Anda di halaman 1dari 46

Nama : Isha Arfina Haris

Nim : 04074881517013

Tugas diskusi OM kasus Bedah

A. Epulis Fibromatosa dan Fibroma

Epulis digunakan untuk menggambarkan suatu tumor atau pembesaran gingiva yang
bersifat lokal (nodular) atau menyeluruh (simetris), yang berasal dari jaringan periodontal dan
periosteum. Epulis dapat bersifat fibrous, hiperplastik, atau granulatif. Epulis fibromatosa lebih
sering dijumpai dibandingkan epulis jenis lain dan sering mengalami rekuren (kambuh) bila
operasi pengangkatannya tidak sempurna. Epulis fibromatosa umumnya dijumpai pada orang
dewasa usia 30-40 tahun serta terjadi pada rongga mulut terutama pada tepi gingiva dan juga
sering pada pipi dan lidah. Etiologi epulis fibromatosa berasal dari iritasi kronis yang
menyebabkan reaksi hiperplasia dari jaringan fibrous, apabila epulis fibromatosa terlalu besar,
dapat mengganggu pengunyahan dan terjadi trauma serta ulserasi. Tanda klinis yang terlihat
antara lain bertangkai dapat pula tidak (pedunculated atau sessile), warna merah muda agak
pucat, konsistensi kenyal dan padat, berbatas tegas, serta kokoh. Epulis ini tidak mudah berdarah
dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Sedangkan Fibroma merupakan suatu neoplasia jinak yang berasal dari jaringan ikat
fibrous. Fibroma adalah istilah yang umum digunakan dalam kaitannya dengan lesi jaringan
lunak yang sering dijumpai pada mukosa mulut. Fibroma merupakan hasil dari perbaikan kronis
yang melibatkan jaringan granulasi, pembentukan scaryang menghasilkan suatu masa yang
berupa submukosa fibrous.

Gambaran klinis lesi menunjukkan suatu benjolan kenyal, dapat digerakkan, memiliki
warna seperti mukosa normal, tidak menimbulkan rasa sakit, memiliki diameter antara 1-1,5 cm.
Lesi ini sering dijumpai pada bagian maksila terutama gingiva regio anterior, namun tidak jarang
juga ditemukan pada lidah, dan gingiva bukal. Fibroma memiliki karakteristik tumbuh lambat
dalam hitungan bulan atau tahun.
Gambaran mikroskopis fibroma tampak sebagai suatu massa nodular dari jaringan ikat
fibrosa dengan serat serat kolagen yang bercampur dengan fibroblas dan diselemuti oleh keratin
epitel skuamosa. Fibroma dapat disebabkan karena faktor herediter atau faktor eksternal seperti
trauma atau iritasi lokal. Fibroma juga dapat disebabkan oleh iritasi lokal seperti plak, kalkulus,
tepi tumpatan yang overhanging, trauma dan gesekan plat protesa dari gigi tiruan. Fibroma bisa
berupa hasil dari trauma yang hanya sekali atau pengulangan, infeksi atau inflamasi kronis.
Prevalensi kejadian fibroma pada mukosa mulut lebih tinggi pada perempuan (71%)
dibandingkan laki laki (29%). Terapi pada fibroma dapat berupa eksisi menggunakan skalpel,
pembedahan menggunakan mesin elektrik ataupun sinar laser.

Iritasi kronis lokal pada kasus ini adalah pernah tertusuk duri ikan pada ± 3 bulan yang
lalu, benjolan tersebut tidak sakit dan mudah berdarah. Benjolan tersebut awalnya timbul ± 3
bulan yang lalu dalam ukuran kecil, pasien mencoba mengobatinya dengan obat tradisional tetapi
ukuran benjolan tersebut malah membesar.

B. Premedikasi Bedah

Premedikasi adalah pemberian medikasi (obat) sebelum dianestesi. Premedikasi


digunakan untuk mempersiapkan kondisi optimal pasien sebelum operasi. Pada umumnya
persiapan anestesi diawali dengan persiapan psikologis atau mental bagi pasien yang akan
diberikan anestesi. Serta pemberian obat-obat yang dipilih untuk tujuan tertentu sebelum induksi
dimulai. Kedua macam persiapan ini yang sebetulnya dinamakan premedikasi. Dengan
premedikasi ini diharapkan bahwa saat memasuki prabedah, pasien akan bebas dari rasa cemas,
cukup mengalami sedasi tetapi mudah dibangunkan dan kooperatif.

Tujuan utama dari pemberian obat premedikasi ialah untuk memberikan sedasi psikis,
mengurangi rasa cemas dan melindungi keadaan basal fisiologis dalam melawan bahaya stress
mental atau faktor-faktor yang tidak ada hubungannya dengan anestesi yang spesifik. Hasil akhir
yang diharapkan dari pemberian premedikasi yaitu induksi anestesi yang lancar. Tujuan dari
premedikasi dan anestesi ialah untuk melindungi pasien terhadap akibat segera dari trauma
pembedahan (misalnya rasa takut, sakit, aktivitas saraf simpatis, ketegangan otot).Oleh karena
itu premedikasi ini harus memenuhi kebutuhan masing-masing pasien yang untuk setiap pasien
dapat berbeda-beda.
Premedikasi ini tidak boleh diberikan secara otomatis atau rutin, tetapi harus berdasar
pada keadaan psikis dan fisiologis pasien yang ditetapkan setelah kunjungan prabedah dilakukan.
Dengan demikian maka pemilihan obat premedikasi yang akan digunakan harus selalu dengan
memperhitungkan :

Umur pasien
Berat badan
Status fisik
Derajat kecemasan
Riwayat hospitalisasi sebelumnya (terutama pada anak)
Riwayat reaksi terhadap obat premedikasi sebelumnya (bila pasien pernah diberi anestesi
sebelumnya)
Riwayat penggunaan obat-obat tertentu yang kemungkinan dapat berpengaruh pada
jalannya anestesi (misalnya MAO inhibitor, kortikosteroid, antibiotik tertentu)
Perkiraan lamanya operasi
Macamnya operasi (misalnya terencana, darurat pasien rawat inap atau rawat jalan)
Rencana obat anestesi yang akan digunakan

Obat-obatan premedikasi yang digunakan

Sesuai dengan tujuannya maka obat-obat yang dapat digunakan sebagai obat premedikasi
dapat digolongkan seperti dibawah ini:
Dalam praktek sehari-hari sering diberikan kombinasi beberapa obat untuk mendapat
hasil yang diinginkan, misalnya:

1. Kombinasi Narkotik + Benzodiazepin + Antikolinergik


2. Kombinasi Narkotik + Butyrophenon + Antikolinergik
3. Kombinasi Narkotik + Antihistamin + Antikolinergik

Pada keadaan tertentu (misalnya pasien obstetrik) perlu diberikan antasida.


Anestesi

Anestesi berasal dari kata: An berarti tidak, Astesia berarti rasa. Jadi anestesia berarti
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri atau sakit. Ada dua macam anestesi yaitu General
anestesi dan Lokal anestesi. Yang sering digunakan pada kedokteran gigi adalah anestesi lokal.
Tujuan umum melakukan anestesi pemeriksaan dan persiapan pra bedah ini yaitu dapat
melakukan pemeriksaan pre operatif yang baik agar dapat menyiapkan penderita yang akan
dilakukan tindakan operasi tujuan khususnya yaitu :

Dapat melakukan pendekatan pada pasien dan keluarga sebagai persiapan dari segi
psikologis.
Dapat menentukan pasien layak untuk dilakukan tindakan pembedahan atau anestesi.
Dapat menentukan pilihan obat yang digunakan dan tekniknya.
Meramalkan penyulit yang dapat timbul.
Dapat menyiapkan alat dan obat untuk menghadapi penyulit.

Lokal anestesi

Anestesia lokal dapat digunakan untuk pembedahan di poliklinik, tetapi ada juga
pembedahan di klinik yang dapat dilakukan dengan anastesi lokal, antara lain jika ada
kontraindikasi anastesia umum.
Lokal anestesi golongan ester

Merupakan lokal anestesi bagian dari cocain, dihidrolisa dalam aliran darah dan hati, half
live pendek, sering menyebabkan reaksi toksik, durasi pendek, tidak stabil dalam bentuk larutan,
diffusi jelek dalam jaringan, dan dapat menyebabkan reaksi alergi.

Macam-macam obat lokal anestesi golongan ester:

Ester Toxicity

Cocain Sangat tinggi

Benzokain Rendah

Prokain Rendah

Chlorprokain Rendah

Tetraprokain Tinggi

Cocaine

Merupakan ester dari benzoic acid. Cocaine menimbulkan euphoria dan meningkatkan
kapasitas kerja otot. Pada nervous system: – stimulasi sentral: excitement, rest lessness, euphoria,
peningkatan mental, kehilangan rasa lelah, serta stimulasi respirasi, vasomotor dan pusat muntah.
Mempunyai efek euphoria, sangat toksik dapat mengakibatkan midriasis

Benzocain

Merupakan derivat ester, tidak larut dalam air, digunakan sebagai lokal anestesi pada
permukaan mucosa, dan menghasilkan analgesi permukaan pada mulut, pharing, telinga dan
kulit.

Procaine

Merupakan lokal anestesi syntetic yang pertama. Digunakan anestesia infiltrasi dan nerve
block anetesia. Onset of action rendah, duration of action juga rendah.
Chlorprokain

Merupakan derivate dari procaine. Onset of action dan duration of action rendah.

2. Lokal anestesi golongan amide

Merupakan lokal anestesi yang stabil dalam bentuk larutan, lebih cepat berdiffusi lewat
jaringan, dan dimetabolisme dalam hati.

Macam-macam lokal anestesi golongan amide :

Amide Toxicity

Lidokain,Mepivacain,Prilocain,Cinchocain,Etidocain SedangSedangRendahTinggiSedang

Bupivacain Sedang/tinggi

Levobupivacain Rendah

Ropivacain Renda

 Bupivacaine

Merupakan lokal anestesi yang mempunyai kekuatan 4 kali lebih potent dari pada
lidokain. Onset lambat, durasi lama. Cepat diabsorbsi dari tempat injeksi, tetapi absorbsi
tergantung dari dari vascularisasi tempat injeksi. Bupivacaine dimetabolisme dalam liver dan
hanya 4-10 % dikeluarkan dalam urine dalam bentuk tak berubah. Digunakan untuk nerve blok
dan epidural anestesi. Konsentrasi yang tersedia : 0,75 %, 0,5 %, 0,25 %, ada yang ditambah
epinephrin. Sekali pemberian jangan lebih dari 150 mg atau dalam waktu 4 jam (30 cc setara
dengan 0,5 %).
 Lidocaine

Termasuk golongan amide. Merupakan lokal anestesi yang effective dengan onset cepat.
Dapat menyebabkan vasodilatasi. Sebagian besar dipecah dalam hepar. Dapat digunakan sebagai
anestesi infiltrasi, blok saraf, epidural, caudal blok dan sebagai topikal. Lidocaine dapat
digunakan sebagai anti arrythmia. Bila ditambah dengan ephineprin akan menghambat
absorbtion dan memperpanjang efek. Infiltrasi anestesi digunakan 0,5 %. Dosis maksimum yang
digunakan 100 ml (500 mg) dengan adrenalin dan 40 ml (200 mg) tanpa adrenalin. Pada nerve
blok digunakan larutan 1 %. Sedangkan epidural dan caudal blok 2 %. Pada spinal blok
digunakan larutan hiperbarik 5 %, surface analgesia digunakan 2 %, intravenous lokal analgesia
digunakan 0,5 %. Pada terapi arrythmia dosis permulaan 50-100 mg diberikan bolus pelan, dosis
ulangan diberikan dengan interval 15-20 menit.

 Prilocaine

Sebagai lokal analgesik mirip lidocaine. Duration of action lama, dan kurang toksik.
Untuk pemberian topical sangat active pada permukaan mucosa. Dipecah di dalam hati.
Digunakan untuk infiltrasi, nerve, epidural dan spinal block, topical application dan intravenous.
Pada umumnya digunakan larutan 0,5 – 2 %.

 Ropivacaine

Termasuk golongan amide. Sebagian besar dimetabolisme di hati hanya 1 % di ekskresi


lewat urine dalam bentuk tak beruba. Merupakan long acting lokal anestetik. Duration lebih
pendek daripada bupivacaine. Untuk epidural anestesi digunakan larutan 1 %. Efek toksik pada
myocardium lebih kecil dibanding bupivacaine. Bupivacaine lebih sering menimbulkan
arrythmia daripada ropivacaine.
Metode dan Penggunaan Lokal anestesi

Metode Penggunaan Jenis lokal anestesi

Anestesi Hidung, mukosa mulut, cabang bronkus Lidokain, tetrakain,


(dalam bentuk spray, kornea mata, saluran benzokain
Superficial
kencing. (tidak efektif untuk kulit)

Anestesi Di injeksikan secara langsung ke jaringan Sebagian besar


agar sampai ke cabang – cabang syaraf.
Infiltrasi Lokal anestesi bisa
Untuk operasi yang sederhana.
digunakan

Anestesi Lokal anestesi di injeksikan langsung secara Sebagian besar lidokain


intravena kedalam pembuluh darah. Untuk & prilokain
Regional
operasi limb
Intravena

Nerve- Lokal anestesi di injeksikan dekat dengan Sebagian besar


block cabang syaraf agar dapat menghilangkan
Lokal anestesi bisa
sensasi yang ada.
Anestesi digunakan
Digunakan pada operasi dan kedokteran
gigi

Spinal Untuk operasi perut, kaki, atau operasi – Sebagian besar lidokain
operasi yng tidak dapat menggunakan
Anestesi
General anestesi

Epidural Untuk menghilangkan sakit pada ibu – ibu Sebagian besar lidokain
yang akan melahirkan & bupivakain
Anestesi
 MACAM OBAT ANESTESI LOKAL
1. Kokain

Hanya dijumpai dalam bentuk topical semprot 4% untuk mukosa jalan napas atas. Lama kerja 2-
30 menit.

Contoh: Fentanil

 Farmakodinamik: Kokain atau benzoilmetilekgonin didapat dari daun erythroxylon coca.


Efek kokain yang paling penting yaitu menghambat hantaran saraf, bila digunakan secara
lokal. Efek sistemik yang paling mencolok yaitu rangsangan susunan saraf pusat.
 Efek anestetik lokal: Efek lokal kokain yang terpenting yaitu kemampuannya untuk
memblokade konduksi saraf. Atas dasar efek ini, pada suatu masa kokain pernah
digunakan secara luas untuk tindakan di bidang oftalmologi, tetapi kokain ini dapat
menyebabkan terkelupasnya epitel kornea. Maka penggunaan kokain sekarang sangat
dibatasi untuk pemakaian topikal, khususnya untuk anestesi saluran nafas atas. Kokain
sering menyebabkan keracunan akut. Diperkirakan besarnya dosis fatal adalah 1,2 gram.
Sekarang ini, kokain dalam bentuk larutan kokain hidroklorida digunakan terutama
sebagai anestetik topikal, dapat diabsorbsi dari segala tempat, termasuk selaput lendir.
Pada pemberian oral kokain tidak efektif karena di dalam usus sebagian besar mengalami
hidrolisis.

2. Prokain (novokain)

Untuk infiltrasi: larutan 0,25-0,5%. Blok saraf: 1-2%. Dosis 15 mg/kg BB dan lama kerja
30-60 menit. Prokain disintesis dan diperkenalkan dengan nama dagang novokain. Sebagai
anestetik lokal, prokain pernah digunakan untuk anestesi infiltrasi, anestesi blok saraf, anestesi
spinal, anestesi epidural, dan anestesi kaudal. Namun karena potensinya rendah, mula kerja
lambat, serta masa kerja pendek maka penggunaannya sekarang hanya terbatas pada anestesi
infiltrasi dan kadang- kadang untuk anestesi blok saraf. Di dalam tubuh prokain akan dihidrolisis
menjadi PABA yang dapat menghambat kerja sulfonamik.
3. Kloroprokain (nesakin)

Derivat protein dengan masa kerja lebih pendek.

4. Lidokain (lignokain, xylokain, lidones)

Konsentrasi efektif minimal 0,25%. Infiltrasi, mula kerja 10 menit, relaksasi otot cukup baik.
Kerja sekitar 1-1,5 jam tergantung konsentrasi larutan,

1-1,5% untuk blok perifer

0,25-0,5% + adrenalin 200.000 untuk infiltrasi

0,5% untuk blok sensorik tanpa blok motorik

1,0% untuk blok motorik dan sensorik

2,0% untuk blok motorik pasien berotot (muskular)

4,0% atau 10% untuk topikal semprot di faring-laring (pump spray)

5,0% bentuk jeli untuk dioleskan di pipa trakea

5,0% lidokain dicampur

5,0% prilokain untuk topikal kulit

5,0% hiperbarik untuk analgesia intratekal (subaraknoid, subdural,).

Lidokain (xilokain) adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan
pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, dan lebih ekstensif
daripada yang ditunjukkan oleh prokain pada konsentrasi yang sebanding. Lidokain merupakan
aminoetilamid dan merupakan prototik dari anestetik lokal golongan amida.

Larutan Lidokain 0,5% digunakan untuk anestesi infiltrasi, sedangkan larutan 1-2% untuk
anestesia blok dan topikal. Anestetik ini lebih efektif bila digunakan tanpa vasokonstriktor, tetapi
kecepatan absorbsi dan toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya lebih pendek. Lidokain
merupakan obat terpilih bagi mereka yang hipersensitif terhadap anestetik lokal golongan ester.
Sediaan berupa larutan 0,5-5% dengan atau tanpa epinefrin (1:50000 sampai 1:200000).
Efek samping lidokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP, misalnya mengantuk,
pusing, parastesia, kedutan otot, gangguan mental, koma, dan bangkitan. Lidokain dosis
berlebihan dapat menyebabkan kematian akibat fibrilasi ventrikel, atau oleh henti jantung.
Lidokain sering digunakan secara suntikan untuk anestesia infiltrasi, blokade saraf, anestesia
spinal, anestesia epidural ataupun anestesia kaudal, dan secara setempat untuk anestesia selaput
lendir.

5. Bupivakain (markain)

Konsentrasi efektif minimal 0,125%. Mula kerja lebih lambat dibanding lidokain tetapi lama
kerja sampai 8 jam.

Prosedur Konsentrasi % Volume

Infiltrasi 0,25-0,50 5-60 ml

Blok minor perifer 0,25-0,50 5-60 ml

Blok mayor perifer 0,25-0,50 20-40 ml

Blok interkostal 0,25-0,50 3-8 ml

Lumbal 0,50 15-20 ml

Kaudal 0,25-0,50 5-60 ml

Analgesi postop 0,50 4-8 ml/4-8 jam (intermitten) 0,125 15 ml/jam (kontinyu)

Spinal intratekal 0,50 2-4 ml

Struktur bupivakain mirip dengan lidokain, kecuali gugus yang mengandung amin adalah
butil piperidin. Merupakan anestetik lokal yang mempunyai masa kerja yang panjang, dengan
efek blokade terhadap sensorik lebih besar daripada motorik. Karena efek ini bupivakain lebih
populer digunakan untuk memperpanjang analgesia selama persalinan dan masa pasca
pembedahan. Pada dosis efektif yang sebanding, bupivakain lebih kardiotoksik daripada
lidokain.
Larutan bupivakain hidroklorida tersedia dalam konsentrasi 0,25% untuk anestesia
infiltrasi dan 0,5% untuk suntikan paravertebra. Tanpa epinefrin, dosis maksimum untuk
anestesia infiltrasi adalah 2mg/kgBB.

6. EMLA (Eutectic Mixture of Local Anesthetic)

Campuran emulsi minyak dalam air (krem) antara lidokain dan prilokain masing-masing
2,5% atau masing-masing 5%. EMLA dioleskan dikulit intak 1-2 jam sebelum tindakan untuk
mengurangi nyeri akibat kanulasi pada vena atau arteri atau untuk miringotomi pada anak,
mencabut bulu halus atau buang tato. Tidak dianjurkan untuk mukosa atau kulit terluka.

7. Ropivakain (naropin) dan levobupivakain (chirokain)

Mirip dengan bupivakain dan mempunyai indikasi yang sama dalam kegunaanya, yaitu
ketika anastesi dengan durasi panjang dibutuhkan. Seperti bupivakain, ropivakain disimpan
dalam sediaan botol kecil. Kedua obat tersebut merupakan isomer bagian kiri dari bupivakain.
Keuntungannya dibandingkan dengan bupivakain adalah zat ini lebih rendah kardiotoksisitas.
Zat ini tersedia dalam beberapa formulasi. Konsentrasi 0,5% (dengan atau tanpa epineprin),
0,75%, dan 1% telah digunakan pada bidang kedokteran gigi.

Ketika digunakan pada praktek medis khasiat dari ropivakain sama-sama efektif, baik
menggunakan epineprin maupun tidak. Pada dunia kedokteran gigi penambahan epineprin
meningkatkan efek anestesia dari ropivakain. Konsentrasi efektif minimal 0.25%.

8. Amethokain

Ametokain tidak diadministrasikan melalui injeksi karena memiliki efek toksik. Zat ini
diedarkan dengan sediaan topikal berkadar 4% untuk kulit, dan dapat digunakan sebagai sedasi
intravena (premedikasi) atau pada anestesi general.

9. Felipresin

Felipresin adalah oktapeptid sintetik, yang sangat mirip dengan hormon pituitari
vasopresin. Zat ini ditambahkan pada anestesi lokal pada kedokteran gigi dalam konsentrasi 0,03
IU/mL (0,54µg/mL). Felipresin penggunaanya tidak sebagus vasokonstriktor epineprin, karena
tidak bisa mengontrol hemoragi secara efektif.
10. Dibukain

Derivat kuinolin merupakan anestetik lokal yang paling kuat, paling toksik dan
mempunyai masa kerja panjang. Dibandingkan dengan prokain, dibukain kira-kira 15x lebih kuat
dan toksik dengan masa kerja 3x lebih panjang. Sebagai preparat suntik, dibukain sudah tidak
ditemukan lagi, kecuali untuk anestesia spinal. Umumnya tersedia dalam bentuk krim 0,5% atau
salep 1%.

11. Mepivakain HCL

Anestetik lokal golongan amida ini sifat farmakologiknya mirip lidokain. Mepivakain ini
digunakan untuk anestesia infiltrasi, blokade saraf regional dan anestesia spinal. Sediaan untuk
suntikan berupa larutan 1 ; 1,5 dan 2%. Mepivakain lebih toksik terhadap neonatus dan
karenanya tidak digunakan untuk anestesia obstetrik. Pada orang dewasa indeks terapinya lebih
tinggi daripada lidokain. Mula kerjanya hampir sama dengan lidokain, tetapi lama kerjanya lebih
panjang sekitar 20%. Mepivakain tidak efektif sebagai anestetik topikal.

12. Tetrakain

Tetrakain adalah derivat asam para-aminobenzoat. Pada pemberian intravena, zat ini 10
kali lebih aktif dan lebih toksik daripada prokain. Obat ini digunakan untuk segala macam
anestesia, untuk pemakaian topilak pada mata digunakan larutan tetrakain 0.5%, untuk hidung
dan tenggorok larutan 2%. Pada anestesia spinal, dosis total 10-20mg. Tetrakain memerlukan
dosis yang besar dan mula kerjanya lambat, dimetabolisme lambat sehingga berpotensi toksik.
Namun bila diperlukan masa kerja yang panjang anestesia spinal, digunakan tetrakain.

13. Prilokain HCl

Anestetik lokal golongan amida ini efek farmakologiknya mirip lidokain, tetapi mula
kerja dan masa kerjanya lebih lama. Efek vasodilatasinya lebih kecil daripada lidokain, sehingga
tidak memerlukan vasokonstriktor. Toksisitas terhadap SSP lebih ringan, penggunaan intravena
blokade regional lebih aman. Prilokain juga menimbulkan kantuk seperti lidokain. Sifat toksik
yang unik dari prilokain HCl yaitu dapat menimbulkan methemoglobinemia, hal ini disebabkan
oleh kedua metabolit prilokain yaitu orto-toluidin dan nitroso-toluidin. Methemoglobinemia ini
umum terjadi pada pemberian dosis total melebihi 8 mg/kgBB. Efek ini membatasi
penggunaannya pada neonatus dan anestesia obstetrik. Anestetik ini digunakan untuk berbagai
macam anestesia suntikan dengan sediaan berkadar 1,0; 2,0; dan 3,0%.

14. Benzokain

Absorbsi lambat karena sukar larut dalam air sehingga relatif tidak toksik. Benzokain
dapat digunakan langsung pada luka dengan ulserasi secara topikal dan menimbulkan anestesia
yang cukup lama. Sediaannya berupa salep dan supposutoria.

C. Post medikasi
Post medikasi yaitu pemberian obat pasca tindakan kedokteran gigi (contohnya
pemberian resep analgesik dan antibiotik pada pasien pasca pencabutan atau pasca
pembedahan. Tujuannya hampir sama seperti premedikasi yaitu untuk
meringankan rasa sakit pada pasien pasca tindakan kedokteran gigi dan untuk
mencegah terjadinya infeksi pasca pembedahan.

1. Penulisan resep

Dokter:
Alamat:
Telepon:
SIP:

Tempat dan tanggal pemberain resep


R/ Amoxicillin tab 500 mg No. XV
S 3 dd 1 pc.
Paraf

R/ Asam Mefenamat tab 500 mg No. VI


S 3 dd 1 pc. prn
Paraf
Pro:
Umur:
Alamat:
No RM:
Keterangan :
Amoxicillin diminum 3 kali sehari selama 5 hari setelah makan dan harus
dihabiskan.
Asam mefenamat diminum 3 kali sehari selama 2 hari setelah makan atau
diminum bila terasa nyeri.

D. Analgesik dan golongannya

Analgetik atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau
rasa nyeri tanpa meghalangi kesadaran. Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi suhu
tubuh. Anti- inflamasi adalah obat atau zat-zat yang dapat mengobati peradangan atau
pembengkakan. Obat analgesik, antipiretik, serta Obat Anti Inflamasi non Steroid (OAINS)
merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara
kimia. Walaupun demikian, obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek
terapi maupun efek samping. Prototipe obat golongan ini adalah aspirin. Karena itu, banyak
golongan dalam obat ini sering disebut obat mirip aspirin (Aspirin-like drugs).

Klasifikasi kimiawi OAINS sebenarnya tidak banyak manfaat kimianya karena ada
OAINS dari subgolongan yang sama memiliki sifat yang berbeda. Sebaliknya ada OAINS
yang berbeda subgolongan tapi memiliki sifat yang serupa. Kemajuan penelitian dalam
dasawarsa terakhir ini memberi penjelasan mengapa kelompok heterogen tersebut memiliki
kesamaan efek terapi dan efek samping. Ternyata sebagian besar efek terapi dan efek
sampingnya berdasarkan atas penghambatan biosintesis prostaglandin (PG). Mekanisme kerja
dan yang berhubungan dengan system biosintesis Prostaglandin ini mulai diperlihatkan secara
invitro bahwa dosis rendah aspirin dan indometasin menghambat produksi enzimatik
Prostaglandin. Penelitian lanjutan membuktikan bahwa Prostaglandin akan dilepaskan
bilamana sel mengalami kerusakan. Walaupun secara invitro OAINS diketahui menghambat
obat berbagai reaksi biokimiawi, hubungan dengan efek analgesic, antipiretik dan anti
inflamasinya belum jelas. Selain itu, OAINS secara umum tidak menghambat biosintesis
leukotrien yang diketahui ikut berperan dalam inflamasi.

Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam


arakhidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase dengan cara
yang berbeda.Khusus parasetamol, hambatan biosintesis prostaglandin hanya terjadi bila
lingkungannya rendah kadar peroksid seperti di hipotalamus.Lokasi inflamasi biasanya
mengandung banyak peroksid yang dihasilkan oleh leukosit.Ini menjelaskan mengapa anti-
inflamasi parasetamol praktis tidak ada aspirin sendiri menghambat dengan mengasetiliasi
gugus aktifserin dan enzim ini.Trombosit sangat rentan terhadap penghambatan ini karena
selain tidak mampu mengadakan regenerasi enzim sehingga dosis tunggal aspirin 40 mg sehari
telah cukup untuk menghambat siklooksigenase trombosit manusia selama masa hidup
trombosit yaitu 8-11 hari.

Nyeri adalah perasaan sensoris dan lemah emosional yang tidak enak dan berkaitan
dengan ancaman (kerusakan) jaringan. Keadaan psikis sangat mempengaruhi nyeri, misalnya
emosi dapat menimbulkan sakit kepala atau memperhebatnya, tetapi dapat pula
menghindarkan sensasi rangsangan nyeri. Nyeri merupakan suatu perasaan pribadi dan
ambang toleransi nyeri berbeda- beda bagi setiap orang. Batas nyeri untuk suhu adalah
konstan, yakni 44-450C. Mediator nyeri antara lain mengakibatkan reaksi radang dan kejang-
kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung-ujung saraf bebas di kulit, mukosa, dan
jarigan lainnya. Nociceptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di system
saraf pusat. Dari sini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan yang hebat dari tajuk-
tajuk neuron dengan sinaps yang amat banyak melalui sum- sum tulang belakang, sum-sum
tulang lanjutan dan otak tengah. Dari thalamus impuls diteruskan ke pusat nyeri di otak besar,
dimana impuls dirasakan sebagai nyeri.

Adapun mediator nyeri yang disebut juga sebagai autakoid antara lain serotonin,
histamine, bradikinin, leukotrien dan prostglandin2.Bradikinin merupakan polipeptida
(rangkaian asam amino) yang diberikan dari protein plasma.

Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkatan (level) dimana nyeri dirasakan untuk
yang pertama kali.Jadi, intesitas rangsangan yang terendah saat seseorang merasakan nyeri.
Untuk setiap orang ambang nyerinya adalah konstan.

Atas kerja farmakologisnya, analgesik dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu:
a. Analgetik Perifer (non narkotik)
Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
b. Analgetik Narkotik
Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti fraktur dan kanker.

Nyeri pada kanker umumnya diobati menurut suatu skema bertingkat empat, yaitu:
1. Obat perifer (non Opioid) peroral atau rectal; parasetamol, asetosal.
2. Obat perifer bersama kodein atau tramadol.
3. Obat sentral (Opioid) peroral atau rectal.
4. Obat Opioid parenteral

Guna memperkuat analgetik dapat dikombinasikan dengan co-analgetikum, seperti


psikofarmaka (amitriptilin, levopromazin atau prednisone).

Obat-obat golongan analgetik dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu:


 parasetamol, salisilat, (asetosal, salisilamida, dan benorilat), penghambat Prostaglandin
(NSAID); ibuprofen, derivate-derivat antranilat (mefenamilat, asam niflumat glafenin,
floktafenin
 derivate-derivat pirazolinon (aminofenazon, isoprofilpenazon, isoprofilaminofenazon),
lainnya benzidamin.
 Obat golongan analgesic narkotik berupa: asetaminofen dan fenasetin.
 Obat golongan anti-inflamasi nonsteroid berupa: aspirin dan salisilat lain, derivate asam
propionate, asam indolasetat, derivate oksikam, fenamat, fenilbutazon.

Nyeri merupakan gejala yang berfungsi melindungi atau merupakan tanda bahwa
adanya gangguan-gangguan di tubuh, seperti: peradangan (rheumatic/encok), infeksi, maupun
kejang otot. Mekanisme rasa nyeri yaitu perangsangan nyeri baik mekanik, kimiawi, panas
maupun listrik akan menimbulkan kerusakan pada jaringan sel sehingga sel-sel tersebut
melepaskan suatu zat yang disebut mediator nyeri yang akan merangsang reseptor nyeri.
Mediator nyeri ini juga disebut zat autanoid yaitu: histamine, serotonin, plasmakinin,
bradikinin (asam lemak) prostaglandin dan ion kalium.

Mekanisme kerja penghambatan rasa nyeri ada tiga, yaitu:

1. Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor rasa nyeri, seperti pada anastesi
lokal.
2. Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf sensoris, seperti pada anastesi
lokal.
3. Blokade rasa nyeri pada system saraf pusat seperti pada analgetik sentral (narkotika)
dan anastesi umum.

Adapun jenis nyeri beserta terapinya, yaitu:


 Nyeri ringan
Contohnya: sakit gigi, sakit kepala, sakit otot karena infeksi virus, nyeri haid,
keseleo. Pada nyeri dapat digunakan analgetik perifer seperti parasetamol, asetosal
dan glafenin.
 Rasa nyeri menahun
Contohnya: rheumatic dan arthritis.
Pada nyeri ini dapat digunakan analgetik anti-inflamasi, seperti: asetosal, ibuprofen dan
indometasin.
 Nyeri hebat
Contoh: nyeri organ dalam, lambung, usus, batu ginjal, batu empedu.
Pada nyeri ini dapat digunakan analgetik sentral berupa atropine, butilskopolamin
(bustopan), camylofen (ascavan).
 Nyeri hebat menahun
Contoh: kanker, rheumatic, neuralgia berat.
Pada nyeri ini digunakan analgetik narkotik, seperti fentanil, dekstromoramida,
bezitramida.

Obat analgetik narkotik

Morfin dan derivatnya :


a. Morfin
b. Heroin
c. Hidromorfon
d. Oksimorfon
e. Levorfanol
f. Levalorfan
g. Kodein
h. Hidrokodon
i. Oksikodon

j. Nalorfin
k. Nalokson
l. Nalbufin
m. Tebain,

Meperidin dan derifat fenilpiperidin :


n. Meperidin
o. Alfaprodin
p. Difenoksilat
q. Fentanil
r. Loperami

Metadon dan Opioid lain :


a. Metadon
b. Propoksifen
c. Dekstromoramida
d. Bezitramida

Obat Antagonis Opioid :


a. Naltrekson
b. Nalorfin
c. Levalorfan
d. Siklazosin
e. Pentazosin
f. Butorfanol

Obat golongan Antiinflamasi non Steroid


1. Turunan asam salisilat: aspirin, salisilamid,diflunisal.
2. Turunan 5-pirazolidindion: Fenilbutazon, Oksifenbutazon.
3. Turunan asam N-antranilat: Asam mefenamat, Asam flufenamat
4. Turunan asam arilasetat: Natrium diklofenak, Ibuprofen, Ketoprofen.
5. Turunan heteroarilasetat: Indometasin.
s. Turunan oksikam: Peroksikam, Tenoksikam.

 Analgesic yang aman untuk ibu hamil

 Analgesik yang aman untuk anak-anak


 Paracetamol

Paracetamol atau Acetaminophen digunakan secara luas sebagai pereda nyeri untuk nyeri
ringan-sedang pada anak-anak. Walaupun obat ini cukup aman bagi anak, ada beberapa hal yang
harus diperhatikan yaitu:

 Paracetamol sebaiknya tidak digunakan untuk medikasi nyeri selama lebih dari 5 hari
pada anak. Jika nyeri berlanjut lebih dari 5 hari, segeralah periksakan anak ke dokter.
 Untuk meminimalkan risiko overdosis, Paracetamol tidak boleh diberikan lebih dari 5
dosis pada anak dalam waktu 24 jam, kecuali diinstruksikan oleh dokter.

Overdosis Paracetamol dapat menyebabkan kerusakan hati berat dan kematian. Oleh
karena itu, orang tua dianjurkan untuk selalu mengukur dosis obat yang diberikan pada anak dan
tidak boleh melebihi dosis harian yang direkomendasikan. Hindarilah pula menggunakan produk
obat yang mengandung Paracetamol (misalnya dalam beberapa produk obat batuk dan flu)
bersamaan dengan sediaan Paracetamol tunggal.

 Ibuprofen

Penggunaan Ibuprofen sebagai analgesik pada anak juga semakin meluas. Ibuprofen
digunakan secara medikasi sebagai pereda nyeri ringan yang berkaitan dengan flu, sakit kepala,
sakit gigi, nyeri otot, dan demam pada anak di atas 2 tahun. Tetapi Ibuprofen tidak dianjurkan
untuk medikasi pada anak di bawah usia 2 tahun atau untuk meredakan nyeri perut pada anak.

Dibandingkan Paracetamol, penggunaan Ibuprofen pada anak menimbulkan lebih banyak


perdebatan mengenai efek samping yang mungkin ditimbulkan. Ibuprofen dikaitkan dengan
peningkatan risiko gagal ginjal akut pada anak. Namun, suatu penelitian oleh Moghal dkk.
(2004) mengungkapkan bahwa untuk penggunaan jangka pendek Ibuprofen dosis 5 - 10 mg/kg
pada anak, risiko kerusakan ginjalnya kecil dan tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan
penggunaan Paracetamol dosis 12 mg/kg. Walaupun demikian, Ibuprofen sebaiknya dihindari
penggunaannya pada anak yang mengalami dehidrasi atau berisiko dehidrasi. Selain itu,
penggunaan Ibuprofen harus selalu disertai asupan cairan yang cukup.

Ada pula kekhawatiran bahwa Ibuprofen dapat memicu serangan asma pada anak yang
memiliki riwayat asma. Namun, hal ini tidak terbukti dalam penelitian yang dilakukan oleh
Kader dkk. (2004). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Ibuprofen sama amannya
dengan Paracetamol untuk digunakan oleh pasien dengan riwayat asma, dan tidak memicu atau
memperburuk asma. Walaupun demikian, Ibuprofen harus dihindari penggunaannya pada anak
yang memiliki riwayat alergi/hipersensitivitas terhadap obat antiinflamasi nonsteroid
(seperti Paracetamol, Aspirin, Ibuprofen, dll).
 Analgesik yang aman untuk lansia

 Antibiotik

Antibiotik adalah golongan obat yang digunakan untuk terapi pencegahan infeksi
sehingga antibiotik digunakan jika ada infeksi atau untuk kepentingan profilaksis (pencegahan
infeksi). Antibiotik adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh berbagai spesies
mikroorganisme dan bersifat toksik terhadap spesies mikroorganisme lain.

Pendekatan berdasarkan spektrumnya, antibiotik diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Antibiotik yang berspektrum sempit

Antibiotik berspektrum sempit adalah Antibiotik yang peka terhadap bakteri gram positif
atau peka terhadap bakteri gram negatif saja.

b. Antibiotik yang berspektrum luas

Menghambat bakteri gram negatif dan gram positif. Dimana yang termasuk didalamnya
tetrasiklin dan kloramfenikol.
Berikut ini adalah tabel untuk penggolongan antibiotik :
Bagi penderita endokarditis bakterial, antibiotika pilihan sebagai pelindung adalah
amoksisilin secara per oral, dengan dosis:

Dewasa: 3 gr satu jam sebelum prosedur perawatan, di-lanjutkan dengan 1 gr 6 jam


kemudian setelah pemberian pertama.
Kanak-kanak: 50 mg/kg satu jam sebelum, dilanjutkan 25 mg/kg 6 jam kemudian (dosis
total tidak melebihi dosis dewasa).
Bagi pasien yang alergi terhadap penisilin diberikan eritromisin dengan dosis:

 Dewasa: 800 gr eritromisin etilsuksinat atau 1 gr eritromisin stearat 2 jam sebelumnya,


dilanjutkan ½ dosis awal 6 jam kemudian.
 Kanak-kanak: 20 mg/kg berat badan sebelumnya dan10 mg/kg berat badan sesudahnya.

Bagi penderita yang alergi terhadap penisilin dan eritromisin dapat diberikan klindamisin
dengan dosis:

 Dewasa : 300 mg satu jam sebelum, dan 150 mg 6 jam sesudahnya.


 Kanak-kanak : 10 mg/kg berat badan.

Bagi pasien yang tidak dapat memakan obat peroral, diberikan ampisilin, atau
klindamisin, atau gabungan ampisilin, gentamisin dan amoksisilin, dengan dosis:

 Dewasa : Ampisilin 2 gr IM/IV 30 menit sebelum, dilanjutkan 1 gr IM/IV 6 jam


kemudian.
 Klindamisin 300 mg IV 30 menit sebelum, dilanjutkan 150 mg IV 6 jam kemudian.
 Ampisilin 2 gr plus gentamisin 1,5 mg/kg (tidak lebih dari 80 mg) IM/IV 30 menit
sebelum, dilanjutkan amoksisilin 1,5 gr per oral 6 jam kemudian
 Kanak-kanak : Ampisilin 50 mg/kg; klindamisin 10 mg/kg; gentamisin 2 mg/kg; dosis
lanjutan ½ dosis pertama.

Bagi penderita diabetes mellitus ada perbedaan pendapat mengenai perlu atau tidaknya
pemberian antibiotika sebagai perlindungan. Apabila perawatan bedah periodontal yang akan
dilakukan pada penderita diabetes yang terkontrol dinilai menimbulkan luka yang agak besar,
sebaiknya diberikan antibiotika mulai sehari sebelumnya sebagai perlindungan. Jenis antibiotika
yang diberikan tidak perlu spesifik.

E. Proses bedah eksisi pada epulis fibromatosa dengan teknik pisau bedah

Alat dan bahan yang dibutuhkan:

Alat diagnostik: kaca mulut, sonde, ekskavator dan pinset


Sarung tangan karet, masker, pakaian bedah
Surgical suction dan tip
Nierbeken
Anestesi pehacain HCL 2% dan spuit
Kassa steril
Scalpel dan blade ukuran 15
Saline
Spatula semen dan Glass slab
Povidone iodine 10%
Jet scaller atau manual scaller
Coe-pack periodontal dressing

1. Pisau Bedah

Pisau bedah (Skalpel) terdiri dari gagang dan mata pisau yang dapat dibuka-pasang. Mata
pisaunya terdiri dari bermacam bentuk maupun ukuran. Mata pisau yang digunakan adalah
hanya untuk sekali pakai (gambar 15).

Skalpel adalah pisau yang tajam yang digunakan untuk operasi dan diseksi anatomi.
Disediakan skalpel yang sekali pakai (disposable) dan yang dipakai berulang (re-usable). Skalpel
yang dipakai berulang mempunyai bilah yang menjadi satu dengan gagang yang dapat diasah,
sedangkan skalpel yang sering tersedia sekarang adalah skalpel yang menggunakan bilah yang
diganti setiap dipakai. Skalpel sekali pakai biasanya mempunyai gagang plastik yang
dipasangkan bilah dan digunakan satu kali kemudian dibuang seluruhnya. Bilah skalpel biasanya
terbuat dari baja karbon yang dikeraskan. Pada operasi dengan panduan MRI, bilah baja tidak
akan bisa digunakan karena akan menempel pada magnet atau mengganggu proses pencitraan.
Alternatif dari skalpel adalah elektrokauter dan LASER.

Terdapat dua cara memegang skalpel :

Pegangan telapak tangan atau juga disebut pegangan pisau makan. Skalpel dipegang
dengan jari kedua sampai jari keempat, gagang diletakkan sepanjang pangkal ibu jari
dengan jari telunjuk terletak sepanjang atas belakang dari pisau danibu jari di sepanjang
sisi skalpel. Pegangan ini paling baik untuk permulaan insisi dan potongan yang besar.
Pegangan pensil paling baik digunakan untuk memotong dengan teliti dengan bilah yang
lebih kecil. Skalpel dipegang dengan ujung jari pertama dan jari kedua dan ujung ibu jari.
Gagang diletakkan diatas anatomical snuff box pada pangkal jari telunjuk dan ibu jari
yang gemuk. Perhatikan peletakan gagang tidak boleh terlalu jauh sepanjang jari telunjuk
karena akan menyebabkan pegangan tidak stabil dan jari menjadi kram.
2. Gunting

Bentuk dan besarnya gunting bermacam-macam tergantung penggunaannya. Berdasarkan di atas


tadi gunting dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :

1. Gunting Mayo, adalah gunting yang berukuran besar, biasa digunakan untuk membelah
fascia atau tendon; berdasar bentuknya gunting Mayo dibedakan menjadi 2, yaitu
berbilah lengkung dan berbilah lurus.
2. Gunting Metzenbaum & Macindoes, adalah gunting yang berukuran halus untuk
melakukan diseksi jaringan. Berdasar bilahnya juga dibedakan bilah lengkung dan bilah
lurus. Kedua jenis gunting di atas kedua ujung atau salah satunya tumpul.
3. Gunting runcing, kedua ujungnya runcing untuk melakukan diseksi secara cermat dan
berdasarkan bilahnya juga dibedakan menjadi bilah lengkung dan bilah lurus.
4. Gunting balutan & gunting benang, bentuk gunting biasanya khusus, bilahnya tebal
ujungnya tumpul. Gunting jaringan tidak boleh dipakai untuk menggunting kasa dan
benang serta balutan.
Cara memegang gunting :

1. Masukkan ibu jari dan jari manis ke dalam lubang gunting.


2. Apabila dipegang dengan tangan kanan jari-jarinya tidak dimasukkan lebih jauh dari
sendi distal, tetapi jika dipegang dengan tangan kiri maka harus dirnasukkan lebih jauh
dari sendi distal karena gerakan menekan dilakukan oleh ibu jari.
3. Menggunting paling baik dilakukan dengan bagian ujung gunting, sehingga tidak akan
melukai struktur jaringan di sekitarnya.

3. Instrumen Pemegang
Instrumen ini dibedakan 3 macam, yaitu :
1. Pemegang jarum, alat ini biasanya dilengkapi dengan pengunci di bagian belakang,
ukurannya bermacam-macam, yaitu pendek, sedang dan panjang, demikian juga
ukuran bilahnya. Pemegang jarum harus dipakai sesuai dengan ukuran jarum yang
dipegangnya.

Cara memegang needle holder :

 Masukkan ibu jari dan jari manis ke dalam lubang needle holder.
 Pasang jarum dengan benar (lihat gambar 22).
 Kunci needle holder sampai terdengar bunyi ”klik”, untuk memastikan jarum telah
terjepit dengan aman.
2. Pinset, alat ini digunakan untuk memegang dan menahan jaringan pada waktu diseksi atau
menjahit. Pinset ini dibedakan menjadi 3 macam :

 Pinset bergigi tajam, yang dapat dipakai untuk memegang jaringan yang hanya
memerlukan tekanan minimal misalnya: subkutis, otot, fascia, tetapi tidak dapat
dipakai untuk memang struktur yang dapat berlubang (peritoneum, pleura).
 Pinset Adson, suatu pinset bergigi halus yang biasa dipakai dalam menjahit kulit.
 Pinset tidak bergigi, biasanya digunakan untuk memegang kasa pada waktu
membersihkan luka.

Cara memegang pinset :


- Pegang pinset seperti memegang pensil.
- Jaringan yang dijepit sebaiknya adalah dermis atau subkutis, bukan kulit bagian luar.
- Jangan menjepit kulit terlalu keras, karena dapat melukai kulit dan menyebabkan
pembentukan parut.

3. Klem, sebagai alat untuk penjepit, macamnya diantaranya:


 Klem arteri, biasa dipakal sebagai penjepit arteri (hemostat), dilengkapi pengunci
dengan bilah bergigi, ada yang lurus dan ada yang lengkung.
 Klem bergigi halus atau tidak bergigi (klem Allis), untuk memegang kulit, fascia
atau dikenal sebagai klem jaringan.
 Klem Kocher, klem yang mempunyai bilah yang sangat kuat dipakai untuk
menarik jaringan yang sangat kuat.
 Cunam, alat penjepit dengan ujung berbentuk cincin biasa dipakai untuk menjepit
kasa pembersih luka.

4. Instrumen Penarik
Ada jenis yang harus dipegang dengan tangan, ada yang dibiarkan terpasang tanpa harus
dipegang. Panjang dan lebar bilah serta bentuk gagangnya bervariasi. Apabila penarik ini
mempunyai ujung runcing tidak boleh dipergunakan dekat pembuluh darah atau organ
berongga.
Tahap pembedahan epulis :

pasien diminta untuk mengisi informed consent persetujuan untuk dilakukan


tindakan operasi.
Dilakukan penilaian vital signs.
Pasien di anestesi lokal infiltrasi dengan pehacain pada area operasi.
Penandaan area dan batas eksisi berupa outline menggunakan sonde untuk
menentukan titik point batas pemotongan gingiva.
Eksisi dengan blade nomer 15 dari arah apikal diatas titik point hasil penandaan
kearah koronal dengan sudut ± 45 derajat sampai masa epulis terbuang secara
keseluruhan.
Setelah itu dilakukan pembersihan pada gigi 22 da 23 menggunakan scaller untuk
membersihkan debridement (duri ikan) dan kalkulus subgingival yang mungkin
masih tertinggal.
Perdarahan yang terjadi diatasi dengan penekanan langsung menggunakan kasa
steril.
Kemudian dilakukan irigasi dengan larutan salin.
Penutupan daerah luka dengan menggunakan coe-pack periodontal dressing
selama satu minggu.
Pasien diberi antibiotik selama 5 hari dan analgetik selama 2 hari atau dapat
diminum bila terasa nyeri.
Instruksi DHE dan kontrol 1 minggu kemudian,.
Satu minggu kemudian pasien datang, dilakukan pelepasan coe-pack periodontal
dressing, irigasi daerah operasi dengan salin, dan instruksi DHE.

 Periodontal dressings atau periodontal packs

Periodontal dressings atau periodontal packs adalah bahan yang sering digunakan untuk
menutup atau membungkus luka bedah setelah dilakukannya prosedur bedah periodontal.
Penutup ini sebenarnya tidak mengandung bahan yang dapat memacu penyembuhan, melainkan
hanya membantu penyembuhan karena melindungi luka.

Fungsi Periodontal dressings atau periodontal packs, yaitu:

1. Mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi dan pendarahan pasca bedah.


2. Membantu penyembuhan dengan jalan melindungi luka bedah dari trauma sewaktu
pengunyahan.
3. Mencegah timbulnya nyeri sakit yang dipicu oleh berkontaknya luka bedah dengan
makanan atau lidah sewaktu pengunyahan.
4. Karena kaku setelah mengeras, sedikit berperan mensplint gigi yang goyang.

Jenis Periodontal dressings atau periodontal packs

Berdasarkan komposisinya Periodontal dressings atau periodontal packs dibedakan atas:

1. Periodontal dressings atau periodontal packs yang mengandung eugenol,

Penutup jenis ini didasarkan pada reaksi oksida seng dengan eugenol, dan pertama kali
diperkenalkan oleh Ward pada tahun 1923 dengan merek dagang Wondr-Pak®. Penutup ini
kemudian dimodifikasi dengan penambahan bahan-bahan seperti seng asetat sebagai akselerator
untuk memperbaiki waktu pengerasannya. Pemah juga ditambahkan asbes dan asam tannat
sebagai bahan perekat dan pengisi, namun karena efek iritasi dari bahan tersebut terhadap paru-
paru dan hati penggunaannya telah dihentikan. Penutup dengan bahan oksida seng-eugenol
dikemas dalam bentuk bubuk dan cairan yang harus diaduk sesaat sebelum digunakan. Untuk
mempermudah kerja, penutup ini bisa diaduk lebih dulu lalu dibalut dengan kertas berlilin dan
disimpan dalam lemari pembeku (freezer). Kelemahan penutup jenis ini adalah dapat mengiritasi
jaringan karena eugenol yang dikandungnya dan sulit mempersiapkannya sebelum dipakai.

2. Periodontal dressings atau periodontal packs yang tidak mengandung eugenol

Penutup jenis ini didasarkan pada reaksi antara oksida logam dengan asam lemak.
Kedalamnya ditambahkan beberapa bahan lain untuk mendapatkan plastisitas dan kepaduan.
Beberapa contoh penutup yang tidak mengandung eugenol adalah:

 Penutup yang mengandung oksida seng dan asam lemak tidak jenuh dari kelapa.
Contoh penutup jenis ini adalah Coe-Pak® yang dikemas dalam bentuk 2 tube pasta yang
harus dicampur dengan jalan pengadukan sampai diperoleh warna yang merata sesaat
sebelum digunakan.
 Penutup yang mengandung oksida seng dan glikol alkohol.
Penutup jenis ini ada yang dikemas dalam bentuk bubuk dan cairan yang harus diaduk
lebih dulu sebelum dipakai, contohnya Peridres®. Bentuk lain adalah bahan yang
dikemas dalam wadah botol yang siap untuk dipakai tanpa perlu diaduk lebih dulu,
contohnya Peripac®.
 Penutup yang mengandung sianoakrilat.
Penutup jenis ini mengandung N-butil sianoakrilat dalam bentuk cairan, yang
pemakaiannya dengan jalan diteteskan atau disemprotkan. Cairan sianoakrilat akan
mengeras dalam waktu 5-10 menit bila terkena udara dan cairan ludah. Setelah mengeras
permukaannya licin dan rata.
 Penutup yang mengandung metakrilik.
Penutup yang dikemas dalam bentuk jel ini disebut juga sebagai tissue conditioner.

Retensi penutup periodontal pada umumnya, kecuali jenis penutup sianoakrilat dan
metakrilik, dimungkinkan oleh tersangkutnya penutup secara mekanis pada ruang interproksimal
dan pertemuan bagian penutup sebelah vestibular dengan bagian oral. Tentunya retensi penutup
tidak begitu baik pada gigi yang terisolir tanpa gigi tetangga. Retensi penutup dapat diperbaiki
dengan jalan: (1) membuat ikatan benang gigi atau benang lain di atas penutup yang telah
terpasang, atau (2) terlebih dahulu mengikat beberapa gigi dengan kawat halus yang simpulnya
dibengkokkan diatas gingiva sebelum penutup ditempatkan.

Cara mempersiapkan dan memasang Periodontal dressings atau periodontal packs

Penutup yang mengandung oksida seng berbentuk bubuk dicampur dengan cairannya
(yang mengandung eugenol atau tidak) diatas blok kertas berlilin dan diaduk dengan pengaduk
kayu (bisa digunakan alat penekan lidah dari kayu). Bubuk ditambah sedikit demi sedikit sampai
didapat pasta yang cukup kental.

Penutup yang dikemas dalam bentuk dua tube pasta seperti Coe-Pak® dipersiapkan
dengan mencampur pasta basis dan pasta akselerator sama panjang, yang diaduk sampai
didapatkan warna yang merata. Dalam 2-3 menit pasta yang telah diaduk sudah dapat dibentuk
dan ditempatkan di atas luka.

 Untuk menempatkan penutup, penutup yang diaduk maupun yang sudah siap pakai lebih
dulu dibentuk menjadi batangan sepanjang luka bedah yang hendak dibalut.
 Agar penutup tidak melekat ke tangan, jari tangan sebaiknya diolesi vaselin.
 Dengan lebih dulu mengeringkan daerah luka bedah, batangan penutup ditempatkan pada
daerah luka bedah dan ditekan sepanjang gingiva dan interproksimal.
 Pada permukaan vestibular penekanan dapat dilakukan dengan menekan bibir atau pipi
pasien sehingga penutup tidak melekat ke jari.
 Penekanan pada daerah interproksimal dilakukan dengan bantuan alat plastis.
 Penekanan pada permukaan oral dilakukan dengan jari tangan. Apabila daerah luka
melibatkan gigi paling distal, maka penutup sebelah vestibular dan oral harus bertemu di
permukaan distal gigi paling distal.
 Penutup harus membungkus sebagian gigi dan gingiva. Harus diperhatikan agar: (1)
penutup pada daerah gigi tidak sampai menghalangi oklusi agar tidak mudah lepas karena
pecah, dan (2) tidak meluas terlalu jauh ke arah lipatan mukosa bukal agar tidak
mengiritasi bila telah keras.
Referensi

1. Syafriadi, Mei. 2008. Patologi Mulut. Yogyakarta: Penerbit Andi


2. Pedron, IG., Ramalho, KM., Moreira, LA., Freitas, PM. Association of two lasers in the
tratment of traumatic fibroma: Exicision with nd: YAP laser and photomodulation using
inGaAIP: a case report. J Oral Laser Applications. 2009; 9(1): 49-53
3. Alam M.N., Chandrasekaran S.C., Valiathan M. Fibroma of the gingiva: a case report of
a20 year old lesion. Int J Contemp Dent 2010; 1(3): 107–109.
4. Valerio R.A., Mussolino A., Romualdo P.C., Brentegani L.G., Paulasilva F.W.G.
Mucocele and fibroma: treatment and clinical features.
5. Fragiskos, D, Fragiskos. 2007. Oral Surgery. Verlag Berlin Heidelberg: Springer.
6. Lederman, A, David. 2014. Oral Fibromas and Fibromatoses. Serial Online.
http://emedicine.medscape.com/article/1080948-author [28 Desember 2015].
7. Bagde H., Waghmare A., Savitha B., Vhanmane, P. Case report: Irritation fibroma. Int.J.
Dent.Clinics. 2013; 5(1): 39-40.
8. Ebrahim, E., Rao, PK., Chatra, L., Shenai, P., Veena, KM., Prabhu, RV., Kushraj, T.,
Shetty, P. Traumatic fibroma growth in the ventral portion of tongue: Case report.
Pacific J of Med Sci. 2014;13(1): 52-55.
9. Bakhtiari, S., Taheri, J.B., Sehhatpour, M., Asnaashari, M., Moghadam, SA. Removal of
an extra-large irrritation fibroma with a combination of diode laser and scalpel. J Lase
Med Sci. 2015; 6(4):182-184.
10. Zuber, T.J., 2002, Minimal Excision Technique For Epidermoid (Sebaceous) Cysts, Am
Fam Physician, 65:1409-12,1417-8,1420,1423-4.
11. Sempowski, I.P., Sebaceous Cysts Ten Tips for Easier Excision, Can Fam Physician,
2006, 52: 315 – 7.

12. Moore, R. B., Fagan, E.B., Hulkower, S., Skolnik, D. C., 2007, What‟s The Best

Treatment For Sebaceous Cysts?; J of Fam Practice, 56, 4 : 315-6.


13. Sutistia G.Ganiswara .1995. Farmakologi Dan Terapi edisi IV. Jakarta
14. Tan Hoan Tjay dan Kirana Raharja. 2005. Obat-Obat Penting . Jakarta : PT Gramedia
15. Mary. J Mycek Dkk. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi II. Jakarta: Widya
Medika
16. Katzung.G.Bertram 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi VIII Bagian ke II.Jakarta:
Salemba Medika.
17. Malamed SF. 2004. Handbook of Local Anesthesia, Fifth Edition. Missouri: Elsevier
Mosby.
18. Meechan JG. 2002. Practical Dental Local Anaesthesia. London: Quintessence
Publishing Co. Ltd.
19. Ritiasa K. 1993. ISO Indonesia, Informasi Spesialite Obat Indonesia. Jakarta: Ikatan
Sarjana Farmasi Indonesia.
20. Syarif A. 2007. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5. Jakarta: FK-UI. Tjay TH. dan Raharja
K. 2005. Obat-obat Penting. Jakarta: Elex Media Komputindo.

21. Kader, A., Hildebrandt, T., and Powell, C., 2004, How Safe Is Ibuprofen in Febrile
Asthmatic Children?, Archives of Disease in Childhood, 89(9): 885-886.

22. Koda-Kimble, M.A., et al., 2001, Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs,
7th Edition, Lippincott Williams & Wilkins, USA.

23. McEvoy, G.K., et al., 2002, AHFS Drug Information, American Society of Health-
System Pharmacists, USA.

24. Moghal, N.E., Hegde, S., and Eastham, K.M., 2004, Ibuprofen and Acute Renal Failure
in a Toddler, Archives of Disease in Childhood, 89(3): 276-277.

25. Barus, Jimmy. Penatalaksanaan Farmakologis Nyeri pada Lanjut Usia. Departemen
Neurologi, Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, Jakarta, Indonesia. CDK-226/
vol. 42 no. 3, th. 2015.
TUGAS ORAL MEDICINE

EPULIS FIBROMATOSA

Disusun Oleh:

Isha Arfina Haris, S.Kg

04074881517013

Dosen Pembimbing:

drg. Trisnawaty K, M. Biomed

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2018