Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Ca TYROID

Disusun untuk memenuhi tugas mata ajar KMB I

Disusun Oleh:
PRIYO DWI SAPUTRO
1.1.10468

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN SEMARANG


POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
2006
BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Karsinoma tiroid termasuk penyakit keganasan dengan prognosis relative
baik. Perjalanan klinis karsinoma tiroid sering sukar di ramalkan. Kadang-
kadang nodul tiroid baru muncul dalam beberapa bulan dan timbul secara
mendadak seperti pada karsinoma tiroid anaplastik. Tetapi dapat pula
mengalami nodul tiroid berpuluh tahun dan memberikan gejala klinis yang
ringan saja seperti pada karsinoma tiroid papilar.
Walaupun saat ini belum ada kesepakatan tentang bagamana bentuk
terbaik pengobatan karsinoma tiroid, telah disepakati bahwa tiroidektomi
adalah langkah pertama yang harus dilakukan pada karsinoma tiroid atau pada
struma yang dicurigai ganas.
Karsinoma tiroid termasuk jenis kanker kelenjar endokrin terbanyak
jumlahnya, hampir 10x lebih banyak dari kanker kelenjar endokrin lainnya.
Angka kejadia karsinoma tiroid tidak dapat ditentukan secara pasti.
b. Tujuan
Tujuan umum
 Setelah disusunnya makalah ini diharapkan mahasiswa memahami
tentang karsinoma tiroid serta penatalaksanaan keperawatannya.
Tujuan khusus
 Memahami dan mengerti tentang pengertian, etiologi dan manifestasi
klinik serta penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan
karsinoma tiroid
 Untuk memenuhi tugas KMB I
BAB II
ISI

A. Pengertian
Karsinoma tiroid adalah lesi yang terdapat dalam kelenjar tiroid yang
disebabkan oleh neoplasma.
B. Etiologi
Radiasi eksternal kepala, leher atau dada pada bayi dan anak-anak
meningkatkan resiko karsinoma tiroid. Anatara tahun 1940 dan 1960 terapi
radiasi kadang-kadang dilakukan untuk mengecilkan jaringan tonsil dan
adenoid yang membesar, mengobati jerawat atau mengurangi pembesaran
kelenjar timus. Bagi individu yang terkena radiasi eksternal dalm usia anak-
anak terjadi peningkatan indsiden kanker tiroid dalam 5 hingga 40 tahun
setelah penyinaran tersebut. Akibatnya individu yang menjalani terapi radiasi
harus berkonsultasi dengan dokter dan meminta pemeriksaan pemindai isotop
tiroid sebagai bagian dari pemeriksaan evaluasi, mengikuti terapi yang
dianjurkan untuk kelainan pada kelenjar tersebut. Serta melanjutkan
pemeriksaan umum Check-up setiap tahun sekali jika semua hasil
pemerikasaan normal.
C. Gambaran histopatologi
Berdasarkan histopatologi, neoplasma tiroid dibagi dalam beberapa tipe dan
subtype. Klasifikasi histopatologi ini praktis dan erat kaitannya dengan aspek
klinis, pengobatan dan prognosis.
Klasifikasi histopatologi karsinoma tiroid
1. Adenoma
Adenoma merupakan golongan terbanyak dari neoplasma tiroid, muncul
berupa nodul bersimpai. Kadang- kadang tumornya berukuran besar,
menekan jaringan tiroid sekitarnya dan lambat laun sempainyai menebal
menjadi fibrotik. Arsitektur histopatologinya bervariasi dan sering
berkombinasi. Kadang-kadang arsitekture histopatologinya mirip dengan
histopatologi normal dan kadang- kadang sulit dibedakan dengan
karsinoam folikuler diferensiasi baik. Invasi sel tumor pada simpai atau
pembuluh darah merupakan pertanda maligna.
2. Karsinoma papilar
Karinoma papiler merupakan golongan terbanyak dari karsinoam tiroid
( 60%-70% ), pertumbuhan paling lambat, dan lebih kurang 15%
meninggal setelah bertahun-tahun menderita karsinoma tersebut. Sebagian
besar penderita berumur dibawahah 40 tahun dan tidak jarang umur
belasan tahun, terbanyak pada wanita.
Tumor sering berupa nodul soliter tapi multi fokal mulai fokus kecil
sampai diameter 10 cm. Konfigurasi papiler dan adanya badan psammoma
merupakan ciri khas histopatologi. Badan-badan psammoma yang
biasanya terletak pada papil merupakan identitas penting dalam
mendiagnosis karsinoam papiler. Sebagian karsinoam papiler dijumpai
bersama-sama dengan folikuler. Sering tumor berukuran kecil
( berdiameter 3-10 mm ), bahkan tak teraba, namun metastasis tumor
berukuran besar ( occulr tyroid crcinoma ). Kdang-kadang metastasis
karsinoma papiler mengisi seluruh kelenjar getah bening, seolah olah
tumor ini tumbuh dari tiroid abefrant. Konsep karsinoma aberfant oleh
penulis dianggap sebagai konsep yang keliru.
3. Karsinoma folikuler
Tumor ini ditemukan 20% dari tumor ganas tiroid. Sebagian besar tumbuh
lambat, massa tumor tidak teratur, sering berupa nodul padat, terbatas jelas
dan pada pemotongan tampak gumpalan daging berwarna kemerah-
meraham atau berwarna coklat karena mengandung koloid. Bila soliter
kelihatan seperti bersimpai. Histopatologi diferensiasinya baik, kadang-
kadang mirip dengan adenoma dan tiroid normal dengan konfigurasi
folikel ukuran bervariasi. Pada masa tumor dapat dijumpai bentuk
folikular dan papilar. Invasi sel tumor dan simpai ke pembuluh darah
( angio invasi ) sel tumor sering terjadi. Karsinoma sel hurthle cenderung
digolongkan pada karsinoama folikuler
4. Karsinoma anaplastik
Biasanya tumor ini cepat meluas, agresif dan cepat terjadi metastasis pada
kelenjar getah bening atau organ lain.
Biasanya tumor ini ditemukan dalam kondisi inoperable. Secara
makroskopik berupa masa yang biasanya menginvasi simpai dan jaringa
sekitarnya. Gambaran histopatologi, sel tumor terdiri dari sel kecil yang
kadang-kadang sukit dibedakan dengan limfima dan sindel bersama-sama
sel raksasa.
5. Karsinoma meduler
Karsinoma meduler berasal dari sel epitel para folikel ( sel C ) termasuk
kelompok APUDomas yang memproduksi kalsitonin. Tumor berupa
gumpalan keputih putihan padat. Histopatologi, berupa sarang-sarang sel
tumor, padat tersusun trabekuler atau tersusun memanjang mengandung
amiloid. Kalsitosin dapat terdeteksi dalam serum atau dalam jaringan
dengan teknik pengecatan imunohisto kimia. Karsinoma sel skuamosa
merupakan tumor tiroid yang langka dan ada kaitannya dengan tiroiditis
kronik.
D. Manifestasi klinis
Kecurigaan klinis adanya karsinoma tiroid didasarkan pada observasi yang
dikonfirmasikan dengan pemerikasaan patologis, dibagi dalam kecurigaan
tinggi, sedang dan rendah.
Yang termasuk dalam kecurigaan tinggi adalah :
 Riwayat neoplasma endokrin multiple pada keluarga
 Pertumbuhan tumor cepat
 Nodul teraba keras
 Fiksasi daerah sekitar
 Paralysis pita suara
 Pembesaran kelenjar limfe regional
 Adanya metastasis jauh
Yang termasuk kecurigaan sedang adalah :
 Usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 60 tahun
 Riwayat radiasi leher
 Jenis kelamin laki-laki dengan nodul soliter
 Tidak jelas adanya fiksasi daerah sekitar
 Diameter yang lebih besar dari 4 cm dan kistik
Yang termasuk dalam kecurigaan rendah adalah tanda atau gejala diluar yang
disebutkan diatas.
Pasien dengan nodul soliter yang pada sidik tiroidnya menghasilkan cold
nodule mempunyai kemungkinan karsinoma tiroid sebesar 20% sedangkan
yang multi noduler kemungkinan karsinoma tiroidnya sebesar 1%.
Secara klinis karsinoma tiroid dibagi menjadi klas-klas yaitu :
I. Intra-tiroid
II. Metastasis keleljar limfe leher
III. Invasi ekstra tiroid
IV. Metastasis jauh
Gejala klinis yang dijumpai dapat berupa penekanan organ sekitar, gangguan
dan rasa sakit menelan, sukit bernafas, suara serak, limfadenopati leher dan
dapat terjadi metastasis jauh, yang paling sering ialah ke paru- paru tulang dan
hati.
E. Pathways
Penyebaran
Karsinoma tiroid, tumbuh lambat, kecuali karsinoma anaplastik. Penyebaran
tumor cenderung tergantung pada tipe karsinoma. Karsinoma papiler adalah
karsinoma terbanyak yang bermetastasis pada kelenjar getah bening di leher rantai
juguler dan supra klavikular dan juga pada sub maxilar. Karsinoma anaplastik dan
meduler meluas infiltratif ke jaringan sekitarnya dan trakea.
Metastasis jauh, biasanya dengan cara hematogen, ke paru tulang, hati ginjal dan
otak. Karsinoma folikuler menyebar melalui hematogen, jarang limfogen.
Karsinoma papiler yang berlangsung lama, dengan pengobatan yang tidak adekuat
dapat bermetastasis jauh ke paru, tulang ataupun orhan lain.
Simptomatologi
Sebagian besar karsinoma tiroid tumbuh lambat, kadang-kadang berpuluh tahun.
Walaupun demikian tumor ini tetap dikatagorikan maligna. Simptom permulaan
adalah adanya pembesaran pada kelenjar tiroid berupa nodul padat. Suara parau
( huarseness ) dapat terjadi akibat perluasan tumor pada laring atau tekanan
terhadap N. Rekuren. Disfagi mungkin terjadi, karena tumor meluas pada
esofagus. Pada penyakit lama, berat badan menurun. Simptom tirotoksikosis
jarang dijumpai.
Limfadenopati leher merupakan salah satu simptom akibat dari metastasis
terutama karsinoma papilar. Limfadenopati sering menonjol, namun tumor
primernya kecil tak teraba, seolah-olah tumor berasal dari tiroid aberan.
Karsinoma folikuler, pada pemeriksaan pertama biasanya dijumpai pembesaran
tiroid. Kadang-kadang penderita datang dengan pembengkakan diorgan lain
misalnya di kulit kepala dan dada.
F. Pengkajian
1. Anamnesis
Penderita karsinoma tiroid tidak mempunyai keluhan khusus, terutama
pada keadaan tumor berdiferensiasi baik. Pada tumor yang besar dan
tumbuh cepat seperti karsinoma anaplastik, karsinoma meduler mungkin
ada keluhan: rasa tidak enak dileher, suara parau karena penekanan atau
invasi tumor pada N. Rekuren. Pada tumor yang berdiferensiasi baik yang
berlangsung lama dapat juga timbul suara parau. Pembesaran tiba-tiba
( karsinoma meduler dan anaplastik ) mungkin timbul keluhan sakit oleh
karena perdarahan akibat infark pada tumor.
2. Pemeriksaan fisik
Berdasarkan pemeriksaan fisik, sering sulit dibedakan antara struma
disebabkan karsinoma stadium permulaan dengan struma disebabkan
penyakit lain. Struma noduler yang terdapat pada wanita yang berumur
dibawah 20 tahun harus dicurigai karsinoma. Nodul pada lateral tiroid
sering disebabkan metastasis karsinoma tiroid pada kelenjar getah bening
yang dulu disebut karsinoma tiroid aberan. Pada kasus demikian palpasi
kelenjar tiroid merupakan hal yang penting, untuk melihat kemungkinan
adanya nodul kecil. Palpasi tiroid dilakukan dari dua arah yaitu :
1. Pemeriksaan dari depan
Ibu jari menekan laring dan kelenjar tiroid, sementara ibu jari lain
meraba kelenjar tiroid dari sisi lain.
2. Palpasi dari belakang
Pemeriksa berdiri dibelakang pasien dan tangan kiri mendorong trakea
kearah kanan, kemudian ibu jari dan jari telunjuk melingkari otot
sternokleidomastoidius serta meraba kelenjar tiroid saat pasien
menelan.
Pada pemerikasaan fisik, karsinoma stadium lanjut berukuran besar
biasanya ditemukan beberapa kelainan khas antara lain :
 Tumor teraba kenyal atau induratif
 Mobilitas keatas dan kelateral terbatas atau
tidak dapat digerakkan sama sekali karena tumor tubuh infiltratif pada
jaringan tumor lainnya
 Obstruksi parsial trakea karena infiltrasi
tumor. Pada waktu bernafas terdengar suara pernafasan stridor dengan
intensitas yang bervariasipenekanan lobus lateral ke arah medial,
stridor lebih jelas.
 Berry sign. Pembesaran tiroid bisa
mendorongarteri karotis kearah lateral-belakang, namun pulsasi tetap
teraba walaupun posisi berubah. Akan tetapi pada karsinoma yang
bersifat infiltratif terutama pada stadium lanjut, pulsasi sulit teraba.
3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang membedakan antara tumor jinak dan
ganas tiroid belum ada yang khusus, kecuali karsinoma meduler yaitu
pemeriksaan kalsitonin dalam serum. Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-
kdang diperlukan karena pada karsinoma tiroid dapat terjadi tirotoksikosis
walaupun jarang. Human thyriglobulin ( HTG ) Tera dapat digunakan
sebagai tumor marker dari karsinoma tiroid berdiferensiasi baik. Walaupun
pemeriksaan ini tidak begitu khas untuk karsinoma tyroid, namun
peninggian HTG ini setelah di tiridektomi total merupakan indikator
tumor residif atau tumbuh kembali ( Barsano ) kadar kalsitonin dalam
serum dapat ditentukan untuk diagnosis karsinoma meduler.
4. Radiologis
 Foto X-Ray
Pemeriksaan X-ray jaringan lunak di leher kadang-kadang dip-
erlukan untuk melihat obstruksi trakea karena penekanan tumor
dan melihat klasifikasi pada masa tumor. Apabila ada keluhan
disfagi, maka foto barium meal perlu untuk melihat adanya
infiltrasi tumor pada esofagus.
 Ultra sound
Ultrasonografi dipergunakan untuk membedakan tumor solid dan
kistik
 Computerized Tomografi
CT-scan dipergunakan untuk melihat perluasan tumor, namun tidak
dapat membedakan secara pasti antara tumor ganas dan tumor
jinak.
 Scintigrafi
Dengan mengguanakan radio isotopik dapat dibedakan hot nodule
dan cold nodule.
5. Biopsi aspirasi jarum halus
Pada dekade terakhir ini biopsi aspirasi banyak dipergunakan sebagai
prosedur diagnostik pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor
tiroid
6. Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi dapat dilakukan dengan :
 Tru-Cut
Dengan jarum berdiameter besar diambil specimen untuk
pemeriksaan histopatologi. Biopsy dilakukan dengan anestesi local.
Cara ini kurang popular karena sering terjadi komplikasi perdarahan
dan resiko penyebaran tumor
 Potongan Beku
Pada kasus tertentu dimana sitologi biopsy aspirasi meragukan
malignitas, pemeriksaaqn histopatologis dilakukan pada waktu
operasi dengan teknik potongan beku ( frozen section ) dengan cara
ini invasi tumor pada simpai dan pembuluh darah ( angioinvasi )
dapat dievaluasi.
 Pemeriksaan histopatologi jaringan
operasi
G. Diagnosa
 Beersihan nafas takefektif b.d
obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan, spame laryngeal
 Komunikasi/ kerusakan
verbal b.d cidera pita suara/kerusakan syraf laring, edema jaringan :nyeri
 Cedera, resti terhadap
(tetani ) b.d ketidak seimbangan kimia, stimulasi SSP berlebihan
 Nyeri (akut) b.d
interupsi/manipulasi bedah terhadp jaringan otot,edema pasca operasi
 Kurang pengetahuan
(kebutuhan belajar) mengenai kondisi, prognosis, dan kebutuhan tindakan
b.d kurang terpajan/mengingat, kesalahan interpretasi tidak mengenali
sumber.
H. Intervensi
1. Mempertahankan jalan nafas paten, aspirasi dicegah
 Kaji pernafasan ( kedalaman,
frekuenasi, askultasi, palpasi )
 Kaji dispneu, stidor, sianosis
 Berikan posisi semi fowler
 Latih nafas dalam dan batuk
efektif
 Kaji disfagia dan
penumpukan skret oral
 Pertahankan alat trakeostomi
didepan pasien
 Berikan inhalasi uap, udara
ruangan yang lembab
 Bantu dengan / siapkan
prosedur seperti : trakostomi, siapkan pembedahan ulang
2. Menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan
dapat dipahami
 Kaji fungsi bicara secara
periodic dan batasi pembiacaraan
 Pertahankan komunikasi
sederhana
 Berikan komunikasi alternatif
 Pertahankan lingkungan yang
tenang
3. Mengatasi resiko cidera atau komplikasi
minimal/terkontrol
 Pantau TTV, takykardi,
disritmia, distres pernafasan, sianosis
 Evaluasi reflek secara
periodik atau peka rangsang
 Hindari penggunaan restrai,
pertahankan penghalang tempat tidur terpasang, tempat tidur pada
posisi rendah dan jalan nafas buatan dekat pasien.
 Pantau kadar kalsium darah
 Berikan obat sesuai indikasi (
sedatif, kalsium, antikonvulsan)
4. Mengatasi nyeri
 Kaji tanda nyeri
 Posisikan pasien semi fowler
dan sokong kepal/leher dengan bantal kecil
 Pertahankan leher pada posisi
netral dan sokong selama perubahan posisi
 Berikan minuman yang sejuk
dan makanan yang lunak
 Ajarkan pasien teknik
relaksasi, imajeri dan distraksi
 Berikan analgesic sesuai
indikasi
 Berikan es sesuai indikasi
5. Memberikan kebutuhan belajar, partisipasi dalam
pengobatan dan perubahan gaya hidup yang perlu
 Tinjau ulang prosedur
pembedahan dan harapan lanjutannya.
 Diskusikan diit seimbang,
bergizi, dan bila tepat mengandung garam beryodium
 Hindarkan makanan bersifat
goitrogenik misal makanan laut berlebihan, kacang kedelai, lobak
 Identifikasi makanan tinggi
kalsium
 Dorong program latihan umu
progresif
 Tinjau ulang latihan pasca
operasi setelah penyembuhan luka
 Nilai kebutuhan relaksasi dan
istirahat
 Berikan informasi tentang
penggunaan obat penghilang parut
 Instruksikan perawatan pada
daerah insisi
 Diskusikan kemungkinan
perubahan dalam bicara
 Gunakan krem sejuk setelah
jahitan diangkat
 Tinjau ulang terapi obat-
obatan
 Evaluasi tanda dan gejala
yang membutuhkan evaluasi medis
 Tekankan kebutuhan akan
evaluasi medik secara teratur
BAB III
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2.


Brunner & Suddart. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC

Tambunan gain W. 1995. Diagnosis dan TataLaksana 10 Jenis Kanker


Terbanyak Di Indonesia. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC

Doengoes, Marrylyn. Et all. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta :


Penerbit Buku Kedokteran EGC

Soeparman. 1987. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Jakarta: FKUI