Anda di halaman 1dari 37

ABSTRAK

Sediaan Bentuk Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat
tidak larut yang terdispersi dalam fasa cair. Parikel yang tidal larut tersebut dimaksudkan
secara fisiologi dapat diabsorbsi yang digunakan sebagai obat dalam atau untuk pemakaian
luar dengan tujuan penyalutan. Diameter partikel suspensi >1µm, umumnya 10 – 50µm.
Sasaran utama didalam merancang sediaan berbentuk suspensi adalah untuk memperlambat
kecepatan sedimentasi dan mengupayakan agar partikel yang telah tersedimentasi dapat
disuspensi dengan baik, jadi tidak untuk mencegah terjadinya pemisahan fasa.

1
Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah

1. Definisi
Diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja yang lunak atau cair tiga kali atau lebih
dalam satu hari, atau lebih praktis mendefinisikan diare sebagai meningkatnya frekuensi
tinja atau konsistensinya menjadi lebih lunak sehingga dianggap abnormal oleh ibunya .
Diare secara umum dihubungkan dengan peningkatan volume dan perubahan kosistensi
tinja. Pada anak kurang dari dua tahun, diare didefinisikan sebagai pengekuaran tinja
lebih dari 10ml/kgBB/hr. Sedangkan pada anak lebih dari 2 tahun, diare didefinisikan
pengeluaran tinja lebih dari 200 gram/hari atau dapat dikatakan adanya berak cair empat
kali atau lebih dalam satu hari 5.
Disentri didefinisikan sebagai diare yang disertai darah dalam tinja. Penyebab yang
terpenting dan tersering adalahShigella, khususnya S. Flexneri dan S. Dysenteriae tipe
1.Entamoeba histolytica menyebabkan disentri pada anak yang lebih besar, tetapi jarang
pada balita 4. Disentri amoeba adalah penyakit infeksi usus besar yang disebabkan oleh
parasit ususEntamoeba histolytica .

2. Etiologi
Entamoeba histolytica merupakan protozoa usus, sering hidup sebagai komensal
(apatogen) di usus besar manusia. Apabila kondisi mengijinkan dapat berubah menjadi
patogen (membentuk koloni di dinding usus, menembus dinding usus menimbulkan
ulserasi) dan menyebabkan disentri amoeba .

3. Epidemiologi
Penyebaran kuman yang menyebabkan diare berkaitan erat dengan perilaku pejamu yang
meningkatkan kerentanan terhadap diare. Perilaku tersebut diantaranya adalah:
a. tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama kehidupan.

2
b. Menggunakan botol susu. Penggunaan botol ini memudahkan pencemaran oleh kuman
yang berasal dari tinja dan sukar dibersihkan. Sewaktu susu dimasukkan ke dalam botol
yang tidak bersih akan terjadi kontaminasi kuman dan bila tidak segera diminum kuman
akan tumbuh.
c. Menyimpan makanan masak pada suhu kamar.
d. Menggunakan air minum yang tercemar oleh tinja.
e. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja atau sebelum
memasak makanan .

Sedangkan faktor host (pejamu) yang menyebabkan diare antara lain adalah:
a. Tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun. ASI mengandung antibodi yang
melindungi kita terhadap kuman penyebab panyakit diare seperti Shigella dan Vibrio
cholera.
b. Kurang gizi.
c. Campak. Hal ini akibat penurunan kekebalan pada penderita.
d. Imunodefisiensi/imunosupresi .

Insiden tertinggi disentri amoeba ditemukan pada anak-anak usia 1-5 tahun . Disentri
amoeba ditularkan lewat feko-oral, baik secara langsung melalui tangan, maupun tidak
langusng melalui air minum atau makanan yang tercemar. Sebagai sumber penularan
adalah tinja yang mengandung kista amoeba. Laju infeksi yang tinggi didapat di tempat-
tempat penampungan anak cacat atau pengungsi dan di negara sedang berkembang
dengan sanitasi lingkungan hidup yang jelek. Di negara beriklim tropis banyak
didapatkan strain patogen dibanding di negara maju yang beriklim sedang. Kemungkinan
faktor diet rendah protein disamping perbedaan strain amoeba memegang peranan. Di
Indonesia diperkirakan insidennya cukup tinggi. Penularan dapat terjadi lewat beberapa
cara, misalnya : pencemaran air minum, pupuk kotoran manusia, vektor lalat dan kecoa,
dan kontak langsung, seksual kontak oral-anal pada homoseksual. Penyakit ini cenderung
endemik, jarang menimbulkan epidemi. Epidemi sering terjadi lewat air minum yang
tercemar.

Patogenesis E. histolytica diyakini tergantung pada 2 mekanisme, yaitu kontak sel dan
pemajanan toksin. Penelitian baru-baru ini telah menunjukkan bahwa kematian
3
tergantung kontak oleh trofozoid yang meliputi perlekatan, sitolisis ekstraseluler, dan
fagositosis. Reseptor lektin spesifik-galaktosa diduga bertanggung jawab dalam
menjembatani perlekatan pada mukosa kolon., Juga telah dirumuskan bahwa amoeba
dapat mengeluarkan protein pembentuk pori yang membentuk saluran pada membran sel
sasaran hospes. Bila trofozoidE histolytica menginvasi usus, akan menyebabkan tukak
dengan sedikit respon radang lokal. Organisme memperbanyak diri dan menyebar di
bawah usus untuk menimbulkan ulkus yang khas. Lesi ini biasanya ditemukan pada
coecum, colon transversum dan kolon sigmoid.

1.2 Perumusan Masalah


1. Bagaimana merancang dan membuat formula suspensi dengan bahan aktif
Metronidazole yang aman, stabil, dan efektif dapat diterima oleh anak-anak sampai
kalangan dewasa ?
2. Apakah sediaan suspensi, dengan bahan aktif Metronidazole banyak diproduksi dan
memenuhi kriteria persyaratan mutu yang aman, efektif, stabil, dan dapat diterima
oleh masyarakat luas ?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk memperoleh formula suspensi dengan bahan aktif Metronidazole yang aman,
efektif,stabil, dan dapar diterima secara farmakologis sebagai analgesik-antipiretik
bagi anak-anak dan kalangan dewasa.
2. Untuk memenuhi keinginan masyarakat luas akan sediaan yang aman, efektif, stabil,
dan dapat diterima karena penggunaannya lebih mudah dan efisien untuk anak-anak
dan dewasa dengan sifatnya yang sukar larut air.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Dapat memformula metronidazole menjadi bentuk sediaan suspensionyang memenuhi
persyaratan mutu, yaitu aman, efektif, stabil, dan dapat diterima.
2. Memenuhi kebutuhan masyarakat luar akan sediaan metronidazole dalam bentuk
suspensi,untuk anak-anak dan kalangan dewasa.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang amobiasis intestinalis

Disentri amoeba adalah penyakit infeksi usus yang ditimbulkan oleh Entamoeba
histolytica, suatu mikroorganisme anaerob bersel tunggal (protozoa). Penyakit ini tersebar
diseluruh dunia dan yang banyak terjangkit adalah negara sub tropis dengan tingkat sosio-
ekonomi yang rendah dan kondisi higiene yang belum memadai. Penyebarannya melalui
makanan dan air minum melalui kontak seksual. Bila tidak di obati (dengan tepat) penyakit
dapat menjadi sistemis dan menjalar ke organ – organ lain, khususnya hati.

Entamoeba histolytica memiliki bentuk minuta (bentuk usus ) : amebiasis intestinalis


menularkan penyakit langsung dari orang ke orang atau melalui makanan dan air minum
yang telah terinfeksi kista, yaitu bentuk inaktif dari amoeba (lat. Minuta = kecil). Kista
diliputi oelh suatu membran pelindung yang ulet, tahan getah lambung dan dapat hidup diluar
tubuh. Di dalam usus halus kista berkembang menjadi bentuk aktif, yakni trofozoit yang
terutama hidup dari kuman usus besar dan ditempat ini memperbanyak diri dengan
pembelahan.trofozoit biasanya hidup di colon sebagai komensal non-patogen, yakni
membentuk kiata tanpa merugikan tuan rumah. Kemudian kista-kista ini meninggalkan tubuh
lewat tinja bersama trofozoit yang tak berbeda. Kista ini yang membawa peran penting dalam
penularannya bila terdapat pada makanan.

Trofozoit jugadapat berubah menjadi bentuk patogen dan dengan bantuan toksinnya
sendiri serta enzim proteolitis, dapat menyerang mukosa usus. Terjadilah lukakecil dan diare.
Luka ini sering menimbulkan infeksi sekunder dengan bakteri dan timbulah pemborokan
(ulcer active colitive).

Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara beberapa hari dan beberapa bulan sampai
satu tahun. Gejala amebiasis usus (sisentri amuba) yang akut memperlihatkan awalnya infeksi
yang ditandai oleh diare akut yang ringan dan berselang-seling, biasanya berlanjut dengan
diare yang mengandung lendir dan darah, kejang-kejang, nyeri perut serta mulas hajat. Gejala
lain sakit kepala, mual, anoreksia.

Obat obat penting edisi ke-6 hal 188

5
Obat anti protozoa

Obat antiprotozoa adalah senyawa yang digunakan untuk pencegahan atau pengobatan
penyakit parasit yang disebabkan Yng disebabkan oleh protozoa.

Berdasarkan penggunaanya oabt anti protozoa dibagi menjadi enam kelompok, yaitu oabat
antiamuba, antileismania, antitrikomonas, antitripanosoma, antimalaria.

1. Obat antiamuba
Obat antiamuba, atau amubisida, adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan
amubiasis, suatu infeksi pada tuan rumah(host) yang disebabkan oleh amuba parasit.
Habitat amuba biasanya pada usus besar, seperti Entamoeba histolytica, E.coli, E.
hartamanni, Endolimax nana dan Iodamoeba butschlii, atau pada mulut, seperti E,
ginggivitis.
Amubisid biasanya dihubungkan dengan amuba disentri, suatu infeksi yang
disebabkan oelh E. histolytuca. Merupakan salah satu penyakit parasit yang endemik
dan banyak menimbulkan kematian dibanyakn negara, terutama di daerah tropis
yang sanitasinya relatif rendah.
Obat antiamuba dibagi menjadi tujuh kelompok yaitu turunan 4-aminokuinolin,
antibiotika, turunan 8-hidroksikuinolin, alkaloida ipeka, turunan 5-nitroimidazol,
arsen organik dan turunan lainnya.
A. Turunan 4-Aminokuinolin
Contoh : klorokuin dan garam-garamnya.
Klorokuin digunakan untuk amubiasis sistemik, terutama abses hati.
B. Antibiotika
Contoh : eritromisin, tetrasiklin, oksitetrasiklin dan paromisin.
Antibiotika bekerja sebagai amubisid secara tidak langsung pada dinding
dan lumen usus, yaitu dengan mmodifikasi flora usus yang diperlukan untuk
kehidupan amuba.
C. Turunan 8-hidroksikuinolin
Contoh : kiniofon, kliokuinol (vioform) dan iodokuinol.
Mekanisme : bekerja pada usus melalui oksidasi oleh atom iodida,
pembentukan kelat dengan ion fero oleh gugus 8-kuinolinol.
6
D. Alkaloida Ipeka
Contoh : emetin HCL dan dehidroemetin diHCL (DH emetin)
Mekanisme : amubisid sistemik, digunakan untuk pengobatan amuba
disentri yang berat dan abses hepatik.
E. Turunan Nitroimidazol
Dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Turunan 2-nitroimidazol, contoh : benzidazol dan misonidazol
2. Turunan 5-nitroimidazol, contoh : metronidazol, nimorazol,
ornidazol, tinidazol dan seknidazol.

Turunan 5-nitroimidazol sampai sekarang merupakan obat pilihan untuk amubiasis usus dan
sistemik, termasuk abses amuba, infeksi bakterial, giardiasis, trikomoniasis.
Sebagian besar oabat diabsorpsi melalui usus halus.

Mekanisme kerja : gugus nitro pada posisi 5 sangat berperan untuk


aktivitas amubiasis karena mampu mereduksi dan berfungsi sebagai elektron
aseptor terhadap gugus elektron donor protein amuba. Akibatnya, terjadi
gangguan proses biokimia, seperti hilangnya struktur heliks AND,
pemecahan ikatan dan kegagalan fungsi AND sehingga amuba mengalami
kematian.

Contoh :

1. Metronidazol : merupakan senyawa kemoterapi dengan spektrum luas,


selektif terhadap mikroorganisme anaerob, termasuk bakteri dari
protozoa. Metronidazole adalah obat pilihan terhadap amubiasis usus dan
sistemik, trikomoniasis dan giardiasis. Absorpsi obat dalam saluran cerna
cepat dan sempurna pada kadar spektrum tertinggi dicapai dalam 1-2 jam
setelah pemberian secara oral, dengan waktu paro plasma ± 8 jam. Dosis
oral untuk amubisid 0,75-1g 3dd, selama 5-10 hari. Untuk trikomoniasis :
250 mg 3dd, selama 7-10 hari. Untuk giardiasis : 2g 1dd, selama 3 hari.
Untuk infeksi bakteri anaerobik, dosis oral mula-mula : 1g kemudian 500
mg, tiap 8 jam. Untuk infeksi bakteri anaerob yang serius, diberikan
secara infus intravena dengan dosis awal : 15 mmg/kgbb, selama 1 jam,

7
diikuti dosis pemeliharaan : 7,5 mg/kgbb 1 jam dengan selang 6-8 jam,
selama 7-14 hari.
2. Tinidazol : merupakan senyawa kemoterapi dengan spektrum luas, aktif
terhadap bakteri anaerob, seperti bakteri Bacteroides sp., clostridium sp.,
Eubacterium sp., peptococcus sp, Fusobacterium sp, dan protozoa seperti
trichomonas vaginalis, E.histplytica dan Giardia Lambia. Tinidazol sering
digunakan untuk mencegah infeksi sesudah operasi saluran cerna atau
ginekologis yang disebabkan oleh bakteri anaerob. Absorpsi obat saluran
cerna cepat dan sempurna, kadar serum tertinggi dicapai dalam 2 jam
sesudah pemberian secara oral dengan waktu paro eliminasi 12-24 jam.
(Kimia Medisinal 2, hal.73-76)

2.2 Tinjauan Tentang Bahan Aktif


II.1 Pemilihan Bahan Aktif
1. METRONIDAZOL
a. Efek utama :
Sebagai obat anti mikroba dengan aktivitas tinggi melawan bakteri anaerob
dan protozoa. (BNF 50, p.302)
Baktericidal untuk anaerob dan mikroorganisme termasuk Bacyeroides,
Clostridium sp, Endolimax nana, Entamoeba histolyca, Fusobacterium vincentii,
Gardnerella vaginalis, Giardia lamblia, Peptococcus, Peptostreptococcus dan
Trichomonas vaginalis. (Remington, p.1230)
b. Efek samping :
Gangguan pencernaan (mabuk dan muntah), gangguan rasa, lidah terasa
berbulu, mukositis oral, anoreksia, sangat jarang hepatitis,jaundice, pankreatitis,
mengantuk pusing, sakit kepala, ataxia, psychotic disorders, urin menjadi pekat,
thrombocytopenia, pancytopenia, myalgia, arthralgia, gangguan penglihatan, rash,
pruritus, dan erythema multiforme; pada terapi intensif dan lama peripheral
neuropathy, transient epileptiform seizures dan leucopenia. (BNF 51, p.303)
c. Indikasi :
Melawan intestinal amoebiasis, extraintestinal amoebiasis (liver-abcess),
mengurangi gejala amoebic cyst passers, urogenital trichomoniasis, giardiasis, infeksi
protozoa, eradikasi Helicobacter pylori, kaki bernanah dan menekan sakit, bacterial
8
vaginosis, penyakit inflamasi pelvic, ulcerative gingivitis akut, infeksi oral akut,
surgical prophylaxis. (BNF, p.302-303, 337)
d. Kontra indikasi :
Hipersensitif terhadap Metronidazol atau derivat Metronidazol lain. Hamil
trisemester 1. (MIMS 2006, p.257)
e. Spesifikasi lain :
Absorpsi Metronidazol berlangsung baik sesudah pemberian oral.
(Farmakologi & Terapi edisi 4, p. 540)
2. TINIDAZOL
a. Efek utama :
Memiliki aksi antimikroba seperti Metronidazol dan digunakan juga dalam
pengobatan infeksi protozoa dan pengobatan profilaksis dan infeksi bakteri anaerob,
juga digunakan dalam regimen untuk eradikasi dari Helicobacter pylori pada penyakit
peptic ulcer. (Martindale 34, p. 617)
b. Efek samping :
Gangguan neurologi, gangguan gastro intestinal, anoreksia, rasa logam, reaksi
hipersensitif, leukopenia, sakit kepala, lelah, lidah terasa berbulu, pemekatan warna
urin. (MIMS 2006, p. 268)
Mual, mulut kering, ruam kulit, muntah, neuropati, perifer. (MIMS 2006,
p.255)
c. Indikasi :
Infeksi trikomonas (uretritis, vaginatis), amoebiasis intestinal,
giardiasis/lambliasis, abses hepar oleh amuba, pencegahan infeksi pasca operasi oleh
bakteri anaerob, gingivitis ulseratif akut. (MIMS 2006, p.255)
d. Kontra indikasi :
Riwayat diskrasia darah, gangguan neurologis klinis aktif, hamil trimester 1,
laktasi, hipersensitif. (MIMS 2006, p.254)
e. Spesifikasi lain :

9
3. TETRASIKLIN
a. Efek utama :
Sebagai antibiotik yang bersifat bakteriostatik dengan spektrum kerja yang
luas dan digunakan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh organisme
susceptible. (Martindale 34, p.268)
b. Efek samping :
Erupsi morbiliformis, urtikaria, dermatitis eksfoliatif, udem angioneurotik,
reaksi anafilaksis, iritasi lambung. (Farmakologi & Terapi edisi 4, p.653)
Mabuk, muntah, diarrhea, iritasi pada mukosa, mulut kering, glossitis,
perubahan warna lidah, stomatitis, dysphagia, oesophageal ulceration, oral
candidiasis, vulvovaginitis, disfungsi renal, nefritis. (Martindale 34, p.266)
c. Indikasi :
Riketsiosis, infeksi klamidia, psitakosis, inclusion conjunctivitis, trakoma,
uretritis nonspesifik, infeksi mycoplasma pneumoniae, bruselosis, tularemia, kolera,
sampar, infeksi kokus, gonore, sifilis, acne vulgaris, actinomycosis, frambusia,
leptospirosis, infeksi saluran cerna. (Farmakologi & Terapi edisi 4, p.654-655)
d. Kontra indikasi :
Hipersensitif terhadap Tetrasiklin, penderita dengan lupus erythematosus,
kehamilan, menyusui, anak-anak di bawah 8 tahun, kerusakan hepar. (Martindale 34,
p.267)
e. Spesifikasi lain :
Resisten terhadap E. Coli, Pseudomonas aeroginosa, Shigella, S. aureus dalam
bentik larutan terjadi hidrolisa potensi turun pada pH,2, dan peruraian berjalan lambat
pada pH 7. absorpsi dihambat oleh susu, basa, Al(OH)3, garam kofein. Resisten
trhadap Staphylococccus. (Martindale 28, p.1217-1223)

Bahan Aktif yang Terpilih


Metronidazole Benzoat
Alasan :
Melawan intestinal amubiasis, extra-intestinal amubiasis (termasuk liver
abcess) dan mengurangi gejala amoebic cust passers, urogenital trichomoniasis,
gardiasis, infeksi protozoa, eradikasi Helicobacter pylori, infeksi anaerob, kaki

10
bernanah dan menekan sakit, bakterial vaginosis, penyakit inflamasi pelvisc, infeksi
oral akut, gingivitis ulcerative akut, profilaksis surgical.(BNF 50, p.302-303,337)
Jarang ditemukan efek samping hebat yang memerlukan penghentian obat.
On set of Action (OOA) cepat.

2.3 Pemilihan bentuk sediaan

Karakteristik Fisika Kimia

Bahan Aktif Karakterstik


a) Fisika b) Kimia
Metronidazole 1.Serbuk hablur / agak kuning, 1.Asam, basa, garam, ester
agak berbau atau hampir tidak kompleks: -
berbau 2.Tidak mudah teroksidasi
2.Rasa pahit dan agak asin 3.pH (MD 28 P.268)
3.Kelarutan dalam pelarut pH larutan jenuh dalam air
Air = 1 : 100 = 5,8
Etanol = 1 : 200 pH stabil = 4,5 – 7,0
Kloroform = 1 : 200 4. produk hidrolisis
Agak sukar larut dalam eter metronidazole benzoat dalam
(MD 36 P.108) larutan adalah metronidazole
4. Kelarutan metronidazole dan asam benzoat.
ditingkatkan dengan - Tetapan laju peruraian :
penambahan satu atau (halaman selanjutnya)
lebih co-solvent water 5. titik lebur 159oC – 163oC
misible pelarutan 6. Pka : 2,5
meningkat secara
eksponen dengan
peningkatan fraksi
volume dari co-solvent

5. Ukuran partikel : 10μm-


50μm

11
6. Disolusi : tidak kurang
dari 85% dari label berisi
metronidazole dipisahkan
dalam 60 menit

2.4 Penyusunan Formula Awal

Komposisi untuk sediaan (formula)

2.4.1 Bahan Aktif


Metronidazole
Alasan :

 OOA cepat, Cp max di capai dalam 1-2 jam setelah pemberian oral
 Jarang ditemukan efek samping hebat yang memerlukan penghentian
pengobatan
 Merupakan obat pilihan terhadap usus dan sistemik, trikomoniasis,
giardiasis
 Merupakan senyawa kemoterapi dengan spectrum luas, selektif terhadap
mikoorganisme anaerob, termasuk bakteri dan protozoa
 Metronidazole pemberian oral secara tablet, sedangkan metronidazole
benzoat berupa suspensi

2.4.2 Tinjauan tentang bahan tambahan

a. Propilenglykol (HPE ed. 6 page 592)


 Pada umumnya digunakan sebagai solvent, pengawet, antimikroba.
Pada pembuatan formula di praktikum ini, propilenglikol digunakan
sebagai pelarut bahan aktif (paracetamol) karena paracetamol
mempunyai kelarutan yang lebih tinggi dalam propilenglikol
dibandingkan dalam air.
 Organoleptic : tidak berwarna, tidak berbau, cairan sedikit kental, rasa
manisnya sedikit lebih keras atau tajam dibandingkan gliserun.

12
 Kelarutan : dalam etanol (95%), gliserin, air, aseton, dan kloroform.
 Bersifat higroskopis, jadi harus disimpan pada tempat yang tertutup
rapat, yang terlindung dari cahaya.
 Apabila dicampur dengan air, etanol 95%, atau gliserin dapat
menambah efektifitas.
b. Nipagin / Methyl Paraben (HPE ed. 6 page 441)
 Berfungsi sebagai pengawet, antimikroba. Dapat digunakan bersama
dengan pengawet lainnya atau sendiri. Konsentrasi dalam larutan oral
berada dalam rentang antara 0.015% - 0.2%.
 Organoleptis : berbentuk Kristal yang tidak berbau atau serbuk Kristal
putih, memiliki rasa sedikit pedas. Dalam formulasi ini dapat
ditambahkan pewarna dan perasa untuk menghilangkan rasa sedikit
pedas propilenglikol.
 Kelarutan : sukar larut dalam air (1 : 400) , larut dalam propilenglikol (
1: 5) , serta larut dalam etanol (1:2). Namun karena formula yang
diminta adalah ang non-alkoholik, maka digunakan propilenglikol
untuk melarutkan nipagin dan juga bahan aktif (paracetamol).
 Stabil pada pH 3-6 selama 4 tahun pabila disimpan pada suhu ruang
nipagin dapat mengalami penurunan aktifitas antimikroba akibat
penambahan propilenglikol yang nantinya akan mencegah terjadinya
interaksi antara 2 bahan tersebut (nipagin dan polysorbat 20).
c. Asam Sitrat (HPE ed. 6 page 181)
 Sebagai antioksidan, komponen buffer, pengawet, agen pengkhelat.
Asam sitrat juga dapat mencegah oksidasi dari polysorbat 20.
 Organoleptis : serbuk Kristal yang tidak berwarna atau terkadang
berupa serbuk Kristal putih, tidak berbau, dan punya rasa asam yang
kuat.
 Kelarutan : mudah larut dalam air (1 : <1) dan dalam etanol 95%.
 Bersifat deliquescent dalam udara lembab, oleh karena itu disimpan di
tempat yang kering. Asam sitrat bersifat asam lemah.
d. Na-Fosfat

13
 Sebagai bahan buffer untuk mempertahankan pH sediaan (pH 6).
Bahan ini dipakai bersama dengan asam sitrat yang bersifat asam
lemah. (komponen dapar : aam lemah atau basa lemah beserta
garamnya).
 Organoleptis : serbuk putih, tidak berbau, tidak berwarna.
 Kelarutan : mudah larut dalam air dan etanol (95%).
 Stabilitas secara kimia dan sedikit bersifat deliquescent, jadi perlu
disimpan di tempat kering dan sejuk.
e. Na sakarin (HPE hal 608)
 Sebagai pemanis untuk makanan dan obat-obatan
 Batas penggunaan 0,075% - 0,6%
 Kelarutan : dalam air 1:12 ; dalam propilenglikol 1:3,5 ; dalam etanol
1:102
 Organoleptis : serbuk kristal putih, tidak berbau, memiliki rasa manis
di awal, tapi lama kelamaan menjadi pahit. Ini dapat di tutupi dengan
menambahkan pemanis lain
 Stabil dalam kondisi normal
f. Carboxymethylcellulose sodium (CMC Na)
 Kegunaan umum sebagai pelapis, stabiliser, sespending agent,
meningkatkan viskositas, mengabsorbsi air.
 Kelarutan : konsentrasi oral solution 0,1 – 1,0 %
 Organoleptis :

g. Frambozen red
 Pewarna merah untuk menutupi warna yang tidak di inginkan
h. Essence Frambozen
 Memberikan rasa frambozen dan bau manis untuk meningkatkan
penerimaan (aseptability)

2.5 Tinjauan Tentang Bentuk sediaan


Berdasarkan data karakteristik fisika kimia diatas, maka bentuk sediaan yang
dipilih adalah :
14
 Suspensi
Definisi suspensi adalah : sediaan cair yang mengandung partikel padat
tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi oral adalah sediaan cair
mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan
pengaroma yang sesuai, dan ditujukan untuk penggunaan oral. Yang sangat
penting adalah bahwa suspensi harus dikocok baik sebelum digunakan untuk
menjamin distribusi bahan padat yang merata dalam pembawa, hingga menjamin
keseragaman dan dosis yang tepat. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak
boleh cepat mengendap. Kekentalan suspesi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan
mudah dikocok dan dituang. Suspensi harus disimpan dalam wadah tertutup rapat
dan ditempat yang sejuk.
(Farmakope Indonesia edisi 3 dan 4 )

Bentuk sediaan yang dipilih untuk bahan metronidazole adalah bentuk supensi
dengan alasan :
1. Bahan aktif (metronidazole) sukar larut air.
2. Bahan aktif (metronidazole) stabil air
3. Lebih mudah ditelan
4. Rasa tidak enak dari obat dalam bentuk larutan akan tidak terasa bila diberikan
sebagai partikel tidak larut dalam bentuk suspensi

Dipilih bentuk botol kemasan volume 60 ml, karena :

1. Pemakaian untuk metronidazole sebagai antiamoeba digunakan dalam rentang 5-10


hari
2. Diperkirakan pasien dapat sembuh dalam waktu 5 hari pemakaian volume 60 ml
mencukupi kebutuhan.

15
Contoh perhitungannya :

→ perhitungan tetapan laju peruraian

Missal : t ½ = 21,8

𝟎,𝟔𝟗𝟑
t½=
𝒌

𝟎,𝟔𝟗𝟑 𝟎,𝟔𝟗𝟑
k = 𝟏 = = 0,03178899
𝒕 𝒌
𝟐

→ perhitungan lama hidup dari preparat yang beredar (perkiraan)

𝒌
Log Ct = Log Co - .t
𝟐,𝟑𝟎𝟑

𝟎,𝟎𝟑𝟏𝟕𝟖𝟖𝟗𝟗
Log 90% = Log 100% - .t
𝟐,𝟑𝟎𝟑

𝟎,𝟎𝟑𝟏𝟕𝟖𝟖𝟗𝟗
Log 0,9 = − .t
𝟐,𝟑𝟎𝟑

𝟎,𝟎𝟑𝟏𝟕𝟕𝟖𝟖𝟗𝟗
− 0,04575749 = − .t
𝟐,𝟑𝟎𝟑

= 3,314968508 tahun

16
BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

3.1 Bagan Kerangka Konseptual

Bagan Kerangka Konseptual dapat dilihat pada lampiran 1

Bahan aktif untuk sediaan suspensi amubisid (disentri amoeba), yaitu metronidazole.
Didalam pustaka disebutkan bahwa metronidazole agak sukar larut dalam air, dalam etanol
dan dalam kloroform dan sukar larut dalam eter. Oleh karena itu, metronidazoledilarutkan
dalam air dan tambah pula dengan suspending agent yaitu cmc Na sehingga sediaan
berbentuk sediaan suspensi. Tidak digunakan pelarut lain karena bahan aktif sukar larut
dalam pelarut manapun. Di dalam sediaan juga digunakan air sebagai pelarut asam sitrat dan
Na-fosfat sebagai dapar, sehingga dapat menyebabkan tumbuhnya mikroorganisme. Hal ini
diatasi dengan penggunaan propilenglikol yang selain berfungsi sebagai co-solvent, dalam
sediaan ini juga dapat berfungsi sebagai pengawet, karena 10% dari sediaan terdiri dari
gliserin (kadar propilenglikol> 20% berfungsi sebagai pengawet ).

Stabilitas kimia suatu sediaan tergantung dari pH. Metronidazole mempunyai pH


stabil 4,5 - 7 Untuk menghasilkan kestabilan kimia bahan aktif maka dipilih pH = 5 dengan
cara menambahkan dapar sitrat-fosfat.

Metronidazole mempunyai sifat tidak stabil terhadap cahaya dan udara sehingga
sediaan dikemas dengan botol coklat dan tertutup rapat agar kestabilan bahan aktif tetap
terjaga.

Agar sediaan menjadi efektif, maka dipilih dosis bahan aktif yaitu : 400 mg/mL dalam
bentuk sendok takar . Pemakaian sehari adalah 2 kali sehari. Selain itu suatu sediaan harus
terjaga kestabilannya, keefektifannya, dan aseptabilitasnya, keamanan suatu sediaan juga
mutlak dijaga, agar suatu sediaan aman maka harus diketahui persyaratan mutu kadar bahan
aktifnya. Adapun persyaratan mutu kadar bahan aktif metronidazole suspensi adalah 95 % ~
105 %. Untuk meningkatkan masa hidup (shelf life) sediaan maka jumlah bahan aktif adalah
105 %.

Setelah memperhitungkan keamanan, keefektifan, kestabilan, dan aseptabilitas maka


disusun suatu bentuk sediaan, yaitu : suspensi merupakan larutan terdispersi. Adapun
formula dari sediaan suspensi, yaitu

17
R/ metronidazole 400 mg

Propilenglikol 10 %

CMC Na 0,5 %

Nipagin 0, 18 %

Asam Sitrat 1,02 %

Na-Fosfat 1,83 %

Na Sakarin 0,045 %

Strawberry Red 0,001 %

Flavour Frambozen 6 tetes

Aqua ad 5 mL

mf l a suspension 60 mL

3.2 Persyaratan Mutu

a. Bahan maupun sediaan yang dibuat harus memenuhi persyaratan mutu yang sesuai
dengan ketentuan USP XXII dan memperhatikan kriteria pendaftaran obat jadi
Departemen Kesehatan RI.

Persyaratan mutu untuk bahan :

1. Safety :

 Aman bagi pekerja

 Toksisitas sudah diketahui dengan pasti dan dikendalikan (tercantum


dalam Farmakope)

2. Efficacy :

 Manjur, bermanfaat

3. Quality :

 Kualitas (kemurnian/impurity) harus memenuhi persyaratan kemurnian


karena zat-zat asing bisa memberikan efek samping.

b. Aman

 Sediaan aman dipakai dan tidak menimbulkan efek samping yang


membahayakan pada pemakainya (oral).

18
 Tidak boleh terjadi kenaikan toksisitas

 Dikatakan aman apabila kadarnya tidak melebihi kadar yang tertera pada
masing-masing monografi di Farmakope yaitu : kandungan zat berkhasiatnya
tidak kurang dari 95% dan tidak boleh dari 105% dari yang tertera pada
label/etiket. (metronidazole, farmakope indonesia edisi III hal 382)

c. Efektif

Dengan pemberian dosis sekecil mungkin sudah dapat menimbulkan efek terapi yang
optimum dalam waktu yang singkat dengan toksisitas dan efek samping yang
minimum. (USP XXII hal. 324)

d. Stabilitas Fisika

Sifat fisika permulaan (asli) termasuk penampilan, keseragaman, viskositas,


organoleptis harus tetap (tidak berubah) dari mulai dibuat sampai ke tangan pasien,
meliputi :

 Berat jenis sediaan > berat jenis air

 Viskositas sediaan < viskositas air

 Aliran (sifat alir) : pseudoplastis

 Homogenitas partikel bahan aktif tersebar merata

e. Stabilitas Kimia

Secara kimia antar komponen tidak saling berinteraksi yang dapat menimbulkan
perubahan potensi, warna, pH dan bentuk sediaan. Setiap bahan aktif mempunyai sifat
kimia yang tetap dan kadar/potensi yang sesuai dengan etiket dalam batas yang telah
ditentukan, meliputi : -pH. Ph stabil : rentang pH di mana sediaan stabil (pH optimum
biasanya terletak ditengah-tengah pH stabil)

Untuk bahan aktif metronidazole :

- pH = 5 (pH stabil)

pKa = 2,5

- Kadar = 95,0 % - 105,0 %

f. Stabilitas Mikrobiologi

 Tidak terjadi peruraian akibat pertumbuhan mikroba

 Sterilitas/resistensi terhadap pertumbuhan mikroba tergantung pada spesifikasi


yang diinginkan (apakah steril/non steril)
19
 Apabila mengandung zat antimikroba harus tetap efektif selama waktu yang
ditentukan (dari awal dibuat sampai ke tangan pasien)

 Mikroorganisme yang tidak boleh ada dalam sediaan oral likuida (Lachman
hal 468)

 Salmonella sp

 Escheria coli

 Enterobacter sp

 Pseudomonas sp

 Proteolitik species dari Clostridium dan Candida albicans

g. Stabilitas Farmakologi

 Selama penyimpanan tidak terjadi perubahan efek terapeutik yang menyimpang


dari yang direncanakan / tujuan pengobatan

 Efek terapeutik harus tetap (idak berubah) mulai dibuat sampai ke tangan pasien)

h. Aseptabel

 Sediaan mempunyai estetika / penampilan yang baik dan menarik

 Organoleptis :

 Bentuk : dapat diterima

 Warna :dapat diterima

 Rasa : dapat diterima

 Bau :dapat diterima

 Mudah diteteskan sesuai takaran

 Kemasan dibuat sesuai dengan persyaratan dalam Peraturan Menteri Kesehatan

 Sedapat mungkin terjangkau

20
3.3 Spesifikasi Sediaan

1 Organoleptis

Bentuk Suspensi

Bau Frambozen

Rasa Manis

Warna Merah

2 pH 5

3 Kadar 95% - 110%

4 Berat jenis > berat jenis air

5 Viskositas < 58,5 cps

6 Sifat alir pseudoplastis

Jadi, sediaan cairan sistem heterogen untuk disentri amuba yang dibuat dalam bentuk
suspensi harus memenuhi persyaratan mutu sesuai dengan spesifikais. Dari segi
keamanannya, sediaan dengan bahan aktif 105% (100% + 5% untuk meningkatkan shelf life)
tanpa melampui kadar toksik, sehingga kadar bahan aktif tetap efektif sampai batas waktu
yang telah ditentukan sesuai dosis standar umum digunakan yang tercantum dalam ISO.
Sediaan yang harus dibuat berbentuk larutan heterogen, maka untuk bahan aktif yang tidak
larut air perlu ditambah co-solvent untuk meningkatkan kelarutannya dan suspending agent.
Disamping itu, metronidazole tidak stabil secara fisika, maka sediaan dikemas dalam botol
coklat (terlindung dari cahaya matahari ). Secara kimia, sediaan amubisid dibuat pH stabil
dari bahan aktif metronidazole yaitu pada pH 5,00 (rentang pH – ) dengan penambahan
dapar. Karena pelarut yang digunakan tidak hanya propilenglikol saja, tetapi juga
menggunakan CMC Na 0,5% maka tidak perlu ditambah pengawet. Untuk menjaga
aseptabilitas, maka ditambahkan juga Na Sakarin sebagai pemanis untuk menutupi rasa pahit
metronidazole, frambozen red sebagai pewarna dan flavour frambozen.

Bentuk sediaan yang memenuhi spesifikasi dan persyaratan mutu tersebut adalah
suspensi, dimana suspensi merupakan larutan heterogen yang dapat digunakan berbagai
macam obat yang sukar larut dalam air.

21
3.4 Takaran Dosis Bahan Aktif

1. Martindale 34th ed, p.607

Dosis Dewasa 1,5 – 2,5 gram Terbagi atas 2 – 3 perhari

Dosis anak-anak

 1 tahun – 3 tahun ¼ x 35-50 mg/kg bb

 3 tahun – 7 tahun 1/3 x 35-50 mg/kgbb 3 – 4 x sehari

 7 tahun – 10 tahun Ad 500 mg

2. Martindale 37th ed, p.

- 750 mg – 800 mg sehari 3 kali untuk penggunaan 5-10 hari


- Dosis disarankan 2g sehari sekali untuk 2 hari

3. BNF 62th ed, p.420

- 800 mg setiap 8 jam untuk 5 hari pada infeksi intestinal

Dosis anak-anak

 1 tahun – 3 tahun 200 mg setiap 8 jam

 3 tahun – 7 tahun 200 mg setiap 6 jam Untuk 7 hari

 7 tahun – 10 tahun 400 mg setiap 8 jam

4. Farmakope Indonesia 3rd ed, p.976

Dosis Dewasa Sekali = 250 mg

Sehari = 500 mg Diberikan selama 10 hari

Dosis anak-anak 50 mg/kg bb

PERENCANAAN DOSIS ATAU TAKARAN

Berdasar data di atas, dihitung dosis berdasarkan berat tubuh dengan alasan
perhitungan kg berat badan tubuh lebih teliti karena menurut literatur dari pustaka martindale
ed 37 dan Farmakope Indonesia cocok menggunakan perhitungan ini. Dosis yang dipakai
untuk anak (oral) = 400 mg/kg bb (FI ed 3).
22
UMUR (tahun) BOBOT (kg) DOSIS TAKARAN DOSIS PADA
(mg) RENTANG
UMUR
TERTENTU

1 tahun 7,85 196,25

2 tahun 9,45 236,25 ½ 200 mg


takaran= 2,5
mL
x 25 mg

3 tahun 1,2 280

4 tahun 12,8 320

5 tahun 14,3 357,5 1 takaran = 400 mg


5mL

6 tahun 16 400 1 takaran = 400 mg


5mL

7 tahun 18,2 455

8 tahun 20,45 511,25

9 tahun 21,95 548,75 1½ takaran= 600 mg


7,5 mL
x 25 mg

10 tahun 24,3 607,5

11 tahun 27,65 691,25

12 tahun 30,85 771,25 2takaran = 800 mg


10 mL

13 tahun 35 875

14 tahun 40,4 1010 2 ½ takaran 1000 mg


= 12,5 mL

15 tahun 42,9 1072,5

> 16 tahun Dewasa Dewasa

23
½ takaran = 200 mg / 2,5 mL ( ½ sendok teh)

1 takaran = 400 mg / 5 mL (1 sendok teh)

1 ½ takaran = 600 mg / 7,5 mL (1½ sendok teh)

2 takaran = 800 mg / 10 mL (2 sendok teh)

2 ½ takaran = 1000 mg/ 12,5 ml (2½ sendok teh)

aturan:

1 tahun – 3 tahun = sehari 2 x ½ takaran 14 tahun - >16 tahun = sehari 2 x 2½ takaran

4 tahun – 7 tahun = sehari 2 x 1 takaran

8 tahun – 11 tahun = sehari 2 x 1 ½ takaran

12 tahun – 13 tahun = sehari 2 x 2 takaran

3.5 Perhitungan

 Metronidazole
Dalam praktikum menggunakan Metronidazole Benzoat yang di konversikan dengan
Metronidazole, dosis Metronidazole Benzoat = 275,3 / 171,2 x 400 mg = 643,22 mg ~
643mg
Dosis 1 takaran = 643 mg Metronidazole Benzoat dalam 5 ml
Metronidazole yang diperlukan dalam 150 mL = 643 mg x 150 ml/ 5ml = 19,29 g +
5% = 20,25 g
Total propilenglikel yang di gunakan 10 % 150 ml = 15 ml
Untuk nipagin digunakan 0,18% x 150 ml = 0,27 g
Kelarutan nipagin dalam propilenglikol = 1: 5
= 0,27 / 1 x 5 = 1,35 ml
~ 1,35/150 x 100 % = 0,9%
Sisa propilenglikol 10% - 0,9% = 9,1 % ~ 13,65 ml digunakan untuk melarutkan
metronidazole benzoat.
Penambahan CMC Na 0,5 % x 150 ml = 0,75 g
Timbang CMC Na 0,75 g, kalibrasi air panas 20 x 0,75 = 15 ml dan di
encerkan dengan air dingin 10 x 0,75 = 7,5 ml

24
 Dapar sitrat – fosfat
Digunakan dapar sitrat – fosfat, di buffer pada pH 5,0 (pH Ned V, p.727)
pH 5,0 : * asam sitrat 0,1 M = 48,5 mL, Mr = 21
*Na2HPO4.2H2O 0,2 M = 51,5 mL
Asam sitrat yang dibutuhkan = 48,5 mL / 100 mL x 150 mL = 72,75 mL
Kadar asam sitrat = 21 g / 1000 mL x 72,75 mL
= 1,52775 g ~ 1,52775 g / 150 ml x 100 %
= 1, 0185 % ~ 1,02 %
Na Fosfat yang dibutuhkan = 51,5 mL / 100 mL x 150 mL = 77,25 mL
Kadar Na Fosfat = 35,6 g / 1000 mL x 77,25
= 2,75 g ~ 2,75g / 150ml x 100 %
= 1,83 %

RANCANGAN FORMULA
Untuk takaran (5 mL)
Metronidazol 643 mg
Propilenglikol 10 %
Asam sitrat 1,02 %
Na Fosfat 1,83 %
Na Sakarin 0,045 %
CMC Na 0,5 %
Strawberry Red 0,001 %
Flavour Frambozen qs
Aqua purificata ad 5 mL
mf suspension 60 mL

4.6 Rencana Kemasan dan Aturan pakai


Volume 1 x pakai = 5 mL (1 takaran)
Jumlah pemakaian maksimal = 2 x sehari
Lama pemakaian = 5 – 10 hari
 Jadi, volume 1 kemasan = 5 ml x 2 x 5 = 50 mL ~ 60 mL
 Volume sediaan yang dibuat / volume kemasan = 60 mL
25
Alasan volume kemasan 60 mL
1. Pemakaian untk metronidazole sebagai anti amuba digunakan dalam
rentang 5 – 10 hari
2. Diperkirakan pasien dapat sembuh dalam waktu 5 hari pemakaian
sehingga volume 60 mL mencukupi kebutuhan.

ATURAN PAKAI
1 tahun – 3 tahun = sehari 2 x ½ takaran 14 tahun - >16 tahun = sehari 2 x 2½ takaran

4 tahun – 7 tahun = sehari 2 x 1 takaran

8 tahun – 11 tahun = sehari 2 x 1 ½ takaran

12 tahun – 13 tahun = sehari 2 x 2 takaran

 StrawberryRed
Yang dipakai dalam formula = 0,001 % x 150 mL = 0,0015 g
 Flavour Frambozen
Yang dipakai dalam formula = 6 tetes

26
BAB IV

METODELOGI PENELITIAN

4.1 Bahan

 Metronidazole  Aquadem
Benzoate  Nipagin
 Propylenglikol  Na Sakarin
 Asam Sitrat  Strawberry red
 Na Fosfat  Essence Frambozen

4.2 ALAT
 Beaker glass
 Pipet
 Timbangan digital
 Botol cokelat
 Gelas Ukur
 Pengaduk
 Water Bath
 Corong gelas
 Magnetic Bar
 Magnetic Steerer
 Multi Mix (Mixer)

ALAT UNTUK EVALUASI SEDIAAN :


1. pH meter 6. Klem
2. Viskometer stormer 7. Stopwatch
3. Mikroskop
4. Piknometer
5. Statif

27
4.3 Kerangka Operasional
Bagan dapat dilihat pada lampiran
4.4 Metode Kerja
 Tabel penimbangan sediaan dan jumlah bahan
Dosis Metronidazole benzoat = 275,3 / 171.2 x 400mg = 643,22 mg ~ 643mg

No. Nama bahan Kadar Jumlah tiap Jumlah tiap Jumlah dalam
takaran kemasan (60 mL) skala lab (150
(5mL) mL)

1. Metronidazole 643mg 643mg + 5% (643 x 60/1) + 5% (100 x 150/1) + 5%


benzoate
= 675.15 mg = 8,108 g = 20,254 g

2. Propylenglikol 10 % 5mL x 10% 60 x 10% 150 x 10%

=0,5 mL = 6 mL = 15ml

3. Na Sakarin 0,045 % 5 x 0,045% 60x 0,045% 0,0675 g

=2,25x10-3 g =0,027 mL

4. Nipagin 0,18 % 0,009 g 0,108 g 0,27 g

5. As. Sitrat 1,02 % 0,006 g 0,612 g 1,53 g

6. Na fosfat 1,83 % 0,0915 g 1,098 g 2,745 g

7. Na sakarin 0,045 % 2,25x10-3 g 0,027g 0,0675 g

8. CMC Na 0,5 % 0,025 g 0,3 g 0,75 g

9. Frambozen 0,001 % 0,00005 g 0,0006 g 0,0015 g


Red

10. Flavour - - 2 tetes 6 tetes


Frambozen

11. Aqua ad 5 ml 60 ml Ad 150 mL

Rancangan Evaluasi Akhir untuk Mengetahui Bahwa Sediaan Layak Produksi atau Tidak.

28
A. Organoleptis :
 Bau : Frambozen
 Warna : Orange
 Rasa : Manis
 Bentuk dan Penampilan : Suspensi warna Orange jernih
B. Kadar Bahan Pembantu yang Disyaratkan
 Propilenglikol : 10-25%
 Nipagin : 0.015-0.2%
 CMC Na : 0,1 – 1,0 %
 Asam Sitrat :0.1-2%
C. Uji Viskositas ( Stormer) (High Viscosity #80202.Arthur.H.Thomas)
 Menentukan harga Kv dengan menggunakan gliserin Pa
1. Letakkan viskometer pada posisi yang benar .
2. Isilah mantel dengan aquadest secukupnya
3. Masukkan gliserin Pa ke dalam cup sampai batas tanda.
4. Naikkan posisi cup beserta peny
D. Uji Berat Jenis (FI ed. IV hal 1030)
 Metode :
1. Ditimbang piknometer kosong.
2. Diisikan aqua ad batas tanda, kemudian ditimbang, ulangi untuk suspensi
metronidazole (sebelumnya cuci piknometer dengan alcohol)
3. Hitung berat jenis dengan menggunakan rumus.
 Alat : piknometer.
E. Uji pH (FI ed III hal 38)
 Metode : cuci electrode gelas dengan aqua, keringkan, celupkan elektroda ke dalam
sediaan, amati pH-nya.
 Direncanakan pH 5
 Alat : Piknometer yang sudah dikaliberasi
F. Uji Distribusi Partikel
Alat : mikroskop optik, mikroskop okuler, dan obyektif, gelas objek, gelas, cover glass.
Metode :
1. kaliberasi mikrometer okuler terhadap objektif

29
 mikrometer okuler yang akan dikaliberasi dipasang di dalam lensa okuler.
 Mikrometer obyektif dipotong dibawah lensa obyektif.
 Skala 0.0 pada mikrometer obyektif di himpitkan hingga segaris dengan salah
satu skala pada skala okuler.
 Sejumlah skala obyektif yang segaris dengan sejumlah pada skala okuler
dicatat, lakukan 3 replikasi.
 Mikrometer obyektif dilepas.
2. teteskan sediaan pada objek glass, tutup.
3. Amati ukuran partikel sebanyak 50 kali , catat.
4. Catat ukuran partikel terbesar dan terkecil untuk membuat interval kelas.
5. Hitung diameter tengahnya berupa dln, dsn, dvn, dsl, dvs, dwn.
6. Hasil
 10 skala okuler = 5 skala obyektif
 25 skala okuler = 12 skala obyektif
 38 skala okuler = 18 skala obyektif
rata-rata : 24.33 11,67
1 skala okuler = 0,47965 skala obyektif x 10 mikrometer = 4,796 mikrometer.

30
BAB V

HASIL EVALUASI DAN PEMBAHASAN

5.1. hasil evaluasi

No. Pengujian Spesifikasi Hasil Keterangan

1. Organoleptis

Bentuk Suspense Suspense +

Bau Frambozen Frambozen +

Rasa Manis Manis +

Warna Orange Orange +

2. pH 5,00 ± 5 % 5,2 +

3. Kadar 95 % - 105 % 100 % +

4. Berat jenis lebih besar dari 1,107 mg/ml +


berat jenis air
(1g/ml)
5. Viskositas lebih kecil dari 15,4143 cps +
gliserin pa
(111cps)

6. Sifat alir non newtonian non newtonian +


(pseudoplastic) (pseudoplastic)

Perhitungan :

1. PERHITUNGAN MASSA JENIS


a. MASSA JENIS AIR

Massa Piknometer + Air 27,25


Massa Piknometer kosong 17,36
Massa Air 9,89
Volume Pikno 10
ρ = M/V = 0,989
ρ Air

b. MASSA JENIS SEDIAAN

31
Massa Piknometer + Sediaan 28,43
Massa Piknometer kosong 17,36
Massa Sediaan 11,07
Volume Pikno 10
ρ Sediaan ρ = M/V = 1,107

UJI VISKOSITAS

Viskositas Gliserin p.a. = 111 cps (HPE)

Berat Beban (gram) T 100 putaran (detik) Rpm (60/t x 100) Kv = η x rpm/W

50 81,03 74,0466 164,3834

60 67,30 89,1530 164,9330

70 59,37 101,0611 160,2540

80 54,17 110,7624 153,6828

90 49,31 121,6792 150,0710

kv rata2 = 158,6648

32
Penentuan sifat alir sediaan :

Berat beban (gram) t 100 putaran (detik) rpm (60 / t x 100) Viskositas = Kv x
w/rpm

10 29,03 206,68 7,6768

20 26,88 223,21 14,2166

30 24,44 245,50 19,3888

40 23,68 253,38 25,0477

30 24,46 245,30 19,4046

20 26,94 222,72 14,2479

10 29,94 200,40 7,9174

Viskositas Rata2 =
15,4143 cps

Ukuran partikel dalam micrometer

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 95,92 95,92 95,92 43,16 47,96 33,57 38,37 23,98 47,96 52,76

2 52,76 23,98 28,78 43,16 38,37 23,98 52,76 47,96 23,98 14,39

3 95,92 95,92 95,92 47,96 38,37 33,57 23,98 47,96 52,76 14,39

4 14,39 19,18 28,78 38,37 33,57 43,16 57,55 23,98 52,76 38,37

5 28,78 38,37 43,16 38,37 33,57 28,78 91,12 23,98 52,76 19,18

Rentang diameter dengan 3 kelas = ( data tertinggi – data terendah ) / 3

= (95,92 – 14,39) / 3 = 27,17

33

Jumlah
partikel
Rentang
Nilai rentang setiap
Diameter Tally nd nd2 nd3 nd4
(μm) pada
(μm)
rentang
(n)

14,39- (14,39+28,78)/2
16 345,36 6293,76 135850,81 2932339,73
28,78 = 21,585

33,57- (33,57+47,96)/2
20 815,3 16306 664714,09 27097069,88
47,96 = 40,765

52,76- (52,76+95,92)/2
14 1040,6 14568,4 1083014,85 80511323,95
95,92 = 74,34

Σ= 50 2201,26 37168,16 1883579,75 110540733,6

∑𝒏𝒅 𝟐𝟐𝟎𝟏,𝟐𝟔
 dln = = = 44,0252
∑𝒏 𝟓𝟎
∑𝒏𝒅𝟐 𝟑𝟕𝟏𝟔𝟖,𝟏𝟔
 dsn = √ = √ =
∑𝒏 𝟓𝟎

27,265
∑𝒏𝒅𝟑 𝟏𝟖𝟖𝟑𝟓𝟕𝟗,𝟕𝟓
 dvn =√ =√ =
∑𝒏 𝟓𝟎

194,092
∑𝒏𝒅𝟐 𝟑𝟕𝟏𝟔𝟖,𝟏𝟔
 dsl = = =
∑𝒏 𝟓𝟎
743,3632
∑𝒏𝒅𝟑 𝟏𝟖𝟖𝟑𝟓𝟕𝟗,𝟕𝟓
 dvn = = =
∑𝒏𝒅𝟐 𝟑𝟕𝟏𝟔𝟖,𝟏𝟔
508,058
∑𝒏𝒅𝟒 𝟏𝟏𝟎𝟓𝟒𝟎𝟕𝟑𝟑,𝟔
 dwn = = =
∑𝒏𝒅𝟑 𝟏𝟖𝟖𝟑𝟓𝟕𝟗,𝟕𝟓
5,854

34
5.2. pembahasan

Sediaan suspense yang dibuat , menunjukkan bahwa syarat organoleptis terpenuhi dan
merupakan larutan heterogen dengan BJ > BJ air yaitu 1.107 mg/ml (BJ Air = 0.989 mg/ml).
Dalam sediaan suspense metronidazole ini digunakan beberapa co-solvent yang dapat
meningkatkan kelarutan metronidazole. Co-Solvent yang digunakan antara lain :

 Propylenglikol 10%
 CMC Na 0,5%
 Na sakarin 0,045%

Dari seluruh evaluasi yang telah dilakukan. Semuanya membuktikan bahwa


spesifikasi sediaan yang di inginkan telah tercapai sehingga sedian suspensi tersebut layak di
edarkan. Berdasarkan evaluasi akhir yang telah dilakukan, organoleptis sediaan
memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan. pH sediaan memenuhi spesifikasi yaitu pH
5,2masih sesuai dengan pH rencana 5.0 ± 5%.

Kadar bahan aktif bahan aktif yaitu metronidazole memenuhi spesifikasi karena dari
hasil evaluasi didapat kadar metronidazole 100% yang seharusnya menurut spesifikasi adalah
90 -110 %. Berat jenis sediaan sudah memenuhi spesifikasi yaitu sebesar 1.107mg/ml karena
pada umumnya berat jenis sediaan harus lebih besar dari 1 (berat jenis air) karena adanya
penambahan bahan aktif dan bahan tambahan kedalam air. Viskositas sediaan juga memenuhi
spesifikasi yaitu sebesar 15,4143 cPs.

35
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Bentuk sediaan suspensi dapat digunakan untuk pembuatan sediaan dengan


kandungan bahan aktif yang kelarutan dalam air sangat kecil atau sangat sukar larut, seperti
metronidazole.

Hasil evaluasi sediaan menunjukkan bahwa sediaan suspensi yang dibuat memenuhi
spesifikasi yang telah ditentukan yaitu kadarnya sebesar 100%, sedangkan spesifikasinya
adalah 95-105%. Dengan demikian sediaan suspensi tersebut dapat dikatakan layak edar.

6.2. Saran

Perlu dilakukan cek pH secara berkala beberapa lama setelah pembuatan sediaan
untuk memantau stabilitas pH dari sediaan.

36
DAFTAR PUSTAKA

Geniswara. S. dkk, 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi 4, bagian Farmakologi Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta
Martin EW, 1983, Dispensing of Medication, Formely Husa’s pharmaceutical Dispensing,
7th
ed, New York
Gennaro AR, 1985, Remington’s Pharmaceutical Sciences, 17th ed, Mack Publishing,
Company, Easton, Pennsylvania
Reynolds J dkk, 1982, Martindale 28th ed, The Pharmaceutical Press, London
Kathleen parfitt, 1999, Martindale 32th ed, The Complete Drug Reference, United States of
America, Toronton
Scottish Home and Health Departement, 1988, British Pharmacopiea, vol I – II, department
of
Health and Social security, London
Sirait M dkk, Farmakope Indonesia, edisi ketiga, Departement kesehatan Republik
Indonesia,
Jakarta
Soesilo S dkk, 1995, Farmakope Indonesia, edisi ketiga, Department Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta
Tjay TH, Rahardja K, 1986, Obat obat penting, edisi 4, Department Kesehatan republic
Indonesia, Jakarta
Wade A, Weeler PJ, 1994, Handbook of Pharmaceutical Exipients, 2nd ed, The
Pharmaceutical Press London, Washington
Siswandono, Soekarjo B, 2000, Kimia Medisinal, vol 2 ed 2, Airlangga University Press,
Surabaya
United State Pharmacopeial Society, 1990, USP XXVII, The united States Pharmacopeia the
National Formulary, United States Pharmacopeial Convention Inc,Washington
Clarke, EEC, 1986, Isolation and Identification of drugs, 2nd ed, The Pharmaceutical prees,
london

37