Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN HASIL DISKUSI

MODUL GINJAL & CAIRAN TUBUH


PEMICU 3

KELOMPOK DISKUSI 1

Ivo Afiani I11112017


Daniel Rychard’s Watopa I1011131023
Andini Puji Lestari I1011141005
Erni I1011141008
Hizki Ervando I1011141018
Bambang Aditya Rahmadani I1011141020
Meiza Ihsan Fakhri I1011141023
Esty Feira Yuliana I1011141033
Syafitri Khadijah Kesuma I1011141049
Adityawarman I1011141061
M. Hammam Faisal F. I1011141066
Anggita Serli Verdian I1011141074

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Pemicu
Tn. Uriko, 55 tahun, datang dengan keluhan susah buang air kecil
(BAK) sejak 2 hari yang lalu. Pasien juga mengaku saat BAK sering
terhenti tiba-tiba, dan keluar tersendat-sendat, sejak 1 bulan yang lalu.
Pasien tidak merasakan demam, dan juga tidak terasa nyeri saat BAK.
Kadang-kadang, pasien juga merasakan tidak mampu menahan saat ingin
BAK. Dan biasanya, ia akan kembali ingin BAK minimal dalam waktu 2
jam kemudian. Pasien sudah berkeluarga selama 20 tahun, dengan satu istri
dan 2 anak yang sudah dewasa. Sejak 2 minggu terakhir, pasien merasakan
libido nya agak menurun. Sehingga ia tidak berkeinginan untuk melakukan
aktivitas seksual dengan istrinya, selama 1 minggu terakhir ini. Riwayat
BAK keluar darah disangkal, riwayat trauma disangkal, serta riwayat BAK
keruh juga disangkal. Pasien merupakan pengidap kencing manis, sejak 10
tahun yang lalu, dan merupakan pengguna insulin.

1.2. Klarifikasi dan Definisi


1. Libido adalah energi psikis yang berasal dari rangsangan insting
biologis atau hasrat seksual1.
2. Insulin adalah hormon protein yang dibentuk dari proinsulin di sel beta
pulau langerhans pankreas1.

1.3. Kata Kunci


1. Tn. Uriko 55 tahun
2. Susah BAK sejak 2 hari
3. BAK sering terhenti tiba-tiba dan keluar tersendat-sendat sejak 1 bulan
4. Ingin BAK setelah 2 jam
5. Tidak demam dan tidak nyeri saat BAK
6. Tidak mampu menahan ingin BAK
7. Libido menurun sejak 2 minggu
8. BAK keluar darah (-), BAK keruh (-), trauma (-)
9. Pengidap kencing manis sejak 10 tahun
10. Pengguna insulin

1.4. Rumusan Masalah


Tn. Uriko 55 tahun seorang pengidap kencing manis mengeluh susah
buang air kecil (BAK) sejak 2 hari yang lalu, BAK sering terhenti dan
tersendat-sendat sejak 1 bulan, tidak mampu ingin menahan BAK dan ingin
kembali BAK setelah 2 jam kemudian, serta penurunan libido sejak 2
minggu.

1.5. Analisis Masalah


Tn. Uriko, 55 th.

Anamnesis Anatomi Fisiologi miksi


Genitalia Pria - sperma

Keluhan lain:
BAK sering Riwayat
Keluhan utama: terhenti, tersendat- penyakit Riwayat
Susah BAK 2 sendat, tidak dapat terdahulu: pengobatan:
hari lalu menahan kencing Diabetes Insulin
per 2 jam, dan Melitus
libido menurun

Pemeriksaan Fisik

Diagnosa BPH

ISK
DD Tumor (Ca)

Pemeriksaan
Penunjang

Tata laksana
1.6. Hipotesis
Tn. Uriko 55 tahun mengalami Benign Prostat Hiperplasia (BPH) dan
diperlukan pemeriksaan penunjang.

1.7. Pertanyaan Diskusi


1. Anatomi
a. Genitalia Pria
b. Prostat
2. Fisiologi
a. Pengeluaran Urin
b. Pengeluaran Sperma
c. Fisiologi Prostat
d. Pengaturan hormon testosteron terhadap libido
3. Histologi Prostat
4. Benign Prostat Hiperplasia (BPH)
a. Definisi
b. Etiologi
c. Patofisiologi
d. Histopatologi
e. Klasifikasi
f. Manifestasi Klinik
g. Faktor Resiko
h. Diagnosis
i. Diagnosis Banding
j. Pemeriksaan Penunjang
k. Komplikasi
l. Prognosis
m. Tatalaksana
n. Pencegahan
5. Apa yang menyebabkan saat buang air kecil (BAK) terhenti tiba-tiba
dan tersendat ?
6. Apa yang menyebabkan seseorang sulit menahan buang air kecil
(BAK) ?
7. Hubungan penyakit Diabetes Mellitus dengan Benign Prostat
Hiperplasia ?
8. Hubungan penurunan libido dengan keluhan yang dialami Tn. Uriko ?
9. Edukasi untuk Tn. Uriko ?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Anatomi
a. Genitalia Pria2
Organa genitalia masculina interna terdiri dari testis, epididimis,
ductus deferens, funiculus spermaticus, dan kelenjar seks tambahan
(kelenjar prostat, vesicular seminalis, dan kelenjar cowper berpasangan).

Gambar 2.1. Organa urogenitalia masculina; dilihat dari sisi kanan2.

Testis dan epididimis termasuk dalam genitalia interna karena


selama perkembangan keduanya direlokasi dari rongga intra-abdominal
ke dalam scrotum bersama-sama dengan lapisan peritoneal (membentuk
cavitas serosa scroti).Genitalia interna adalah organ-organ reproduktif
dan berperan pada produksi, maturasi, dan transpor spermatozoa dan
produksi cairan seminalis.Testis juga menghasilkan hormon seks laki-
laki (testosteron).

Gambar 2.2. Vesica urinaria, prostata, dan penis dengan corpus cavernosum
yang dibuka; dilihat dari ventral.Vesica urinaria dan uretra dibuka; dilihat dari
dorsal2.
Gambar 2.3. Scrotum; dilihat dari ventral2.

b. Prostat3
Prostat merupakan kelenjar berbentuk konus terbalik yang dilapisi
oleh kapsul fibromuskuler, yang terletak disebelah inferior vesika
urinaria, mengelilingi bagian proksimal uretra (uretra pars prostatika),
dan berada disebelah anterior rektum. Bentuknya sebesar buah kenari
dengan berat normal pada orang dewasa kurang lebih 18 gram, dengan
jarak basis ke apex kurang lebih 3 cm, lebar yang paling jauh 4 cm
dengan tebal 2 cm. Kelenjar prostat terbagi menjadi 5 lobus, yaitu lobus
medius, lobus lateralis (2 lobus), lobus anterior, dan lobus posterior.
Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterior, lobus posterior
akan menjadi satu dan disebut lobus medius saja.
Gambar 2.4. Perbedaan aliran urin dari buli-buli pada prostat normal dan
prostat yang mengalami pembesaran3.

Prostat didapatkan membentuk 70% dari unsur kelenjar dan 30%


dari stroma fibromuskular. Penelitian membagi kelenjar prostat dalam
beberapa zona, antara lain adalah: zona perifer, zona sentral, dan zona
transisional. Zona perifer membentuk 70% dari jaringan kelenjar prostat
dan mencakupi bagian posterior dan lateral kelenjar tersebut. Zona
transisional mencakupi 5% hingga 10% daripada jaringan kelenjar
prostat. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona
transisional yang letaknya proximal dari spincter externus dikedua sisi
dari verumontanum. Zona sentral mencakupi 25% dari jaringan kelenjar
prostat dan membentuk konus sekitar duktus ejakulatorius sehingga ke
basis kandung kemih. Prostat mempunyai kurang lebih 20 duktus yang
bermuara dikanan dari verumontanum dibagian posterior dari uretra
pars prostatika. Di sebelah depan didapatkan ligamentum pubo
prostatika, disebelah bawah ligamentum triangulare inferior dan
disebelah belakang didapatkan fascia denonvilliers. Fascia denonvilliers
terdiri dari 2 lembar, lembar depan melekat erat dengan prostat dan
vesika seminalis, sedangkan lembar belakang melekat secara longgar
denganfascia pelvis dan memisahkan prostat dengan rektum. Antara
fascia endopelvic dan kapsul sebenarnya dari prostat didapatkan
jaringan peri prostat yang berisi pleksus prostatovesikal. BPH sering
terjadi pada lobus lateralis dan lobus medialis karena mengandung
banyak jaringan kelenjar, tetapi tidak mengalami pembesaran pada
bagian posterior daripada lobus medius (lobus posterior) yang
merupakan bagian tersering terjadinya perkembangan suatu keganasan
prostat. Sedangkan lobus anterior kurang mengalami hiperplasi karena
sedikit mengandung jaringan kelenjar.

2.2. Fisiologi
a. Pengeluaran Urin4
Selain memicu refleks berkemih, pengisian kandung kemih juga
menyadarkan yang bersangkutan akan keinginan untuk berkemih.
Persepsi penuhnya kandung kemih muncul sebelum sfingter eksternus
secara refleks melemas, memberi peringatan bahwa miksi akan segera
terjadi. Akibatnya, kontrol volunter berkemih, yang dipelajari selama
toilet training pada masa anak-anak dini, dapat mengalahkan refleks
berkemih sehingga pengosongan kandung kemih dapat berlangsung
sesuai keinginan yang bersangkutan dan bukan ketika pengisian
kandung kemih pertama kali mengaktifkan reseptor regang. Jika waktu
refleks miksi tersebut dimulai kurang sesuai untuk berkemih, maka
yang bersangkutan dapat dengan sengaja mencegah pengosongan
kandung kemih dengan mengencangkan sfingter eksternus dan
diafragma pelvis.
Impuls eksitatorik volunter dari korteks serebri mengalahkan sinyal
inhibitorik refleks dari reseptor regang ke neuron-neuron motorik yang
terlibat (keseimbangan relatif PPE dan PPI) sehingga otot-otot ini tetap
berkontraksi dan tidak ada urin yang keluar. Berkemih tidak dapat
ditahan selamanya. Karena kandung kemih terus terisi maka sinyal
refleks dari reseptor regang meningkat seiring waktu. Akhirnya, sinyal
inhibitorik refleks ke neuron motorik sfingter eksternus menjadi
sedemikian kuat sehingga tidak lagi dapat diatasi oleh sinyal eksitatorik
volunter sehingga sfingter melemas dan kandung kemih secara tak
terkontrol mengosongkan isinya.

Gambar 2.5. Refleks dan kontrol volunter berkemih4

b. Pengeluaran Sperma4
Tindakan seks pria melibatkan dua komponen yaitu ereksi
(mengerasnya penis yang normalnya lunak agar penis dapat masuk ke
dalam vagina) dan ejakulasi (penyemprotan kuat semen ke dalam uretra
dan keluar dari penis). Siklus respons seks mencakup respon fisiologik
yang lebih luas yang dapat dibagi menjadi 4 fase :
1) Fase eksitasi yang mencakup dan meningkatnya perasaan seksual
2) Fase plato yang ditandai oleh intensifikasi respons – respons ini,
ditambah respon yang lebih menyeluruh misalnya peningkatan
kecepatan jantung, tekanan darah, pernapasan, dan ketegangan otot.
3) Fase orgasme yang mencakup ejakulasi serta respon lain yang
menjadi puncak eksitasi seksual dan secara kolektif dialami sebagai
kenikmatan fisik yang intens.
4) Fase resolusi yaitu kembalinya genitalia dan sistem tubuh ke
keadaan sebelum rangsangan.
Ereksi dicapai melalui pembengkakan penis oeh pembuluh darah.
Penis hampir seluruhnya terdiri dari jaringan erektil yang dibentuk oleh
tiga komponen yang terdapat di sepanjang organ ini. Adanya
rangsangan seks arteriol – arteriol yang berada di penis secara refleks
akan melebar dan jaringan erektil akan terisi oleh darah sehingga penis
bertambah besar dan panjang serta menjadi kaku. Vena – vena yang
mengalirkan darah dari jaringan erektil penis tertekan secara mekanis
oleh pembengkakan dan ekspansi rongga-rongga vaskular ini sehingga
aliran keluar vena berkurang dan hal ini ikut berkontribusi dalam
penumpukan darah, atau vasokengesti.
Refleks Ereksi adalah suatu refleks spinal yang dipicu oleh stimulasi
mekanoreseptor yang sangat peka di glans penis,yang menutupi ujung
penis. Di medulla spinalis bagian bawah ditemukan adanya pusat
pembentuk ereksi, melalui pusat ini stimulasi taktil pada glans akan
secara refleks memicu peningkatan aktivitas vasodilatasi parasimpatis
dan penurunan aktivitas vasokonstriksi simpatis ke arteriol – arteriol
penis. Akibatnya darah vasodilatasi hebat dan cepat arteriol – arteriol
tersebut dan ereksi.
Stimulus parasimpatis menyebabkan relaksasi otot polos arteriol
penis oleh nitrat oksida, yang menyebabkan vasodilatasi arteriol sebagai
respons terhadap perubahan jaringan dibagian tubuh lain. Pada saat
yang sama, impuls parasimpatis mendorong sekresi mukus pelumas dari
kelenjar bulbouretra dan kelenjar uretra sebagai persiapan untuk koitus.
Ejakulasi merupakan komponen kedua pada tindakan seks pria.
Ejakulasi adalah suatu refleks spinal yang secara keseluruhan terjadi
dalam dua fase yaitu fase emisi dan fase ekspulsi.
1) Fase emisi, impuls simpatis menyebabkan rangkaian kontraksi otot
polos di prostat, saluran reproduksi, dan vekua seminalis. Aktivitas
kontraktil ini mengalirkan cairan prostat, kemudian sperma, dan
akhirnya cairan vesikula seminalis (secara kolektif disebut semen) ke
dalam uretra. Selama waktu ini, sfingter di leher kandung kemih
tertutup erat untuk mencegah semen masuk ke kandung kemih dan
urin keluar bersama dengan ejakulat melalui uretra.
2) Fase ekspulsi merupakan pengisian uretra oleh semen memicu
impuls saraf yang mengaktifkan serangkaian otot rangka di pangkal
penis. Kontraksi ritmik otot – otot ini terjadi pada interval 0,8 detik
dan meningkatkan tekanan didalam penis, memaksa semes keluar
melalui uretra ke eksterior.
3) Fase orgasme, kontraksi ritmik yang terjadi selama fase ekspulsi
semen disertai oleh denyut ritmik involunter otot – otot panggul dan
memuncaki intensitas respons tubuh keseluruhan yang naik selama
fase – fase sebelumnya. Bernapas berat, kecepatan jantung hingga
180 kali permenit kontraksi otot rangka generalisata yang mencolok,
dan peningkatan emosi merupakan cirinya. Respon panggul dan
sistemik yang memuncaki tindakan seks ini berkaitan dengan rasa
nikmat intens yang ditandai oleh perasaan lepas dan puas.
4) Fase resolusi, impuls vasokonstriktor memperlambat aliran darah ke
dalam penis,menyebabkan ereksi mereda. Kemudian terjadi relaksasi
dalam, sering disertai rasa lelah, tonus otot kembali normal, sistem
kardiovaskular dan pernapasan kembali ke tingkat sebelum
rangsangan.
c. Fisiologi Prostat
Kelenjar prostat menyekresikan cairan encer seperti susu, yang
mengandung kalsium, ion sitrat, ion fosfat, enzim pembekuan dan
profibrinolisin. Selama emisi, kapsul kelenjar prostat berkontraksi
bersamaan dengan bersamaan dengan kontraksi vas deferens sehingga
cairan encer seperti susu yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat
menambah volume semen. Sifat cairan prostat yang sedikit basa
mungkin penting untuk keberhasilan fertiliasi ovum, karena cairan vas
deferens relatif asam akibat adanya asam sitrat dan hasil akhir
metabolisme sperma dan akibatnya, akan menghambat fertilisasi
sperma. Selain itu, sekret vagina bersifat asam (dengan pH 3,5 sampai
4,0) sperma tidak dapat bergerak optima sampai pH sekitarnya
meningkat menjadi sekitar 6,0 smpai 6,5. Akibatnya, cairan prostat
yang sedikit basa mungkin dapat menetralkan sifat asam cairan
seminalis lainya selama ejakulasi dan juga meningkatkan motilitas
sperma5.
Kelenjar prostat mengeluarkan cairan basa yang menetralkan sekresi
vagina yang asam, suatu fungsi penting karena sperma lebih dapat
hidup di lingkungan yang sedikit basa; dan (2) menghasilkan enzim
pembekuan dan fibrinolisin. Enzim pembekuan prostat bekerja pada
fibrinogendari vesikula seminalis untuk menghasilkan fibrin, yang
"membekukan" semen sehingga sperma yang diejakulasikan tetap
berada di saluran reproduksi wanita ketika penis dikeluarkan. Segera
sesudahnya, bekuan ini diurailan oleh fibrinolisin, suatu enzim pengurai
fibrin dari prostat sehingga sperma dapat bergerak bebas di dalam
saluran reproduksi wanita4.

d. Pengaturan Hormon Testosteron terhadap Libido6


Testosteron adalah zat androgen utama yang disintesis dalam testis,
ovarium, dan anak ginjal. Testosteron (C19H28O2) adalah molekul yang
dibentuk dari atom-atom karbon, hidrogen dan oksigen. Testosteron
adalah hormon steroid dari kelompok androgen. Penghasil utamanya
adalah testis pada jantan dan indung telur pada wanita. Sel-sel Leydig
dari testis distimulasi oleh LH untuk menghasilkan testosteron
sebanyak 2,5-11 mg sehari. Produksi testosteron mencapai puncaknya
sekitar usia 25 tahun, lalu menurun drastis pada usia 40 tahun . DHEA
(dehidro-epi-androsteron) dan androstendion merupakan prekursor
testosteron yang dibentuk oleh anak ginjal.
Testosteron dihasilkan oleh hormon LH yang dilepaskan kelenjar
pituitari. Tetapi, hormon LH dikendalikan oleh testosteron sebagaimana
testosteron dikendalikan oleh LH. Saat jumlahnya di dalam darah
meningkat, molekul testosteron melakukan tekanan pada kelenjar
pituitari yang menyebabkan kelenjar itu menghentikan produksi LH.
Hanya ketika jumlah testosteron menurun produksi LH dimulai lagi.
LH yang dihasilkan mengaktifkan zakar dan memerintahkan produksi
tambahan agar menaikkan jumlah testosteron.
Testosteron memiliki peranan penting pada kesehatan. Fungsinya
adalah meningkatkan libido, fungsi imun, energi, dan perlindungan dari
osteoporosis. Pengaruh testosteron bagi pria lebih besar sebab pria
memproduksi hormon testosteron lebih banyak, yakni sekira 20 kali
lipat dari testosteron pada wanita. Bagi pria, testosteron merupakan
hormon seks yang punya peran penting dalam fungsi seksual, produksi
sperma, pembentukan otot, dan intonasi suara.
Kadar testosteron yang normal adalah berada di kisaran 12 nmol/1
sampai 40 nmol/1. Jika kurang dari itu, maka mengidap sindrom
kekurangan testosteron (Testosterone Deficiency Syndrome/TDS). Pada
pria, testosteron menyebabkan otot tubuh pria bisa terbentuk dan
tumbuhnya rambut di sekitar tubuh, juga meningkatkan libido dan
agresivitas.
Rendahnya kadar hormon ini menyebabkan seseorang mengalami
kelelahan kronis, gangguan ereksi, depresi, dan postur tubuh yang
kurang tegap maupun berkurangnya kemampuan atletik. Kekurangan
testosteron dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan turunnya
gairah seks, dan kelebihan testosteron dapat meningkatkan gairah seks,
baik pada pria maupun wanita. Namun, kadar testosteron tidak begitu
mempengaruhi daya tarik dan gairah seks saat mereka berada pada
batas rata-rata. Gairah seks cenderung dipengaruhi oleh perangsang dari
luar (gambar, suara, dan sentuhan) daripada oleh variasi hormon seks,
kecuali dalam beberapa kasus langka. Pada pria, terlalu sedikit
testosteron dapat menyebabkan sulit mendapat atau menjaga ereksi,
namun tidak jelas apakah kekurangan testosteron mempengaruhi fungsi
seksual wanita selain menurunkan gairah.

2.3. Histologi Prostat7


Kelenjar tambahan saluran reproduksi pria menghasilkan secret yang
ditambahkan ke dalam sperma selama ejakulasi untuk menghasilkan semen
dan penting untuk reproduksi. Salah satu yang merupakan kelenjar genital
tambahan pada pria yaitu kelenjar prostat. Kelenjar prostat merupakan suatu
organ padat yang mengelilingi uretra di bawah kandung kemih. Prostat
merupakan suatu kumpulan 30-50 kelenjar tubuloalveolar yang bercabang
kesemuanya dikelilingi oleh stroma fibromuskular padat yang dilapisi oleh
suatu simpai. Kelenjar tersebut tersusun berupa lapisan konsentris di sekitar
uretra yaitu berupa lapisan internal kelenjar mukosa, lapisan intermedia
kelenjar submukosa, dan lapisan perifer dengan kelenjar utama prostat.
Duktus dari setiap kelenjar dapat bersatu tetapi kesemuanya bermuara
langsung ke dalam uretra pars prostatica, yang menembus bagian pusat
prostat. Prostat memiliki tiga zona yang sesuai dengan lapisan kelenjar,
yaitu:
1. Zona transisi
Zona transisi menempati sekitar 5% volume prostat, mengelilingi
uretra prostatica, dan memiliki kelenjar mukosa yang bermuara langsung
ke dalam uretra.
2. Zona sentral
Zona sentral menempati 25% volume kelenjar dan memiliki kelenjar
submukosa dengan duktus yang lebih panjang.
3. Zona perifer
Zona perifer menempati sekitar 70% prostat dan memiliki kelenjar
utama dengan duktus yang lebih panjang. Kelenjar area ini merupakan
tempat tersering timbulnya peradangan dan kanker.
Kelenjar tubuloalveolar prostat dibentuk oleh selapis epitel silindris
atau epitel bertingkat silindris. Getah kelenjar prostat mengandung
berbagai glikoprotein dan enzim dan menyimpan getah ini untuk
dikeluarkan selama ejakulasi. Sejumlah besar stroma fibromuskular
mengelilingi kelenjar tersebut. Prostat dikelilingi oleh suatu fibroelastis.
Septa dari simpai ini mempenetrasi kelenjar dan bercabang menjadi
lobus-lobus tersendiri. Seperti vesicula seminalis, struktur, dan fungsi
prostat bergantung pada kadar testosteron.

Gambar 2.6. Kelenjar prostat7


(a): Prostat memiliki stroma fibromuskular padat (S) dengan sejumlah besar
kelenjar tubuloalveolar (G) yang terbenam di dalamnya. Panah menunjukkan
tempat konkremen berkapur yang telah menghilang selama pemotongan sediaan.
(b): Mikrograf sebuah kelenjar termasuk konkremen corpus amylaceum (CA),
memperlihatkan epitel sekretoris selapis epitel kolumnar bertingkat (E) yang
dikelilingi oleh lamina propria (LP), yang sebaliknya dikelilingi otot polos (M).
(c): Pembesaran kuat memperlihatkan sifat lamelar sebuah corpus amylaceum
(CA) dan epitel kolumnar yang dilandasi oleh sebaran lamina propria.
2.4. Benign Prostat Hiperplasia (BPH)
a. Definisi8
BPH (Benign Prostate Hyperplasia) adalah pembesaran jinak dari
kelenjar prostat. Penyebab dari BPH tidak diketahui secara jelas, tetapi
beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat
kaitannya dengan peningkatan kadar Dihydrotestoteron (DHT)dan
proses aging (penuaan).
Hiperplasia prostat jinak adalah pembesaran kelenjar prostat
nonkanker. Istilah Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) menjelaskan
proses proliferasi elemen seluler pada prostat, suatu pembesaran
prostat, atau disfungsi berkemih akibat pembesaran prostat dan bladder
outlet obstruction.
BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran
memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran
urin dengan cara menutupi orifisium uretra.

b. Etiologi9
Hingga sekarang, penyebab BPH masih belum dapat diketahui
secara pasti, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa BPH erat
kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan
proses penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab
timbulnya hiperplasia prostat:
1. Teori dihidrotestosteron
Pertumbuhan kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon
testosteron. Dimana pada kelenjar prostat, hormon ini akan dirubah
menjadi metabolit aktif dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan
enzim 5 α – reduktase. DHT inilah yang secara langsung memicu m-
RNA di dalam sel-sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein
growth factor yang memacu pertumbuhan kelenjar prostat. Pada
berbagai penelitian, aktivitas enzim 5 α – reduktase dan jumlah
reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini menyebabkan sel-
sel prostat menjadi lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi
sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal.
2. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron
Pada usia yang makin tua, kadar testosteron makin menurun,
sedangkan kadar estrogen relatif tetap, sehingga perbandingan
estrogen : testosteron relatif meningkat. Estrogen di dalam prostat
berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan
cara meningkatkan sensitivitas sel-sel prostat terhadap rangsangan
hormon androgen, meningkatkan jumlah reseptor androgen dan
menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis). Akibatnya,
dengan testosteron yang menurun merangsang terbentuknya sel-sel
baru, tetapi sel – sel prostat yang telah ada 4 mempunyai umur yang
lebih panjang sehingga massa prostat menjadi lebih besar.
3. Interaksi stroma-epitel
Diferensiasi dan pertumbuhan sel-sel epitel prostat secara tidak
langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator
(growth factor). Setelah sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT
dan estradiol, sel – sel stroma mensintesis suatu growth factor yang
selanjutnya mempengaruhi sel stroma itu sendiri, yang menyebabkan
terjadinya proliferasi sel – sel epitel maupun stroma
4. Berkurangnya kematian sel prostat.
Apoptosis sel pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik
homeostatis kelenjar prostat. Pada jaringan nomal, terdapat
keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel.
Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang apoptosis menyebabkan
jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan makin meningkat sehingga
mengakibatkan pertambahan massa prostat. Diduga hormon
androgen berperan dalam menghambat proses kematian sel karena
setelah dilakukan kastrasi, terjadi peningkatan aktivitas kematian sel
kelenjar prostat.
5. Teori sel stem
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu
dibentuk sel – sel baru. Dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem,
yaitu sel yang mempunyai kemampuan berproliferasi sangat
ekstensif. Kehidupan sel ini bergantung pada hormon androgen,
dimana jika kadarnya menurun (misalnya pada kastrasi),
menyebabkan terjadinya apoptosis. Sehingga terjadinya proliferasi
sel-sel pada BPH diduga sebagai ketidaktepatan aktivitas sel stem
sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel
epitel.

c. Patofisiologi
Hiperplasia prostat jinak atau Benign prostatic hyperplasia
merupakan kelainan yang sangat sering terjadi. Pada laki – laki berumur
40 tahun BPH terdapat dalam jumlah yang bermakna dan frekuensinya
bertambah secara progresif sejalan dengan umur, mencapai 90% pada
dekade kedelapan. Pada BPH terdapat proliferasi unsur stroma dan
epitel yang mengakibatkan pembesaran kelenjar dan kadang-kadang
obstruksi saluran kemih. Meskipun belum diketahui penyebab BPH
secara menyeluruh, pertumbuhan berlebihan unsur stroma dan kelenjar
yang bergantung kepada androgen mempunyai peran sentral.
Dihidrotestosteron (DHT) adalah mediator pokok pada pertumbuhan
prostat yang disintesis oleh prostat dari testosteron yang bersirkulasi
oleh enzim 5α-reduktase, tipe 2. DHT mengikat reseptor androgen di
inti,yang mengatur ekspresi gen yang menunjang pertumbuhan dan
kehidupan epitel prostat serta se stroma. Meskipun testosteron juga
dapat mengikat androgen dan merangsang pertumbuhan, DHT 10 kali
lebih kuat10.
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra pars
prostatika dan akan menghambat aliran urine. Keadaan ini
menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat
mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna
melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus – menerus ini menyebabkan
perubahan anatomik dari buli – buli berupa hipertrofi otot detrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli – buli. Fase
penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi. Perubahan struktur
pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran
kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang
dahulu dikenal dengan gejala – gejala prostatismus. Dengan semakin
meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase
dekompensasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi
sehingga terjadi retensi urin. Tekanan intravesikal yang semakin tinggi
akan diteruskan ke seluruh bagian bulibuli tidak terkecuali pada kedua
muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan
aliran balik urin dari buli – buli ke ureter atau terjadi refluks
vesicoureter.Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan
hidroureter, hidronefrosis,bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal
ginjal11.
Pada BPH terdapat dua komponen yang berpengaruh untuk
terjadinya gejala yaitu komponen mekanik dan komponen dinamik.
Komponen mekanik ini berhubungan dengan adanya pembesaran
kelenjar periuretra yang akan mendesak uretra pars prostatika sehingga
terjadi gangguan aliran urine (obstruksi infra vesikal) sedangkan
komponen dinamik meliputi tonus otot polos prostat dan kapsulnya,
yang merupakan alpha adrenergik reseptor. Stimulasi pada alpha
adrenergik reseptor akan menghasilkan kontraksi otot polos prostat
ataupun kenaikan tonus. Komponen dinamik ini tergantung dari
stimulasi syaraf simpatis, yang juga tergantung dari beratnya obstruksi
oleh komponen mekanik11.
d. Histopatologi
Patologis BPH ditandai dengan pertumbuhan kelenjar hiperplastik
dan stroma yang bergabung menjadi nodul mikroskopis dan
makroskopis di kelenjar prostat. Ada lima jenis umum dari nodul BPH,
yaitu Fibromyoadenomatous (umum), Fibroadenomatous, Fibrous/
fibrovaskular, Fibromuskular, dan Muskular (jarang). Umumnya BPH
terdiri dari kelenjar (mengandung sebagian besar sel kelenjar prostat),
campuran (mengandung stroma dan sel epitel kelenjar), dan stroma
(yang hanya berisi sel stroma). Nodul awal yang berkembang pada BPH
ditemukan di daerah periuretra dan biasanya stroma, terdiri dari
jaringan fibrosa dan beberapa otot polos. Pada beberapa kasus, nodul
BPH dapat ditemukan di zona perifer, yang dapat teraba dengan
pemeriksaan colok dubur, dan biasanya terdiri dari unsur-unsur kelenjar
epitel. Kurangnya unsur kelenjar di nodul stroma BPH, dan pengamatan
perbedaan zona di awal nodul BPH menyebabkan etiologi yang berbeda
dari nodul stroma dibandingkan dengan BPH komponen kelenjar.
Ketika zona transisi membesar secara makroskopik, karena
pertumbuhan BPH nodular, keadaan ini dapat menghambat aliran urin
melalui uretra prostat dan karenanya menjadi LUTS12.

Gambar 2.7. Histopatologi Benigna Prostat Hiperplasia10.


e. Klasifikasi13
World Health Organization (WHO) membuat pedoman untuk
melakukan pemantauan berkala derajat gangguan berkemih dan
sekaligus menentukan terapi yang disebut WHO PSS (WHO Prostate
Symptom Score). Terapi non bedah dianjurkan bila selama pengamatan
WHO PSS tetap dibawah 15. Apabila dalam pemantauan didapatkan
WHO PSS lebih dari 25 atau bila timbul gejalaobstruksi, maka
dianjurkan untuk melakukan terapi pembedahan.
Di dalam praktek, klasifikasi derajat hiperplasia prostat digunakan
untuk menentukan terapi. Hiperplasia prostat derajat 1 biasanya belum
memerlukan tindakan bedah dan dapat diberikan terapi konservatif
misalnya dengan penghambat adrenoreseptor alfa seperti alfazonsin,
prazosin dan terazosin.
Hiperplasia prostat derajat II merupakan indikasi untuk melakukan
pembedahan. Biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui urethra
(transurethral resection of prostate (TURP)). Namun, kadangkala,
pada derajat ini dapat dicoba dengan terapi konservatif
Pada hiperplasia prostat derajat III, tindakan TURP dapat dikerjakan
oleh ahli bedah yang cukup berpengalaman. Namun, apabila prostat
diperkirakan sudah berukuran cukup besarsehingga reseksi tidak akan
selesai dalam satu jam. Sebaiknya dilakukan operasi terbuka, kemudian
prostat dienukleasi dari dalam simpainya.
Pada hiperplasia prostat derajat IV, tindakan pertama yang harus
dikerjakan telah membebaskan penderita dari retensi urin total dengan
memasang kateter atau sistostomi. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut untuk melengkapi diagnosis, kemudian dilakukan terapi
definitif dengan TURP atau pembedahan terbuka.

f. Manifestasi Klinik14
Berikut gejala umum dari BPH, yaitu:
1. Sering kencing
2. Sulit kencing
3. Nyeri saat berkemih
4. Urine berdarah
5. Nyeri saat ejakulasi
6. Cairan ejakulasi berdarah
7. Gangguan ereksi
8. Nyeri pinggul atau punggung

Gejala BPH dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu:


1. Gejala obstruktif
Gejala obstruktif meliputi hesitancy, pancaran kencing lemah
(loss of force), pancaran kencing terputus-putus (intermittency), tidak
lampias saat selesai berkemih (sense of residual urine), rasa ingin
kencing lagi sesudah kencing (double voiding) dan keluarnya sisa
kencing pada akhir berkemih (terminal dribbling).
2. Gejala iritatif
Gejala iritatif adalah frekuensi kencing yang tidak normal
(polakisuria), terbangun di tengah malam karena sering kencing
(nocturia), sulit menahan kencing (urgency), dan rasa sakit waktu
kencing (dysuria), kadang juga terjadi kencing berdarah (hematuria).
Adapun tanda klinis terpenting BPH adalah ditemukannya
pembesaran konsistensi pada pemeriksaan colok dubur / Digital
Rectal Examination (DRE).Apabila teraba indurasi atau terdapat
bagian yang teraba keras perlu dipikirkan kemungkinan prostat
stadium 1 dan 2.

g. Faktor Resiko8
1. Kadar Hormon
Kadar hormon testosteron yang tinggi berhubungan dengan
peningkatan risiko BPH. Testosteron akan diubah menjadi androgen
yang lebih poten yaitu dihydrotestosteron (DHT) oleh enzim 5a-
reductase, yang memegang peran penting dalam proses pertumbuhan
sel – sel prostat.
2. Usia
Pada usia tua terjadi kelemahan umum termasuk kelemahan pada
buli (otot detrusor) dan penurunan fungsi persarafan. Perubahan
karena pengaruh usia tua menurunkan kemampuan buli-buli
dalammempertahankan aliran urin pada proses adaptasi oleh adanya
obstruksi karena pembesaran prostat, sehingga menimbulkan gejala.
Testis menghasilkan beberapa hormon seks pria, yang secara
keseluruhan dinamakan androgen. Hormon tersebut mencakup
testosteron, dihidrotestosteron dan androstenesdion. Testosteron
sebagian besar dikonversikan oleh enzim 5-alfa-reduktase menjadi
dihydrotestosteron yang lebih aktif secara fisiologis di jaringan
sasaran sebagai pengatur fungsi ereksi.
Tugas lain testosteron adalah pemacu libido, pertumbuhan otot
dan mengatur deposit kalsium di tulang. Sesuai dengan pertambahan
usia, kadar testosteron mulai menurun secara perlahan pada usia 30
tahun dan turun lebih cepat pada usia 60 tahun keatas.
3. Ras
Orang dari ras kulit hitam memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk
terjadi BPH dibanding ras lain. Orang – orang Asia memiliki
insidensi BPH paling rendah.
4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga pada penderita BPH dapat meningkatkan risiko
terjadinya kondisi yang sama pada anggota keluarga yang lain.
Semakin banyak anggota keluarga yang mengidap penyakit ini,
semakin besar risiko anggota keluarga yang lain untuk dapat terkena
BPH. Bila satu anggota keluarga mengidap penyakit ini, maka risiko
meningkat 2 kali bagi yang lain. Bila 2 anggota keluarga, maka
risiko meningkat menjadi 2 – 5 kali.
5. Obesitas
Obesitas akan membuat gangguan pada prostat dan kemampuan
seksual, tipe bentuk tubuh yang mengganggu prostat adalah tipe
bentuk tubuh yang membesar di bagian pinggang dengan perut
buncit, seperti buah apel. Beban di perut itulah yang menekan otot
organ seksual, sehingga lama-lama organ seksual kehilangan
kelenturannya, selain itu deposit lemak berlebihan juga akan
mengganggu kinerja testis.
Pada obesitas terjadi peningkatan kadar estrogen yang
berpengaruh terhadap pembentukan BPH melalui peningkatan
sensitisasi prostat terhadap androgen dan menghambat proses
kematian sel – sel kelenjar prostat. Pola obesitas pada laki-laki
biasanya berupa penimbunan lemak pada abdomen. Salah satu cara
pengukuran untuk memperkirakan lemak tubuh adalah teknik indirek,
di antaranya yang banyak dipakai adalah Body Mass Indeks (BMI)
dan waist to hip ratio (WHR). BMI diukur dengan cara berat badan
(kg) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (m). Interpretasinya (WHO)
adalah overweight.
6. Pola diet
Kekurangan mineral penting seperti seng, tembaga, selenium
berpengaruh pada fungsi reproduksi pria. Yang paling penting adalah
seng, karena defisiensi seng berat dapat menyebabkan pengecilan
testis yang selanjutnya berakibat penurunan kadar
testosteron.makanan tinggi lemak dan rendah serat juga membuat
penurunan kadar testosteron.
7. Aktivitas Seksual
Kelenjar prostat adalah organ yang bertanggung jawab untuk
pembentukan hormon laki-laki. BPH dihubungkan dengan kegiatan
seks berlebihan dan alasan kebersihan. Saat kegiatan seksual,
kelenjar prostat mengalami peningkatan tekanan darah sebelum
terjadi ejakulasi. Jika suplai darah ke prostat selalu tinggi, akan
terjadi hambatan prostat yang mengakibatkan kalenjar tersebut
bengkak permanen. Seks yang tidak bersih akan mengakibatkan
infeksi prostat yang mengakibatkan BPH. Aktivitas seksual yang
tinggi juga berhubungan dengan meningkatnya kadar hormon
testosteron.
8. Kebiasaan merokok
Nikotin dan konitin (produk pemecahan nikotin) pada rokok
meningkatkan aktifitas enzim perusak androgen, sehingga
menyebabkan penurunan kadar testosteron.
9. Kebiasaan minum-minuman beralkohol
Konsumsi alkohol akan menghilangkan kandungan zink dan
vitamin B6 yang penting untuk prostat yang sehat. Zink sangat
penting untuk kelenjar prostat. Prostat menggunakan zink 10 kali
lipat dibandingkan dengan organ yang lain. Zink membantu
mengurangi kandungan prolaktin di dalam darah. Prolaktin
meningkatkan penukaran hormon testosteron kepada DHT.
10. Olah raga
Pria yang tetap aktif berolahraga secara teratur, berpeluang lebih
sedikit mengalami gangguan prostat, termasuk BPH. Dengan aktif
olahraga, kadar dihidrotestosteron dapat diturunkan sehingga dapat
memperkecil risiko gangguan prostat. Selain itu, olahraga akan
mengontrol berat badan agar otot lunak yang melingkari prostat tetap
stabil. Olahraga yang dianjurkan adalah jenis yang berdampak ringan
dan dapat memperkuat otot sekitar pinggul dan organ seksual.yang
baik apabila dilakukan 3 kali dalam seminggu dalam waktu 30 menit
setiap berolahraga, olahraga yang dilakukan kurang dari 3 kali dalam
seminggu terdapat sedikit sekali perubahan pada kebugaran fisik
tetapi tidak ada tambahan keuntungan yang berarti bila latihan
dilakukan lebih dari 5 kali dalam seminggu.
11. Penyakit Diabetes Mellitus
Laki-laki yang mempunyai kadar glukosa dalam darah > 110
mg/dL mempunyai risiko tiga kali terjadinya BPH, sedangkan
untuk laki-laki dengan penyakit Diabetes Mellitus mempunyai
risiko dua kali terjadinya BPH dibandingkan dengan laki-laki
dengan kondisi normal.

h. Diagnosis9,15,16
Diagnosis Benign Prostat Hiperplasia dapat ditegakkan melalui:
1. Anamesis : adanya gejala obstruktif dan gejala iritatif
2. Pemeriksaan fisik : terutama colok dubur : hyperplasia prostat teraba
sebagai prostat yang membesar, konsentrasi kenyal, permukaan rata,
asimetri dan menonjol ke dalam rektum. Semakin berat derajat
hyperplasia prostat batas atas semakin sulit untuk diraba.
3. Pemeriksaan laboratorium : berperan dalam menentukan ada
tidaknya komplikasi.
Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan buli-buli yang penuh
dan teraba massa kistik si daerah supra simpisis akibat retensi urin.1
Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Examination (DRE)
merupakan pemeriksaan fisik yang penting pada BPH, karena dapat
menilai tonus sfingter ani, pembesaran atau ukuran prostat dan
kecurigaan adanya keganasan seperti nodul atau perabaan yang keras.
Pada pemeriksaan ini dinilai besarnya prostat, konsistensi, cekungan
tengah, simetri, indurasi, krepitasi dan ada tidaknya nodul.
Colok dubur pada BPH menunjukkan konsistensi prostat kenyal,
seperti meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris, dan tidak
didapatkan nodul. Sedangkan pada karsinoma prostat, konsistensi
prostat keras dan teraba nodul, dan mungkin antara lobus prostat tidak
simetri.
Gambar 2.8. Pemeriksaan colok dubur15.

i. Diagnosis Banding17
Kondisi obstruksi saluran kemih bawah, yang menyebabkan
resistensi uretra meningkat disebabkan oleh penyakit seperti
hyperplasia prostat jinak atau ganas, atau kelainan yang menyumbatkan
uretra seperti uretralitiasis, urethritis akut atau kronik, striktur urethra,
atau kekakuan leher kandung kemih yang mengalami fibrosis, batu
saluran kemih, prostatitis akut atau kronis dan karsinoma prostat
merupakan antara diagnosa banding apabila mendiagnosa pasien BPH.
Kandung kemih neuropati, yang disebabkan oleh kelainan neurologik,
neuropati perifer, diabetes melitus, dan alkoholisme menjadi antara
diagnose banding BPH. Obstruksi fungsional seperti disenergi detrusor-
sfingter terganggunya koordinasi antara kontraksi detrusor dengan
relaksasi sfingter juga merupakan diagnosa banding BPH.

j. Pemeriksaan Penunjang
1. Endapan urin18
Untuk memeriksa unsur-unsur pada endapan urin ini diperlukan
pemeriksaan sedimen urin. Pemeriksaan tersebut merupakan salah
satu dari tiga jenis pemeriksaan rutin urin yaitu pemeriksaan
makroskopis, pemeriksaan miskroskopis (pemeriksaan sedimen) dan
pemeriksaan kimia urin. Pada pemeriksaan makroskopis yang
diperiksa adalah volume, warna, kejernihan, berat jenis, bau dan pH
urin. Pemeriksaan kimia urin dipakai untuk pemeriksaan pH, protein,
glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit.
Pada BPH sendiri, unsur sedimen yang paling banyak terdapat
antara lain adalah eritrosit, leukosit, dan bakteri. Keberadaan dari
endapan urin ini mengiritasi dan dapat menyebabkan luka pada
dinding kandung kemih sehingga menyebabkan terjadinya
perdarahan mukosa. Hal ini lebih lanjut terlihat pada terjadinya
hematuria makros (darah pada urin). Terkumpulnya endapan urin
yang lebih banyak dapat menyebabkan obstruksi aliran kemih
sehingga lama kelamaan menjadi tidak dapat mengeluarkan urin
sama sekali.
b. Urinalisis19
Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkapkan adanya leukosituria
dan hematuria. Benign Prostate Hyperplasia yang sudah
menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih, batu buli-buli atau
penyakit lain yang menimbulkan keluhan miksi, yaitu: karsinoma
buli-buli insitu atau striktur uretra, pada pemeriksaan urinalisis
menunjukkan adanya kelainan. Untuk itu pada kecurigaan adanya
infeksi saluran kemih perlu dilakukan pemeriksaan kultur urin, dan
kalau terdapat kecurigaan adanya karsinoma buli-buli perlu
dilakukan pemeriksaan sitologi urin. Pada pasien BPH yang sudah
mengalami retensi urin dan telah memakai kateter, pemeriksaan
urinalisis tidak banyak manfaatnya karena seringkali telah ada
leukosituria maupun eritostiruria akibat pemasangan kateter.
c. Pemeriksaan Fungsi Ginjal19
Obstruksi intravesika akibat BPH menyebabkan gangguan pada
traktus urinarius bawah ataupun bagian atas. Dikatakan bahwa gagal
ginjal akibat BPH terjadi sebanyak 3−30% dengan rata-rata 13,6%.
Gagal ginjal menyebabkan resiko terjadinya komplikasi pasca bedah
(25%) lebih sering dibandingkan dengan tanpa disertai gagal ginjal
(17%), dan mortalitas menjadi enam kali lebih banyak. Pasien LUTS
yang diperiksa ultrasonografi didapatkan dilatasi sistem pelvikalis
0,8% jika kadar kreatinin serum normal dan sebanyak 18,9% jika
terdapat kelainan kadar kreatinin serum. Oleh karena itu
pemeriksaan faal ginjal ini berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya
melakukan pemeriksaan pencitraan pada saluran kemih bagian atas.
d. Pemeriksaan Prostate Specific Antigen19
Prostate Specific Antigen (PSA) disintesis oleh sel epitel kelenjar
prostat dan bersifat organ spesifik tetapi bukan kanker spesifik.
Serum PSA dapat dipakai untuk mengetahui perjalanan penyakit dari
BPH, dalam hal ini jika kadar PSA tinggi berarti pertumbuhan
volume prostat lebih cepat, keluhan akibat BPH atau laju pancaran
urin lebih buruk, dan lebih mudah terjadinya retensi urin akut.
Pertumbuhan volume kelenjar prostat dapat diprediksikan
berdasarkan kadar PSA. Semakin tinggi kadar PSA makin cepat laju
pertumbuhan prostat. Laju pertumbuhan volume prostat rata-rata
setiap tahun pada kadar PSA 0,2−1,3 ng/dl laju adalah 0,7 mL/tahun,
sedangkan pada kadar PSA 1,4−3,2 ng/dl sebesar 2,1 mL/tahun, dan
kadar PSA 3,3−9,9 ng/dl adalah 3,3 mL/tahun. Kadar PSA di dalam
serum dapat mengalami peningkatan pada peradangan, setelah
manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau TURP), pada retensi urin
akut, kateterisasi, keganasan prostat, dan usia yang makin tua.
e. Uroflometri19
Uroflometri adalah pencatatan tentang pancaran urin selama
proses miksi secara elektronik. Pemeriksaan ini ditujukan untuk
mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih bagian bawah yang tidak
invasif. Dari uroflometri dapat diperoleh informasi mengenai volume
miksi, pancaran maksimum (Qmax), pancaran rata-rata (Qave),
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pancaran maksimum, dan
lama pancaran. Nilai Qmax dipengaruhi oleh: usia, jumlah urin yang
dikemihkan, serta terdapat variasi individual yang cukup besar. Oleh
karena itu hasil uroflometri menjadi bermakna jika volume urin
(>150 mL) dan diperiksa berulang kali pada kesempatan yang
berbeda. Spesifisitas dan nilai prediksi positif Qmax untuk
menentukan Direct Bladder Outlet Obstruction (BOO) harus diukur
beberapa kali. Untuk menilai ada tidaknya BOO sebaiknya dilakukan
pengukuran pancaran urin 4 kali.
f. Ultrasonografi (USG)18
Merupakan penggunaan gelombang suara frekuensi sangat tinggi
atau ultrasonik (3,5−5 MHz) yang dihasilkan oleh kristal piezo-
elektrik pada transduser untuk membantu diagnosis. Yang digunakan
dalam bidang kedokteran antara 1−10 MHz.
Pada pemeriksaan USG kelenjar prostat, zona sentral dan perifer
prostat terlihat abu-abu muda sampai gelap homogen. Sedangkan
zona transisional yang terletak lebih anterior terlihat hipoekogenik
heterogen. Keheterogenan dan kehipoekogenikan tergantung dari
variasi jumlah sel stromal dan epitelial kelenjar.
Zona transisional biasanya merupakan 5% bagian pada prostat
laki-laki muda. Akan tetapi dapat menjadi 90% bagian prostat pada
pasien BPH. Dengan meningkatnya ukuran zona transisional, zona
perifer dan sentral prostat menjadi tertekan ke belakang. Selain itu,
zona transisional yang membesar juga melebar ke arah distal
sehingga menyebabkan overhanging apex zona perifer. Hal tersebut
dapat dilihat melalui TRUS. Selain itu, melalui TAUS, dapat dilihat
terdapat pembesaran lobus median prostat ke arah intra-vesikal
(protrusi) dan gambaran residu urin dalam jumlah banyak (>40 cc).

k. Komplikasi16
1. Retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menjadi dekompensasi.
2. Infeksi saluran kemih.
3. Involusi kontraksi kandung kemih.
4. Refluks kandung kemih.
5. Hidroureter dan hidronefrosis dapat terjadi karena produksi urin terus
berlanjut maka pada suatu saat buli – buli tidak mampu lagi
menampung urin yang akan mengakibatkan tekanan intravesika
meningkat.
6. Gagal ginjal bisa dipercepat jika terjadi infeksi.
7. Hematuri, terjadi karena selalu terdapat sisa urin, sehingga dapat
terbentuk batu endapan dalam buli – buli, batu ini akan menambah
keluhan iritasi. Batu tersebut dapat pula menibulkan sistitis, dan bila
terjadi refluks dapat mengakibatkan pielonefritis.
8. Hernia atau hemoroid lama-kelamaan dapat terjadi dikarenakan pada
waktu miksi pasien harus mengedan.

l. Prognosis20
Lebih dari 90% pasien mengalami perbaikan sebagian atau
perbaikan dari gejala yang dialaminya. Sekitar 10%-20% akan
mengalami kekambuhan penyumbatan dalam 5 tahun.

m. Tatalaksana21
Terapi spesifik berupa observasi pada penderita gejala ringan hingga
tindakan operasi pada penderita dengan gejala berat. Indikasi absolut
untuk pembedahan berupa retensi urine yang berkelanjutan, infeksi
saluran kemih yang rekuren, gross hematuria rekuren, batu buli akibat
BPH, insufisiensi renal dan divertikel buli.
1) Watchful waiting
Penderita dengan BPH yang simptomatis tidak selalu mengalami
progresi keluhan, beberapa mengalami perbaikan spontan. Watchful
waiting merupakan penatalaksanaan terbaik untuk penderita BPH
dengan nilai IPSS 0-7. Penderita dengan gejala LUTS sedang juga
dapat dilakukan observasi atas kehendak pasien.
2) Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk mengurangi
resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik penyebab
obstruksi infravesika dengan obat-obatan penghambat adrenergic
alfa (adrenergic alfa blocker) dan mengurangi volume prostat
sebagai komponen statik dengan cara menurunkan kadar hormone
testosterone/dihidrotestosteron (DHT) melalui penghambat 5a-
reduktase.
Selain kedua cara di atas, sekarang banyak dipakai terapi
menggunakan fitofarmako yang mekanisme kerjanya masih belum jelas.
3) Operatif
Tindakan operatif dilakukan apabila pasien BPH mengalami
retensi urin yang menetap atau berulang, inkontinensia overflow,
ISK berulang, adanya batu buli atau divertikel, hematuria yang
menetap setelah medikamentosa, atau dilatasi saluran kemih bagian
atas akibat obstruksi dengan atau tanpa insufisiensi ginjal (indikasi
operasi absolut). Selain itu adanya gejala saluran kemih bagian
bawah yang menetap setelah terapi konservatif atau medikamentosa
merupakan indikasi operasi relatif.
4) TURP (Transurethral Resection of the Prostate)
95% terapi operatif dari penderita BPH dapat dilakukan cara
endoskopi, di mana tindakan ini menggunakan pembiusan spinal dan
lama perawatan yang relatif singkat. TURP menjadi gold standard
tindakan operatif pada penderita BPH. Dikatakan TURP dapat
mengurangi gejala saluran kemih bagian bawah dan menurunkan
IPSS pada 94,7% kasus.Di Indonesia, tindakan
TransurethralResection of the Prostate (TURP) masih merupakan
pengobatan terpilih untuk pasien BPH. Pada pasien dengan keluhan
derajat sedang, TURP lebih bermanfaat daripada watchful waiting.
TURP lebih sedikit menimbulkan trauma dibandingkan prosedur
bedah terbuka dan memerlukan masa pemulihan yang lebih singkat.
Secara umum TURP dapat memperbaiki gejala BPH hingga 90%,
meningkatkan laju pancaran urine hingga 100%.
Komplikasi dini yang terjadi pada saat operasi sebanyak 18-23%,
dan yang paling sering adalah perdarahan sehingga membutuhkan
transfusi. Timbulnya penyulit biasanya pada reseksi prostat yang
beratnya lebih dari 45 gram, usia lebih dari 80 tahun, ASA II-IV, dan
lama reseksi lebih dari 90 menit. Sindroma TUR terjadi kurang dari
1%.Penyulit yang timbul di kemudian hari adalah: inkontinensia
stress <1% maupun inkontinensia urge 1,5%, striktura uretra 0,5-
6,3%, kontraktur leher buli-buli yang lebih sering terjadi pada prostat
yang berukuran kecil 0,9-3,2%, dan disfungsi ereksi. Angka
kematian akibat TURP pada 30 haripertama adalah 0,4% pada pasien
kelompok usia 65-69 tahun dan 1,9% pada kelompok usia 80-84
tahun. Dengan teknik operasi yang baik dan manajemen perioperatif
(termasuk anestesi) yang lebih baik pada dekade terakhir, angka
morbiditas, mortalitas, dan jumlah pemberian transfuse berangsur-
angsur menurun.Resiko atau komplikasi dari TURP antara lain
ejakulasi retrograde sekitar 75%, impotensi 5-10%, inkontinensia 1%,
dan komplikasi lain berupa perdarahan, striktur uretra, kontraktur
leher buli, perforasi dari kapsul prostat, dan sindrom TURP.
5) Transurethral Incicion of the Prostat
Penderita dengan LUTS sedang atau berat dan prostat yang kecil
seringkali memiliki hiperplasia dari komisura posterior (elevasi leher
buli), di mana hal ini merupakan indikasi untuk insisi prostat.
Keuntungannya berupa tindakan lebih cepat, morbiditas lebih rendah
dengan resiko ejakulasi retrograde lebih rendah (25%).
a. Prostatektomi terbuka
Diindikasikan pada prostat yang terlalu besar untuk dilakukan
tindakan endoskopik, juga dapat dilakukan pada penderita dengan
divertikulum buli atau didapatkannya batu buli. Prostatektomi
terbuka dibagi menjadi 2 cara pendekatan yaitu suprapubik
(Millin procedure) dan retropubik (Freyer procedure).
6) Terapi Minimal Invasive
a. Terapi laser ( TULIP)
b. Transurethral Electrovaporization of the Prostat
c. Microwave Hypertermia
d. Transurethral Needle Ablation of the Prostat
e. High Intencity Focused Ultrasound
f. Stent Intraurethral

n. Pencegahan19
Pencegahan BPH dapat dilakukan dengan cara:
1) menjalankan pola hidup (pola makan sehat 4 sehat 5 sempurna, rajin
olah raga, tidak merokok dan tidak begadang.
2) Banyak minum air minimal 8 gelas/hari.
3) Tidak membiasakan menahan kencing.
4) Sering makan kubis – kubisan, kacang – kacangan, alpukat, tomat
untuk mengurangi resiko radang pada prostat.
5) Memeriksakan prostat secara berkala ke dokter atau pusat kesehatan.

2.5. Sebab Buang Air Kecil (BAK) Terhenti Tiba – Tiba dan Tersendat11
Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat
masih tergantung tiga faktor yaitu, volume kelenjar periuretral, elastisitas
leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat dan kekuatan kontraksi
otot detrusor. Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica
urinaris yang tidak sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh karena
hipersensitifitas otot detrusor karena pembesaran prostat menyebabkan
rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun
belum penuh, gejalanya ialah:
1) Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)
2) Nokturia
3) Miksi sulit ditahan (Urgency)
4) Disuria (Nyeri pada waktu miksi)
Gejala iritatif yang sering dijumpai ialah bertambahnya frekuensi miksi
yang biasanya lebih dirasakan pada malam hari. Sering miksi pada malam
hari disebut nocturia, hal ini disebabkan oleh menurunnya hambatan
kortikal selama tidur dan juga menurunnya tonus spingter dan uretra.
Simptom obstruksi biasanya lebih disebabkan oleh karena prostat dengan
volume besar. Apabila vesica menjadi dekompensasi maka akan terjadi
retensi urin sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin didalam
vesica, hal ini menyebabkan rasa tidak bebas pada akhir miksi. Jika keadaan
ini berlanjut pada suatu saat akan terjadi kemacetan total, sehingga penderita
tidak mampu lagi miksi. Oleh karena produksi urin akan terus terjadi maka
pada suatu saat vesica tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekanan
intravesica akan naik terus dan apabila tekanan vesica menjadi lebih tinggi
daripada tekanan spingter akan terjadi inkontinensia paradoks (overflow
incontinence). Retensi kronik dapat menyebabkan terjadinya refluks vesico
uretra dan meyebabkan dilatasi ureter dan sistem pelviokalises ginjal dan
akibat tekanan intravesical yang diteruskam ke ureter dari ginjal maka ginjal
akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dapat dipercepat
bila ada infeksi.

2.6. Sebab Seseorang Sulit Menahan Buang Air Kecil (BAK)22


Pengandalian kandung kemih dan pengeluaran air kemih melalui sistem
simpatis dan parasimpatis. Parasimpatis berasal dari medula spinalis sakral
2-4, yang keluar dari plexus pelvikus dan sakralis, menuju kandung kemih
sebagai nervus pudendal yang akan menyebabkan kontraksi pada otot-otot
detrusor dan dilatasi sfingter interna. Sedangkan saraf simpatis berasal dari
medula spinalis torakal 11 sampai lumbal 2, melalui plexus hypogastricus.
Reseptor simpatis terdiri dari reseptor α dan β. Reseptor α terletak di bagian
leher kandung kemih dan otot polos sekitar pangkal uretra yang
menyebabkan kontraksi bagian bawah kandung kemih, sehingga
menghambat pengosongan kandung kemih. Bila terjadi inhibisi, maka
relaksasi leher kandung kemih dan bagian proksimal uretra, sehingga
terjadilah miksi. Reseptor β berada di korpus kandung kemih, perangsangan
reseptor ini mengakibatkan relaksasi otot – otot detrusor sehingga terjadi
pengisian. Inhibisi menyebabkan kontraksi otot detrusor dan peningkatan
tekanan kandung kemih diikuti pengosongan kandung kemih.
Gangguan pada sistem saraf pusat atau komponen saluran kemih bagian
bawah dapat menyebabkan tidak sempurnanya pengeluaran dan retensi urin
atau tidak dapat menahan miksi, atau gejala – gejala kompleks kandung
kemih yang berlebihan dengan karakteristik berupa sesak dan miksi
berulang-ulang dengan atau tanpa inkontinensia urin.

2.7. Hubungan Penyakit Diabetes Mellitus dengan Benign Prostat


Hiperplasia23,24
Diabetes melitus dapat menimbulkan komplikasi gangguan aliran darah
ke organ seksual dan hypogonadism berupa tidak normalnya fungsi hipofisis
dan hipotalamus. Sebanyak 50 % penderita pria diabetes mengalami
disfungsi ereksi, resiko disfungsi ereksi penderita diabetes akan bertambah
seiring bertambahnya usia yaitu 39 % di usia 40 tahun, 48 % di usia 50
tahun, 57 % di usia 60 tahundan penelitian Babbot dan Rubin menyebutkan
50 % disfungsi ereksi terjadi setelah 1 tahun pertama menderita diabetes, 43
% pada 1-5 tahun pertama dan 45 % setelah menderita di atas 5 tahun.
Selain itu juga 30 % penderita diabetes mengalami penurunan kadar
testosteron yang sering dihubungkan dengan penurunan libido.
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) akan timbul seiring dengan
bertambahnya usia, sebab BPH erat kaitannya dengan proses penuaan.
Penyebab BPH belum diketahui secara pasti, tetapi sampai saat ini
berhubungan dengan proses penuaan yang mengakibatkan penurunan kadar
hormon pria, terutama testosteron. Hormon testosteron dalam kelenjar
prostat akan diubah menjadi dihidrotestosteron (DHT). DHT inilah yang
kemudian secara kronis merangsang kelenjar prostat sehingga membesar.
Hubungan Kadar Gula dengan Libido
Pusat pengaturan prilaku seksual termasuk libido terdapat pada otak di
bagian hipotalamus dan korteks serebri.Fungsi bagian ini salah satunya
dipengaruhi keberadaan hormon testosteron yang berfungsi sebagi faktor
tropik. Akibat hiperglikemia berkepanjangan menyebabkan gangguan
integritas struktur dan fungsi vaskular serta sistem saraf perifer karena
peningkatan aktifitas PKC dan TNF α. Selain itu pula juga dapat terjadi
penurunan ekspresi IGF-I akibat tidak cukupnya atau tidak sensitifnya
insulin, gangguan replikasi sel Leydig karena penurunan signalling SCF
akibat resistensinya insulin pada testis menyebabkan menurunnya produksi
hormon testosteron, selain itu juga menyebabkan berkurangnya reseptor
androgen pada sel Leydig sehingga juga akan mempengaruhi kadar hormon
testosteron. Testosteron diperlukan untuk terjadinya bangkitan libido,
testosteron dapat meningkatkan rangsang seksual (sexual erotism) dan
kesadaran seksual (sexual awareness). Menurunnya jumlah testosteron
menyebabkan berkurangnya akumulasi testosteron pada daerah hipotalamus
dan korteks serebri, akibatnya bagian yang mengaktifkan metabolisme otak
dan mengatur libido ini menjadi kurang aktif sehingga terjadi hambatan atau
penurunan libido.

2.8. Hubungan Penurunan Libido dengan Keluhan yang Dialami Tn.


Uriko25,26,27
BPH merupakan masalah serius yang harus diperhatikan karena dapat
mempengaruhi kualitas hidup pada pria usia lanjut. Berbagai gejala BPH
seperti LUTS dapat menyebabkan disfungsi ereksi dan masalah ejakulasi.
Pria dengan LUTS yang berat akan mengalami penurunan libido, kesulitan
mempertahankan ereksi dan tingkat kepuasan seksual akan menurun. Survei
dari Multi-national Aging Men (MSAM) yang dilakukan di Eropa dan
Amerika, menunjukkan bahwa lebih dari 14.000 pria usia 50 – 80 tahun
mengalami masalah seksual akibat BPH. Data menunjukkan 49%
mengalami kesulitan ereksi, 48% mengalami gangguan ejakulasi, dan 7%
mengalami nyeri saat berhubungan seksual.

2.9. Edukasi untuk Tn. Uriko28


Potensi perubahan gaya hidup untuk mencegah atau mengurangi
keparahan BPH, terutama sebagai tambahan untuk pengobatan konvensional,
belum menerima perhatian yang signifikan, bahkan dalam pedoman
pengobatan khusus baru-baru. Karena perubahan gaya hidup dapat
mempengaruhi risiko untuk mengembangkan BPH atau perkembangannya,
dokter membutuhkan pedoman yang dapat mereka gunakan untuk mendidik
pasien tentang hubungan potensial antara peningkatan risiko penyakit
kardiovaskular dan meningkatkan risiko atau keparahan lebih besar dari
BPH. Pasien perlu tahu bahwa gaya hidup jantung sehat juga gaya hidup
prostat yang sehat.
BAB III
KESIMPULAN

Tn. Uriko 55 tahun mengalami Benign Prostat Hiperplasia (BPH) yang


didukung oleh pemeriksaan fisik berdasarkan screening IPSS dan diperlukan
pemeriksaan penunjang laboratorium PSA (Prostatik Spesifik Antigen) dan
pemeriksaan USG.
DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland, WA Newan. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 28. Jakarta: Buku


Kedokteran EGC; 2012.
2. Paulsen F, Waschke J. Sobotta Atlas Anatomi Manusia: Organ – Organ
Dalam. Edisi 23. Jakarta: EGC; 2012.
3. Sugandi S. Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Prostat serta Kontrol Hormonal
terhadap Fungsi Prostat. 2007. URL : http://www.urologi.or.id.
4. Sherwood L. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem Ed.6. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC. 2013.
5. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta:
EGC; 2008
6. Campbell. Biologi Edisi Kelima-Jilid 3. Jakarta : Erlangga; 2004.
7. Junqueira LC, Carneiro J. Basic histology, Text and Atlas. 12th ed. USA:
McGraw Hill Companies; 2010.
8. Presti JC. Benign Prostatic Hiperplasia Incidence & Epidemiology.
www.Health.am.
9. Purnomo. Dasar-Dasar Urologi, Edisi Kedua. Jakarta: CV. Sagung Seto.
2007.
10. Kumar V, Abbas AK, Jon C. Buku Ajar Patoogi Robbins Ed. 9. Philadelpia:
Elsevier Inc; 2015.
11. Roehrborn CG, Gange SN, Shore ND, Giddens JL, Bolton DM, Cowan BE,
et al. Multi-Center Randomized Controlled Blinded Study of the Prostatic
Urethral Lift for the Treatment of LUTS Associated with Prostate
Enlargement Due to BPH: The L.I.F.T. Study. J Urol. 2013 Jun 10.
12. Nicholson TM, Ricke WA. Androgens and estrogens in benign prostatic
hyperplasia: past, present and future. NIH Public Access. 2012.
13. Seftel AD, Rosen RC, Rosenberg MT, Sadovsky R. Benign prostatic
Hyperplasia evaluation, treatment and association with sexual dysfuntion:
practce pattern according to physician specialty. Int J Clin Pract, Apr 2008;
62(4):614-22.
14. Roehborn, Calus G, McConnell, John D. Etiology, Pathophysiology, and
Natural History of Benign prostatic hyperplasia. In: Campbell’s Urology.
8th ed. W.B. Saunders; 2002. p. 1297-1330.

15. Fadlol & Mochtar. Prediksi Volume Prostat pada Penderita Pembesaran
Prostat Jinak. Indonesian J of Surgery 2005; XXXIII-4; 139-145
16. Sjamjuhidayat & De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. 2005.
17. Levi A Deters. Edward David Kim. Benign Prostatic Hypertrophy Clinical
Presentation. E-medicine-medscape. 2015. Diakses pada tanggal 11 April
2016.
18. Hapsari CP. Hubungan antara Pembesaran Prostat Jinak dengan Gambaran
Endapan Urin di Kandung Kemih pada Pemeriksaan Ultrasonografi.
[Skripsi]. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Surakarta; 2010.
19. Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI). Panduan penatalaksanaan
(Guidelines) benign prostatic hyperplasia (BPH) di Indonesia. Surabaya;
2003.
20. Chasani S. Hiperplasia prostat benigna dalam ilmu penyakit dalam. Jilid 2
Edisi 4. Jakarta: Interna Publishing; 2014.
21. Hardjowijoto S, dkk. Panduan Penatalaksanaan (Guidelines) Benign
Prostatic Hiperplasia (BPH) di Indonesia. Surabaya : Ikatan Ahli Urologi
Indonesia; 2003.
22. Alnaz FM. Gambaran Usia Rata-Rata Berhenti Mengompol (Nocturnal
Enuresis) pada Anak SD Harapan I Medan.Medan; 2012.
23. Rachmadi A. Kadar Gula Darah dan Kadar Hormon Testosterone pada Pria
Penderita Diabetes Melitus: Hubungannya dengan Disfungsi Seksual dan
Perbedaannya dengan yang Tidak Mengalami Disfungsi Seksual. Semarang;
2008.
24. Birowo P, Rahardjo D. Pembesaran prostat jinak. Jurnal Kedokteran &
Farmasi Medika; 2002.
25. Sampekalo G, Richard AM, Billy S. Angka Kejadian LUTS Yang
Disebabkan Oleh BPH di RSUP Prof. DR. Dr. R. D. Kandou Manado
Periode 2009-2013. Jurnal E-Clinic Vol. 3 No. 1. 2015
26. Wei JT, Calhoun E, Jacobsen SJ. Urologic Diseases In America Project:
Benign Prostatic Hyperplasia. J Urol. 2005; 173
27. Verhame KM, Dieleman JP, Bleumink GS, Et Al. Incidence And
Prevalence Of Lower Urinary Tract Symptoms Suggestive Of Benign
Protatic Hyperplasia In Primary Care. Eur Urol 2002;42
28. Hollingsworth JM, Wilt TJ. Lower urinary tract symptoms in men. The
BMJ. 2014;349:g4474