Anda di halaman 1dari 5

1

PETA KONSEP (PENGANTAR PENDIDIKAN ANAK


BERKEBUTUHAN KHUSUS)

MODUL 1 (HAKIKAT PENDIDIKAN KHUSUS)


DEFINISI DAN JENIS KEBUTUHAN KHUSUS
(KEGIATAN BELAJAR 1)

A. DEFINISI BERBAGAI B. KLASIFIKASI


ISTILAH ANAK KEBUTUHAN
KHUSUS

1. Tunanetra
1. Pendidikan Luar Biasa
2. Tunarungu
2. Anak Luar Biasa 3. Gangguan
3. Keluarbiasaan Komunikasi
4. Pendidikan Khusus 4. Tunagrahita
5. Tunadaksa
5. Kebutuhan Khusus 6. Tunalaras
6. Anak berkebutuhan 7. Anak Berkesulitan
Khusus belajar
8. Tunaganda
2

PETA KONSEP (PENGANTAR PENDIDIKAN ANAK


BERKEBUTUHAN KHUSUS)

MODUL 1 (HAKIKAT PENDIDIKAN KHUSUS)


PENYEBAB DAN DAMPAK MUNCULNYA
KEBUTUHAN KHUSUS (KEGIATAN BELAJAR 2)

A. PENYEBAB MUNCULNYA B. DAMPAK KELAINAN DAN


KEBUTUHAN KHUSUS KEBUTUHAN KHUSUS

1. Dampak kelainan
bagi anak
1. Penyebab prenatal
2. Dampak kelainan
2. Penyebab perinatal
bagi keluarga
3. Penyebab Postnatal
3. Dampak kelainan
bagi masyarakat
3

PETA KONSEP (PENGANTAR PENDIDIKAN ANAK


BERKEBUTUHAN KHUSUS)

MODUL 1 (HAKIKAT PENDIDIKAN KHUSUS)


KEBUTUHAN SERTA HAK DAN KEWAJIBAN ANAK
BERKEBUTUHAN KHUSUS (KEGIATAN BELAJAR 3)

A. KEBUTUHAN ANAK
BERKELAINAN B. HAK PENYANDANG
(BERKEBUTUHAN KHUSUS): KELAINAN :

1. Kebutuhan fisik/kesehatan 1. Hak mendapat pendidikan


2. Kebutuhan sosial-emosional 2. Hak mendapatkan jaminan
3. Kebutuhan pendidikan
sosial seperti akses ke
berbagai tempat-tempat umum
dan layanan masyarakat
3. Hak mendapatkan pekerjaan
TUGAS PETA KONSEP
MATA KULIAH PENGANTAR PENDIDIKAN ANAK
BERKEBUTUHAN KHUSUS (PDGK 4407)

MODUL 1,2

(HAKIKAT PENDIDIKAN KHUSUS)

SEMESTER 2

KELAS BI PGSD

PRISCA PUTRI P (NIM : 837662474)


NIA LAMITASARI (NIM : 837662507)

PROGRAM STUDI SI PGSD


UNIVERSITAS TERBUKA
2019
MODUL 2
Hakikat Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
“Pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan merupakan satu kebutuhan esensial untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ABK secara optimal”
(2.1 par.2)

Pengertian Pelayanan Pendidikan dan Sejarah Perkembangan Pendidikan Khusus di Indonesia

Sejarah Perkembangan Layanan Pendidikan Khusus


1. Makna Pelayanan Pendidikan :
“Penyediaan jenis layanan yang sesuai dgn kebutuhan yg dilayani sehingga A. Di Luar Negeri (2.10):
memungkinkan seseorang mengembangkan potensi dirinya” (2.6 par.1) - Abad ke-16 di Spanyol : berhasil dididiknya seorang tuna rungu sejak lahir,
- Tahun 1817 di Connecticut, USA : didirikannya sekolah utk anak tuna rungu wicara,
2. Jenis Pelayanan Pendidikan Bagi ABK : - Tahun 1831 di Watertown, USA : didirikannya sekolah utk tuna netra.
- Layanan pendidikan bidang kesehatan dan fisik (2.7 par.2);
B. Di Indonesia :
- Layanan pendidikan yang berkaitan dgn kebutuhan emosional sosial (2.8);
- Tahun 1901 di Bandung : didirikan-nya Institut untuk Tuna netra (2.10 par. 2)
- Layanan pendidikan yg berkaitan langsung dgn kebutuhan pendidikan (2.8) - Tahun 1927 di Bandung : didirikannya SLB untuk Tuna grahita (2.11)
- Tahun 1991 mulai banyak didirikan SLB di Jawa, mulai dari SLB A sampai SLB G (2.11 par.2)

Bentuk dan Jenis Layanan Pendidikan Bagi ABK


1. Bentuk Layanan Pendidikan Khusus:
a. Layanan Pendidikan Segregasi : bentuk layanan pendidikan yang memisahkan ABK dari anak normal. Jadi ABK dan anak normal mempunyai sekolah
sendiri-sendiri. (2.23 par.2)
b. Layanan Pendidikan Integrasi atau Terpadu : bentuk layanan pendidikan dimana ABK dan anak normal bersekolah di sekolah yang sama. (2.24)
c. Layanan Pendidikan Inklusi : yaitu setiap anak diakui sebagai bagian dari anak-anak yang lain yang ada dalam satu sekolah, artinya tanpa memandang
tingkat kelainan yang disandang mereka bisa sekolah di sekolah biasa yang terdekat dari rumahnya. (2.24)
2. Jenis Pelayanan Pendidikan Khusus:
- Layanan di sekolah biasa (2.28), Sekolah biasa dengan Guru Konsultan (2.29), Sekolah biasa dengan Guru Kunjung (2.29), Model ruang sumber (2.30),
Model kelas khusus (2.30), Model sekolah khusus siang hari (2.31), dan Model sekolah dalam Panti Asuhan atau Rumah Sakit (2.32)

Pendekatan Kolaboratif Dalam Pelayanan Pendidikan ABK


“Bahwa pelayanan pendidikan utk ABK pada hakikatnya tidak mungkin dilakukan oleh satu orang, melainkan oleh satu tim
yang bekerjasama utk memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi ABK”. (2.34 par. 1)