Anda di halaman 1dari 18

Meet The Expert

Terapi Hiperbarik pada Sudden Deafness

Oleh :

Rikardi Santosa 1310311094


Zahara Bunga H. 1310311105
Rina Pratiwi Annur 1110312007

Preseptor :
dr. Fachzi Fitri, Sp. THT-KL, MARS

BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROK


KEPALA DAN LEHER
RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017

1
BAB 1
SUDDEN DEAFNESS

1.1 Definisi
Tuli mendadak adalah tuli yang terjadi secara tiba-tiba. Jenis ketuliannya
adalah sensorineural. Penyebabnya tidak langsung dapat diketahui dan biasanya
terjadi pada satu telinga. Para ahli otolaringologis mendefinisikan tuli mendadak
sebagai penurunan pendengaran sensorineural 30db atau lebih, paling sedikit tiga
frekuensi berturut-turut pada pemeriksaan audiometri, dalam waktu kurang dari
tiga hari. Beratnya ketulian bervariasi dari ringan sampai kehilangan pendengaran
total. Tuli mendadak dimasukkan ke dalam keadaan darurat otologi, oleh karena
kerusakannya terutama terjadi di daerah koklea dan biasanya bersifat permanen
walaupun bisa kembali normal atau mendekati normal.(2,3)

1.2 Epidemiologi
Dilaporkan bahwa terdapat sekitar 15.000 kasus per tahun kejadian tuli
mendadak di seluruh dunia, dengan 4.000 kasus terjadi di Amerika Serikat.
Jumlah kasus tuli mendadak diperkirakan lebih tinggi dari jumlah kasus yang
dilaporkan, karena beberapa pasien melaporkan pendengarannya bisa kembali
normal sebelum mendapat tindakan medis. Tuli mendadak dapat terjadi pada
semua umur, meskipun kejadian pada anak jarang dilaporkan. Kasus tuli
mendadak meningkat sesuai dengan pertambahan umur. Di Amerika Serikat
terdapat 4,7 kasus tuli mendadak per 100.000 penduduk yang berusia 20-30 tahun,
dan 15,8 kasus per 100.000 penduduk yang berusia 50-60 tahun. Secara
keseluruhan tuli mendadak banyak terjadi pada usia 46-49 tahun. Perbandingan
kejadian tuli mendadak antara pria dan wanita yaitu 1:1. Jenis kelamin
diperkirakan bukan merupakan suatu faktor risiko. (1,7,8)

1.3 Etiologi
85% kasus tuli mendadak tidak diketahui penyebabnya. Hanya 15% kasus
yang dapat diketahui penyebabnya. Tuli mendadak dapat disebabkan oleh
berbagai hal, seperti infeksi, trauma kepala, pajanan bising yang keras, perubahan

1
tekanan atmosfir, penyakit autoimun, obat ototoksik, penyakit meniere, masalah
sirkulatorik, dan neuroma akustik.(9)
Infeksi virus terlihat pada hampir sepertiga kasus tuli mendadak.
Meningitis merupakan penyebab terbanyak tuli mendadak yang tergolong dalam
infeksi virus. Oleh karena itu, pasien terutama anak-anak setelah sembuh dari
meningitis dianjurkan untuk dilakukan tes audiometri. Campak dan cacar juga
dihubungkan dengan tuli mendadak. Pada pasien cacar, kehilangan pendengaran
biasanya sedang sampai berat dan bersifat bilateral, sedangkan penderita campak
dapat mengalami kehilangan pendengaran unilateral saja.(9)
Cedera kepala terutama jika disertai fraktur kranium dapat mengakibatkan
kehilangan pendengaran yang berat dan sering permanen. Walaupun tidak terdapat
fraktur, tuli mendadak dapat terjadi akibat cedara SSP atau pada telinga dalam.(9)
Tuli mendadak dapat terjadi akibat pajanan terhadap bising yang kuat,
misalnya ledakan yang kuat atau bunyi petasan dan senjata api dalam ruang
tertutup. Kerasnya suara maupun lamanya paparan memegang peranan dalam
kasus ini. Occupational Safety and Help Administration (OSHA) telah
menetapkan standar yang dipercaya menggambarkan hubungan antara ketulian
dengan paparan pekerja terhadap bising yang keras saat di temapt kerja. Tingkat
bising 80 db untuk 8 jam diperkirakan aman, maka paparan terhadap bising 110
db untuk waktu relatif singkat dianggap berbahaya terhadap keselamatan
mekanisme pendengaran.(9, BOIES)
Tuli mendadak pada operasi telinga juga dapat terjadi. Derajat risiko
tergantung berbagai faktor seperti prosedur operasi dan keterampilan dari operator
sendiri.(9)
Gangguan vaskuler juga dikenal sebagai salah satu penyebab tuli
mendadak. Spasme, perdarahan arteri auditiva interna atau trombosis dapat
mengakibatkan iskemik koklea yang berujung pada tuli mendadak.(9)
Tuli mendadak juga dapat disebabkan oleh obat-obat ototoksik. Tuli ini
biasanya didahului oleh gejala tinitus.

Golongan obat Contoh Obat Efek terhadap pendegaran


Salisilat Aspirin Tuli dapat terjadi pada

2
dosis tinggi, tetapi biasanya
reversibel.
Kuinolin Klorokuin Tuli dapat terjadi pada
NSAID dosis tinggi atau pemakaian
jangka panjang, tetapi
biasanya reversibel apabila
obat dihentikan.
Loop Diuretik Bumetamid Dapat menyebabkan tuli
Furosemid reversibel atau permanen.
Asam Etackrinat Jika dikombinasikan
dengan obat-obat ototoksik
lainnya, resiko kerusakan
permanen meningkat.
Aminoglikosida Amikasin Tuli dapat terjadi pada
Gentamisin dosis tinggi atau pemakaian
jangka panjang. Tuli dapat
bersifat permanen.

Tabel 1.1 Obat-obat ototoksik

1.4 Patogenesis
Terdapat 4 teori untuk menjelaskan mekanisme terjadinya tuli mendadak
yaitu infeksi viral labirin, gangguan vaskuler labirin, ruptur membran
intrakoklear, dan penyakit telinga dalam yang berhubungan dengan imun. Suatu
proses penyakit yang melibatkan salah satu dari kemungkinan teoritis ini dapat
berakhir dengan tuli mendadak, namun tak satupun yang dapat menjelaskan secara
menyeluruh.(6)
Penelitian terhadap penderita tuli mendadak menunjukkan adanya suatu
prevalensi sedang penyakit viral. Juga ditemukan bukti serokonversi virus dan
histopatologi telinga dalam yang konsisten dengan infeksi virus. Beberapa
penelitian mencatat 17-33% penderita tuli mendadak baru menderita penyakit
virus. Pada pemeriksaan histopatologis tulang temporal, gambaran kehilangan sel
rambut dan sel penyokong, atrofi membrana tektoria, atrofi stria vaskularis, dan
kehilangan neuron memperlihatkan hasil yang sesuai dengan kerusakan akibat

3
virus. Pola kerusakan ini mirip dengan gambaran yang ditemukan pada tuli
sekunder akibat cacar, campak, dan rubella maternal.(6)
Teori kedua menyangkut gangguan vaskular yang terjadi pada koklea.
Koklea merupakan suatu end organ karena suplai darahnya tidak ada kolateralnya.
Fungsi koklea sensitif terhadap perubahan suplai darah. Gangguan vaskuler
koklea akibat trombosis, embolus, penurunan aliran darah, atau vasospasme
adalah etiologi tuli mendadak. Penurunan oksigenasi koklea kemungkinan akibat
dari perubahan aliran darah koklea. Perdarahan intrakoklea merupakan
manifestasi awal yang diikuti fibrosis dan osifikasi koklea. Pada suatu studi
ditemukan kesamaan antara faktor risiko koroner iskemik dan faktor risiko tuli
mendadak. Penemuan keterlibatan vaskuler dalam patogenesis tuli mendadak
dapat dijadikan sebagai strategi preventif dan terapeutik.(6)
Teori lainnya adalah akibat rupturnya membran intrakoklea. Membran ini
memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Di dalam koklea juga terdapat
membran-membran halus yang memisahkan ruang perilimfe dengan endolimfe.
Secara teoritis, ruptur dari salah satu atau kedua jenis membran ini dapat
mengakibatkan tuli mendadak. Kebocoran cairan perilimfe ke ruang telinga
tengah lewat round window dan oval window telah diyakini sebagai mekanisme
penyebab tuli. Ruptur membran intrakoklea menyebabkan bercampurnya perilmfe
dan endolimfe dan merubah potensi endokoklea secara efektif.(6)

1.5 Diagnosis
Diagnosis didapatkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang audiologi, dan pemeriksaan laboratorium.

1.5.1. Anamnesis
1. Kehilangan pendengaran tiba-tiba yang biasanya terjadi pada satu
telinga dengan sebab yang tidak jelas dan berlangsung dalam waktu
kurang dari 3 hari. (2)
2. Pasien biasanya mengingat dengan jelas kapan tepatnya mereka
kehilangan pendengaran. Pasien seperti mendengar bunyi ”klik” atau
”pop” kemudian pasien kehilangan pendengaran.(11)

4
3. Gejala pertama dapat berupa tinitus. Beberapa jam bahkan beberapa
hari sebelumnya bisa didahului oleh infeksi virus, trauma kepala, obat-
obat ototoksik, dan neuroma akustik.
4. Pusing mendadak (vertigo) merupakan gejala awal tersering dari tuli
mendadak yang disebabkan oleh iskemik koklea dan infeksi virus.
Vertigo akan lebih hebat pada penyakit meniere, tapi vertigo tidak
ditemukan atau jarang pada tuli mendadak akibat neuroma akustik dan
obat ototoksik.(12)
5. Mual dan muntah.(13)
6. Demam tinggi dan kejang. (9)
7. Riwayat infeksi virus seperti mumps, campak, herpes zooster, CMV,
dan influenza tipe B. (12)
8. Riwayat hipertensi.(2)
9. Riwayat penyakit metabolik seperti diabetes mellitus.(14)
10. Telinga terasa penuh yang biasanya terjadi pada penyakit meniere.(13)
11. Riwayat berpergian dengan pesawat atau menyelam ke dasar laut.(12)
12. Riwayat trauma kepala dan bising keras.(12)

1.5.2 Pemeriksaan Fisik (2)


Pada pemeriksaan fisik dengan otoskop, tidak ditemukan kelainan pada
telinga yang sakit. Sementara dengan pemeriksaan pendengaran didapatkan hasil
sebagai berikut:
A. Tes penala
- Rinne : positif
- Weber : lateralisasi ke telinga yang sehat
- Schwabach : memendek.
B. Audiometri nada murni :
Tuli sensorineural ringan sampai berat.

1.5.3 Pemeriksaan Penunjang (2)


A. Audiometri khusus
- Tes SISI (Short Increment Sensitivity Index) dengan skor 100% atau
kurang dari 70%

5
- Tes Tone Decay atau reflek kelelahan negatif
Kesan : Bukan tuli retrokoklea
B. Audiometri tutur (speech audiometry)
- SDS (speech discrimination score) kurang dari 100%
Kesan : Tuli sensorineural
C. Audiometri impedans
Timpanogram tipe A (normal) reflek stapedius ipsilateral negatif atau
positif, sedangkan kolateral positif
Kesan : Tuli sensorineural koklea
D. BERA ( Brainstem Evolved Responce Audiometry)
Menunjukkan tuli sensorineural ringan sampai berat

1.5.4 Pemeriksaan Laboratorium


 Hitung sel darah lengkap
 LED
 Faal hemotasis dan faktor kuagalasi (PTT)
 Kultur bakteri
 Elektrolit pada kadar glukosa
 Kolesterol dan trigliserida
 Uji fungsi tiroid
 Tes autoimun seperti antibodi antinuklear dan reumatik

1.5.5 ENG ( Electtronistagmografi)


 Radiologi
Arteriografi
1.6 Penatalaksanaan
Pengobatan untuk tuli mendadak sampai saat ini masih merupakan suatu hal
yang kontroversi. Tingginya angka perbaikan secara spontan ke arah normal
maupun mendekati normal tetap menyulitkan evaluasi pengobatan untuk tuli
mendadak. Belum ada studi terkontrol yang dilakukan yang dapat membuktikan
bahwa suatu obat secara bermakna menyembuhkan tuli mendadak. Seperti yang
telah diketahui, angka penyembuhan secara spontan tuli mendadak terjadi antara

6
40-70%. Beberapa ahli menyatakan bahwa sebagian besar kasus tuli mendadak
mengalami proses penyembuhan secara parsial terutama selama 14 hari pertama
setelah onset penyakit.(2,17,18)
Terapi untuk tuli mendadak adalah(2) :
1. Tirah baring yang sempurna (total bed rest). Istirahat baik fisik maupun
mental selama 2 minggu untuk menghilangkan atau mengurangi stress yang
besar pengaruhnya pada keadaan kegagalan neovaskular.
2. Vasodilator yang cukup kuat misalnya komplamin injeksi
a. 3x1200 mg (4 ampul) selama 3 hari
b. 3x900 mg (3 ampul) selama 3 hari
c. 3x600 mg (2 ampul) selama 3 hari
d. 3x300 mg (1 ampul) selama 3 hari
Disertai dengan pemberian tablet peroral komplamin 3x2 tablet
peroral/hari
3. Prednison 4x10 mg (2 tablet), tappering off tiap 3 hari (hati –hati pada
penderita DM)
4. Prednison 4x10 mg (2 tablet), tappering off tiap 3 hari (hati –hati pada
penderita DM)
5. Vitamin C 500 mg 1x1 tablet/hari
6. Neurobion 3x1 tablet /hari
7. Diet rendah garam dan rendah kolesterol
8. Inhalasi oksigen 4x15 menit (2 liter/menit)
9. Obat antivirus sesuai dengan virus penyebab
Terapi yang terbukti efektif dalam pengobatan tuli mendadak adalah
pemberian oral steroid sesegera mungkin setelah gejala timbul(2). Penelitian
menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid dosis tinggi meningkatkan angka
kembalinya pendengaran hingga mencapai 60% dibandingkan dengan yang
(1).
dibiarkan tanpa terapi Terdapat perbedaan yang signifikan pada kejadian
kerusakan telinga dalam yang ireversibel antara penderita yang cukup dengan
yang tidak cukup mendapat steroid. Hal ini menjelaskan mengapa pemberian
terapi ini hanya sedikit lebih bermanfaat pada sebagian pasien yang mendapat
pengobatan.(2,17,18)

7
Pada beberapa tahun terakhir, beberapa penelitian tidak terkontrol telah
menyarankan tuli sensorineural mendadak juga dapat diterapi secara efektif
dengan penyuntikan secara langsung kedalam telinga (intratimpanik atau terapi
IT) (2,17,18)
Pemberian antivirus bertujuan untuk mencegah multiplikasi virus.
Vasodilator digunakan untuk meningkatkan aliran darah ke koklea, sehingga dapat
memperbaiki oksigenasi di daerah tersebut. Untuk meningkatkan perfusi vaskuler,
mikrosirkulasi, dan menurunkan viskositas darah dapat diberikan anti koagulan
seperti heparin dan warfarin. Sebagai terapi penunjang dapat diberikan vitamin
atau neurotropik lainnya.(2,17,18)
Terapi inhalasi carbogen adalah pengobatan untuk tuli mendadak dengan
menggunakan gas campuran yakni 95% oksigen dan 5% karbondioksida untuk
memperbaiki oksigenasi di koklea. Fisch menyatakan bahwa tekanan oksigen
dalam cairan perilimfe manusia akan meningkat dengan pemberian inhalasi
carbogen. Terapi diberikan 6-8x selama 20-30 menit dalam waktu 4 hari. Ada juga
yang menganjurkan pemberian inhalasi carbogen selama 30 menit, 8 kali per hari
dengan interval 1 jam. Akhir-akhir ini juga diperkenalkan terapi hiperbarik pada
tuli mendadak untuk meningkatkan tekanan atmosfir sebesar 2 ATM didalam
suatu ruangan.(2,17,18)
Definisi perbaikan pendengaran pada tuli mendadak adalah:
1. Dikatakan sembuh bila perbaikan ambang pendengaran kurang
dari 30 db pada frekuensi 250 hz, 500 hz, 1000 hz, dan di bawah
25 db pada frekuensi 4000 hz.
2. Perbaikan sangat baik terjadi bila perbaikannya lebih dari 30 db
pada 5 frekuensi.
3. Perbaikan baik bila rata-rata perbaikannya berkisar antara 10-30
db pada 5 frekuensi.
4. Tidak ada perbaikan bila perbaikan kurang dari 10 db pada 5
frekuensi
Kendala merawat pasien dengan tuli mendadak:
1. Belum menyadari bahwa sudden deaffness adalah penyakit
emergensi, sehingga pasien datang sudah terlambat

8
2. Kendala berikutnya adalah pasien tidak mau dirawat sebab
pasien datang dengan tidak merasa penyakitnya berat,
sedangkan dalam perawatan pasien diharuskan tirah baring
sempurna sedikitnya 2 minggu. Pengobatan sudden deafness
termasuk mahal, dan obatnya ada yang sudah tidak beredar lagi
dipasaran.

1.7 Prognosis
Prognosis tuli mendadak dikatakan buruk bila tidak terdapat perbaikan
dalam 2 minggu pertama pengobatan, keterlambatan pengobatan, adanya
perdisposisi penyakit, terdapatnya vertigo, tuli nada tinggi, dan usia tua. Di
samping itu, faktor adanya stres dan kecemasan sangat mempengaruhi hasil
pengobatan. Prognosis baik apabila terdapat tinitus, pengobatan yang cepat dan
efektif, serta terjadi pada ketulian nada rendah..(2,7,15)
Tuli mendadak dapat sembuh secara spontan pada 40-70% kasus.
Kesembuhan ini biasanya terjadi pada 14 hari pertama. Pada umumnya makin
cepat diberikan pengobatan makin besar kemungkinan untuk sembuh. Dengan
pengobatan intramembrana timpani, pengobatan pasien yang sudah terlambat
mempunyai prognosis yang lebih baik..(2,17,18)

9
BAB 2
TERAPI HIPERBARIK PADA SUDDEN DEAFNESS

2.1 Terapi Oksigen Hiperbarik (HBO) pada Sudden Deafness


Terapi oksigen hiperbarik adalah terapi dimana pasien bernafas dengan
oksigen 100% di dalam ruang yang bertekanan lebih tinggi dari tekanan atmosfer
normal, yaitu 1 ATA (atmosfer absolut). Adapun cara kerja HBO menurut Hukum
Henry adalah : Jumlah gas yang terlarut dalam cairan atau jaringan sebanding
dengan tekanan parsial gas yang bersentuhan dengan cairan atau jaringan
(hiperoksigenasi).
Dalam terapi HBO, dengan meningkatkan jumlah oksigen yang dipasok
(oksigen 100%) dan meningkatkan tekanan oksigen dalam jaringan (>1 ATA)
akan dapat menimbulkan efek hiperoksia di jaringan. Terapi HBO efektif dlm
menghasilkan suplai oksigen tekanan tinggi ke dalam jaringan melalui
peningkatan gradien difusi akibat peningkatan tekanan parsial O2.

2.2 Oksigen dalam darah


1. Terikat dengan hemoglobin (SaO2)

Normal : 95-100%
1 molekul Hb mengikat 4 molekul O2 (oksihemoglobin)

2. O2 terlarut dlm plasma darah / free O2 (3%)

10
Jumlah O2 terlarut plasma darah berhubungan lurus dengan tekanan
parsialnya dalam darah.

2.3 Transformasi Oksigen dalam Darah

2.4 Efek kerja HBO


Efek terapi oksigen hiperbarik pada tubuh yaitu
1. Efek primer/utama
- Hiperoksigenase
- Tekanan langsung (direct pressure)
2. Efek sekunder
- Vasokontriksi
- Angiogenesis
- Peningkatan pembunuhan leukosit oksidatif
- Proliferasi fibroblast

A. Hiperoksigenasi :
1) HBO meningkatkan tekanan oksigen

2) HBO meningkatkan kadar oksigen terlarut dlm plasma

3) HBO meningkatkan difusi oksigen dlm jaringan

11
B. Tekanan langsung (direct pressure)
Mengecilkan gelembung udara sehingga mempercepat reabsorbsinya dan
sebagai Tata Laksana emboli udara, decompression sickness

C. Vasokontriksi
Kadar oksigen yang tinggi menyebabkan vasokontriksi di jaringan normal.
Efek terapi HBO ini digunakan dlm pengobatan sindroma kompartemen,
mengobati cedera, luka bakar, tata laksana edema jaringan pasca trauma.
Vasokontriksi ini tidak mempengaruhi kadar O2 jaringan

D. Angiogenesis/Neovaskularisasi
Pertumbuhan kapiler dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen. Pembentukan
kapiler meningkat dengan peningkatan tekanan oksigen

E. Peningkatan pembunuhan leukosit oksidatif (bakterisidal, bakteriostatik)


Ketika tekanan oksigen menurun, terjadi pengaktifan netrofil. Netrofil
yang diaktifkan mengkonsumsi sebagian besar oksigen, menyebabkan penurunan
kadar oksigen lebih lanjut dalam jaringan hipoksia. Tingkat oksigen yang sangat
rendah menyebabkan cedera jaringan. Terapi HBO membalikkan cedera jaringan
hipoksia dengan meningkatkan konsentrasi oksigen, sehingga membantu kerja
netrofil dengan menyediakan oksigen dan mempercepat proses penyembuhan
sekaligus untuk membunuh bkateri.

2.5 Indikasi HBO


1. Keracunan CO

2. Gas embolism

3. Kaki diabetes

4. Iskemik Ulcer, non healing wound

5. Sudden deafness

6. Luka bakar dengan luas permukaan >20% dan derajat 2

12
2.6 Tujuan HBO pada Sudden Deafness
Tujuan terapi HBO adalah untuk meningkatkan tekanan oksigen di koklea
dan paralimfe, sehingga diharapkan dapat menghantarkan oksigen dengan tekanan
parsial yang lebih tinggi ke jaringan, terutama koklea, sehingga dpt meningkatkan
oksigenasi koklea dan paralimfe. Selain itu juga bisa sebagai Mekanisme difusi
dikarenakan selama terapi oksigen hiperbarik, tekanan parsial oksigen yang tinggi
menghidupkan kembali daerah yang mengalami hipoksia pada koklea.
Keuntungan HBO pada sudden deafness :
1) Peningkatan distribusi atau jumlah oksigen yang terlarut dalam sirkulasi
darah.

2) Peningkatan jumlah oksigen pada paralimfe dan endolimfe, dan


membantu pemulihan fungsi telinga dalam.

Penelitian Liu SC et al (2011) mendapatkan bahwa pengobatan tuli


mendadak dengan steroid oral + HBO (86,88%, 53/61) memiliki tingkat
pemulihan yang lebih tinggi daripada pengobatan dengan :
- steroid oral (63,79%, 37/58),
- steroid intratimpani (46,51%, 20/43) dan
- terapi oksigen hiperbarik saja (43,85%, 25/57)
Berdasarkan guideline AAO-HNS :
Terapi oksigen sebaiknya dilakukan dlm 2 minggu s/d 3 bulan dari saat
diagnosis tuli mendadak. Regimen HBO dapat dengan memberikan :
1. Oksigen 100%, 2 ATA selama 90 menit, dalam 10 sesi

2. Oksigen 100%, 2,5 ATA, selama 90 menit, 2 x sehari untuk 5 hari pertama,
dilanjutkan 1 x sehari untuk 15 hari selanjutnya.

Pasien usia muda memberikan respon terapi yang lebih baik dibandingkan
pasien usia lebih tua (50-60 tahun). Evaluasi fungsi pendengaran dilakukan setiap
1 minggu selama 1 bulan. Berdasarkan guideline AAO-HNS terapi oksigen
sebaiknya dilakukan dlm 2 minggu s/d 3 bulan dari saat diagnosis tuli mendadak.
Contohnya adalah Oksigen 100%, 2-2,5 ATA, selama 90 menit, 2 x sehari untuk 5
hari pertama (10 sesi), dilanjutkan 1 x sehari untuk 15 hari selanjutnya.

13
Terapi lain pada sudden deafness ini adalah dengan melakukan ekualisasi
yaitu menyamakan tekanan antara telinga tengah dengan tekanan udara di luar,
dengan cara :
1) Menutup hidung dan mulut, lalu menghebuskan udara, sehingga udara keluar
melalui kedua lubang telinga

2) Menelan, minum air beberapa kali

Pasien usia muda memberikan respon terapi yang lebih baik dibandingkan
pasien usia lebih tua (50-60 tahun). Evaluasi fungsi pendengaran dilakukan setiap
1 minggu selama 1 bulan.

2.7 Efek Samping Terapi


1. Kerusakan pada telinga, sinus dan paru akibat perubahan tekanan
(barotrauma)

2. Miopia yang dapat memburuk sementara

3. Klaustrofobia

4. Keracunan oksigen, akibat pembentukan radikal bebas akibat konsentrasi


oksigen yang tinggi

5. Kebakaran

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Jenny B dan Indro S. 2007. Bab Tuli mendadak dalam buku ajar ilmu
kesehatan telinga hidung tenggorokan kepala dan leher. Edisi ke 6:Jakarta:FK
UI.
2. Anias CR. 2007. Otorhinolaryngology. Sudden Deafness. University of Rio
De janeiro. Diakses dari: http://www.medstudents.com.br/otor/otor4.htm
3. Muller C. 2001. Sudden Sensorineural hearing loss. Grand Rounds
Presentation, UTMB, Dept of Otolaryngology.
4. Quinn FB. Sudden Hearing loss. Grand Rounds Presentation, UTMB, Dept of
Otolaryngology.Diaksesdari:
http://www.utmb.edu/otoref/Grnds/SuddenHearingLoss-010613/SSNHL
5. Fordice JO. 1993. Sudden Sensorineural hearing loss. Diakses dari:
http://www.bcm.edu/oto/grand/111893.html
6. Deafness Research. 1999. Sudden sensorineural hearing loss. UK. Diakses
dari:http://www.deafnessresearch.org.uk/Sudden%20sensorineural
%20hearing%20loss+1627.twl
7. Levine SC. Penyakit telinga dalam dalam buku ajar penyakit THT BOIES,
edisi ke 6. EGC Jakarta. 119-38
8. Marthur N, Carr M et al. 2006. Inner ear, sudden hearing loss. Diakses
dari:www. Emedicine.com/ent/topic227.htm.
9. Saunders WH. 1972. Sudden deafness and its several treatment. Columbus,
OHIO. Simposium on ear Deafness. Diakses dari:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=1749386
10. 10. Jenny B dan Indro S. 2004. Panduan penatalaksanaan gawat darurat
telinga hidung, tenggorok. Jakarta: FK UI
11. Danesh AA and Andreasen WD. 2007. Sudden hearing loss. Audilogical
diagnosis and management. Denver, colorado: prepared for American
academy of audiology convention. Diakses dari:
www.coe.fau.edu/csd/SSHLPresAAA.pdf

15
12. Griffith RW. 2004. Sudden deafness on one side is it diabetes. Diakses dari:
http://www.healthandage.com/public/health-center/16/article-
home/2926/Sudden-Deafness-on-One-Side-Is-It-Diabetes.html
13. Betesda, 2003. Sudden deafness. Diakses dari:
http://www.asha.org/public/hearing/disorders/prevalence_adults.htm
14. Rauch SD. 2004. Treating Sudden deafness. A new study. Diakses dari:
http://www.hearinglossweb.com/Medical/Causes/sens_neur/sud/trial.htm
15. Indra S dkk. 2007. Bab gangguan pendengaran akibat ototoksik buku ajar
ilmu kesehatan telinga hidung tenggorokan kepala dan leher. Edisi ke
6:Jakarta:FK UI.
16. Pubmed Health Glossary. Dikutip dari NIH-National Institute on Deafness
and Other Communication Dissorders. Sudden Deafness (Sudden
Sensorineural Hearing Loss). [online] [cited 2017 August 22nd]. Available
from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMHT0024984/
17. Oiticica J and Bittar RSM. Metabolic disorder prevalence in sudden deafness.
Clinics (Sao Paulo). 2010; 65(11): 1149-1153.
18. Hughes GB, Freedman MA, Haberkamp TJ, Guay ME. Sudden sensorineural
hearing loss. Otolaryngol Clin North Am. 1996; 29: 393–405
19. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2012. pp 39-41.
20. Megighian D, Bolzan M, Barion U, Nicolai P. Epidemological considerations
in sudden hearing loss: a study of 183 cases. Arch Otorhinolaryngol. 1986;
243(4): 250–3
21. Fetterment BL, Saunders JE, Luxford WM. Prognosis and treatment of
sudden sensorineural hearing loss. The American Journal of otology. 1996;
17:529-36.
22. Ohno K, Noguchi Y, Kawashima Y, Yagishita K, Kitamura K. Secondary
hyperbaric oxygen therapy for idiopathic sudden sensorineural hearing loss in
the subacute and chronic phase. J Med Dent Sci. 2010; 57: 127-32.
23. Novita S dan Yuwono N. Diagnosis dan tata laksana tuli mendadak. CKD-
210, 2013; 40(11): 820-6.

16
24. Ajduk J, Ries M, Trotic R, Marinac I, Vlatka K, Bedekovic V. Hyperbaric
oxygen therapy as salvage therapy for sudden sensorineural hearing loss. J Int
Adv Otol. 2017; 13(1): 61-4.
25. Wibowo A. Oksigen hiperbarik : terapi percepatan penyembuhan luka. Juke
Unila. 2015; 5(9): 124-8.
26. Topuz E, Yigit O, Cinar U, Seven H. Should hyperbaric oxygen be added to
treatment in idiopathic sudden sensorineural hearing loss? Eur Arch
Otorhinolaryngol. 2004; 261: 393-6.
27. Imsuwansri T, Poonspap P, Snidvongs K. Hyperbaric oxygen therapy for
sudden sensorineural hearing loss after failure from oral and intratympanic
corticosteroid. CEO. 2012; 5(1): S99-S102.
28. Lavoie HM, Piper S, Moon RE, Legros T. Hyperbaric oxygen therapy for
idiopathic sudden sensorineural hearing loss. 2012. UHM; 39(3): 777-92.
29. Gupta V, Vijay S, Gupta R, Koul S. Hyperbaric oxygen therapy. JK-
Practitioner. 2005; 12(1): 44-7.
30. Collage of respiratory therapist of Ontario. 2013. Oxygen therapy clinical
best practice guideline. Diakses dari : http://www.crto.on.ca.html

17