Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS LOGAM TIMBAL (Pb)

Logam berat masih termasuk golongan logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam
lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berikatan dan
atau masuk ke dalam organisme hidup. Berbeda dengan logam biasa, logam berat biasanya
menimbulkan efek-efek khusus pada mahluk hidup. Tidak semua logam berat dapat
mengakibatkan keracunan pada mahluk hidup.

Sedikitnya terdapat 80 jenis dari 109 unsur kimia di muka bumi ini yang telah teridentifikasi
sebagai jenis logam berat. Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat ini dapat dibagi
dalam dua jenis. Jenis pertama adalah logam berat esensial, di mana keberadaannya dalam
jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan
dapat menimbulkan efek racun. Contoh logam berat ini adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn dan lain
sebagainya. Sedangkan jenis kedua adalah logam berat tidak esensial atau beracun, di mana
keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat bersifat
racun, seperti Hg, Cd, Pb, Cu dan lain-lain.

Logam berat ini dapat menimbulkan efek kesehatan bagi manusia tergantung pada bagian mana
logam berat tersebut terikat dalam tubuh. Daya racun yang dimiliki akan bekerja sebagai
penghalang kerja enzim, sehingga proses metabolisme tubuh terputus. Lebih jauh lagi, logam
berat ini akan bertindak sebagai penyebab alergi, mutagen, teratogen atau karsinogen bagi
manusia. Jalur masuknya adalah melalui kulit, pernapasan dan pencernaan.

Bahaya yang dapat ditimbulkan logam berat dalam tubuh manusia adalah :
1. Barium (Ba): Dalam bentuk serbuk mudah terbakar pada temperatur ruang. Jangka panjang,
menyebabkan naiknya tekanan darah dan terganggunya sistem syaraf.
2. Cadmium (Cd): Dalam bentuk serbuk mudah terbakar. Beracun jika terhirup dari udara atau
uap. Dapat menyebabkan kanker. Larutan dari kadmium sangat beracun. Jangka panjang,
terakumulasi di hati, pankreas, ginjal dan tiroid, dicurigai dapat menyebabkan hipertensi
3. Kromium (Cr): Kromium hexavalen bersifat karsinogenik dan korosif pada jaringan tubuh.
Jangka panjang, peningkatan sensitivitas kulit dan kerusakan pada ginjal
4. Timbal (Pb): Beracun. Jika termakan atau terhirup dari udara atau uap. Jangka panjang,
menyebabkan, kerusakan otak ginjal kelainan pada kelahiran
5. Raksa (Hg): Sangat beracun jika terserap oleh kulit atau terhirup dari uap. Jangka panjang,
beracun pada sistem syaraf pusat, dapat menyebabkan kelainan pada kelahiran.
6. Perak (Ag): Beracun. Jangka panjang, pelunturan abu-abu permanen pada kulit, mata dan
membran mukosa (mucus)

Metoda yang dapat digunakan untuk menganalisis logam khususny logam Pb yaitu dengan
menggunakan spektrofotometri serapan atom atau atomic absorption spectro (AAS) dan i
Inductive Coupled Plasma (ICP).

1. AAS
Analisis logam Pb dengan AAS berdasarkan SNI 06-6989.8-2004 tentang Cara uji timbal
(Pb) dengan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)-nyala. Prinsip kerja dari AAS yaitu
logam yang terlarut dalam fase cair dievaporasi menjadi butihan halus yang nantinya
dilakukan atomisasi menggunakan api, dengan adanya sinar dengan panjang gelombang
tertentu (lampu katode) akan melewati logam yang sudah teratomisasi tadi. Panjang
gelombang yang digunakan yaitu 283,3 nm. Atom akan menyerap panjang gelombang
tersebut untuk terjadinya eksitasi, pengurangan kekuatan sinar yang dipancarkan dari lampu
katode dibandingkan terhadap keadaan awal dan standar kalibrasi yang nantinya
pengurangan tersebut dikonversikan dari bentuk absorbansi menjadi bentuk data. AAS
menggunakan lampu katode sebagai sumber cahaya yang nantinya dibandingkan terhadap
pengurangan dari absorbansi yang terserap sesuai atau sebanding dengan banyaknya logam
tertentu.

Gambar 1. Spektrofotometri Serapan Atom

2. ICP-OES (Inductive Coupled Plasma-Optical Emmision Spectra)


Prinsip utama ICP dalam penentuan elemen adalah pengatomisasian elemen sehingga
memancarkan cahaya panjang gelombang tertentu yang kemudian dapat diukur. Perangkat
keras ICP OES yang utama adalah plasma, dengan bantuan gas akan mengatomisasi elemen
dari energy ground state ke eksitasi state sambil memancarkan energy cahaya hv. Perangkat
keras ICP-OES dirancang untuk menghasilkan plasma, agar terbentuknya plasma
diperlukan aliran gas Argon, medan magnet fekuensi tinggi, pemicu elektron ( spark
generator ) dan media tempat terjadinya plasma. Plasma merupakan sumber cahaya pada
ICP ( inductively Coupled Plasma). Pembentukan plasma adalah bergantung pada medan
magnet yang cukup kuat dan pola yang mengikuti aliran gas tertentu.

Gambar 2. Inductive Coupled Plasma-Optical Emmision Spectra

Gambar 3. Skematis dari plasma ICP


(Sumber: Liu,H. dan Montaser, 1996)

Pembacaan Konsentrasi Sampel dengan ICP


1. Dialirkan gas argon, kemudian dihidupkan komputer dengan progran ICP dan dihidupkan

instrumen ICP serta water chiller; 


2. Dilakukan kalibrasi panjang gelombang pada ICP setelah 10 menit;

3. Setelah dilakukan kalibrasi panjang gelombang, kemudian dipilih elemen- 
 elemen yang

akan dianalisa dan dimasukkan jumlah standart dan sampel; 


4. Dihidupkan plasma, ditunggu 5 menit sampai suhunya stabil ( 19°C - 
 20°C); 


5. Tombol analisis di klik, komputer akan memberikan perintah untuk 
 mencelupkan selang

ICP kedalam larutan standart dan sampel; 


6. Dicelupkan selang ICP kedalam masing-masing larutan standart dan sampel secara

berurutan; 


7. Komputer akan menampilkan hasil konsentrasi masing-masing sampel 



Kelebihan dan Kekurangan Masing-Masing Metoda
1. AAS
Kelebihan AAS antara lain:
a. Biaya pembelian, perawatan, operasi yang murah (cukup menggunakan gas asetilen,
nitrous, udara kompresor dan cukup hemat;
b. Mudah dioprasikan;
c. Mudah mengoperasikan;
d. Awet dan tahan lama;
e. Kecil kemungkinan untuk terjadi kerusakan skala besar.

Kekurangan AAS antara lain:


a. Masih menggunakan sumber cahaya sebagai penentu nilai absorbansi, sehingga
mempersulit ketika ingin menganalisis logam lain;
b. Cara kerja yang masih manual;
c. Data kalibrasi yang tidak bertahan lama, dan harus dikalibrasi ulang kembali setiap 20
sampel;
d. Nilai absorbansi pada AAS dibatasi hanya 1.000 sehingga penggunaan sesuai dengan
deret standar sangat mempengaruhi kalibrasi dan ketika sampe menyerap absorbansi
lebih tinggi dibanding standar tertinggi maka nilai yang dihasilkan tidak valid.

2. ICP-OES ((Inductive Coupled Plasma-Optical Emmision Spectra)


Kelebihan ICP-OES antara lain:
a. Pembacaan stabil dalam waktu lama (misalnya 1x kalibrasi mampu membaca sampel
sampai dengan 100 sampel;
b. Operasional menggunakan robotik sehingga nilai lebih stabil;
c. Cepat, Akurat, Tahan lama;
d. Dalam 1x kali pembacaan sampel mampu analisis seluruh logam;
e. Mampu membaca konsentrasi sampel sampai 1000x lebih besar dari standar tertinggi
kalibrasi;
f. Tanpa menggunakan lampu katode;
g. Limit deteksi yang amat kecil (ppb).
Kekurangan dari ICP-OES antara lain:
a. Biaya operasional yang mahal (menggunakan gas argon)
b. Penggunaan bahan bakar argon sangat boros
c. Biaya perawatan yang sangat mahal
d. Biaya sparepart yang sangat mahal
e. Kestabilan diragukan jikalau terjadi kesalahan sedikit dalam penyetingan (tidak stabil)
f. Harus dilakukan penyaringan sample untuk mengurangi TDS

Sumber:

Purba, Damayanti Fitasari. 2009. Analisis Pencemaran Logam Berat Pada Air Sumur Bor
Dengan Metode Spektrofotometri Untuk Dapat Digunakan Sebagai Air Minum Di
Kecamatan Medan-Belawan. Medan: Universitas Sumatera Utara

SNI 06-6989.8-2004 tentang Cara uji timbal (Pb) dengan Spektrofotometri Serapan Atom
(SSA)-nyala