Anda di halaman 1dari 112

PENILAIAN FAKTOR RISIKO KARIES PADA ANAK

USIA DIBAWAH 2 TAHUN MENURUT AMERICAN


ACADEMY OF PEDIATRIC DENTISTRY DI
KECAMATAN MEDAN BARU DAN
MEDAN POLONIA

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi
syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh :
LEYLAN SYAHPUTRA IKHSAN LUBIS
NIM : 130600019
Pembimbing :
ESSIE OCTIARA, drg., Sp. KGA
LUTHFIANI, drg

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Fakultas Kedokteran Gigi

Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak

Tahun 2018

Leylan Syahputra Ikhsan Lubis

Penilaian Faktor Risiko Karies pada Anak Usia Dibawah 2 Tahun Menurut
American Academy of Pediatric Dentistry di Kecamatan Medan Baru dan Medan
Polonia
x + 56 halaman
Karies merupakan permasalahan rongga mulut yang sering terjadi di dunia.
AAPD mengeluarkan penilaian risiko karies (Caries Assessment Tool/CAT) yang
akan membantu dokter gigi dalam membuat keputusan perawatan berdasarkan risiko
karies. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penilaian risiko karies (CAT)
dengan kejadian SECC, ECC (non-SECC) dan bebas karies usia dibawah 2 tahun di
Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia.
Jenis penelitian ini adalah analitik observasi dengan desain penelitian cross
sectional. Metode pengambilan sampel adalah purposive sampling sehingga didapat
total sampel sebanyak 216 orang. Penelitian ini dilakukan di Posyandu dan
Lingkungan Medan Baru dan Medan Polonia. Uji analisis yang dilakukan adalah Chi
Square, Kolmogorov Smirnov, Mann Whitney dan One Way Anova serta uji Pearson
dengan p<0,05.
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara
penilaian risiko karies (CAT) dengan kejadian SECC dan bebas karies (p=0,000).
Elemen dari penilian CAT yang signifikan dengan kejadian SECC dan bebas karies,
yaitu ibu memiliki karies aktif, status sosial ekonomi rendah, konsumsi makanan dan
minuman ringan yang manis selain makan utama >3 kali sehari, anak mengonsumsi
susu sebagai pengantar tidur,anak menggosok gigi setiap hari dengan pasta gigi
berfluoride, anak memiliki white spot, kavitas, dan plak pada gigi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Kesimpulan dari penelitian ini adalah anak S-ECC memiliki penilaian faktor
risiko karies tinggi lebih banyak dibanding anak bebas karies. Anak memiliki risiko
karies rendah memiliki pengalaman karies yang rendah dibandingkan anak yang
memiliki risiko karies tinggi

Daftar rujukan: 51 (1995-2017).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi

pada tanggal 17 Januari 2018

TIM PENGUJI

KETUA : Siti Salmiah,drg.,Sp.KGA


ANGGOTA : 1. Essie Octiara, drg., Sp. KGA
2. Luthfiani, drg.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Penilaian
Faktor Risiko Karies Pada Anak Usia Dibawah 2 Tahun Menurut American Academy
Of Pediatric Dentistry di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia” yang
merupakan salah satu syarat bagi penulis untuk mendapat gelar Sarjana Kedokteran
Gigi.
Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis tidak terlepas dari bimbingan,
bantuan, serta doa dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada
orang tua tercinta, ayahanda Abdul Latif Lubis dan ibunda Leliwati yang selalu
memberi doa, kasih sayang, motivasi, dan dukungan baik secara moral maupun
materil, serta adik penulis Layla Syahfitri Lubis yang juga memberikan kasih sayang
dan dorongan semangat kepada penulis.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis juga telah banyak mendapat bimbingan,
motivasi, saran, dukungan, dan nasihat dari berbagai pihak. Penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Trelia Boel, drg., M.Kes, Sp.RKG. (K) selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Essie Octiara, drg., Sp.KGA selaku ketua departemen Ilmu Kedokteran
Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan dosen
pembimbing penulis yang telah meluangkan waktu, tenaga, serta pikiran dalam
memberikan bimbingan, nasihat, arahan, dan bantuan sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
3. Luthfiani, drg selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dengan
meluangkan waktu, memberikan ide, masukan, dan pengarahan yang sangat
bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4. Siti Salmiah, drg., Sp.KGA selaku dosen penguji yang telah memberi
waktu, arahan, saran dan kritik yang membangun sehingga skripsi dapat diselesaikan
dengan baik.
5. Mimi Marina Lubis, drg., Sp.Ort selaku dosen pembimbing akademik yang
telah memberikan semangat dan membimbing penulis selama menjalani pendidikan.
6. Seluruh staf pengajar FKG USU terutama staf pengajar dan pegawai di
Departemen IKGA yang telah banyak membantu penulis dalam penelitian ini.
7. Teman – teman seperjuangan skripsi di Departemen IKGA, Luciany,
Kurnia, Nia, Angga, Isra, Firsty, Destrin, Savithra, Astrid, dan Emee.
8. Sahabat – sahabat terbaik penulis Cornelia, Saima, Dila, Riri, Osi, Anggra,
Lia, Hanny, Nana, Rintan, Arif, Soleh, Yuda, Mulkan, Fauzi, Baya,Yudi, Wisnu, nuel
serta keluarga besar HMI Komisariat FKG USU, teman-teman seangkatan 2013 dan
lainya yang tak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan doa,
semangat, dan bantuan dalam pembuatan skripsi.
Penulis menyadari kelemahan dan keterbatasan ilmu yang penulis miliki yang
membuat skripsi ini masih banyak kekurangan sehingga perlu perbaikan, saran, dan
kritik untuk menjadikan skripsi ini lebih baik. Akhirnya penulis mengharapkan
semoga skripsi ini di ridhoi Allah SWT dan dapat memberikan manfaat dan
sumbangan pikiran yang berguna kepada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumatera Utara dan penelitian selanjutnya.

Medan, 17 Januari 2018


Penulis,

Leylan Syahputra Ikhsan Lubis


(130600019)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .............................................................................. i

HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................ ii

HALAMAN TIM PENGUJI ................................................................... iii

KATA PENGANTAR ........................................................................... iv

DAFTAR ISI ........................................................................................... v

DAFTAR TABEL ..................................................................................


viii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................ ix

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... . x

BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................. 1


1.1 Latar Belakang.................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................ 4
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................. 4
1.4 Hipotesis Penelitian .......................................................... 5
1.5 Manfaat Penelitian ............................................................ 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................ 6


2.1 Early Childhood Caries (ECC) ........................................ 6
2.2 Severe Early Childhood Caries (S-ECC) ......................... 7
2.3 Etiologi ECC dan S-ECC ................................................. 7
2.3.1 Mikroorganisme ..................................................... 8
2.3.2 Substrat ................................................................... 9
2.3.3 Host......................................................................... 9
2.3.4 Waktu ..................................................................... 10
2.4 Faktor Risiko Karies ....... 10
2.5 Dampak ECC dan S-ECC .................................................. 13
2.6 Pencegahan ECC dan S-ECC ............................................. 14

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.7 Pengukuran Faktor Risiko Karies ................................... 15
2.7.1 Caries Risk Management by Risk Assessment
(CAMBRA) ............................................................ 16
2.7.2 Kariogram .............................................................. 17
2.7.3 Traffic Light Matrix (TL-M) .................................. 18
2.7.4 Pengukuran Faktor Risiko Menurut American
Dental Association (ADA) ................................... 18
2.7.5 Pengukuran Faktor Risiko Menurut American
iiiiiiiiiiiiiAcademy Pediatric Dentistry (AAPD) .................. 19
2.8 Kerangka Teori ......................................................... 24
2.9 Kerangka Konsep ...................................................... 25

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN............................................. 26


3.1 Jenis Penelitian ................................................................. 26
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .......................................... 26
3.3 Populasi dan Sampel ........................................................ 26
3.4 Variabel-Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional .. 27
3.4.1 Variabel Penelitian .................................................. 27
3.4.2 Defenisi Operasional ............................................... 28
3.5 Cara Pengambilan Data ................................................... 32
3.6 Pengolahan dan Analisis Data ......................................... 32
3.6.1 Pengolahan Data ............................................................ 32
3.6.2 Analisis Data.................................................................. 33
3.7 Etika Penelitian ................................................................. 33

BAB 4 HASIL PENELITIAN............................................................ 36


4.1 Karakteristik Subjek penelitian ........................................ 36
4.2 Hubungan Penilaian Risiko Karies (CAT) Secara umum
dengan kejadian S-ECC, ECC (non-SECC), dan bebas karies 36
4.3 Hubungan Elemen Penilaian Risiko Karies (CAT) dengan
kejadian S-ECC, ECC (non-SECC) dan Bebas Karies ... 37
4.4 Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan kejadian S-ECC,
ECC (non-SECC), dan Bebas Karies .............................. 39
4.5 Hubungan usia dan Jenis Kelamin dengan Pengalaman Karies
Anak .............................................................................. 40
4.6 Hubungan Penilaian Risiko Karies Menurut AAPD dengan
Pengalaman Karies anak ................................................. 41
4.7 Korelasi Antara Pengalaman Karies Ibu dengan Pengalaman
Karies Anak ..................................................................... 41

BAB 5 PEMBAHASAN .................................................................... 43

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN .............................................. 50


6.1 Kesimpulan ...................................................................... 50
6.2 Saran................................................................................. 51

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 52

LAMPIRAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1 Penilaian Risiko Karies untuk Usia 0-3 Tahun ............................... 22

2 Karakteristik Sampel Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin ........... 34

3 Hubungan Kejadian Kelompok Anak dengan Penilaian Risiko

Karies Menurut AAPD ................................................................... 35

4 Hubungan Elemen Penilaian Risiko Karies dengan Kelompok

Anak ............................................................................................... 36

6 Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Pengalaman Karies

S-ECC dan ECC (non-SECC) ....................................................... 39

7 Hubungan Penilaian Risiko Karies Menurut AAPD dengan

Pengalaman KariesAnak ............................................................... 39

8 Hubungan Karies Anak dengan Pengalaman Karies Ibu dan

Pengalaman Karies Anak ............................................................... 40

9 Korelasi antara Pengalaman Karies Ibu dengan Pengalaman

Karies Anak ................................................................................... 40

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1 Early Childhood Caries (ECC) .............................................. 6
2 Severe Early Childhood Caries (S-ECC)................................ 7
3 Skema Etiologi Karies ............................................................ 8

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Lembar Penjelasan Kepada Orang Tua/Wali Subjek Penelitian

2. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent)

3. Kuesioner

4. Lembar Pemeriksaan

5. Lembar Health Reaserch Ethical Committe (EC)

6. Surat Izin Dinas Kesehatan

7. Lembar Data Sampel

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada tahun 1978, The American Academy of Pedodontics memperkenalkan
istilah nursing botol caries atau karies botol yang sama dengan pernyataan The
American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) yaitu terjadinya karies akibat
penggunaan botol. Rekomendasi AAPD untuk menghentikan karies botol adalah
mengatur kebiasaan makan dan menghentikan penggunaan botol setelah anak berusia
satu tahun. Setelah dua dekade, penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa karies
yang terjadi tidak hanya karena kebiasaan makan yang salah, namun juga ditemukan
bahwa karies tersebut merupakan penyakit yang infeksius, AAPD memperkenalkan
terminologi Early Childhood Caries (ECC) untuk menunjukkan bahwa karies terjadi
akibat etiologi yang multifaktorial.1
ECC merupakan permasalahan serius yang banyak terjadi di negara industri
akibat perubahan kebiasaan pola makan.2 ECC adalah terdapatnya satu atau lebih
lubang (baik lesi kavitas ataupun nonkavitas), kehilangan gigi karena karies, dan
tumpatan pada permukaan gigi desidui pada anak berusia lebih muda dari 6 tahun.3
Severe Early Childhood Caries (S-ECC) adalah karies yang terjadi
dipemukaan halus gigi pada anak yang berusia kurang di bawah 3 tahun.2 S-ECC juga
diindikasikan apabila terdapat satu atau lebih lubang, kehilangan gigi akibat karies,
terdapat deft pada permukaan halus gigi desidui anterior maksila, skor penambalan
sama atau lebih dari empat pada anak tiga tahun, lima pada anak empat tahun, atau
enam permukaan halus pada anak lima tahun.1
Masalah karies merupakan permasalahan rongga mulut yang sering terjadi di
dunia. Folayan dkk di Nigeria meneliti tentang prevalensi dan faktor risiko ECC
pada 497 anak berusia 6 bulan sampai 71 bulan mendapatkan hasil 33 orang anak
(6.6%) mengalami ECC dan empat orang anak (0.8%) mengalami S-ECC.4 Penelitian
Kuriakose dkk di Kerala (India) pada 1329 anak usia prasekolah (usia di bawah

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


enam puluh bulan) dilaporkan 54% anak menderita ECC.5 Penelitian Peltzer dkk di
Thailand pada 597 anak usia tiga tahun dilaporkan 44,1% S-ECC.6
RISKESDAS tahun 2013 melaporkan 10,4% anak berusia 1-4 tahun
mengalami permasalahan gigi dan mulut, tetapi hanya 25,8% yang mendapatkan
perawatan.7 Febriana dkk meneliti tentang prevalensi ECC pada anak usia dibawah 3
tahun di DKI Jakarta dilaporkan 52,7% dengan skor deft rata-rata 2,85.8 Di kota
Medan tepatnya di Kecamatan Denai persentase anak yang menderita ECC pada anak
usia 12-36 bulan menurut kriteria AAPD sebesar 57,7% sementara tingkat keparahan
(S-ECC) adalah 16% menurut penelitian Octiara.9
Data epidemiologi berdasarkan survei nasional mengindikasikan bahwa ECC
memiliki prevalensi yang tinggi serta meningkat pada anak usia prasekolah dengan
ekonomi rendah. Anak-anak dengan pengalaman karies tinggi akan menunjukkan
semakin banyak gigi yang terlibat. ECC memiliki beberapa dampak seperti memiliki
risiko yang lebih tinggi terkena lesi karies yang baru baik pada gigi desidui maupun
gigi permanen, seperti rasa sakit, terganggunya aktivitas makan, tidak dapat pergi
sekolah, terbatasnya aktivitas, penurunan kemampuan untuk belajar, dirawat di rumah
sakit sehingga meningkatnya biaya perawatan, dan kualitas hidup akan menurun.1
Karies gigi merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh
mikroorganisme, substrat, host, dan waktu. Selain itu terdapat beberapa faktor risiko
yang dapat memperparah karies, seperti pengalaman karies anak dan oral hygiene
anak, penggunaan fluor, perilaku diet, status sosial ekonomi, karies aktif yang
dimiliki oleh ibu.10,11 Terdapat tiga cara yang dapat digunakan sebagai pencegahan
pada ECC. Tiga cara tersebut termasuk melatih ibu atau wali untuk mengikuti diet
sehat dan kebiasaan makan untuk mencegah terjadinya ECC. Di mana, ketiga cara
tersebut adalah pencegahan transmisi bakteri maternal ke anak, edukasi tentang
kesehatan rongga mulut, dan penggunaan fluoride.12 Tingkat risiko karies seseorang
dapat diketahui dengan beberapa cara, yaitu menurut AAPD, menurut American
Dental Association (ADA), menggunakan kariogram, Traffic Light Matrix Model
(TL-M), dan menurut Caries Management By Risk Assessment (CAMBRA).13,14,15,16

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


AAPD telah menetapkan pengukuran risiko karies yang dapat digunakan oleh
klinisi untuk dapat menetapkan rencana perawatan sesuai dengan tingkat risiko karies
anak per individu.17 AAPD mengeluarkan penilaian faktor risiko karies (Caries
Assessment Tool/CAT) yang bertujuan sebagai penilaian risiko karies dan protokol
manajemen yang akan membantu dokter gigi dalam membuat keputusan mengenai
perawatan berdasarkan risiko karies dan kepatuhan pasien merupakan elemen penting
dalam klinis kontemporer pada bayi, anak-anak, dan dewasa.1 AAPD mengukur
faktor risiko pada anak usia 0-3 tahun berdasarkan faktor biologis, perlindungan, dan
kondisi klinis.16
Penelitian Richard K dkk yang membandingkan 4 pendekatan pengukuran
tingkat risiko karies yaitu, kelompok caries risk assessment tool (CAT) dari AAPD,
CAT tanpa status sosial ekonomi, CAT tanpa status sosial ekonomi dan ditambah
status Streptococcus mutans (S. mutans), dan kelompok yang hanya jumlah S.
mutans, mendapat hasil bahwa CAT dari AAPD ditambah dengan jumlah S. mutans
dan tanpa status sosial ekonomi memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi. Hasil
penelitian juga menunjukkan penghitungan jumlah S. mutans saja tanpa CAT
memiliki tingkat akurasi yang tinggi.18
Bedasarkan latar belakang, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tentang penilaian faktor risiko karies (CAT) menurut AAPD dimana penelitian ini
dapat dijadikan sebagai pencegahan dini pada anak usia dibawah dua tahun yang
masih dalam tahap awal erupsi gigi. Alasan lainya penulis menggunakan CAT oleh
AAPD karena adanya penggolongan usia anak dan factor risiko penilaian yang
dijabarkan dan mudah dilakukan. Kecamatan Medan baru dan Medan Polonia dipilih
dengan alasan daerah tersebut mudah dijangkau oleh peneliti dan belum pernah
dilakukan penelitian di daerah tersebut.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


1.2 Rumusan Masalah
Umum:
1. Apakah ada hubungan antara penilaian risiko karies (CAT) secara umum
dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies anak usia dibawah 2
tahun di kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia?
2. Apakah ada hubungan antara elemen pada penilaian risiko karies (CAT)
dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies anak usia dibawah 2
tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia?
Khusus:
1 Berapakah distribusi penilaian risiko karies (CAT) menurut AAPD pada
kelompok anak S-ECC, non-S-ECC dan bebas karies usia dibawah 2 tahun di
Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia?
2. Apakah ada hubungan antara usia dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-
ECC) dan bebas karies pada anak usia dibawah 2 tahun di kecamatan Medan Baru
dan Medan Polonia?
3. Apakah ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian S-ECC, ECC
(non-S-ECC), dan bebas karies pada anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan
Baru dan Medan Polonia?
4. Apakah hubungan antara usia dengan pengalaman karies berdasarkan
kejadian S-ECC dan ECC (non-S-ECC) anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan
Medan Baru dan Medan Polonia?
5. Apakah ada hubungan antara jenis kelamin dengan pengalaman karies
berdasarkan kejadian S-ECC dan ECC (non-S-ECC) anak usia dibawah 2 tahun di
Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia?
6. Apakah ada hubungan antara penilaian risiko karies (CAT) dengan
pengalaman karies anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan
Polonia?
7. Apakah ada korelasi antara pengalaman karies ibu dengan pengalaman
karies anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia?

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


1.3 Tujuan Penelitian
Umum:
1. Menganalisis hubungan antara penilaian risiko karies (CAT) secara umum
dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies anak usia dibawah 2
tahun di kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia.
2. Menganalisis hubungan antara elemen pada penilaian risiko karies (CAT)
dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies anak usia dibawah 2
tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia.
Khusus
1. Melihat distribusi penilaian risiko karies (CAT) pada kejadian S-ECC, ECC
(non-S-ECC), dan bebas karies anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru
dan Medan Polonia.
2. Menganalisis hubungan antara usia dengan kejadian S-ECC, non-S-ECC
dan bebas karies usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan
Polonia.
3. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian S-ECC, ECC
(non-S-ECC), dan bebas karies pada anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan
Baru dan Medan Polonia.
4. Menganalisis hubungan antara usia dengan pengalaman karies berdasarkan
kejadian S-ECC dan ECC (non-S-ECC) anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan
Medan Baru dan Medan Polonia.
5. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan pengalaman karies
berdasarkan kejadian S-ECC dan ECC (non-S-ECC) anak usia dibawah 2 tahun di
Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia.
6. Menganalisis hubungan antara penilaian risiko karies (CAT) dengan
pengalaman karies anak pada anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Baru dan
Medan Polonia.
7. Menganalisis korelasi antara pengalaman karies ibu dengan pengalaman
karies anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


1.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis mayor :
1. Ada hubungan antara penilaian risiko karies (CAT) secara umum dengan
kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies pada anak usia dibawah 2
tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia.
2. Ada hubungan antara elemen didalam penilaian risiko karies (CAT) dengan
kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies pada anak usia dibawah 2
tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia.
Hipotesis minor:
1. Didapat distribusi penilaian risiko karies (CAT) pada kejadian S-ECC, ECC
(non-S-ECC), dan bebas karies anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru
dan Medan Polonia.
2. Ada hubungan antara usia dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC) dan
bebas karies pada anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan
Polonia.
3. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-
ECC) dan bebas karies pada anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru
dan Medan Polonia.
4. Ada hubungan antara usia dengan pengalaman karies berdasarkan kejadian
S-ECC, ECC (non-S-ECC) anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru
dan Medan Polonia.
5. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan pengalaman karies berdasarkan
kejadian S-ECC dan ECC (non-S-ECC) anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan
Medan Baru dan Medan Polonia.
6. Ada hubungan penilaian risiko karies (CAT) dengan pengalaman karies
anak pada anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia.
7. Ada korelasi antara pengalaman karies ibu dengan pengalaman karies anak
usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


1.5 Manfaat Penelitian
1. Manfaat untuk sasaran penelitian
Memberikan informasi pada ibu mengenai tingkat risiko karies dan faktor
risiko karies anak agar memotivasi ibu untuk melakukan pencegahan karies
berikutnya.
2. Manfaat untuk pengelola program kesehatan
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar bagi program pemerintah
dalam kesehatan gigi anak.
3. Manfaat untuk peneliti
Menambah wawasan dan pengalaman bagi peneliti dalam melakukan
penelitian tentang penilaian faktor risiko karies pada anak serta dapat digunakan
sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Early Childhood Caries (ECC)


Early Childhood Caries (ECC) terdiri dari kata early childhood yang berarti
termasuk anak-anak sampai lima tahun, dan kata caries yang berarti proses destruksi
yang menyebabkan kavitas pada gigi.19 ECC adalah istilah baru yang diadopsi pada
tahun 1994 untuk menujukkan karies gigi pada bayi dan anak pra sekolah.20 ECC
diadopsi sebagai nomenklatur standar yang digunakan untuk mengindikasikan adanya
satu atau lebih kerusakan dengan atau tanpa kavitas, kehilangan karena karies, atau
permukaan gigi yang ditumpat pada gigi desidui manapun pada anak usia dibawah 6
tahun. Secara sederhana, ECC didefinisikan sebagai kavitas pada gigi manapun pada
anak lebih muda dari usia 6 tahun.19
ECC adalah suatu bentuk karies gigi yang mengenai bayi dan anak-anak dan
telah diidentifikasi sebagai masalah kesehatan. ECC juga dikenal sebagai karies botol
merupakan sindroma kerusakan yang parah terjadi pada bayi dan anak, merupakan
penyakit infeksi yang muncul segera setelah gigi bayi erupsi dan berkembang secara
cepat dan mengakibatkan gangguan kesehatan pada anak (Gambar 1).21,22

Gambar 1. Early Childhood Caries (ECC) 23

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.2 Severe Early Childhood Caries (S-ECC)
Istilah Severe Early childhood Caries (S-ECC) digunakan untuk kondisi yang
lebih parah. Seorang anak dikatakan memiliki S-ECC ketika anak berusia di bawah 3
tahun mempunyai karies pada permukaan halus gigi; anak berusia 3, 4, atau 5 tahun
dan mempunyai karies pada permukaan halus gigi insisivus rahang atas; jumlah
permukaan yang terlibat sama atau lebih dari 4 permukaan halus gigi pada usia 3
tahun, 5 permukaan gigi pada usia 4 tahun dan 6 permukaan gigi pada usia 5 tahun.19
Karies dini sangat sulit dideteksi, bercak putih di sekitar gigi adalah tanda
pertama demineralisasi dan biasanya tidak dideteksi oleh orang tua, jika
demineralisasi tidak ditanggulangi akan menyebabkan karies pada gigi. Penelitian
epidemiologis menunjukkan pentingnya peningkatan prevalensi karies sejalan dengan
bertambahnya usia. Masa kanak-kanak memiliki risiko karies yang paling tinggi
ketika gigi mulai erupsi (Gambar 2).11

Gambar 2. Severe Early Childhood Caries (S-ECC)23

2.3 Etiologi ECC dan S-ECC


Karies gigi memiliki etiologi yang multifaktorial. Karies berkembang karena
adanya biofilm yang memediasi terjadinya demineralisasi pada jaringan keras gigi
yaitu enamel dan dentin. Terdapat tiga faktor yang saling berinteraksi dalam

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


menyebabkan karies, yaitu mikroorganisme, substrat, dan host. Interaksi dari ketiga
faktor tersebut pada periode waktu tertentu menyebabkan karies, yang dimulai dari
munculnya white spot tanpa adanya kavitas pada permukaan gigi sebagai akibat dari
demineralisasi gigi.24 Azevedo dkk. menyatakan bahwa pemberian breast feeding
pada malam hari atau pada anak berusia lebih dari 12 bulan dapat di korelasikan
dengan etiologi terjadinya S-ECC (Gambar 3).2

Gambar 3. Skema Etiologi Karies25

2.3.1 Mikroorganisme
Infeksi dari mikroorganisme (S. mutans) memiliki peranan yang penting
dalam menentukan waktu terjadi (onset) dan progres dari karies tersebut. Infeksi
vertikal dari mikroorganisme terutama terjadi dari saliva ibu atau pengasuh anak yang
mengandung banyak S. mutans. Saat ibu memiliki S. mutans dengan konsentrasi
tinggi pada saliva, anak akan terpapar infeksi lebih awal dan memiliki prevalensi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


karies yang lebih tinggi. Perkembangan mikroorganisme pada S-ECC dapat dibagi
menjadi tiga tahap:24
1. Tahap pertama: infeksi primer oleh S.mutans
2. Tahap kedua: akumulasi mikroorganisme menjadi level patogenik sebagai
konsekuensi dari frekuensi dan lamanya terpapar substrat yang bersifat kariogenik
3. Tahap ketiga: demineralisasi dan terbentuknya kavitas pada enamel.24

2.3.2 Substrat
Substrat berperan dalam pembentukan karies terdapat hubungan yang kuat
antara frekuensi dari konsumsi karbohidrat terutama sukrosa dengan pengalaman
terjadinya karies, apalagi bila dikonsumsi di antara jam makan dan saat tidur, dimana
efek proteksi saliva berkurang karena menurunnya laju alir saliva.26 Anak yang
memiliki kebiasaan seperti penggunaan botol susu secara terus menerus, tidur dalam
keadaan masih minum dari botol (jus buah pabrikan, teh dengan gula, susu
fermentasi) memiliki hubungan dalam pekembangan karies.24

2.3.3 Host
Terdapat beberapa faktor yang dihubungkan dengan gigi sebagai host (tuan
rumah) yang dapat dihubungkan dengan terjadinya karies, yaitu faktor morfologi gigi
(ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel, faktor kimia dan kristalografis. Pit dan
fisur pada gigi posterior sangat rentan terhadap terjadinya karies karena sisa-sisa
makanan mudah terakumulasi di daerah tersebut terutama pada pit dan fisur yang
dalam. Permukaan gigi yang kasar dapat menyebabkan plak mudah melekat dan
membantu perkembangan karies gigi. Gigi desidui lebih mudah terserang karies
daripada gigi permanen, hal ini disebabkan enamel gigi desidui lebih banyak
mengandung bahan organik dan air, sedangkan jumlah mineralnya lebih sedikit
daripada gigi permanen. Alasan ini mungkin salah satu penyebab tingginya prevalensi
karies pada anak.9

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.3.4 Waktu
Karies dianggap sebagai penyakit kronis karena berkembang dalam waktu
beberapa bulan atau tahun. Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk
berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi diperkirakan 6-48 bulan.9 Saliva
mampu mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses karies, yang
berarti bahwa proses karies terdiri dari periode perusakan (demineralisasi) dan
perbaikan (remineralisasi). Saliva yang terdapat pada gigi akan menghambat karies
dalam merusak gigi, sehingga karies tidak merusak gigi dalam hitungan hari atau
minggu, melainkan dalam hitungan bulan atau tahun.26

2.4 Faktor Risiko Karies


Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses
demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan mahkota dan akar gigi
yang dapat dicegah. Risiko karies adalah kemungkinan berkembangnya karies pada
individu atau terjadinya perubahan status kesehatan yang mendukung terjadinya
karies pada suatu periode tertentu.17
Faktor risiko tersebut antara lain; pola makan, pengalaman karies, penggunaan
fluor secara topikal ataupun sistemik, oral hygiene, kebiasaan membersihkan rongga
mulut, karies aktif yang dimiliki ibu, saliva, usia, jenis kelamin, jumlah anak dalam
keluarga, latar belakang sosial ekonomi keluarga, populasi minoritas, daerah
pemukiman kurangnya pendidikan dan pengetahuan tentang kesehatan gigi, serta
akses ke pelayanan kesehatan gigi.10,11 Faktor risiko anak dapat dibagi dalam 3
kelompok utama yaitu faktor biologis, faktor perlindungan, dan faktor temuan
klinis.10
a. Pengalaman Karies dan Oral Hygiene anak
Hubungan antara pengalaman karies dengan perkembangan karies di masa
mendatang dapat menjadi faktor risiko karies karena gigi anak yang telah mengalami
karies cenderung memiliki jumlah bakteri kariogenik yang banyak dan dapat
menginfeksi gigi lain yang belum terinfeksi bakteri, akan tetapi risiko karies ini akan
berbeda jika gigi yang telah karies dilakukan restorasi dengan penumpatan.27

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Skor oral hygiene menjadi faktor risiko karena salah satu etiologi karies
adalah bakteri yang terakumulasi dalam plak. Semakin rendah skor oral hygiene,
maka semakin tinggi risiko karies. Pemeriksaan gigi rutin dapat membantu
mendeteksi dan memonitor masalah gigi yang berpotensi menjadi karies.27
b. Penggunaan fluor
Penggunaan fluor sebagai pencegah karies mulai digunakan sejak tahun 1878
dan dapat dibuktikan bahwa fluor mempunyai kemampuan mengubah susunan
kimiawi gigi sehingga tidak mudah larut oleh pengaruh asam.11,28 Pemberian fluor
dapat dilakukan baik secara sistemik (internal) yaitu dengan mengonsumsi minuman
yang mengandung fluor (fluoridasi air minum), atau penggunaan tablet fluor, maupun
secara lokal (eksternal) dengan kumur-kumur larutan fluor, melakukan tindakan
aplikasi fluor (topikal aplikasi), atau menggunakan pasta gigi berfluor.11
Tujuan penggunaan fluor adalah untuk melindungi gigi dari karies. Fluor
bekerja dengan cara menghambat metabolisme plak yang dapat memfermentasi
karbohidrat melalui perubahan hidroksil apatit pada enamel menjadi fluor apatit.17
Berdasarkan penelitian Richard dkk, di Amerika Serikat hampir 100% anak yang
mendapat paparan fluor tidak memiliki karies, sedangkan 92,6% anak yang tidak
mendapatkan paparan fluor memiliki karies.18
c. Perilaku diet
Anak dengan ECC/S-ECC diindikasikan sering mengonsumsi makanan atau
minuman manis. Minuman atau makanan manis dimetabolisme oleh S. mutans dan
Lactobacillus menjadi asam organik yang dapat membuat proses demineralisasi
enamel dan dentin. Penggunaan botol susu juga meningkatkan pengalaman
terpaparnya laktosa.12 Penelitian Hugar dkk. menyatakan bahwa 91,4% anak terkena
karies karena orang tua yang sering memberikan susu pada anak.29 Frekuensi serta
banyaknya makanan/minuman yang dikonsumsi antara makan utama akan
memengaruh karies anak karena proses demineralisasi gigi yang terjadi sesudah
makan.10,30,31
Konsumsi susu botol sebelum tidur juga menjadi kebiasaan yang dapat
meningkatkan risiko karies.8,29 Anak atau orang tua yang tidak membersihkan mulut

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


setelah meminum susu akan membuat pH rongga mulut menjadi lebih asam karena
pada saat tidur laju alir saliva lebih rendah, sehingga kemampuan saliva untuk
melakukan cleansing dan sebagai penyeimbang pH akan berkurang dan risiko karies
pun menjadi lebih tinggi. Orang tua juga biasanya memberikan susu botol sebagai
pengantar tidur anak sampai anak tertidur. Hasil penelitian Hugar dkk juga
mendapatkan bahwa 88,2% anak terkena karies karena orang tua yang membiarkan
anaknya mengonsumsi susu sebelum tidur.29
d. Status sosial ekonomi
Status sosial ekonomi keluarga dapat dipertimbangkan melalui tingkat
pendidikan dan penghasilan antara suami istri yang dapat memengaruhi kesehatan
gigi dan mulut termasuk karies.32 Orang yang memiliki pendidikan tinggi biasanya
mengerti dan peduli pada pola hidup sehat. Orang tua biasanya mengajarkan serta
menerapkan kebiasaan menyikat gigi dari kecil serta memberikan makanan sehat
yang ikut menunjang kesehatan gigi dan mulut anak.33
Status nutrisi dan perawatan dental membutuhkan biaya khusus sehingga
penghasilan orang tua juga berpengaruh pada risiko karies anak. Di Sri Lanka,
prevalensi anak yang karies dengan ibu yang memiliki pekerjaan dan tidak memiliki
pekerjaan sekitar 15,1% dan 84,9%, sedangkan di India, ditemukan bahwa 53,2%
anak mengalami ECC pada keluarga yang berpenghasilan rendah.34,35 Mahalnya
perawatan dental dan kurangnya kepedulian orang tua pada keluhan sakit gigi anak
menyebabkan gigi anak menjadi tidak teratasi, sehingga tingkat keparahan karies ikut
meningkat.34 Anak dengan status sosial ekonomi keluarga baik pada tingkat
pendidikan maupun tingkat penghasilan cenderung memiliki pengalaman karies yang
rendah dibandingkan dengan anak dengan status sosial ekonomi keluarga menengah
ke bawah.34 Hasil tersebut tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Richard
dkk di Amerika Serikat, 100% anak yang memiliki karies berasal dari status sosial
ekonomi keluarga rendah dan 97,5% tidak memiliki karies. Dapat dilihat dari hasil
persentase tersebut, bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara pengalaman karies
dan status sosial ekonomi keluarga rendah.18

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


e. Karies aktif yang dimiliki oleh ibu
Pengalaman karies anak juga dapat dikaitkan dengan ibu atau saudara
kandung yang memiliki tingkat karies yang parah dianggap sebagai risiko
meningkatnya keparahan karies anak.36 Perilaku kesehatan ibu, kepribadian ibu, usia,
budaya, etnis, serta latar pendidikan ibu dapat berdampak pada kesehatan mulut anak
nya.37
Perlunya mengetahui tahapan karies aktif pada ibu penting karena pada
beberapa penelitiaan ditemukan ibu yang sedang mengalami karies aktif memiliki
jumlah bakteri S.mutans dan Lactobacillus sp yang sedang meningkat. Penelitian
yang dilakukan Ayiliath dkk menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan
terhadap tingkat S.mutans dan Lactobacillus antara ibu dan anak. Aktifitas yang
intens antara ibu dan anak menyebabkan bakteri mudah bertransmisi dari mulut ke
mulut. Penelitian tersebut juga mendapatkan hasil bahwa 45% anak terkena karies
karena ibunya memiliki karies aktif dibandingkan dengan anak dengan ibu yang tidak
memiliki karies aktif.38 Hubungan transmisi karies ini juga dapat diteliti dengan
melihat pengalaman karies ibu dengan karies yang dimiliki anak, semakin besar skor
DMFT ibu maka semakin tinggi prevalensi karies yang dialami oleh anak.38
Penelitian yang dilakukan Maharani dkk. mendapatkan anak-anak di Serpong
memiliki karies, 90% memiliki ibu dengan skor DMF-T 7,8. Para ibu tidak pernah
mengecek kesehatan gigi anak, tidak mengetahui bahwa karies merupakan penyakit
menular dan sering menggunakan peralatan makan yang sama.39 Pada penelitian
Bruce dkk di Amerika, dari 30% ibu yang memiliki pengalaman karies tinggi yaitu
lebih dari 6 permukaan gigi karies, 18% anak mengalami S-ECC. Ibu yang memilki
pengalaman karies tinggi merupakan indikator kuat bagi anak mereka untuk memiliki
pengalaman karies tinggi juga.40

2.5 Dampak ECC dan S-ECC


ECC dan S-ECC yang tidak ditangani dapat menyebabkan tebentuknya
proses, nyeri, maloklusi, serta terganggunya keadaan psikososial.2 Kesehatan rongga
mulut juga memengaruhi fisik dan psikologi, serta memengaruhi pertumbuhan,

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


penampilan, fungsi berbicara, fungsi penelanan, fungsi pengecapan, dan keadaan
sosial anak. Kualitas hidup anak dapat sangat dipengaruhi oleh karies karena nyeri
dan ketidaknyamanan yang dapat menyebabkan infeksi akut dan kronis,
terganggunya proses makan dan tidur, dirawat di rumah sakit, biaya perawatan mahal,
dan anak tidak ke sekolah akibat berkurangnya kemampuan untuk belajar. Anak
dengan ECC dan S-ECC memiliki hubungan dengan terhambatnya pertumbuhan dan
berkurangnya berat badan akibat konsumsi makanan yang tidak adekuat sehingga
proses metabolisme dan pertumbuhan terganggu pada anak kurang dari dua tahun.
Pada anak yang berusia sekitar tiga tahun dengan S-ECC memiliki berat badan
kurang satu kilogram lebih rendah daripada anak yang tidak menderita S-ECC,
karena nyeri pada gigi mengubah kebiasaan makan dan tidur, konsumsi makanan dan
proses metabolisme. Terganggunya tidur menyebabkan produksi glukosteroid,
penekanan jumlah hemoglobin karena berkurangnya produksi eritrosit. Kehilangan
gigi akibat karies dapat dihubungkan dengan kegagalan perkembangan anak,
perkembangan berbicara, tidak dapat berkonsentrasi di sekolah, dan mengurangi rasa
percaya diri.12
Terdapat perbedaan signifikan pada variabel yang berhubungan dengan S-
ECC, yaitu kebiasaan anak tidur saat meminum susu, jumlah waktu tidur anak pada
malam hari, dan penyikatan gigi pada malam hari. Tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara terjadinya S-ECC metode pemberian susu, durasi meminum susu,
dan tingkat pendidikan orang tua. Vejdani, dkk. melakukan penelitian tentang
pengukuran faktor risiko S-ECC pada 267 anak berusia dua sampai tiga tahun di
Rahst yang dibagi menjadi dua kelompok dimana 89 anak menderita S-ECC dan 178
anak bebas karies mendapatkan hasil bahwa anak yang pada kelompok yang
didiagnosa S-ECC lebih sering bangun pada malam hari daripada anak yang bebas
karies.2

2.6 Pencegahan ECC dan S-ECC


Karies merupakan penyakit infeksi yang ditransfer dari ibu ke anak. S mutans
ditransmisi secara vertikal dari ibu ke anak atau pengasuh dari kontak saliva,

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


sehingga penting untuk memperhatikan kondisi gigi ibu atau pengasuh anak sehingga
transmisi ke anak dapat dicegah. Penelitian menyatakan bahwa ibu dengan karies
yang tidak dirawat memiliki risiko lebih besar untuk menularkan S mutans pada bayi
yang baru lahir. Intervensi pencegahan pada ibu harus diperhatikan untuk mengurangi
translokasi bakteri dari ibu ke anak agar kesehatan rongga mulut anak lebih terjaga.41
Penyikatan gigi anak sejak dini dapat menjaga oral hygiene dan melindungi
gigi desidui dari terbentuknya karies. Gigi desidui yang sehat menghasilkan gigi
permanen yang sehat. Penyikatan gigi yang tepat dan menggunakan pasta gigi
membuat gigi anak lebih kebal terhadap karies. Kebiasaan menyikat gigi dengan
penekanan pada pemegangan sikat gigi penting dalam pencegahan karies. Sulit untuk
melatih anak yang lebih muda, namun saat bertambahnya usia hal tersebut menjadi
lebih mudah untuk dipraktikkan, itu menjadi tanggung jawab orang yang lebih
dewasa untuk membersihkan gigi dan memegang sikat gigi dengan tepat. Beberapa
penelitian melaporkan bahwa anak seharusnya sudah dapat menyikat gigi secara
mandiri sejak usia dua tahun.41
Mencegah berkembangnya ECC/S-ECC, AAPD menganjurkan tenaga
profesional dalam kegiatan pencegahan untuk menurunkan jumlah S mutans pada ibu
agar mencegah transmisi bakteri kariogenik pada anak, bayi tidak boleh tidur sambil
meminum susu mengandung karbohidrat dari botol, menjaga oral hygiene sejak
erupsi gigi desidui pertama dan penggunaan pasta gigi berfluoride serta orangtua
sebaiknya mengajarkan bayi untuk minum dari gelas sejak ulang tahun pertama.
Intervensi pencegahan hingga usia enam bulan menunjukkan proporsi gigi dengan
karies baru berkurang hingga 52% pada gigi desidui dan 39% pada gigi permanen
anak. Persentase terbentuknya karies baru dan restorasi baru pada gigi desidui dan
permanen berkurang 25,4% hingga 53,2%.41

2.7 Pengukuran Faktor Risiko Karies


Pengukuran faktor risiko karies merupakan estimasi seberapa besar seseorang
di masa yang akan datang terkena karies. Pengukuran faktor risiko karies individu
merupakan langkah pertama dan merupakan bagian penting dalam memberikan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


perawatan yang komprehensif bagi bayi dengan mengidentifikasi karakteristik yang
dapat membantu para klinisi untuk mengerti tingkat individu terkena karies.14
Terdapat beberapa pengukuran faktor risiko karies yaitu CAMBRA, Kariogram, TL-
M, ADA, dan AAPD.

2.7.1 Caries Risk Management by Risk Assessment (CAMBRA)


Pengukuran faktor risiko karies dengan metode CAMBRA merupakan salah
satu metodologi yang digunakan oleh klinisi untuk mengidentifikasi penyebab karies
dengan melihat faktor risiko per individu. Berdasarkan adanya faktor risiko, klinisi
dapat merekomendasikan perawatan yang spesifik dan tepat yang mencakup
kebiasaan, komponen kimia, dan dengan prosedur minimal invasif.13
Terdapat dua form CAMBRA, yaitu untuk usia enam tahun ke atas dan untuk
bayi berusia 0-5 tahun. Pada form untuk bayi berusia 0-5 tahun, yang nantinya akan
dikategorikan risiko rendah, sedang, tinggi, dan ekstrim yang berisi:
a. Caries disease indicator, berisi observasi yang mengidentifikasikan ada
atau tidaknya gejala atau lingkungan yang menandakan anak akan terkena karies,
misalnya, restorasi, status sosial ekonomi dengan cara mewawancarai ibu.
b. Caries risk factor (biologis), mencakup frekuensi mengonsumsi makanan
manis, kebiasaan tidur, obat-obatan yang dapat mengurangi laju alir saliva, dan
penggunaan botol susu dengan cara mewawancarai ibu.
c. Protective factor (nonbiologis), prosedur kontrol plak anak dengan
melihat apakah rutin menyikat gigi dengan pasta gigi fluor, atau pengaplikasian fluor
secara berkala, xylitol, dan kalsium fosfat dengan cara mewawancarai ibu.
d. Caries disease indicators and clinical examination, pemeriksaan klinis
untuk mengobservasi adanya white spot atau dekalsifikasi, kuantitas plak, pendarahan
gingiva, mulut kering, atau perawatan ortodonti.14
Penelitian Kudlure MS, dkk tentang penggunaan CAMBRA sebagai metode
pengukuran tingkat risiko karies pada anak usia 12-13 tahun mendapat hasil bahwa
19,44% diklasifikasikan risiko rendah, 22,22% berisiko sedang, dan 58,33% berisiko

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


tinggi. CAMBRA memiliki hasil yang valid dan dapat memprediksi risiko karies
pada 72 anak yang digunakan sebagai sampel.42

2.7.2 Kariogram
Kariogram merupakan pengukuran faktor risiko karies menggunakan ilustrasi
grafis berbentuk diagram bulat per individu yang menilai:
a. Pengalaman karies, merupakan skor dmft anak.
b. Penyakit lainnya, merupakan penyakit yang berhubungan dengan
terjadinya karies, yang memuat informasi tentang perawatan medis dan obat-obatan
yang dikonsumsi.
c. Jenis diet, estimasi makanan kariogenik yang dikonsumsi anak.
d. Frekuensi diet, estimasi jumlah makanan kariogenik yang dikonsumsi anak.
e. Bakteri S mutans, uji jumlah bakteri S mutans yang diisolasi dari plak.
f. Program fluoride, tentang program fluoride yang dilakukan oleh pasien.
g. Sekresi saliva, dinilai dari laju alir saliva.
h. Kapasitas buffer saliva.
i. Clinical judgement.15
Pernilla LH, dkk meneliti tentang tingkat risiko karies pada anak pra sekolah
sebanyak 125 orang mendapat hasil bahwa anak memiliki kesempatan rendah (0-
20%) untuk mencegah karies baru. Terdapat perbedaan signifikan pada anak usia
tujuh tahun dengan anak pada grup kontrol yang memiliki risiko karies rendah.43
Penelitian Bratthall D, dkk (2005) yang melakukan penelitian tentang tingkat
risiko karies pada 438 anak, menyatakan bahwa kariogram dapat mengelompokkan
risiko per individu menjadi risiko kelompok yang mencerminkan risiko karies secara
signifikan. Selain itu, kariogram juga dapat mengidentifikasikan pencegahan dan
perawatan yang tepat bagi para klinisi dalam merawat pasien.44

2.7.3 Traffic Light Matrix (TL-M)


Traffic light matrix merupakan pengukuran faktor risiko karies berdasarkan
sembilan belas kriteria dengan lima kategori yang berbeda mencakup saliva (6
kriteria), plak (3 kriteria), diet (2 kriteria), fluoride (3 kriteria), dan faktor yang

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


memodifikasi (5 kriteria). Lampu yang terdapat pada TL-M jika menunjukkan
berwarna merah merupakan risiko tinggi, kuning merupakan risiko sedang, dan hijau
merupakan risiko rendah. Kategori-kategori tersebut dapat dilihat dengan melakukan
penilaian, antara lain :
a. Saliva, tidak distimulasi (viskositas, pH), stimulasi (jumlah, pH, dan
kapasitas buffer)
b. Plak mencakup pH dan bakteri (pengukuran jumlah S mutans)
c. Diet, jumlah gula dan asam yang dikonsumsi di antara jam makan.
d. Penggunaan fluor
e. Faktor yang memodifikasi, seperti obat-obatan yang memengaruhi laju alir
saliva, penyebab mulut kering, dan alat ortodonti.15

2.7.4 Pengukuran Faktor Risiko Karies Menurut American Dental


Association (ADA)
Pengukuran faktor risiko karies berdasarkan form yang diterbitkan oleh ADA
untuk anak usia 0-6 tahun menilai tiga kondisi, yaitu kondisi yang mengkontribusi,
kondisi kesehatan umum pasien, dan kondisi klinis.13
a. Kondisi yang berkontribusi (contributing conditions), menilai program
fluoride, jenis diet (mencakup jus, soft drink) baik yang tidak berkarbonat maupun
berkarbonat, program pemerintah, pengalaman karies ibu atau pengasuh bayi, riwayat
pasien ke dokter gigi. Pengambilan data diperoleh dengan proses wawancara.13
b. Kondisi kesehatan umum, meliputi kondisi fisik, mental yang dapat
menghambat proses pemeliharaan oral hygiene pasien atau ibu, dilakukan dengan
proses wawancara.13
c. Kondisi klinis, meliputi pemeriksaan visual atau radiografi mengenai ada
atau tidaknya restorasi dan lesi kavitas, lesi non-kavitas, kehilangan gigi akibat
karies, plak yang terlihat, perawatan ortodonti, dan laju alir saliva.13
Risiko karies akan dikategorikan menjadi risiko rendah, sedang, dan tinggi.
Penetapan kategori sesuai dengan form. Pemberian instruksi ke pada ibu atau
pengasuh bayi dilakukan setelah analisis.13

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.7.5 Pengukuran Faktor Risiko Karies Menurut American Academy
Pediatric Dentistry (AAPD)
AAPD telah menetapkan pengukuran risiko karies yang dapat digunakan oleh
klinisi untuk dapat menetapkan rencana perawatan sesuai dengan tingkat risiko karies
anak per individu. Penilaian faktor risiko karies pada anak menurut AAPD
berdasarkan atas tiga bagian besar indikator karies, yaitu:
a. Kondisi Klinis
1. Pengalaman karies
Pengalaman karies sebelumnya merupakan suatu indikator yang kuat untuk
menentukan terjadinya karies di masa yang akan datang. Li and Wang mengatakan
bahwa anak yang mempunyai karies pada gigi sulung mempunyai kecenderungan tiga
kali lebih besar untuk terjadinya karies pada gigi permanen. Penemuan klinik yang
dapat dilihat pada anak yang berisiko karies tinggi adalah terjadi karies yang baru
pada setiap kunjungan berkala, ekstraksi gigi yang prematur, terdapat lebih dari satu
area demineralisasi enamel (white spot), adanya enamel hipoplasia, tingginya
proporsi S. mutans, penggunaan alat kedokteran gigi seperti alat ortodonti ataupun
gigi palsu. Alat yang dapat digunakan untuk mengetahui aktivitas karies adalah
kariostat, dengan perubahan pH terlihat perubahan warna media sehingga diketahui
urutan aktivitas karies, dari aktivitas karies tidak aktif sampai yang aktif berat. Karies
dini dapat dideteksi dengan menggunakan quantitative light fluorescence (QLF),
infrared laser fluorescence (DIAGNOdent) untuk permukaan oklusal dan permukaan
halus dan digital imaging fiber optic trasillumination (DIFOTI) untuk daerah
approksimal.17
2. Kontrol plak
Plak yang menempel erat di permukaan gigi dapat dipakai sebagai indikator
kebersihan mulut. Indikator kebersihan mulut pada anak yang lebih sederhana dapat
digunakan oral hygiene index simplified (OHIS) dari Green dan Vermillon. Skor
indeks OHIS adalah skor 0,0–1,2 dikatakan kebersihan mulut baik, skor 1,3–3,0
kebersihan mulut sedang dan 3,1–6,0 kebersihan mulut buruk. Anak yang berisiko

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


karies tinggi mempunyai oral hygiene yang buruk ditandai dengan adanya plak pada
gigi anterior disebabkan jarang melakukan kontrol plak.17
3. Saliva
Fungsi saliva adalah sebagai pelicin, pelindung, buffer, pembersih, anti pelarut
dan antibakteri. Faktor yang ada dalam saliva yang berhubungan dengan karies antara
lain adalah aksi penyangga dari saliva, komposisi kimiawi, aliran (flow), viskositas
dan faktor anti bakteri. Anak yang berisiko karies tinggi memiliki aliran saliva yang
rendah dimana tingkat unstimulated salivary flow (USF) < 0,1 ml per menit dan
stimulated salivary flow (SSF) < 0,5 ml per menit. Hal ini bisa disebabkan oleh
penyakit sistemik maupun terapi sinar, kapasitas buffer yang rendah ditandai dengan
test buffer yang menggunakan Dentofuff strip didapat pH ≤ 4 dan tingginya S. mutans
diukur dengan menggunakan teknik strip mutans (Dentocult-SM) didapat koloni unit
S. mutans > 1 × 106 per ml saliva dan Lactobacilus diukur dengan menggunakan
Dentocult-LB pada saliva.17

b. Karakteristik Lingkungan
1. Penggunaan fluor
Tujuan penggunaan fluor adalah untuk melindungi gigi dari karies. Fluor
bekerja dengan cara menghambat metabolisme bakteri plak yang dapat
memfermentasi karbohidrat melalui perubahan hidroksil apatit pada enamel menjadi
fluor apatit. Reaksi kimia: Ca10(PO4)6.(OH)2 + F → Ca10(PO4)6.(OHF)
menghasilkan enamel yang lebih tahan terhadap asam sehingga dapat menghambat
proses demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi yang merangsang perbaikan
dan penghentian lesi karies. Pada anak yang berisiko karies tinggi dilaporkan bahwa
penggunaan fluor ini hampir tidak ada.17

2. Riwayat sosial
Banyak penelitian menunjukkan bahwa prevalensi karies lebih tinggi pada
anak yang berasal dari status sosial ekonomi rendah. Faktor-faktor yang dapat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


menyebabkan hal tersebut adalah lebih banyak mengonsumsi makanan yang bersifat
kariogenik, rendahnya pengetahuan akan kesehatan gigi dapat dilihat dari kesehatan
mulut yang buruk, karies tinggi pada keluarga (karies aktif pada ibu), jarang
melakukan kunjungan ke dokter gigi sehingga banyak karies gigi yang tidak
dirawat.17
3. Kebiasaan makan
Penelitian Vipeholm (1945–1953) menyimpulkan bahwa konsumsi makanan
dan minuman yang mengandung gula di antara jam makan dan pada saat makan
berhubungan dengan peningkatan karies yang besar. Faktor makanan yang
dihubungkan dengan terjadinya karies adalah jumlah fermentasi, konsentrasi dan
bentuk fisik (bentuk cair, tepung, padat) dari karbohidrat yang dikonsumsi, retensi di
mulut, frekuensi makan dan snacks serta lamanya interval waktu makan. Anak yang
berisiko karies tinggi sering mengonsumsi makanan minuman manis di antara jam
makan.17

c. Kesehatan umum
Kondisi kesehatan pada anak sangat berpengaruh pada risiko karies. Anak
dengan ketidakmampuan mental atau cacat fisik terutama cacat tangan memerlukan
perhatian khusus secara terus menerus disebabkan anak ini mempunyai keterbatasan
untuk melaksanakan prosedur membersihkan mulutnya dan membutuhkan bantuan
dari orang lain. Ketergantungan anak pada orang lain meningkatkan faktor
predisposisi terjadi karies tinggi. Pada anak yang mempunyai penyakit sistemik yang
tidak terkontrol dapat mengakibatkan perubahan pada rongga mulut dan kondisi
saliva baik dari segi komposisi maupun aliran saliva. Hal ini akan mengakibatkan
tingkat karies anak menjadi lebih tinggi.17
Pada penelitian Richard K, dkk (2014) yang membandingkan 4 pendeketan
pengukuran tingkat risiko karies yaitu, caries risk assessment tool (CAT) dari AAPD,
CAT tanpa status sosial ekonomi, CAT tanpa status sosial ekonomi dan ditambah
status S. mutans, dan hanya jumlah S mutans saja, mendapat hasil bahwa CAT dari

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


AAPD ditambah dengan jumlah S. mutans dan tanpa status sosial ekonomi memiliki
tingkat akurasi yang lebih tinggi.18
Selain itu, AAPD juga telah mengeluarkan faktor penilian faktor risiko karies
untuk anak usia 0-3 tahun (Tabel 1). Faktor yang akan dinilai adalah:
a. Faktor biologis, menilai pengalaman karies ibu atau pengasuh, kondisi
sosial ekonomi, kebiasaan makan makanan manis, kebiasaan minum susu, dan
penyakit sistemik
b. Faktor perlindungan, menilai tentang program fluoride dengan cara kontrol
plak.
c. Kondisi klinis, melihat lesi kavitas maupun non kavitas serta plak pada
gigi.

Tabel.1 Penilaian Risiko Karies untuk Usia 0-3 Tahun1


Faktor Risiko Risiko
Tinggi Rendah
BIOLOGIS:
a. Ibu/pengasuh utama memiliki karies aktif Ya
b. Orangtua/pengasuh memiliki status sosial eknomi Ya
rendah Ya
c. Anak yang memiliki konsumsi makanan ringan atau
minuman manis lebih dari 3 kali/hari Ya
d. Anak yang meminum susu botol sebelum tidur dengan
susu murni atau ada penambahan gula Ya
e. Anak yang memiliki penyakit sistemik Ya
f. Anak yang baru berimigrasi

PERLINDUNGAN:
a. Anak yang menerima air minum yang mengandung Ya
fluor atau suplemen fluor secara optimal
b. Anak yang menggosok gigi setiap hari dengan pasta Ya
gigi fluoride
c. Anak yang menerima topikal aplikasi fluor dari tenaga Ya
kesehatan professional
d. Anak yang memelihara kesehatan gigi secara teratur Ya

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lanjutan
Faktor Risiko Risiko
Tinggi Rendah
PENEMUAN KLINIS:
a. Anak yang memiliki lesi white spot dan defek enamel Ya
b. Anak yang memiliki kavitas dan tambalan Ya
c. Anak yang memiliki plak pada gigi Ya

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.8 Kerangka Teori

ECC / S-ECC

Etiologi Faktor Risiko Dampak Pencegahan

Pengukuran
Faktor Risiko

ADA KARIOGRAM AAPD TL-M CAMBRA

Biologis Perlindungan Penemuan Klinis

Risiko Rendah
Risiko Tinggi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.9 Kerangka Konsep

Biologis

Risiko Rendah

Penilaian Faktor Perlindungan


Risiko Karies
Menurut AAPD

Penemuan Klinis
Risiko Tinggi

Usia

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang dilakukan yaitu penelitian analitik observasi dengan
desain cross sectional.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia. Waktu
penelitian direncanakan dimulai bulan Oktober 2016 sampai Oktober 2017.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi dari kecamatan yang ada dari Kecamatan Medan Baru dan Medan
Polonia. Populasi dalam penelitian ini adalah anak berusia dibawah 2 tahun, beserta
ibunya. Sampel pada penelitian ini adalah anak berusia dibawah 2 tahun di
Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu dengan dasar suatu
pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri berdasarkan ciri atau sifat
yang dapat memberi informasi yang memadai untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Jumlah sampel diperoleh dengan menggunakan rumus uji hipotesis untuk
proporsi tunggal (two tail). Alasan pemilihan rumus ini karena digunakan untuk
analitik observasi, variabel yang diuji kategorik, dan populasinya tunggal.

2
�𝑍𝑍𝑍𝑍/2�𝑃𝑃𝑃𝑃(1 − 𝑃𝑃𝑃𝑃) + 𝑍𝑍1 − 𝛽𝛽�𝑃𝑃𝑃𝑃(1 − 𝑃𝑃𝑃𝑃))�
𝑛𝑛 =
(𝑃𝑃𝑃𝑃 − 𝑃𝑃𝑃𝑃)2
Keterangan:
n : besar sampel
Zα/2 : nilai Z pada derajat kepercayaan tertentu

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Z1- β : nilai Z pada kekuatan uji tertentu
Po : proporsi yang diteliti (dari pustaka yang ada, atau dari penelitian pendahulu)
Pa : proporsi alternatif /taksiran proporsi yang sesungguhnya

2
�1,96 �0,3(1 − 0,3) + 1,28�0,2(1 − 0,2))�
n=
(0,3 − 0,2)2
n =196
Keterangan:
n : besar sampel
Zα/2 : 1,96 dari α = 0,05 ;kepastian 95%
Z1- β : 1,28 nilai β = 0,1 ; kekuatan uji 90%
Po : 0,3 ; penelitian sebelumnya (Penelitian di Amerika Serikat 30%)18
Pa : 20% ; proporsi alternatif /taksiran proporsi yang sesungguhnya
Besar sampel pada penelitian ini adalah minimal 196 orang anak dan ibunya,
untuk menghindari drop out ditambah 10% menjadi 216.
Kriteria Inklusi:
1. Anak yang gigi insisif anterior atas sudah erupsi sempurna minimal 2 gigi
2. Anak berusia dibawah 2 tahun
3. Ibu yang setuju dijadikan sampel
4. Anak sehat jasmani dan mental
Kriteria Ekslusi:
1. Anak yang menolak untuk diperiksa

3.4 Variabel-variabel penelitian dan Definisi operasional


3.4.1 Variabel Penelitian
a) Variabel dependen pada penelitian ini adalah pengalaman karies anak,
prevalensi non-S-ECC, prevalensi S-ECC
b) Variabel independen pada penelitian ini adalah jenis kelamin, ekonomi
keluarga, pengalaman karies ibu dan anak, penilaian risiko karies.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


3.4.2 Definisi Operasional

Tabel.2 Definisi Operasional


Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Skala
Ukur Ukur

Prevalensi Jumlah anak selain S- Pemeriksaan 1.Sonde Persen- Rasio


non-S- ECC (ECC dan bebas 2.Kaca mulut tase
ECC karies) dibagi jumlah 3.Pinset anak
anak yang diperiksa 4.Ekskavator
non-
dikali 100%. ECC adalah
anak yng memiliki 1 atau S-ECC
lebih deft. Bebas karies
adalah anak yang
memiliki skor deft 0
Prevalensi Jumlah anak yang Pemeriksaan 1.Sonde Persen- Rasio
S-ECC memiliki 1 atau lebih def 2.Kaca mulut tase
pada permukaan halus 3.Pinset anak
pada gigi dibagi jumlah 4.Ekskavator
S-ECC
anak yang diperiksa dikali
100%
Pengala- Jumlah deft anak Pemeriksaan 1.Sonde Skor Rasio
man menggunakan indeks 2.Kaca mulut deft
karies AAPD. 3.Pinset
anak - d (decay) yaitu gigi yang 4.Ekskavator
mengalami karies berupa
kavitas maupun non-
kavitas
- e (extracted) yaitu gigi
yang hilang karena karies
- f (filling) yaitu gigi yang
ditambal dengan keadaan
tumpatan yang baik
Kemungkinan pada anak
dibawah usia 2 tahun
tidak memiliki nilai e

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Skala
Ukur Ukur

Pengala- Jumlah DMFT ibu Pemeriksaan 1.Sonde Skor Rasio


man menggunakan indeks 2.Kaca mulut DMFT
karies ibu Klein. 3.Pinset
- D (Decay) yaitu gigi 4.Ekskavator
yang mengalami karies
yang masih bisa ditambal
- M (Missing) yaitu gigi
permanen yang telah
hilang (Me) atau harus
dicabut karena karies (Mi)
- F (Filling) yaitu gigi
yang ditambal dengan
kedaan tumpatan yang
baik

Usia anak Anak usia dibawah 2 Wawancara Kuesioner Usia Nomin-


tahun sesuai tanggal lahir anak al
sampai waktu
pemeriksaan kurang 1
hari dari usia 2 tahun
Penilaian Menilai besar atau Pemeriksaan Tabel 1.Risi- Ordinal
risiko kecilnya risiko mengalami penilaian ko
karies karies dilihat dari faktor risiko karies tinggi
menurut biologis, perlindungan
2.Risi-
CAT dan penemuan klinis.
AAPD ko
rendah

Jenis Tanda fisik yang Pengamatan Kuesioner 1.Laki- Nomin-


kelamin teridentifikasi dan dibawa laki al
sejak lahir 2.Pe-
rempu-
an

Ekonomi Total pendapatan Wawancara Kuesioner 1.Eko- Ordinal


keluarga orangtua pertahun dalam nomi
satuan rupiah dibagi rendah
jumlah anggota keluarga
<Rp.4.
dengan pengeluaran rata-
rata perkapita setahun 685.00
(BPS September 2016) 0/bulan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2.Eko-
nomi
tinggi

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Skala


Ukur Ukur

Rp.4.6
85.00/
bulan

Konsumsi Banyaknya jumlah Wawancara Kuesioner 1.Ya Nomin-


makanan mengonsumsi makanan al
ringan (biskuit,cokelat) atau 2.Tidak
atau minuman (teh manis, jus)
minuman dalam sehari
manis > 3
kali sehari
Mengonsu Pemberian susu sebelum Wawancara Kuesioner 1.Ya Nomin-
m-si susu tidur dengan atau tanpa al
sebagai penambahan gula, madu 2.Tidak
pengantar atau pemanis lainnya pada
tidur atau susu.
penamba-
han bahan
pemanis
atau tidak
Butuh Anak yang memiliki Wawancara Kuesioner - Ya Nomin-
perawatan penyakit sistemik, cacat al
kesehatan mental atau cacat fisik
khusus - Tidak
Anak dan Anak dan ibu yang baru Wawancara Kuesioner - Ya Nomin-
ibu baru berpindah dari satu daerah al
berimigra ke daerah lain dalam 1 - Tidak
si tahun

Menerima Air yang memiliki kadar Wawancara Kuesioner - Ya Nomin-


air yang kandungan fluor paling al
mengandu sedikit 500 ppm atau
ng fluor meminum tablet fluor - Tidak
atau
mengonsu
m- si
tablet
fluor

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Skala
Ukur Ukur

Meng- Suatu perlakuan Wawancara Kuesioner - Ya Nomin-


gosok gigi membersihkan gigi al
setiap hari dengan bulu sikat - Tidak
dengan menggunakan pasta gigi
pasta gigi mengandung fluor yang
berfluor dilakukan 2 kali sehari
yaitu pagi setelah makan
dan malam sebelum tidur
secara teratur
Menerima Anak yang mendapatkan Wawancara Kuesioner - Ya Nomin-
topikal pemberian topikal aplikasi al
aplikasi fluor dari dokter gigi - Tidak
fluor dari
tenaga
kesehatan
Pemeriks- Kegiatan melakukan Wawancara Kuesioner - Ya Nomin-
aan gigi pemeriksaan gigi rutin al
secara minimal 6 bulan sekali - Tidak
rutin
Mem- Anak yang memiliki lesi Pemeriksaan Pinset - Ya Nomin-
punyai berwarna putih opak pada klinis Sonde al
white spot permukaan gigi atau Kaca mulut - Tidak
atau defek karies Ekskavator
enamel Pus-pus
Memiliki Anak memiliki plak yang Pemeriksaan 0= Ordinal
plak gigi terlihat oleh mata klinis Tidak
ada
plak
1=
Terdap
at plak
tipis
2=
Terdap
at plak
tebal

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


3.5 Cara Pengambilan Data
Prosedur penelitian adalah sebagai berikut:
1. Meminta izin kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk pengambilan
data di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia. Pengambilan data dilakukan
pada anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia.
2. Pengambilan data dilakukan di Kecamatan Medan Baru dan Medan
Polonia, dengan terlebih dahulu memberikan informed consent kepada ibu.
3. Kemudian dilakukan pemeriksaan klinis menggunakan sonde, kaca mulut,
dan senter sebagai penerangan. Cara pemeriksaan yaitu memeriksa keadaan rongga
mulut anak yang menjadi sampel apakah terdapat karies dan kebersihan rongga mulut
anak dengan pemeriksaan plak. Lalu, dilakukan pemeriksaan keadaan rongga mulut
ibu untuk melihat skor DMFT ibu.
4. Dilakukan wawancara terhadap ibu dengan menggunakan tabel penilaian
risiko karies menurut AAPD untuk mendapatkan data mengenai risiko karies rendah,
sedang, atau risiko karies tinggi pada anak.

3.6 Pengolahan dan Analisis Data


3.6.1 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer. Pengolahan data
meliputi:
1. Editing (pengeditan data). Editing adalah memeriksa dan meneliti kembali
kelengkapan kuesioner dan hasil pemeriksaan gigi.
2. Coding (pengkodean data). Pengisian kotak dalam daftar pertanyaan untuk
pengkodean yang berdasarkan jawaban yang telah diisikan dalam kuesioner.
3. Entry Data (pemasukan data). Data yang selesai di coding selanjutnya
dimasukkan dalam tabulasi untuk dianalisis.
4. Cleaning Data (pembersihan data). Tahap ini data yang ada ditandai
diperiksa kembali untuk mengoreksi kemungkinan suatu kesalahan yang ada.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


3.6.2 Analisis Data
Uji Chi Square digunakan untuk melihat hubungan antara penilaian risiko
karies (CAT) secara umum dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas
karies, menganalis hubungan antara elemen pada penilaian risiko karies (CAT)
dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies, melihat hubungan
antara kelompok usia dan jenis kelamin dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC),
dan bebas karies. Kolmogorov Smirnof digunakan untuk menganalisis beberapa
elemen dari penilaian risiko karies yang datanya tidak bisa diuji dengan Chi Square.
Uji Mann Whitney digunakan karena data tidak terdistribusi normal, uji ini digunakan
untuk menganalisis hubungan antara penilaian risiko karies (CAT) dengan pengalama
karies anak dan melihat hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan pengalaman
karies berdasarkan kejadian S-ECC dan ECC (non-S-ECC). Uji One Way Anova
digunakan untuk menganalisis hubungan antara pengalaman karies ibu dan
pengalaman karies anak dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas
karies. Uji Pearson digunakan untuk mengetahui korelasi antara rerata pengalaman
karies anak serta rerata pengalaman karies ibu yang memiliki anak usia dibawah 2
tahun.

3.7 Etika Penelitian


Etika penelitian mencakup:
1. Lembar Persetujuan (informed consent). Peneliti melakukan pendekatan
dan memberikan lembar persetujuan kepada responden kemudian menjelaskan lebih
dulu tujuan penelitian, tindakan yang akan dilakukan serta menjelaskan manfaat yang
diperoleh dari penelitian ini.
2. Ethical Clearance. Peneliti mengajukan lembar persetujuan pelaksanaan
penelitian kepada Komisi Etik Penelitian FK USU berdasarkan ketentuan etika yang
ada.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Karakteristik Subjek Penelitian


Subjek penelitian diambil dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Medan Baru
dan Medan Polonia. Total subjek penelitian berjumlah 216 anak yang sesuai kriteria
inklusi dan eksklusi. Subjek penelitian yang diperoleh untuk usia 8-15 bulan 57 orang
(26,39%) dan 16-23 bulan 159 orang (73,61%). Subjek penelitian yang diperoleh
pada kelompok jenis kelamin laki-laki diperoleh 114 orang (52,78%) dan perempuan
102 orang (47,22%) dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik Sampel

Karakteristik Anak n (%)


Usia
8-15 bulan 57 (26,39)
16-23 bulan 159 (73,61)
Jenis Kelamin
Laki-laki 114 (52,78)
Perempuan 102 (47,22)
Pengalaman Karies
S-ECC 112 (51,8)
ECC 4 (1,9)
Bebas Karies 100 (46,3)

Jumlah 216 (100)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4.2 Hubungan Penilaian Risiko Karies (CAT) Secara Umum dengan
Kejadian S-ECC, dan Bebas Karies
Penilaian risiko karies (CAT) secara umum dikategorikan menjadi 2 yaitu
risiko rendah dan risiko tinggi. Pada penelitian ini digunakan data kelompok anak S-
ECC dan bebas karies, risiko tinggi paling banyak terjadi pada anak S-ECC sebesar
107 orang (95,5%), sedangkan risiko rendah sebesar 5 orang (4,5%). Risiko rendah
paling banyak terjadi pada anak bebas karies sebesar 78 orang (78%), sedangkan
risiko tinggi 22 orang (22%) (Tabel 3).
Berdasarkan hasil uji Chi-Square dari Tabel 3 dilakukan untuk mengetahui
hubungan penilaian risiko karies (CAT) secara umum dengan kejadian S-ECC dan
bebas karies. Diketahui nilai p=0,000, maka terdapat hubungan yang signifikan antara
penilaian risiko karies (CAT) secara umum dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-
ECC) dan bebas karies.

Tabel 3. Hubungan Kejadian Kelompok Anak dengan Penilaian Risiko Karies


Menurut AAPD (n=212)
Kelompok Anak N Risiko Rendah Risiko Tinggi P
n (%) n (%)
S-ECC 112 4,5 (5) 107 (95,5) 0,000*
Bebas karies 100 78 (78,0) 22 (22,0)
Total 212 83 (39,2) 133 (60,8)
*Keterangan: uji Chi Square, p= <0,05

4.3 Hubungan Elemen Penilaian Risiko Karies (CAT) dengan Kejadian


S-ECC dan Bebas Karies
Menurut hasil statistik, terdapat beberapa faktor pada penilaian risiko karies
(CAT) yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian S-ECC dan bebas karies.
Beberapa faktor tersebut adalah ibu karies aktif (p=0,001), status ekonomi rendah
(p=0,009), mengonsumsi makanan minuman ringan lebih 3 kali sehari (0,000),
mengonsumsi susu pengantar tidur (p=0,004), anak menyikat gigi setiap hari dengan
pasta gigi fluor (p=0,040), anak memiliki white spot atau defek enamel (p=0,000),
anak yang memiliki kavitas yang terlihat atau tumpatan (p=0,000), dan anak yang

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


memiliki plak pada gigi (p=0,000). Faktor selebihnya yang berada pada penilaian
risiko tabel CAT memiliki hubungan yang tidak signifikan dengan kejadian S-ECC
dan bebas karies, diantaranya anak yang membutuhkan perawatan khusus (p=0,629),
anak dan ibu baru berimigrasi (p=0,289), anak menerima air yang mengandung fluor
(p=0,289), anak menerima topikal aplikasi fluor (p=0,344), anak diantar untuk
periksa gigi teratur (p=0,171) (Tabel 4).

Tabel 4. Hubungan Elemen Penilaian Risiko Karies dengan Kelompok Anak (n=212)
Bebas
S-ECC,
Elemen penilaian risiko karies karies, n
n (%)
(%) p

1.Ibu memiliki karies aktif


- Ya 104 (92,9) 77 (77,0) 0,001*
- Tidak 8 (7,1) 23 (23,0)
2.Status sosial ekonomi
- Rendah 85 (75,9) 59 (59,0) 0,009*
- Tidak rendah 27 (24,1) 41 (41,0)
3.Konsumsi/ngemil >3 kali/hari
- Ya 99 (88,4) 55 (55,0) 0,000*
- Tidak 13 (11,6) 45 (45,0)
4.Minum susu botol murni dengan
penambahan gula sebelum tidur
- Ya 94 (83,9) 67 (67,0) 0,004*
- Tidak 34,6 (16,1) 33 (33,0)
5.Anak membutuhkan perawatan
khusus 0,629
- Ya 2 (1,8) 1 (1,0)
- Tidak 110 (98,2) 99 (99,0)
6.Anak baru berimigrasi
- Ya 0 (0,0) 1 (1,0) 0,289
- Tidak 112 (0,0) 99 (99,0)
7. Anak yang menerima air minum
mengandung fluor atau suplemen
fluor 0,289
- Ya 0 (0) 1 (1,0)
- Tidak 112 (100) 99 (99,0)
8.Anak menggosok gigi setiap hari
dengan pasta gigi fluoride
- Ya 89 (79,5) 67 (67,0) 0,040*
- Tidak 23 (20,5) 33 (33,0)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Lanjutan Tabel 4
Elemen Penilaian Risiko Karies S-ECC, Bebas
n (%) karies, n p
(n=107) (%)
(n=98)
9.Anak yang menerima topikal
aplikasi fluor dari tenaga kesehatan
- Ya 1 (0,9) 0 (0) 0,344
- Tidak 111 (99,1) 100 (100)
10.Anak diantar untuk melakukan
pemeriksaan gigi secara teratur
- Ya 0(0) 3 (3,0) 0,065
- Tidak 112 (100) 97 (97,0)
11.Anak yang memiliki white spot
- Ya 90 (80,4) 0 (0) 0,000*
- Tidak 22 (19,6) 100 (100)
12.Anak yang memiliki kavitas dan
tambalan
- Ya 64 (57,0) 0 (0) 0,000*
- Tidak 48 (42,9) 100 (100)
13.Anak yang memiliki plak pada
gigi
- Ya 89 (79,5) 17(17,0) 0,000*
- Tidak 23 (20,5) 83 (83,0)
*Keterangan: uji Chi Square, p= <0,05

4.4 Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Kejadian S-ECC, ECC
(non-S-ECC), dan Bebas Karies
Hasil penelitian menunjukkan pada usia 8-15 bulan anak yang mengalami S-
ECC dan ECC (non-S-ECC) lebih sedikit yaitu 25 (43,9%) dan 2 orang (3,5%)
dibandingkan dengan anak bebas karies 30 orang (52,6). Sebaliknya, pada usia 16-23
bulan anak yang mengalami S-ECC dan ECC (non-S-ECC) lebih banyak
dibandingkan dengan anak bebas karies dengan hasil 87 orang (54,7%) S-ECC, 2
orang (1,2%) ECC (non-S-ECC), dan 70 (44,1%) bebas karies. Berdasarkan hasil uji
statistik, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian S-
ECC,ECC (non-S-ECC), dan bebas karies dengan nilai P=0,250 ( Tabel 5).
Pada anak laki-laki, kejadian S-ECC dan ECC (non-S-ECC) lebih banyak
persentasenya yaitu 54,4% dan 0,9% dibandingkan dengan bebas karies 44,7%.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Begitupula pada anak perempuan, persentase kejadian S-ECC, ECC ( non-S-ECC),
dan bebas kariesnya sebesar 49,0%, 2,9%, dan 48,0%. Hasil uji statistik menunjukkan
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian S-
ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies ( Tabel 5 ).

Tabel 5. Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Kejadian Anak S-ECC, ECC,
(non-S-ECC), dan Bebas Karies
ECC (non- Bebas
S-ECC
n S-ECC) Karies p
n (%)
n (%) n (%)
Usia
8-15 bulan 57 25 (43,9) 2 (3,5) 30 (52,6) 0,250
16-23bulan 159 87 (54,7) 2 (1,2) 70 (44,1)
Jenis Kelamin
Laki-laki 114 62 (54,4) 1 (0,9) 51 (44,7) 0,435
Perempuan 102 50 (49,0) 3 (2,9) 49 (48,0)
Total 216 112 (51,9) 4 (1,9) 100 (46,2)
*Keterangan: Uji Chi Square

4.5 Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Pengalaman Karies Anak
Hasil penelitian menunjukkan rerata deft usia 8-15 bulan pada kejadian S-
ECC lebih tinggi yaitu 5,24±2,24 dibandingkan dengan anak ECC (non-S-ECC) yang
memiliki rerata 2,00±1,41. Begitu juga dengan usia 16-23, rerata S-ECC lebih tinggi
dibandingkan dengan ECC (non-S-ECC) yaitu antara 4,23±1,83 dan 2,00±0,00.
Terdapat hubungan yang tidak signifikan antara usia dengan pengalaman karies anak
berdasarkan kejadian karies secara statistik karena nilai p=0,420. Anak laki-laki
memiliki rerata deft yang lebih tinggi 4,55±2,1 dibandingkan dengan anak perempuan
3,96±1,66 pada kejadian S-ECC, akan tetapi pada kejadian ECC (non-S-ECC) anak
laki-laki dan perempuan memiliki rerata deft yang sama yaitu 2,00. Nilai p pada
hubungan tersebut bernilai p=0,137 sehingga tidak terdapat hubungan yang signifkan
antara jenis kelamin dengan rerata deft berdasarkan kejadian S-ECC dan non-S-ECC
(Tabel 6).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Tabel 6. Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Pengalaman Karies S-ECC dan
ECC (non-S-ECC)
Rerata deft
Rerata deft
ECC (non-S- p
S-ECC±SD
ECC)±SD
Usia
8-15 bulan 5,24±2,24 2,00±1,41 0,420
16-23 bulan 4,23±1,83 2,00±0,00
Jenis Kelamin
Laki-laki 4,85±2,10 2,00 0,137
Perempuan 3,96±1,66 2,00±1,00
*Keterangan: Uji Chi Square

4.6 Hubungan Penilaian Risiko Menurut AAPD dengan Pengalaman


Karies Anak
Anak yang mengalami risiko rendah berjumlah 83 orang dengan deft
0,25±1,01, sedangkan anak yang berisiko tinggi berjumlah 133 orang dengan rerata
deft 3,68±2,45. Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat perbedaan rerata deft yang
signifikan antara kelompok tinggi dan berisiko rendah p (0,001) (Tabel 7).

Tabel 7. Hubungan Penilaian Risiko Karies Menurut AAPD dengan Pengalaman


Karies Anak
Penilaian Risiko n (%) Rerata deft ± SD p
Karies Anak Anak
Rendah 83 (38,42) 0,25±1,01
Tinggi 133 (48,1) 3,68 ± 2,45 0,000*
**Keterangan: Uji Mann Whitney U p= <0,05

4.7 Korelasi antara Pengalaman Karies Ibu dengan Pengalaman Karies


Anak
Hasil statistik menunjukkan terdapat hubungan antara pengalaman karies ibu
dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies dengan nilai p<0,001.
Nilai rerata DMFT ibu pada anak yang mengalami karies lebih tinggi yaitu 2,45±1,73
untuk ibu dengan anak S-ECC, dan 2,25±1,89 untuk ibu dengan anak ECC (non-S-
ECC), sedangkan rerata DMFT ibu yang anaknya masuk dalam kategori bebas karies

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


1,68±1,30. Hal serupa juga terjadi pada hubungan antara pengalaman karies anak
dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies dimana hasil uji
statistik menyatakan terdapt hubungan signifikan dengan nilai p<0,001. Rerata deft
anak pada kejadian S-ECC lebih tinggi yaitu 4,45±1,96 dibandingkan dengan anak
ECC (non-S-ECC) 2,00±0,81 (Tabel 8)

Tabel 8. Hubungan Kejadian Karies Anak dengan Pengalaman Karies Ibu dan
Pengalaman Karies Anak
Ibu
Anak
Kelompok Anak Rerata p p
Rerata deft±SD
DMFT±SD
S-ECC 2,45±1,73 0,002* 4,45±1,96 0,000*
ECC (non-S- 2,25±1,89 2,00±0,81
ECC) 1,68±1,30 0,00±0,00
Bebas Karies
*Keterangan: Uji One Way Anova, p= <0,05

Hasil uji statistik korelasi Pearson antara pengalaman karies ibu dengan
pengalaman karies anak sebesar 0,321 dan bernilai positif dengan nilai p 0,000. Hal
ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengalaman karies ibu
dengan pengalaman karies anak dan semakin tinggi rerata pengalaman karies ibu,
maka semakin tinggi jugalah rerata pengalaman karies anak. Tabel hasil uji korelasi
antara rerata pengalaman karies ibu dengan pengalaman karies anak dapat
ditunjukkan pada (Tabel 9).

Tabel 9. Korelasi antara Pengalaman Karies Ibu dengan Pengalaman Karies Anak
Pengalaman karies DMFT/deft±SD p r
Pengalaman karies anak 2,37±2,64
0,000* 0,321
Pengalaman karies ibu 2,09±1,59
**Keterangan: Uji Pearson p= <0,05

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 5

PEMBAHASAN

Penilaian risiko karies adalah penentuan kemungkinan timbulnya karies


(meliputi banyaknya jumlah lesi/kavitas) selama waktu tertentu. Kemampuan untuk
mendeteksi karies pada tahap awal dapat membantu mencegah kavitas baru. AAPD
mengeluarkan penilaian risiko karies (Caries Assessment Tool/CAT) yang bertujuan
sebagai penilaian risiko karies dan protokol manajemen yang akan membantu dokter
gigi dalam membuat keputusan mengenai perawatan berdasarkan risiko karies dan
kepatuhan pasien sebagai elemen penting dalam klinis kontemporer pada bayi, anak-
anak, dan dewasa.1
Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi anak yang mengalami karies pada
usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan Polonia sebesar 53,70%
dengan distribusi S-ECC 51,85% dan ECC (non-S-ECC) sebesar 1,85%. Penelitian
tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan di kota Medan, Kecamatan Denai
dengan persentase anak yang menderita ECC sebesar 57,7%. Namun penelitian ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Edalat dkk. di Shiraz dengan prevalensi
S-ECC 55% pada anak usia 3-6 tahun.45
Data penelitian ini menunjukkan 61,6% anak usia dibawah 2 tahun masuk
dalam kategori karies tinggi menurut hasil penilaian risiko karies (CAT) dan 38,4%
masuk kedalam kategori rendah. Hubungan antara penilaian risiko karies dengan
kejadian S-ECC dan bebas karies menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai
p=0,000 (Tabel 3). Hasil penelitian 95,5% anak S-ECC berada di risiko tinggi, hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian Farsi dkk. pada anak di Arab Saudi yang
menyatakan bahwa anak yang memiliki karies lebih berisiko tinggi berdasarkan
penilaian risiko karies CAT dibandingkan dengan anak bebas karies.46 Hasil
penelitian juga sesuai dengan penelitian di Cina yaitu 78% dengan anak S-ECC
berada di risiko tinggi dan 81% anak bebas karies berada di risiko rendah.47

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Hasil penelitian diperoleh berdasarkan elemen penilaian risiko karies yaitu
penilaian risiko ibu memiliki karies aktif memiliki hubungan dengan kejadian S-ECC
dan bebas karies dengan nilai p=0,001 (Tabel 4). Ibu yang memiliki karies aktif dan
memiliki anak dengan S-ECC berjumlah 104 orang. Hal tersebut tidak jauh berbeda
dengan penelitian Richard dkk. di Amerika Serikat, yaitu sebanyak 131 anak berasal
dari ibu yang memiliki karies aktif.18 Penelitian ini juga sama dengan penelitian yang
dilakukan Ayiliath dkk menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan terhadap
tingkat S. mutans dan Lactobacillus antara ibu dan anak. Aktivitas yang intens antara
ibu dan anak menyebabkan bakteri mudah bertransmisi dari mulut ke mulut.
Penelitian tersebut juga mendapatkan hasil bahwa 45% anak terkena karies karena
ibunya memiliki karies aktif dibandingkan dengan anak dengan ibu yang tidak
memiliki karies aktif.38 Hubungan transmisi karies ini juga dapat diteliti dengan
melihat pengalaman karies ibu dengan karies yang dimiliki anak, semakin besar skor
DMFT ibu maka semakin tinggi prevalensi karies yang dialami oleh anak.38
Berdasarkan elemen status sosial ekonomi 75,9% anak dengan S-ECC
dikategorikan pada sosial ekonomi yang rendah. Terdapat hubungan yang signifikan
antara status sosial ekonomi dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC) dan bebas
karies dengan nilai p=0,009. Status sosial ekonomi keluarga dapat dipertimbangkan
melalui tingkat pendidikan dan penghasilan antara suami istri yang dapat
memengaruhi kesehatan gigi dan mulut termasuk karies.32 Hasil penelitian ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan di Sri Lanka, prevalensi anak yang karies dengan
ibu yang memiliki pekerjaan dan tidak memiliki pekerjaan sekitar 15,1% dan 84,9%,
sedangkan di India, ditemukan bahwa 53,2% anak mengalami ECC pada keluarga
yang berpenghasilan rendah.34,35 Mahalnya perawatan gigi dan kurangnya kepedulian
orang tua pada keluhan sakit gigi anak menyebabkan gigi anak menjadi tidak teratasi,
sehingga tingkat keparahan karies ikut meningkat.34
Berdasarkan elemen konsumsi makanan dan minuman ringan yang manis
lebih dari tiga kali diluar jam makan utama sehari memiliki hubungan yang signifikan
dengan kejadian S-ECC, dan bebas karies. Hasil ini serupa dengan penelitian yang
dilakukan di Arab Saudi dan Amerika serikat.18,46 Frekuensi konsumsi makanan dan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


minuman ringan antara makanan utama memengaruhi karies anak hal ini membuat
buffer tidak bekerja dengan semestinya untuk menetralkan pH rongga mulut setelah
jam makan, sehingga rongga mulut lebih lama terpapar asam sehingga proses
demineralisasi terjadi dan tidak ada kemampuan remineralisasi.30
Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian susu malam hari sebagai
pengantar tidur tidak atau penambahan pemanis dengan kejadian S-ECC dan bebas
karies dengan nilai p=0,004. Hal tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan oleh
Hugar dkk dengan hasil 88,2% anak terkena karies karena orang tua yang
membiarkan anaknya mengonsumsi susu sebelum tidur.29 Konsumsi susu botol
sebelum tidur merupakan kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko karies.8,29 Anak
atau orang tua yang tidak membersihkan mulut setelah meminum susu akan membuat
pH rongga mulut menjadi lebih asam karena pada saat tidur laju alir saliva lebih
rendah, sehingga kemampuan saliva untuk melakukan self cleansing dan sebagai
penyeimbang pH akan berkurang dan risiko karies pun menjadi lebih tinggi.29
Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara elemen anak yang
membutuhkan perawatan khusus dengan S-ECC dan bebas karies dengan nilai
p=0,629, dimana 1,8% anak S-ECC membutuhkan perawatan khusus, dan hanya 1%
anak bebas karies yang membutuhkan perawatan khusus. Hasil penelitian tersebut
berbeda dengan penelitian yang dilakukan Richard dkk di Amerika Serikat yang
menyatakan 2,6% anak S-ECC membutuhkan perawatan khusus dan pada anak non-
S-ECC sebesar 97,5%.18
Hubungan anak baru berimigrasi dengan kelompok anak secara statistik tidak
memiliki hubungan signifikan dengan nilai p=0,289 (Tabel 4). Secara teori, anak
yang memiliki latar belakang baru berpindah tempat berdampak terhadap pendapatan
orang tua, lingkungan yang buruk berdampak meningkatkan risiko ECC. Di
Scandinavia, hasil penelitian pidemiologi melaporkan bahwa prevalensi ECC antara
anak berimigrasi lebih dari tiga kali lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak
berimigrasi.37
Hasil penelitian ini, tidak terdapat penggunaan fluor baik dari fluoridasi air
minum pada kelompok anak S-ECC, namun pada kelompok anak bebas karies

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


sebesar 1,0% orang menerima suplemen fluor. Secara statistik hubungan antara anak
yang menerima air minum mengandung fluor atau suplemen fluor dengan kelompok
anak tidak signifikan dengan nilai p=0,289 (Tabel 4). Pada elemen pemberian topikal
aplikasi fluor dari tenaga kesehatan 0,9% anak dengan S-ECC pernah menerima
topikal aplikasi fluor tidak pernah. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
anak yang menerima topikal aplikasi fluor dari tenaga kesehatan dengan kejadian S-
ECC, dan bebas karies dengan nilai p=0,344 (Tabel 4). Hal ini terjadi karena di
daerah penelitian tidak terdapat pemaparan fluor ke rumah-rumah penduduk dan
sedikit orangtua yang melakukan kunjungan ke dokter gigi. Tujuan penggunaan fluor
adalah untuk melindungi gigi dari karies. Fluor bekerja dengan cara menghambat
metabolisme plak yang dapat memfermentasi karbohidrat melalui perubahan
hidroksil apatit pada enamel menjadi fluor apatit.17 Berdasarkan penelitian Richard
dkk, di Amerika Serikat hampir 100% anak yang mendapat paparan fluor tidak
memiliki karies, sedangkan 92,6% anak yang tidak mendapatkan paparan fluor
memiliki karies.18
Terdapat hubungan yang signifikan antara anak yang menggosok gigi setiap
hari dengan pasta gigi berfluoride dengan kejadian S-ECC dan bebas karies dengan
nilai p=0,40. Potensi menyikat gigi secara baik dan benar merupakan satu faktor lagi
untuk pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Berhasilnya penyikatan gigi dan mulut
dipengaruhi oleh penggunaan alat, metode penyikatan gigi, serta frekuensi dan waktu
yang tepat.50 Salah satu negara telah membuktikan bahwa pasta gigi berfluor telah
mengurangi 25% prevalensi karies utama pada daerah interproksimal dan permukaan
halus gigi sulung.51
Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara anak yag melakukan
pemeriksaan gigi secara teratur dengan kejadian terjadinya S-ECC, ECC dan bebas
karies dengan nilai p=0,171. Hampir semua orang tua subjek penelitian tidak pernah
mengantarkan anak mereka ke dokter gigi dengan alasan gigi anak yang masih
sedikit. Hasil penelitian ini sedikit berbeda dengan penelitian Bisaar, dkk. yang
menyatakan bahwa anak bebas karies lebih rutin memeriksa gigi ke dokter gigi
dibanding anak dengan S-ECC.48

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Terdapat hubungan yang signifikan antara adanya white spot, adanya kavitas,
dan terdapatnya plak pada gigi dengan kejadian S-ECC dan bebas karies dengan nilai
p=0.000. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian Farsi, dkk.46 Hubungan
antara pengalaman karies dengan perkembangan karies di masa mendatang dapat
menjadi faktor risiko karies karena gigi anak yang telah mengalami karies cenderung
memiliki jumlah bakteri kariogenik yang banyak dan dapat menginfeksi gigi lain
yang belum terinfeksi bakteri, akan tetapi risiko karies ini akan berbeda jika gigi yang
telah karies dilakukan restorasi dengan penumpatan. Skor oral higiene menjadi faktor
risiko karena salah satu etiologi karies adalah bakteri yang terakumulasi dalam plak.27
Tabel 5 menunjukkan hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejadian S-
ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies. Pengelompokan usia diatur berdasarkan
waktu erupsi gigi anak, yaitu 8-15 bulan dimana gigi yang telah tumbuh adalah gigi
anterior dan gigi molar 1, dan usia 16-23 bulan dimana gig kaninus dan molar 2 juga
sudah tumbuh.34,39 Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak usia 8-15 bulan lebih
banyak ditemukan bebas karies (52,6%) dan usia 16-23 bulan lebih banyak S-ECC
(54,87%), namun penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara usia dengan kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies.
Namun adanya perbedaan jumlah anak yang mengalami kejadian S-ECC, ECC (non-
ECC), dan bebas karies antara kedua kelompok usia tersebut dipengaruhi oleh junlah
gigi anak yang akan memengaruhi kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas
karies. Hasil tersebut berbeda dengan penelitian di Amerika dan Sri Langka yang
menyatakan bahwa semakin tinggi usia maka kejadian terjadinya karies akan
meningkat juga.18,34
Tabel 5 juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara
jenis kelamin dengan terjadinya karies anak. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh
belum adanya perbedaan perilaku, kebiasaan, diet, dan perlakuan orang tua terhadap
kesehatan rongga mulut karena usia anak masih muda.8 Pada penelitian ini baik pada
perempuan dan laki-laki paling banyak mengalami S-ECC, laki-laki sebeesar 54,4%
dan perempuan 49,0% dengan anak laki-laki lebh banyak mengalami S-ECC. Hasil
penelitian ini berbeda dengan penelitian Feldens dkk. yang menyatakan bahwa anak

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


perempuan lebih banyak mengalami S-ECC daripada laki-laki.49 Perbedaan ini dapat
disebabkan oleh perbedaan jumlah sampel, dimana pada penelitian ini jumlah sampel
laki-laki lebih banyak dari perempuan. Selain itu, lingkungan tempat tinggal, keadaan
sosial ekonomi juga akan memengaruhi kejadian S-ECC, ECC (non-S-ECC), dan
bebas karies.
Tabel 6 menunjukkan hubungan usia dan jenis kelamin dengan pengalaman
karies, yaitu S-ECC dan ECC (non-S-ECC). Baik pada usia dan jenis kelamin tidak
ditemukan adanya hubungan yang signikan. Berdasarkan jenis kelamin, penelitian ini
sama dengan penelitian yang dilakukan di Jakarta yang mengatakan bahwa tidak ada
hubungan antara jenis kelamin dengan keparahan S-ECC.8 Berdasarkan usia menurut
beberapa penelitian seperti penelitian di Amerika, Serikat dan Sri Lanka yang
menyatakan bahwa semakin meningkat usia maka akan semakin meningkat kejadian
karies.18,34
Terdapat hubungan yang siginfikan antara penilaian risiko karies menurut
AAPD dengan pegalaman karies. Anak yang digolongkan berisiko rendah akan
memiliki rerata deft yang cenderung rendah dan rerata deft meningkat seiring dengan
peningkatan risiko karies anak. Hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan
bahwa tingkat risiko karies dapat diukur dengan rerata deft.
Tabel 8 menunjukkan bahwa terdapat hubungan kejadian karies anak, yaitu S-
ECC, ECC (non-S-ECC), dan bebas karies dengan pengalaman karies ibu dan
pengalaman karies anak. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat korelasi antara
pengalaman karies ibu dengan pengalaman karies anak dengan nilai p=0,000 dan r
(korelasi) sebesar 0,321 yang berada pada rentang 0,2-0,4 yang tergolong hubungan
lemah. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor karies aktif yang dimiliki ibu yang dapat
ditransmisikan dari mulut ibu ke anak. Hubungan transmisi karies ini juga dapat
diteliti dengan melihat pengalaman karies ibu dengan karies yang dimiliki anak,
semakin besar skor DMFT ibu maka prevalensi karies anak akan semakin tinggi.38
Menurut Bruce dkk. pengalaman karies ibu memang menjadi salah satu faktor
penyebab tingginya prevalensi karies pada anak, akan tetapi bukan menjadi faktor
utama terjadinya karies. Selain itu, pengalaman karies anak, dimana anak yang

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


memiliki karies cenderung memiliki jumlah bakteri kariogenik yang lebih banyak.27
Ibu yang memilki pengalaman karies tinggi merupakan indikator kuat bagi anak
mereka untuk memiliki pengalaman karies tinggi juga.40

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa:
1. Pada anak usia dibawah 2 tahun di Kecamatan Medan Baru dan Medan
Polonia prevalensi anak dengan S-ECC (51,85%) dan bebas karies (46,30%) lebih
banyak dibandingkan anak ECC (non-S-ECC) (1,85%).
2. Berdasarkan penilaian risiko karies menurut AAPD anak S-ECC lebih
banyak mengalami risiko karies tinggi dibandingkan anak bebas karies.
3. Elemen dalam penilaian risiko karies yang paling berperan dalam kejadian
S-ECC dan bebas karies antara lain ibu memiliki karies aktif, status sosial ekonomi
rendah, konsumsi makanan dan minuman ringan yang manis selain makan utama >3
kali sehari, anak mengonsumsi susu sebagai pengantar tidur,anak menggosok gigi
setiap hari dengan pasta gigi berfluoride, anak memiliki white spot, kavitas, dan plak
pada gigi.
4. Anak usia 16-23 bulan lebih banyak mengalami S-ECC dibandingkan anak
usia 8-15 bulan.
5. Anak yang masuk dalam risiko rendah berdasarkan hasil penilaian risiko
karies memiliki rerata pengalaman karies yang lebih rendah dibandingkan anak risiko
tinggi.
6. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengalaman karies anak dengan
penilaian risiko karies menurut AAPD.
7. Terdapat korelasi antara pengalaman karies ibu dengan pengalaman karies
anak.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


6.2 Saran
1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang penilaian risiko karies
menurut AAPD dengan jumlah sampel yang lebih besar agar hasil yang didapat lebih
akurat.
2. Tenaga kesehatan khususnya bidang gigi dan mulut di Puskesmas
diharapkan meningkatkan sosialisasi tentang pentingnya menjaga kebersihan gigi
kepada orangtua, sehingga meningkatkan kesadaran orangtua untuk melakukan
tindakan pencegahan seperti penyikatan gigi dan melakukan perawatan sedini
mungkin apabila terdapat masalah pada gigi anak.
3. Pemerintah khususnya Kementarian Kesehatan lebih meningkatkan kualitas
perawatan gigi dan mulut di Puskesmas dengan mengutamakan pencegahan dan
perawatan sedini mungkin.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Pediatric Dentistry. Guideline on caries-risk assesment


and management for infants, children, and adolescents. Clin Practice Guidelines
2014;37(6):132-9.
2. Vejdani J, Hadipoor Z, Leyli EK. Risk factors for severe early childhood caries
in 2-3-year-old children in rasht. J Dentomaxillofacial Radiology, Pathology,
Surgery 2014;2(4):15-21.
3. Ramos-Gomez F, Crystal YO, Wai Ng M, Tinanoff N. Caries risk assesment,
prevention, and management in pediatric dental care. Pediatr Dent.
https://pdfs.semanticscholar.org/e68f/ad398a4a6d7ba498448647f0386809109ca2
.pdf (11 Maret 2017).
4. Folayan OM, Kolawole KA, Ozlegbe EO, Oyedele T, Oshomuji OV, Chkwumah
NM, dkk. Prevalence, and early childhood caries risk indicators in preschool
children in Suburban Nigeria. BMC Oral Health 2015;15(72):1-12.
5. Kuriakose S, Prasannan M, Remya KC. Prevalence of early childhood caries
among preschool children in Trivandrum and its association with various risk
factors. Contemp Clin Dent. 2015;6(11):69-73.
6. Peltzer K, Mongkolchati A. Severe early childhood caries and social determinant
in three-year-old children from Northern Thailand: a birth cohort study. BMC
Oral Health 2015;15(108):1-7.
7. Darjono USA, Widiati S, Supratinah A. Pengaruh penyuluhan konsumsi
makanan kariogenik pada ibu dan anak terhadap keparahan karies siswa taman
kanak-kanak. Odonto Dent J. 2015;2(1):1-7.
8. Sugito FS, Djoharnas H, Darwita RR. Breastfeeding and Early Childhood Caries
(ECC) severity of children under three years old in DKI Jakarta. Makara
Kesehatan 2008;12(2):86-91.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


9. Pintauli S, Hamada T. Menuju gigi dan mulut sehat pencegahan dan
pemeliharaan. Revisi. Medan: USU Press, 2012:5-15.
10. American Academy of Pediatrics. Policy on Early Childhood Caries (ECC):
classifications, consequences, and preventive strategies. JPediatr Dent 2008;
37(6): 50-2.
11. Pintauli S. Menuju gigi dan mulut sehat. Medan:USU Press, 2008: 5-8,11,20.
12. Colak H, Dulgergil CT, Dalli M, Hamidi MM. Early childhood caries update: a
review of causes, diagnoses, and treatments. J Natural Sci, Biology and Medicine
2013;4(1):29-38.
13. American Dental Association. Caries risk assessment form (age 0-6).
https://www.ada.org/~/media/ADA/Member%20Center/FIles/topics_caries_unde
r6.ashx (4 Maret 2017).
14. Young DA, Featherstone JDB, Roth JR. Caries management by risk assessment-a
practitioner’s guide. CDA J. 2007; 35(10):679-80.
15. The University of Adelaide. Caries risk assessment for children: information for
oral health practitioners. https://www.adelaide.edu.au/arcpoh/dperu/ special/ cra/
CRA_proffesiona_brochure.pdf (4 Maret 2017)
16. American Academy of Pediatric Dentistry. Guideline on caries-risk assesment
and management for infants, children, and adolescents. Clin Practice Guidelines
2010;32(6):101-8.
17. Angela A. Pencegahan primer pada anak yang berisiko karies tinggi. Maj. Ked.
Gigi. 2005;38(3):130-4.
18. Yoon RK, Smaldone AM, Edelstein BL. Early childhood caries screening tools:
a comparison of four approaches. JADA. 2012; 143(7):756-63
19. Berg J, Slayton R. Early childhood oral health. Iowa: Wiley-Blackwell, 2010:19.
20. Almushayt A, Sharaf A, Meligy O, dkk.. Salivary characteristics in a sample of
preschool children with severe early childhood caries. JKAU 2010; 17: 41-58
21. Marlina O, Darwita R. Setiawati F. Hubungan gizi seimbang dengan early
childhood caries pada peserta PAUD-penelitian awal. In: KPPIKG 2009, ed.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Proceedings of the 15th Scientific Meeting & Refresher Course in Dentistry
Faculty of Dentistry Universitas Indonesia. Jakarta, 2009: 381-6.
22. Fajriani, Handayani H. Penatalaksanaan early childhood caries. Dentofasial
Jurnal Kedokteran Gigi 2011; 10: 179-83.
23. Begzati A, Berisha M, Mrasori M. Early Childhood Caries (ECC)- etiology,
clinical consequences and prevention. Emerging Trends in Oral Health Sciences
and Dentistry, Prishtina:Intech, 2015.
24. Losso EM, Tavares MRC, Da silva JYB, dkk.. Severe early childhood caries: an
integral approach. J Pediatr. 2009; 85(4):295-300.
25. Borutta A, Wagner M, Kneist S. Early childhood caries: a multi-factorial disease.
OHDMBSC 2010;9(1):32-8.
26. Mazhari F, Talebi M, Zoghi M. Prevalence of early childhood caries and its risk
factors in 6-60 months old children in Quchan. Dent Res J 2007; 4(2): 96-101.
27. Neves AB, Loboo LA, Pinto KC, Pires ES, Requejo MEP, Maia LC dkk.
Comparison between clinical aspects and salivary microbial profile of children
with and without early childhood caries: a preliminary study. J Clin Pediatr Dent
2015;39(3):209-14.
28. Panjaitan M. Pencegahan karies gigi . Medan : USU Press, 1995: 24-36.
29. Hugar SM, Govani E, Mohandoss S, Gokhale NS, Kukreja P, Hugar SS.
Knowledge attitude and perception among the parents of preschool children
regarding oral health and Early Childhood Caries (ECC). Manipal J Dent Sci
2016;1(1): 13-20.
30. Wang LJ, Tang R, Bonstein T, Bush P,Nancollas G.H Enamel demineralization
in primary and permanent teeth. J Dent Res 2006;85(4):359-63.
31. Neel EAA, Aljabo A, Strange A, Ibrahim S, Coathup M, Young AM, dkk.
Demieralization–remineralization dynamics in teeth and bone. J Int
Nanomedicine 2016;11:4743-63.
32. Sutthavong S, Taebanpakul S, Kuruchitkosol C, Ayudhya TIN, Chantveerawong
T, Fuangroong S, dkk. Oral health status, dental caries risk factors of the

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


children of public kindergarten and schools in Phranakornsriayudhya, Thailand. J
Med Assoc Thai 2010; 6 (Suppl):71-8.
33. Congiu G, Campus G, Lugliè PF. Early childhood caries (ECC) prevalence and
background factors: a review. Oral Health Prev Dent 2014;12(1):71-6.
34. Kumarihamy SLM, Subasinghe LD, Jayasekara P, Kularatna SM, Palipina PD.
The prevalence of early childhood caries in 1-2 years olds in a semi-urban area of
Sri Lanka. BMC Research Notes 2011;4(1):1-6.
35. Tyagi R. The prevalence of nursing caries in Davangere preschool children and
its relationship with feeding practices and socioeconomic status of the family. J
Indian Soc Pedod Prev Dent 2008;26:153–7.
36. Kawashita Y, Kitamura M, Saito T. Early childhood caries. Int J Dent 2011:1-7
37. Seow WK. Enviromental, maternal, and child factors with contribute to early
childhood caries: a unifying conceptual model. Int J Peditr Dent 2011;
10(11):157-68.
38. Ayilliath A, Satyaprasad S, Kottigade S, Sreeshama, Anandaraj, Kamath A,
Nandan. Relationship of severe early childhood caries to maternal microbial flora
and salivary buffering capacity. J Health Sci 2013;2(2):1-14.
39. Maharani DA, Rahardjo A. Mothers dental health behaviors and mother child’s
dental caries experiences: study of a suburb area in Indonesia. Makara Kesehatan
2012;16(2):72-6.
40. Dye BA, Vargas CM, Lee JJ, Magder L, Tinanoff N. Assessing the relationship
between children oral health status and that of their mothers. JADA
2011;142(2):173-83.
41. Syed S, Nisar N, Mubeen N. Early childhood caries: a preventable disease. Dent
Open J. 2015;2(2):55-61.
42. Sudhir KM, Kanupuru KK, Fareed N, Mahesh P, Vandana K, Chaitra NT.
Cambra as a tool for caries risk prdiction among 12-to 13-year-old
institutionalised children-a a longitudinal follow-up study. Oral Health and
Preventive Dent. 2016;14(4):355-62.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


43. Lif Holgerson P, Twetman S, Stecksen-Blicks C. Validation of an age-modified
caries risk assessment program (cariogram) in preschool children. Acta
Odontologica Scandinavica 2009;67:106-12.
44. Bratthall D, Petersson GH. Cariogram- a multifactorial risk assessment model for
a multifactorial disease. Community Dent Oral Epidemiol 2005;33:256-64.
45. Edalat A, Abbaszadeh M, Eesvandi M, Heidari A. The relationship of early
childhood caries and body mass index in group of 3 to 6 year old children in
Shiraz. J Dent Shiraz Univ Med Sci 2014; 15(2): 68-73.
46. Farsi N, Merdad L, Mirdad S. Caries risk assesment in preschool children in
Saudi Arabia. Oral Health Prev Dent 2013;11:271-80
47. Qin M, Li J, Zhang S, Ma W. Risk factors for severe early childhood caries in
children younger than 4 years old in Bejing, China. J Pediatr Dent 2009; 30(2):
122-8.
48. Bissar A, Schiller P, Wolff A, Niekush U, Schulte AG. Factors contributting to
severe early childhood caries in South-West Germany. Clin Oral Invest
2014;18:1411-8
49. Feldens CA, Giugliani ERJ, Vigo A, Vitolo MR. Early feeding practices and
severe early childhood caries in four-year-old children from Southern Brazil.
Caries Res 2010; 44 : 445-52.
50. Iyas M, Putri IS. Efek penyuluhan metode demonstrasi menyikat gigi pada siswa
SD kelas satu dengan karies gigi di wilayah kerja Puskesmas Rendang
Karangsem Bali Oktober 2014. DOAJ 2014; 6(1):23-33
51. Cameroon AC, Widmer RP. Handbook of pediatric dentistry. 3 rd ed.,
Philadelphia: Mosby Elsevier, 2008:39-56

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


INFORMASI KEPADA ORANGTUA/WALI SUBJEK PENELITIAN

Kepada Yth.

Bapak/Ibu/Sdr . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Orang Tua/Wali Ananda . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Alamat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Bersama ini saya mohon kesediaan Bapak/Ibu/Sdr dapat mengizinkan ananda


.......

Untuk berpartisipasi sebagai subjek penelitian saya berjudul:

Penilaian Risiko Karies Menurut AAPD pada Anak Usia dibawah 2 Tahun di
Kecamatan Medan Baru dan Kecamatan Medan Polonia.

Risiko karies pada setiap orang tidak sama, bahkan tidak tetap seumur hidup.
Oleh karena hal ini dapat berubah apabila pencegahan karies dapat dilakukan baik
oleh dirinya sendiri maupun yang dilakukan oleh dokter gigi.
Manfaat dilakukan pemeriksaan faktor risiko sebagai tindakan pencegahan
dapat ditujukan langsung kepada anak yang mempunyai risiko karies tinggi.
Dengan tujuan:
Menganalisis hubungan penilaian risiko karies menurut AAPD dengan
kelompok anak SECC dan non-SECC anak usia dibawah 2 tahun.
Dalam penelitian tersebut anak dan ibu akan dilakukan:
1. Pemeriksaan rongga mulut mengenai adanya gigi berlubang dan kebersihan rongga
mulut.
2. Memberikan pertanyaan berdasarkan tabel penilaian risiko karies menurut AAPD
Adapun ketidak nyamanan yang dialami dalam prosedur penelitian yaitu:
Anak dan ibu membuka mulut sedikit lebih lama untuk memeriksa keadaan tiap gigi
dan keadaan rongga mulut.

Namun keuntungan menjadi subjek penelitian adalah:

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Mendapat data tingat risiko karies pada anak serta faktor-faktor risiko karies
yang memengaruhi. Pemeriksaan yang dilakukan tidak dikenakan biaya apapun.
Diharapkan hasil penelitian ini secara keseluruhan dapat membantu solusi
pencegahan gigi berlubang pada anak-anak Indonesia dimasa yang akan datang.

Jika Bapak/Ibu/Sdr bersedia, Surat Pernyataan Kesediaan Menjadi Subjek


Peneliti harap ditandatangani dan dikirim kembali kepada peneliti.
Perlu Bapak/Ibu/Sdr ketahui bahwa surat kesediaan tersebut tidak mengikat
Bapak/Ibu/Sdr untuk dapat mengundurkan diri dari penelitian ini kapan saja selama
penelitian berlangsung.
Mudah-mudahan keterangan saya di atas dapat dimengerti dan atas kesediaan
ibu dan ananda untuk berpartisipasi dalam penelitian ini saya ucapkan terima kasih.

Medan . . . . . . .
Peneliti,

(Leylan Syahputra Ikhsan Lubis)


No Telp: 085370364754

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN
(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertandatangan dibawah ini,


Nama : ………………………………………………………….

Alamat : ………………………………………………………….

Telepon/HP : ………………………………………………………….

Selaku orang tua dari anak,


Nama : ………………………………………………………….

Tanggal lahir : ………………………………………………………….

Usia : ………………………………………………………….

Setelah mendapat penjelasan tentang penelitian yang berjudul “Penilaian Risiko


Karies Menurut AAPD pada Anak Usia dibawah 2 Tahun di Kecamatan Medan Baru
dan Medan Polonia.”, maka dengan penuh kesadaran atau tanpa paksaan, bersedia
mengizinkan anak saya dan saya berpartisipasi dalam penelitian ini yang diketahui
oleh Leylan Syahputra Ikhsan Lubis sebagai mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas
Sumatera Utara. Demikianlah surat pernyataan ini untuk dapat dipergunakan
seperlunya.

Medan, …………2017

Mahasiswa Peneliti Ibu

(Leylan Syahputra Ikhsan L) (……………………)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Tanggal pemeriksaan :

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

PENILAIAN FAKTOR RISIKO KARIES PADA ANAK USIA DIBAWAH


2 TAHUN MENURUT AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRIC DENTISTRY
DI KECAMATAN MEDAN BARU DAN KECAMATAN MEDAN POLONIA

KUESIONER ORANGTUA

Nama :
Tanggal Lahir :

(1) Usia :Tahun, Bulan

(2) Jenis Kelamin : 1. Laki-laki

2. Perempuan

Nama Ibu/Pengasuh :

Usia Ibu/Pengasuh :

Faktor risiko RisikoTinggi RisikoRendah

FaktorBiologis
(1). Ibu mempunyai karies aktif 1. YA 2. TIDAK.
(2). Orang tua berstatus ekonomi rendah 1. YA 2.TIDAK

(3). Anak mengonsumsi makanan dan minuman ringan yang 1. YA 2.TIDAK


manis makan utama lebih dari 3 kali sehari
(4). Anak mengonsumsi susu sebagai pengantar tidur tidak
atau dengan penambahan bahan pemanis 1. YA 2.TIDAK
(5). Anak membutuhkan perawatan kesehatan khusus 1. YA 2.TIDAK
(6). Anak dan ibu baru berimigrasi 1. YA 2.TIDAK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Faktor risiko RisikoTinggi RisikoRendah

Faktor Perlindungan
(7). Anak menerima air yang mengandung fluor atau
mengonsumsi tablet fluor 1. TIDAK 2. YA
(8). Anak menyikat gigi setiap hari dengan pasta gigi berfluor 1. TIDAK 2. YA
(9). Anak menerima topikal aplikasi fluor dari tenaga kesehatan 1. TIDAK 2. YA
(10). Anak diantar melakukan pemeriksaan gigi secara teratur 1. TIDAK 2. YA

Faktor Temuan Klinis


(11). Anak mempunyai white spot atau defek enamel 1. YA 2.TIDAK
(12). Anak memiliki kavitas yang terlihat atau tumpatan 1. YA 2.TIDAK
(13). Anak memiliki plak pada gigi 1. YA 2.TIDAK

(14). Hasil Penilaian risiko keseluruhan 1. Ya 2.TIDAK


(15). Hasil penilaian risiko keseluruhan 1. Ya 2. TIDAK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Tanggal Pemeriksaan : …………….

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

PENILAIAN FAKTOR RISIKO KARIES PADA ANAK USIA DIBAWAH


2 TAHUN MENURUT American Academy of Pediatric Dentistry
DI KECAMATAN MEDAN BARU DAN KECAMATAN MEDAN POLONIA

LEMBAR PEMERIKSAAN

Data Umum Anak


Nama :
Tanggal lahir : . . . . . . . .usia . . . .(bulan)
Alamat rumah :
No telepon / hp orangtua :
Pemeriksaan deft Anak

55 54 53 52 51 61 62 63 64 65

71 72 73 74 75

85 84 83 82 81 71 72 73 74 75

Keterangan :
Keterangan :
• d : lesi karies berkavitas
• d : lesi karies berkavitas
• d(w): lesi karies non-kavitas (white
• d(w): lesi karies non-kavitas (white spot)
spot)
• e : gigi yang hilang karna karies
• e : gigi yang hilang karna karies
• f : gigi yang ditumpat
• f : gigi yang ditumpat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


(3) ∑d : …. 18.
(4)∑d(w) : ...... 19.
(4) ∑e : …. 20.
(5) ∑f : …. 21.
(6) ∑def : …. 22.

Pemeriksaan Plak pada Anak

Post Ant Post Jumlah Skor: 23

Keterangan:

Post Ant Post 0 = tidak ada plak

1 = terdapat plak tipis

2 = terdapat plak tebal

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
no Usia JK FR 1 FR2 FR3 FR4 FR5 FR6 FR7 FR8 FR9 FR10 FR11 FR12 FR13 Hasil 1 d d

1=lk 1=Ya 1=Ya 1=Ya 1=Ya 1=Ya 1=Ya 1=Tidak 1=Tidak 1=Tidak 1=Tidak 1=Ya 1=Ya 1=Ya 1=Tinggi

2=pr 2=Tidak 2=Tidak 2=Tidak 2=Tidak 2=Tidak 2=Tidak 2=Ya 2=Ya 2=Ya 2=Ya 2=Tidak 2=Tidak 2=Tidak 2=Rendah
1 8 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 0
2 23 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 7
3 18 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
4 23 1 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2
5 23 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 6
6 11 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
7 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
8 23 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
9 23 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 4
10 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 4
11 23 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 0
12 22 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 0
13 23 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
14 23 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
15 15 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 0
16 11 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
17 9 2 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
18 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 1 0
19 22 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
20 21 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 0
21 23 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
22 23 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 5
23 13 2 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


24 17 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1
25 22 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 0
26 22 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
27 18 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
28 16 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 1 0
29 20 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 0
30 23 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
31 13 2 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
32 23 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 4
33 22 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 6
34 22 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 0
35 22 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
36 23 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 6
37 23 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
38 23 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 0
39 13 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 0
40 23 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 4
41 22 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
42 23 1 1 2 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
43 21 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
44 15 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
45 21 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
46 12 1 2 1 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
47 21 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
48 22 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 4
49 23 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 6
50 9 2 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


51 23 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 2
52 8 2 1 2 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
53 14 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 0
54 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 9
55 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2
56 8 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
57 23 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
58 20 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 0
59 16 1 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
60 23 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
61 21 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
62 23 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 1 0
63 16 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
64 11 2 2 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
65 21 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 2 1 3
66 9 1 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 0
67 23 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 0
68 12 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 0
69 23 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 6
70 21 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 0
71 11 2 2 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
72 23 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 4
73 16 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 0
74 9 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 0
75 14 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 1 0
76 21 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 6
77 21 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 2 1 2

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


78 19 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
79 11 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 0
80 22 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 2 1 2
81 11 2 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
82 9 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
83 14 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
84 14 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
85 20 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
86 9 1 2 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 0
87 16 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
88 23 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 3
89 18 2 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 0
90 13 2 1 2 1 1 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
91 23 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 6
92 13 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
93 17 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 0
94 19 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 4
95 20 2 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2
96 10 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
97 19 2 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
98 22 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
99 13 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
100 21 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 4
101 12 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1
102 16 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
103 12 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 0
104 23 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 4

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


105 18 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
106 21 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
107 13 2 1 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 0
108 23 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 6
109 23 2 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2
110 12 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 1 0
111 16 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
112 10 1 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
113 14 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
114 19 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 7
115 18 1 2 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
116 11 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 0
117 23 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
118 11 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 0
119 22 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 9
120 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 5
121 18 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
122 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 4
123 22 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 3
124 17 1 1 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
125 16 2 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 0
126 19 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1
127 13 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
128 17 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2
129 16 2 2 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 2 0
130 14 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
131 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 3

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


132 17 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
133 15 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
134 22 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 2
135 16 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
136 22 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 6
137 22 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
138 23 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 2 1 1 1 3
139 18 1 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
140 23 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
141 23 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
142 20 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2
143 22 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 2 2 2 0
144 22 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 0
145 21 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 0
146 22 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
147 23 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
148 17 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
149 23 2 2 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 0
150 18 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 0
151 23 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2
152 16 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 2 2 2
153 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 6
154 17 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 2
155 21 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 2
156 15 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
157 22 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2
158 23 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 4

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


159 22 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 0
160 15 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
161 17 2 1 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
162 15 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
163 13 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 4
164 9 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 0
165 18 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2
166 20 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2
167 23 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 3
168 13 1 1 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
169 22 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1
170 23 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
171 16 2 2 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 0
172 23 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2
173 23 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2
174 17 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 0
175 23 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
176 23 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 0
177 20 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 4
178 23 2 1 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
179 12 1 2 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
180 22 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 3
181 17 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
182 23 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 3
183 23 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 0
184 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 3
185 20 1 2 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


186 13 2 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 0
187 23 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1
188 17 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
189 18 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 4
190 23 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 7
191 15 2 1 2 2 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
192 9 2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 0
193 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 3
194 23 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 4
195 21 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 4
196 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 3
197 23 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
198 22 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1
199 23 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1
200 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
201 13 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 0
202 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 2 1 5
203 15 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 0
204 18 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 0
205 11 1 1 1 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 0
206 19 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 2 2 2 0
207 22 2 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 0
208 17 2 1 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
209 10 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 0
210 21 2 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 0
211 9 1 2 2 2 1 2 2 1 1 1 2 2 2 1 2 0
212 22 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 0

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


213 16 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 0
214 16 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 0
215 19 2 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 1 2 1 1 0
216 15 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 0

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


HASIL OLAH DATA

Karakteristik Responden (Sub Bab 4.1)

-Usia

Rentang Usia Jumlah Persentase (%)


8-15 bulan 57 26,39
16-23 bulan 159 73,61

-Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)


Laki-Laki 114 52,78
Perempuan 102 47,22

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Sub Bab 4.2

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Risiko Karies * Kelompok


212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
anak

Risiko Karies * Kelompok anak Crosstabulation

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Risiko Karies Tinggi Count 107 22 129

% within Risiko Karies 82,9% 17,1% 100,0%

% within Kelompok anak 95,5% 22,0% 60,8%

Rendah Count 5 78 83

% within Risiko Karies 6,0% 94,0% 100,0%

% within Kelompok anak 4,5% 78,0% 39,2%


Total Count 112 100 212

% within Risiko Karies 52,8% 47,2% 100,0%

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 119,918a 1 ,000


b
Continuity Correction 116,851 1 ,000
Likelihood Ratio 137,588 1 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear Association 119,352 1 ,000
N of Valid Cases 212

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 39,15.
b. Computed only for a 2x2 table

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Sub Bab 4.3

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Ibu Karies Aktif * Kelompok


212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
anak
Status Sosial Ekonomi *
212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
Kelompok anak
Konsumsi Ngemil >3x *
212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
Kelompok anak
Minum Susu Botol *
212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
Kelompok anak
Perawatan Khusus *
212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
Kelompok anak
Anak baru berimigrasi *
212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
Kelompok anak
Anak menerima fluor *
212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
Kelompok anak
Anak sikat gigi dengan
212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
pasta fluor * Kelompok anak
TAF * Kelompok anak 212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
Periksa gigi secara teratur *
212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
Kelompok anak
White Spot dan Defek
212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
Enamel * Kelompok anak
Kavitas dan Tumpatan *
212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%
Kelompok anak
Plak * Kelompok anak 212 100,0% 0 0,0% 212 100,0%

Ibu Karies Aktif * Kelompok anak

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Ibu Karies Aktif Ya Count 104 77 181

% within Ibu Karies Aktif 57,5% 42,5% 100,0%

% within Kelompok anak 92,9% 77,0% 85,4%

Tidak Count 8 23 31

% within Ibu Karies Aktif 25,8% 74,2% 100,0%

% within Kelompok anak 7,1% 23,0% 14,6%


Total Count 112 100 212

% within Ibu Karies Aktif 52,8% 47,2% 100,0%

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Ibu Karies Aktif Ya Count 104 77 181

% within Ibu Karies Aktif 57,5% 42,5% 100,0%

% within Kelompok anak 92,9% 77,0% 85,4%

Tidak Count 8 23 31

% within Ibu Karies Aktif 25,8% 74,2% 100,0%


% within Kelompok anak 7,1% 23,0% 14,6%
Total Count 112 100 212

% within Ibu Karies Aktif 52,8% 47,2% 100,0%

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Status Sosial Ekonomi * Kelompok anak

Crosstab

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Status Sosial Ekonomi Rendah Count 85 59 144

% within Status Sosial


59,0% 41,0% 100,0%
Ekonomi

% within Kelompok anak 75,9% 59,0% 67,9%

Tidak Rendah Count 27 41 68

% within Status Sosial


39,7% 60,3% 100,0%
Ekonomi

% within Kelompok anak 24,1% 41,0% 32,1%


Total Count 112 100 212
% within Status Sosial
52,8% 47,2% 100,0%
Ekonomi

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 6,920a 1 ,009


b
Continuity Correction 6,166 1 ,013
Likelihood Ratio 6,944 1 ,008
Fisher's Exact Test ,012 ,006
Linear-by-Linear Association 6,887 1 ,009
N of Valid Cases 212

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 32,08.
b. Computed only for a 2x2 table

Konsumsi Ngemil >3x * Kelompok anak

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Konsumsi Ngemil >3x Ya Count 99 55 154

% within Konsumsi Ngemil


64,3% 35,7% 100,0%
>3x

% within Kelompok anak 88,4% 55,0% 72,6%

Tidak Count 13 45 58

% within Konsumsi Ngemil


22,4% 77,6% 100,0%
>3x

% within Kelompok anak 11,6% 45,0% 27,4%


Total Count 112 100 212

% within Konsumsi Ngemil


52,8% 47,2% 100,0%
>3x

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 29,642 1 ,000
b
Continuity Correction 27,986 1 ,000
Likelihood Ratio 30,751 1 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear Association 29,503 1 ,000
N of Valid Cases 212

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 27,36.
b. Computed only for a 2x2 table

Minum Susu Botol * Kelompok anak

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Minum Susu Botol Ya Count 94 67 161

% within Minum Susu Botol 58,4% 41,6% 100,0%

% within Kelompok anak 83,9% 67,0% 75,9%

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Tidak Count 18 33 51

% within Minum Susu Botol 35,3% 64,7% 100,0%

% within Kelompok anak 16,1% 33,0% 24,1%


Total Count 112 100 212

% within Minum Susu Botol 52,8% 47,2% 100,0%

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 8,287a 1 ,004


b
Continuity Correction 7,386 1 ,007
Likelihood Ratio 8,347 1 ,004
Fisher's Exact Test ,006 ,003
Linear-by-Linear Association 8,248 1 ,004
N of Valid Cases 212

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 24,06.
b. Computed only for a 2x2 table

Perawatan Khusus * Kelompok anak

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Perawatan Khusus Ya Count 2 1 3

% within Perawatan Khusus 66,7% 33,3% 100,0%

% within Kelompok anak 1,8% 1,0% 1,4%

Tidak Count 110 99 209

% within Perawatan Khusus 52,6% 47,4% 100,0%

% within Kelompok anak 98,2% 99,0% 98,6%


Total Count 112 100 212

% within Perawatan Khusus 52,8% 47,2% 100,0%

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square ,234 1 ,629
b
Continuity Correction ,000 1 1,000
Likelihood Ratio ,239 1 ,625
Fisher's Exact Test 1,000 ,543
Linear-by-Linear Association ,233 1 ,630
N of Valid Cases 212

a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,42.
b. Computed only for a 2x2 table

Anak baru berimigrasi * Kelompok anak

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Anak baru berimigrasi Ya Count 0 1 1

% within Anak baru


0,0% 100,0% 100,0%
berimigrasi

% within Kelompok anak 0,0% 1,0% 0,5%

Tidak Count 112 99 211

% within Anak baru


53,1% 46,9% 100,0%
berimigrasi

% within Kelompok anak 100,0% 99,0% 99,5%


Total Count 112 100 212

% within Anak baru


52,8% 47,2% 100,0%
berimigrasi

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 1,125a 1 ,289


b
Continuity Correction ,003 1 ,955
Likelihood Ratio 1,508 1 ,219
Fisher's Exact Test ,472 ,472
Linear-by-Linear Association 1,120 1 ,290
N of Valid Cases 212

a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,47.
b. Computed only for a 2x2 table

Anak menerima fluor * Kelompok anak

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Anak menerima fluor Tidak Count 112 99 211

% within Anak menerima


53,1% 46,9% 100,0%
fluor

% within Kelompok anak 100,0% 99,0% 99,5%

Ya Count 0 1 1

% within Anak menerima


0,0% 100,0% 100,0%
fluor

% within Kelompok anak 0,0% 1,0% 0,5%


Total Count 112 100 212

% within Anak menerima


52,8% 47,2% 100,0%
fluor

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 1,125a 1 ,289


b
Continuity Correction ,003 1 ,955
Likelihood Ratio 1,508 1 ,219
Fisher's Exact Test ,472 ,472
Linear-by-Linear Association 1,120 1 ,290
N of Valid Cases 212

a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,47.
b. Computed only for a 2x2 table

Anak sikat gigi dengan pasta fluor * Kelompok anak

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Anak sikat gigi dengan pasta Tidak Count 23 33 56


fluor % within Anak sikat gigi
41,1% 58,9% 100,0%
dengan pasta fluor

% within Kelompok anak 20,5% 33,0% 26,4%

Ya Count 89 67 156

% within Anak sikat gigi


57,1% 42,9% 100,0%
dengan pasta fluor

% within Kelompok anak 79,5% 67,0% 73,6%


Total Count 112 100 212

% within Anak sikat gigi


52,8% 47,2% 100,0%
dengan pasta fluor

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 4,223 1 ,040
b
Continuity Correction 3,606 1 ,058
Likelihood Ratio 4,229 1 ,040
Fisher's Exact Test ,044 ,029
Linear-by-Linear Association 4,203 1 ,040
N of Valid Cases 212

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 26,42.
b. Computed only for a 2x2 table

TAF * Kelompok anak

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

TAF Tidak Count 111 100 211

% within TAF 52,6% 47,4% 100,0%

% within Kelompok anak 99,1% 100,0% 99,5%

Ya Count 1 0 1

% within TAF 100,0% 0,0% 100,0%

% within Kelompok anak 0,9% 0,0% 0,5%


Total Count 112 100 212

% within TAF 52,8% 47,2% 100,0%

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square ,897a 1 ,344


b
Continuity Correction ,000 1 1,000
Likelihood Ratio 1,280 1 ,258
Fisher's Exact Test 1,000 ,528
Linear-by-Linear Association ,893 1 ,345

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


N of Valid Cases 212

a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,47.
b. Computed only for a 2x2 table

Periksa gigi secara teratur * Kelompok anak

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Periksa gigi secara teratur Tidak Count 112 97 209

% within Periksa gigi secara


53,6% 46,4% 100,0%
teratur

% within Kelompok anak 100,0% 97,0% 98,6%

Ya Count 0 3 3

% within Periksa gigi secara


0,0% 100,0% 100,0%
teratur

% within Kelompok anak 0,0% 3,0% 1,4%


Total Count 112 100 212

% within Periksa gigi secara


52,8% 47,2% 100,0%
teratur

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 3,408a 1 ,065


b
Continuity Correction 1,597 1 ,206
Likelihood Ratio 4,557 1 ,033
Fisher's Exact Test ,103 ,103
Linear-by-Linear Association 3,392 1 ,066
N of Valid Cases 212

a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,42.
b. Computed only for a 2x2 table

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


White Spot dan Defek Enamel * Kelompok anak

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

White Spot dan Defek Ya Count 90 0 90


Enamel % within White Spot dan
100,0% 0,0% 100,0%
Defek Enamel

% within Kelompok anak 80,4% 0,0% 42,5%

Tidak Count 22 100 122

% within White Spot dan


18,0% 82,0% 100,0%
Defek Enamel

% within Kelompok anak 19,6% 100,0% 57,5%


Total Count 112 100 212

% within White Spot dan


52,8% 47,2% 100,0%
Defek Enamel

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 139,637a 1 ,000


b
Continuity Correction 136,367 1 ,000
Likelihood Ratio 178,074 1 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear Association 138,978 1 ,000
N of Valid Cases 212

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 42,45.
b. Computed only for a 2x2 table

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Kavitas dan Tumpatan * Kelompok anak

Crosstab

Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Kavitas dan Tumpatan Ya Count 64 0 64

% within Kavitas dan


100,0% 0,0% 100,0%
Tumpatan

% within Kelompok anak 57,1% 0,0% 30,2%

Tidak Count 48 100 148

% within Kavitas dan


32,4% 67,6% 100,0%
Tumpatan

% within Kelompok anak 42,9% 100,0% 69,8%


Total Count 112 100 212

% within Kavitas dan


52,8% 47,2% 100,0%
Tumpatan

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 81,853 1 ,000
b
Continuity Correction 79,164 1 ,000
Likelihood Ratio 106,709 1 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear Association 81,467 1 ,000
N of Valid Cases 212

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 30,19.
b. Computed only for a 2x2 table

Plak * Kelompok anak

Crosstab

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Kelompok anak

SECC Bebas Karies Total

Plak Ya Count 89 17 106

% within Plak 84,0% 16,0% 100,0%

% within Kelompok anak 79,5% 17,0% 50,0%

Tidak Count 23 83 106

% within Plak 21,7% 78,3% 100,0%

% within Kelompok anak 20,5% 83,0% 50,0%


Total Count 112 100 212

% within Plak 52,8% 47,2% 100,0%

% within Kelompok anak 100,0% 100,0% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 82,453 1 ,000
b
Continuity Correction 79,973 1 ,000
Likelihood Ratio 88,983 1 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear Association 82,064 1 ,000
N of Valid Cases 212

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 50,00.
b. Computed only for a 2x2 table

Sub Bab 4.4

Kelompok Anak * Kelompok Usia Crosstabulation

Kelompok Usia

8-15 Bulan 16-23 Bulan Total

Kelompok Anak SECC Count 25 87 112

% within Kelompok Anak 22,3% 77,7% 100,0%

ECC Count 2 2 4

% within Kelompok Anak 50,0% 50,0% 100,0%

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Bebas Karies Count 30 70 100

% within Kelompok Anak 30,0% 70,0% 100,0%


Total Count 57 159 216

% within Kelompok Anak 26,4% 73,6% 100,0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)

Pearson Chi-Square 2,773a 2 ,250


Likelihood Ratio 2,651 2 ,266
Linear-by-Linear Association 1,617 1 ,203
N of Valid Cases 216

a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 1,06.

Jenis Kelamin * Kelompok Anak Crosstabulation

Kelompok Anak

SECC ECC Bebas Karies Total

Jenis Kelamin Laki-Laki Count 62 1 51 114

% within Jenis Kelamin 54,4% 0,9% 44,7% 100,0%

% within Kelompok Anak 55,4% 25,0% 51,0% 52,8%

Perempuan Count 50 3 49 102

% within Jenis Kelamin 49,0% 2,9% 48,0% 100,0%

% within Kelompok Anak 44,6% 75,0% 49,0% 47,2%


Total Count 112 4 100 216
% within Jenis Kelamin 51,9% 1,9% 46,3% 100,0%

% within Kelompok Anak 100,0% 100,0% 100,0% 100,0%

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)

Pearson Chi-Square 1,664a 2 ,435


Likelihood Ratio 1,708 2 ,426
Linear-by-Linear Association ,412 1 ,521
N of Valid Cases 216

a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 1,89.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


SUB BAB 4.5

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.

Usia 8-15 bulan ,159 57 ,001 ,924 57 ,002


Usia 16-23 ,177 57 ,000 ,894 57 ,000

a. Lilliefors Significance Correction

Group Statistics

Kelompok Anak N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Usia 8-15 bulan SECC 25 5,24 2,24 ,454

ECC 2 2,00 1,41 1,500


Usia 16-23 SECC 75 4,23 1,834 ,300

ECC 4 2,00 0,000 1,780

Hubungan Usia dengan Pengalaman Karies

Group Statistics

Kelompok Usia N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Rerata deft 8-15 57 2,3684 2,97988 ,39470

16-23 159 2,3648 2,49156 ,19759

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)

Pearson Chi-Square 2,773a 2 ,420


Likelihood Ratio 2,651 2 ,266
Linear-by-Linear Association 1,617 1 ,203
N of Valid Cases 216

a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 1,06.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Hubungan Jenis Kelamin dan Pengalaman Karies

Group Statistics

Jenis Kelamin N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Rerata deft Laki-Laki 114 2,6930 2,86303 ,26815


Perempuan 102 2,0000 2,28209 ,22596

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 1,664 2 ,137
Likelihood Ratio 1,708 2 ,426
Linear-by-Linear Association ,412 1 ,521
N of Valid Cases 216

a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 1,89.

SUB BAB 4.6

Descriptives

Risiko Karies Statistic Std. Error

Rerata deft Tinggi Mean 3,6842 ,21250

95% Confidence Interval for Lower Bound 3,2639


Mean Upper Bound 4,1045

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


5% Trimmed Mean 3,5990

Median 4,0000

Variance 6,006

Std. Deviation 2,45063

Minimum ,00

Maximum 9,00

Range 9,00

Interquartile Range 3,50

Skewness ,191 ,210

Kurtosis -,511 ,417

Rendah Mean ,2530 ,11089

95% Confidence Interval for Lower Bound ,0324


Mean Upper Bound ,4736

5% Trimmed Mean ,0361

Median ,0000

Variance 1,021

Std. Deviation 1,01023

Minimum ,00

Maximum 6,00

Range 6,00

Interquartile Range ,00

Skewness 4,268 ,264

Kurtosis 18,204 ,523

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Risiko Karies Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Rerata deft Tinggi ,125 133 ,000 ,943 133 ,000

Rendah ,527 83 ,000 ,271 83 ,000

a. Lilliefors Significance Correction

Test Statisticsa

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


Rerata deft

Mann-Whitney U 1235,500
Wilcoxon W 4721,500
Z -10,122
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000

a. Grouping Variable: Risiko Karies

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


4.7 KORELASI ANTARA RERATA PENGALAMAN KARIES IBU DAN
ANAK
Sub Bab 4.7

Tabel 13

Descriptives
DMF Ibu

95% Confidence Interval


for Mean

Std. Std. Lower Upper


N Mean Deviation Error Bound Bound Minimum Maximum

SECC 112 2,4554 1,73926 ,16434 2,1297 2,7810 ,00 10,00


ECC 4 2,2500 1,89297 ,94648 -,7621 5,2621 1,00 5,00
Bebas
100 1,6800 1,30175 ,13017 1,4217 1,9383 ,00 6,00
Karies
Total 216 2,0926 1,59381 ,10844 1,8788 2,3063 ,00 10,00

ANOVA
DMF Ibu

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 31,861 2 15,931 6,598 ,002


Within Groups 514,287 213 2,414
Total 546,148 215

Descriptives
Rerata deft

95% Confidence Interval


for Mean

Std. Std. Lower Upper


N Mean Deviation Error Bound Bound Minimum Maximum

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


SECC 112 4,4554 1,96770 ,18593 4,0869 4,8238 1,00 9,00
ECC 4 2,0000 ,81650 ,40825 ,7008 3,2992 1,00 3,00
Bebas
100 ,0000 ,00000 ,00000 -,039 ,119 ,00 ,00
Karies
Total 216 2,3657 2,62201 ,17840 2,0141 2,7174 ,00 9,00

ANOVA
Rerata deft

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 1030,490 2 515,245 245,181 ,000


Within Groups 447,617 213 2,101
Total 1478,106 215

Tabel 14

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

DMF 212 ,00 10,00 2,0896 1,59278


def 212 ,00 9,00 2,3726 2,64446
Valid N (listwise) 212

Correlations

DMF Ibu Rerata deft

DMF Ibu Pearson Correlation 1 ,321**

Sig. (2-tailed) ,000

N 216 216
**
Rerata deft Pearson Correlation ,321 1

Sig. (2-tailed) ,000

N 216 216

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA