Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PRE-EKLAMSIA DAN


EKLAMSIA

Makalah ini di susun untuk memenuhi penugasan kelompok dalam mata


perkuliahan Sistem Reproduksi yang di ampu oleh Ibu Nur Hidayatin,
S.Kep, Ns

Disusun Oleh:

 IMAM NUR FAUZI (2016.02.016)


 INDRIANA NOVITA M (2016.02.017)

PROGAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI

MARET 2019
LEMBAR PENGESAHAN

Makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Dengan Pre-Eklamsia Dan


Eklamsia” ini disusun oleh :
1) IMAM NUR FAUZI  2016.02.016
2) INDRIANA NOVITA M.  2016.02.017

Dosen pembimbing,

Nur Hidayatin, S.Kep, Ns


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena


berkat Rahmat dan pertolonganNya, kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “Asuhan Keperawatan Dengan Pre-Eklamsia Dan Eklamsia”

Tak lupa pula kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Nur Hidayatin, S.Kep,
Ns selaku dosen Mata Kuliah Sistem Reproduksi ini yang telah memberikan
tugas ini guna meningkatkan pengetahuan kami.

Penulis menyadari bahwasanya makalah ini sangat penting terutama bagi


kalangan perawat untuk menambah wawasan mereka mengenai Asuhan
Keperawatan Dengan Pre-Eklamsia Dan Eklamsia. Dengan adanya makalah ini,
penulis berharap pembaca lebih tahu tentang Asuhan keperawatan.

Dengan demikian penulis selaku penyusun berharap mampu memberikan


informasi kepada pembaca. Terima kasih.

Banyuwangi, Maret 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pre-eklamsia dan eklamsia merupakan kumpulan gejala yang timbul pada
ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias: hipertensi,
proteinuria dan oedema, yang kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma.
Ibu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi
sebelumnya (Mochtar, 1998).
Tingginya kejadian pre-eklamsia- eklamsia di negara-negara
berkembang dihubungkan dengan masih rendahnya status sosial ekonomi dan
tingkat pendidikan yang dimiliki kebanyakan masyarakat. Kedua hal tersebut
saling terkait dan sangat berperan dalam menentukan tingkat penyerapan dan
pemahaman terhadap berbagai informasi/masalah kesehatan yang timbul baik
pada dirinya ataupun untuk lingkungan sekitarnya (Zuhrina, 2010).

Menurut World Health Organization (WHO), salah satu penyebab


morbiditas dan mortalitas ibu dan janin adalah pre-eklamsia (PE), angka
kejadiannya berkisar antara 0,51%-38,4%. Di negara maju angka kejadian
pre- eklampsia berkisar 6-7% dan eklampsia 0,1-0,7%. Sedangkan angka
kematian ibu yang diakibatkan pre-eklampsia dan eklampsia di negara
berkembang masih tinggi (Amelda, 2009).

Berdasarkan kejadian tersebut, maka kami tertarik untuk membahas hal


ini, serta sebagai tugas dalam makalah Keperawatan Maternitas Asuhan
Keperawatan Ibu Hamil dengan Preeklamsi.

B. RUMUSAN MASALAH
1) Apa definisi pre-eklamsia dan eklamsia?
2) Bagaimana etiologi dari pre-eklamsia dan eklamsia?
3) Apa saja manifestasi klinis pre-eklamsia dan eklamsia?
4) Bagaimana patofisiologi pre-eklamsia dan eklamsia?
5) Bagaimana penatalaksanaan pre-eklamsia dan eklamsia?
6) Bagaimana konsep asuhan keperawatan pre-eklamsia dan eklamsia?
7) Apa saja diagnosa keperawatan pre-eklamsia dan eklamsia?
8) Bagaimana intervensi keperawatan pre-eklamsia dan eklamsia?
C. TUJUAN
1) Mengetahui definisi pre-eklamsia dan eklamsia
2) Mengetahui etiologi pre-eklamsia dan eklamsia
3) Mengetahui manifestasi klinis pre-eklamsia dan eklamsia
4) Mengetahui patofisiologi pre-eklamsia dan eklamsia
5) Mengetahui penatalaksanan pre-eklamsia dan eklamsia
6) Mengetahui konsep asuhan keperawatan pre-eklamsia dan eklamsia
7) Mengetahui diagnosa keperawatan pre-eklamsia dan eklamsia
8) Mengetahui intervensi pre-eklamsia dan eklamsia
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI
1. Pre-eklamsia
Pre-eklampsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi,
edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan.Penyakit ini
umumnya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan, tetapi dapat terjadi
sebelumnya, misalnya pada mola hidatosa. Preeclampsia adalah
timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan
setelah persalinan. (Manjoer Arif,2000:270).
Pra-eklampsia adalah suatu kondisi yang spesifik pada kehamilan,
terjadi setelah minggu ke-20 gestasi, ditandai dengan hipertensi dan
proteinuria.Edema juga dapat terjadi. (Safe Motherhood:2001).

2. Eklamsia
Istilah eklampsia berasal dari bahasa Yunani dan berarti
“halilintar”. Kata tersebut dipakai karena seolah – olah gejala – gejala
eklamsia timbul dengan tiba – tiba tanpa didahului oleh tanda – tanda
lain. Sekarang kita ketahui bahwa eklampsia pada umumnya timbul
pada wanita hamil atau dalam nifas dengan tanda – tanda pre-eklampsia.
Pada wanita yang menderita eklampsia timbul serangan kejangan uang
diikuti oleh koma. Tergantung dari saat timbulnya eklampsia dibedakan
eklampsia gravidarum, eklampsia parturientum, eklampsia puerperale.
Perlu dikemukakan bahwa pada eklampsia gravidarum sering kali
persalinan mulai tidak lama kemudian.
Dengan pengetahuan bahwa biasanya eklampsia didahului olah
pre-eklampsia, tampak pentingmya pengawasan antenatal yang teliti dan
teratur, sebagai usaha untuk mencegah timbulnya penyakit itu.
B. ETIOLOGI
Apa yang menjadi penyebab pre-eklampsia dan eklampsia sampai
sekarang belum diketahui. Telah terdapat banyak teori yang mencoba
menerangkan sebab-sebab penyakit terebut, akan tetapi tidak ada yang dapat
memberi jawaban yang memuaskan. Teori yang dapat diterima harus dapat
menerangkan hal-hal berikut:

1) Sebab bertambahnya frekuensi pada primigravidaritas, kehamilan


ganda, hidramnion, dan mola hidatidosa.
2) Sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan.
3) Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian
janin dalam uterus.
4) Sebab jarang terjadinya eklampsia pada kehamilan-kehamilan
berikutnya.
5) Sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang, dan koma.

Etiologi pre-eklampsia sampai saat ini belum diketahui dengan


pasti.Banyak teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli yang mencoba
menerangkan penyebabnya, oleh karena itu disebut “penyakit teori”; namun
belum ada yang memberikan jawaban yang memuaskan.Teori sekarang
yang dipakai sebagai penyebab pre-eklampsia adalah teori “iskemia
plasenta”.Namun teori belum dapat menerangkan semuahal yang berkaitan
dengan penyakit ini (Rustam, 1998). Adapun teori-teori tersebut adalah;

a) Peran Prostasiklin Dan Tromboksan


Pada pre-eklampsia dan eklampsia didapatkan kerusakan pada endotel
vaskuler, sehingga sekresi vasodilator prostasiklin oleh sel-sel
sendotelial plasenta berkurang, sedangkan pada kehamilan normal,
prostasiklin meningkat.Sekresi tromboksan oleh trombosit bertambah
sehingga timbul vasokonstriksi generalisata dan sekresi aldosterone
menurun.Akibat perubahan ini menyebabkan pengurangan perfusi
plasenta sebanyak 50%, hipertensi dan penurunan volumeplasma
(Y, Joko, 2002).
b) Peran Faktor Imunologis
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama karena pada
kehamilan pertama terjadi pembentukan blocking antibodies terhadap
antigen plasenta tidak sempurna.Pada pre-eklampsia terjadi kompleks
imun humoral dan aktivasi komplemen.Hal ini dapat diikuti dengan
terjadinya pembentukan proteinuria.
c) Peran Faktor Genetik
Pre-eklampsia hanya terjadi pada manusia.pre-eklampsia meningkat
pada anak dari ibu yang menderita pre-eklampsia.
d) Iskemik dari Uterus
Terjadi karena penurunan aliran darah di uterus.
e) Defisiensi Kalsium
Diketahui bahwa kalsium berfungsi membantu mempertahankan
vasodilatasi dari pembuluh darah (Joane, 2006).
f) Disfungsi dan aktivasi dari endothelial
Kerusakan sel endotel vaskuler maternal memiliki peranan penting
dalam pathogenesis terjadinya pre-eklampsia.Fibronektin dilepaskan
oleh sel endotel yang mengalami kerusakan dan meningkat secara
signifikan dalam darah wanita hamil dengan pre-eklampsia. Kenaikan
kadar fibronektin sudah dimulai pada trimester pertama kehamilan dan
kadar fibronektin akan meningkat sesuai dengan kemajuan kehamilan
(Drajat Koerniawan)

C. MANIFESTASI KLINIS
Diagnosis preeklampsia ditegakan berdasarkan adanya dua dari tiga
gejala, yaitu pemambahan berat badan yang berlebihan,edema, hipertensi,
dan proteinuria. Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi
kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali. Edema terlihat sebagai peningkatan
berat badan,pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka.Tekanan darah >
140/90 mmHg atau tekenen sistolik meningkat > 30 mmHg atau tekanan
diastolik > 15 mmHg yang di ukur setelah pasien beristirahat selama 30
menit. Tekanan diastolik pada trimester kedua yang lebih dari 85 mmHg
patut dicurigai sebagai bakat preeklampsia. Proteinuria apabila terdapat
protein sebanyak 0,3 g/l dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan
kualitatif menunjukan +1 atau 2 atau kadar protein > 1g /l dalam urin yang
dikeluarkan dengan kateter atau porsi tengah, diambil minimal 2 kali dengan
jarak waktu 6 jam.
Disebut preeklampsia berat bila ditemukan gejala berikut:
1) Tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau diastolik > 110 mmHg
2) Proteinuria +> 5 g/24 jam atau > 3 pada tes celup
3) sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan
4) Nyeri epigastrium dan ikterus
5) Edema paru atau sianosis
6) Trombositopenia
7) Pertumbuhan janin terhambat
Diagnosis eklampsia ditegakkan berdasarkan gejala-gajala
preeklampsia disertai kejang atau koma. Sedangkan, bila terdapat gejala
preeklampsia berat dusertai salah satu atau beberapa gejala dari nyeri kepala
hebat , gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium dan keneikan
tekanan darah yang progresif, dikatakan pasien tersebut menderita
impending preeklampsia. Impending preeklampsia ditangani dengan kasus
eklampsia.

D. PATOFISIOLOGI
1. Pre-eklamsia
Pre-eklampsia ringan jarang sekali menyebabkan kematian ibu.
Oleh karena itu, sebagian besar pemeriksaan anatomi patologik berasal
dari penderita eklampsia yang meninggal. Pada penyelidikan akhir-
akhir ini dengan biopsi hati dan ginjal ternyata bahwa perubahan
anatomi-patologik pada alat-alat itu pada pre-eklampsia tidak banyak
berbeda daripada yang ditemukan pada eklampsia. Perlu dikemukakan
di sini bahwa tidak ada perubahan histopatologik yang khas pada pre-
eklampsia dan eklampsia. Perdarahan, infark, nekrosis, dan trombosis
pembuluh darah kecil pada penyakit ini dapat ditemukan dalam
berbagai alat tubuh. Perubahan tersebut mungkin sekali disebabkan oleh
vasospasmus arteriola. Penimbunan fibrin dalam pembuluh darah
merupakan faktor penting juga dalam patogenesis kelainan-kelainan
tersebut. (Prawirohardjo, Sarwono, 1991).

a) Pathologi dan patogenesis


Tiga lesi patologis utama yang terutama berkaitan dengan pre-
eklampsia dan eklampsia :
1. Perdarahan dan neklosis di banyak organ, sekunder terhadap
kontriksi kapiler
2. Endoteliosis kapiler glomeruler.
3. Tidak adanya dilatasi arteri spilar.
(Kemenkes, 2008)

b) Perubahan anatomi-patologik

Plasenta. Pada pre-eklampsia terdapat spasmus arteriola spiralis


desidua dengan akibat menurunnya aliran darah ke plasenta. Perubahan
plasenta normal seba akibat tuanya kehamilan, seperti menipisnya
sinsitium, menebalnya dinding pembuluh darah dalam villi karena
fibrosis, dan konversi mesoderm menjadi jaringan fibrotic, dipercepat
prosesnya pada pre-eklampsia dan hipertensi. Pada pre-eklampsia yang
jelas ialah atrofi sinsitium, sedangkan pada hipertensi menahun
terdapat terutama perubahan pada pembuluh darah dan stroma. Arteria
spiralis mengalami konstriksi dan penyempitan, akibat aterosis akut
disertai necrotizing teriopathy.

Ginjal. Alat ini besarnya normal atau dapat membengkak. Pada


simpai ginjal dan pada pemotongan mungkin ditemukan perdarahan-
perdarahan kecil.Penyelidikan biopsi pada ginjal oleh Altchek dan
kawan-kawan (1968) menunjukkan pada pre-eklampsia bahwa
kelainan berupa: 1) kelainan glomerulus; 2) hyperplasia sel-sel
jukstaglomeruler; 3) kelainan pada tubulus-tubulus Henle; 4) spasmus
pembuluh darah ke glomerulus.
Glomerulus tampak sedikit membengkak dengan perubahan-perubahan
sebagai berikut: a) sel-sel diantara kapiler bertambah; b) tampak dengan
mikroskop biasa bahwa membran basalis dinding kapiler glomerulus
seolah-olah terbelah, tetapi ternyata keadaan tersebut dengan mikroskop
electron disebabkan oleh bertambahnya maktriks mesangial; c) sel-sel
kapiler membengkak dan lumen menyempit atau tidak ada; d)
penimbunan zat protein berupa serabut ditemukan dalam kapsul
Bowman.
Sel-sel jukstaglomeruler tampak membesar dan bertambah dengan
pembengkakan sitoplasma sel dan bervakuolisasi.
Epitel tubulus-tubulus Henle berdeskuamasi hebat; tampak jelas
fragmen inti sel terpecah-pecah.Pembengkakan sitoplasma dan
vakuolisasi nyata sekali. Pada tempat lain tampak
regenerasi.Perubahan-perubahan tersebutlah tampaknya yang
menyebabkan proteinuria dan mungkin sekali ada hubungannya dengan
retensi garam dan air.Sesudah persalinan berakhir, sebagian besar
perubahan yang digambarkan menghilang, hanya kadang-kadang
ditemukan sisa-sisa penambahan matriks mesangial.

Hati. Alat ini besarnya normal, pada permukaan dan pembelahan


tampak tempat-tempat perdarahan yang tidak teratur.
Pada pemeriksaan mikrosopik dapat ditemukan perdarahan dan nekrosis
pada tepi lobules, disertai thrombosis pada pembuluh darah kecil,
terutama di sekitar vena porta. Walaupun umumnya lokasi ialah
periportal, namun perubahan tersebut dapat ditemukan di tempat-tempat
lain. Dalam pada itu, rupanya tidak ada hubungan langsung antara berat
penyakit dan luas perubahan pada hati.
Otak. Pada penyakit yang belum lanjut hanya ditemukan edema
dan anemia pada korteks serebri; pada keadaan lanjut dapat ditemukan
perdarahan.

Retina. Kelainan yang sering ditemukan pada retina ialah spasmus


pada arteriola-arteriola, terutama yang dekat pada diskus optikus. Vena
tampak lekuk pada persimpangan dengan arteriola. Dapat terlihat
edema pada diskus optikus dan retina.
Ablasio retina juga dapat terjadi, tetapi komplikasi ini prognosisnya
baik, karena retina akan melekat lagi beberapa minggu postpartum.
Perdarahan dan eksudat jarang ditemukan pada pre-eklampsia; biasanya
kelainan tersebut menunjukkan adanya hipertensi menahun.

Paru-paru. Paru-paru menunjukkan berbagai tingkat edema dan


perubahan karena bronkopneumonia sebagai akibat aspirasi. Kadang-
kadang ditemukan abses paru-paru.

Jantung. Pada sebagian besar penderita yang mati karena


eklampsia jantung biasanya mengalami perubahan degeneratif pada
miokardium. Sering ditemukan degenasi lemak dan cloudy swelling
serta nekrosis dan perdarahan.Sheehan (1958) menggambarkan
perdarahan subendokardial di sebelah kiri septum inteventrikulare pada
kira-kira dua pertiga eklampsia yang meninggal dalam 2 hari pertama
setelah timbulnya penyakit.

Kelenjar adrenal. Kelenjar adrenal dapat menunjukkan kelainan


berupa perdarahan dan nekrosis dalam berbagai tingkat.

2. EKLAMSIA
Pada eklampsia, kejang-kejang dapat menyebabkan kadar gula
darah naik untuk sementara, asidum laktikum dan asam organic lain
naik, dan bikarbonas natrikus, sehungga menyebabkan cadangan alkali
turun. Setelah kejangan, zat organic dioksidasi, sehingga natrium
dilepaskan untuk dapat bereaksi dengan asam karbonik menjadi
bikarbonas natrikus. Dengan demiian, cadangan alali dapat pulih
kembali.

Oleh beberapa penulis kadar asam urat dalam darah dipakai


sebagai parameter untuk menentukan proses pre-eklampsia menjadi
baik atau tidak. Pada keadaan normal asam urat melewati glomelurus
dengan sempurna untuk diserap kembali dengan sempurna oleh tubulus
kontorti proksimalis dan akhirnya dikeluarkan oleh tubulus kontorti
distalis. Tampaknya perubahan pada glomelurus menyebabkan filtrasi
asam urat mengurang, sehingga kadarnya dalam darah meningkat. Akan
tetapi, kadar asam urat yang tinggi tidak selalu ditemukan. Selanjutnya,
pemakaian diuretika golongan tiazid menyebabkan kadar asam urat
meningkat.

Kadar kreatinin dan ureum pada pre-eklampsia tidak meningkat,


kecuali bila terjadi oliguria atau anuria. Protein serum total,
perbandingan albumin globulin dan tekanan osmotic plasma menurun
pada pre-eklampsia, kecuali pada penyakit yang berat dengan
hemokonsentrasi.
Pada kehamilan cukup bulan kadar fibrinogen meningkat dengan
nyata. Kadar tersebut lebih meningkat lagi pada pre-eklampsia.Waktu
pembekuan lebih pendek dan kadang-kadang ditemukan kurang dari 1
menit pada eklampsia. (Prawirohardjo, Sarwono. 1991)
E. PENATALAKSANAAN
1. Pre-eklamsia
Pengobatan hanya dapat dilakukan secara simtomatis karena
etiologi pre-eklampsia, dan faktor-faktor apa dalam kehamilan yang
menyebabkannya, belum diketahui. Tujuan utama ialah (1) mencegah
terjadinya pre-eklampsia berat dan eklampsia; (2) melahirkanjanin
hidup; (3) melahirkan janin dengan trauma sekecil-kecilnya.
Pada dasarnya penanganan pre-eklampsia terdiri atas pengobatan medik
dan penanganan obstetrik.
Pengobatan pre-eklampsia yang tepat ialah pengakhiran kehamilan
karena tindakan tersebut menghilangkan sebabnya dan mencegah
terjadinya eklampsia dengan bayi yang masih prematur penundaan
pengakhiran kehamilan mungkin dapat menyebabkan eklampsia atau
kematian janin. Pada janin dengan berat badan kemungkinan hidup
pada pre-eklampsia berat lebih baik di luar dari di dalam uterus. Cara
pengakhiran dapat dilakukan dengan induksi persalinan atau seksio
sesarea menurut keadaan. Pada umumnya indikasi untuk kehamilan
ialah : (1) pre-eklampsia ringan dengan kehamilan lebih dari cukup
bulan (2) pre-eklampsia dengan hipertensi dan/atau proteinuria
menetap selama 10-14 hari, dan janin sudah cukup matur; (3) pre-
eklampsia berat; (4) eklampsia.
Penanganan pre-eklampsia ringan
Istirahat di tempat tidur masih merupakan terapi utama untuk
penanganan pre- eklampsia. Istirahat dengan berbaring pada sisi tubuh
menyebabkan pengaliran darah ke plasenta meningkat, aliran darah ke
ginjal juga lebih banyak, tekanan vena pada ekstrimitas bawah turun
dan resorbsi cairan dari daerah tersebut bertambah. Selain itu, juga
mengurangi kebutuhan volume darah yang beredar. Oleh sebab itu,
dengan istirahat biasanya tekanan darah turun dan edema berkurang.
Pemberian fenobarbital 3 x 30 mg sehari akan menenangkan penderita
dan dapat juga menurunkan tekanan darah. Apakah restriksi garam
berpengaruh nyata terhadap pre-eklampsia, masih belum ada
persesuaian faham. Ada yang menyatakan bahwa jumlah garam pada
makanan sehari-hari tidak berpengaruh banyak terhadap keadaan pre-
eklampsia, penulis lain sebaliknya menganjurkan garam dalam diet
penderita.
Pada umumnya pemberian diuretika dan antihipertensiva pada pre-
eklampsia ringan tidak dianjurkan karena obat-obat tersebut tidak
menghentikan proses penyakit dan juga tidak memperbaiki prognosis
janin. Selain itu, pemakaian obat obat tersebut dapat menutupi tanda
dan gejala pre-eklampsia berat. Biasanya dengan tindakan yang
sederhana ini tekanan darah turun, berat badan dan edema turun,
proteinuria tidak atau mengurang. Setelah keadaan menjadi normal
kembali penderita dibolehkan pulang, akan tetapi harus diperiksa lebih
sering daripada biasa. Karena biasanya hamil sudah tua, persalinan
tidak lama lagi berlangsung. Bila hipertensi menetap biarpun tidak
tinggi, penderita tetap tinggal di rumah sakit. Dalam hal ini perlu
diamati keadaan janin dengan pemeriksaan kadar dalam air kencing
berulang kali, pemeriksaan ultrasonik, amnioskopi, dan lain-lain. Perlu
diperhatikan bahwa induksi persalinan yang dilakukan terlalu dini akan
merugikan karena bahaya prematuritas, sebaliknya induksi yang
terlambat dengan adanya insufisiensi plasenta akan menyebabkan
kematian intrauterin janin. Bila keadaan janin mengizinkan, ditunggu
dengan melakukan induksi persalinan, sampai kehamilan cukup atau
lebih dari 37 minggu.
Beberapa pre-eklampsia ringan tidak membaik dengan penanganan
konservatif. Tekanan darah meningkat, retensi cairan dan proteinuria
bertambah, walaupun penderita istirahat dengan pengobatan medik.
Dalam hal ini pengakhiran kehamilan dilakukan walaupun janin masih
prematur.
Penanganan pre-eklampsia berat
Pada penderita yang masuk rumah sakit sudah dengan tanda-tanda
dan gejala-gejala pre-eklampsia berat segera harus diberi sedativa yang
kuat untuk mencegah rimbulnya kejang-kejang. Apabila sesudah 12-24
jam bahaya akut dapat diatasi, dapat difikirkan cara yang terbaik untuk
menghentikan kehamilan. Tindakan ini perlu untuk mencegah
seterusnya bahaya eklampsia. Sebagai pengobatan untuk mencegah
timbulnya kejang-kejang dapat diberikan: (1) larutan sulfas magnesikus
40% sebanyak 10ml (4 gram) disuntikkan intramuskulus bokong kiri
dan kanan sebagai dosis permulaan, dan dapat diulang 4 gram tiap 6
jam menurut keadaan. Tambahan sulfas magnesikus hanya diberikan
bila diuresis baik refleks patella positif, dan kecepatan pernapasan
lebih dari 16 per menit. Obat tersebut, selain menenangkan, juga
menurunkan tekanan darah dan meningkatkan diuresis; (2)
Klorpromazin 50mg intramuskulus; (3) Diazepam 20mg intrmuskulus.

Penanggulangan pre-eklampsia dalam persalinan


Rangsangan untuk menimbulkan kejangan dapat berasal dari luar
atau dari penderita sendiri, dan his persalinan merupakan rangsangan
yang kuat. Maka dari itu, pre-eklampsia berat lebih mudah menjadi
eklampsia pada waktu persalinan.
Tidak boleh dilupakan bahwa kadang – kadang hipertensi timbul
untuk pertama kali dalam persalinan dan dapat menjadi eklampsia,
walaupun pada pemeriksaan antenatal tidak ditemukan tanda – tanda
pre-eklampsia. Dengan demikian, pada persalinan normal pun tekanan
darah perlu diperiksa berulang – ulang dan air kencing perlu diperiksa
terhadap protein.
Untuk penderita pre-eklampsia diperlukan analgetika dan sedativa
lebih banyak dalam persalinan. Pada kala II, pada penderita dengan
hipertensi, bahaya perdarahan dalam otak lebih besar, sehingga apabila
syarat – syarat telah dipenuhi, hendaknya persalinan diakhiri dengan
cunam atau ekstraktor vakum dengan memberikan narkosis umum
untuk menghindari rangsangan pada susunan saraf pusat. Anastesia
lokal dapat diberikan bila tekanan darah tidak terlalu tinggi dan
penderita masih somnolen karena pengaruh obat.
Ergometrin menyebabkan konstriksi pembuluh darah dan dapat
meningkatkan tekanan darah. Oleh karena itu, pemberian ergometrin
secara rutin pada kala III tidak dianjurkan, kecuali jika ada perdarahan
postpartum karena atonia uteri. Pemberian obat penenang diteruskan
sampai 48 jam postpartum, karena ada kemungkinan setelah persalinan
berakhir, tekanan darah naik dan eklampsia timbul. Selanjutan obat
tersebut obat tersebut dikurangi secara tertahap dalam 3 – 4 hari.
Telah diketahui bahwa pada pre-eklampsia janin diancam bahaya
hipoksia, dan pada persalinan bahaya ini makin besar. Pada gawat-
janin, dalam kala I, dilakukan sebera seksio-sesarea; pada kala II
dilakukan ekstaksi dengan cunam atau ekstraktor vakum. Postpartum
bayi sering menunjukkan tanda asfiksia neonatorum karena hipoksia
intrauterin, pengaruh obat penenang, atau narkosis umum, sehingga
diperlukan resusitasi. Maka dari itu, semua peralatan untuk keperluan
tersebut perlu disediakan. (Prawirohardjo, Sarwono, 1991)

2. Eklamsia
Tujuan utama pengobatan eklampsia ialah menghentikan
berulangnya serangan kejang dan mengakhiri kehamilan secepatnya
dengan cara yang aman setelah keadaan ibu mengizinkan.
Pengawasan dan perawatan yang intensif sangat penting bagi
penanganan penderita eklampsia, sehingga ia harus dirawat di rumah
sakit. Pada pengangkutan ke rumah sakit diperlukan obat penenang
yang cukup untuk menghindarkan timbulnya kejangan;
Tujuan pertama pengobatan eklampsia ialah menghentikan kejangan
mengurangi vasospasmus, dan meningkatkan dieresis.Dalam pada itu,
pertolongan yang perlu diberikan jika timbul kejangan ialah
mempertahankan jalan pernapasan bebas, menghindarkan tergigitnya
lidah, pemberian oksigen, dan menjaga agar penderita tidak mengalami
trauma. Untuk menjaga jangan sampai terjadi kejangan lagi yang
selanjutnya mempengaruhi gejala-gejala lain, dapat diberikan beberapa
obat, misalnya:
- Sodium pentothal sangat berguna untuk menghentikan kejangan
dengan segera bila diberikan secara intravena. Akan tetapi, obat ini
mengandung bahaya yang tidak kecil. Mengingat hal ini, obat itu hanya
dapat diberikan di rumah sakit dengan pengawasan yang sempurna dan
tersedianya kemungkinan untuk intubasi dan resusitasi. Dosis inisial
dapat diberikan sebanyak 0,2 – 0,3 g dan disuntikkan perlahan-lahan.
- Sulfat magnesicus yang mengurangi kepekaan saraf pusat pada
hubungan neuromuskuler tanpa mempengaruhi bagian lain dari susunan
saraf. Obat ini menyebabkan vasodilatasi, menurunkan tekanan darah,
meningkatan diuresis, dan menambah aliran darah ke uterus. Dosis
inisial yang diberikan ialah 8 g dalam larutan 40% secara
intramuskulus; selanjutnya tiap 6 jam 4g, dengan syarat bahwa refleks
patella masih positif, pernapasan 16 atau lebih per menit, dieresis harus
secara intravena; dosis inisial yang diberikan adalah 4 g 40% Mg SO4
dalam larutan 10 ml intravena secara perlahan-lahan, diikuti 8 g IM dan
selalu disediakan kalsium glukonas 1 g dalam 10 ml sebagai antidotum.
- Lytic cocktail yang terdiri atas petidin 100 mg, klorpomazin 100
mg, dan prometazin 50 mg dilarutkan dalam glukosa 5% 500 ml dan
diberikan secara infus intravena. Jumlah tetesan disesuaikan dengan
keadaan dan tensi penderita. Maka dari itu, tensi dan nadi diukur tiap 5
menit dalam waktu setengah jam pertama dan bila keadaan sudah stabil,
pengukuran dapat dijarangkan menurut keadaan penderita.
(Prawirohardjo, Sarwono, 1991)

Sedangkan menurut Adi (2014) penatalaksanaan eklampsia adalah:


1) Tujuan
Memerlukan tindakan yang segera dengan tujuan berikut ini:
• Ketika eklampsia masih iminem, lakukanlah tindakan untuk
mencegahnya
• Stabilisasi kondisi ibu
• Pengendalian serangan kejang
• Pengendalian hipertensi
• Melahirkan bayi
• Pencegahan serangan kejang berikutnya
2) Stabilisasi kondisi ibu:
Langkah yang harus dilakukan:
• Memastikan patensi jalan napas
• Pemasangan infuse
• Pemindahan pasien
• Pemeriksaan
3) Obat-obatan:
• Sedasi
• Monitoring MgSO4
• Obat alternative
• Obat untuk hipertensi
• Antibiotic
• Monitoring janin
4) Melahirkan Bayi

F. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Data yang dikaji pada ibu bersalin dengan pre eklampsia adalah :
a) Data subyektif :
• Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau >
35 tahun
• Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema,
pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur
• Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler
esensial, hipertensi kronik, DM
• Riwayat kehamilan: riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa,
hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklamsia atau
eklamsia sebelumnya
• Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok
maupun selingan
• Psikososial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan
kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi
resikonya.
b) Data Obyektif :
 Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam
 Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema
 Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal
distress
 Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat
pemberian SM ( jika refleks + )
 Pemeriksaan penunjang :
 Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur,
diukur 2 kali dengan interval 6 jam
 Laboratorium : protein uri dengan kateter atau midstream (
biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada
skala kualitatif ), kadar hematokrit menurun, BJ urine
meningkat, serum kreatini meningkat, uric acid biasanya > 7
mg/100 ml.
 Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu
 Tingkat kesadaran ; Gangguan perfusi jaringan serebral
penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada otak.
 USG ; untuk mengetahui keadaan janin.
 NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu b.d penurunan fungsi organ (
vasospasme dan peningkatan tekanan darah )
2. Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin b.d perubahan pada
plasenta
3. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b.d kontraksi uterus dan pembukaan
jalan lahir

H. INTERVENSI
1. Diagnosa keperawatan I :
Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan penurunan
fungsi organ (vasospasme dan peningkatan tekanan darah).

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi kejang pada


ibu

Kriteria Hasil :

 Kesadaran : compos mentis, GCS : 15 ( 4-5-6 )


 Tanda-tanda vital :
Tekanan Darah : 100-120/70-80 mmHg
Suhu : 36-37 C
Nadi : 60-80 x/mnt
RR :16-20 x/mnt

Intervensi :

1. Monitor tekanan darah tiap 4 jam


R/. Tekanan diastole > 110 mmHg dan sistole 160 atau lebih
merupkan indikasi dari PIH

2. Catat tingkat kesadaran pasien


R/. Penurunan kesadaran sebagai indikasi penurunan aliran darah
otak

3. Kaji adanya tanda-tanda eklampsia ( hiperaktif, reflek patella


dalam, penurunan nadi,dan respirasi, nyeri epigastrium dan oliguria
)
R/. Gejala tersebut merupakan manifestasi dari perubahan pada
otak, ginjal, jantung dan paru yang mendahului status kejang

4. Monitor adanya tanda-tanda dan gejala persalinan atau adanya


kontraksi uterus
R/. Kejang akan meningkatkan kepekaan uterus yang akan
memungkinkan terjadinya persalinan
5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian anti hipertensi dan
SM
R/. Anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah dan SM untuk
mencegah terjadinya kejang

2. Diagnosa keperawatan II :
Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan
perubahan pada plasenta

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi foetal distress pada


janin

Kriteria Hasil :

 DJJ ( + ) : 12-12-12
 Hasil NST :
 Hasil USG ;
Intervensi :

1) Monitor DJJ sesuai indikasi


R/. Peningkatan DJJ sebagai indikasi terjadinya hipoxia, prematur
dan solusio plasenta

2) Kaji tentang pertumbuhan janin


R/. Penurunan fungsi plasenta mungkin diakibatkan karena
hipertensi sehingga timbul IUGR

3) Jelaskan adanya tanda-tanda solutio plasenta ( nyeri perut,


perdarahan, rahim tegang, aktifitas janin turun )
R/. Ibu dapat mengetahui tanda dan gejala solutio plasenta dan tahu
akibat hipoxia bagi janin

4) Kaji respon janin pada ibu yang diberi SM


R/. Reaksi terapi dapat menurunkan pernafasan janin dan fungsi
jantung serta aktifitas janin

5) Kolaborasi dengan medis dalam pemeriksaan USG dan NST

R/. USG dan NST untuk mengetahui keadaan/kesejahteraan janin

3. Diagnosa keperawatan III :


Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan
pembukaan jalan lahir

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan perawatan ibu mengerti penyebab nyeri dan


dapat mengantisipasi rasa nyerinya

Kriteria Hasil :

 Ibu mengerti penyebab nyerinya


 Ibu mampu beradaptasi terhadap nyerinya
Intervensi :

1. Kaji tingkat intensitas nyeri pasien


R/. Ambang nyeri setiap orang berbeda ,dengan demikian akan dapat
menentukan tindakan perawatan yang sesuai dengan respon pasien
terhadap nyerinya

2. Jelaskan penyebab nyerinya


R/. Ibu dapat memahami penyebab nyerinya sehingga bisa kooperatif

3. Ajarkan ibu mengantisipasi nyeri dengan nafas dalam bila HIS timbul
R/. Dengan nafas dalam otot-otot dapat berelaksasi , terjadi
vasodilatasi pembuluh darah, expansi paru optimal sehingga
kebutuhan 02 pada jaringan terpenuhi

4. Bantu ibu dengan mengusap/massage pada bagian yang nyeri


R/. untuk mengalihkan perhatian pasien
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pre eklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita
hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan protein uria
tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi
sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan
berumur 28 minggu Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai kejang
dan/koma.
Tingginya kejadian pre-eklamsia/eklamsia di negara-negara berkembang
dihubungkan dengan masih rendahnya status sosial ekonomi dan tingkat
pendidikan yang dimiliki kebanyakan masyarakat. Oleh karena itu perlu
tindakan segera terhadap kasus Preeklamsia/eklamsia.

B. SARAN
Penulis menyadari bahwasanya makalah ini sangat penting terutama
bagi kalangan perawat untuk menambah wawasan mereka mengenai Asuhan
Keperawatan Dengan pasien pre-eklamsia dan eklamsia. Dengan adanya
makalah ini, penulis berharap pembaca lebih tahu tentang Asuhan
keperawatan.

Penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita,


menambah ilmu pengetahuan serta wawasan bagi para pembaca, khususnya
bagi mahasiswa keperawatan, maka penulis mengharap kritik dan saran dari
para pembaca demi perbaikan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Askep Preeklamsia. Diunduh di www.nursingbegin.com tanggal


25maret 2019.
Amelda, 2009. Gambaran Karakteristik Ibu Hamil dengan Preeklampsia di RSUP
H.Adam Malik Medan, Periode 2005-2006. Karya Tulis Ilmiah STIKes
Helvetia Medan, http://www.helvetia.ac.id.library/html/stikes/amelda.
Diakses tanggal 25 maret 2019.
Departemen Kesehatan RI. 2008. Profil kesehatan Indonesia 2007. Jakarta :
Depkes RI Jakarta
Mansjor A, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, Jakarta: Media
Aeusculapius.
Mochtar R. (1998). Abortus dan kelainan dalam tua kehamilan. Sinopsis
Obstetri:Obstetri fisiologi, Obstetri Patologi.Jakarta : EGC. pp: 209-214
Prawirohardjo S. 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Prawirohardjo, Sarwono. (1991). Ilmu Kebidanan.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Safe Motherhood. 2001. Modul Eklampsia ̶ Materi Pendidikan Kebidanan.


Jakarta: EGC.

Sukrisno, Adi. 2014. Instant Access Ilmu Kebidanan. Pamulang: Binarupa Aksara
Publisher

Wiknjosastro H, Prawiroharjo. 2008. Kebidanan Dalam Masa Lampau, Kini dan


Kelak, dalam: Ilmu Kebidanan Edisi IV. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo