Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

“MEMILIKI MOTIVASI, BERPRESTASI DAN KERJASAMA TIM


DALAM BERWIRAUSAHA”

DISUSUN OLEH :

DEWI RATNA SARI


HENY LESTARI
YETI ZETRIANA
WHIKY ARDIANSYAH

PROGRAM STUDI PERBANKKAN SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan ramat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan Makalah tentang “Motivasi dan kerjasama tim dalam berwirausaha” ini
dengan sebaik mungkin.
Pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing serta teman-teman yang turut
membantu dan memberikan masukan dalam penyelesaian makalah ini.,semoga
makalah ini bermanfaat bagi setiap kalangan yang membaca dan sekaligus dapat
membuka wawasan kita yang seluas-luasnya tentang motivasi dalam
berwirausaha.
Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan penulisan
makalah “Motivasi dan kerjasama tim dalam berwirausaha” ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun tetap dinantikan
demi kesempurnaan penulisan makalah ini.

Bengkulu, April 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................. i


KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................... 1
C. Tujuan ....................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Motivasi .................................................................. 3
B. Jenis Dan Tujuan Motivasi ....................................................... 4
C. Teori Motivasi Berprestasi ........................................................ 5
D. Motif Berprestasi Dalam Kewirausahaan ................................. 7
E. Keterkaitan antara Motivasi Berprestasi dengan
Kewirausahaan .......................................................................... 8
F. Cara Menumbuhkan Motivasi Berprestasi dalam
Berwirausaha ............................................................................. 9
G. Ciri-Ciri Tim Yang Efektif........................................................ 10
H. Faktor Pendorong Dan Penghambat Kewirausahaan ................ 13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................... 15
B. Saran .......................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan kita, kita sering meniatkan untuk melakukan
pengembangan atau merubah kondisi yang kita miliki, tapi sering tidak
dilakukan dan berhenti hanya sebagai niat saja. Kenapa berhenti? Itu terjadi
karena kurangnya motivasi, antusiasme, keinginan, determinasi, kemauan dan
disiplin.
Jika motivasi kerja tinggi otomatis semangat hidupnya otomatis akan
tinggi juga karena adanya suatu hubungan yang erat antara motivasi kerja
dengan hidup sehingga setiap orang yang loyo, lemah, dan lainnya yang
kurang pas untuk dilihat bisa jadi dia tida termotivasi untuk kerja dan
semangat hidupnya tidak ada kecuali, sorry ya kalau memang dari sononya
sudah keadaannya seperti itu.
Maka agar gairah hidup anda bertambah perlu adanya motivasi dalam
bekerja bisa dari keluarga, teman dekat, rekan bisnis, dan semua orang yang
ada disekitar kita motivasi tidak selalu harus diberikan melalui tatap muka
langsung bisa jadi kita melalui obrolan atau tulisan orang lain seperti saya
termotivasi untuk jadi hebat dalam mengelola blog dengan cara belajar
dicafebisnis atau ada yang atau ada yang mau belajar bahasa inggris kan kita
minta motivasi dari teman dengan belajar bahasa inggris melalui online di
bahasa inggris praktis mudahkan.
Oleh karena itu kita harus senantiasa memotivasi dalam segala hal
terutama dalam kerja maka saya yakin anda akan jadi orang hebat dan
kelihatan oleh semua orang anda orang yang sangat bergairah dalam hidup
bukan hanya gairah sesaat, sehingga omset bisa bertambah karena orang yakin
dengan hasil kesemangatan hidup dan kerjapun jadi tidak sia-sia.
Didalam berwirausaha juga dibutuhkan kerjasama tim (tim work)
dimana para pengusaha harus bekerjasama dengan tim agar menciptakan

1
kinerja yang efektif, selain itu pengusaha juga harus meningkatkan kinerja
para karyawan yang terlibat didalam tim.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang disebut dengan motivating?
2. Bagaimana Motivasi Berprestasi bagi seorang wirausaha?
3. Bagaimana model efektifisas tim kerja?
4. Bagaimana Kerjasama Tim Terhadap Kinerja Karyawan, yang meliputi:
Model Efektifitas Tim Kerja, Ciri-ciri tim yang efektif, Elemen kriteria
untuk wirausaha

C. Tujuan
Untuk mengetahui apa itu motivasi dan bagaimana motivasi berprestasi
bagi seorang wirausaha serta mengetahui pengertian kerjasama tim,jenis tim,
karakteristik tim, dan proses tim dan menegetahui bagaimana ciri ciri tim yang
efektif untuk kinerja kerja

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Motivasi
Motivasi dapat diartikan sebagai suatu kondisi internal (kesiapan, dan
kesiagaan). Yang berawal dari kata “motiv” itu, maka motivasi dapat diartikan
sebagai daya penggerak yang telah aktif pada saat-saat tertentu terutama
apabila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan mendesak.
Sedangkan secara terminonologi banyak para ahli yang memberikan
batasan tentang pengertian motivasi diantaranya adalah:
1. Menurut Sartain, Motivasi adalah suatu pertanyaan yang komplek dimana
dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu
tujuan (goal ) atau perangsang.
2. Menurut Chifford T. Morgan, motivasi bertalian dengan tiga hal yang
sekaligus merupakan aspek-aspek dari pada motivasi. Ketiga hal tersebut
adalah keadaan yang mendorong tingkah laku (Motiving states), yaitu
tingkah laku yang didorong oleh keadaan tersebut (Motiving Behavior),
dan tujuan dari tingkah laku tersebut (Goal or Endsof Such Behavior).
3. Menurut Fredrick J. Mc Donal, memberikan sebuah pernyataan yaitu
motivasi adalah perubahan energi pada diri dari seseorang yang ditantai
dengan perasaan dan juga reaksi untuk mencapai sebuah tujuan.
4. Merle J. Moskowits, Motivation is usually defined the initiative and
direction of behavior and the study of motivation is in effect the study of
course of behavior.
Motivasi secara umum didefinisikan sebagai inisiatif dan pengarahan
tingkah laku dan pelajaran motivasi sebenarnya merupakan pelajaran
tingkah laku.1
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi
adalah dorongan atau daya penggerak yang mengarahkan seseorang

1
Malayu S.P. Hasibuan, Organisasi dan Motivasi: Dasar Peningkatan Produktivitas, (Jakarta: PT.
Bumi Aksara, 2003), hlm. 92-96.

3
melakukan suatu tindakan untuk memenuhi hal yang dibutuhkan atau
diharapakan.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi dapat
dipandang sebagai fungsi, berarti motivasi berfungsi sebagai daya enggerak
dari dalam individu untuk melakukan aktivitas tertentu dalam mencapai
tujuan. Motivasi dipandang dari segi proses, berarti motivasi dapat dirangsang
oleh factor luar, untuk menimbulkan motivasi dalam diri siswa yang melalui
proses rangsangan belajar sehingga dapat mencapai tujuan yang di kehendaki.
Motivasi daipandang dari segi tujuan, berarti motivasi merupakan sasaran
stimulus yang akan dicapai. Jika seorang mempunyai keinginan untuk belajar
suatu hal, maka dia akan termotivasi untuk mencapainya.
Jadi Penggerakan (motivating) dapat didefinisikan sebagai keseluruhan
proses pemberian dorongan kerja kepada para bawahan sedemikian rupa
sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan
organisasi dengan efisiensi dan ekonomis. Motivating sangat penting bagi
suatu organisasi, karena motivasi merupakan kegiatan untuk mengakibatkan,
menyalurkan, dan memelihara perilaku manusia.
Kemampuan manajer untuk memotivasi, mempengaruhi, mengarahkan
dan berkomunikasi dengan para bawahannya akan menentukan efektifitas
manajer yaitu manajer harus dapat memotivasi bawahannya agara pelaksanaan
kegiatan dan kepuasan kerja mereka meningkat.

B. Jenis Dan Tujuan Motivasi


1. Jenis Motivasi
a. Motivasi Positif (insentif positif), manajer memotivasi bawahan
dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi baik.
b. Motivasi negatif (insentif negatif), manajer memotivasi bawahan
dengan memberikan hukuman kepada mereka yang pekerjaannya
kurang baik (prestasi rendah).2

2
Ibid., hlm. 99

4
2. Tujuan Motivasi
a. Mendorong gairah dan semangat kerja
b. Meningkatkan kepuasan
c. Meningkatkan produktivitas kerja
d. Mempertahankan loyalitas
e. Efektifitas
f. Efisiensi
g. Meningkatkan kreativitas, dan lain-lain.3

C. Teori Motivasi Berprestasi


1. Teori Motivasi Klasik
Teori motivasi klasik (teori kebutuhan tunggal) dikemukakan oleh
Frederick Winslow Taylor. Menurut teori ini motivasi para pekerja hanya
untuk dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan biologis saja.
2. Maslow’s Need Hierarchy Theory
Maslow’s Need Hierarchy Theory atau A theory of Human
Motivation, dikemukakan oleh A.H. Maslow tahun 1943. Teori ini
merupakan kelanjutan dari “Human Science Theory” Elton Mayo (1880-
1949) yang menyatakan bahwa kebutuhan dan kepuasan seseorang itu
jamak yaitu kebutuhan biologis dan psikologis berupa materiil dan non
materiil.
Teori ini berdasakan pada :
a. Manusia adalah makhluk sosial yang berkeinginan
b. Suatu kebutuhan yang telah dipuaskan tidak menjadi alat motivasi
bagi pelakunnya, hanya kebutuhan yang belum terpenuhi yang menjadi
alat motivasi.
c. Kebutuhan manusia itu bertingkat-tingkat (hierarchy), sebagai berikut:
1) Physiological Needs; yaitu kebutuhan yang diperlukan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup seseorang, seperti makan,
minum, tempat tinggal, dan lainnya.

3
.Ibid., hlm. 97.

5
2) Safety and Security Needs; adalah kebutuhan akan keamanan dari
ancaman yakni merasa aman dari ancaman kecelakaan dan
keselamatan dalam melakukan pekerjaan.
3) Affiliation or Acceptance Needs; adalah kebutuhan sosial, teman,
dicintai serta diterima dalam pergaulan kelompok dan
lingkungannya.
4) Esteem or Status Needs; adalah kebutuhan akan penghargaan diri,
pengakuan serta penghargaan prestise dari masyarakat dan
lingkungannya.
5) Self Actualization; adalah kebutuhan akan aktualisasi diri dengan
menggunakan kecakapan, kemampuan, keterampilan, dan potensi
optimal untuk mencapai prestasi kerja yang sangat memuaskan
atau luar biasa yang sulit dicapai orang lain
6) Herzberg’s Two Factor Motivation Theory
Herzberg menyatakan bahwa orang dalam melaksanakan
pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu Maintenance
Factors (faktor-faktor pemeliharaan yang berhubungan dengan
hakikat manusia yang ingin memperoleh kententraman badaniah,
misal orang yang lapar akan makan) dan Motivation Factors
(menyangkut kebutuhan psikologis seseorang yaitu perasaan
sempurna dalam melakukan pekerjaan, misal seseorang yang
bekerja membutuhkan ruangan yang nyaman).
d. Mc. Celland’s Achievement Motivation Theory
Teori ini dikemukakan oleh David Mc.Celland. teori ini
berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial.
Bagaimana energi ini dilepaskan dan digunakan tergantung pada
kekuatan dorongan motivasi seseorang dan situasi serta peluang yang
tersedia. Mc.Celland mengelompokkan tiga kebutuhan manusia yang
dapat memotivasi gairah bekerja yaitu:
1) Kebutuhan akan Prestasi (Need for Achievement); kebutuhan ini
akan mendorong seseorang untuk mengembangkan kreativitas dan

6
mengarahkan semua kemampuan serta energy yang dimiliki demi
mencapai prestasi kerja yang optimal.
2) Kebutuhan akan Afiliasi (Need for Afiliation); kebutuhan ini yang
merangsang gairah seseorang untuk bekerja seseorang karena
setipa orang menginginkan kebutuhan akan perasaan diterima oleh
orang lain, dihormati, kebutuhan akan perasaan maju dan tidak
gagal, dan kebutuhan akan perasaan ikut serta.
3) Kebutuhan akan Kekuasaan (Need for Power); kebutuhan ini yang
merangsang dan memotivasi gairah kerja seseorang serta
mengerahkan semua kemampuan demi mencapai kekuasaan atau
kedudukan yang terbaik dalam organisasi.4

D. Motif Berprestasi Dalam Kewirausahaan


Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha
karena adanya suatu motif, yaitu motif berprestasi. Motif berprestasi adalah
suatu nilai sosial yang menekankan pada hasrat untuk mencapai hasil terbaik
guna mencapai kepuasan pribadi.5 Faktor dasarnya adalah adanya kebutuhan
yang harus dipenuhi.
Teori motivasi pertama kali dikemukakan oleh Maslow (1934). Ia
mengemukakan tentang hierarki kebutuhan yang mendasari motivasi.
Menurutnya, kebutuhan manusia bertingkat sesuai dengan tingkatan
pemuasannya, yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan akan keamanan, kebutuhan
sosial, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri.
Kebutuhan berprestasi wirausahawan terlihat dalam bentuk tindakan untuk
melakukan sesuatu yang lebih baik dan efisien dibanding sebelumnya.
Wirausahawan yang memiliki motif berprestasi tinggi pada umumnya
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul
pada dirinya.

4
Ibid., hlm. 103-113
5
Suhandana, G. Anggan, Pengaruh Kepariwisataan terhadap Perilaku Kewirausahaan Pengrajin
Ukir Kayu di Bali, Disertasi, (Bandung: IKIP, 1980), hlm. 55

7
2. Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan
dan kegagalan.
3. Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
4. Berani menghadapi risiko dengan penuh perhitungan.
5. Menyukai dan melihat tantangan secara seimbang, jika tugas yang
diembannya sangat ringan, wirausahawan merasa kurang tantangan, tetapi
ia selalu menghindari tantangan yang paling sulit yang memungkinkan
pencapaian keberhasilan sangat rendah6

E. Keterkaitan antara Motivasi Berprestasi dengan Kewirausahaan


Motivasi berkaitan dengan suatu tujuan, dengan kata lain motivasi
berfungsi sebagai pendorong usaha dalam pencapaian prestasi. Hal ini berarti
motivasi berprestasi sangat diperlukan oleh seorang wirausahawan untuk
memajukan usahanya. Oleh sebab itu, dengan memiliki motivasi berprestasi
dalam menjalankan wirausaha seorang wirausahawan akan mampu berpikir
inovatif, dan kreatif serta memiliki semangat juang (motivasi berprestasi)
dalam mengembangkan usaha yang dirintisnya.
Contohnya seorang wirausahawan konveksi busana muslim anak-anak di
Surabaya. Pada awalnya dia memulai usaha koveksi busana muslim anak-anak
tebatas hanya di daerah sekitar tempat tinggalnya. Bahkan kegiatan produksi
yang dalam hal ini menjahit busana muslim dikerjakannya sendiri secara
langsung. Hal ini disebabkan terbatasnya modal yang dimiliki dan kurangnya
kepercayaan diri untuk mencoba memasarkan busana muslim anak-anak
tersebut di luar kota tempat tinggalnya. Namun hal ini mulai berubah ketika
dia mendapatkan pesanan baju busana musim dari luar daerah tempat
tinggalnya. Peristiwa ini mampu menumbukan motivasi berprestasi pada
pengusaha tersebut yang pada akhirnya mendorongnya untuk mengajukan
pinjaman di bank untuk mengajukan usahanya. Tidak berhenti sampai di situ,
wirasahawan tersebut semakin intens mencari ide-ide baru untuk

6
Suryana, Kewirausahaan :Kiatdan Proses Menuju Sukses, (Jakarta: SalembaEmpat, 2013), hlm.
49-50.

8
mengembangn motif dan model produk busana muslimnya. Saat ini
wirausahawan tersebut telah mampu memasarkan produknya ke kota-kota
besar di Pulau Jawa (“Program Hidup Ini Indah” Trans TV, 2009)

F. Cara Menumbuhkan Motivasi Berprestasi dalam Berwirausaha


Motivasi berprestasi sangat dibutuhkan dalam berwirausaha. Karena
dengan memiliki motivasi berprestasi akan menumbuhkan inovatif, kreatif,
serta semangat untuk memajukan usaha yang dikelola.
Berikut adalah alur yang menunjukkan keterkaitan antara motivasi
dengan kewirausahaan.
Beberapa cara menumbuhkan motivasi berprestasi dalam berwirausaha
antara lain:
1. Dengan paksaan (by force) atau melalui perintah atau instruksi bersifat
memaksa. Pada awalnya subyek akan melakukan tugas didasarkan pada
rasa takut apabila menolak tugas tersebut. Metode ini sangat tepat
dilaksanakan oleh mentor/coach kepada orang yang ingin maju tetapi tidak
menyadari potensi raksasa di dalam dirinya
2. Dengan persuasif (persuasion) melalui cerita-cerita yang menarik,
sehingga subyek terpikat dan atas kemauan sendiri meniru gambaran
tentang keberhasilan orang lain. Metode ini tepat untuk menumbuhkan
motivasi wirausahawan yang belum banyak memiliki pengetahuan dan
pengalaman tentang kewirausahaan.
3. Dengan stimulasi (stimulation) melalui gambaran dan petunjuk, sehingga
subyek tertarik dan timbul inisiatif sendiri untuk melakukan sesuatu yang
sesuai dengan minat dan kemampuannya. Metode stimulasi ini akan lebih
baik, bila diterapkan pada subyek yang sudah memahami permasalahan
kewirausahaan.
4. Belajar dari konsep 3M
a. Mulai dari yang kecil
b. Mulai dari diri sendiri
c. Mulai saat ini juga

9
G. Ciri-Ciri Tim Yang EfektiF
1. Tujuan yang sama
Jika semua anggota tim mendayung ke arah yang sama, pasti kapal
yang didayung akan lebih cepat sampai ke tempat tujuan, dari pada jika
ada anggota tim yang mendayung ke arah yang berbeda, berlawanan,
ataupun tidak mendayung sama sekali karena bingung ke arah mana harus
mendayung. Jadi, pastikan bahwa tim memiliki tujuan dan semua anggota
tim Anda tahu benar tujuan yang hendak dicapai bersama, sehingga
mereka yakin ke arah mana harus mendayung.
2. Antusiasme yang tinggi
Pendayung akan mendayung lebih cepat jika mereka memiliki
antusiasme yang tinggi. Antusiasme tinggi bisa dibangkitkan jika kondisi
kerja juga menyenangkan: anggota tim tidak merasa takut menyatakan
pendapat, mereka juga diberi kesempatan untuk menunjukkan keahlian
mereka dengan menjadi diri sendiri, sehingga kontribusi yang mereka
berikan juga bisa optimal.
3. Peran dan tanggung jawab yang jelas
Jika semua ingin menjadi pemimpin, maka tidak akan ada yang
mendayung. Sebaliknya, jika semua ingin menjadi pendayung, maka akan
terjadi kekacauan karena tidak ada yang memberi komando untuk
kesamaan waktu dan arah mendayung. Intinya, setiap anggota tim harus
mempunyai peran dan tanggung jawab masing-masing yang jelas.
Tujuannya adalah agar mereka tahu kontribusi apa yang bisa mereka
berikan untuk menunjang tercapainya tujuan bersama yang telah
ditentukan sebelumnya.7
4. Komunikasi yang efektif
Dalam proses meraih tujuan, harus ada komunikasi yang efektif
antar-anggota tim. Strateginya: Jangan berasumsi. Artinya, jika Anda tidak
yakin semua anggota tim tahu apa yang harus menjadi prioritas utama
untuk diselesaikan, jangan berasumsi, tanyakan langsung kepada mereka

7
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/psikologi-sosial/partisipasi-warga-negara

10
dan berikan informasi yang mereka perlukan. Jika Anda tidak yakin bahwa
tiap anggota tim tahu bagaimana melakukan ataupun menyelesaikan suatu
tugas, jangan berasumsi mereka tahu, melainkan informasikan atau
tujukanlah kepada mereka cara melakukannya. Komunikasi juga perlu
dilakukan secara periodik untuk tujuan monitoring (misalnya: sudah
seberapa jauh tugas diselesaikan) dan correcting (misalnya: apakah ada
kesalahan yang perlu diperbaiki dalam menyelesaikan tugas yang telah
ditentukan).
5. Resolusi Konflik
Peace is not the absence of conflict, but the presence of justice. Ini
merupakan pendapat Martin Luther King. Rasanya hal ini berlaku pula
pada pencapaian sebuah tujuan. Dalam mencapai tujuan mungkin saja ada
konflik yang harus dihadapi. Tetapi konflik ini tidak harus menjadi sumber
kehancuran tim. Sebaliknya, konflik ini yang dapat dikelola dengan baik
bisa dijadikan senjata ampuh untuk melihat satu masalah dari berbagai
aspek yang berbeda sehingga bisa diperoleh cara baru, inovasi baru,
ataupun perubahan yang memang diperlukan untuk melaju lebih cepat ke
arah tujuan. Jika terjadi konflik, jangan didiamkan ataupun dihindari.
Konflik yang tidak ditangani secara langsung akan menjadi seperti kanker
yang menggerogoti semangat tim. Jadi, konflik yang ada perlu segera
dikendalikan.
6. Shared power
Jika ada anggota tim yang terlalu dominan, sehingga segala sesuatu
dilakukan sendiri, atau sebaliknya, jika ada anggota tim yang terlalu
banyak menganggur, maka pasti ada ketidakberesan dalam tim yang
lambat laun akan membuat tim menjadi tidak efektif. Jadi, tiap anggota
tim perlu diberikan kesempatan untuk menjadi ”pemimpin”, menunjukkan
”kekuasaannya” di bidang yang menjadi keahlian dan tanggung jawab
mereka masing-masing. Sehingga mereka merasa ikut bertanggung jawab
untuk kesuksesan tercapainya tujuan bersama.

11
7. Keahlian
Bayangkan sebuah paduan suara dengan anggota memiliki satu
jenis suara saja: sopran saja, tenor saja, alto saja, atau bas saja. Tentu suara
yang dihasilkan akan monoton. Bandingkan dengan paduan suara yang
memiliki anggota dengan berbagai jenis suara yang berbeda (sopran, alto,
tenor dan bas). Paduan suara yang dihasilkan pasti akan lebih harmonis.
Demikian pula dengan tim kerja. Tim yang terdiri dari anggota-
anggota dengan berbagai keahlian yang saling menunjang akan lebih
mudah bekerja sama mencapai tujuan. Berbagai keahlian yang berbeda
tersebut dapat saling menunjang sehingga pekerjaan menjadi lebih mudah
dan lebih cepat diselesaikan. Anggota tim dengan keahlian yang berbeda
juga bisa saling memperluas perspektif and memperkaya keahlian masing-
masing Apresiasi. Tiap anggota yang telah berhasil melakukan apa yang
menjadi tanggung jawabnya dengan baik, atau telah memberikan
kontribusi positif bagi keuntungan tim, pantas mendapat apresiasi. Tentu
saja apresiasi yang diberikan dengan tulus akan lebih terasa dampaknya.
Apresiasi bisa menambah semangat anggota tim yang bersangkutan untuk
terus berprestasi. Apresiasi tidak harus diberikan dalam bentuk uang.
”Saya sangat menghargai ketulusan Anda membantu pelanggan memilih
produk kita yang paling tepat untuknya,” merupakan satu bentuk apresiasi
sederhana berupa kata-kata tulus. Banyak bentuk apresiasi lain yang bisa
diberikan, misalnya: promosi, bonus dalam berbagai bentuk (wisata
keluarga yang dengan menggunakan fasilitas transportasi dan vila
perusahaan, beasiswa bagi anak). Sikap dan pikiran positif. Dengan
menggunakan kacamata hitam, dunia yang Anda lihat akan lebih redup.
Dengan menggunakan kacamata kehijauan, dunia pun terlihat bernuansa
hijau. Demikian pula dengan ”kacamata” sikap dan pikiran yang positif,
dunia di sekitar Anda akan terlihat positif. Kesulitan pun akan terlihat
lebih mudah diatasi, karena kesulitan bukanlah masalah yang harus
dihindari, tetapi tantangan yang harus ditangani. Sikap dan pikiran yang
positif merupakan modal utama sebuah tim.

12
8. Evaluasi
Bagaimana sebuah tim bisa mengetahui sudah sedekat apa mereka
dari tujuan, jika mereka tidak menyediakan waktu sejenak untuk
melakukan evaluasi? Evaluasi yang dilakukan secara periodik selama
proses pencapaian tujuan masih berlangsung bisa membantu mendeteksi
lebih dini penyimpangan yang terjadi, sehingga bisa segera diperbaiki.
Evaluasi juga bisa dilakukan tidak sekadar untuk koreksi, tetapi untuk
mencari cara yang lebih baik. Evaluasi bisa dilakukan dalam berbagai
cara: observasi, riset pelanggan, riset karyawan, interview, evaluasi diri,
evaluasi keluhan pelanggan yang masuk, atau sekedar polling pendapat
pada saat meeting. Ingin sukses? Jangan lupa membantu anggota tim Anda
untuk sukses. Jika mereka sukses, maka mereka pun akan menjadi tim
sukses yang mendukung Anda

H. Faktor Pendorong Dan Penghambat Kewirausahaan


1. Faktor Pendorong Kewirausahaan
Keberhasilan dalam kewirausahaan ditentukan oleh tiga faktor, yaitu yang
mencakup hal-hal berikut :
a. Kemampuan dan kemauan. Orang yang tidak memiliki kemampuan
tetapi banyak kemauan dan orang yang memiliki kemauan, tetapi tidak
memiliki kemampuan, keduanya tidak akan menjadi wirausahaan yang
sukses. Sebaliknya, orang yang memilki kemauan dan dilengkapi
dengan kemampuan akan menjadi orang yang sukses. Kemauan saja
tidak cukup bila tidak dilengkapi dengan kemampuan.
b. Tekad yang kuat dan kerja keras. Orang yang tidak memiliki tekad
yang kuat, tetapi memiliki kemauan untuk bekerja keras dan orang yag
suka bekerja keras, tetapi tidak memiliki tekad yang kuat, keduanya
tidak akan menjadi wirausahawan yang sukses.
c. Kesempatan dan peluang. Ada solusi ada peluang, sebaliknya tidak ada
solusi tidak akan ada peluang. Peluang ada jika kita menciptakan

13
peluang itu sendiri, bukan mencari-cari atau menunggu peluang yang
datang kepada kita.8
2. Faktor-faktor Penghambat Kewirausahaan
Selain keberhasilan seorang wirausahawan juga selalu dibayangi oleh
potensi kegagalan yang akan memberikan lebih banyak pelajaran
dibandingkan sekedar kesuksesan. Menurut Zimmerer keberhasilan atau
kegagalan berwirausaha sangat bergantung pada kemampuan pribadi
wirausahawan itu sendiri. Menurut Zimmerer ada beberapa beberapa
faktor yang menyebabkan wirausahawan gagal dalam menjalankan usaha
barunya, yaitu :
a. Tidak kompeten dalam hal menejerial
b. Kurang berpengalaman, baik dalam kemampuan teknik,
memvisualisasikan usaha, mengoordinasikan, mengelola sumber daya
manusia maupun mengintegrasikan operasi perusahaan
c. Kurang dapat mengendalikan keuangan
d. Gagal dalam perencanaan
e. Lokasi yang kurang memadai
f. Kurangnya pengawasan peralatan
g. Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha
h. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.
Kegagalan juga dapat ditimbulkan oleh dasar kelemahan yang
bersumber pada sifat pribadi yang penuh keraguan, dan hidup tanpa
pedoman ataupun orientasi yang tegas, misalnya sebagai berikut :
a. Suka meremehkan mutu
b. Suka menerobos atau mengambil jalan pintas
c. Tidak memiliki kepercayaan diri
d. Tidak berdisiplin dan suka mengabaikan tanggung jawab.9

8
Ibid.,hlm. 108-109
9
Ibid.,110-111.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Motivasi berprestasi dalam menjalankan wirausaha menjadikan seorang
wirausahawan akan mampu berpikir inovatif, dan kreatif serta memiliki
semangat juang (motivasi berprestasi) dalam mengembangkan usaha yang
dirintisnya.
Sikap motivasi dalam kewirausahaan adalah kemampuan managerial skill,
kemampuan mental yang tangguh, selalu ingin maju, sukses atau dengan
istilah lain mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi dalam
mengaktualisasikan kemampuannya dan harapannya.
Cara menumbuhkan motivasi berprestasi dalam kewirausahaan yaitu : a.
dengan paksaan ; b. dengan persuasif ; c. dengan stimulant ; dan dengan
belajar konsep 3M.
Kinerja karyawan menunjuk pada kemampuan karyawan dalam
melaksanakan keseluruhan tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya.
Kinerja para karyawan akan meningkat apabila mereka terlibat secara aktif
dan ikut berpartisipasi dan menjadi bagian tim dalam proses kegiatan pada
unit organisasi dimana mereka bekerja

B. Saran
Seorang Wirausahawan harus mempunyai motivasi tinggi dalam prestasi
demi mencapai tujuan yang diinginkan. Seorang Wirausahawan harus tekun
dan ulet dalam merealisasikan untuk memperoleh prestasi tinggi dalam
berwirausaha.

15
DAFTAR PUSTAKA

Kasmir. Kewirausahaan, Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers. 2013.


Malayu S.P. Hasibuan. Organisasi dan Motivasi: Dasar Peningkatan
Produktivitas. Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2003.
Suhandana, G. Anggan. Pengaruh Kepariwisataan terhadap Perilaku
Kewirausahaan Pengrajin Ukir Kayu di Bali, Disertasi. Bandung: IKIP.
1980.
Suryana. Kewirausahaan :Kiatdan Proses Menuju Sukses. Jakarta: SalembaEmpat.
2013.