Anda di halaman 1dari 7

EFEK CATECHIN TERHADAP KADAR ASAM URAT, C–

REACTIVE
PROTEIN(CRP) DAN MALONDIALDEHID DARAH TIKUS PUTIH
(Rattus norvegicus) HIPERURISEMIA
Pola makan yang tidak sehat dalam masyarakat yang berprotein tinggi, terutama
protein hewani yang banyak mengandung purin tinggi, menyebabkan penyakit
hiperurisemia (kelebihan asam urat) semakin meningkat. Penyakit hiperurisemia tidak
mengancam jiwa, tetapi bila penyakit ini menyerang, penderita dapat mengalami siksaan
nyeri, pembengkakan atau cacat persendian tangan dan kaki.
Asam urat merupakan produk akhir yang terbentuk dari senyawa purin (adenine,
guanine), dihasilkan dalam jaringan yang mengandung enzim xantin oksidase terutama di
hati dan usus halus. Dalam keadaan normal, asam urat dapat dikeluarkan melalui ginjal.
Tetapi apabila sintesis asam urat terlalu banyak atau ekskresinya melalui ginjal terlalu
sedikit, maka kadarnya dalam darah akan meningkat, kristal-kristal urat yang sukar larut
dalam semua cairan tubuh, mengendap di sendi-sendi dan jaringan dan menimbulkan
peradangan. Endapan Kristal urat juga dapat terjadi pada ginjal dan lambat laun akan
merusak organ tersebut. Nilai normal asam urat 2,4 – 5, 7 mg/dL pada wanita dan 3,5 –
7,0 mg/dL pada pria.

Pada umumnya untuk mengatasi penyakit hiperurisemia digunakan obat-obat


sintesis seperti allopurinol, tetapi dapat menimbulkan efek samping seperti gangguan
pada kulit, lambung, usus dan juga gangguan darah. Obat-obat urikosuria yang lain tidak
dapat diberikan pada pasien yang mengalami batu ginjal. Untuk mengatasi hal tersebut,
dikembangkan pengobatan alternative menggunakan tanaman obat seperti teh hijau.

Daun teh hijau mengandung gugus flavanoid dari polifenol. Salah satu senyawa
aktif teh hijau adalah catechin. Senyawa ini bersifat sebagai antioksidan. Fungsi
antioksidan adalah sebagai peredam yang dapat menetralisir radikal bebas yang masuk
tubuh serta menghentikan reaksi berantai peroksidasi dari lipid. Selain itu teh hijau juga
dapat berfungsi sebagai antiinflamasi5. Diharapkan dengan pemberian catechin dari
ekstrak teh hijau dapat menurunkan kadar asam urat, CRP dan MDA plasma.
METODE PENELITIAN :

Bagan Eksperimen

Pengaruh cara pemberian dosis terhadap kadar asam urat

Efek Catechin
BAGAN PENGARUH UJI AKSI ANTI GOUT

36 ekor tikus putih strain wistar

umur 2 bulan Bobot 150-200 g

Jantan

a. Adaptasi lingkungan

b. Sehat secara visual

c. Berat badan tidak menurun > 10%

Dibagi 6 grup

Grup I Grup II Grup III Grup IV Grup V Grup VI

Hewan masing-masing grup diberi pakan pelet

Kelompok F1: Kelompok F2 : Kelompok F3 : Kelompok F4 : Kelompok F5 Kelompok


kontrol negatif Alupurinol Catechin dosis Catechin dosis : Catechin F6 : kontrol
ditambah 20 mg 10 20 dosis 40 positif (20
hanya diberi otak kambing dan mg/KgBB+20 mg/KgBB+20 mg/KgBB+20 mg otak
pakan pelet allupurinol dosis mg otak mg otak mg otak kambing)
saja 2,52 mg/kgBB kambing kambing kambing

Parameter uji : menurunkan kadar asam urat, CRP dan MDA tikus putih hiperurisemia akibat induksi
otak kambing
secara signifikan
PENGARUH CARA PEMBERIAN OBAT TERHADAP AKSI OBAT

PRINSIP EKSPERIMEN

Sama Beda
a. Spesies hewan uji Cara pemberian obat / bahan uji
b. Spesifikasi bahan uji

c. Dosis bahan uji

d. Parameter uji Variable eksperimen

Parameter uji menurunkan kadar asam urat, CRP


dan MDA tikus putih hiperurisemia
akibat induksi otak kambing secara
signifikan
Urutan Kerja

No Grup Perlakuan Keterangan


Semua hewan dipastikan memenuhi persyaratan & masing-
masing ditimbang
1
Dipersiapkan pakan tikus berupa pelet 521

diberi pakan pelet saja


2 Uji I

diberi pakan pelet + 20 mg otak kambing dan allupurinol dosis 2,52


3 Uji II
mg/kgBB

4 Uji III diberi pakan pelet + Catechin dosis 10 mg/KgBB+20 mg otak kambing

5 Uji IV diberi pakan pelet + Catechin dosis 20 mg/KgBB+20 mg otak kambing

diberi pakan pelet + Catechin dosis 40 mg/KgBB+20 mg otak


6 Uji V
kambing

7 Uji VI diberi pakan pellet + 20 mg otak kambing ( kontrol positif )

diamati catechin terhadap kadar asam urat


8

9 data ditabulasi dan dibandingkan antar grup

Sampel darah dilambil pada hari ke-0 untuk kelompok kontrol negatif dan hari ke-
9 untuk kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan serta hari ke-15 setelah
pemberian allupurinol atau catechin. Darah diambil melalui vena plexus orbitalis dengan
pipet kapiler hematokrit sebanyak 2 mL. Selanjutnya plasma dipisahkan dengan
sentrifugasi kecepatan 4000 rpm selama 10 menit kemudian diukur kadar asam urat, CRP
dan MDA. Variabel bebas yang diamati berupa seri dosis catechin, sedangkan variabel
tergantung berupa perubahan parameter hiperurisemia. Data parameter asam urat, CRP
dan MDA dianalisis dengan uji F dengan tingkat kesalahan 5%. Apabila berbeda nyata
dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengukuran asam urat dan CRP dapat diamati pada gambar 1 dan 2. Dari
analisis statistik dengan uji ANOVA (α=0, 05) didapatkan hasil Fhitung = 38,444; p =
0,000; (p< 0, 05) maka Ho ditolak atau rerata kadar asam urat pada keenam kelompok
perlakuan adalah berbeda bermakna. Uji homogeneous subsets menunjukkan bahwa
rerata semua kelompok Catechin menurunkan kadar asam urat dan rerata

Grup Hari ke 0 Hari ke 9 Hari ke 15


F-1 2,83 2,33 2,33
F-2 2,67 7,50 2,00
F–3 2,17 6,83 4,00
F-4 2,00 7,00 3,33
F–5 2,00 6,83 2,17
F-6 2,50 6,50 8,50

Gambar 1. Tabel kadar Asam Urat tiap kelompok


(Data ditampilkan sebagai tabel ).
Kelompok F1 : kontrol negatif
Kelompok F2 : Alupurinol
Kelompok F3 : Catechin dosis 10 mg/KgBB+20 mg otak kambing
Kelompok F4 : Catechin dosis 20 mg/KgBB+20 mg otak kambing
Kelompok F5 : Catechin dosis 40 mg/KgBB+20 mg otak kambing
Kelompok F6 : kontrol positif (20 mg otak kambing)

Grup 1 2 3
F-1 1,00 1,00 1,00
F-2 1,17 18,00 1,00
F–3 1,33 14,00 4,00
F-4 1,17 16,00 1,00
F–5 1,17 18,00 1,00
F-6 1,17 13,00 36,00

Gambar 2. Tabel kadar CRP tiap kelompok


(Data ditampilkan sebagai tabel ).
Kelompok F1 : kontrol negatif
Kelompok F2 : Alupurinol
Kelompok F3 : Catechin dosis 10 mg/KgBB+20 mg otak kambing
Kelompok F4 : Catechin dosis 20mg/KgBB+20 mg otak kambing
Kelompok F5 : Catechin dosis 40 mg/KgBB+20 mg otak kambing
Kelompok F6 : kontrol positif (20 mg otak kambing)

penurunan kadar Asam Urat pada kelompok Catechin dosis 40 mg/KgBB adalah
yang mendekati rerata penurunan kadar asam urat pada kelompok Alupurinol. Hasil
pengukuran kadara asam urat, CRP dan MDA pada kelompok yang diberikan 20 mg otak
kambing selama 15 hari menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan kelompok-
kelompok yang lain. Hasil ini disebabkan karena otak termasuk makanan yang
mengandung purin tinggi. Asam urat merupakan hasil akhir metabolisme senyawa purin
(adenine, guanine) asam nukleat. Asam nukleat dipecah menjadi guanine nukleotidase
dan adenine nukleotidase oleh enzim nuclease. Selanjutnya guanine nukleotidase diubah
menjadi guanine oleh enzim nukleotidase dan diubah menjadi guanine oleh purin 0,0.

Grup Hari ke 0 Hari ke 9 Hari ke 15


F-1 1,01 0,88 1,03
F-2 1,01 1,66 1,03
F–3 1,01 1,49 1,41
F-4 1,01 1,66 1,13
F–5 1,01 1,74 1,01
F-6 1,01 1,66 2,97

Gambar 3. Tabel kadar MDA tiap kelompok


(Data ditampilkan sebagai tabel ).
Kelompok F1 : kontrol negatif
Kelompok F2 : Alupurinol
Kelompok F3 : Catechin dosis 10 mg/KgBB+20 mg otak kambing
Kelompok F4 : Catechin dosis 20mg/KgBB+20 mg otak kambing
Kelompok F5 : Catechin dosis 40 mg/KgBB+20 mg otak kambing
Kelompok F6 : kontrol positif (20 mg otak kambing)

Hasil pengukuran kadar asam urat, CRP dan MDA pada kelompok yang diberikan
20 mg otak kambing selama 15 hari ditambah dengan Catechin berbagai dosis dapat
menurunkan kadar asam urat, CRP dan MDA. Hasil ini disebabkan karena catechin dapat
berperan sebagai antioksidan poten dan antiinflamasi.

KESIMPULAN

Pemberian catechin mulai dosis 10 mg/KgBB dapat menurunkan kadar asam urat,
CRP dan MDA tikus putih hiperurisemia akibat induksi otak kambing secara signifikan.
Dosis catechin yang paling efektif dalam menurunkan kadar asam urat, CRP dan MDA
tikus putih hiperurisemia adalah dosis 40 mg/KgBB .