/SYMPTOM) (ETIOLOGI) (PROBLEM)
1. DS: Kekeruhan pada lensa mata Nyeri Akut
a. Ny. WS mengeluh nyeri pada luka post
operasi katarak yang dilakukan 2 hari Proses pembedahan/
yang lalu. Pada lensa mata terdapat ekstraksi lensa
jahitan sebnayak 5 simpul, terdapat
oedem palpebral, dan mata merah. peningkatan tekanan
Mata kiri tertutup kasa steril intraokuler
b. Nyeri dirasakan ketika menoleh secara
tiba-tiba dan batuk proses inflamasi
c. Skala nyeri yang dirasakan 6 dari
rentang 1-10 peningkatan
nociceptor/rangsang nyeri
DO :
a. Terdapat nyeri tekan pada mata kiri. nyeri akut
Mata post operasi tampak terbalut
perban
b. Klien tampak meringis ketika batuk
atau menoleh secara tiba-tiba

2. DS: - trauma jaringan akibat Resiko Infeksi


DO: prosedur invasif
a. Pada mata kiri post operasi katarak, (pembedahan)
pada lensa mata terdaapat jahitan
sebnayak 5 simpul, terdapat oedem adanya proses inflamasi
palpebral, dan mata merah. Mata kiri luka post operasi
tertutup kasa steril
b. Luka operasi terawat terpapar organisme luar

37
c. Tidak terdapat perdarahan pada daerah edema pada palpebra
operasi
resiko infeksi

3. DS: Katarak Defisit


a. Ny. WS dan keluarga mengatakan Pengetahuan
tidak tahu mengenai penyebab sakit kurang terpapar informasi
mata katarak yang dideritanya
b. Ny. WS juga mengatakan tidak menanyakan masalah yang
mengetahui cara mengurangi nyeri dihadapi
ketika nyeri timbul
DO:
a. Ny. WS dan keluarga kurang
mengetahui penatalaksanaan nyeri
dengan cara non farmakologi

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan luka pasca operasi katarak ditandai dengan Ny. WS
mengeluh nyeri pada luka post operasi katarak yang dilakukan 2 hari yang lalu Nyeri
dirasakan ketika akan berkedip, batuk atau menoleh secara tiba-tiba. Skala nyeri
yang dirasakan 6 dari rentang 1-10, terdapat nyeri tekan pada mata kiri. Mata post
operasi tampak terbalut perban. Klien tampak meringis ketika batuk dan menoleh
secara tiba-tiba.
2. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai
proses penyakit ditandai dengan Ny. WS dan keluarga mengatakan tidak tahu
mengenai penyebab sakit mata katarak yang dideritanya, Ny. WS dan keluarga
kurang mengetahui penatalaksanaan nyeri dnegan cara non farmakologi
3. Resiko Infeksi berhubungan dengan efek prosedur invasif (pembedahan pada daerah
mata)

38
III. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa
NO NOC NIC
Keperawatan
1. Nyeri akut Setelah dilakukan Eye Care:
berhubungan dengan tindakan keperawatan a. Lakukan pengkajian nyeri
luka pasca operasi selama 3 x 45 menit, secara komprehensif
katarak diharapkan nyeri b. Ajarkan teknik nonfarmakologi
berkurang dengan : teknik napas dalam, relaksasi,
kriteria hasil: distraksi
1. Melaporkan bahwa c. Berikan analgetik untuk
nyeri berkurang mengurangi nyeri
2. Skala nyeri 0-3 d. observasi vital sign
3. Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang
4. Tanda vital dalam
rentang normal
2. Defisit pengetahuan Setelah dilakukan Teaching : Disease Proses
berhubungan dengan tindakan keperawatan a. Berikan penilaian tentang
kurang terpapar selama 3 x 45 menit, tingkat pengetahuan pasien
informasi mengenai diharapkan pengetahuan tentang proses penyakit
proses penyakit pasien dan keluarga b. Jelaskan patofisiologi dari
bertambah dengan penyakit dan bagaimana hal ini
kriteria hasil: berhubungan dengan anatomi
1. pasien dan keluarga dan fisiologi
menyatakan c. Gambarkan tanda dan gejala
pemahaman tentang yang biasa muncul pada
penyakit, kondisi, penyakit dengan cara yang tepat
prognosis dan d. Sediakan informasi kepada
program pasien dan keluarga tentang
pengobatan kondisi dan kemajuan pasien
2. Pasien dan keluarga dengan cara yang tepat.
mampu

39
melaksanakan
prosedur yang
dijelaskan secara
benar
3. Pasien dan keluarga
mampu
menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan
perawat/tim
kesehatran lainnya.

3. Resiko Infeksi Setelah dilakukan Infection control


berhubungan dengan tindakan keperawatan a. Monitor tanda dan gejala infeksi
efek prosedur invasif selama 3 x 45 menit, sistemik dan lokal
(pembedahan pada diharapakanresiko b. Inspeksi kondisi luka/ insisi
daerah mata) infeksi tidak terjadi bedah
dengan kriteria hasil: c. Dorong istirahat
1. Klien terbebas dari d. Intruksikan pasien untuk minum
tanda dan gejala antibiotik sesuai resep
infeksi e. Ajarkan pasien dan keluarga
2. Menunjukkan ajarkan cara menghindari infeksi
kemampuan untuk .
mencegah
timbulnya infeksi
3. Menunjukkan
perilaku hidup
sehat

40
IV. IMPLEMENTASI
Hari/tanggal/jam No. Tindakan Evaluasi Paraf
Dx Keperawatan
Senin, 5 Maret 1,2,3 Membina hubungan Ny. WS tampak senang dan
2018 saling percaya menerima kehadiran
Pukul 08.00 wita perawat di rumahnya
Pukul 08.05 wita 1 Mengkaji karakteristik Ny. WS mengeluh nyeri
nyeri pasien pada mata kiri ketika akan
berkedip atau disentuh. Dari
hasil pemeriksaan mata
sebelah kiri terbalut perban
pasca operasi dan pasien
tampak meringis ketika
disentuh, skala nyeri 6
Pukul 08.20 wita 1,2 Mengukur tanda–tanda Suhu : 36,4oC
vital Nadi : 84 x/menit
Tekanan darah : 110/70
mmHg
Pernafasan : 20x/menit

Pukul 08.30 wita 2 Mengidentifikasi tingkat Ny. WS mengatakan kurang


pengetahuan pasien mengetahui penyebab dari
sakit katarak yang
dideritanya
Pukul 08.40 wita 2 Menberi informasi Ny. WS dan keluarga
kepada klien dan tampak menyimak informasi
keluarga mengenai yang diberikan
kondisi dan penyebab
dari katarak
Pukul 08.50 wita 3 Menyediakan Tampak di rumah Ny. WS
lingkungan yang aman terdapat beberapa anak
untuk pasien tangga yang dapat

41
meningkatkan risiko jatuh
pada lansia
Pukul 08.55 wita 3 Mengidentifikasi Luka terawat tertutup
kondisi luka/insisi bedah perban, perdarahan tidak
ada
Selasa, 6 Maret 1,2 Mengukur tanda–tanda Suhu : 36,4oC
2018 vital Nadi : 84 x/menit
Pukul 08.00 wita Tekanan darah : 110/70
mmHg
Pernafasan : 20x/menit
2 Mengevaluasi tingkat Ny.WS dan keluarga mulai
pengetahuan klien dan memahami penyakit yang
keluarga diderita oleh Ny. WS
Pukul 08.15 wita 1 Menginstruksikan pada Ny. WS tampak kooperatif
pasien untuk dan mampu melakukannya
menggunakan tehnik
relaksasi seperti nafas
dalam
Pukul 08.25 wita 1,3 Menganjurkan kepada Obat sudah diminum oleh
pasien untuk meminum Ny. WS
obat analgesik dan
antibiotik sesuai resep
dokter
Pukul 08.35 wita 3 Merawat luka post Luka operasi terawat,
operasi perban sudah diganti, tidak
ada tanda-tanda infeksi dan
perdarahan
Pukul 08.40 wita 3 Mengajarkan pasien dan Pasien dan keluarga m,ampu
keluarga untuk melakukan teknik cuci
menghindari infeksi tangan yang benar
dengan cara cuci tangan
yang benar

42
Rabu, 7 Maret 1,2,3 Mengukur tanda-tanda TD: 120/80 mmHg,
2018 vital N: 60 x/mnt,
Pukul 08.00 wita S: 36,50C,
R: 20 x/mnt
Pukul 08.05 wita 3 Menjaga kebersihan Mata Ny. WS tampak bersih
mata dan tidak ada kotoran mata
Pukul 08.10 wita 2 Menginstruksikan pada Ny. WS mengatakan merasa
pasien untuk lebih rileks setelah
menggunakan tehnik melakukan tehnik relaksasi
relaksasi seperti nafas nafas dalam
dalam
Pukul 08.15 wita 1 Mengevaluasi skor nyeri Ny. WS mengatakan nyeri
berkurang, skala nyeri 2
Pukul 08.20 wita 2,3 Mengevaluasi dan Ny. WS dan keluarga
memberikan informasi mengatakan memahami
faktual mengenai tentang kondisi dan
diagnosis, tindakan pengobatan penyakit
prognosis Katarak dan mampu
melakukan feedback
Pukul 08.40 wita 1,2,3 Melibatkan keluarga Tampak keluarga selalu
untuk mendampingi mendamping Ny. WS dalam
pasien setiap aktivitas

V. EVALUASI
Hari/tanggal/jam No. Evaluasi Paraf
Dx
Rabu, 7 Maret 1 S: Ny. WS mengatakan nyeri sudah sedikit berkurang
2018 O: Ny. WS tampak rileks dan nyaman TD: 120/80
Pukul 08.45 wita mmHg, N: 78 x/mnt, S: 36,50C, R: 20 x/mnt, skala
nyeri 2
A: Tujuan teratasi
P: pertahankan kondisi

43
Rabu, 7 Maret 2 S: Ny. WS dan keluarga mengatakan sudah
2018 mengetahui mengenai penyakit yang diderita Ny.
Pukul 08.45 wita WS
O: Tampak keluarga dan Ny. WS mampu memberikan
feedback mengenai penyakit dan kondisi yang
diderita Ny. WS
A: Tujuan tercapai, masalah teratasi
P: Pertahankan kondisi pasien
Rabu, 7 Maret 3 S: -
2018 O: Luka operasi terawat, tidak ada tanda-tanda infeksi,
Pukul 08.45 wita perdarahan tidak ada, suhu TD: 120/80 mmHg, N:
78 x/mnt, S: 36,50C, R: 20 x/mnt,
A: Tujuan tercapai
P: Pertahankan kondisi pasien

44
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Doengoes, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jilid 1. Jakarta: Media
Aesculapis FKUI.
Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Edisi Revisi Jilid 2. Yogyakarta: Mediaction
Publishing.
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarthi.
Edisi 8. Alih Bahasa Oleh Agung Waluyo. Jakarta: EGC.
Vaughan, Dale. 2000. Oftalmologi Umum. Alih Bahasa Jan Tambajong. Jakarta: Widya
Medika.

45