Anda di halaman 1dari 7

Kelompok 4 Teori Akuntansi Syariah

Anggota :
1. Rossalia Hilda Safitri (16.322.005) Resume
2. Ulfa Hardyanti S. (16.322.015) Bab 12
3. Afidatul Munawaroh (16.322.022) Bab 13

BAB XII
KONSEP DASAR TEORI AKUNTANSI SYARIAH

Chua dan Degeling (1993) menggunakan teori aksi komunikasi dengan dimensi
instrumental, moral, dan aesthetic untuk melihat praktik akuntansi di sektor publik, khususnya
helath-care industry di Amerika Serikat. Praktik akuntansi di health-care industry dalam
kenyataannya tidak dapat melepaskan diri dari fungsinya sebagai instrument untuk
mengendalikan biaya (cost control), mengukur efisiensi, menguur productivity gains, dan
menilai kinerja. Dari penelitian ini juga dikemukakan bahwa instrumen akuntansi pada
dasarnya tidak bebas nilai, tetapi sebaliknya sarat nilai, sehingga untuk mempraktikkan
akuntansi sebagai instrumen juga harus mempertimbangkan nilai-niai etika yang berlaku di
mana akuntansi tadi dipraktikkan.
Triyuwono (1995; 2000a), misalnya menggunakan dimensi faith (iman), knowledge
(ilmu/pengetahuan), dan action (aksi/tindakan) sebagai satu kesatuan dalam memahami
budaya organisasi dan praktik akuntansi yang dilakukan di lembaga-lembaga keuangan Islam
baik yang profit-oriented maupun yang nirlaba. Bahkan dengan instrumen yang sama
dihasilkan metodologi konstruksi Akuntansi Syari’ah.

Akuntansi Syariah: Teori Ilmu Sosial Profetik


Secara normative, masyarakat muslim mempraktikkan akuntansi berdasarkan pada
perintah Allah dalam QS. Al-Baqarah (2) : 282. Perintah ini sesungguhnya bersifat universal
dalam arti bahwa praktik pencatatan harus dilakukan dengan benar atas transaksi yang
dilakukan oleh seseorang dengan orang lainnya. “Substansi” dari perintah ini adalah : (1)
praktik pencatatan yang harus dilakukan dengan (2) benar (adil dan jujur). Substansi dalam
konteks ini, sekali lagi, berlaku umum sepanjang masa, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Sementara yang selalu terkait dengan “substansi” adalah “bentuk”. Berbeda dengan
“substansi”, “bentuk” selalu dibatasi oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu “bentuk” akan
selau berubah sepanjang masa mengikuti perubahan itu sendiri. Yang dimaksud dengan
“bentuk” di sini adalah teknik dan prosedur akuntansi, perlakukan akuntansi, bentuk laporan
keuangan dan lain-lainnya. “Bentuk” selalu melekat dengan kondisi objektif (lingkungan
sosial, ekonomi, politik, budaya, dan lain-lainnya) dari masyarakat dimana akuntansi tadi
dipraktikkan.
Perintah normatif Al-Qur’an diatas perlu dioperasionalkan dalam bentuk aksi / praktik.
Sehingga perintah Al-Qur’an dapat membumi (dapat dipraktikan) dalam masyarakat. Selama
ini masyarakat muslim secara umum terperangkap pada aspek normative dalam memahami
perintah-perintah agama, dan sebaliknya melupakan praktiknnya. Dalam kaitannya dengan in
Kuntowidjojo (1991) mengusulkan perlunya “ilmu sosial profetik”. Ilmu sosial profetik disini

Teori Akuntansi Syariah (Kelompok IV)


merupakan ilmu yang diturunkan dari Al-Qur’an dan Hadist dengan menggunakan kaidah-
kaidah ilmiah yang nantinya digunakan untuk menjembatani antara perintah normative
dengan praktik.
Dengan ilmu ini, perintah-perintah normative menjadi lebih operasional dan dapat
dipraktikkan dalam dunia nyata. Dalam konteks ini, akuntansi syariah sebetulnya merupakan
bagian dari upaya dalam membangun ilmu sosial profetik di bidang akuntansi. Perintah
normative telah ada dalam Al-Qur’an, yang menerjemahkan bentuk teori Akuntansi Syariah
yang pada gilirannya digunakan untuk memberikan arah (guidance) tentang praktik akuntansi
yang sesuai dengan syariah.

Prinsip Filosofis Akuntansi Syariah


Pembahasan teori Akuntansi Syairah disini tidak terlepas dari konteks faith,
knowledge, dan action. Ini artinya teori Akuntansi Syariah (dalam hal ini adalah knowledge)
digunakan untuk memandu praktik akuntansi (action). Dari keterkaitan ini teori Akuntansi
Syariah (knowledge) dan praktik Akuntansi Syariah (action) adalah dua sisi dari satu uang
logam yang sama. Keduanya tidak dapat dipisahkan, keduanya juga tidak boleh lepas dari
bingkai keimanan / tauhid (faith) yang dalam hal ini bisa digambarkan sebagai sisi lingkaran
pada uang logam yang membatasi dua sisi lainnya untuk tidak keluar dari keimanan.
Dalam konteks lingkaran keimanan tadi, maka secara filosofis teori Akuntansi Syariah
(sebagai salah satu ilmu sosial profetik) memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut
(Kuntowidjojo 1991: Triyuwono 1995; 2000a; 2000b) ;
 Humanis
Bahwa teori Akuntansi Syariah bersifat manusiawi, sesuai dengan fitrah manusia,
dan dapat dipraktikkan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh manusia sebagai
makhluk yang selalu berinteraksi dengan orang lain (dan alam) secara dinamis dalam
kehidupan sehari-hari.
 Emansipatoris
Bahwa teori Akuntansi Syariah mampu melakukan perubahan-perubahan
(perubahan yang membebaskan (emansipasi)) yang signifikan terhadap teori dan praktik
akuntansi modern yang eksis saat ini.
 Transendental
Bahwa teori Akuntansi Syariah melintas batas disiplin ilmu akuntansi itu sendiri,
bahkan melintas batas dunia materi (ekonomi). Teori Akuntansi Syariah dapat
memperkaya dirinya sendiri dengan mengadopsi disiplin ilmu lainnya seperti; sosiologi,
etnologi, fenomenologi, antropologi, dan lainnya, bahkan dapat mengadopsi nilai ajaran
“agama lain”.
Aspek transedental juga menyangkut aspek ontology, yaitu tidak terbatas pada
objek yang bersifat materi (ekonomi), tetapi juga aspek non-materi (mental dan
spiritual). Pada aspek epistemologinya, yaitu dengan melakukan kombinasi dari
berbagai pendekatan. Sehingga, teori akuntansi syariah akan bersifat emansipatoris.
 Teleological
Bahwa akuntansi tidak sekadar memberikan informasi untuk pengambilan
keputusan ekonomi, tetapi juga memiliki tujuan transendental sebagai bentuk

Teori Akuntansi Syariah (Kelompok IV)


pertanggung jawaban manusia terhadap Tuhannya, kepada sesama manusia, dan kepada
alam semesta.
Prinsip filosofis ini menjadi bagian yang sangat penting dalam konstruksi
Akuntansi Syariah, karena di dalamnya terkandung karakter yang unik yang tidak dapat
ditemukan dalam wacana akuntansi modern. Teori Akuntansi Syariah memberikan
guidance tentang bagaimana seharusnya Akuntansi Syariah itu dipraktikkan.

Konsep Dasar Teori Akuntansi Syariah


Konsep dasar merupakan wujud (atau kerangka) dasar yang akan mempengaruhi
bentuk teori, cara memandang, dan cara mempraktikkan akuntansi dalam dunia ekonomi -
bisnis. Lebih lanjut dikatakan oleh Hendriksen dan Van Breda (1992) bahwa tujuan utama
dari teori akuntansi ini adalah memberikan satu set prinsip yang diturunkan secara logis untuk
dijadikan sebagai referensi dalam menilai dan mengembangkan praktik akuntansi.

Tabel prinsip filosofis dan konsep dasar teori akuntansi syariah ;

No Prinsip Filosofis Konsep Dasar


1 Humanis · Instrumental
· Socio-economic
2 Emansipatoris · Critical
· Justice
· All-inclusive
3 Transendental · Rational-intuitive
· Ethical
4 Teleologikal · Holistic Welfare

Konsep dasar ekonomi - bisnis mengindikasikan bahwa teori Akuntansi Syariah tidak
membatasi wacana yang dimilikinya pada transaksi-transaksi ekonomi saja, tetapi juga
mencakup “transaksi-transaksi sosial”. “Transaksi sosial” di sini meliputi “transaksi” yang
menyangkut aspek sosial, mental dan spiritual dari sumber daya yang dimiliki oleh entitas
bisnis (Cf. Mathews 1993).
Dari derivasi prinsip filosofis emansipatoris, mendapatkan konsep dasar critical dan
justice. Konsep dasar critical memberikan dasar pemikiran bahwa konstruksi teori Akuntansi
syariah tidak bersifat dogmatis dan eksklusif. Sikap kritis mengindikasikan bahwa dapat
menilai secara rasional kelemahan dan kekuatan akuntansi yang lebih baik, dari penilai kritis
ini dapat dibangun teori akuntansi yang lebih baik dari sebelumnya.
Dari prinsip filosofis transcendental, mendapatkan konsep dasar all-inclusive dan
rational-intuitive. Konsep dasar all-inclusive memberikan dasar pemikiran bahwa konstruksi
teori Akuntansi Syariah bersifat terbuka. Artinya, tidak menutup kemungkinan bahwa teori
Akuntansi Syariah akan mengadopsi konsep-konsep dari akuntansi modern, sepanjang konsep
tersebut selaras dengan nilai-nilai Islam. Secara implisit, konsep ini mengarah pada pemikiran
bahwa substansi lebih penting dari pada bentuk.
Konsep dasar rational-intuitive mengindikasikan bahwa secara epistemologi,
konstruksi teori Akuntansi Syariah memadukan kekuatan rasional dan intuisi manusia.

Teori Akuntansi Syariah (Kelompok IV)


Konsep ini tentunya sangat berbeda dengan konsep teori-teori modern. Teori-teori modern
(termasuk akuntansi) mendudukkan rasio pada posisi sentral dan sebaliknya menyingkirkan
intuisi dalam proses konstruksi teori.
Intuisi manusia memiliki kekuatan yang sangat besar dalam melakukan perubahan-
perubahan signifikan dalam masyarakat. Intuisi inilah sebetulnya merupakan instrumen ajaib
yang dapat melahirkan inovasi-inovasi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Jadi bukan
suatu hal yang aneh, bila dalam konstruksi teori Akuntansi Syariah, intuisi merupakan
instrumen yang sangat penting yang kemudian disinergikan dengan instrumen rasional
manusia.
Selanjutnya dari pinsip filosofis teleologikal terdapat konsep dasar ethnical dan
holistic. Ethical merupakan konsep dasar yang dihasilkan dari konsekuensi logis keinginan
kembali ke Tuhan dalam keadaan tenang dan suci. Untuk kembali ke Tuhan dengan jiwa yang
tenang dan suci, maka seseorang harus mengikuti hukum-hukum-Nya (Sunnatullah) yang
mengatur baik-buruk, benar-salah, adil-zholim. Singkatnya, teori Akuntansi Syariah dibangun
berdasarkan nilai-nilai etika Islam.
Konsekuensi dari penggunaan nilai-nilai etika Islam dalam konstruksi Akuntansi
Syariah adalah diakuinya bahwa kesejahteraan yang menjadi salah satu aspek Akuntansi
Syariah tidak terbatas pada kesejahteraan materi saja, tetapi juga kesejahteraan non-materi.
Jadi yang dimaksud dengan kesejahteraan disini adalah kesejahteraan yang utuh (holistic
welfare). Hal ini berbeda dengan teori akuntansi modern yang hanya berorientasi pada
kesejahteraan materi.

Teori Akuntansi Syariah (Kelompok IV)


BAB XIII
SINERGI OPOSISI BINER : FORMULASI TUJUAN DASAR LAPORAN
KEUANGAN AKUNTANSI SYARIAH

Entity Theory : Unifikasi Kekuasaan Ekonomi


Gagasan utama dari entity theory ini adalah memahami perusahaan sebagai entitas
yang terpisah dari pemiliknya. Teori ini muncul dengan maksud mengurangi kelemahan-
kelemahan yang ada dalam proprietary theory di mana proprietor menjadi pusat perhatian
(Kam, 1990: 302-306). Dalam konteks teori ini terdapat dua pandangan yang berbeda. Versi
pertama adalah versi tradisional yang memandang bahwa perusahaan beroperasi untuk
keuntungan pemegang saham. Versi kedua atau yang lebih baru menganggap bahwa sebuah
entitas adalah bisnis untuk dirinya sendiri yang berkepentingan terhadap kelangsungan hidup
dan perkembangannya.
Dalam konsep entity theory terdapat aspek ideologis yang sama dengan konsep
proprietary theory :
 Konsep ini melanjutkan memuat absoluditas kepemilikan individu yang disimbolisasikan
oleh konsep proprietary tidak digunakan lagi, hak dan kewajiban pemilik menjadi
terbatas terhadap kekayaan perusahaan.
 Kemutlakan hak kepemilikan tidak terletak pada kekuasaannya untuk merealisasikan
kekayaan, tetapi pada terbebasnya kekuasaan tersebut dari etika kemanusiaan.
Transformasi ini merupakan kreatifitas luar biasa dari konsep ini untuk menutupi problem
normative-etis perilaku kapitalisme.
 Legitimasi, “normative-etis” dengan bentuk persamaanyya menawarkan basis rasionalitas
baru sebagai legitimasi, yaitu perilaku kapitalisasi entitas bisnis yang memperoleh
legitimasi atas perilakunya itu hingga menjadi sah secara etis.

Pengaruh rasionalitas berpengaruh terhadap formulasi dari tujuan laporan keuangan.


Tujuan dasar laopran keuangan yaitu merefleksikan kepentingan investor atas manfaat
ekonomi dari apa yang telah diinvestasikan. Maka dari itu pihak investor membutuhkan
laporan keuangan untuk pengambilan keputusan. Lebih jauh lagi laporan keuanga juga
dibutuhkan pihak kreditur (penyetor modal) dengan harapan apa yang telah mereka berikan
menghasilkan return yang setimpal.
Hal yang krusial adalah bahwa akuntansi menjadi kendaraan yang dikuasasi oleh
pemilik modal di mana kekuasaan tunggal ekonomi berada pada tangan kapitalis. Akuntansi
akhirnya cenderung memperkuat budaya eksploitasi, dan ekploitasi ini tidak saja dilakukan
terhadap pihak-pihak lain dari stakeholder, tetapi juga eksploitasi terhadap alam.

Enterprise Theory : Diversifikasi Kekuasaan Ekonomi


Enterprise teori ialah wujud kosep masa depan ekonomi dimana tidak hanya
kepentingan shareholder (investor, kreditor, dll) melainkan bertambah ke social yaitu
stakeholder (masyarakat, pemerintah,dll). Enterprise teori merupakan perkembangan dari
konsep ekonomi terdahulu (proprietary theory dan entity theory) dimana keberhasilan
perusahan tidak hanya dipandang dari sudut pandang pemegang saham melainkan ada sapek
lain yaitu : pelanggan, kreditor, manajeman, pegawai, pemasok, pemerintah, dll).

Teori Akuntansi Syariah (Kelompok IV)


Konsep ini memanglah dekat dengan prinsip syariah, namun sudut pandang syariah, ia
belum mengakui adanya partisipan lain secara tidak langsung memberikan kontribusi
ekonomi. Bisa dikatakan bahwa konsep ini belum bisa dikatakan sebuah justifikasi ke konsep
teoritis akuntansi syariah.

Epistimologi Sinergi Oposisi Biner


Oposisi biner memuat pola pikir dimana posisi yang satu cenderung meniadakan atau
memarginalkan posisi yang lain , misalnya “bentuk” memarjinalkan “substansi” atau
“kompetisi”. Sehubung dengan itu Hines (1992: 328) berpendapat bahwa akuntansi modern-
sebagai produk dari budaya modernitas-cenderung untuk memarginalkan the negative space
(seperti, pauses, punctuation, rests, breaths and silence) atau yang lain dari sebuah totalitas.
Kearifan tradisi Islam telah mengajarkan asas “berpasangan” dalam takaran yang
seimbang (QS 36: 36). Kearifan tradisi Tao juga berpegang pada konsep berpasangan, yaitu
Yin (feminism) dan Yang (Maskulin). Konsep ini sebetulnya ialah sunatullah. Namun
budaya modernitas cenderung mengabaikan nilai-nilai feminism dari segala aspek kehidupan;
demikian juga di dunia akuntansi.
Secara ideal, oposisi biner harus didudukan secara berpasangan sebagaimana kearifan
tradisi islam dan Tao. Artinya mendudukan sesuatu yang bertentangan dalam posisi yang
sinergis, sebagaimana ditemukan pada “penggabungan” aliran listrik “negative” dan “positif”.
Tanpa penggabungan ini, mustahil peradaban manusia saat ini merasakan manfaat yang luar
biasa dari aliran listrik.
Secara normative tujuan laporan keuangan akuntansi syariah dapat diformulasikan
sebagai perpaduan antara aspek-aspek yang bersifat materialistik dan spiritualistic. Akuntansi
modern telah memiliki sifat materialistic, yaitu sifat maskulin yang berorientasi pada aspek
ekonomi, pengukuran yang eksak, kuantitatif, dan lain sebagainya.

Tujuan Dasar Laporan Keuangan Akuntansi Syariah


Pada dasarnya akuntansi syariah merupakan instrument akuntabilitas yang digunakan
oleh manajemen kepada Tuhan, stakeholder dan alam. Pemikiran ini mempunyai dua
implikasi.
1. Akuntasni syariah harus dibangun sedemikian rupa berdasarkan nilai-nilai etika,
sehingga bentuk akuntansi syariah menjadi lebih adil, tidak berat sebelah, sebagaimana
kita temukan pada akuntansi modern yang memihak kepada para kapitalis dan
memenangkan nilai-nilai maskulin.
2. Praktik bisnis dan akuntansi yang dilakukan manajemn juga harus berdasarkan pada
nilai-nilai etika syariah. Sehinga jika dua implikasi ini benar-benar ada, maka
akuntabilitas yang dilakukan oleh manajemen adalah akuntabilitas yang suci. Atau
dengan kata lain mmanajemen menyajikan persembahan suci ini dengan ridha.

Dari penjelasan diatas kita dapat memahami bahwa akuntabilitas memang merupakan
spirit dari bentuk akuntansi syariah sekaligus juga merupakan spirit dari praktik bisnis dan
akuntansi yang dilakukan oleh manajemen. Akuntabilitas menjadi spirit yang mendasari
bentuk akuntansi dan informasi akuntansi. Bentuk dan informasi akuntansi dengan spirit etika
syariah ini digunakan untuk pengambilan keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Teori Akuntansi Syariah (Kelompok IV)


Lebih dalam, perlu diketahui bahwa dalam pemikiran ini, pemberian informasi tidak
terbatas pada pemberian informasi kuantitatif, sebagaimana pada akuntansi modern, tetapi
juga melingkupi informasi kuantitatif, baik yang bersifat ekonomi maupun social, spiritual,
dan politik bisnis.
Akuntansi syariah tidak dapat dipahami melalui pendekatan konvensional, karena
merupakan instrument bisnis yang terkait dengan Tuhan, manusia, dan alam. Manusia
diasumsikan sebagai khalifatullah fil ardh yang membawa amanah Tuhan untuk menciptakan
dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Menganggap manusia sebagai khalifatullah fil
ardh membawa akuntansi dengan wajah yang lebih humanis, emansipatoris, transcendental,
dan teleologika yang kemudian terlihat pada tujuan dasarnya, yaitu akuntabilitas dan
pemberian infomasi.

Teori Akuntansi Syariah (Kelompok IV)

Anda mungkin juga menyukai