Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH TEKNOLOGI KOSMETIKA FORMULASI SEDIAAN PARFUM

Dosen : Prof. Dr. Teti Indrawati, MSi.Apt

DISUSUN OLEH :
PUJI LESTARI 16334080
RIZKY AMELIA 16334076
Kelas : K

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL JAKARTA


FAKULTAS MIPA JURUSAN FARMASI
2018
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................. 3


BAB I.......................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 4
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................................. 4
1.2 RUMUSAN MASALAH .............................................................................................. 6
1.3 TUJUAN ...................................................................................................................... 6
BAB II ........................................................................................................................................ 7
TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................................. 7
2.1 RENTANG KOMPOSISI JENIS PARFUM ................................................................ 7
2.2 KOMPONEN PARFUM .............................................................................................. 7
2.3 KARAKTERISTIK PARFUM ..................................................................................... 8
BAB III ..................................................................................................................................... 10
PEMBAHASAN ....................................................................................................................... 10
3.1 METODE PENELITIAN DAN EVALUASI .............................................................. 10
3.2 HASIL DAN PEMBAHASAN PERCOBAAN 1 DAN 2 ............................................. 11
3.3 FORMULASI ............................................................................................................ 12
BAB IV ..................................................................................................................................... 13
PENUTUP ................................................................................................................................ 13
4.1 KESIMPULAN .......................................................................................................... 13
4.2 PENUTUP.................................................................................................................. 13
BAB V ...................................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ 13
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah,dan inayah-Nya , sehingga saya dapat menyelesaikan MAKALAH TEKNOLOGI
KOSMETIKA FORMULASI SEDIAAN PARFUM.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu,kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah
ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk
masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Jakarta 12 April 2019


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan manusia akan kosmetik semakin
komplek, dari pewangi untuk tubuh (lotion) maupun parfum (bisa untuk tubuh atau
pakaian). Parfum dari bahasa Latin, yaitu "per fumum", yang berarti “melalui asap”.
terbuat dari ±78-95% etil alkohol (CH3CH2OH) terdenaturasi ditambah dengan minyak
esensial tertentu. Parfum adalah campuran dari zat pewangi yang dilarutkan dalam pelarut
yang sesuai. Zat pewangi bisa berasal dari minyak atsiri dan bahan sintesis. Parfum
digunakan untuk memberikan keharuman pada badan dan pakaian. Parfum merupakan
larutan minyak wangi dalam etanol 95% yg sudah didenaturasi. Kadar minyak wangi
berkisar 5% -22,5% yang sudah didenaturasi. Sediaan parfum biasanya dalam bentuk
larutan.
Kosmetik pengharum tubuh (fragrance) atau parfum sudah menjadi bagian dari
kehidupan umat manusia. Eau de Cologne atau Eau de toilette adalah sediaan kosmetik
yang digunakan untuk mengharumkan badan atau baju. Merupakan larutan minyak wangi
dalam etanol 75% atau 85 %. Kadar minyak wangi berkisar 1,25% - 5%. Sediaan ini biasa
dalam bentuk cair atau aerosol.

Adapun fungsi parfum dalam kehidupan manusia yaitu dapat memberikan kesenangan
hidup, dapat mempengaruhi kejiwaan dan syaraf, memberikan wewangian kapada bahan
yang tidak wangi dan menghilangkan bau yang tidak enak pada berbagai macam hasil
industri textil, kulit, kertas, karet, plastik. Selain itu, parfum juga dapat melindungi manusia
dari penyakit yang disebabkan bakteri, menambah selera makan, dapat meningkatkan
kepercayaan diri dan dapat menarik perhatian lawan jenis.

Parfum sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu – kata “parfum” berasal dari
bahasa Latin per fume “melalui asap”. Salah satu kegunaan parfum tertua berupa bentuk
pembakaran dupa dan herbal aromatik yang digunakan dalam pelayanan keagamaan,
seringkali untuk aromatic gums, kemenyan dan mur, dikumpulkan dari pohon. Mesir
adalah yang pertama memasukkan parfum ke budaya mereka diikuti oleh Cina kuno,
Hindu, Israel, Carthaginians, Arab, Yunani, dan Romawi. Penggunaan awal dari
botol parfum adalah di Mesir sekitar 1000 SM. Mesir menemukan gelas dan botol parfum
adalah salah satu penggunaan umum pertama untuk kaca.

Parfum original berarti parfum asli yang dibuat dengan proses yang lama. Parfum
berasal dari bahasa Latin, per fumus yang berarti melalui asap (through smoke). Seni
membuat parfum pertama kali dimulai pada sejak era Mesopotamio dan Mesir kuno yang
kemudian disempurnakan oleh bangsa Romawi dan Persia. Meskipun parfum dan
wewangian juga dapat ditemukan di India, namun kebanyakan parfum dan wewangian
tersebut berbentuk dupa bukanya parfum cair.
Tercatat pembuat parfum original pertama adalah seorang wanita Mesopotamia yang
bernama Tapputi pada SM milinium ke-2. Parfum hasil ciptaannya disebut tablet runcing.
Parfum ini adalah hasil penyulingan dari bunga, minyak dan calamus dengan aromatic
lain yang dilakukan beberapa kali.

Ahli kimia Arab yang bernama Al-Kindi menuliskan sebuah buku mengenai parfum
original yang diberi nama ‘Buku Kimia dan Penyulingan Parfum’ (Book of the Chemistry
of Perfume and Distillations). Buku ini dibuat pada abad ke-9. Buku ini berisi lebih dari
100 resep minyak wangi, salep, aromatik cair dan obat. Selain resep, buku ini juga
menggambarkan 107 metode dan resep untuk pembuatan parfum serta alat yang
dibutuhkan.

Persia pun tidak ketinggalan. Alhli kimia Persia yang bernama Ibnu Sina
memperkenalkan proses ekstraksi minyak dari bunga dengan distilasi atau penyulingan
yang digunakan hingga sekarang. Sebelum ada penemuan ini, kebanyakan parfum
original aroma bunga dibuat dengan memasukan kelopak bunga yang sudah dihancurkan /
ditumbuk.

Pada tahun 2005, para arkeolog menemukan parfum original yang dianggap sebagai
parfum tertua di dunia di daerah Pyrgos, Cyprus. Para arkeolog yakin bahwa parfum ini
dibuat pada 4.000 tahun silam. Dari parfum ini, para arkeolog menemukan bahwa parfum
zaman dulu dibuat dengan menggunanan herba dan rempah– rempah.

Seni pembuatan parfum original akhirnya dikenal oleh negara – negara Eropa barat
pada tahun 1221. Pada tahun ini, para biarawati dari Santa Maria delle Vigne atau Santa
Maria Novella di Florence, Italia berhasil membuat resep parfum. Di timur, negara
Hungaria memproduksi parfum dengan campuran alkohol atas perintah Ratu Elizabeth
Hungaria pada tahun 1370. Parfum ini kemudian dikenal sebagai ‘Hungary Water’ atau
air Hungaria.

Pada abad ke-16, semua seni pembuatan parfum original Italia dibawah ke Perancis
oleh pembuat parfum Catherine de’ Medici yang bernama Rene (Renato il fiorentino).
Rene kemudian meneliti dan membuat parfum untuk negara Perancis berdasarkan bahan
dan resep yang dibawa dari Italia. Dia kemudian membangun jalan rahasia yang
menghubungkan laboratorium dengan apartemennya sehingga tidak ada resep yang bisa
dicuri selama perjalanan pulang pergi. Berkat Rene, Perancis dengan cepat menjadi pusat
penghasil parfum dan kosmetik.

Dikarena parfum original menjadi salah satu mata pencarian utama bagi Perancis
maka budidaya bunga sebagai esensi parfum pun dimulai pada abad ke-14.
Pembudidayaan ini dilakukan pada bagian selatan negara Perancis. Antara abad 16-17,
parfum original banyak digunakan oleh orang kaya untuk menutupi bau badan akibat
jarang mandi.

Di negara Jerman, seorang tukang cukur berkebangsaan italia yang bernama Giovanni
Paolo Feminis berhasil menciptakan parfum original cair yang dinamai “Aqua
Admirabilis” pada tahun 1732. Sekarang “Aqua Admirabilis” dikenal dengan nama “Eau
de Cologne”.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan parfum dan bagaimana sejarah parfum?
2. Bagaimana penggolongan parfum?
3. Apa saja persyaratan suatu parfum?
4. Apa saja jenis sumber parfum?
5. Apa saja jenis aroma parfum?
6. Bagaimana cara pembuatan parfum?
7. Bagaimana formulasi sebuah parfum dan apa contohnya?

1.3 TUJUAN
1. Menjelaskan definisi, persyaratan dan sejarah arfum.
2. Memahami klasifikasi, sumber, dan jenis aroma parfum.
3. Memahami cara membuat suatu parfum.
4. Memahami formulasi produk parfum.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 RENTANG KOMPOSISI JENIS PARFUM

Ada dua kategori utama produk wewangian, perlengkapan mandi, dan produk
rumah tangga. Perlengkapan mandi didefinisikan sebagai wewangian halus, produk
perawatan pribadi, kosmetik, dan deodoran. Produk rumah tangga dianggap sebagai
penyegar udara, produk binatu, pembersih permukaan, dan disinfektan. Fungsi parfum
adalah untuk memberikan aroma yang menyenangkan, menutupi aroma dasar produk,
memberikan identitas pada suatu produk, memberikan dukungan konsep produk, dan
menandakan perubahan dalam suatu produk.

Tujuan dari produk ini adalah untuk menciptakan aroma yang harum. Ada tiga
jenis wewangian: eau de toilette, eau de parfum, dan parfum. Jenis parfum ditentukan
berdasarkan komposisi minyak, alkohol dan air. Rentang komposisi untuk setiap jenis
parfum didefinisikan dalam Tabel 1 di bawah ini.

2.2 KOMPONEN PARFUM

Ada empat bagian dasar untuk parfum yang membentuk komponen untuk
formulasi:

• Dasar-dasar - Bahan dalam parfum yang hadir dengan persentase lebih tinggi, dan
terdiri
komposisi dasar bau. Modifikasi pangkalan, dengan penambahan aroma
dengan volatilitas yang lebih tinggi, menciptakan aroma yang unik. Basis adalah yang
paling penting
komponen parfum apa pun. Dasar bisa berupa aroma atau aroma apa pun yang bukan
volatile. Aroma ini dapat ditambahkan ke parfum yang akan menghasilkan produk itu
memenuhi keinginan konsumen.
• Fiksatif - Fiksatif adalah bahan dalam parfum yang memperpanjang efek bau dan
menunda laju penguapan bahan volatil. Komponen cenderung tidak memiliki
bau, larut dalam larutan polar dan non-polar, dan berada pada titik didih yang lebih
tinggi
suhu titik. Ikatan fiksatif pada senyawa polar di dalam parfum
melalui ikatan hidrogen, mengurangi tekanan uap keseluruhan campuran. Mereka
mempertahankan konsentrasi tinggi dari nada atas dan tengah, dan lepaskan secara
perlahan
waktu. Contoh-contoh fiksatif adalah vetyver, dipropylene glycol, dan dietil phthalate.

• Pelarut - Pelarut adalah bagian dari parfum di mana semua komponen berada
larut. Pelarut digunakan untuk mengencerkan campuran untuk meningkatkan luas
permukaan aplikasi tanpa menghasilkan aroma yang berlebihan. Ini juga digunakan
untuk mengurangi intensitas aroma larutan. Pelarut menurunkan harga parfum per
mililiter sambil meningkatkan jumlah aplikasi per botol. Etanol adalah pelarut yang
paling umum.

2.3 KARAKTERISTIK PARFUM

Karena kelarutan minyak esensial dalam air, Ambisi Murni bertekad untuk
menjadi emulsi. Di bawah ini adalah tabel kelarutan relatif masing-masing minyak
dalam air, diukur dalam bagian perjuta.
Tabel 2: Tabel ini menunjukkan kelarutan dan persen kelarutan aroma parfum dalam
air
Tabel 2 menunjukkan bahwa tidak ada minyak esensial yang lebih dari 2% larut
dalam air, dan sebagian dari minyak tersebut bahkan kurang larut dari 2%.
Berdasarkan data ini, Pure Ambition dianggap sebagai emulsi. Sebuah emulsi adalah
campuran dua fase yang tidak tercampur dengan baik. Dua fase dalam emulsi adalah
dikenal sebagai fase tersebar dan kontinu. Fase terdispersi adalah fase yang mudah
tersebar ke fase kedua, yang dikenal sebagai fase kontinu. Dalam kasus Ambisi
Murni,fase terdispersi adalah larutan minyak sedangkan fase kontinu adalah larutan
berair, etanol dan air. Fase air terdiri dari campuran air dan etanol, sedangkan fase
minyak adalah campuran minyak esensial yang digunakan dalam parfum. Emulsi bisa
stabil di mana solusi tidak terpisah dengan mudah, atau tidak stabil, di mana solusi
tersebut terpisah dengan cepat. Emulsi biasanya tampak keruh karena antarmuka
beberapa fase yang menyebarkan cahaya yang melewati
emulsi. Karena Pure Ambition adalah emulsi, pertimbangan harus diambil untuk
memastikan stabilitas cair. Agitator kecepatan tinggi pada awalnya digunakan untuk
menggabungkan fase. Cairan tersebut kemudian dilewatkan
melalui pengemulsi yang dihomogenisasi untuk meningkatkan stabilitas parfum.
Dalam analisis ini diasumsikan bahwa parfum akan mencapai stabilitas relatif tanpa
penambahan pengemulsi.
BAB III

PEMBAHASAN

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan kualitas parfum
tetapi dengan biaya produksi yang lebih murah adalah menggunakan campuran
surfaktan yang berfungsi sebagai fixative dan solubilizer (Edris et al. 2010). Sifat
longlasting parfum didapatkan dengan menambahkan bahan fixative (pengikat)
parfum (Lubrizol 2009). Biang parfum memiliki tingkat volatilitas yang sangat tinggi
sehingga membuat aroma parfum cepat hilang (Edward 2006). Dengan menambahkan
bahan fixative dapat menahan laju volatilitas dari parfum tersebut. Penambahan bahan
solubilizer menyebabkan parfum menjadi lebih stabil dan jernih (Surawut et al. 2013).
Penelitian ini mengkaji rasio campuran surfaktan yang paling efektif untuk
menentukan fungsi solubilizer dan fixative pada produk parfum sehingga produk
parfum memiliki kualitas baik dengan biaya produksi murah.

3.1 METODE PENELITIAN DAN EVALUASI

Bahan yang digunakan untuk penelitian ini antara lain eugenol p.a dari PT
Indeso, portasol 40 dari Lubrizol, tween 80 dari Indrasari, glucam P20 dari Lubrizol,
patchouli alkohol dari PT Indeso, etanol p.a dari PT Victoria Care Indonesia dan
aquades. Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah wear glass merk pirex,
termometer, hot plat, magnetik stirer, stop watch, botol parfum dan tutup spray. Alat
yang digunakan dalam analisis hasil percobaan adalah Turbidimeter Eutech Instrumen
Shimadzu dan Gas Chromatograpy (GC) Agilent 5890 Shimadzu.

Percobaan pertama dengan (r G/P) dilakukan dengan cara sebanyak 1 gram


eugenol dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL, lalu ditambahkan 56 gram etanol
dan 42,4 gram aquades. Campuran diaduk selama 1 menit, kemudian ditambahkan
glucam P20 dan portasol 40 dengan rasio (1 : 0,2) dari 0,6 gram campuran surfaktan.
Campuran diaduk kembali selama 15 menit, kemudian dimasukan ke dalam botol C.
Setelahparfum dan aging selama 8 jam pada suhu 5 selesai aging produk parfum di
dalam botol dalam keadaan terbuka ditempatkan pada suhu ruangan selama 1 minggu.
Setelah aging 1 minggu produk parfum dianalisis kejernihan menggunakan
Turbidimeter, kadar sisa eugenol menggunakan GC (Gas Chromatography) dan Panel
longlasting. Dengan cara yang sama juga dilakukan variasi rasio glucam P20 dan
portasol 40 pada run 2 (1 : 0,3), run 3 (1 : 0,3), run 4 (1 : 0,4) dan run 5 (1 : 0,5).
Percobaan kedua (r P/T) dilakukan sebagai berikut. Hasil r G/P optimum digunakan
untuk menentukan campuran solubilizer portasol 40 : tween 80.

Percobaan kedua ini dilakukan pada run 6 sampai run 10. Untuk run 6
dilakukan dengan variasi rasio portasol 40 : tween 80 (1 : 0,5) dari jumlah portasol 40
terbaik. Campuran tersebut dimasukan ke dalam erlenmeyer 100 mL. Campuran
diaduk selama 1 menit kemudian ditambahkan 1 gram eugenol, 56 gram etanol, dan
aquades 42,4 gram. Campuran diaduk kembali selama 15 menit, kemudian
dimasukkan ke dalam botol parfum dan aging selama 8 jam pada suhu C. Setelah
selesai aging produk parfum di dalam5 botol dalam keadaan terbuka ditempatkan
pada suhu ruangan selama 1 minggu. Setelah aging 1 minggu produk parfum
dianalisis kejernihan menggunakan Turbidimeter, kadar sisa eugenol menggunakan
GC (Gas Chromatograpy) dan panel longlasting. Dengan cara yang sama juga
dilakukan variasi rasio portasol 40 dan tween 80 pada run 7 (1 : 1), run 8 (1 : 2), run 9
(1 : 3) dan run 10 (1 : 4).

Karakterisasi hasil percobaan dilakukan dengan uji persentase eugenol sisa


dengan gas chromatoprapy (GC), uji kekeruhan dengan turbidimeter dan uji panel
longlasting. Produk parfum disampling kemudian dilakukan pengujian % eugenol sisa
menggunakan Gas Chromatography (GC) Agilent 5890 Shimadzu (Kamarei et al.
2011). Pengujian tingkat kecerahan parfum dilakukan mengguakan Turbidimeter
Eutech Instrumen Shimadzu. Produk parfum diambil 10 mL tiap variasi produk
parfum. Pengujian longlasting parfum dilakukan untuk mengetahui daya tahan aroma
secara aplikasi langsung kepada orang. Panel longlasting dilakukan kepada 20 orang.
Sampel yang diuji panel longlasting adalah sampel hasil terbaik dari variasi campuran
surfaktan yang dilakukan. Sampel disemprotkan ke tangan dan diberi form hasil panel
(Ramya et al. 2013).

3.2 HASIL DAN PEMBAHASAN PERCOBAAN 1 DAN 2

Percobaan 1 dilakukan dengan tujuan untuk menentukan rasio glucam P20 :


portasol 40 (r G/P) terbaik dalam pembuatan parfum. Variasi rasio glucam P20 dan
portasol 40 yang dilakukan sebanyak 5 variasi yaitu pada run 1 (1: 0,2), run 2 (1 :
0,3), run 3 (1 : 0,3), run 4 (1 : 0,4) dan run 5 (1 : 0,5). Hasil percobaan 1 menunjukkan
hasil pengujian % eugenol sisa, turbiditas, dan longlasting semakin menurun.
Percobaan 1 dari run (1 - 5) mengandung bahan fiative (glucam P20) semakin
menurun dan bahan Solubilizer (portasol) semakin meningkat. Dengan meningkatnya
glucam P20 menyebabkan eugenol sulit untuk menguap sedangkan semakin besar
jumlah gortasol, menyebabkan campuran parfum dengan pelarut alkohol-air semakin
jernih (Fahimeh et al. 2011). Hasil terbaik dari percobaan 1 (r G/P) adalah pada run 1
dengan eugenol sisa 0,7998%, turbiditas 16,15 NTU dan longlasting 2,050 Jam. Hasil
dari r G/P percobaan 1 digunakan untuk mencari rasio portasol 40 dan tween 60 (r
P/T) terbaik. Variasi r P/T yang dilakukan sebanyak 5 variasi yaitu pada run 6 (1:
0,5), run 7 (1 : 1,0), run 8 (1 : 2,0), run 9 (1 : 3,0) dan run 10 (1 : 4,0).

Hasil percobaan 2, menunjukkan hasil pengujian % eugenol sisa dan


longlasting mengalami perubahan tidak signifikan sedangkan turbiditas mengalami
penurunan yang signifikan. Hal ini terjadi karena jumlah glucam P20 yang berfungsi
sebagai fixative tetap. Meskipun demikian adanya tween 80 membuat terjadinya
peningkatan % eugenol sisa dan longlasting dari hasil percobaan 1. Pengaruh
penambahan tween 80 sebagai solubilizer membuat turbiditas menurun dengan
dengan signifikan (Kaushik & Bidyut, 2013). Hal ini terjadi karena nilai HLB Tween
yang besar sehingga daya solubilitas menjadi meningkat dan turbiditas menurun (Caio
et al. 2013). Percobaan 2 menunjukkan hasil terbaik terjadi pada run 9 dengan
eugenol sisa 0,8121%, turbiditas 5,22 NTU dan longlasting 2,375 Jam. Hasil dari r
P/T pada percobaan 2 terbaik digunakan untuk mencari rasio glucam P20 dan
patchouli alkohol (r G/PA) terbaik. Variasi rasio glucam P20 dan patchouli alkohol
yang dilakukan sebanyak 5 variasi yaitu pada run 11 (1: 0,5), run 12 (1 : 1,0), run 13
(1 : 2,0), run 14 (1 : 3,0) dan run 15 (1 : 4,0)

3.3 FORMULASI

Berikut adalah formulasi yang kami formulasikan sedemikian rupa agar mendapat
hasil yang lebih baik,formulasi dilakukan sebagai berikut. Hasil rasio r P/T optimum
kemudian digunakan untuk menentukan campuran fixative (glucam P20 : patchouli
alkohol). Percobaan ini dilakukan pada run 11 sampai run 15. Untuk run 11
dilakukan dengan variasi rasio glucam P20 : patchouli alkohol (1 : 0,5) dari jumlah
glucam P20 terbaik. Campuran tersebut dimasukan ke dalam erlenmeyer 100 mL.
Campuran diaduk selama 1 menit kemudian ditambahkan 1 gram eugenol, 56 gram
etanol, dan aquades 42,4 gram. Campuran diaduk kembali selama 15 menit, kemudian
dimasukkan ke dalam botol C. Setelahparfum dan aging selama 8 jam pada suhu 5
selesai aging produk parfum di dalam botol dalam keadaan terbuka ditempatkan pada
suhu ruangan selama 1 minggu. Setelah aging 1 minggu produk parfum dianalisis
kejernihan menggunakan Turbidimeter, kadar sisa eugenol menggunakan GC (Gas
Chromatography) dan panel longlasting. Dengan cara yang sama juga dilakukan
variasi rasio glucam P20 dan patchouli alkohol pada run 12 (1 :1), run 13 (1 : 2), run
14 (1 : 3) dan run 15 (1 : 4).
BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

4.2 PENUTUP

Demikianlah pokok bahasan makalah ini yang dapat kami paparkan, Besar
harapan kami makalah ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak. Karena
keterbatasan pengetahuan dan referensi, Penulis menyadari makalah ini masih
jauh dari sempurna, Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat
diharapkan agar makalah ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang
akan datang.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1985, Formularium Kosmetika Indonesia, Depkes RI Jakarta.

Balsam MS and Sagarin E (ed), 1972,Cosmetics, Science and Technology, 2nd ed., Wiley-Interscience,
New York.

Departemen Agama RI. Alquran dan Tafsirnya,Jilid 7 juz 19-20-21.Jakarta,2009.

Flick EW, 1966, Cosmetics abd Toiletry Formulations, Vol.5, Noyes Publ., Westwood, New Jersey.

Jellinek JS, 1970, Formulation and Function of Cosmetics, Wiley-Interscience, New York.

Shihab, M Quraish. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran Vol 3&1. Jakarta:Lentera
Hati,2002.

Wade, Ainkey, Paul, J.Walker.1994.Handbook of Pharmaceutical Excipients Second Edition. London:


Pharmaceutical Press.
Wasitaatmadja SM. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI Press. 266-300.