Anda di halaman 1dari 7

TUGAS KOMUNITAS

“TANAMAN TOGA KUMIS KUCING ”

OLEH :

FTRIANA
1811165848
PROGRAM B 2018

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROGRAM B

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS RIAU

2018
Tanaman Kumis Kucing

1. Defenisi
Kumis kucing merupakan tanaman asli dari Indonesia.Tanaman kumis kucing
merupakan tumbuhan terna berbatang basah, tumbuh tegak, dan tingginya 1-2
meter.Batang kumis kucing berbentuk segi empat, pada buku-buku batang bagian
bawah timbul akar.Daun kumis kucing merupakan daun tunggal, tepi daun bergerigi
dan berbulu halus, ujungnya meruncing.Bunga tersusun dalam bentuk tandan dalam
jumlah banyak, berwarna putih keunguan (Dalimartha, 2000).

Menurut Herbarium Bogoriense (2014), taksonomi daun kumis kucing adalah sebagai
berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Tubiflorae

Suku : Labiatae

Marga : Orthosiphon stamineus Benth.

Bagian tanaman yang sering digunakan sebagai obat adalah bagian herba
(terutama daunnya), baik yang segar maupun yang telah dikeringkan. Herba kumis
kucing rasanya manis sedikit pahit, sifatnya sejuk. Tanaman ini berkhasiat sebagai
antiradang, hipertensi, peluruh kencing (diuretik), menghilangkan panas dan lembab,
serta menghancurkan batu saluran kencing (Wijayakusuma, 1994).
2. Morfologi Kumis Kucing
Kumis kucing merupakan tumbuhan semak tahunan yang dapat tumbuh
mencapai 50-150 cm. Kumis kucing memiliki batang berkayu yang berbentuk segi
empat, beruas-ruas, serta bercabang dengan warna coklat kehijauan. Daun kumis
kucing merupakan daun tunggal yang berbentuk bulat telur, dengan ukuran panjang 7-
10 cm dan lebar 8-50 cm. Pada bagian tepi daun bergerigi dengan ujung dan panjang
runcing. Daun tipis dan berwarna hijau. Bunga kumis kucing berupa bunga majemuk
berbentuk malai yang terletak di ujung ranting dan cabang dengan mahkota bunga
berbentuk bibir dan berwarna putih.
Pada bunga terdapat kelopak yang berlekatan dengan ujung terbagi empat dan
berwarna hijau. Benang sari pada bunga berjumlah empat dengan kepala sari
berwarna ungu. Sedangkan putik pada bunga berjumlah satu dan berwarna putih.
Kumis kucing memiliki buah berbentuk kotak dan bulat telur, yang berwarna hijau
ketika masih muda dan berubah warna menjadi hitam setelah tua. Biji kumis kucing
berukuran kecil dan berwarna hijau ketika masih muda yang menghitam setelah tua.
Perakaran kumis kucing merupakan akar tunggang berwarna putih kotor (Hutapea,
2000).

3. Manfaat Kumis Kucing

Herba kumis kucing rasanya manis sedikit pahit, sifatnya sejuk. Berkhasiat
sebagai antiradang, peluruh kencing (diuretik), menghilangkan panas dan lembap,
serta menghancurkan batu saluran kencing (Dalimartha, 2001). Di India kumis
kucing digunakan untuk mengobati reumatik. Para pengguna obat tradisional
memanfaatkan daun kumis kucing untuk menyembuhkan berbagai penyakit,
diantaranya adalah masuk angin, batuk, encok, dan susah buang air. Bahkan ektrak
daun kumis kucing yang dicampur dengan daun sambiloto (Andrographis
paniculata) dipakai sebagai obat sakit diabetes, tetapi sifatnya tidak konsisten
(Rukmana, 1995). Bagian yang digunakan biasanya adalah herba, baik yang segar
maupun yang telah dikeringkan (Dalimartha, 2001).

4. Kandungan Kimia Kumis Kucing


Pada umumnya, kumis kucing memiliki kandungan kimia berupa alkaloid,
saponin, flavonoid dan polifenol (Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
1987), zat samak, orthosiphon glikosida, minyak lemak, sapofonin, garam kalium
(0,6-3,5%) dan myoinositol (Hariana, 2005), serta minyak atsiri sebanyak 0,02-0,06
% yang terdiri dari 6 macam sesquiterpenes dan senyawa fenolik, glikosida
flavonol, turunan asam kaffeat. Hasil ekstraksi daun dan bunga Orthosiphon
stamineus Benth. Ditemukan methylripariochromene A atau 6-(7, 8-
dimethoxyethanone). Juga ditemukan 9 macam golongan senyawa flavon dalam
bentuk aglikon, 2 macam glikosida flavonol, 1 macam senyawa coumarin,
scutellarein, 6-hydroxyluteolin, sinensetin (Yulaikhah, 2009).

5. Metode Ekstrasi

Ekstraksi adalah metode pemisahan dimana komponen-komponen terlarut


dari suatu campuran dipisahkan dari komponen-komponen yang tidak larut dengan
pelarut yang sesuai (Leniger dan Beverloo, 1975). Metode paling sederhana untuk
mengekstraksi padatan adalah dengan mencampur seluruh bahan dengan pelarut,
lalu memisahkan larutan dengan padatan tidak terlarut.
a. Cairan penyari
Pelarut etanol sering digunakan karena memiliki polaritas lebih tinggi
daripada air suling sehingga akan lebih banyak melarutkan komponen polar.
Etanol mudah untuk melarutkan senyawa resin, lemak, minyak, asam lemak, dan
senyawa organik lainnya, serta merupakan pelarut yang aman dalam arti tidak
toksik (Somaatmaja, 1981). Di samping itu untuk mengekstrak suatu bahan yang
belum diketahui kandungan kimianya secara jelas diharuskan menggunakan
pelarut etanol atau air untuk alasan keamanan (Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2000). Sedangkan ekstrak dengan pelarut air suling digunakan sebagai
pendekatan terhadap keadaan nyata konsumsi tanaman tersebut sehari-hari secara
umum.

b. Metode penyarian
Metode penyarian dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan
mentah yang akan diekstraksi dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode
ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau
mendekati sempurna (Ansel, 1989). Terdapat beberapa metode ekstraksi yang
sering digunakan dalam pembuatan ekstrak, diantaranya adalah perkolasi dan
maserasi.
Perkolasi secara umum dapat dinyatakan sebagai proses dimana simplisia
yang sudah halus diekstraksi dengan cara melewatkan pelarut yang sesuai, yang
dapat melarutkan kandungan zat kimia dalam simplisia, pada simplisia dalam
suatu kolom. Simplisia dimampatkan dalam alat ekstraksi khusus bernama
perkolator. Kebanyakan ekstraksi dilakukan dengan metode ini (Ansel,1989).
Maserasi dilakukan dengan merendam simplisia yang sudah dihaluskan dalam
pelarut yang sesuai, sampai pelarut meresap dan melunakkan susunan sel,
sehingga zat-zat yang terlarut dalam pelarut akan mudah larut dan tersari dalam
pelarut. Biasanya simplisia ditempatkan dalam wadah atau bejana bermulut lebar
bersama dengan pelarut yang telah ditetapkan, lalu bejana ditutup rapat dan isinya
dikocok atau diaduk berulang-ulang dengan jangka waktu berkisar antara 2-14
hari (Ansel, 1989).
Metode maserasi dipilih karena cara pengerjaannya dan peralatan yang
digunakan lebih sederhana dibandingkan perkolasi. Namun demikian, metode
maserasi juga memiliki kerugian, yaitu cara pengerjaannya yang lama dan
penyariannya kurang sempurna. Dalam proses maserasi, cairan penyari akan
menembus dinding sel bahan dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung
zat aktif. Apabila digunakan penyari yang sesuai, zat aktif akan larut dalam cairan
penyari dan menciptakan larutan zat aktif di dalam sel yang memiliki konsentrasi
lebih tinggi daripada cairan penyari di luar sel.
Adanya gradien konsentrasi ini menyebabkan terjadinya pendesakan larutan
yang terpekat ke luar sel. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang sampai diperoleh
kesetimbangan konsentrasi di dalam dan di luar sel. Penggojogan ataupun
pengadukan diperlukan untuk meratakan konsentrasi larutan di luar butir serbuk
simplisia, sehingga derajat perbedaan konsentrasi dijaga tetap kecil antara larutan
di dalam sel dan di luar sel (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1986).

6. Cara Pengolahan Kumis Kucing


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2012) tentang pengaruh pemberian
ekstrak daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) terhadap penurunan kadar
glukosa darah tikus wastar yang diinduksi aloksan. Cara pengolahan dari kumis
kucing tersebut yaitu :
a. Alat
1) Kandang tikus
2) Sonde lambung
3) Timbangan
4) Electromantel
5) Oven
6) tabung erlenmeyer
7) pengaduk
8) Glukometer Easy Touch® TM

b. Cara Kerja
1) Pembuatan ekstrak daun kumis kucing
Ekstrak daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) dibuat dengan metode
maserasi dengan pelarut alkohol 96% dan hasilnya berupa ekstrak serbuk.
Ekstrak serbuk kemudian dilarutkan dengan aquabedes dan diberikan per
oral kepada tikus.

c. Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian mengenai pengaruh pemberian ekstrak daun kumis kucing
(Orthosiphon aristatus) terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus wistar
jantan yang diinduksi aloksan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Ekstrak daun kumis kucing dosis 0,25 g/kgBB; 0,75 g/kgBB; dan
1,25 g/kgBB memberikan nilai penurunan kadar glukosa darah yang
bermakna bila diberikan selama 14 hari maupun selama 28 hari.
2. Ekstrak daun kumis kucing dosis 0,75 g/kgBB dan 1,25 g/kgBB
memberikan penurunan kadar glukosa darah lebih bermakna
dibandingkan dengan yang tidak diberikan ekstrak daun kumis
kucing selama 14 hari maupun selama 28 hari.
Ekstrak daun kumis kucing dosis 1,25 g/kgBB memiliki efektifitas yang
sebanding dengan metformin bila diberikan selama 14 hari.

7. Sumber Referensi
- Jurnal tentang pengaruh pemberian ekstrak daun kumis kucing (Orthosiphon
aristatus) terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus wastar yang diinduksi
aloksan.
http://eprints.undip.ac.id/37815/1/Victoria_Cyntia_Yogya_Astuti_G2A008190_L
ap.KTI.pdf diakses pada tanggal 14/04/2019.
- Jurnal Hort. Indonesia, Volume 8 No 3, Desember 2017 produksi simplisia kumis
kucing dengan perbedaan cara pemupukan dan ketinggian pangkas pada rotasi
panen tiga minggu.