Anda di halaman 1dari 28

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Budidaya air payau merupakan salah satu subsektor perikanan budidaya
yang sebagian besar komoditasnya memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan
merupakan komoditas ekspor seperti udang dan ikan kerapu. Pengembangan
perikanan budidaya air payau dengan media tambak telah dikembangkan hampir
disetiap provinsi di Indonesia. Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
merupakan salah satu komoditas perikanan ekonomis penting. Udang Vaname
menjadi komoditas ekspor andalan pemerintah dan sumber devisa bagi negara
(Amri dan Kanna, 2008). Menurut Mahbubillah (2011), permintaan Udang
Vaname sangat besar baik untuk pasar lokal maupun internasional. Udang
Vaname memiliki kandungan nilai gizi yang sangat tinggi serta memiliki nilai
ekonomis yang cukup tinggi sehingga menyebabkan budidaya Udang Vaname
dapat berkembang dengan pesat.
Dalam usaha budidaya, pakan merupakan salah satu komponen
pembiayaan terbesar dan berperan penting dalam menentukan keberhasilan
budidaya (Yustianti et al., 2013). Program pemberian pakan pada budidaya
Udang Vaname ditambak modern merupakan langkah awal yang harus
diperhatikan untuk menentukan jenis, ukuran, frekuensi, dan total kebutuhan
pakan selama masa pemeliharaan. Agar dapat mencapai sasaran dalam
penggunaan pakan pada budidaya Udang Vaname ditambak modern diperlukan
pemahaman tentang nutrisi, kebutuhan nutrien dari kultivan, teknologi
pembuatan pakan, serta kemampuan pengelolaan pakan untuk setiap komoditas
budidaya dan teknik aplikasi pemberian pakan (Nur, 2011).
Salah satu faktor pengelolaan pakan pada kegiatan usaha budidaya
Udang Vaname adalah teknik, aplikasi dan frekuensi pemberian pakan selama
masa pemeliharaan di tambak. Mengingat padat tebar tinggi dan teknologi yang
digunakan juga sangatlah kompleks, untuk itu para pembudidaya selalu
berusaha menekan biaya produksi seefisien mungkin dari berbagai komponen
produksi, salah satunya adalah dengan berbagai aplikasi dan teknik pemberian
pakan tambahan atau buatan pada budidaya udang. Manajemen pemberian
pakan sangatlah penting dari setiap kegiatan budidaya, dengan pemberian
pakan dari larva hingga dewasa harus sesuai dengan kandungan nutrisi dalam
pakan yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan Udang Vaname.

1
Oleh karena itu, manajemen pakan perlu diterapkan di perusahaan-
perusahaan besar agar pengeluaran pakan dapat ditekan dan produksi Udang
Vaname dapat maksimal. Salah satu perusahaan yang menerapkan manajemen
pakan dengan standar operasional yang baik adalah PT. Surya Windu Kartika,
dengan fasilitas yang memadai dan teknisi yang profesional menjadi pemilihan
lokasi praktik kerja lapangan II. Praktik kerja lapangan ini bertujuan untuk
meningkatkan keterampilan dan menambah wawasan baru.

1.2 Tujuan dan Manfaat


1.2.1 Tujuan
Tujuan dari Praktik Kerja Lapangan II ini adalah untuk mempelajari serta
meningkatkan keterampilan dalam bidang budidaya air payau khususnya
manajemen pemberian pakan pada pembesaran Udang Vaname (L. vannamei)
di PT. Surya Windu Kartika, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.

1.2.2 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari praktik kerja lapangan ini diharapkan taruna
dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman secara
langsung pada budidaya pembesaran Udang Vaname.Selain itu taruna juga
dapat menambah wawasan tentang teknik pembesaran Udang Vaname pada
tambak budidaya intensif khususnya manajemen pakan. Taruna juga dapat
mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dari materi perkuliahan yang di
dapat.

2
II. METODOLOGI

2.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Kegiatan Praktik Kerja Lapang II (PKL II) ini dilaksanakan di Tambak
Udang Vaname PT. Surya Windu Kartika yang berlokasi di Jalan Bomo, Mangir
Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Kegiatan
dilaksanakan pada tanggal 16 September sampai 13 Oktober 2018.

2.2 Metode Kerja Praktik Lapangan


Metode yang digunakan dalam Praktik Kerja Lapang II menggunakan 2
metode yaitu survei dan magang. Metode survei yaitu penyelidikan secara
langsung di tempat, untuk memperoleh fakta dan gejala-gejala yang ada dengan
mencari keterangan secara faktual tentang pengelolaan air dan menejemn pakan
pada budidaya Udang vaname. Sedangkan untuk memperoleh keterampilan di
lapangan, dengan menggunakan metode sistem magang. Menurut Narbuka dan
Achmad (2005), sistemmagang adalah suatu metode belajar dalam bentuk
praktik secara langsung di tempat yang digunakan untuk magang bertujuan untuk
meningkatkan keterampilan dan kecakapan dalam berkreativitas, sikap kritis,
rasa percaya diri, dan jiwa kewirausahaan.

2.3 Jenis Data


2.3.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpukan langsung di
lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang
memerlukannya. Data primer di dapat dari sumber informan yaitu individu atau
perseorangan seperti hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti. Data primer
ini meliputi catatan hasil wawancara, hasil observasi lapangan, data-data
mengenai informan (Hasan, 2002). Data ini diperoleh secara langsung dengan
melakukan pengamatan dan pencatatan dari hasil observasi, wawancara dan
partisipasi aktif yang dilakukandi PT. Surya Windu Kartika. Adapun data primer
yang diambil meliputi data terkait manajemen pakan pada pembesaran Udang
Vanamedi PT. Surya Windu Kartika.

3
2.3.2 Data Skunder
Data sekunder merupakan informasi yang dikumpulkan bukan untuk
kepentingan studi yang sedang dilakukan saat ini. Pengumpulan data sekunder
digunakan untuk beberapa tujuan lainnya. Berdasarkan sumbernya data yang
dikumpulkan dalam penelitian tersebut adalah data primer dan sekunder. Data
sekunder diperoleh dari literatur, dokumen, dan informasi dari berbagai instansi
terkait. Beberapa contoh sumber data sekunder saat penelitian tersebut
dilakukan berasal darikoperasi pasar induk, Departemen Kelautan dan
Perikanan, dan perpustakaan yang berada di instansi terkait (Kusumawardani et
al., 2012).
Data sekunder diperoleh dari laporan-laporan, pustaka dan arsip dari PT.
Surya Windu Kartika yang ada hubungan dengan manajemen pemberian pakan
pada pembesaran Udang Vaname. Data sekunder meliputi potensi perikanan di
PT. Surya Windu Kartika dan keadaan topografi lokasi. Pengumpulan data
sekunder pada Praktik Kerja Lapangan II ini dilkakukan dengan cara mencatat
data yang bersumber dari PT. Surya Windu Kartika dan perpustakaan maupun
internet.

2.4 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi partisipan
dan wawancara.menurut Narbuko dan Ahcmadi (2001), yang dimaksud
observasi, partisipan, wawancara, dan dokumen adalah:
a. Observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengamati dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembenihan larva
Udang Vaname serta mencatat secara sistematis gejala-gejala yang
diamati.
b. Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang
berlangsung secara lisan dimana orang atau lebih bertatap muka
mendengarkan secara langsung informasi dan keterangandengan.
c. Partisipasi aktif adalah teknik pengumpulan data yang mengharuskan
peneliti melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat yang diteliti untuk
dapat melihat dari memahami gejala-gejala yang ada sesuai maknanya.
Partisipasi yang dilakukan dalam Praktik Kerja Lapangan adalahberupa
keikutsertaan secara aktif dalam kegiatan yang diadakan di PT. Surya
Windu Kartika.

4
d. Dokumentasi merupakan suatu cara pencatatan dan penyalinan dari
suatu data yang dibutuhkan untuk suatu penelitian dengan suatu media
(Fenni, 2013).

2.5 Metode Pengolahan Data


Dalam mengolah seluruh data yang diperoleh selama pelaksanaan
Praktik Kerja Lapangan II, penulis menggunakan teknik editing dan tabulating
(Narbuko & Acmadi, 2004) yang didefinisikan sebagai berikut :
a. Editing: yaitu sebelum data diolah data tersebut perlu diedit terlebih
dahulu. Dengan perkataan lain data atau keterangan yang telah
dikumpulkan dalam record book, daftar pertanyaan ataupun pada
interview guide perlu dibaca sekali lagi dan diperbaiki jika disana-sini
masih terdapat hal-hal yang salah atau yang masih meragukan.
b. Tabulating: yaitu membuat tabulasi tidak lain dari memasukkan data ke
dalam tabel-tabel, dan mengatur angka-angka sehingga dapat dihitung
jumlah kasus dalam berbagai kategori.

2.6 Analisis Data


Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah
yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek dalam
penelitian dapat berupa orang, lembaga, masyarakat dan yang lainnya yang
pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau apa adanya.
Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran,
atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat
serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Menurut Sugiyono (2005)
menyatakan bahwa metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan
untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak
digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas.
Dapat dikatakan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang
berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa yang terjadi pada saat
sekarang atau masalah aktual. Analisis data ini digunakan untuk mengetahui
apakah proses budidaya telah dilakukan sesuai prosedur dengan benar,
menyangkut aspek fasilitas budidaya, proses budidaya, berikut perlakuan
keberhasilan pengelolaan pakan pada pembesaran Udang Vaname dapat dilihat
dari :

5
1. Perhitungan konversi pakan dilakukan dengan menggunakan rumus,
yaitu:

Keterangan: FCR = Feed Conversion Ratio (Rasio Konversi Pakan),


F = Jumlah pakan yang diberikan selama penelitian (kg), Biomass =
Biomassa udang di akhir penelitian (kg).
2. Kondisi Lingkungan atau kualitas air pada media yang berhubungan
dengan bak pembesaran Udang Vaname.
3. Perkembangan penyakit yang menyerang pada saat pembesaran
Udang Vaname yang berhubungan dengan pakan.
4. Produksi Udang Vaname meliputi kualitas udang.

2.7 Kegiatan PKL


Kegiatan selama Praktik Kerja Lapang II ini tentang Manajemen Pakan
Pada Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di PT. Surya Windu
Kartika Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, dapat dilihat pada
Rencana Kegiatan PKL II yang tertera pada Lampiran 1.

6
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Keadaan Umum Lokasi


3.1.1 Letak Geografis dan Keadaan Alam Sekitar Lokasi
Keadaan alam sekitar lokasi
PT. Surya Windu Kartika (SWK) hingga saat ini memiliki 5 unit lokasi
tambak yang berbeda-beda, kelima unit lokasi tambak tersebut yaitu: Unit bomo
A, Bomo B, Bomo C, Jatisari I, dan Jatisari II. Unit tambak Bomo C terletak di
Desa Bomo Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa
Timur, yang mempunyai titik koordinat S : 08” 37’ 22.7669” dan E : 114” 34’
67.720”, luas tanah 829.000,00 m2, luas tempat usaha 400.000,00 m2 dansecara
geografis lokasi tambak tersebut berbatasan dengan :
Batas Utara : Tambak Unit Jatisari II
Batas Barat : Dusun Jatisari
Batas Selatan : Tambak Unit Bomo C
Batas Timur : Selat Bali
Secara teknis lokasi tambak yang terletak di daerah pantai yang memiliki
fluktuasi pasang surut air laut 0 - 3 m, sehingga penyediaan air laut untuk
pemeliharaan udang vanname (Litopenaeus vannamei) akan tercukupi.
Disamping itu, di unit tambak ini juga tersedia air tawar dari sumur bor yang
debitnya cukup besar sehingga ketersediaan air tawar terpenuhi. Lokasi tambak
yang dekat dengan perkampungan akan memudahkan dalam hal penyediaan
tenaga kerja, dekat dengan perusahaan pengolahan ikan yang akan
memudahkan dalam penjualan hasil produksi serta memudahkan dalam
transportasi dan komunikasi. Namun, kekurangannya adalah terdapat limbah
rumah tangga dan limbah perusahaan dikarenakan perusahaan tersebut dekat
dengan perkampungan dan perusahaan pengolahan ikan. Sehingga dalam
pengadaan air laut harus menerapkan sistem tendon treatment air agar media
yang digunakan terjaga kualitasnya.Untuk lebih jelasnya denah lokasi tambak
PT. SWK Unit Bomo C dapat dilihat pada Lampiran 2.

3.2 Profil Perusahaan/Instansi


3.2.1. Sejarah perusahaan

PT. SWK didirikan pertama kali oleh bapak Gunawan pada tahun 1985
dengan produksi utama udang windu (Penaeus monodon) kontruksi petakan

7
tambak menggunakan sistem semi intensif dengan jumlah petakan 42 petak
yang terbagi dalam 4 area blok yaitu blok A, blok B, blok C, dan blok D. Masing-
masing blok terdiri dari 3 tandon. Petakan tandon terbagi lagi pada dua jalur
petakan untuk jalur petakan A, B dan C terdapat 9 tandon, sedangkan untuk jalur
D memiliki 3 Tandon. Setelah 14 tahun perusahaan ini berhenti memproduksi
udang windu dikarenakan banyak permasalahan yang dialami diantaranya infeksi
penyakit seperti white spot syndrome virus (WSSV). PT. SWK kemudian beralih
ke komonitas budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada tahun
2000 yang dipegang alih oleh bapak H. Hardi Pitoyo.

3.3 Struktur Organisasi


Tambak Unit Bomo C merupakan bagian dari PT. SWK, dan untuk
menjalankan usaha yang bergerak di bidang budidaya Udang Vaname
(Litopenaeus vannamei), PT. SWK dipimpin oleh seorang pemilik usaha yang
mengatur segala aktifitas usaha yang dijalankan. General manager produksi
membawahi beberapa staf diantaranya teknisi, unit laboratorium, administrasi,
koordinator keamanan, karyawan pakan, karyawan harian, karyawan mesin dan
listrik, Untuk lebih jelasnya mengenai struktur organisasi tambak Unit Bomo C
dapat dilihat pada Gambar 1.
General, Manager
PT. Surya Windu Kartika

Hardi Pitoyo

Unit Laboratorium Teknisi Administrasi

Lusi Puji Erni

Asisten Keamanan Bagian Bagian


Dapur
Teknisi Tambak Pakan Listrik dan
Mesin
Samsul Robama Santoso
Sumiata
Pitung

Gambar 1. Struktur Organisasi Tambak PT. SWK Unit Bomo C

8
3.4 Kegiatan Usaha
Kegiatan usaha yang dilakukan oleh PT. Surya Windu Kartika adalah
usaha pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dengan sistem
teknologi intensif. Dalam satu tahun unit usaha tambak ini dapat beroperasi atau
produksi sebanyak 3 siklus, dengan lama waktu setiap siklusnya adalah 4 bulan
termasuk tahap pengeringan serta persiapan. PT. Surya Windu Kartika
melakukan kerja sama dengan PT. Surya Adekumula Abadi dalam hal
pemasaran. PT. Surya Adekumula Abadi berperan sebagai pembeli tetap dari
hasil budidaya atau produksi dengan harga udang yang berlaku di pasaran.

3.5 Sarana dan Prasarana


Sebagai unit usaha tambak yang menerapkan teknologi intensif, diperlukan
sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung dan memperlancar
kegiatan budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei). Berikut ini adalah
sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Unit tambak Bomo C.
1. Petakan tambak: tambak Unit Bomo C terdiri atas 40 petakan yang
memiliki luas masing - masing petakan 3.000 – 5.000 m2/petak. Konstruksi
petakan tambak bagian dinding maupun dasar dicor dengan semen,
sehingga memudahkan dan mempersingkat waktu dalam pengeringan.
Pada bagian dasar tambak dibuat miring ke arah tengah atau biasa disebut
central drain. Pipa central drain sebanyak 2 buah terdapat pada bagian
tengah petakanyang berfungsi untuk membuang lumpur atau tumpukan
endapan di dasar petakan tambak. Selain itu pada petakan terdapat
outletatau bisa disebut sebagai pintu panen.

A B C

Gambar 2.Fasilitas petakan tambak PT. Surya Windu Kartika (a) petakan tambak.,
(b) pintu panen., (c) central drain

9
2. Sumber listrik: tambak Unit Bomo C bersumber dari PLN dengan kapasitas
175 KVA, dan listrik cadangan berupa dua buah genset yang masing-
masing berkapasitas 125 KVA.

Gambar 3. Fasilitas sumber listrik PT. Surya Windu Kartika

3. Laboratorium: sarana yang menunjang dalam proses menguji dan


menganalisa kualitas air. Kegiatan yang dilakukan antara lain adalah uji
parameter fisika air (suhu, kecerahan), parameter kimia air (DO, pH,
salinitas, dan alkalinitas), parameter biologi air (jenis plankton, total Vibrio,
dan total bakteri). Laboratorium dilengkapi dengan berbagai peralatan
diantaranya mikroskop, oven, autoclave, inkubator dan berbagai alat uji
parameter kualitas air.

Gambar 4. Fasilitas laboratorium PT. Surya Windu Kartika

4. Gudang pakan dan pupuk: sebagai tempat untuk menyimpan pakan udang
dan pupuk serta aktifitas menimbang dan mencampur pakan.

Gambar 5. Fasilitas gudang pakan dan pupuk

10
5. Bengkel: sebagai tempat untuk menyimpan sekaligus memperbaiki sarana
dan parasarana operasional tambak seperti: kincir air, dinamo, gear box,
pompa air, instalasi listrik, dan kendaraan transportasi.

Gambar 6.Fasilitas bengkel PT. Surya Windu Kartika

6. Kantor dan mess karyawan: tersedia 1 unit kantor utama dan 11 unit kamar
yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal bagi karyawan tambak Unit
Bomo C.
7. Sumur bor air tawar: tersedia 6 titik lokasi sumur bor yang dipergunakan
dalam menyuplai air tawar untuk kegiatan operasional budidaya udang dan
kegiatan pendukung lainnya.
8. Sarana transportasi: untuk memperlancar kegiatan operasional tambak
seperti, mengangkut pakan udang, pupuk, peralatan, dan hasil produksi
(udang) saat panen, Unit Bomo C memiliki 1 unit pick up L 300, dan 4 unit
sepeda motor.
9. Peralatan: peralatan penunjang operasional tambak yang dimiliki oleh Unit
Bomo C meliputi:
a. Pompa air terdiri dari dari pompa air laut HB 8 inchi sebanyak 8 unit yang
dijalankan oleh mesin FM D 14 berkekuatan 80 PK sebanyak 2 unit,
sehingga 1 mesin menjalankan 4 unit pompa. Pompa ini digunakan untuk
mengambil air laut kemudian dialirkan ke petak tandon. Selain itu, terdapat
pompa air tawar HB RRT 6 inchi yang dijalankan oleh mesin berkekuatan
20 PK yang digunakan untuk mengalirkan air tawar ke petak tandon.
Sedangkan untuk mendistribusikan air dari tandon ke petak budidaya
digunakan pompa HB elektrik 8 inchi dengan kekuatan 20 PK sebanyak 3
unit. Kemudian untuk penyediaan air tawar untuk kebutuhan sehari - hari
digunakan pompa 2 inchi berkekuatan 1 PK.

11
b. Kincir air untuk pengudaraan (aerasi) air media tambak digunakan kincir
air. Jenis kincir air yang digunakan terdiri dari kincir rantai (renteng) dan
kincir tunggal (engkel) dengan kekuatan 1 HP dan 3 HP. Kincir
berkekuatan 1 HP mampu memutar 4 baling - baling dan berkekuatan 3 HP
mampu memutar 6 baling – baling

Gambar 7. Fasilitas kincir PT. Surya Windu Kartika

c. Auto feeder terdapat 1 buah auto feeder pada setiap petakan tambak. Auto
feeder difungsikan sebagai alat pemberian pakan secara otomatis yang
dapat di atur dosis pemberian pakannya.

Gambar 8. Fasilitas auto feeder PT. Surya Windu Kartika

d. Timbangan digital, terdapat 1 buah timbangan digital yang difungsikan saat


sampling panen, timbangan tersebut memiliki spesifikasi tingkat ketelitian
hingga 3 angka di belakang koma.
e. Timbangan duduk, terdapat 2 buah timbangan duduk yang digunakan
untuk menimbang pakan udang dan pupuk untuk treatment air.
f. Jala, terdapat 2 buah jala yang digunakan untuk sampling mingguan udang
dan panen parsial atau selektif. Jala tersebut mempunyai diameter ± 3 m
dengan ukuran mata jaring 1 cm.
g. Jaring panen, terdapat 1 buah jaring panen yang digunakan saat panen
dan dipasang pada outlet atau pintu pengeluaran. Memiliki spesifikasi
ukuran mata jaring 0,5 cm.

12
h. Blower, terdapat 2 buah blower yang digunakan untuk pengudaraan atau
sumber O2 dalam kultur bakterial atau probiotik.
i. Blong plastik, terdapat 4 buah blong plastik, 2 buah berukuran 250 liter dan
2 buah berukuran 100 liter yang digunakan sebagai wadah kultur bakterial
atau probiotik.
j. Lain – Lain, peralatan lainnya seperti: timba pakan, piring pakan, gayung,
serok, keranjang panen, anco, secchidisk, peralatan laboratorium, selang
aerator.

3.6 Persiapan Media Budidaya


Konstruksi tambak
Tambak PT.SWK Unit Bomo C merupakan tambak yang telah didesain
untuk pembesaran Udang Vaname secara intensif. Konstruksi tambak
merupakan tambak yang terbuat dari cor semen. Tambak yang terbuat dari cor
semen dapat meminimalkan porositas. Berikut ini merupakan penjelasan singkat
tentang konstruksi tambak:
1. Saluran distribusi air
Saluran distribusi air tambak yang digunakan di PT. SWK Unit Bomo C
merupakan saluran yang terbuat dari beton berbentuk persegi dengan
lebar saluran 80 cm dengan kedalaman 60 cm. Saluran ini dimanfaatkan
untuk saluran irigasi air dari petak tandon dan didistribusikan ke petakan.
2. Pintu air (inlet) tambak
Pintu air (inlet) tambak yang terdapat pada tambak berbentuk bidang
miring dengan dilengkapi pintu air yang terbuat dari papan kayu dan bisa
digeser ke atas dan ke bawah sehingga debit air yang masuk dapat
diatur. Pintu air tambak ini memiliki lebar 50 cm. Pada setiap bagian
tambak dilengkapi dengan 2 pintu air inlet. Hal ini bertujuan untuk
mengefektifkan waktu selama pemasukan air.
3. Bentuk petak tambak
Petak tambak pada PT. SWK mempunyai bentuk persegi panjang dengan
ukuran yang bervariasi antara 3000 m2-3500 m2. Petakan tambak
mempunyai central drain yang memadai sehingga dalam proses
budidaya, lumpur dan penumpukan bahan organikdapat berkumpul pada
satu titik, hal ini pun efisien pada saat penyiponan atau pembuangan
lumpur lewat saluran central drain.

13
4. Pintu keluaran (out let) tambak
Pintu out let tambak menggunakan sistem pintu air yang terdiri dari sekat
air atau papan kayu yang disusun sehingga dapat menahan tekanan air.
Tidak berbeda dengan pintu inlet. Pintu ini akan mudah mengontrol
pemanenan.

Persiapan tambak
Persiapan tambak yang dilakukan pada PT. SWK Unit Bomo C meliputi:
1. Pengeringan dasar tambak: pengeringan bertujuan untuk membunuh bibit
penyakit yang ada pada petak tambak, mempercepat oksidasi bahan-
bahan beracun seperti nitrit, amoniakdan H2S.Lamanya pengeringan ini
tergantung dari kebutuhan penebaran yang akan dilakukan. Tetapi pada
umumnya pengeringan yang dilakukan membutuhkan waktu 1 bulan. Hal
ini berbeda dengan pendapat Alwi (2009), yang menjelaskan bahwa lama
pengeringan sekitar 1 - 2 minggu.
2. Perbaikan tanggul: perbaikan tanggul ini bertujuan untuk memperkokoh
pematang tambak jika ada yang mengalami keretakan pada sisi tertentu,
perbaikan pematang yang mengalami kebocoran, dan perbaikan
pematang yang mengalami longsor. Perbaikan ini dimaksudkan
mencegah adanya air yang merembes keluar petakan. Perbaikan ini
dilakukan dengan menambal dengan semen pada bagian pematang
tambak yang mengalami keretakan dan bocor.
3. Pembersihan kotoran pada dasar tambak: pembersihan ini dilakukan
dengan cara menyapu dasar tambak dan pematang tambak.
Pembersihan ini dilakukan secara merata ke seluruh bagian dasar
tambak. Namun jika terdapat lumpur hitam yang barasal dari sisa panen
maka dasar tambak perlu dibersihkan dengan menyemprotkan air
sehingga lumpur dapat terbuang melalui outlet. Hal ini sesuai dengan
Pribadi, et al (2003), bahwa limbah bahan organik jika dibiarkan akan
berdampak buruk bagi kualitas air, pertumbuhan, kelangsungan hidup
dan kesehatan biota budidaya. Begitu juga substansi-substansi beracun
seperti amonia, nitrit, dan H2S perlu dihilangkan atau dikurangi dari
tambak. Selain itu dilakukan pemberian desinfektan yaitu HCl sebesar 10
ppm dengan cara pemberian ditebar merata ke seluruh bagian petak
tambak.

14
4. Perbaikan instalasi pipa pada central drain, perbaikan pipa pada central
drain ini sangat penting untuk dilakukan, perbaikan pipa ini sangat
menentukan kelancaran dalam proses pembuangan lumpuryang akan
dilakukan selama proses pembesaran udang. Perbaikan dilakukan
dengan membersihkan dan membuang kotoran yang dapat menyumbat
aliran air ke outlet dengan pompa air.
5. Pemasangan peralatan tambak: pemasangan peralatan tambak ini
meliputi pemasangan water level, pemasangan waring striminpada outlet
tambak, pemasangan papan kayu padaoutlet, pemasangan jembatan
dan pemasangan anco.Setelah seluruh persiapan tambak dilakukan maka
segera dilakukan pengisian air tambak.

Pengisian air
Pengisian air merupakan tahapan budidaya udang yang dimulai setelah
persiapan tambak selesaisampai dengan tambak siap tebar benur. Persiapan air
bertujuan menyediakan air tambak yang mempunyai kualitas sesuai untuk
pertumbuhan udang. Pengisian air tambak ini dilakukan dengan memompa air
laut dan langsung dimasukkan ke dalam petak tandon. Pemompaan dapat
dilakukan baik pada siang ataupun pada malam hari saat air laut mengalami
pasang. Pemompaan ini dilakukan melalui instalasi pipa air laut. Pipa air laut
yang menyalurkan air dari laut ke mesin pompa air laut berukuran 8”.
Pengambilan air laut ini berjarak ± 240 meter dari pantai. Sehingga dengan jarak
pengambilan ini diharapkan air laut yang terambil cukup bersih dari kotoran,
maupun pasir air laut. Pada ujung pipa yang terdapat pada laut ini dipasang
”klep”.
Klep tersebut merupakan suatu filter yang terbuat dari besi yang terdiri
dari sebuah pipa pendek dengan berbentuk seperti kerucut, hal ini dimaksudkan
untuk menutup dan membuka aliran air secara otomatis pada saat penyedotan
dilakukan sehingga memudahkan dalam penyedotan air. Pemompaan air laut ini
dilakukan dengan memperhatikan pasang surut air laut. Penyedotan ini dilakukan
menggunakan pompa bermesin diesel dengan kapasitas 60PK.

Sterilisasi air
Sterilisasi air media pada Unit Tambak Bomo C hanya dengan perlakuan
kaporit. Tujuan aplikasi kaporit pada tahap steriliasi air media pemeliharaan

15
adalah untuk membunuh atau memusnahkan seluruh organisme maupun
mikroorganisme yang ada pada air media. Dosis pemberian kaporit per petaknya
adalah 8,5 ppm. Penebaran kaporit dilakukan dengan cara melubangi plastik
pembungkus kaporit, kemudian menebar secara merata dengan mengitari areal
tambak. Pada saat sterilisasi dilakukan, kincir harus dioperasikan.

Penumbuhan plankton
Setelah proses sterilisasi dan residu kaporit hilang, maka proses
penumbuhan plankton dilakukan. Penumbuhan plankton dilakukan dengan
menggunakan bahan organik dan anorganik. Bahan organik yang digunakan
adalah ikan lemuru yang telah dihancurkan dan probiotik Bacillus sp, sedangkan
penumbuhan dengan bahan anorganik dengan pengapuran dan pemupukan.

Penebaran benur
Benur yang digunakan oleh PT. SWK Unit Bomo C berasal dari PT. CPB
Baja Situbondo yang merupakan benur F1 dan bersertifikat specific pathogen
free (SPF).Pada PT. SWK Unit Bomo C penebaran menggunakan padat tebar
144 ekor/m2 dengan jumlah total benur 520.464 ekor dengan tambak seluas
3595 m2 pada petakan C9.
Kegiatan penebaran di PT. SWK Unit Bomo C dilakukan dengan
caraaklimatisasisuhu sedangkan untuk aklimatisasi salinitas tidak dilakukan
sebab benur yang dibeli sebelumnya telah disamakan dahulu salinitasnya
dengan cara memesan di hacthery 2 minggu sebelum tebar. Hal ini berbeda
dengan pendapat Haliman dan Adijaya (2005), menyatakan bahwa sebelum
benih ditebar dilakukan aklimatisasi terhadap suhu dan kadar garam air
pengangkutan dengan air tambak. Cara yang dilakukan adalah membuka
kantong dan menambahkan air tambak kedalam kantong sedikit demi sedikit
sampai benih udang aktif berenang keluar sediri dari dalam kantong tersebut.

3.7 Manajemen Pakan


Manajemen pakan merupakan suatu kontrol yang sangat penting pada
usaha budidaya karena pakan merupakan penentu pada pertumbuhan Udang
Vaname, Pakan merupakan salah satu aspek penting dalam setiap aktivitas
budidaya akuatik. Pakan merupakan faktor produksi terbesar dan mencapai 50%
atau lebih dari total biaya operasional, sehingga perlu dikelola dengan baik agar

16
dapat digunakan secara efisien bagi kultivan. Program pemberian pakan yang
baik sangat diperlukan untuk memperoleh hasil maksimal dalam kegiatan
budidaya udang maupun ikan (Nur, 2011). Manajemen pakan yang dilakukan di
PT. SWK meliputi, kandungan nutrisi pakan, dosis pakan, teknik pemberian
pakan, feed conversion ratio (FCR), penyimpanan pakan, jenis pakan, frekuensi
dan waktu pemberian pakan akan dijelaskan di bawah ini.

Kandungan nutrisi pakan


Pakan yang diberikan harus mampu menyediakan nutrien yang
dibutuhkan oleh kultivan seperti protein dan asam amino esensial, lemak dan
asam lemak, energi, vitamin, dan mineral. Dengan demikian, kualitas pakan pada
akhirnya ditentukan oleh tingkat nutrien yang tersedia bagi kultivan.Hal ini
penting oleh karena baik ikan maupun udang memerlukan pakan semata hanya
untuk memenuhi kebutuhan energi, sehingga nilai energi dari suatu pakan turut
menetukan tingkat efisiensnya (Nur, 2011). Komposisi nutrisi pakan udang dapat
dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Nutrisi Pakan Udang

Ukuran Bentuk Kandungan Kadar


Lemak Serat Abu
udang (gr) Pakan Protein Air
PL 12 – 0.1 Crumbel 42% 6% 3% 13% 12%
0.1 – 1 Crumbel 42% 6% 3% 13% 12%
1 – 3.5 Crumbel 42% 6% 3% 13% 12%
3.5 – 8.0 Pellet 42% 6% 3% 13% 12%
8.0 – 14.0 Pellet 42% 6% 3% 13% 12%
14.0 – 20.0 Pellet 42% 6% 3% 13% 12%
> 20.0 Pellet 42% 6% 3% 13% 12%

Dosis pakan
Takaran pakan yang diberikan kepada udang relatif akan berkurang
sejalan dengan bertambah besarnya ukuran udang, pada bulan pertama takaran
awalan diberikan sebanyak 1 kg per 100.000 ekor benur (PL 12-15) yang
kemudian ditambah 200-300 gr tiap minggunya sesuai dengan perkiraan udang
yang hidup.

17
Teknik pemberian pakan
Pemberian pakan udang adalah memberikan pakan secara cukup sesuai
kebutuhan nutrisi udang dan jumlah yang dibutuhkan, secara garis besar teknik
penentuan dosis pakan yang diberikan ada beberapa metode penentuan dosis
pakan, yaitu :
a. Blind feeding
Metode blind feeding maksudnya adalah menentukan dosis pakan
udang dengan memperkirakan dosis yang diperlukan tanpa melakukan
sampling berat udang. Penentuan pakan yang dibutuhkan selama 1 bulan
diperoleh dengan menghitung 5 – 9 % dari total pakan selama prose
pemeliharaan, kemudian hasilnya menjadi acuan total pakan selama 1
bulan.
Selain dengan menentukan presentase 5 – 9 % dari total pakan,
dapat juga mengunakan metode memperkirakan berat udang yang akan
dicapai selama masa pemeliharaan 1 bulan, dikalikan dengan persentase
Survival Rate selama masa pemeliharaan 1 bulan, dan dikalikan FCR di
bulan pertama (30 hari), di bulan pertama FCR nya masih 1. Sehingga
akan diketahui total kebutuhan pakan selama satu bulan dan kemudian
jumlah pakan yang diperolah dijadikan acuan total pakan selama 1 bulan.
b. Sampling biomass
Sampling untuk mengetahui biomasa udang dapat dilakukan
ketika udang telah berumur 30 hari dengan frekuensi 7 hari sekali.alat
yang disarankan untuk sampling adalah jala tebar dengan ukuran mess
size disesuaikan dengan besar udang. Waktu Sampling pada pagi atau
sore hari, agar udang tidak mengalami tingkat stress yang tinggi,
penentuan titik sampling disesuaikan dengan luasan tambak, jumlah titik
sampling 2 – 4 titik, titik lokasi sampling berada di sekitar kincir dan di
wilayah antar kincir.
c. Kontrol anco
Apabila umur> 20, maka program anco mulai dilakukan. Program
anco merupakan suatu program untuk menentukan jumlah kebutuhan
pakan berdasarkan jumlah pakan yang habis di dalam anco yang
bertujuan untuk mengontrol nafsu makan udang dan mengetahui tingkat
konsumsi pakan pada Udang Vaname serta menjadi acuan untuk
menentukan kebutuhan pakan pada pemberian selanjutnya.

18
d. Kontrol auto feeder
Pada umur pemeliharaan udang 25 hari, petakan tambak sudah
dapat menggunakan mesin auto feeder untuk mempermudah cara
pemberian pakan. Auto feeder juga berhubungan dengan kontrol anco
yang bertujuan mengontrol nafsu makan ikan. Jika nafsu makan ikan
tinggi maka pengaturan pengeluaran pakan dari auto feeder dapat di
tingkatkan. Jika nafsu makan ikan menurun maka waktu pengeluaran
pakan dapat di atur agar pakan tidak terbuang sia-sia.

Feed conversion ratio (FCR)


FCR merupakan salah satu indikator seberapa jauh pakan yang diberikan
dapat dimanfaatkan oleh udang untuk mendukung pertumbuhan dan sintasan.
FCR menggambarkan jumlah pakan yang diperlukan untuk menaikkan 1 kg berat
udang.Semakin rendah nilai FCR, maka pakan digunakan semakin efisien.
Umumnya nilai FCR kurang dari 2 masih dinyatakan baik. FCR yang tinggi
kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti : over feeding, defisiensi
nutrien tertentu, kualitas air yang buruk. Faktor-faktor tersebut perlu terus
dimonitor, sehingga program pemberian pakan lebih efisien (Nur,2011).

Penyimpanan pakan
Menurut Nur (2011) berpendapat bahwa, Salah satu aspek penting dalam
pengolaan pakan adalah aspek penyimpanan. Pakan termasuk produk yang
mudah rusak, sehingga perlu disimpan dan ditangani dengan baik untuk
menghindari terjadinya hilangnya nutrient tertentu, terjadinya bau tengik, dan
tumbuhnya jamur. Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama penyimpanan
pakan adalah pakan harus disimpan ditempat yang kering, dingin dan
berventilasi, pakan disimpan di atas rak papan dan jangan simpan di atas lantai
secara langsung, pakan harus terhindar dari sinar matahari langsung, pakan
jangan disimpan lebih dari tiga bulan dan pakan yang sudah rusak jangan
digunakan.

19
Gambar 9. Fasilitas gudang penyimpanan pakan PT. Surya Windu Kartika

Jenis pakan Udang Vaname


Menurut Jory (1995) dalam Wayan et al. (2010), memberikan kriteria
pakan udang untuk tambak intensif bahwa pakan tersebut harus memiliki
kandungan nutrisi lengkap, produksi baru, bebas dari mikotoksin dan pestisida,
lemaknya tidak berbau tengik, stabilitasnya dalam air harus sesuai dengan
program pakan atau frekuensi pemberian pakan yang digunakan, memiliki daya
tarik dan kelezatan, ukuran pakan sesuai dengan ukuran dan perkembangan
udang.
Pakan buatan (pelet) yang digunakan terdiri dari dua merek dengan
bentuk dan kadar protein yang berbeda. Ukuran pellet yang digunakan sebagai
pakan udang disesuaikan dengan usia dan besarnya bukaan mulut udang
tersebut. Jenis pakan sesuai umur udang tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 2. Pemberian Jenis Pakan Sesuai Umur Udang


Nomor merk Ukuran Kadar
Umur Udang Bentuk
Pakan Pakan Protein
1 – 15 hari 960 crumble 0,4 mm – 0,8 m’ 42%
15 – 25 hari 961 crumble 0,8 mm – 1,4 mm 42%
25 – 52 hari 962 pellet 0,8 mm – 1,4 mm 42%
52 - 80 hari 962 pellet 1.6 mm X 2.5 mm 42%
80 – panen 962 pellet 2.5 mm x 2.7 mm 42%

Pakan buatan atau pakan tambahan yang digunakan PT. Surya Windu
Kartika yaitu pakan yang disesuaikan dengan jumlah dan ukuran partikel pakan
buatan yang diberikan ditentukan berdasarkan ukuran pengamatan terhadap
kondisi udang mengkonsumsi pakan buatan.Pakan buatan yang digunakan yaitu
dengan merk Gold Coin. Adapun data pemberian pakan dapat dilihat pada
lampiran 3.

20
Frekuensi dan waktu pemberian pakan
Pemberian pakan di PT SWK dimulai setelah benur ditebar dengan
frekuensi pada saat udang umur 1 - 2 hari diberi pakan 1 kali sehari pada pukul
05.30, udang umur 3 hari 2 kali sehari pada pukul 05.30 dan 09.00, umur 4 hari
3 kali sehari pada pukul 05.30, 09.00 dan 11.00, umur 5-6 hari 4 kali sehari pada
pukul 05.30, 09.00, 11.00 dan 14.00,umur 7-11 5 kali sehari pada pukul 05.30,
09.00, 11.00, 14.00 dan 16.00. Selanjutnya pakan dengan frekuensi 6 kali sehari
untuk umur 12 hari hingga panen pada pukul 05.30, 09.00, 11.00, 14.00, 16.00
dan 18.00. Hingga pada pemeliharaan umur 25 pakan komulatif yang telah di
berikan mencapai 827 kg untuk petak C9 dan C10.
Frekuensi pemberian pakan bertujuan untuk mencukupi kebutuhan pakan
pada udang sehingga frekuensi pemberian pakan 5 kali sehari ini dapat
menghindari terjadinya kompetisi dalam mendapatkan makanan yang biasanya
akan mengarah pada sifat kanibal apabila terjadi kekurangan pakan. Hal ini
sesuai dengan Ghufran (2010), frekuensi pemberian pakan udang dalam sistem
budidaya sistem intensif mencapai 4 – 6 kali sehari. Hal ini dilakukan guna
semakin sering pemberian pakan akan memberi peluang yang lebih besar
kepada udang untuk makan setiap saat, sehingga kebutuhan pakan akan selalu
terpenuhi.

Konsumsi pakan (feeding rate)


Menurut Nugroho (2000), menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pola konsumsi pakan udang di tambak budidaya udang secara
intensif yang ditandai dengan padat tebar benur tinggi dan mempunyai
ketergantungan besar terhadap pemberian pakan dengan nutrisi lengkap dari
luar tambak. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumen udang yang
dibudidayakan diantaranya kelengkapan program blind feeding, ukuran udang,
kualitas air, kondisi dasar tambak, dan penyakit. Untuk menghindari kekurangan
pakan dan juga pemberian pakan maka control anco harus dilakukan dengan
baik dan benar, hal ini dikarenakan penambahan dan pengurangan pakan
bergantung pada hasil kontrol anco yang dilakukan pada hari itu dan
sebelumnya.

21
Dari kontrol anco dan persentase pakan di anco juga dapat dihitung
estimasi jumlah udang yang masih berada dalam petakan. Berikut rumus
perhitungan feeding rate mulai dari pemeliharaan hari ke 1 sampai 25 hari :
/
FR = x 100%
( )
( )
FR = x 100%
( )

FR = 6%

Cara pemberian pakan


Pemberian pakan dilakukan dengan cara ditebar secara merata keseluruh
bagian tepi tambak atau daerah hidup udang dengan menggunakan rakit.Selain
dengan menggunakan rakit pemberian paka juga dilakukan dengan
menggunakan mesin auto feeder. Pemberian pakan dengan menggunakan rakit
hanya dilakukan pada udang yang masih berumur <20. Pada bagian tengah
tambak merupakan tempat berkumpulnya kotoran atau lumpur hal ini
dikarenakan putaran air yang terjadi karena arus air yang disebabkan oleh
putaran kincir pada petakan tambak, sehingga dapat membuat arus yang
membawa lumpur dan sisa pakan berkumpul di tengah-tengah petakan. Habitat
udang pada petakan tambak biasanya pada bagian pinggir petakan tidak di
tengah, ini dikarenakan pada bagian tengah dasarnya kotor sehingga udang
tidak mau berkumpul di tengah petakan. Teknik pemberian pakan dapat dilihat
pada gambar berikut :

A B

Gambar 10.Cara pemberian pakan menggunakan auto feeder dan rakit manual. (a)
Program pemberianpakan
pemberian pakan di auto feeder., (b) pemberian pakan dengan rakit

Menurut Yukasano (2000) menjelaskan bahwa, Blind feeding adalah


pemberian pakan terhadap udang secara maksimal.Program ini dikakukan
biasanya pada hari pertama saat udang di masukkan ke dalam tambak sampai
40 hari, karena pada saat tersebut populasi udang belum dapat dicek secara

22
tepat. Pemberian pakan untuk udang umur di bawah 30 hari dilakukan dengan
teknik blind feeding yaitu pakan buta atau estimasi pakan yang diartikan
pemberian pakan dengan mengestimasi jumlahnya, sedangkan untuk udang
umur 30 hari keatas berdasarkan hasil cekanco.

Monitoring Pertumbuhan
Menurut Khoirul (2000), menyatakan bahwa sampling berasal dari kata
sample yang berarti contoh. Jadi sampling menurut istilah adalah mengambil
contoh beberapa ekor udang yang dianggap mewakili udang secara keseluruhan
dalam satu tambak. Kegiatan monitoring pertumbuhan bertujuan untuk
mengetahui kondisi kesehatan udang, untuk mengetahui tingkat pertumbuhan
udang, dan untuk mengetahui jumlah udang, untuk mengetahui kebutuhan pakan
udang.Kegiatan monitoring pertumbuhan dapat dilakukan dengan sampling.
Kegiatan sampling dilakukan mulai saat umur udang 20 hari dan kemudian
dilanjutkan 10 hari sekali mengunakan sampling anco.Ketika udang berumur
kurang lebih 40 hari mengunakan sampling jala. Sampling udang dilakukan
dengan menggunakan jala yang berukuran 3m2.
Kegiatan sampling dilakukan dengan cara : Udang dijala pada tepian
tambak dan selanjutnya udang yang tertangkap dimasukkan dalam sterofoam
yang sudah berisi air sekitar 5cm. Sampling dilakukan dengan dua cara yang
pertama mengunakan sampling anco. Sampling anco dilakukan pada saat udang
berumur kurang dari 40 hari mengunakan timbangan analytic dan sampling jala
dilakukan ketika udang berumur lebih dari 40 hari mengunakan timbangan
digital.Udang yang diambil sampling sebanyak 1 kg.

Gambar 11. Sampling udang

Pengelolaan kualitas air


Pengelolaan kualitas air media budidaya akan menentukan berhasil atau
tidaknya suatu usaha budidaya Udang Vaname karena berhubungan dengan

23
tingakat stres udang akibat tidak cocoknya lingkungan budidaya dan perubahan
kualitas air pada tambak yang menyebabkan nafsu makan turun dan
mengakibatkan rentannya tubuh udang terhadap penyakit atau turunya stamina
udang yang mengakibatkan kematian karena serangan penyakit. Pengelolaan
kualitas yang baik dan terkendali adalah salah satu cara yang dapat mengurangi
kematian pada budidaya Udang Vaname. Menurut Darmono (1991), menjelaskan
bahwa kualitas air yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan peurunan
produksi dan akibatnya keuntungan yang diperoleh akan menurun dan bahkan
menyebabkan kerugian budidaya Udang Vaname.
Adapun parameter kualitas air yang siap untuk ditebar benur yang
digunakan oleh PT. SWK Unit Bomo C petak C10 dibandingkan dengan dengan
standar yang dikeluarkan oleh Shrimp Club Indonesia (SCI) yang dapat dilihat
pada Tabel 3.

Tabel 3. Parameter Kualitas Air Tebar Pada PT. SWK Unit Bomo C.
Nilai Nilai
No Parameter kualitas air
(menurut SCI) (Petak C9 & C10)
1. Kecerahan 80 - 100 cm 85 cm
2. Warna air Hijau bening Hijau bening
3. pH 8.6 - 8.8 8.7
4. Suhu 25 – 30 °C 26 – 31 °C
5. Salinitas 25 – 29 promill 25 promill
6. Alkalinitas >150 ppm 153 ppm
5 3
7. Total Bakteri <10 CFU/ml 2,4 x 10 CFU/ml
3
8. Total Vibrio <10 CFU/ml 4,6 x 10 CFU/ml

3.8 Pengendalian Hama dan Penyakit


Keberadaan hama dapat mengganggu kelangsungan hidup Udang
Vaname baik secara langsung dan tidak langsung. Hama berupa organisme
dalam ekosistem yang dapat bersifat sebagai pengganggu, perusak atau
pesaing, selain itu juga merupakan carrier (pembawa penyakit). Adapun contoh-
contoh hama yang ada pada tambak Unit Bomo C antara lain, ikan dan udang
liar. Kedua hewan ini tergolong dalam hama pesaing pada ekosistem budidaya
Udang Vaname. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya udang - udang kecil yang
berada pada anco. Meskipun postur tubuhnya yang tidak dapat besar, hanya
berukuran 1 – 3 cm, namun sifatnya mudah untuk berkembang biak dan
jumlahnya yang cukup banyak dapat menghambat pertumbuhan udang dan
mempersempit ruang gerak Udang Vaname. Berdasarkan hasil diskusi
dilapangan bahwa masuknya ikan dan udang liar pada petakan ini dimungkinkan

24
pada saat masih berbentuk telur atau larva sehingga mampu lolos dari proses
filterisasi.
Pada tambak unit bomo C untuk mengurangi atau mencegah timbulnya
populasi hama di petakan tambak sangat sulit. Kecuali dengan penerapan
biosecurity dan proses filterisasi yang tepat. Pada tambak Unit Bomo
Cpengendaliannya dilakukan secara manual, jika terlihat ikan dan udang liar
diambil menggunakan serok atau jaring.
Salah satu pemicu timbulnya penyakit yaitu terjadinya fluktuasi kualitas air
tambak. Jika pengelolaan bakteri (probiotik) kurang sempurna pada saat usia
udang telah mencapai separuh masa siklus (50 hari keatas), maka terjadi
penurunan kualitas air petakan yang diawali dari menumpuknya sampah organik
di dasar tambak. Selain itu menurunnya kualitas sumber air laut dengan
kandungan bakteri vibrio spyang melimpah semakin memicu timbulnya penyakit.
Kualitas air yang menurun mengakibatkan udang menjadi stress dan nafsu
makan menurun sehingga kondisi udang lemah dan daya tahan tubuh menurun
(lemah), pada saat kondisi lemah inilah kesempatan bakteri pathogen dan virus
menyerang udang. Sebab pada kondisi lemah, sistem immune (kekebalan) tubuh
menurun sehingga tidak mampu menangkal serangan dari virus maupun bakteri
pathogen.
Penyakit yang biasa menyerang udang pada tambak PT. SWK Unit Bomo
C yaitu IMNV (Infectious Myonecrosis Virus). Pada kalangan petambak jenis
penyakit IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) ini lebih dikenal dengan “mio”.
Hasil pengamatan dilapangan tanda - tanda udang yang terkena penyakit mio
yaituterlihat lemas dan menempel di tepi tambak, badan berwarna putih susu,
dan warna merah pada ekor merupakan jaringan tubuh yang mati, apabila
moulting bagian ini akan ikut lepas.
Penyakit mio ini paling banyak ditemukan pada udang saat berumur lebih
dari 50 hari. Pada awalnya hanya menyebabkan kematian individu dan akan
menjadi massal jika kualitas airnya tidak segera diperbaiki.

3.9 Panen
Panen yang dilakukan pada PT. SWK Unit Bomo C dilakukan dengan
menggunakan sistem panen parsial dan panen total. Panen parsial dilakukan
dengan menangkap udang menggunakan jala, panen parsial tersebut dilakukan
saat udang berada pada size 70 – 50 dan hasil size ini diketahui setelah

25
dilakukan sampling. Setelah dilakukan panen parsial selanjutnya dilakukan
panen total. Pemanenan total ini dilakukan dengan membuka pintu outlet tambak
sehingga air dapat mengalir ke luar menuju saluran out let tambak. Penangkapan
dilakukan dengan memasang jaring kantong pada pintu out let sehingga udang
yang keluar akan tertampung pada jaring selanjutnya udang yang telah
terperangkap akan diangkat dan dibawa ke tempat sortasi udang.

A B

C D

Gambar 12.Pemanenan tambak unit bomo C di PT. Surya Windu Kartika. (a)
pemanenan parsial menggunakan jala., (b) udang hasil panen diletakan pada
wadah., (c) pengangkutan udang ke atas mobil., (d) pemanenan total dengan
membuka pintu outlet tambak

26
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Dari hasil Praktik Kerja Lapang (PKL-2) yang telah dilaksanakan di
Tambak PT. SWK Unit Bomo Cmulai tanggal 16 September – 13 Oktober 2018
maka dapat ditarik kesimpulan yang berkaitan dengan manajemen pakan yang
dilakukan di PT. SWK Unit Bomo C.
1. Lokasi tambak PT. SWK Unit Bomo C tersebut cukup baik karena dekat
dengan sumber air laut dan air tawar sehingga kebutuhan air dapat
tercukupi, dekat dengan perkampungan sehingga memudahkan dalam
penyediaan tenaga kerja, dekat dengan perusahaan pengolah ikan
terutama perusahaan pembekuan udang sehingga mudah dalam
pemasaran hasil panen.
2. Fasilitas untuk budidaya udang khususnya dalam pengelolaan kualitas air
yang dimiliki oleh PT. SWK Unit Bomo C cukup mamadai dengan
indikator adanya fasilitas laboratorium pengukuran kualitas air yang
lengkap dan masih dalam kondisi yang baik.
3. Dari kegatan manajemen pakan, pemberian pakan dilakukan dengan cara
ditebar secara merata keseluruh bagian tepi tambak atau daerah hidup
udang dengan menggunakan rakit karena habitat udang pada petakan
tambak biasanya pada bagian pinggir petakan. Selain itu pemberian
pakan juga dilakukan dengan menggunakan mesin auto feeder yang
terdapat 1 buah di tiap petakan.
Kegiatan manajemen pakan yang dilakukan di PT. Surya Windu Kartika
meliputi pemberian pakan dilakukan mulai 3 kali sehari sampai 5 kali sehari..
Pemberian pakan dilakukan dengan cara ditebar secara merata keseluruh bagian
tepi tambak atau daerah hidup udang dengan menggunakan rakit karena habitat
udang pada petakan tambak biasanya pada bagian pinggir petakan.Selain itu
pemberian pakan juga dilakukan dengan menggunakan mesin auto feeder yang
terdapat 1 buah di tiap petakan.
Dosis pemberian pakan awal yang diberikan yaitu 1-1,5 kg untuk 100.000
ekor benur, dengan penambahan pakan 500 gram/hari untuk setiap 100.000 ekor
benur selama udang berusia kurang dari 30 hari. Sedangkan setelah udang
berumur lebih dari 30 hari atau setelah dilakukan sampling udang maka
penambahan pakan berdasarkan berat udang yang dilakukan pengontrolan

27
pakan dengan cek anco. Penyebab pakan tidak habis dapat dikarenakan adanya
gangguan pada kualitas air, udang terserang penyakit, udang sedang dalam
keadaan moulting dan kandungan pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan
gizi udang.

4.2 Saran
Dari kegiatan praktik kerja lapang (PKL-2) yang telah dilakukan di PT.
SWK Unit Bomo C penulis dapat memberikan saran agar menjadikan lebih baik.
Adapun saran yang dapat diberikan antara lain:
1. Sebaiknya perhitungan dosis pakan memakai perhitungan yang akurat.
2. Lebih diperhatikan dalam penyimpanan pakan sehingga pakan tetap
terjaga dan terhindar dari bakteri maupun jamur.
3. Waktu dalam pemberian pakan harus sesuai dengan jadwal.
4. Sebaiknya dilakukan penyiponan secara rutin untuk menjaga kualitas air
pada kegiatan budidaya.
5. Untuk mencegah masuknya carier, sebaiknya pada PT. SWK Unit Bomo
C perlu diterapkan Biosecurity secara keseluruhan mulai dari persiapan
petak tambak hingga panen.

28