Anda di halaman 1dari 33

REFLEKSI KASUS dan CBD

OTITIS EKSTRENA DIFUS AS

Untuk memenuhi syarat tugas formatif kepaniteraan klinik

Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok

Rumah Sakit Tentara Dr. Soedjono Magelang

Disusun Oleh :

Ahmad Hidayat

30101307119

Pembimbing

Kolonel (CKM) dr. Budi Wiranto, Sp.THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG

2018

i
REFLEKSI KASUS dan CBD

OTITIS EKSTRENA DIFUS AS

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti kepaniteraan klinik di Bagian Ilmu


Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok di Rumah Sakit Tentara Dr. Soedjono
Magelang

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal : 28 Desember 2018

Disusun oleh :
Ahmad Hidayat

30101307119

Magelang, 28 Desember 2018

Dosen Pembimbing

Kolonel (CKM) dr. Budi Wiranto, Sp.THT-KL

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah dengan segala limpahan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dan
cbd pada pasien dengan Otitis Eksterna Difus AS. Tugas ini disusun sebagai salah
satu syarat menyelesaikan kepaniteraan klinik bagian SMF THT Rumah Sakit
Tentara Soedjono Magelang.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kolonel (CKM) dr. Budi Wiranto,
Sp.THT-KL, selaku pembimbing yang sabar dalam membimbing dan memberikan
pengarahan serta mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan
bimbingan, masukan, serta koreksi demi tersusunnya refleksi kasus dan cbd ini,
serta semua pihak terkait yang telah membantu proses pembuatan refleksi kasus
dan cbd ini.
Penulis menyadari laporan kasus dan cbd ini masih jauh dari sempurna. Oleh
sebab itu, penulis mohon maaf jika terdapat kekurangan. Penulis berharap refleksi
kasus dan cbd ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan
serta bagi semua pihak yang membutuhkan.

Magelang, 28 Desember 2018

Penulis

iii
BAB I

LAPORAN KASUS

II.1. IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn. k
Umur : 18
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Desa Gondosari

II.2. ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan tanggal 26 Desember 2018 di poli THT RST dr.
Soedjono Magelang.

Keluhan Utama : Nyeri pada telinga kiri

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan nyeri pada telinga kiri sejak ± 2 bulan
yang lalu. Pasien juga mengeluh rasa tidak nyaman pada telinga kiri dan telinga
kiri juga terasa nyeri saat disentuh. Pasien merasa gatal pada telinga kiri. Nyeri
telinga saat membuka mulut disangkal. Penurunan pendengaran pada telinga
disangkal. Rasa penuh dan tersumbat pada telinga kiri juga disangkal. Tidak
ada keluhan pusing berputar. Pasien mengaku sebelumnya juga tidak ada
riwayat kemasukan air maupun benda asing lainnya ke dalam telinga. Riwayat
saat ini demam, batuk, pilek disangkal. Gangguan menelan dan gangguan
penciuman juga disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Pasien
memiliki kebiasaan mengorek telinga dengan cotton buds serta dengan jarinya.
Riwayat trauma, keluar darah dari telinga disangkal. tidak mempunyai riwayat
sakit gula dan darah tinggi.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Pasien mengaku tidak ada keluarga yang pernah sakit seperti ini. Riwayat
alergi dan asma pada keluarga disangkal penderita.

Riwayat Alergi :
Riwayat alergi seperti bersin-bersin dan gatal-gatal setelah memakan
makanan tertentu atau konsumsi obat disangkal. Riwayat asma disangkal.

Riwayat pengobatan :
Pasien saat ini tidak menkonsumsi obat-obatan jangka panjang, Pasien
mengaku sudah berobat ke Puskesmas dan sudah mendapatkan obat tetes
telinga dari Puskesmas namun pasien lupa membawa obat saat pemeriksaan.

II.3. PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis :
 Keadaan umum : Baik
 Kesadaran : Compos mentis
 Tanda vital :
 Nadi : 73 x/menit
 Respirasi : 18 x/menit

Status Lokalis (Telinga, Hidung, Tenggorokan)


a. Kepala dan leher :
 Kepala : mesocephale
 Wajah : simetris
 Leher : pembesaran kelenjar limfe (-)
b. Gigi dan Mulut :
 Gigi geligi : normal

2
 Lidah : normal, kotor (-), tremor (-)
 Pipi : bengkak (-)

c. Telinga :
Kanan Kiri
Auricula Bentuk normal Bentuk normal
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Edema (-) Edema (-)
Pre-auricular Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Edema (-) Edema (-)
Fistula (-) Fistula (-)
Nyeri tekan tragus (-) Nyeri tekan tragus (+)

Retro-auricular Hiperemis (-) Hiperemis (-)


Edema (-) Edema (-)
Fistula (-) Fistula (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)

Mastoid Bengkak (-) Bengkak (-)


Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)

CAE Serumen (-) Serumen (+)


Eritema (-) Eritema (+)
Furunkel (-) Furunkel (-)
Otorea (-) Otorea (-)
Edema (-) Edema (-)

Membran Intak putih mengkilat Sulit dinilai


timpani Refleks cahaya (+) Sulit dinilai
Perforasi (-) Sulit dinilai

3
d. Hidung dan Sinus Paranasal :
Luar Kanan Kiri
Bentuk Normal Normal
Sinus Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Inflamasi/tumor (-) (-)

Rhinoskopi anterior Kanan Kiri


Sekret (-) (-)
Mukosa Edema (-) Edema (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Konka media Hipertrofi (-) Hipertrofi (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Konka inferior Hipertrofi (-) Hipertrofi (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Tumor (-) (-)
Septum Deviasi (-)
Massa (-) (-)

e. Faring :
Orofaring Kanan Kiri
Mukosa Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Dinding faring Granular (-) Granular (-)
Palatum mole Ulkus (-) Ulkus (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Arcus laring Simetris (+) Simetris (+)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Uvula Ditengah
Edema (-)
Tonsil :
- Ukuran T1 T1
- Permukaan Rata Rata
- Warna Hiperemis (-) Hiperemis (-)
- Kripte Melebar (-) Melebar (-)
- Detritus (-) (-)

4
II.3. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

o Pemeriksaan laboratori → tanda infeksi akut lab darah rutin : WBC, LED

o Pemeriksaan bakteriologi → mengetahui mikroorganisme penyebab

II.4. RESUME

1) Anamnesa (RPS):
 Otalgia aurikularis sinistra
 Aural fullness aurikularis sinistra
 aurikularis sinistra terasa gatal

2) Riwayat Penyakit Dahulu (RPD)


 Riwayat sering mengorek telinga dengan cotton bud (+) kadang
dengan jari

3) Pemeriksaan Fisik (AS) :


 Nyeri tekan tragus
Otoscopy :
 CAE Auris sinistra  eritema, edema
 Membran timpani  sulit dinilai

II.5. DIAGNOSIS BANDING AURIS SINISTRA

 Otitis Eksterna
o Otitis Eksterna Difus
o Otitis Eksterna Sirkumskripta

 Otomikosis

5
II.6. DIAGNOSIS KERJA AURIS SINISTRA

Otitis Eksterna Difus AS

II.7. TERAPI

 Terapi Medikamentosa
 Tampon yang mengandung antibiotik ke liang telinga
 Obat pencuci telinga  H2O2 3% 2 x 6 tetes AS
 Antibiotik
o Topical  Ofloxacin 2 x 6 tetes AS
 Kortikosteroid  Dexamethasone 3 x 1

 Edukasi

o Jaga hygienis telinga, tidak mengorek telinga dengan cutton bud


o Telinga kiri jangan dulu terkena air, bila mandi ditutup kapas
o Kontrol rutin ke poli THT bila masih ada keluhan

II.8. PROGNOSIS

o Qou ad vitam : ad bonam


o Qou ad sanam : dubia ad bonam
o Quo ad functionam : dubia ad bonam

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. ANATOMI TELINGA
Telinga adalah alat indra yang memiliki fungsi pendengaran dan
keseimbangan. Seecara umum telinga kita terdiri atas tiga bagian yaitu bagian
luar, bagian tengah dan bagian dalam.

1. 1. TELINGA LUAR
Telinga luar terdiri atas auricula dan meatus akustikus eksternus.
Auricula mempunyai bentuk yang khas dan berfungsi mengumpulkan
getaran udara, auricula terdiri atas lempeng tulang rawan elastis tipis yang
ditutupi kulit. Auricula juga mempunyai otot intrinsic dan ekstrinsik, yang
keduanya dipersarafi oleh N.facialis.
Auricula atau lebih dikenal dengan daun telinga membentuk suatu
bentuk unik yang terdiri dari antihelix yang membentuk huruf Y, dengan
bagian crux superior di sebelah kiri dari fossa triangularis, crux inferior
pada sebelah kanan dari fossa triangularis, antitragus yang berada di
bawah tragus, sulcus auricularis yang merupakan sebuah struktur depresif
di belakang telinga di dekat kepala, concha berada di dekat saluran
pendengaran, angulus conchalis yang merupakan sudut di belakang
concha dengan sisi kepala, crus helix yang berada di atas tragus, cymba
conchae merupakan ujung terdekat dari concha, meatus akustikus
eksternus yang merupakan pintu masuk dari saluran pendengaran, fossa
triangularis yang merupakan struktur depresif di dekat anthelix, helix yang
merupakan bagian terluar dari daun telinga, incisura anterior yang berada
di antara tragus dan antitragus, serta lobus yang berada di bagian paling
bawah dari daun telinga, dan tragus yang berada di depan meatus
akustikus eksternus.
Yang kedua adalah meatus akustikus eksternus atau dikenal juga
dengan liang telinga luar. Meatus akustikus eksternus merupakan sebuah

7
tabung berkelok yang menghubungkan auricula dengan membran timpani.
Pada orang dewasa panjangnyalebih kurang 1 inchi atau kurang lebih 2,5
cm, dan dapat diluruskan untuk memasukkan otoskop dengan cara
menarik auricula ke atas dan belakang. Pada anak kecil auricula ditarik
lurus ke belakang, atau ke bawah dan belakang. Bagian meatus yang
paling sempit adalah kira-kira 5 mm dari membran timpani.
Rangka sepertiga bagian luar meatus adalah kartilago elastis, dan dua
pertiga bagian dalam adalah tulang yang dibentuk oleh lempeng timpani.
Meatus dilapisi oleh kulit, dan sepertiga luarnya mempunyai rambut,
kelenjar sebasea, dan glandula seruminosa. Glandula seruminosa ini
adalah modifikasi kelenjar keringat yang menghasilkan sekret lilin
berwarna coklat kekuningan. Rambut dan lilin ini merupakan barier yang
lengket, untuk mencegah masuknya benda asing.
Saraf sensorik yang melapisi kulit pelapis meatus berasal dari
n.auriculotemporalis dan ramus auricularis n. vagus. Sedangkan aliran
limfemenuju nodi parotidei superficiales, mastoidei, dan cervicales
superficiales.

Auricula (Netter, 2010)

8
1. 2. TELINGA TENGAH
Telinga tengah adalah ruang berisi udara di dalam pars petrosa ossis
temporalis yang dilapisi oleh membrana mukosa. Ruang ini berisi tulang-
tulang pendengaran yang berfungsi meneruskan getaran membran timpani
(gendang telinga) ke perilympha telinga dalam. Kavum timpani berbentuk
celah sempit yang miring, dengan sumbu panjang terletak lebih kurang
sejajar dengan bidang membran timpani. Di depan, ruang ini berhubungan
dengan nasopharing melalui tuba auditiva dan di belakang dengan antrum
mastoid.
Telinga tengah mempunyai atap, lantai, dinding anterior, dinding
posterior, dinding lateral, dan dinding medial. Atap dibentuk oleh
lempeng tipis tulang, yang disebut tegmen timpani, yang merupakan
bagian dari pars petrosa ossis temporalis. Lempeng ini memisahkan
kavum timpani dan meningens dan lobus temporalis otak di dalam fossa
kranii media. Lantai dibentuk di bawah oleh lempeng tipis tulang, yang
mungkin tidak lengkap dan mungkin sebagian diganti oleh jaringan
fibrosa. Lempeng ini memisahkan kavum timpani dari bulbus superior V.
jugularis interna. Bagian bawah dinding anterior dibentuk oleh lempeng
tipis tulang yang memisahkan kavum timpani dari a. carotis interna. Pada
bagian atas dinding anterior terdapat muara dari dua buah saluran. Saluran
yang lebih besar dan terletak lebih bawah menuju tuba auditiva, dan yang
terletak lebih atas dan lebih kecil masuk ke dalam saluran untuk m. tensor
tympani. Septum tulang tipis, yang memisahkan saluran-saluran ini
diperpanjang ke belakang pada dinding medial, yang akan membentuk
tonjolan mirip selat. Di bagian atas dinding posterior terdapat sebuah
lubang besar yang tidak beraturan, yaitu auditus antrum. Di bawah ini
terdapat penonjolan yang berbentuk kerucut, sempit, kecil, disebut
pyramis. Dari puncak pyramis ini keluar tendo m. stapedius. Sebagian
besar dinding lateral dibentuk oleh membran timpani.

9
Dinding kavitas timpani

1. 1. 1. MEMBRAN TIMPANI
Membran timpani adalah membrana fibrosa tipis yang berwarna
kelabu mutiara. Membran ini terletak miring, menghadap ke bawah,
depan, dan lateral. Permukaannya konkaf ke lateral. Pada dasar
cekungannya terdapat lekukan kecil, yaitu umbo, yang terbentuk oleh
ujung manubrium mallei. Bila membran terkena cahaya otoskop,
bagian cekung ini menghasilkan "refleks cahaya", yang memancar ke
anterior dan inferior dari umbo.
Membran timpani berbentuk bulat dengan diameter lebih-kurang
1 cm. Pinggirnya tebal dan melekat di dalam alur pada tulang. Alur itu,
yaitu sulcus timpanicus, di bagian atasnya berbentuk incisura. Dari sisi-
sisi incisura ini berjalan dua plica, yaitu plica mallearis anterior dan
posterior, yang menuju ke processus lateralis mallei. Daerah segitiga
kecil pada membran timpani yang dibatasi oleh plika-plika tersebut
lemas dan disebut pars flaccida. Bagian lainnya tegang disebut pars
tensa. Manubrium mallei dilekatkan di bawah pada permukaan dalam

10
membran timpani oleh membran mucosa. Membran tympan sangat
peka terhadap nyeri dan permukaan luarnya dipersarafi oleh
n.auriculotemporalis dan ramus auricularis n. Vagus.
Dinding medial dibentuk oleh dinding lateral telinga dalam.
Bagian terbesar dari dinding memperlihatkan penonjolan bulat, disebut
promontorium, yang disebabkan oleh lengkung pertama cochlea yang
ada di bawahnya. Di atas dan belakang promontorium terdapat fenestra
vestibuli, yang berbentuk lonjong dan ditutupi oleh basis stapedis. Pada
sisi medial fenestra terdapat perilympha scala vestibuli telinga dalam.
Di bawah ujung posterior promontorium terdapat fenestra cochleae,
yang berbentuk bulat dan ditutupi oleh membran timpani sekunder.
Pada sisi medial dari fenestra ini terdapat perilympha ujung buntu scala
timpani.
Tonjolan tulang berkembang dari dinding anterior yang meluas ke
belakang pada dinding medial di atas promontorium dan di atas fenestra
vestibuli. Tonjolan ini menyokong m. tensor timpani. Ujung
posteriornya melengkung ke atas dan membentuk takik, disebut
processus cochleariformis. Di sekeliling takik ini tendo m. tensor
timpani membelok ke lateral untuk sampai ke tempat insersionya yaitu
manubrium mallei.
Sebuah rigi bulat berjalan secara horizontal ke belakang, di atas
promontorium dan fenestra vestibuli dan dikenal sebagai prominentia
canalis nervi facialis. Sesampainya di dinding posterior, prominentia
ini melengkung ke bawah di belakang pyramis.

11
Membran Timpani dextra tampak lateral
1. 1. 2. TULANG-TULANG PENDENGARAN
Di bagian dalam rongga ini terdapat 3 jenis tulang pendengaran
yaitu tulang maleus, inkus dan stapes. Ketiga tulang ini merupakan
tulang kompak tanpa rongga sumsum tulang.
Malleus adalah tulang pendengaran terbesar, dan terdiri atas caput,
collum, processus longum atau manubrium, sebuah processus anterior
dan processus lateral is. Caput mallei berbentuk bulat dan bersendi di
posterior dengan incus. Collum mallei adalah bagian sempit di bawah
caput. Manubrium mallei berjalan ke bawah dan belakang dan melekat
dengan erat pada permukaan medial membran timpani. Manubrium ini
dapat dilihat melalui membran timpani pada pemeriksaan dengan
otoskop. Processus anterior adalah tonjolan tulang kecil yang
dihubungkan dengan dinding anterior cavum timpani oleh sebuah
ligamen. Processus lateralis menonjol ke lateral dan melekat pada plica
mallearis anterior dan posterior membran timpani.
Incus mempunyai corpus yang besar dan dua crus. Corpus incudis
berbentuk bulat dan bersendi di anterior dengan caput mallei. Crus
longum berjalan ke bawah di belakang dan sejajar dengan manubrium
mallei. Ujung bawahnya melengkung ke medial dan bersendi dengan
caput stapedis. Bayangannya pada membrana tympani kadangkadang
dapat dilihat pada pemeriksaan dengan otoskop. Crus breve menonjol

12
ke belakang dan dilekatkan pada dinding posterior cavum tympani oleh
sebuah ligamen.
Stapes mempunyai caput, collum, dua lengan, dan sebuah basis.
Caput stapedis kecil dan bersendi dengan crus longum incudis. Collum
berukuran sempit dan merupakan tempat insersio m. stapedius. Kedua
lengan berjalan divergen dari collum dan melekat pada basis yang
lonjong. Pinggir basis dilekatkan pada pinggir fenestra vestibuli oleh
sebuah cincin fibrosa, yang disebut ligamentum annulare.

1. 1. 3. TUBA EUSTACHIUS
Tuba eustachius terbentang dart dinding anterior kavum timpani
ke bawah, depan, dan medial sampai ke nasopharynx. Sepertiga bagian
posteriornya adalah tulang dan dua pertiga bagian anteriornya adalah
cartilago. Tuba berhubungan dengan nasopharynx dengan berjalan
melalui pinggir atas m. constrictor pharynges superior. Tuba berfungsi
menyeimbangkan tekanan udara di dalam cavum timpani dengan
nasopharing.

1. 1. 4. ANTRUM MASTOID
Antrum mastoid terletak di belakang kavum timpani di dalam pars
petrosa ossis temporalis, dan berhubungan dengan telinga tengah me-
lalui auditus ad antrum, diameter auditus ad antrum lebih kurang 1 cm.

13
Dinding anterior berhubungan dengan telinga tengah dan berisi
auditus ad antrum, dinding posterior memisahkan antrum dari sinus
sigmoideus dan cerebellum. Dinding lateral tebalnya 1,5 cm dan
membentuk dasar trigonum suprameatus. Dinding medial berhubungan
dengan kanalis semicircularis posterior. Dinding superior merupakan
lempeng tipis tulang, yaitu tegmen timpani, yang berhubungan dengan
meninges pada fossa kranii media dan lobus temporalis cerebri.
Dinding inferior berlubang-lubang, menghubungkan antrum dengan
cellulae mastoideae.

I. 3. TELINGA DALAM
Telinga dalam terletak di dalam pars petrosa ossis temporalis, medial
terhadap telinga tengah dan terdiri atas (1) telinga dalam osseus, tersusun
dari sejumlah rongga di dalam tulang; dan (2) telinga dalam membranaceus,
tersusun dari sejumlah saccus dan ductus membranosa di dalam telinga
dalam osseus.

1. 3. 1. TELINGA DALAM OSSEUS (Labyrinthus osseus)


Telinga dalam osseus terdiri atas tiga bagian: vestibulum, canalis
semicircularis, dan cochlea. Ketiganya merupakan rongga-rongga yang
terletak di dalam substantia kompakta tulang, dan dilapisi oleh
endosteum serta berisi cairan bening, yaitu perilympha, yang di
dalamnya terdapat labyrinthus membranaceus.
Vestibulum, merupakan bagian tengah telinga dalam osseus,
terletak posterior terhadap cochlea dan anterior terhadap canalis
sennicircularis. Pada dinding lateralnya terdapat fenestra vestibuli yang
ditutupi oleh basis stapedis dan ligamentum annularenya, dan fenestra
cochleae yang ditutupi oleh membran timpani sekunder. Di dalam
vestibulum terdapat sacculus dan utriculus telinga dalam
membranaceus.
Ketiga canalis semicircularis, yaitu canalis semicircularis superior,
posterior, dan lateral bermuara ke bagian posterior vetibulum. Setiap

14
canalis mempunyai sebuah pelebaran di ujungnya disebut ampulla. Ca-
nalis bermuara ke dalam vestibulum melalui lima lubang, salah satunya
dipergunakan bersama oleh dua canalis. Di dalam canalis terdapat
ductus semicircularis.
Canalis semicircularis superior terletak vertikal dan terletak tegak
lurus terhadap sumbu panjang os petrosa. Canalis semicircularis
posterior juga vertikal, tetapi terletak sejajar dengan sumbu panjang os
petrosa. Canalis semicircularis lateralis terletak horizontal pada dinding
medial aditus ad antrum, di atas canalis nervi facialis.
Cochlea berbentuk seperti rumah siput, dan bermuara ke dalam
bagian anterior vestibulum. Umumnya terdiri atas satu pilar sentral,
modiolus cochleae, dan modiolus ini dikelilingi tabung tulang yang
sempit sebanyak dua setengah putaran. Setiap putaran berikutnya
mempunyai radius yang lebih kecil sehingga bangunan keseluruhannya
berbentuk kerucut. Apex menghadap anterolateral dan basisnya ke
posteromedial. Putaran basal pertama dari cochlea inilah yang tampak
sebagai promontorium pada dinding medial telinga tengah.
Modiolus mempunyai basis yang lebar, terletak pada dasar meatus
acusticus internus. Modiolus ditembus oleh cabang-cabang n.
cochlearis. Pinggir spiral, yaitu lamina spiralis, mengelilingi modiolus
dan menonjol ke dalam canalis dan membagi canalis ini. Membran
basilaris terbentang dari pinggir bebas lamina spiralis sampai ke dinding
luar tulang, sehingga membelah canalis cochlearis menjadi scala
vestibuli di sebelah atas dan scala timpani di sebelah bawah. Perilympha
di dalam scala vestibuli dipisahkan dari cavum timpani oleh basis
stapedis dan ligamentum annulare pada fenestra vestibuli. Perilympha
di dalam scala tympani dipisahkan dari cavum timpani oleh membrana
tympani secundaria pada fenestra cochleae.

15
Labyrinthus osseus tampak anterolateral

Labyrinthus osseus dissected


1. 3. 2. TELINGA DALAM MEMBRANACEUS (Labyrinthus
membranaceus)
Telinga dalam membranaceus terletak di dalam telinga dalam
osseus, dan berisi endolympha dan dikelilingi oleh perilympha. telinga
dalam membranaceus terdiri atas utriculus dan sacculus, yang terdapat
di dalam vestibulum osseus; tiga ductus semicircularis, yang terletak di
dalam canalis semicircularis osseus; dan ductus cochlearis yang terletak
di dalam cochlea. Struktur-struktur ini sating berhubungan dengan
bebas.

16
Utriculus adalah yang terbesar dari dua buah saccus vestibuli yang
ada, dan dihubungkan tidak langsung dengan sacculus dan ductus
endolymphaticus oleh ductus utriculosaccularis.
Sacculus berbentuk bulat dan berhubungan dengan utriculus, seperti
sudah dijelaskan di atas. Ductus endolymphaticus, setelah bergabung
dengan ductus utriculosaccularis akan berakhir di dalam kantung buntu
kecil, yaitu saccus endolymphaticus. Saccus ini terletak di bawah
duramater pada permukaan posterior pars petrosa ossis temporalis.
Pada dinding utriculus dan sacculus terdapat receptor sensorik
khusus yang peka terhadap orientasi kepala akibat gaya berat atau
tenaga percepatan lain.
Ductus semicircularis meskipun diameternya jauh lebih kecil dari
canalis semicircularis, mempunyai konfigurasi yang sama. Ketiganya
tersusun tegak lurus satu terhadap lainnya, sehingga ketiga bidang
terwakili. Setiap kali kepala mulai atau berhenti bergerak, atau bila
kecepatan gerak kepala bertambah atau berkurang, kecepatan gerak
endolympha di dalam ductus semicircularis akan berubah sehubungan
dengan hal tersebut terhadap dinding ductus semicircularis. Perubahan
ini dideteksi oleh receptor sensorik di dalam ampulla ductus
semicircularis.
Ductus cochlearis berbentuk segitiga pada potongan melintang dan
berhubungan dengan sacculus melalui ductus reuniens. Epitel sangat
khusus yang terletak di atas membrana basilaris membentuk organ Corti
(organ spiralis) dan mengandung receptor-receptor sensorik untuk
pendengaran.

17
Labyrinthus membranaceus di dalam Labyrinthus osseus

OTITIS EKSTERNA DIFUSA


III.1. DEFINISI
Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan
oleh bakteri dapat terlokalisir atau difus. Faktor penyebab timbulnya otitis eksterna,
yaitu kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Faktor ini
menyebabkan berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari epitel
skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal yang mengakibatkan bakteri
masuk melalui kulit, inflasi dan menimbulkan eksudat. Istilah otitis eksterna akut
meliputi adanya inflasi kulit liang telinga bagian luar.
Otitis eksterna merupakan infeksi liang telinga bagian luar dapat menyebar
ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh liang telinga
terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dianggap pembentukan lokal otitis
eksterna. Otitis eksterna difusa merupakan infeksi bakteri patogen paling umum
disebabkan pseudomonas, streptococcus, stafilokokus dan proteus, atau jamur.

18
Patogenesis dari otitis eksterna komplek sejak tahun 1844 banyak peneliti
mengemukakan faktor pencetus penyakit ini seperti Branca (1953) mengatakan
bahwa berenang merupakan penyebab dan menimbulkan kekambuhan. Senturia
dkk (1984) menganggap bahwa keadaan panas, lembab dan trauma terhadap epitel
dari liang telinga luar merupakan faktor terjadinya otitis eksterna. Howke dkk
(1984) mengemukakan pemaparan terhadap air dan penggunaan lidi kapas dapat
menyebabkan terjadi otitis eksterna.
Otitis eksterna difusa adalah infeksi bakteri pada 2/3 dalam liang telinga
yang disebabkan oleh rusaknya kulit pada liang telinga/berkurangnya produksi
serumen sebagai pelindung liang telinga dari kelembaban dan temperatur yang
tinggi. Trauma ketika membersihkan liang telinga dengan kuku jari atau kapas
pengorek telinga diketahui sebagai faktor lokal penyebab otitis eksterna difusa yang
paling sering terjadi.

III.2. STADIUM
Stadium otitis eksterna difusa terdiri dari 2 stadium :
1. Stadium akut.
Rasa tidak nyaman hingga nyeri didalam dan sekitar liang telinga yang
sesuai dengan pergerakan dari rahang. Dalam kasus berat terdapat
pembengkakan di sekitar jaringan lunak dan bagian luar dari aurikula. Pada
pemeriksaan, kulit dari liang telinga berwarna merah, edema dan sangat
sensitif. Dijumpai nanah pada liang telinga dan sebagai perkembangan
penyakit dari deskuamasi epitel pada liang telinga yang terbentuk dari
massa debris seperti keju didalam liang telinga serta membran timpani
sering tidak jelas terlihat.
2. Stadium kronis.
Gejala stadium kronis adalah iritasi dan keluarnya cairan dari telinga. Dapat
terjadi tuli sebagai hasil dari akumulasi debris pada liang telinga. Tidak ada
rasa sensitif pada liang telinga tetapi terjadi penebalan pada kulit liang
telinga serta lumen liang telinga yang menyempit.

19
III.3. EPIDEMIOLOGI
Insidensi otitis eksterna difusa tinggi pada daerah tropis dan sub tropis
dengan kelembaban yang tinggi dan pada daerah ini keluhannya sering lebih berat
dengan angka kekambuhan yang lebih sering. Banyak faktor yang melibatkan
serangan dari otitis eksterna difusa tetapi infeksi diduga menjadi faktor sekunder
dari trauma kulit liang telinga luar. Jika stratum corneum dari kulit liang telinga
luar mengalami trauma, infeksi dapat masuk.

III.4. ETIOLOGI
1. Idiopatik.

Dalam banyak kasus, tidak ada alasan yang jelas mengapa otitis eksterna
difusa terjadi karena itu kemungkinan menjadi faktor idiopatik. Otitis
eksterna difusa disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor-faktor yang
saling berkaitan hingga menimbulkan kerusakan, pada beberapa penyebab
yang tidak diketahui, mekanisme pertahanan kulit secara alami dan pada
keadaan tertentu kelenjar sebasea dan kelenjar serumen mensekresi lipid
menutupi epitel skuamous dari meatus.
2. Trauma.
Trauma merupakan penyebab umum disebabkan oleh garukan karena gatal
pada telinga dengan apapun yang dapat digunakan (kuku jari, batang korek
api, kertas, kep rambut dan cotton bud). Meskipun memberikan kepuasan
pada penderita, yang dapat melukai kulit, misalnya terjadi infeksi sekunder.
Pada keadaan lain juga menyebabkan iritasi atau alergi.

3. Iritasi.
Bahan kimia saat dipakai ke kulit menyebabkan iritasi yang kemudian
menimbulkan reaksi alergi. Perbedaan antara kedua reaksi ialah terjadi jika
pemakaian dari bahan iritan secara lama dan pada konsentrasi yang cukup
tinggi. Reaksi iritasi lebih berat pada permukaan kulit yang lembab dan
mekanisme pertahanan secara alami terganggu. Reaksi alergi hanya terjadi
pada beberapa individu dengan munculnya reaksi hipersensitivitas tipe 4

20
setelah periode sensitisasi terhadap alergen. Zat iritan sering kali masuk ke
dalam telinga setelah periode sensitisasi terhadap alergen.

4. Alergi.
Pada kebanyakan alergi antibiotik (misalnya: neomisin, framisetin,
gentamisin, polimiksin), antibakterial (misalnya: clioquinol) dan anti
histamin. Bahan sensitif lainnya yang sering dipakai untuk menggaruk
telinga seperti bahan-bahan dari logam, kertas dan kep rambut. Sebagai
tambahan, reaksi alergi dapat disebabkan oleh kuku jari, kosmetik dan
ramuan obat-obatan rambut.
5. Bakteri
Bakteri yang umumnya menyebabkan otitis eksterna akut difusa adalah
Pseudomonas aeruginosa, Proteus mirabilis, Staphylococci, Streptococci
dan Bacillus gram negatif. Untuk infeksi yang ringan atau tidak mengalami
komplikasi, kultur mikroorganisme pada liang telinga tidak dilakukan,
karena biasanya menunjukkan pertumbuhan pola kuman yang beragam.
Untuk infeksi berat, kultur diperlukan untuk mengidentifikasi
mikroorganisme yang dominan dan membantu pemilihan terapi antibiotik.
6. Faktor iklim/lingkungan.
Faktor resiko yang paling sering menyebabkan terjadinya otitis eksterna
pada daerah dengan iklim panas dan lembab dibandingkan iklim yang
dingin. Terdapat beberapa hal yang berpotensi menyebabkan terjadinya
otitis eksterna, seseorang yang berenang pada cuaca yang panas,
menyebabkan mekanisme pertahanan kulit liang telinga terganggu, telinga
menjadi basah yang dapat menimbulkan iritasi dan erupsi disebabkan oleh
adanya zat kimia didalam kolam renang.

III.5. GEJALA DAN TANDA KLINIS


Rasa nyeri adalah gejala umum yang berhubungan dengan infeksi bakteri.
Rasa nyeri yang hebat bila daun telinga atau tragus dilakukan manipulasi. Rasa sakit
bisa tidak sebanding dengan derajat peradangan. Ini diterangkan bahwa kulit dari
liang telinga luar langsung berhubungan dengan periosteum dan perikondrium,
sehingga edema dermis menekan serabut saraf mengakibatkan rasa sakit yang

21
hebat, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan
tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun telinga akan
dihantarkan kekulit dan tulang rawan dari liang telinga luar dan mengkibatkan rasa
sakit yang hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.
Rasa gatal dijumpai pada infeksi yang disebabkan bakteri, pada infeksi jamur
dan semua otitis eksterna kronis. Rasa penuh pada telinga dan berkurangnya
pendengaran dijumpai pada beberapa kasus otitis eksterna difusa dengan akumulasi
debris liang telinga, edema kulit liang telinga, sekret yang sorous atau purulen,
penebalan kulit yang progresif pada otitis eksterna yang lama, sering menyumbat
lumen kanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif. Otorrhea adalah gejala
umum dari infeksi bakteri.

Gejala klinis penderita otitis eksterna difusa adalah :


1. Rasa gatal pada telinga.
2. Rasa tidak nyaman pada telinga (aural fullness).
3. Otalgia.
4. Keluarnya cairan dari telinga (pada awalnya cairan jernih dan tidak berbau,
tetapi secara cepat berubah menjadi purulen serta cairan yang berbau).
5. Pendengaran yang berkurang.
6. Tinitus.

Pada pemeriksaan fisik dijumpai :


a. Rasa nyeri pada tragus.
b. Eritema dan edema pada liang telinga luar.
c. Cairan purulen.
d. Eksema pada daun telinga.
e. KGB regional membesar & nyeri tekan
f. Kasus berat, infeksi meluas ke jaringan lunak, termasuk glandula parotis.

22
III.6. DIAGNOSIS
1. Inspeksi.
Dijumpai adanya pembengkakan difusa kulit liang telinga luar disertai
adanya akumulasi debris dan sekresi pada liang telinga. Sekresi pada liang telinga
awalnya keruh kemudian menjadi kuning kehijau-hijauan. Rasa nyeri hebat bila
daun telinga ditarik ke belakang dan ke atas. Kulit pada sebagian tulang liang
telinga dan membran timpani tidak mengalami inflamasi, tetapi terdapat kesulitan
menilai rasa nyeri secara umum dan mengurangi pembengkakan liang telinga.

2. Mikroskop telinga.
Dilakukan anestesi lokal dengan kapas yang direndam lidokain 4% ditambah
dengan adrenalin 1:1000 yang diletakkan pada liang telinga, inspeksi dengan
spekulum telinga dibawah mikroskop telinga dan bersihkan liang telinga dengan
alat penghisap memakai kanul.
3. Pemeriksaan bakteriologi.
Mengidentifikasi mikroorganisme patogen.

4. Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan laboraorium darah rutin untuk mengidentifikasi adanya infeksi akut
serta kadar gula darah untuk menyingkirkan diabetes.

Untuk menegakkan diagnosis yang tepat dari infeksi liang telinga luar,
menilai respon klinis terhadap pengobatan dan membersihkan liang telinga.
Pemeriksaan dengan otoskop dilakukan untuk pemeriksaan yang cepat tetapi
pemeriksaan yang baik untuk telinga dengan memakai mikroskop telinga.
Pemeriksaan kultur dan sensitivitas sekret telinga dilakukan untuk
menentukan jenis kuman yang biasa berperan pada otitis eksterna akut difusa adalah
Pseudomonas aeruginosa, Proteus mirabilis dan kadang-kadang Staphylococcus
albus, Escherichia coli dan Enterobacter aerogenes dan kultur juga diperlukan
untuk pemilihan antibiotik yang sesuai terhadap kuman tersebut.

23
III.7. DIAGNOSA BANDING
Diagnosa banding untuk otitis eksterna difusa antara lain adalah :
1. Otitis eksterna sirkumskripta (Furunculosis)

Otitis eksterna sirkumskripta merupakan infeksi folikel rambut, bermula


sebagai folikulitis kemudian meluas menjadi furunkel. Organisme penyebab
biasanya Staphylococcus. Umumnya kasus ini disebabkan oleh trauma
garukan pada liang telinga. Kadang–kadang furunkel disebabkan oleh
tersumbat serta terinfeksinya kelenjar sebasea di liang telinga, sehingga
frekuensi penyakit ini meningkat dalam musim panas.
2. Otomikosis

Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi,


yang tersering ialah Pityrosporum, Aspergillus, Candida albikan. Gejala
biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga, tetapi sering pula
tanpa keluhan.
3. Otitis eksterna maligna.

Necrotizing atau otitis eksterna maligna merupakan infeksi yang


meluas sampai ke dalam liang telinga luar hingga ke jaringan lunak
disekitarnya. Otitis eksterna maligna melibatkan mastoid atau tulang
temporal, kartilago, pembuluh saraf dan darah. Mikroorganisme yang paling
sering terdapat pada otitis eksterna maligna adalah Pseudomonas
aeruginosa. Otitis eksterna maligna harus dicurigai ketika nyeri tidak sesuai
dengan keluhan, dijumpai adanya nekrosis kulit liang telinga atau granulasi,
fasial paralisis, vertigo, atau tanda-tanda meningeal.

III.8. PENATALAKSANAAN
Tetes telinga antibiotik untuk pengobatan utama otitis eksterna, idealnya tetes
telinga memiliki hal-hal berikut ini :
1. Spektrum luas untuk bakteri patogen.
2. Bersifat asam.
3. Tidak bersifat ototoksik, penting untuk membran timpani perforasi.
4. Tidak menimbulkan reaksi alergi.

24
5. Tidak menyebabkan terjadinya pengendapan bila diteteskan.
6. Harga yang murah.
7. Mengurangi edema dan rasa nyeri lebih cepat dengan steroid.

Tidak ada obat-obatan tetes telinga yang memiliki semua kriteria seperti
yang tersebut diatas. Dalam beberapa tahun, pengobatan utama adalah kombinasi
larutan polimiksin, neomisin, dan hidrokortison (PNH) (Cortisporin). Kombinasi
ini tersedia dalam bentuk larutan dan suspensi. Polimiksin efektif untuk
Pseudomonas, polimiksin dan neomisin juga efektif untuk S.aureus dan
mikroorganisme gram negatif lainnya.
Antibiotik kuinolon tersedia untuk tetes telinga dan mata. Tetes telinga dan
mata berisi zat tunggal yang efektif untuk bakteri patogen, dengan tanpa resiko
terjadinya dermatitis kontak atau ototoksik. Ofloksasin (Floksin) tersedia untuk
pengobatan penyakit telinga luar dan tengah dan sama efektif dengan pemakaian
PNH. Kelemahan utama dari ofloksasin adalah bekerja pada pH netral (6,2 - 6,8),
tidak dijumpai pada steroid dan mahal. Siprofloksasin juga tersedia dalam bentuk
tetes telinga yang dikombinasikan dengan hidrokortison dan sebagai formulasi
kombinasi baru yang lebih poten dari deksametason (Cipro HC dan Ciprodex).
Larutan ini bersifat asam dan berisi steroid. Hidrokortison dalam Cipro HC
meninggalkan endapan dalam liang telinga, kedua obat tetes tersebut mahal.

II1.9. KOMPLIKASI
Komplikasi otitis eksterna difusa :
1. Perikondritis
Perikondritis, inflamasi dari perikondrium, dan kondritis , inflamasi dari
kartilago, merupakan komplikasi dari infeksi pada liang telinga luar atau
hasil dari trauma yang tidak disengaja atau trauma akibat pembedahan
pada daun telinga. Gambaran klinis rasa nyeri, dan penderita sering
mengeluhkan rasa gatal yang hebat di dalam liang telinga. Seiring
berjalannya waktu, kulit pada daerah yang terinfeksi menjadi krusta
dengan debris, dan melibatkan kartilago. Dapat dijumpai pembengkakan

25
dan kemerahan pada telinga, sering dijumpai pembengkakan pada liang
telinga.

2. Selulitis
Selulitis dari telinga secara khas merupakan hasil dari perluasan otitis
eksterna atau luka tusuk. Selulitis berbeda dengan perikondritis oleh
pembengkakan yang minimal. Manifestasi selulitis sebagai eritema
pada telinga. Pengobatan antibiotik antistaphylococcal sistemik.

3. Erisipelas
Erisipelas adalah infeksi yang disebabkan oleh Streptococcus pada kulit
yang menyebabkan kemerahan, edema dan erupsi dengan batas tepi
yang jelas. Daun telinga menjadi merah dan bengkak dan penyebaran
infeksi ke dalam kulit dari wajah yang biasanya ditandai oleh gejala
sistemik dengan temperatur yang tinggi dan nadi cepat.

26
III.10. PROGNOSIS
Pada banyak pasien otitis eksterna difusa memberikan hasil yang baik dalam
48-72 jam setelah pemberian antibiotik. Bila pengobatan tidak memperlihatkan
perbaikan dalam 2-3 hari dilakukan evaluasi kembali dengan cepat tentang
diagnosa penyakit penderita oleh dokter.

27
BAB III
PEMBAHASAN

Pasien mengeluh nyeri telinga kiri sejak 2 bulan yang lalu. Otalgia yang
terjadi pada pasien dapat merupakan manifestasi dari peradangan pada telinga baik
eksterna maupun media.
Pasien juga merasa gatal pada telinga kiri dan merasa penuh pada telinga
kiri, keluhan dirasakan hanya pada telinga kiri sedangkan telinga kanan tidak ada
keluhan. Hal ini menunjukan bahwa keluhan bersifat unilateral. Gatal yg terjadi
pada pasien dapat disebabkan oleh jamur maupun akibat dari peradangan pada
telinga itu sendiri.
Pasien menyangkal keluar cairan atau darah dari dalam telinga dan
menyangkal terjadi penurunan pendengaran. Hal ini menunjukan bahwa tidak ada
gangguan hantaran suara karena biasanya pada pasien dengan peradangan pada
telinga mengeluarkan sekret yang menumpuk dlm liang telinga, edema, akumulasi
debris banyak → hantaran suara terhalang → penurunan pendengaran.
Riwayat dahulu pasien memiliki kebiasaan membersihkan dengan
mengorek telinga menggunakan cotton bud, hal ini dapat menyebabkan trauma
perlukaan pada daerah liang telinga sehingga timbul iritasi atau lesi. Lesi kulit pada
liang telinga dapat menjadi media perkembangbiakan kuman yang dapat
mencetuskan terjadinya infeksi liang telinga yang disebut dengan otitis eksterna.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan tragus aurikularis sinistra, CAE
AS tampak hiperemis. Manifestasi tersebut menggambarkan bahwa keluhan pasien
mengarah pada otitis eksterna. Tidak ditemukan adanya furunkel menunjukan
bahwa otitis eksterna pada pasien bukan sirkumsripta. Membran timpani AS sulit
dinilai karena CAE mengalami peradangan dan edema.
Menyingkirkan diagnosis banding yaitu otitis eksterna sirkumskripta karena
pada hasil pemeriksaan tidak didapatkan peradangan pada 1/3 liang telinga luar
biasanya mengenai bagian adneksa kulit seperti folikel rambut, kelenjar sebasea,
dan kelenjar serumen dan tidak ditemukan adanya furunkel.
Penegakkan diagnosis kerja AS adalah otitis eksterna difus. otitis eksterna
difus adalah peradangan yang mengenai liang telinga 2/3 dalam. Gejala pada pasien

28
ditemukan mengarah ke otitis eksterna difus adalah otalgia, tidak nyaman pada
telinga (aural fullness). Pada pemeriksaan fisik dijumpai nyeri tekan tragus,
eritema dan edema pada liang telinga luar.

Terapi Kasus

Pada kasus ini, dilakukan penatalaksanaan baik medikamentosa, pada


pasien dengan otitis ekstern difus, dimana pada pemeriksaan di dapatkan gejala
peradangan dan sekret, sehingga diberikan obat cuci telinga (ear toilet) H2O2 3%
selama 3 - 5 hari serta antibiotik yang adekuat. Pada kasus ini diberikan antibiotik oral
dan topikal, oral yaitu ciprofloxacin 2 x 500 mg, dan secara topikal dengan ofloxacin
2 x 6 tetes/hari. Selain itu, pada pasien diberikan anti inflamasi berupa
kortikosetroid (deksametason) untuk mengatasi gejala peradangannya.
Pada kasus ini dibutuhkan pentalaksanaan secara dini dan akurat, karena jika
terapi terlambat diberikan, terapi tidak adekuat atau karena penyebab lain yang
mendukung seperti virulensi kuman yang tinggi, daya tubuh pasien yang rendah serta
hygiene pasien yang buruk, akan mengakibatkan komplikasi.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Boies, Adams, Higler. 1994. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta:
EGC: Jakarta.
2. Djaafar, ZA. 2006. Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Telinga Hidung
Tenggorokan, cetakan ke-5. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
3. Restuti, Bashiruddin, Iskandar, Soepardi. 2009. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 6. FKUI: Jakarta.
4. Moses, Scott. 2008. Otitis Media. Accessed: www.fpnotebook.com.

30