Anda di halaman 1dari 17

Farmasi Forensik

Department of Pharmacy Udayana University Kampus Bukit Jimbaran Bali - Indonesia

Sabtu, 09 Januari 2010


Swamedikasi Obat Keras oleh Apoteker, belum punya basis hukum

byI GDE MURRYASTIKA, I MADE ADI SUMANJAYA, dan I M.A.G. WIRASUTA

Pelayanan obat non resep merupakan pelayanan kepada pasien yang ingin melakukan

pengobatan sendiri, dikenal dengan swamedikasi. Swamedikasi sendiri bertujuan untuk

meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi

masalah kesehatan secara tepat, aman, dan rasional. Oleh sebab itu peran apoteker di apotek

dalam pelayanan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) serta pelayanan obat kepada

masyarakat perlu ditingkatkan dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri. Obat untuk

swamedikasi meliputi obat-obat yang dapat digunakan tanpa resep yang meliputi obat wajib

apotek (OWA), obat bebas terbatas (OBT) dan obat bebas (OB).

Dalam prakteknya, apoteker sering menyalahgunakan haknya dengan melakukan

swamedikasi obat keras non OWA. Salah satu yang sering dijual adalah obat-obatan

antibiotik. Apoteker dan masyarakat sendiri beranggapan antibiotik merupakan obat yang

sudah lumrah dan aman-aman saja dikonsumsi, meskipun tanpa resep dokter. Padahal dalam

kemasan antibiotik itu sendiri sudah jelas terlihat tanda huruk K dalam lingkaran merah yang

menandakkan itu merupakan obat keras yang tidak boleh diperjualbelikan dengan bebas.

Obat keras (dulu disebut obat daftar G = gevaarlijk = berbahaya) yaitu obat berkhasiat

keras yang untuk memperolehnya harus dengan resep dokter, memakai tanda lingkaran

merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di dalamnya. Obat-obatan yang termasuk

dalam golongan ini adalah antibiotik (tetrasiklin, penisilin, dan sebagainya), serta obat-obatan

yang mengandung hormon (obat diabetes, obat penenang, dan lain-lain). Obat-obat ini

berkhasiat keras dan bila dipakai sembarangan bisa berbahaya bahkan meracuni tubuh,

memperparah penyakit atau menyebabkan mematikan.


Hal ini akan menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan (medication error)

karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya. Apoteker

sebagai salah satu profesi kesehatan sudah seharusnya berperan sebagai pemberi informasi

(drug informer) khususnya untuk obat-obat yang digunakan dalam swamedikasi tanpa

memperhatikan untung semata.

Dilihat dari segi hukum, pemerintah sudah dengan jelas embuat berbagai peraturan

dimulai dari Peraturan Menteri Kesehatan, Peraturan Pemerintah hingga Undang-undang

untuk mengatur penyerahan obat yang dapat diserahkan tanpa resep. Peraturan Menteri

Kesehatan No: 919/MENKES/PER/X/1993 tentang obat yang dapat diserahkan tanpa resep.

Dalam Peraturan tersebut jelas disebutkan pada pasal 2, kriteria obat yang dapat diserahkan

tanpa resep diantaranya; tidak dikontraindikasikan penggunaanya pada wanita hamil, anak

dibawah usia 2 tahun dan orang tua diatas 65 tahun, pengobatan sendiri dengan obat yang

dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit, penggunaanya tidak

memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan,

penggunaanya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di indonesia dan obat

yang dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk

pengobatan sendiri.

Untuk memantapkan dan menegaskan pelayanan swamedikasi, pemerintah juga

menetapkan jenis obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dengan membuat beberapa

SK diantaranya: SK Menteri No. 347/MENKES/SK/VII/1990 tentang obat wajib apotek.

Obat-obat yang terdaftar pada lampiran SK tersebut digolongkan menjadi obat wajib apotek

No. 1 yang selanjutnya disebut OWA No. 1. Karena perkembangan bidang farmasi yang

menyangkut khasiat dan keamanan obat maka dipandang perlu untuk ditetapkan daftar OWA

No.2 sebagai revisi dari daftar OWA sebelumnya. Daftar OWA No. 2 ini kemudian

dilampirkan pada keputusan menteri kesehatan No. 924/MENKES/PER/X/1993. Dari

peraturan di atas dengan jelas diterangkan bahwa seorang apoteker hanya bisa menyerahkan
obat keras tanpa resep dokter atau swamedikasi obat keras apabila obat yang diserahkan

merupakan obat keras yang termasuk dalam OWA.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 51 tahun 2009 tentang pekerjaan

kefarmasian merupakan undang-undang terbaru di dunia kefarmasian yang mengatur

pekerjaan kefarmasian yang dibenarkan oleh hukum. Tujuan pemerintah membuat UU ini

salah satunya adalah untuk memberikan perlindungan kepada pasien dan masyarakat dalam

memperoleh dan/atau menetapkan sediaan farmasi dan jasa kefarmasian. Melihat apa yang

terjadi di lapangan tentunya Apotek telah lalai dalam menerapkan UU ini. Penyerahan obat

keras tanpa resep seperti halnya antibiotik tentunya telah melanggar aturan pemerintah dalam

upaya melindungi pasien dalam memperoleh sediaan kefarmasian.

Dalam PP 51 tahun 2009 pasal 24 huruf c, dalam melakukan pekerjaan kefarmasian

pada fasilitas pelayanan kefarmasian, apoteker dapat menyerahkan obat keras, narkotika

dan psikotropika kepada masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan

peraturan. Secara tidak langsung pada pasal ini dijelaskan seorang apoteker hanya bisa

menyerahkan obat keras dengan resep dokter. Swamedikasi obat keras non OWA di apotek

dapat dikatakan sebagai bentuk pelanggaran hukum PP 51 th 2009..

Pelanggaran hukum yang dilakukan tidak hanya sebatas pada PP No. 51 tahun 2009

tentang pekerjaan kefarmasian, tetapi juga terhadap Undang-Undang No 8 Tahun 1999

Tentang Perlindungan Konsumen. Praktek swamedikasi obat keras akan bertetangan dengan

hukum diatas, jika tidak dilakukan oleh apoteker di apotek yang dibenarkan oleh peraturan

hukum yang berlaku di Indonesia hanya swamedikasi obat keras yang termasuk Obat Wajib

Apotek.

Lalu kenapa hal ini masih kerap terjadi?. Dalam UU kesehatan terbaru tahun 2009

disebutkan pemrintah berkewajiban membina, mengatur, mengendalikan, dan mengawasi

pengadaan, penyimpanan, promosi, dan pengedaran ssediaan farmasi. Namun apakah semua
itu salah pemrintah?. Sebagai masyarakat sudah hendaknya kita lebih cerdas dalam membeli

dan menerima sesuatu. Kita hendaknya mengetahui obat-obatan yang mana yang memang

dapat dibeli dengan bebas di Apotek dan mana yang tidak. Jika memang melanggar hukum,

sudah seharusnya kita melaporkan hal tersebut ke pihak yang berwenang, misalnya ke

BPOM. Sehingga peran aktif masyarakat dalam penegakan hukum sangat diperlukan.

Diperlukan landasan hukum yang kuat bagi apoteker dalam pelayanan praktek

swamedikasi, terutama dengan menggunakan obat G. Sebaiknya apoteker jangan

terjebak dengan prescribing dengan ketentuan swamedikasi, atau OWA. Prescribing

atau peresepan adalah kompetensi dokter. Kita hendak menjungjung tinggi pemisahan

pekerjaan kefarmasian dan kedokteran yang telah dipraktekan oleh si Kembar Damian

dan Cosmain, dan sejak raja Frederick-Hanover di Jerman pekerjaan ini telah

dipisahkan berdasarkan ketentuan UU.

Diposkan oleh Gelgel Wirasuta di 04.37


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

16 komentar:

1.

hisfarma9 Januari 2010 17.59

saya tidak mengerti bagaimana harus memulai bicara terhadap hal ini. tetapi yang
jelas, bila apoteker memahami kedudukannya sebaga profesional yang memihak
kepentingan masyarakat, swamedikasi sudah berarti berlandasan hukum. swamedikasi
adalah usaha untuk mengatasi permasalahannya yang terkait kesehatan, yang mana
bisa dengan bantuan orang lain termasuk apoteker atau tidak. swamedikasi bisa
dengan mengunakan obat atau OT atau juga yang lain semisal hanya sebatas
informasi.

permasalahan yang ada bukan landasan hukum untuk swamedikasi, tetapi pemahaman
apoteker terhadap swamedikasi itu sendiri. klu apoteker memahami kompetensinya,
tulisan ini mungkin tiak perlu dimuat. bisa anda lihat peraturan yang lain tentang obat
bebas sampai OWA, disini jelas2 apoteker mempunyai landasan hukum mengenai
swamedikasi. bila ternyata dalam swamedikasi ada yang menggunakan obat diluar
OWA ini permasalahan lain, bukan masalah landasan hukum bagi swamedekasi.

tolonglah, bia anda menulis jangan sampai menimbulkan penafsiran yang berbeda
pada sisi pelayanan yang bisa menimbulkan dampak yang kurang baik pada sisi
profesi. saya menyadari bila jam terbang anda dalam melayani masyarakat secara
langsung masih kalah dengan saya, tetapi janganlah membuat opini yang keliru
terhadap praktek profesi.

pendapat saya swamedikasi sudah berlandaskan hukum yang kuat. permasalahan yang
ada adalah meningkatkan kompetensi apoteker didalam swamedikasi agar pada proses
swamedikasi masyarakat tidak dirugikan. mungkin anda bisa juga membaca tulisan
saya mengenai swamedikasi http://hisfarma.blogspot.com/2010/01/uji-kompetensi-
apoteker-terkait.html

Balas

2.

Dr. I M.A. Gelgel Wirasuta M.Si23 April 2010 16.33

Yth HisFarma Indonesia.


Saya mengucapkan terimakasih atas tanggapan yang diberikan pada tulisan kami ini.
Pada tulisan ini kami bukan bermaksud mendudukan kami sebagai ahli hukum, kami
hanya memandang hirarki hukum yang ada dimana Permenkes, memiliki kekuatan
hukum yang lebih rendah dari PP. Dengan diterbitkanya PP 51 thn 2009, dimana
dalam PP tsb diatur bahwa Apoteker tidak boleh menyerahkan obat keras tanpa resep
Dokter. Berdasarkan argumentasi di atas tentunya PerMenKes akan gugur, oleh sebab
itu OWA tidak ada dasarnya.
Maksud kami menulis artikel ini adalah ingin mengajak rekan colega apoteker dan
dokter untuk menjalankan peraturan dan perudangan yang ada khususnya masalah
penyediaan obat untuk kepentingan kesehatan pasien (masyarakat secara
keseluruhan). Dimana sejak Raja Frederik di Hanover, telah diatur bahwa profesi
dokter dan apoteker dipisahkan kewenangannya, Dokter mendiagnose dan menuliskan
resep, kemudian apoteker melakukan dispensing atas permintaan resep.
Namun apa yang terjadi sekarang di Indonesia. Masing-masing profesi mencari
pembenaran sendiri-sendiri, yang ujung-ujungnya Duit (UUD). Pada tulisan ini
dengan menyedepankan kepentingan masyarakat secara keseluruhan atas keselamatan
akan pengobatan, kami mengajak kedua profesi untuk menpraktekkan profesinya
sesuai dengan aturan. jika tidak dari masing-masing membenahi maka kita selalu akan
saling tumpang tinduh.
salam

Balas

Balasan

1.

KURNIADJI10 Juli 2016 02.26

Betul... Setuju !!....


Balas

3.

saidassadad27 Desember 2010 13.46

Oleh: Said Assadad,Apt

Saya setuju akan pendapat kedua rekan saya, dua-duanya menginginkan perbaikan
dalam pelayanan kepada masyarakat, saya sebagai apoketer merasakan sangat
memerlukan payung hukum dalam menjalani profesi saya sebagai apoteker,
khususnya di bidang distribusi obat, apalagi berkaitan dengan distribusi obat
keras.,Agar tidak ada rekan sejawat apoketer yg di zalimi oleh pihak-pihak tertentu,
berkaitan dengan pelanggaran undang-undang,baik itu pidana ataupun administrative,
karena kalau melihat realitas saat ini maka mungkin hampir seluruh apotek yg ada di
indonesia melanggar aturan perundang-undangan yg ada.
Kepada Pak I M.A.G. WIRASUTA, Mohon agar lebih sering mempostkan hal-hal
yang berkaitan dengan landasan hukum pratek kefarmasian khususnya dibidang
distribusi obat

Balas

4.

Anonim9 Januari 2011 00.00

Kalau obat darah tinggi dan obat diabetes misalnya? harus selalu pake resep tidak?
terima kasih atas penjelasannya, saya tidak paham tentang farmasi, padahal saya
sering beliin obat buat ibu saya.
Terima kasih (:

Balas

5.

Dr. I M.A. Gelgel Wirasuta M.Si5 Februari 2011 03.40

Obat Penurun tekanan darah dan diabetes, umumnya diperlukan seumur hidup, jika
kondisi sudah memerlukan obat seperti itu. SEbaiknya tanyakan kepada dokter
Keluarga Ibu anda, hal tersebut.
Datang ke dokter tidak semata-mata untuk mendpatkan resep melainkan yang paling
penting adalah melakukann kontrok kondisi kesehatan Ibu anda. Keperluan penurun
tinggi didasari atas test tensi darah demikin juga penurun kadar gula darah, didasarkan
atas hasil tes gula.

Pemakaian obat penurun gula darah tanpa test kadar gula memberikan resiko bahaya
kadar gula rendah (hipoglikemi) kondisi ini sangat berbahaya.
salam

Balas

6.

Dr. I M.A. Gelgel Wirasuta M.Si5 Februari 2011 03.42

PP 51 diberlakukan paling lambat September 2011


Rekan sejawat apoteker, berhati-hati di apotek. Sebab para LSM sudah menyiapkan
gerakannya untuk melihat kesiapan sejawat untuk mengamalkan PP tersebut
salam

Balas

7.

Anonim12 Maret 2012 12.11

Numpang Koment ni...


Ancamannya Lumayan Menakutkan... hehehe...
Asal rekan dokter juga bisa dengan lapang dada menerima PP 51, utamanya pasal 24
huruf b, yang mungkin bapak lupa bahas, atau pura-pura lupa...:)
"APOTEKER dapat mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama
komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau
pasien"
Ada sedikit pertanyaan ni pak soal pasal ini, kenapa dokter harus keberatan dengan
pasal ini...? Semoga alasannya bukan karena dengan pasal ini dokter tidak bisa "Deal"
lagi dengan Perusahaan Obat tertentu... hehehe...

Terus yang mengenai OWA, OBT, apalagi OB, semoga bapak sebalum menulis
artikel ini sudah membaca Peraturannya.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 347/ MenKes/SK/VII/1990 Tentang Obat


Wajib Apotik, mendefenisikan Obat Wajib Apotek (OWA) yaitu obat keras yang
dapat diserahkan oleh Apoteker kepada pasien di Apotik tanpa resep dokter. Yang
pada diktum ke dua pada putusan, dijelaskan bahwa Obat yang termasuk dalam
OBAT WAJIB APOTIK ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

So disini bapak bisa liat sendiri, kalo OWA itu memang obat keras, tapi bisa
diserahkan oleh Apoteker. Lebih jelasnya bapak bisa cari sendiri referensinya, gak
cukup waktu dan ruang untuk menjelaskannya...

Terus masalah hirarki Perundang-undangan, Bapak boleh saja memutar balikkan nya
dengan menggunakan Prinsip "Lex Superiore Derogat Legi Inferiori" (undang-undang
yang lebih tinggi, mengesampingkan undang-undang yang dibawahnya) tapi jangan
seenaknya juga, dalam per undang undangan juga dikenal "Lex Specialis derogat legi
generalis" (Undang-undang yang bersifat khusus mengesampingkan undang-undang
yang bersifat umum). Kalo dilihat disini, KepMenkes memang lebih inferior dari pada
PP, tapi yang diatur dalam Kepmenkes diatas bersifat Khusus. Selain Itu Kepmenkes
juga Merupakan Aturan TEKNIS PELAKSANAAN dari Undang-Undang Maupun
PP, Sama halnya dengan PP Merupakan Aturan Teknis Pelaksanaan UU. dan
seterusnya....
Salam Manis Dari Rekan SEJAWAT... :)

Balas

Balasan

1.

Abdul Kadir Ahmad25 Februari 2013 13.31

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

2.

Abdul Kadir Ahmad25 Februari 2013 13.33

Maaf Sdr-ku ... sy hanya mau meluruskan kesalahpahaman Anda terhadap


prinsip2 ilmu hukum. Sebenarnya prinsip "Lex specilis derogat legi generalis"
itu hanya berlaku untuk memperbandingkan 2 atau lebih peraturan yang
hirarkinya sama (UU vs UU, PP vs PP, Permenkes vs Permenkes atau Permen
lainnya). Jadi prinsip "Lex superior derogat legi inferiori" lebih didahulukan
daripada prinsip "Lex specialis derogat legi generalis".

Bila Anda menganggap setiap peraturan yg lebih inferior merupakan peraturan


yg bersifat khusus ... lalu berarti bisa mengesampingkan peraturan di atasnya?
Bila mengikuti alur berpikir Anda maka pada puncaknya UUD 1945 menjadi
tak punya kekuatan apa-apa. Kacau kan ...?

Balas

8.

Dr. I M.A. Gelgel Wirasuta M.Si18 Mei 2012 17.34

Dear reakn sejawat, terimkasih atas komennya.


Memang benar banyak masalah hukum dan peraturan yang belum dibahas dalam
tulisan ini. Tulisan ini adalah tugas mahasiswa S1 Farmasi yang tertarik untuk
mengambil bidang kuliah farmasi forensik. Tujuan dari penulisan tugas ini adalah
mengajak calon apotker untuk mulai peduli dengan masalah hukum yang ada.

Seperti yang saudara sejawat sampaikan tenang Pasal 24 PP 51, masalah penggantian
obat. Jika kita melihat dengan kaca mata kerjasama Farma Industri dengan Dokter?
Hal ini sdh diatur dan tidak dibenarkan secara hukum. Mengenai penyimpangan pada
praktek dilapangan, itu masalahnya bukan PerUU, melainkan personalnya antara
kedua bidang.
Yang menjadi masalah pada penggantian obat meminta Ijin dokter, dimana yang
paling tau dengan diagnose pasien adalah dokter. Oleh sebab itu logikanya dokter
yang paling tau secara real kebutuhan obat pasien dalam kaitan pengobatan pasien.
Jika penggantian sebatas merek dagang dengan senyawa kimia obat yang sama, dapat
disetujui oleh pasien. Hal ini diasumsikan setiap preparat obat dengan bahan kimia
obat yang sama akan memberi efek yang sama. Hal yang berbeda jika kita
mengusulkan obat dengan klas terapi yang sama, tentunya kita sebagai apoteker wajib
hukumnya untuk memohon ijin dokter dan persetujuan dokter, sebab pengobatan
tidak hanya pada masalah pemberian obat kepada pasien. Namun dari kacamata
forensik farmasi, didalamnya ada masalah tanggungjawab legal yang harus
ditanggung oleh setiap profesi kesehatan yang terlibat dalam proses pengobatan. Hal
ini erat kaitanya dengan keamanan pasien dan kepastian hukum yang terkait jika
terjadi sesuatu dengan pasien.
Masalah lain dalam penggantian obat dengan nama generik yang dama adalah:
jaminan yang diberikan oleh perusahan obat, bahwa obat yang diganti memiliki
ketersediaan hayati yang sama, sehingga apoteker di unit pelayanan dapat menjamin,
penggantian obat akan memberikan efek farmakologi yang sama. Sampai saat ini kita
belum memiliki panduan buku yang menyatakan sediaan obat dengan kesetaran hayati
yang sama.
salam

Balas

9.

emil johan21 Mei 2012 22.50

Di Kota Semarang ada apoteker yang menjalankan UU Kesehatan, menjalankan PP


51 dan melaksanakan tugas sesuai dengan kode etik apoteker yang dibenarkan oleh
majelis kode etik daerah IAI Jawa Tengah. tetap saja di kriminalisasi oleh oknum
polisi (padahal pada waktu gelar perkara di polda jateng, dinyatakan tidak ada unsur
pidana dan memerintahkan kepada penyidik untuk di hentikan alias SP3) tapi karena
faktor XXX dari pemilik apotek yang terus mendorong polisi untuk menjadikan P21,
akhirnya sekarang udah sampai ke pengadilan negeri Semarang. Ini merupakan
preseden buruk bagi profesi apoteker. Disatu sisi ingin melaksanakan bunyi undang-
undang untuk mengamankan Sediaan Narkotika dan Psikotropika ke Dinas Kesehatan
dari penyalahgunaan pemilik sarana apotek, malah dituduh mencuri dan
menggelapkan barang milik apotek (Padahal sediaan Narkotika dan Psikotropika
tersebut adalah menjadi kewenangan dan kewajibannya untuk mengamankan) Disisi
lain kalau sediaan Narkotika dan Psikotropika itu tetap berada di apotek (Apotek
tesebut sudah ditutup dan di kembalikan SIA nya karena banyak pelanggaran dari
Pemilik Sarana Apotek) maka apotekernya juga lah yang kena sanksi dari Undang-
undang. Maka apapun yang dilakukan oleh apoteker akan menjadi salah. Bagaikan
makan buah simalakama. apalagi kalau Pengadilan memutus bersalah, maka
selamanya profesi apoteker akan dikebiri dan menjadi kuli obat yang harus tunduk
dan patuh apapun yang dilakukan oleh PSA yang berkuasa penuh atas kefarmasian.
(Karena keputusan pengadilan berikutnya akan mengacu pada perkara yang sama
pada perkara sebelumnya). Semoga Profesi Apoteker masih kompak dan
mempertahankan kewibawaannya dengan memberikan bantuan advokasi riil kepada
sejawat. Semoga dengan semangat kebersamaan dan bersama-sama menggalang
kekuatan dan menggalang opini di media, maka kewibawaan dan jati diri apoteker
akan tetap diperhitungkan dan kedepan profesi apoteker akan tenang dalam
menjalankan tugas mulia sebagai apoteker. Semoga apoteker yang lagi diuji oleh yang
maha Kuasa diberi kekuatan lahir dan batin dan semoga pengadilan akan memutus
bebas murni. amin..

DAFTAR OBAT WAJIB APOTEK


(DOWA)

 Klasik
 Kartu Lipat
 Majalah
 Mozaik
 Bilah Sisi
 Cuplikan
 Kronologis

1.

Nov

29

PENGERTIAN OWA

Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan pelayanan


kesehatan khususnya akses obat, pemerintah mengeluarkan kebijakan Obat Wajib
Apoteker (OWA). OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker
Pengelola Apotek (APA) kepada pasien.

Disini terdapat daftar obat wajib apotek yang dikeluarkan berdasarkan keputusan
Menteri Kesehatan. Sampai saat ini sudah ada 3 daftar obat yang diperbolehkan
diserahkan tanpa resep dokter. Peraturan mengenai Daftar Obat Wajib Apotek
tercantum dalam :
1. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat
Wajib Apotek, berisi Daftar Obat Wajib Apotek No. 1

2. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat


Wajib Apotek No. 2

3. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar


Obat Wajib Apotek No. 3

Dalam peraturan ini disebutkanbahwa untuk meningkatkan kemampuan masyarakat


dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan, dirasa perlu
ditunjang dengan sarana yang dapat meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat,
aman dan rasional. Peningkatan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional
dapat dicapai melalui peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan disertai dengan
informasi yang tepat sehingga menjamin penggunaan yang tepat dari obat tersebut.

Oleh karena itu, peran apoteker di apotek dalam pelayanan KIE (Komunikasi,
Informasi dan Edukasi) serta pelayanan obat kepada masyarakat perlu ditingkatkan
dalam rangka peningkatan pengobatan sendiri. Walaupun APA boleh memberikan
obat keras, namun ada persayaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan OWA.

1. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien


(nama, alamat, umur) serta penyakit yang diderita.
2. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan
kepada pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang
termasuk OWA, dan hanya boleh diberikan 1 tube.
3. Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup: indikasi,
kontra-indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan efek samping obat
yang mungkin timbul serta tindakan yang disarankan bila efek tidak
dikehendaki tersebut timbul.

Jenis OWA

Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masayrakat, maka


obat-obat yang digolongkan dalam OWA adalah obat ang diperlukan bagi
kebanyakan penyakit yang diderita pasien. Antara lain: obat antiinflamasi (asam
mefenamat), obat alergi kulit (salep hidrokotison), infeksi kulit dan mata (salep
oksitetrasiklin), antialergi sistemik (CTM), obat KB hormonal.

Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat


diserahkan:

1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di


bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada
kelanjutan penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan.
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di
Indonesia.
5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.

DAFTAR OBAT WAJIB APOTEK (OWA) NO.1

NAMA OBAT JUMLAH TIAP JENIS OBAT

Aminofilin Supp. maks 3 supp

maks 20 tab
Asam Mefenamat
sirup 1 boto

Asetilsistein maks 20 dus

Astemizole

Betametason maks 1 tube

Bisakodil Supp. maks 3 supp

maks 20 tab
Bromhexin
sirup 1 boto

Desoksimetason maks 1 tube

Dexchlorpheniramine maleat

Difluocortolon maks 1 tube

Dimethinden maleat

Ekonazol maks 1 tube

Eritromisin maks 1 boto

Framisetna SO4 maks 2 lemba

Fluokortolon maks 1 tube

Fopredniliden maks 1 tube

Gentamisin SO4 maks 1 tube

Glafenin maks 20 tab

Heksakklorofene maks 1 boto


Hexetidine maks 1 boto

Hidrokortison maks 1 tube

Hidroquinon maks 1 tube

Hidroquinon dgn PABA maks 1 tube

Homochlorcyclizin HCl

maks 20 tab
Karbosistein
sirup 1 boto

maks 10 tab
Ketotifen
sirup 1 boto

Kloramfenikol maks 1 tube

Lidokain HCl maks 1 tube

Linestrenol 1 siklus

maks 6 tab
Mebendazol
sirup 1 boto

Mebhidrolin maks 20 tab

Metampiron maks 20 tab

sirup 1 boto

DAFTAR OBAT WAJIB APOTEK (OWA) NO.2

NAMA OBAT JUMLAH TIAP JENIS OBAT

tab 200mg, 6 t
Albendazol
tab 400mg, 3 t

Bacitracin 1 tube
Benorilate 10 tablet

Bismuth subcitrate 10 tablet

Carbinoxamin 10 tablet

Clindamicin 1 tube

Dexametason 1 tube

Dexpanthenol 1 tube

Diclofenac 1 tube

Diponium 10 tablet

Fenoterol 1 tabung

Flumetason 1 tube

Hydrocortison butyrat 1 tube

tab 400 mg, 10


Ibuprofen
tab 600 mg, 10

Isoconazol 1 tube

kadar <2%

Ketokonazole krim 1 tube

scalp sol. 1 b

Levamizole tab 50 mg, 3 t

Methylprednisolon 1 tube

Niclosamide tab 500mg, 4 t

Noretisteron 1 siklus

Omeprazole 7 tab

Oxiconazole kadar<2%,>

Pipazetate sirup 1 boto

Piratiasin Kloroteofilin 10 tablet

Pirenzepine 20 tablet
Piroxicam 1 tube

Polymixin B Sulfate 1 tube

Prednisolon 1 tube

Scopolamin 10 tablet

Silver Sulfadiazin 1 tube

Sucralfate 20 tablet

Sulfasalazine 20 tablet

Tioconazole 1 tube

Urea 1 tube

DAFTAR OBAT WAJIB APOTEK (OWA) NO.3

NAMA OBAT JUMLAH TIAP JENIS OBAT

Alopurinol maks 10 tab 100

Aminofilin supositoria maks 3 suposito

Asam Azeleat maks 1 tube 5

Asam Fusidat maks 1 tube 5

maks 20 tab
Bromheksin
sirup 1 boto

Diazepam maks 20 tab

Diklofenak natrium maks 10 tab 25

Famotidin maks 10 tab 20mg

Gentamisin maks 1 tube 5 gr atau

Glafenin maks 20 tab

Heksetidin maks 1 boto


Klemastin Maks 10 tab

Kloramfenikol (Obat Mata) maks 1 tube 5 gr atau

Kloramfenikol (Obat Telinga) maks 1 botol 5

maks 6 tab
Mebendazol
sirup 1 boto

Metampiron + Klordiazepoksid maks 20 tab

Mequitazin maks 10 tab atau bo

Motretinida maks 1 tube 5

Orsiprenalin maks 1 tube inh

Piroksikam maks 10 tab 10

Prometazin teoklat maks 10 tab atau bo

Ranitidin maks 10 tab 150

Satirizin maks 10 tab

Siproheptadin maks 10 tab

Toisiklat maks 1 tube 5

Tolnaftat maks 1 tube

Tretinoin maks 1 tube 5

Diposkan 29th November 2012 oleh Roy Royadi

Lihat komentar

Memuat

Template Dynamic Views. Diberdayakan oleh Blogger.