Anda di halaman 1dari 15

TUGAS PROJECT (PR)

MK. FILSAFAT PENDIDIKAN

PRODI S1 PGSD

MK
Skor Nilai:

KELOMPOK 4

NAMA MAHASISWA :

1.YOSI KARLINDA (1183111123)

2. AYU PUTRI H. RAMBE (1183111106)

3. DEVI MARCELLA BR. SURBAKTI (1183311108)

4. NURHALIMAH SEMBIRING (1183111116)

5.DELPIRIA GIRSANG (1183111093)

DOSEN PENGAMPU : Pof. Dr.IBRAHIM GULTOM, M.Pd.


MIRZA IRAWAN, S.Pd. M.Pd kons

MATA KULIAH : FILSAFAT PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI S1 PGSD

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN - UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

NOVEMBER 2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan PROJEK FILSAFAT
PENDIDIKAN ini dengan baik dan tepat pada waktunya, meskipun bentuknya sangat
jauh dari kesempurnaan.
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Bapak MIRZA IRAWAN, .Pd. M.Pd kons
selaku dosen pengampu sekaligus pembimbing mata Filsafat Pendidkan yang telah
memberikan arahan dalam penyusunan Projek ini. Rasa terimakasih juga kami ucapkan
kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan perhatiannya kepada kami baik
secara langsung dan tidak langsung.
Namun demikian, kami selaku peneliti dan pengamat telah berusaha semaksimal
mungkin dengan seluruh kemampuan yang kami miliki untuk menyelesaikan laporan mini
riset ini dengan sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun
sangat kami harapkan dari para pembaca demi kesempurnaan dalam menyusun laporan
Projek selanjutnya yang kami buat dikemudian hari. Akhir kata, semoga laporan Projek ini
bermanfaat dan dapat memberikan tambahan ilmu dan pengetahuan bagi para pembaca
umumnya dan kami penulis khususnya
Sebagai manusia biasa tentu kami tidak dapat langsung menyempurnakan
LAPORAN PROJEK FILSAFAT PENDIDIKAN ini dengan baik, oleh karena itu kami
sangat berterima kasih jika pembaca bisa mengkritik kesalahan dalam laporan Projek ini,
agar kedepannya kami bisa membuat laporan yang lebih baik lagi.

Medan, November 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………..... i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………… ii

BAB I: PENDAHULUAN ……………………………………………….. ... 1

1.1 LATAR BELAKANG ………………………………………… .. 1

1.2 TUJUAN …………………….…………………………………. 2

BAB II: PEMBAHASAN …………………………………………………. 3

2.1 ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN …………………. 3

2.2 KAJIAN PUSTAKA, DUKUNGAN DATA DAN INFORMASI

AWAL …………………………………………………………..

2.3 PROSEDUR ATAU CARA KERJA …………………………...

BAB III: HASIL KEGIATAN …………...…………………………….... 10


.........................................................................................................

BAB IV: PENUTUP ……………………………………………………... 11

4.1 SIMPULAN …………………………………………………… 11

4.2 REKOMENDASI …...………………………………………… 11

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 12

LAMPIRAN ……………………………………………………………... 13

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan ( the mother of sciences ) yang mampuh
menjawab segala pertanyaan dan permasalahaan.
Mulai dari masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia
dengan segala problematika dan kehidupanya.
Diantara permasalahan yang tidak dapat dijawab oleh filsafat adalah permasalahan yang ada
dilingkungan pendidikan.
Padahal menurut John Dewey, seorang filosof Amerika, filsafat merupakan teori umum dan
landasan pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor realita dan pengalaman yang terdapat dalam
pengalaman pendidikan
Apa yang dikatakan John Dewey memang benar. Dan karena itu filsafat dan pedidikan memiliki
hubungan hakiki dan timbal balik, berdirilah filsafat pendidikan yang berusaha menjawab dan
memecahkan persoalal-persoalan pendidikan yang bersifat filosifis dan memerukan jawaban secara
filosofis.
Sebagai makhluk hidup, manusia juga senantiasa memiliki kesadaran diri
dan kemampuan belajar. Bagaimanapun, rangkaian perjalanan waktu pada usia
kanak-kanak dari manusia, seseorang belajar menguasai pengetahuann dan
keterampilan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. Upaya tersebut
meskipun tidak fisik, tetapi juga psikhis, sosial dan budaya bahkan kombinasi
semua elemen yang mempengaruhi nilai dalam berjalan menuju pendidikan.
Filsafat adalah cara pandang dan perspektif atas kenyataan, apa yang
dipahami sebagai hakikat kenyataan, kebenaran, kebaikan dan keindahan. Filsafat
menangani keseluruhan pengalaman manusia dan meliputi seluruh aspek kehidupan
manusia. Suatu bentuk kajian terhadap hakikat kenyataan denga mengajukan
pertanyaan dan berusaha memberikan jawaban yang akan menciptakan
kebermaknaan hidup seseorang. Untuk melakukan filsafat, maka harus diciptakan
kesadaran yang sangat tinggi dari fenomena dan peristiwa dalam dunia masa kini
dalam kesadaran diri sepenuhnya.
Pendidikan sebagai proses atau upaya memanusiakan manusia pada
dasarnya adalah upaya mengembangkan kemampuan potensi individu sehingga bisa
hidup optimal baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat serta
memiliki nilai-nilai moral dan sosial sebagai pedoman hidupnya.

1
1.2 TUJUAN

a. Untuk mengetahui apa itu Flsafat Pendidikan


b. Untuk mengetahui fungsi dari Filsafat Pendidikan

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN

a. Kertas

b. Pulpen

c. Papan tulis

d. Spidol

2.2 KAJIAN PUSTAKA, DUKUNGAN DATA DAN INFORMASI AWAL

2.2.1 KAJIAN PUSTAKA


Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, yang berarti bahwa
filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja fisafat dan akan
menggunakan hasil-hasil kajian dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia
tentang hasil realitas, pemgetahuan, dan nilai, khususnya yang berkaitan dengan
praktek pelaksanaan pendidikan. Ada sembila tipe filsafat pendidikan yang paling
berpengaruh dalam dunia pendidikan yaitu sebagai berikut:

Jenis-jenis Filsafat Pendidikan

A. Filsafat Pendidikan Idealisme = > Inti dari ajaran filsafat pendidikan idealisme
adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi
dibandingkan dengan materi kehidupan manusia, roh itu pada dasarnya dianggap
suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut dengan
penjelmaan dari roh atau sukma.

Menurut paham idealisme guru harus membimbing atau mendiskusikan dengan


pesrta didik bukan prinsip-prinsip ekternal, malainkan sebagai kemungkinan-
kemungkinan yang perlu dikembangkan, serta juga harus diwujudkan sedapat
mungkin watak yang terbaik. Pendidikan bukan menjejalkan pengetahuan dari luar
kedalam diri seseorang, melainkan memberikan kesempatan untuk membangun
atau mengkonstruksikan pengalaman dalam diri seseorang.

B. Filsafat Pendidikan Realisme = > Realisme dalam berbagai bentuk menurut


ahli menarik garis pemisah yang tajam antara yang mengetahui dan yang diketahui,
dan pada umumnya cenderung ke arah dualisme atau monisme materialistik.
Seorang pengikut materialisme mengatakan bahwa jiwa dan materi sepenuhnya
sama. Jika demikian halnya, sudah tentu dapat juga sama-sama dikatakan jiwa

3
adalah materi seperti mengatakan materi adalah niwa. Tetapi apakah orang
berusaha melacak roh samapai kepada materi ataukah materi sampai kepada roh?

Sistem pendidikan realisme percaya bahwa dengan sesuatu atau lain cara, ada hal-
hal yang adanya terdapat di dalam dan tentang dirinya sendiri, dan yang hakekatnya
tidak terpengaruh oleh seseorang.hubungan fisik yang berbeda.

C. Filsafat Pendidikan Materialisme = >Karakteristik umum pendidikan yang


menganut filsafat materialime pendidikan adalah semua sains seperti biologi, kimia,
psikologi, fisika, sosiologi, ekonomi, dan yang lainnya ditinjau dari dasar fenomena
materi yang berhubungan secara kasual (sebab akibat), apa yang dikatakan jiwa dan
segala kegiatannya adalah merupakan suatu gerakan yang kompleks dari otak,
sistem urat saraf, atau oragan-organ tubuh lainnya, apa yang disebut dengan nilai
dan cita-cita, makna dan tujuan hidup, keindahan dan kesenangan serta kebebasan,
hanyalah sekedar nama nama atau semboyan, simbol subyektif manusia untuk
situasi atau hubungan fisik yang berbeda. Jadi semua fenomena sosial maupum
alam fenomena psikologi adalah merupakan bentuk-bentuk tersembunyi dari
realitas fisik. Hubungan-hubungannya dapat berubah secara kasual.

D. Filsafat Pendidikan Pragmatisme = > Pendidikan dalam paham ini bukan


merupakan suatu proses pembentukandari luar, dan juga bukanmerupakan suatu
pemerkahan kekuatan-kekuatan laten dengna sendirinya, melainkan merupakan
suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman-pengalaman individu,
yangberarti bahwa setiap manusia belajar dari pengalaman.

E. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme = > Filsafat ini memfokuskan pada


pengalaan-pengalaman individu. Eksistensi adalah cara manusia hidup. Pendidikan,
proses pembelajaran, harus berlangsung sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta
didik, tidak ada pemaksaan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan,
melainkan ditawarkan. Tuntunlah peserta didik agar dapat menemukan dirinya dan
kesadaran akan dunianya. Guru endaknya memberian kebebasan kepada peserta
didik untuk memilih dan memberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan
membantu menemukan makna dari kehidupan mereka.

F. Filsafat Pendidikan Progresivisme = >Menurut penganut aliran ini bahwa


kehidupan manusia berkembang terus menerus dalam suatu daerah yang positif.
Apa yang dipandang benar sekarang belum tentu benar pada masa yang akan
datang. Oleh sebab itu, peserta didik bukan dipersiapkan untuk menghidupi
kehidupan masa kini, melainkan mereka harus dipersiapkan menghadapi kehidupan
masa datang.

Guru atau pendidik harus berperan sebagai pembimbing dan fasilitator agar peserta
didik terdorong atau terbantu untuk mempelajari dan memiliki pengalaman tentang
hal-hal yangpenting bagikehidupan mereka, bukan memberikan sejumlah
kebenaran yang disebut abadi. Yang penting adalah bahwa guru atau pendidik harus
memfasilitasi peserta didik agar memiliki kesempatan yang luas untuk bekerja sama
atau kooperatif di dalam kelompok, memecahka masalah yang dipandang penting
oleh kelompok bukan oleh guru, dalam kelompoknya.

4
G. Filsafat Pendidikan Perenialisme = >Di zaman kehidupan modern ini banyak
menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang
pendidikan.Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme
memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau
yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya.

Ciri utama perenialisme memandang bahwa keadaan sekarang adalah sebagai


zaman yang mempunyai kebudayaan yang tergangganggu oleh kekacauan,
kebingungan, dan kesimpangsiuran. Berhubung dengan itu dinilai sebagai zaman
yang membutuhkan usaha untuk mengamankan lapangan moral, intelektual dan
lingkungan sosial kultural yang lain. Ibarat, kapal yang akan berlayar, zaman
memerlukan pangkalan dan arah tujuan yang jelas. Perenialisme berpendapat
bahwa mencari dan menemukan pangkalan yang demikian ini merupakan tugas
yang pertama dari filsafat dan filsafat pendidikan

Perenialisme bukan merupakan suatu aliran baru dalam filsafat, dalam arti
perenialisme bukanlah suatu pengetahuan yang menyusun filsafat baru, yang
berbeda dengan filsafat yang telah ada. Teori dan konsep pendidikan perenialisme
dilatar belakangi oleh filsafat- filsafat plato sebagai bapak realism klasik, dan
filsafat Thomas Aquinas yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles
dengan ajaran ( filsafat) gereja katolik yang tumbuh pada zamannya ( Abad
pertengahan).

Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan,


dimana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan
bagi seseorag untuk bersikap yang tegas dan lurus.

Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada Abad ke
dua puluh.Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan
progresif.Perenialisme menentang pandangan progrivisme yang menekankan
perubahan dan sesuatu yang baru.Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini
penuh kekacauan, ketidakpastian dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan
moral, intelektual, dan sisio-kultural.Oleh karena itu, perlu ada usaha
mengamankan ketidakberesan tersebut.

Mohammad Noor Syam ( 1984) mengemukakan pandangan perenialisme, bahwa


pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan
ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai
jalan untuk kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti
ke dalam keadaan ideal. Peranialisme tidak terlihat jalan yang meyakinkan, selain
kembali pada prinsip prinsip yang telah sedemikian rupa membentuk sikap
kebiasaan, bahwa keperibadian manusia yaitu kebudayaan dahulu ( yunani kuno)
dan kebudayaan abad pertengahan.

1. Pendidikan

Perenialisme memandang kebenaran sebagai hal yang konstan, abadi atau


perennial.Tujuan pendidikan, menurut pemikiran perenialis adalah memastikan
bahwa siswa memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau gagasan –

5
gagasan besar yan tidak berubah.

2. Kurikulum

Menurut kaum perenialisme harus menekankan pada pertumbuhan intelektual siswa


pada seni dan sains. Untuk menjadi “ terpelajar secara cultural ”, para siswa harus
berhadapan dengan bidang –bidang ini yang merupakan karya terbaik dan paling
signifikan yang diciptakan oleh manusia.

Kurikulum perenialis Hutchins didasarkan pada asumsi mengenai pendidikan :


 Pendidikan harus mengangkat pencairan kebenaran manusia yang berlangsung terus
–menerus.
 Karena kerja pikiran adalah bersifat intelektual dan memfokuskan pada gagasan-
gagasan.
 Pendidikan harus menstimulasi para mahasiswa untuk berfikir serta mendalami
mengenai gagasan-gagasan signifikan.
3. Prinsif pendidikan perenialisme secara umum yaitu :

a. Pada hakikatnya manusia adalah sama di manapun dan kapanpun ia berada, yang
walaupun lingkungannya berbeda. Tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan
hidup, yaitu mencapai kebiajakan dan kebijakan, untuk memperbaiki manusia atau
dengan kata lain pemuliaaan manusia. Oleh karena itu maka pendidikan harus sama
bagi semua orang kapanpun dan di manapun.

b. Bagi manusia, pikiran adalah kemampuan yang paling tinggi. Karena itu manusia
harus menggunakan pikirannnya untuk mengembangkan bawaannya sesuai dengan
tujuannya. Manusia memiliki kebebasan namun harus belajar untuk mempertajam
pikiran dan dapat mengontrol hawa nafsunya. Kegagalan yang dialami peserta didik
jangan dengan cepat menyalahkan lingkungan yang kurang menguntungkan atau
nuansa psikologis yang kurang menyenangkan, namun guru hendaknya dapat
mengatasinya dengan pendekatan intelektual yang sama bagi semua peserta didik.
Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang kebenaran yang pasti,
dan abadi. Kurikulum diorganisasikan dan ditentukan terlebih dahulu oleh orang
dewasa, dan ditujukan untuk melatih aktivitas akal, untuk mengembangkan akal.

c. Fungsi utama pedidikan adalah memberikan pengetahuan tentang kebenaran


yang pasif dan abadi. Pengetahuan yang penting diberikan kepada peserta didik
adalah mata pelajaran pendidikan umum atau general education, bukan mata
pelajaran yang hanya penting sesaat atau menarik minat pada saat tertentu saja atau
seketika. Mata pelajaran yang esensi adalah bahasa, sejarah, matematika, IPA,
filsafat dan seni, dan 3 R ‘s; membaca, menulis, dan membimbing.

d. Pendidikan adalah persiapan untuk hidup bukan peniruan untuk hidup.

Peserta didik seharusnya mempelajari karya-karya besar dalam literature yang


menyangkut sejarah, filsafat, seni, kehidupan sosil, terutama politik dan ekonomi

H. Filsafat Pendidikan Esensialisme => Gerakan esensialisme muncul pada


awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley,

6
Thomas Bringgs, Frederick Breed, dan Isac L. Kandell.

Esensialisme bukan merupakan suatu aliran filsafat tersendiri, yang mendirikan


suatu bangunan filsafat itu sendiri, melainkan suatu gerakan yang memprotes
pendidkan progresivisme.

ESENSI ( Essence ) ialah hakikat barang sesuatu yang khusus sebagai sifat
terdalam dari suatu sebagai satuan yang konseptual dan akali.

Esensi ( essentia ) adalah yang membuat sesuatu menjadi apa adanya. Esensi
mengacu pada aspek-aspek yang lebih permanen dan mantap dari suatu yang
berlawanan dengan yang berubah-ubah, parsial atau fenomenal.

1. Konsep pendidikan

a. Gerakan back to basics

Gerakan back to basics dimulai dipertentangan tahun 1970 adalah dorongan skala
besar yang muktahir untuk menerapkan program- program esensialis disekolah-
sekolah.Ahli pendidikan esensialis tidak memandang sebagai orang yang jahat, dan
tidak pula memandang anak sebagai seorang yang alamiah yang baik.

Para pemikir Esensialisme pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena
mereka berpandangan pada filsafat yang berbeda namun, di antara mereka ada
kesepakatan tentang prinsip dasar filsafat esensialisme yang berkaitan dengan
pendidikan.

b. Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan adalah untuk meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah
melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah tertahan dalam kurun waktu
yang lama serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dan
dikenal oleh semua orang.

Selain merupakan warisan budaya, tujuan pendidikan esensialisme adalah ”


mempersiapkan manusia untuk hidup”. Namun, hidup tersebut sangat kompleks
dan luas, sehingga kebutuhan- kebutuhan untuk hidup tersebut berada di luar
wewenang sekolah.

c. Kurikulum

Kurikulum esensialis menekankan pengajaran fakta-fakta : kurikulum itu kurang


memiliki kesabaran dengan pendekatan- pendekatan tidak langsung yang diangkat
oleh kaum progesivisme. Kurikulum esensialisme seperti halnya perenialisme, yaitu
kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran.

d. Peranan sekolah dan guru

Peranan sekolah adalah memelihara dan menyampaikan warisan budaya dan

7
sejarah pada generasi pelajar dewasa ini melalui hikmat dan pengalaman yang
terakumulasi dari disiplin tradisional.

Mengenai peranan guru banyak persamaannya dengan perenialisme. Guru dianggap


sebagai seseorang yang mengusai lapangan subjek khusus, dan merupakan model
contoh yang sangat baik untuk yang ditiru. Guru merupakan orang yang menguasai
pengetahuan dan kelas berada di bawah pengaruh dan pengawasan guru.

Penganut paham Essensialisme mengemukakan beberapa prinsip pendidikan (


Sadulloh, 2003 ), sebagai berikut :

a. Pendidikan dilakukan dengan usaha keras, tidak timbul dengan sendirinya dari
dalam diri peserta didik.

b. Inisyatif pelaksanaan pendidikan datang dari guru bukan peserta didik. Guru
berperan menjembatani antara dunia orang dewasa dengan dunia peserta didik,
karena itu kendali pelaksanaan pembelajaran ada pada guru atau pendidik.

c. Inti proses pendidikan adalah asimilasi dari mata pelajaran yang telah ditentukan.
Materi pelajaran direncanakan sepenuhnya oleh orang dewasa dan sekolah baik
adalah apabila sekolah tersebut berpusat paa masyarakat ( society centered school ).

d. Metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental merupakan


metode yang diutamakan dalam pendidikan di sekolah. Pengikut essensialisme
mengakui bahwa problom solving atau metode pemecahan masalah ada
manfaatnya, namun tidak perlu dilaksanakan dalam setiap pembelajaran, karena
pengetahuan tidak selalu didasarkan atas fakta-fakta, tetapi banyak yang abstrak
sehingga tidak dapat dipecahkan ke dalam masalah-masalah yang konkrit.

Tujuan akhir pendidikan adalah meningkatkan kesejahteraan atau kebahagiaan sesai


dengan tuntutan demokrasi.

2.2.2 DUKUNGAN DATA


A. Pengertian

Dukungan sistem adalah komponen pelayanan dan kegiatan manajemen,


tata kerja, infra struktur (Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan
pengembangan kemampuan professional professional guru secara berkelanjutan,
yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada peserta didik atau
memfasilitasi kelancaran perkembangan peserta didik.

8
B. Tujuan

Komponen ini memberikan informasi kepada peserta didik dalam mata


kuliah ini.

2.2.3 INFORMASI AWAL

Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, yang berarti bahwa


filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja fisafat dan akan
menggunakan hasil-hasil kajian dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia
tentang hasil realitas, pemgetahuan, dan nilai, khususnya yang berkaitan dengan
praktek pelaksanaan pendidikan. Ada sembila tipe filsafat pendidikan yang paling
berpengaruh dalam dunia pendidikan yaitu sebagai berikut:

Jenis-jenis Filsafat Pendidikan

A. Filsafat Pendidikan Idealisme = > Inti dari ajaran filsafat pendidikan


idealisme adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih
tinggi dibandingkan dengan materi kehidupan manusia, roh itu pada dasarnya
dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut
dengan penjelmaan dari roh atau sukma.
B. Filsafat Pendidikan Realisme = > Realisme dalam berbagai bentuk menurut
ahli menarik garis pemisah yang tajam antara yang mengetahui dan yang diketahui,
dan pada umumnya cenderung ke arah dualisme atau monisme materialistik.
C. Filsafat Pendidikan Materialisme = >Karakteristik umum pendidikan yang
menganut filsafat materialime pendidikan adalah semua sains seperti biologi, kimia,
psikologi, fisika, sosiologi, ekonomi, dan yang lainnya ditinjau dari dasar fenomena
materi yang berhubungan secara kasual (sebab akibat), apa yang dikatakan jiwa dan
segala kegiatannya adalah merupakan suatu gerakan yang kompleks dari otak,
sistem urat saraf, atau oragan-organ tubuh lainnya, apa yang disebut dengan nilai
dan cita-cita, makna dan tujuan hidup, keindahan dan kesenangan serta kebebasan,
hanyalah sekedar nama nama atau semboyan, simbol subyektif manusia untuk
situasi atau hubungan fisik yang berbeda. J
D. Filsafat Pendidikan Pragmatisme = > Pendidikan dalam paham ini bukan
merupakan suatu proses pembentukandari luar, dan juga bukanmerupakan suatu
pemerkahan kekuatan-kekuatan laten dengna sendirinya, melainkan merupakan
suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman-pengalaman individu,
yangberarti bahwa setiap manusia belajar dari pengalaman.
E. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme = > Filsafat ini memfokuskan pada
pengalaan-pengalaman individu. Eksistensi adalah cara manusia hidup.
F. Filsafat Pendidikan Progresivisme = >Menurut penganut aliran ini bahwa
kehidupan manusia berkembang terus menerus dalam suatu daerah yang positif.
Apa yang dipandang benar sekarang belum tentu benar pada masa yang akan
datang..
G. Filsafat Pendidikan Perenialisme = >Di zaman kehidupan modern ini banyak

9
menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang
pendidikan.
H. Filsafat Pendidikan Esensialisme => Gerakan esensialisme muncul pada
awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley,
Thomas Bringgs, Frederick Breed, dan Isac L. Kandell.
Esensialisme bukan merupakan suatu aliran filsafat tersendiri, yang
mendirikan suatu bangunan filsafat itu sendiri, melainkan suatu gerakan yang
memprotes pendidkan progresivisme.

2.3 PROSEDUR ATAU CARA KERJA (LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN)

1. Menentukan topik penelitian

2. Menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan dalam pelaksanaan projek

3. Menentukan tempat dan narasumber yang akan diobservasi

4. Melakukan perbaikan kepada anak yang jawabannya salah

5. Memberikan pujian atas hasil kerja siswa-siswi tersebut

6. Mencatat hasil penelitian projek

7. Melaporkan hasil penelitian dalam bentuk laporan projek

10
BAB III

HASIL KEGIATAN

11
BAB IV

PENUTUP

4.1 SIMPULAN

4.2 REKOMENDASI

12